Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Januari 2018

Menghentikan Gerhana


Segala pujian hanya untuk Allah Ta'ala; segala kebesaran hanya milik-Nya. Sang Pemilik langit dan bumi, yang semua makhluk tunduk pada kehendak-Nya. Jika Ia menghendaki sesuatu terjadi maka pasti akan terjadi, jika Ia mencegah sesuatu perkara maka perkara itu pun tak akan ada.

Gerhana bulan merupakan salah satu di antara sekian banyak sunnatullah. Selama bumi berrotasi dan bulan berrevolusi mengitarinya, gerhana pasti terjadi. Siang dan malam pun pasti datang bergantian. Meskipun dalam kurun yang berbeda-beda, tergantung di bagian bumi sebelah manakah kita berdiri.

Sunnatullah berada dalam wilayah yang menguasai manusia. Artinya, manusia sedikit pun tak punya peran untuk mengubahnya. Manusia dipaksa untuk menerima dan menyaksikan terjadinya gerhana. Ia tak bisa memilih, apakah gerhana itu boleh terjadi ataukah tidak. Bahkan hanya untuk menyaksikannya saja, ia pasrah pada cuaca. Jika cerah, ia bisa menyaksikannya. Adapun jika mendung menghalangi, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Begitulah sunnatullah menimpa kehidupan manusia.

Memang harus kita akui bahwa area hidup itu terbagi dua, ada yang menguasai manusia dan ada pula yang dikuasai manusia. Sunnatullah merupakan area yang tidak dikuasai manusia. Begitu pula berbagai kejadian yang Allah telah mengijinkannya untuk terjadi, maka ia pun terjadi atas kehendak-Nya. Baik manusia memandang hal tersebut baik atau pun buruk, tugas manusia adalah qonaah terhadapnya. Karena hanya Allah-lah yang mengetahui hakikat kebaikan dan keburukan dari suatu kejadian.

Sebagaimana ketika Rasulullah menggambarkan bahwa sebaik-baiknya kurun adalah kurun beliau, kemudian kurun setelahnya dan setelahnya. Artinya ada degradasi kebaikan dari suatu kurun ke kurun berikutnya. Para shahabat r.a. tidak protes atasnya. Begitu pula ketika Rasulullah menyampaikan bahwa akan ada keburukan yang menimpa umat Islam, para shahabat beliau hanya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan ketika itu?" Artinya, fokus para shahabat adalah pada amal dan bukan pada taqdir. Para shahabat fokus pada area yang ia kuasai dan bukan pada ketetapan Allah yang pasti terjadi.

Begitu pula ketika terjadi gerhana. Fokus kita bukanlah pada bagaimana kita mencegah terjadinya gerhana karena itu di luar area kuasa kita, namun fokus kita adalah bertakbir, istighfar, berdoa, bersedekah serta berbagai amalan shalih lainnya yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala. Sehebat apapun manusia dan teknologinya, ia tak akan pernah bisa menghentikan gerhana.

Demikian juga sunnatullah lainnya, semisal pergantian antara kebaikan dan keburukan di atas dunia. Atau pergantian antar tipe penguasa yang digambarkan dalam hadits Rasulullah, hingga ditutup dengan khilafah di atas manhaj kenabian, merupakan perkara yang tak bisa dicegah. Karena itulah, hendaknya fokus seorang mukmin tetaplah pada amal. Kondisi yang silih berganti antara keluangan dan kesempitan hanyalah ujian yang mesti ditapaki dalam hidup.

Tak terkecuali juga kemenangan yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang beriman dan beramal shalih, itu pun pasti terjadi. Sekuat apapun iblis dan para setan dari kalangan jin dan manusia menghalanginya, janji Allah pasti terjadi. Upaya mereka tiada lain bagaikan upaya menghentikan gerhana, pasti sia-sia. Wallahu al muwafiq ila sabili arrosyadi.

=Ary H.=
(Pengelola FP Mudah Nulis)

Rabu, 22 November 2017

Keperkasaan Seorang Anshor

Sedikit cerita tentang Usaid bin Hudhair. Beliau adalah salah seorang tokoh Yatsrib yang sangat disegani. Sikapnya tegas dan berprinsip, pun merupakan keturunan dari kalangan terhormat dan mulia. Seorang penyair pernah membuat syair tentang ayahnya,

Seandainya maut mau menghindar dari orang perkasa
niscaya ia membiarkan Hudhair ketika menutup pintunya
ia akan berkeliling, sampai malam menjelma
lalu duduk dan berdendang dengan asyiknya.

Usaid terkenal sangat berani dan memiliki kedudukan sebagaimana ayahnya. Beliau merupakan seorang pemimpin kabilah. Ketika mendengar bahwa ada seseorang warga Makkah yang mendakwahkan agama baru (Islam), yaitu Mush'ab bin Umair yang diutus oleh Rasulullah, Usaid marah hebat. Ia beranggapan bahwa orang tersebut akan memecah belah kesatuan dan kondusifitas di Madinah. Karena itulah ia harus mengusir Mush'ab.

Untuk memberi pelajaran kepada Mush'ab,  Usaid pun langsung menenteng tombak lalu langsung menemui Mush'ab yang sedang berdakwah. Di majelis itu ada As'ad bin Zurarah serta beberapa orang lainnya yang serius mendengarkan ceramah Mush'ab bin Umair. Usaid datang dengan penuh kemarahan dan keberangan. Ia langsung menodongkan tombaknya kepada Mush'ab seraya mengusirnya.

Berhadapan dengan orang yang sedang marah besar, Mush'ab berkata dengan santun,

"Apakah engkau berkenan duduk dan mendengarkannya? Jika engkau menyukainya, engkau dapat menerimanya. Sedangkan jika engkau tidak menyukainya, kami akan menghentikan apa yang tidak engkau sukai."

Usaid memang orang yang sangat cerdas dan tajam perasaannya. Tidak salah jika penduduk Yatsrib menjulukinya "Al Kamil" (Si Sempurna). Dalam kondisi sangat marah sekalipun, akalnya masih bisa berpikir normal. Ia pun mau menerima tawaran Mush'ab. Ia berkata,

"Engkau benar, sekarang sampaikanlah apa yang ada padamu!"

Mush'ab pun membacakan Al Quran, hidayah Islam meresap ke dalam hati Usaid bin Hudhair r.a. Selanjutnya melalui dakwah Usaid banyak tokoh dan penduduk Yatsrib yang masuk Islam.

Mengenai Usaid r.a., Rasulullah Saw bersabda:

"Laki-laki yang paling beruntung adalah Usaid bin Hudhair."

Usaid bin Hudhair memang sangat beruntung, karena dalam kondisi sangat benci dan marah sekalipun, #akal sehatnya masih #berfungsi. Dari jalan itulah ia menerima #hidayah #Islam dan tercatat mulia di langit dan bumi sebagai bagian dari #barisan #penolong #dakwah Rasulullah Saw, atau disebut dengan kaum #Anshor.

#Aryh
#Kisah
#ShahabatRasul

Sabtu, 15 April 2017

Karya Sepanjang Masa

Sore-sore sepulang kerja, anak-anak langsung meributkan mainan barunya. Sebuah kapal-kapalan dari seng dengan bunyi yang khas. Sebuah mainan yang mengingatkan penulis pada masa kecil. Padahal itu berlangsung lebih dari 30 tahun yang lalu.

Karya sepanjang masa. Itulah yang layak disematkan pada mainan tersebut. Sudah melintasi tiga generasi, masih tetap bertahan dan menarik. Penulis menjadi teringat akan buku-buku para ulama serta sastrawan muslim. Berbagai karyanya masih menarik untuk dibaca dan dipelajari hingga saat ini.

Pantas saja orang seperti Hamka sampai menuliskan di dalam buku Sejarah Umat Islam bahwa beliau bercita-cita menerbitkan buah tangan yang lumayan besar. Demi karya besar tersebut, beliau menyusunnya puluhan tahun. Rela membaca ratusan literatur serta menjaga buah karyanya meski harus berpindah-pindah tempat. Terbukti, karyanya kini masih berharga.

Kapal-kapalan dan buku tidaklah sama. Penulis hanya tertarik pada manfaatnya yang sepanjang masa. Ilmu ketika diamalkan dan diajarkan menjadi bermanfaat, sungguh akan menjadi karya sepanjang masa. Bahkan ia bisa menembus sekat-sekat dunia.

Semoga kaum muslim, khususnya para penulis muslim, bisa kembali melahirkan karya-karya sepanjang masa. Sebagaimana peradaban Islam yang telah menelurkan para ulama dan penulis terkenal sepanjang jaman.

Mari berkarya! Semoga Allah Swt memberkahi para penulis muslim dengan ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Menyatakan Cinta

"Seringkali orang menyatakan cintanya apabila berada dalam keadaan senang, gembira dan menguntungkan. Padahal cinta sejati hanya akan terlihat dalam keadaan sulit, musibah dan tidak menguntungkan. Namun perasaan cinta masih tetap bertahta di hatinya."

Kalimat hikmah ini dituliskan oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi dalam kitab Hikayat Shahabat. Beliau menuliskannya setelah berkisah tentang kecintaan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. kepada Rasulullah Saw.

Dalam suatu momen agenda dakwah terbuka di hadapan masyarakat Makkah. Rasulullah Saw dan para shahabat mengalami penyerangan dan penganiayaan dari para penentang dakwah Islam. Banyak shahabat terluka, termasuk Abu Bakar. Melihat kondisi Abu Bakar yang sangat parah,  keluarganya sangat mengkhawatirkannya.

Saat tersadar dalam kondisi yang parah tersebut. Abu Bakar r.a. malaham sama sekali tak mengkhawatirkan dirinya, ia  malah menanyakan bagaimana kondisi Rasulullah Saw. Bahkan ia belum mau makan hingga melihat langsung bahwa Rasulullah Saw baik-baik saja.

Begitulah kecintaan Abu Bakar terhadap Rasulullah Saw. Bukan hanya ketika ia bersama Muhammad Saw di saat kondisi tenang dan bahagia. Dalam kondisi sempit pun, Abu Bakar tetap mencintainya.

Begitu pula cinta Mush'ab bin Umair r.a. Kecintaannya terhadap Islam sangat luar biasa. Tidak hanya ketika Allah Swt memberikan kemudahan dakwah di Madinah melalui lisannya. Ia juga mencintai Islam di saat-saat sulit.

Ketika berada dalam kecamuk perang Uhud, Mush'ab tidak mau panji Islam terhinakan. Panji yang bertuliskan dua kalimah syahadah itu tetap ia pertahankan. Meski karenanya ia mesti terluka. Bahkan ia kehilangan anggota badannya, mulai dari lengan kanannya, lalu lengan kirinya hingga tertembus tombak dan syahid di medan Uhud.

Sangat wajar jika para shahabat lebih mengutamakan kaum muslim yang ikut berhijrah serta yang mengikuti perang Badar. Karena kecintaan mereka tetap terbukti ketika dakwah Islam mengalami masa yang sempit. Mereka orang-orang yang tidak berpaling dari Islam, meski dalam hitungan di atas kertas, kondisi terlihat tak berpihak kepada Islam dan kaum muslim.

Sebagai penulis muslim, tentu kecintaan yang utama tetaplah pada Allah Swt, Rasul-Nya serta agama-Nya. Adakah pembelaan kita saat Islam tersudutkan dan penuh fitnah? Ataukah kita hanya akan mencintai Islam di saat-saat gemilang semata?

Misalkan di saat tenang dan damai, kita bersemangat menulis tentang Islam. Namun di saat kondisi sempit, kita tak bersemangat lagi dengannya. Padahal, pecinta sejati tentu mau berkorban untuk yang dicintainya. Saat lapang maupun sempit, menulis tentang Islam tetap menjadi prioritas utama. Tentu bisa dengan jenis karya yang berbeda-beda.

Jadi, nyatakanlah cinta dalam luang dan sempit. Tetap menulislah dan dakwahkan Islam, meski apapun kondisi yang mendera. Karena kemenangan dakwah merupakan hadiah dari Allah Swt bagi orang-orang yang yakin dan istiqomah.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Menunggu atau Menjemput

Sekian lama menunggu teman di pinggir jalan. Langsung teringat pada tema sebuah tulisan. Ternyata, daripada menunggu lebih baik menjemput. Meski dalam menunggu pun kita masih bisa mengupayakan berbagai hal yang bermanfaat.

Beda kata beda makna. Tentu beda aktifitas dan berdampak pada hasil yang berbeda pula. Meskipun menunggu dan menjemput sama-sama merupakan kata aktif, tetapi perbuatan yang dilakukan pelakunya tidaklah sama.

Menunggu berarti diam atau pasif menantikan sesuatu. Sedangkan menjemput berarti aktif untuk meraih sesuatu.

Sebagai contoh misalkan rizqi. Meskipun rizqi bermakna pemberian dari Allah Swt. Namun Allah memerintahkan manusia untuk menjemputnya. Dalam Q.S.Al-Jumu’ah Ayat 10, Allah Swt berfirman :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."

Begitu pula Umar bin Al Khaththab pernah mengusir seseorang yang hanya berdiam diri menanti rizqi. Kemudian ia diberi uang untuk bisa membeli kapak dan berusaha menjemput rizqi.

Rizqi merupakan janji Allah Swt kepada setiap makhluk-Nya. Setiap yang bernyawa pasti dijamin rizqinya oleh Allah Swt. Hanya saja, Allah Swt pun tetap mewajibkan manusia untuk berusaha secara halal. Jadi, upaya itu kewajiban sedangkan hasil itu hadiah dari Allah Swt.

Sedari 1400-an tahun yang lalu. Allah Swt sudah berjanji akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dalam QS. An-Nur : 55 dinyatakan,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."

Inilah janji Allah Swt yang pasti berlaku dan terjadi. Manusia hanya diminta beriman dan beramal shalih untuk menjemput janji tersebut. Amal shalih yang seperti apa? Tentunya seluruh amal shalih yang mengantarkan pada istikhlaf (penerimaan kekuasaan) terhadap kaum mukmin.

Sebagai bagian dari kaum mukmin, para penulis muslim bisa mengambil bagian. Menjemput janji Allah Swt dengan melakukan dakwah di tengah masyarakat. Dakwah yang menyeru pada Islam semata.

Kita mungkin bisa saja menunggu, sebagaimana yang saya lakukan saat ini. Namun apakah tidak termasuk dalam kelalaian jika hanya bisa menunggu, sebagaimana kelalaian saya meminta no hp supir dan pengusaha rental-nya. Sehingga saya hanya bisa menunggu dan menunggu.

Meskipun aktifitas menulis yang saya lakukan bisa terkategori amal shalih. Namun hal ini tetap tidak berkaitan secara sebab akibat dengan kedatangan mobil jemputan. Amal efektif yang bisa saya lakukan untuk mempercepat mobil rentalan adalah mengupayakan no hp supir secepatnya. Alhamdulillah baru dapat barusan, sudah ditelpon dan ternyata mobilnya baru berangkat.

Semua perkara terjadi sesuai ketentuan Allah Swt. Namun bukan berarti kita tak boleh berupaya maksimal. Justru Allah Swt memuliakam orang-orang yang berupaya dibandingkan orang-orang yang hanya duduk menunggu.

لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (٩٥)

"Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (TQS. An-Nisa : 95)

Semoga kita termasuk para penulis pejuang, yang menjemput setiap janji Allah Swt dengan penuh kesungguhan. Aamiin.

Minggu, 09 April 2017

Ahad

"Ahad, Ahad, Ahad!," seru Bilal berkali-kali ketika dipaksa untuk mengucapkan nama-nama berhala kaum musyrik. Yang dimaksud adalah konsep Tauhid bahwa tiada Tuhan selain Allah. Karena kendati kaum musyrik saat itu mempercayai bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, yang menciptakan pendengaran, penglihatan, menentukan hidup dan mati serta mengatur segala urusan. (lih. Q.S. Yunus: 31 dan az-Zukhruf : 87). Kaum musyrik tidak mau mentauhidkan Allah Swt. Mereka tetap konsisten menyekutukan Allah Swt dengan selain-Nya.

Konsep tauhid inilah yang ditolak oleh kaum musyrik. Karena dengan mengakui ketaatan hanya kepada Allah Swt serta kerasulan Muhammad Saw, berarti berakhir sudahlah sistem jahiliyyah yang mereka bangun selama ini. Sistem yang meletakkan para bangsawan dan para pemilik harta sebagai orang terpandang. Dengan pengakuan tersebut berarti tamat pula berbagai keputusan di Darun Nadwah. Sebuah tempat yang biasa dipakai untuk memutuskan berbagai perkara berdasarkan adat dan kebiasaan para nenek moyang mereka semata. Sehingga, hasilnya seringkali berat sebelah. Hanya menguntungkan kaum bangsawan dan hartawan, sedangkan kaum budak, rakyat kecil, serta kaum perempuan hanyalah menjadi korban eksploitasi.

"Ahad, Ahad, Ahad," sebuah seruan perlawanan atas kejumawaan tokoh-tokoh jahiliyyah saat itu. Slogan ini menembus berbagai tempat dan jaman. Keteguhan orang yang mengucapkannya pada saat sempit sekalipun, telah diingat berbagai generasi. Namanya tertulis di setiap masjid, kisah heroiknya diingat anak-anak hingga orang dewasa. Hampir seluruh kaum muslim mengenal Bilal bin Rabah. Seorang budak hitam yang dimuliakan karena keistiqomahannya dalam Islam hingga akhir hidupnya.

Simbol "Ahad" pun ditunjukkan oleh jari telunjuk yang menghadap ke atas. Ibnu Abbas r.a. mengkategorikannya sebagai gerakan tangan al istighfar, yakni mengangkat tangan dengan satu jari yang menunjuk. Ini merupakan simbol doa dan tauhid. Belakangan simbol ini merebak di kalangan para aktifis muslim, semoga ini pertanda bahwa semakin banyak kaum muslim yang memahami akan pentingnya keteguhan Tauhid di era penuh fitnah dan cobaan akan hal tersebut. Seteguh Bilal bin Rabah r.a. saat mengucapkan, "Ahad, Ahad, Ahad!"

Wallahu al-Musta'an, La haula wa la quwwata illa billah. 

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis

Membayar Waktu

Bermula dari kejadian yang memancing ego pribadi di pagi hari. Saat mengantar istri untuk pengajian rutin mingguan. Mampirlah kami di pedagang cakwe keliling, maklum bumil sukanya ngemil.

Karena cakwenya baru saja masuk penggorengan, akhirnya kami tunggu hingga matang. Alhamdulillah tidak ada konsumen lain, sehingga saya berpikir tidak akan menunggu lama. Sembari menunggu 5 bungkus cakwe yang sedang digoreng, saya membeli 2  rapia untuk keperluan lain ke warung seberang. Sedangkan istri tetap menunggu di dekat roda pedagang cakwe.

Betapa kagetnya saya, ketika kembali menghampiri Sang pedagang. Ternyata cakwe yang kami tunggu-tunggu ternyata sudah berada di dalam bungkusan yang dipegang konsumen lain. Padahal sebelum saya pergi, ia tidak sedang memesan atau membeli cakwe.

"Mang ini gimana? Kita menunggu dari awal, mengapa orang lain yang didahulukan?" Tegur saya dengan nada yang agak keras.

Saya sengaja berkata apa adanya supaya Si pedagang dan pembelinya sadar diri. Mereka diam saja. Istri saya cuma senyum-senyum saja. Mungkin ia tidak enak hati terhadap Mang penjual Cakwe dan pembeli yang menyerobot.

Setelah naik motor. Saya bilang ke istri bahwa saya menegur supaya pedagang dan konsumen sama-sama menghargai waktu orang lain. Alasan pembeli yang menyerobot, katanya buru-buru mau bekerja. Padahal istri juga buru-buru mau mengaji. Terlambat di pengajian rutin juga ada arti kehilangan tersendiri, dan bagi kami itu bukan sekedar nilai materi.

Setelah saya mengantar istri, saya pergi ke bengkel motor. Servis, ganti oli dan gardan, itulah tujuan saya. Namun sayang sekali, kartu servisnya tidak saya bawa. Ada terbersit untuk pulang dulu mengambil kartunya. Tetapi mengingat waktu Jumat pagi yang sempit. Sedangkan kalau pulang dulu, saya harus menambah waktu sekitar 25 menit, apalagi sambil bonceng bawa anak di depan, pasti terkena angin. Akhirnya, saya pergi tanpa membawa kartu servis gratis.

Pertimbangan menyingkat waktu itu ternyata tidak gratis. Biaya servisnya dikenai 70rb. Bagi kaum gaji, pada tanggal 31 uang segitu lumayan bernilai juga.

Dari kedua kisah itu, saya mengambil ibrah bahwa waktu itu berharga. Bahkan kita membeli waktu itu dalam setiap detiknya.

Saat kita membeli buku. Sebenarnya kita bukan hanya membeli kertas dan bacaan, hal lain  yang kita beli dari buku itu adalah waktu membaca, belajar, menghafal, aktifitas dan pengalaman berharga hingga waktu untuk menuangkan ide yang dimiliki Si Penulis. Dengan membeli buku, kita bisa mengambil ibrah dari waktu hidup dan pengalaman penulisnya.

Hanya saja, tiada yang paling berharga dan menguntungkan untuk membayar waktu selain dengan tiga hal. Yakni iman, amal shalih dan berwasiat dalam kebenaran dan ketaqwaan. (Lih. QS. Al Ashri : 1-3). Termasuk dalam aktifitas membaca dan menulis, selayaknya berporos pada ketiga aktifitas tersebut. Karena jika tidak demikian, kita bisa termasuk orang-orang yang merugi. Wallahu a'lamu bishshawwaab.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Kesabaran Rasulullah di Thaif

Thaif merupakan daerah yang berjarak ratusan kilometer dari Makkah. Setelah penentangan terhadap dakwah makin menghebat, Rasulullah Saw menjadikannya sebagai salah satu tujuan hijrah.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 10 kenabian. Rasulullah berjalan bersama Zaid bin Haritsah. Mereka berjalan kaki selama empat harian, tidak menunggang kuda ataupun unta supaya tidak menarik perhatian kaum musyrik.

Beliau di Thaif selama 10 hari, namun ada juga yang menuliskan selama 15 hari. Selama di Thaif, beliau tak henti-hentinya mendakwahkan Islam. Ada tiga tokoh Bani Tsaqif yang ditemui oleh Rasulullah, yaitu Abdu Yalil bin Amr bin Umair, Mas'ud bin Amr bin Umair dan Hubaib bin Amr bin Umair.

Rasulullah Saw menyampaikan maksud kedatangannya, yakni mengajak mereka untuk melindungi Islam. Lalu, salah seorang di antara mereka berkata, "tercabik-cabiklah Ka'bah jika Allah mengutusmu!"

"Apakah Allah tidak menemukan orang lain (yang lebih layak) untuk diutus selain kamu?" sergah yang lain.

Terungkap pula sifat pengecut dan sombong dari ucapan mereka, ketika salah seorang berkata,

"Demi Allah, aku tidak mau berbicara denganmu selamanya. Jika benar engkau seorang Rasul seperti pengakuanmu maka sesungguhnya engkau sangat berbahaya bagiku. Jika engkau berdusta atas nama Allah, maka tidak pantas aku berbicara denganmu."

Rasulullah pun memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Namun mereka sudah menghasut warganya, termasuk anak-anak, untuk melempari Rasulullah Saw. Rasulullah dihujani lemparan batu sampai berkali-kali terjatuh dan bangun kembali. Zaid berusaha melindungi Rasulullah hingga kepalanya terluka parah. Keduanya berlindung di tembok sebuah kebun anggur. Saking lebatnya kebun tersebut, penglihatan orang-orang pun tertutupi karenanya.

Dalam kondisi terluka, terbuang, terasing dan terhina di hadapan para penghalang dakwah. Rasulullah Saw hanya bermunajat kepada Sang Pemilik Jagad Raya, Allah Ta'ala.

Beliau berdoa,

"أَللّٰهُمَّ أَشْكُوْ إِلَيْكَ ضَعْفَ قُوَّتِيْ، وَقِلَّةَ حِيْلٰتِيْ، وَهَوَانِيْ عَلَى النَّاسِ. يَا أ‌َرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَأَنْتَ رَبِّيْ. إِلَى مَنْ تَكِلْنِيْ؟ إِلَى بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنِيْ أَمْ  إِلَى عَدُوٍّ مَلَكَتْهُ أَمْرَيْ ؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلَا أُبَالِيْ. وَلَكِنْ عَافِيَتَكَ أَوْسَعُ لِيْ. أَعُوْذُ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِيْ أَشْرَقَتْ بِهِ الظُّلُمَاتُ، وَصَلَحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، أَنْ تُنْزَلَ بِيْ غَضَبُكَ، أَوْ تُحَلَّ عَلَيَّ سُخْطُكَ. لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ".

"Ya Allah, kepada-Mu aku adukan lemahnya kekuatanku, ketidakberdayaanku dan rendahnya aku di mata manusia.

Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku.

Kepada siapa Engkau serahkan diri ini? Apakah kepada mereka yang jauh lalu menyiksaku atau kepada musuh yang mengendalikan urusanku?

Selama Engkau tidak murka, maka aku tidak akan peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih aku harapkan.

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan serta memperbaiki segala urusan dunia dan akhirat, agar jangan sampai aku ditimpa amarah atau murka-Mu.

Ya Allah, bagi-Mu segala kepasrahan hingga Engkau meridhaiku, tidak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."

Begitulah kesabaran beliau saw dalam dakwahnya. Semoga kita bisa menapaki setiap jejak dan langkahnya. Aamiin.

(Ary H.)

Kelapangan Hati Utsman bin Mazh'un

Tatkala mendengar kabar tentang masuk Islamnya orang-orang Quraisy, Utsman bin Mazh'un r.a. segera pulang ke kampung halamannya. Meski dalam hijrahnya selama di Habasyah ia mendapatkan kondisi yang aman, tetapi kerinduan kepada Islam dan kampung halamannya mendorongnya untuk segera pulang.

Ternyata kabar tersebut hanyalah hoax belaka. Kabar dusta tersebut sengaja dibuat oleh kaum musyrik untuk menjebak umat Islam yang berada di Habasyah. Meski jebakan sudah disiapkan, umat Islam pun tetap memilih untuk memasuki Makkah dengan segala resikonya.

Tak semua umat Islam mengalami penyiksaan. Beberapa di antaranya mendapatkan perlindungan, termasuk Utsman bin Mazh'un yang mendapatkan perlindungan Walid bin Mughirah. Tetapi itu tak berjalan lama, karena Utsman memutuskan perlindungan tersebut karena menginginkan perlindungan Allah Swt semata.

Saat di luar perlindungan itulah, Utsman hadir dalam sebuah pertemuan kaum Musyrik. Ketika itu, Labib bin Rabi'ah membacakan syair yang memukau hadirin.

"Ketahuilah bahwa apapun yang selain Allah adalah hampa"

Utsman mengomentarinya, "Benar sekali"

Labib pun melanjutkan syairnya,

"Dan semua nikmat pasti akan lenyap"

Utsman menyanggahnya,

"Bohong! Kenikmatan surga tidaklah akan lenyap."

Tanpa memperhatikan amarah kaum Labib bin Rabi'ah dan para tokoh musyrik, Utsman terus menerus mengomentari sya'ir yang dibacakan. Hingga amarah itu memuncak dan Utsman pun dianiaya. Matanya lebam karena pukulan kaum muysrik.

Utsman bin Mazh'un r.a. pulang menginggalkan pertemuan itu, seraya bersyair,

"Jika demi membela agama tercinta
mataku terkena pukulan para pendusta agama
maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Siapa saja yang diridloi-Nya pasti berbahagia

Jika kalian menuduhku sesat
aku tetap akan berada di barisan Muhammad
Tujuanku hanya Allah
Islam tetaplah agama yang benar
meskipun kalian berbuat aniaya dan melakukan tipu daya."

Simaklah kejadian ini, apa yang di mulut Labib tak memastikan ia mengesakan Allah Swt. Karena penolakannya terhadap Rasulullah Saw serta ajaran-Nya, tetaplah membuatnya berada di barisan kaum musyrik. Wallohu a'lamu bishshowwaab. (Ary H.)

Sumber syair : Rijal[un] haula ar-Rosul[i]. Khalid Muhammad Khalid. Diterjemahkan oleh Muhil Dhofir, Lc.

Selasa, 28 Maret 2017

Lapuk


Iya, tulisan tentang impian itu telah lapuk terkena lembab. Maklum kualitas dinding bangunan perumahan yang memang segitu adanya. Impian itu tertuliskan pada 6 Agustus 2016. Impian untuk menyusun 1 buku dan 2 cerpen antologi sebelum 2016 berakhir. Alhamdulillah, semuanya sudah teraih melalui Penerbit Hatimedia I.

Adapun yang kedua adalah impian untuk menjadi seorang Pendidik Penulis Muslim. Impian ini pun selangkah demi selangkah mulai berbayang menjadi nyata. Selain tetap aktif berlatih menulis, mulai berbagi dengan mengisi training menulis, menyusun buku Mudah Menulis Opini, mengelola FP MudahNulis serta diskusi ringan dengan rekan-rekan di Akademi Menulis Kreatif. Alhamdulillah, semua aktifitas itu mengarah pada impian yang kedua. Mendidik generasi muslim untuk mau beropini dengan menulis. Menyatakan jati diri seraya menyebarkan kebaikan Islam.



Kertas itu telah lapuk, namun impian yang tertanam di benak tidaklah lapuk. Apalagi dunia saat ini jauh lebih banyak dikendalikan oleh opini. Fakta rusak pun bisa dipoles menjadi indah. Permusuhan terhadap iman pun bisa dibiaskan menjadi pembelaan terhadapnya. Benar diopinikan salah, salah diopinikan benar. Yang baik diopinikan jahat, kejahatan diopinikan menjadi baik. Pengendali opini seolah menjadi 'dewa', tempat para pemuja dunia meminta.

Tulisan itu telah lapuk, tetapi impiannya telah tertanam. Seiring tekad utama menjadi pembela Islam yang terpercaya hingga nyawa berpisah raga. Hanya kepada Allah Swt al faqir meminta belas kasih-Nya.

Hari ini al faqir benar-benar cemburu, seorang guru telah wafat membawa keistiqomahan perjuangan hingga penghujung usia. Semoga Allah Swt mengampuni salah dan khilafnya serta menerima seluruh amalnya. Aamiin.

Biarlah tulisan impian itu lapuk terkena dingin dan lembab. Namun al faqir berharap hanya kepada Allah Swt, agar bara Islam yang digenggam dapat mengusir semua dingin dan lembab yang menerpa. Semoga Allah Swt menguatkan iman, hati dan tekad perjuangan serta menjauhkannya dari kelapukan. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Senin, 09 Januari 2017

Disorientasi Nilai

Satu hal yang pasti, bahwa setiap perbuatan memiliki nilai tertentu yang ingin dicapai oleh seseorang, tatkala ia melakukan suatu perbuatan, sebab kalau tidak, tentu perbuatannya akan sia-sia.

Nilai suatu perbuatan ada yang bersifat materi, semisal perdagangan. Maksud dari perbuatan ini adalah mendapatkan materi berupa keuntungan. Ada juga nilai yang bersifat kemanusiaan, semisal menolong orang tenggelam. Dalam hal ini, yang menjadi tujuan adalah menyelamatkan orang tanpa melihat suku, ras dan agamanya. Ada juga nilai yang bersifat moral, semisal jujur, amanah dan sebagainya. Tujuannya adalah memperoleh aspek moralitas semata dan tanpa memperhitungkan keuntungan materi. Ada juga yang bersifat ruhiyah, semisal ibadah. Dalam hal ini, ibadah ditujukan semata hanya untuk beribadah. Kegiatan ibadah tidak dimaksudkan untuk mendapatkan nilai materi, kemanusiaan maupun moral. Karena itulah mesti dijaga pencapaian nilai ruhiyahnya.
Islam membolehkan peraihan keempat nilai perbuatan tersebut oleh manusia.  Tentunya dengan catatan peraihan semua nilai tersebut harus sesuai perintah dan larangan Allah Swt.

Namun dalam dunia yang serba materialistis seperti saat ini, tak jarang terjadi disorientasi nilai. Karena semua perbuatan seringkali diukur dengan materi. Misal, didorong jujur supaya sukses berdagang. Banyak menolong supaya sukses berbisnis bahkan beribadah pun ditujukan supaya harta berlimpah. Mengapa semua ujungnya menjadi materi. Tersebab mindset hidup yang dibentuk pandangan hidup sekulerisme adalah hidup ini hanya untuk mencari materi, tak lebih dari itu.

Mari kita simak kisah berikut, bagaimana seorang shahabat menjaga pencapaian nilai ruhiyah dalam perbuatannya.

Sesaat setelah diangkat menjadi khalifah, Umar bin Al Khaththab mengangkat Sa'id bin Amir menjadi Gubenur Syam yang berpusat di Hims. Meskipun pada awalnya menolak, Sa'id akhirnya menerima juga penugasan tersebut.

Sa'id berangkat ke Hims bersama istrinya. Keduanya masih pengantin baru. Istrinya merupakan wanita yang sangat cantik.

Amirul Mukminin membekali mereka dengan harta yang cukup. Ketika keduanya sudah nyaman di Hims, istrinya hendak menggunakan harta tersebut untuk membeli pakaian yang layak, perlengkapan rumah tangga serta menyimpan sisanya.

Mengetahui maksud istrinya, Sa'id berkata, "Maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita sekarang berada di negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat ramai. Harta itu lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita berkembang."

Sang istri bertanya, "Bagaimana jika rugi?"

Sa'id menjawab, "Aku akan sediakan jaminan."

Akhirnya Sang istri pun menyetujui rencana Sa'id. Kemudian Sa'id pergi membeli sebagian keperluan hidup yang bersahaja lalu uang lainnya dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan.

Hari terus berlalu, Sang istri pun selalu menanyakan perdagangan mereka serta keuntungannya. Sa'id menjawab dengan mantap, "Bisnisnya lancar dan keuntungannya terus meningkat."

Suatu saat, Sang istri menanyakan tentang harta tersebut kepada orang lain yang mengetahui kejadian sebenarnya. Orang itu pun tertawa sehingga membuat istri Sa'id curiga. Ia pun menanyakan perihal tersebut kepada suaminya.

Sa'id menjawab, "Semua harta kita aku sedekahkan."

Sang istri langsung menangis dan merasa menyesal karena tidak jadi membeli keperluannya. Sa'id memandangi istrinya yang sedang menangis, butiran air mata yang menetes semakin memesonakan kecantikannya.

Sa'id lalu berkata, "Dinda, kau kan tahu bahwa di Surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu."

Pembicaraan pun berakhir seperti seolah tak terjadi apa-apa. Tenang, penuh senyum dan kerelaan.

Beginilah salah satu upaya salah seorang shahabat Rasulullah Saw, yang bernama Sa'id bin Amir, dalam menjaga nilai ruhiyah sedekahnya. Ia bandingkan hasilnya dengan pahala, bukan sekedar hitung-hitungan matematis dunia semata.

Bukan berarti nilai materi tak boleh diraih, tetapi raihlah nilai materi pada perbuatan yang memang ditujukan untuk meraihnya. Sedangkan pada perbuatan yang ditujukan untuk meraih nilai ruhiyah, maka mari istiqomah pada nilai ruhiyah. Supaya hati senantiasa terjaga dari disorientasi nilai dalam aktifitas ibadah.

Semoga kita diberi kemudahan dalam meraih nilai-nilai dalam setiap perbuatan kita. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Sumber bacaan:
1) Mafahim Islamiyyah, KH. Hafidz Abdurrahman, M.A.
2) Rijal haula Rasul, Khalid Muhammad Khalid.

Minggu, 08 Januari 2017

Islam Mengubah Jadi Indah

Suatu hari, dua tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Islam dan Rasulullah Saw berbincang-bincang di atas sebuah batu. Mereka berdua adalah Umair bin Wahb dan Shafwan bin Umayyah.

Umair dan Shafwan sama-sama mengungkapkan kebencian mereka. Shafwan yang baru kehilangan ayahnya di medan perang Badar berkata, "Demi Tuhan, tiada guna lagi kita hidup setelah kehilangan banyak orang di perang Badar."

Umair pun menimpali, "Benar! Seandainya bukan karena tanggungan utang, anak dan istri, aku akan berangkat ke Madinah untuk membunuh Muhammad. Aku punya alasan untuk bertemu dengannya, yaitu urusan anakku yang menjadi tawanan."

Senang hati mendengar niat sahabatnya, Shafwan yang sedang terbakar kebencian kepada Muhammad, berkata dengan penuh semangat, "Akan kulunasi utangmu dan akan kucukupi kebutuhan keluargamu."

Mendengar dukungan Shafwan terhadapnya, Umair berkata, "Kalau begitu, jangan cerita kepada siapapun tentang masalah ini!"

Umair mengasah pedangnya lalu berangkat ke Madinah.

Kedatangan Umair bin Wahb ke Madinah langsung menjadi pusat perhatian, terutama Umar bin al Khaththab r.a. Apalagi Umair langsung mengikat tali kekangnya di depan masjid. Umar menatapnya dengan tatapan waspada lalu langsung menghadap Rasulullah, ia berkata kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, Umair datang dengan membawa pedang."

Rasulullah Saw menjawab, "Suruhlah ia masuk menghadapku!"

Umair masuk sambil memanggul pedang, Umar tetap waspada. Rasulullah Saw bersabda, "Biarkanlah dia, wahai Umar! Umair, mendekatlah!"

Umair mendekat dan mengucapkan salam ala jahiliyyah. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa Allah telah memberi umat Islam ucapan yang lebih baik, yaitu "Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wabarokatuh".

Umair pun berkata, "Demi Tuhan, aku baru saja mendengarnya, hai Muhammad."

Rasulullah Saw bertanya kepadanya, "Apa maksud kedatanganmu?"

Umair menjawab seraya menyembunyikan isi hatinya, "Aku datang untuk urusan anakku yang menjadi tawanan kalian."

Rasulullah bertanya kembali, "Lantas, untuk apa pedang itu?"

Umair tetap menyembunyikan niat jahatnya, ia menjawab, "Pedang sialan! Apakah menurutmu aku akan menggunakan pedang ini?"

Rasulullah bertanya kembali, "Jujurlah hai Umair! Apa maksud kedatanganmu yang sebenarnya?"

Umair menjawab, "Seperti yang kusebutkan."

Rasulullah Saw bersabda, "Bukankah engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umayyah di sebuah batu, berbincang-bincang tentang orang-orang Quraisy yang tewas di perang Badar. Kamu berkata, "Seandainya bukan karena tanggungan utang, anak dan istri, aku akan berangkat ke Madinah untuk membunuh Muhammad." Shafwan menanggung utang, anak dan istrimu dengan syarat kamu membunuhku. Ketahuilah! Allah akan menghalangi maksud jahatmu."

Mendengar penjelasan Rasulullah Saw, Umair langsung bersyahadat dan mengatakan bahwa yang mengetahui kejadian tersebut hanyalah ia dan Shafwan bin Umayyah. Demi Allah, Rasulullah mengetahuinya pasti diberitahu Allah Swt. Umair berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah."

Umair bin Wahb masuk Islam dan diajarkan Islam.

Umar bin al-Khaththab r.a. berkata, "Demi Allah yang diriku berada dalam genggamannya. Saat Umair datang ke Madinah, di mataku ia lebih menjijikkan daripada babi. Tapi sekarang, ia lebih aku sukai daripada beberapa anakku sendiri."

Dalam sekejap, Islam menghapus kesalahan masa lalu. Islam memaafkan permusuhan Umair terhadapnya, padahal pedang yang sering menyakiti umat Islam masih berkilau di hadapan mereka. Bahkan dalam sekejap, Umar r.a. pun menyukainya lebih dari beberapa anaknya. Umat Islam melupakan berbagai tindakan jahat dan permusuhannya dalam seketika. Bahkan semua itu seolah tak pernah terjadi dan  berbalas rasa cinta. Saat ini di hadapan umat Islam hanyalah saudara muslim yang bernama Umair bin Wahb.

Keimanan telah mengubah Umair. Di atas keimanan itu Umair memijakkan amal dan ketaatannya. Islam memang bisa mengubah segala sesuatu jadi indah.

Apabila sistem politik bengis ala sekuleris diubah menjadi sistem politik Islam. Niscaya ia akan menjadi indah. Apabila  sistem ekonomi sadis ala kapitalis diubah menjadi sistem ekonomi Islam. Niscaya ia akan menjadi indah. Begitu pula dengan sistem pendidikan, pergaulan, sanksi dan pemerintahan. Jika diubah menjadi berpijak pada aqidah Islamiyyah, niscaya ia akan menjadi indah. Sebejat-bejatnya masyarakat jahiliyyah pun ketika berubah menjadi masyarakat Islam, ia menjadi indah. Yatsrib jahiliyyah menjadi Madinah Al Munawwarah.

Mengapa masih ada keraguan untuk mengganti sekulerisme menjadi Islam? Hanya kejujuran yang bisa menjawabnya, sejujur Umair bin Wahb. Wallahu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Sumber kisah:
Rijal haula Rasul (ed. Terj.), Khalid Muhammad Khalid.

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Sabtu, 07 Januari 2017

Menerima Ketetapan Allah Swt

Saad bin Abi Waqqash r.a. merupakan salah seorang shahabat yang dido'akan oleh Rasulullah Saw. Beliau Saw mendo'akan supaya do'a-do'a Sa'ad dikabulkan oleh Allah Swt. Rasulullah bersabda:

أللّٰهُمَّ اسْتَجِبْ لِسَعْدٍ إِذَا دَعَاكَ (رواه الترمذي)

"Ya Allah, kabulkanlah Sa'ad, apabila ia berdo'a kepada-Mu"
(HR. At Tirmidzi)

Di dalam riwayat lain, Rasulullah pun mendo'akan Sa'ad supaya ditepatkan bidikan panahnya. Dialah shahabat yang pertama kali melesatkan panah di jalan Allah. Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa ia tidak pernah mendengar Rasulullah Saw menjadikan ayah dan ibunya sebagai jaminan, terkecuali kepada Sa'ad saat melemparkan panah di perang Uhud.

Do'a Rasulullah Saw dikabulkan oleh Allah Swt. Hingga Abdurrahman bin Auf r.a. menjuluki Sa'ad sebagai "Singa yang menyembunyikan kukunya", tiada lain karena do'a serta ketepatan bidikan panah Sa'ad.

Saat perang Qadisiyah, Sa'ad terpilih menjadi pemimpin pasukan. Sa'ad memerintahkan pasukannya untuk mengejar sisa pasukan Persia yang melarikan diri ke Mada'in. Padahal untuk sampai ke Mada'in harus menyebrangi Sungai Tigris yang arusnya sedang deras meluap-luap. Sa'ad membuat strategi yang membuat kagum para ahli sejarah. Hingga mereka melukiskan bagaimana dahsyatnya penyebrangan tersebut. Selain menjalankan strategi, Sa'ad pun memerintahkan pasukannya untuk membaca do'a "hasbunallaahu wa ni'mal wakiil." Pasukan kaum muslim menyeberangi sungai Tigris laksana berjalan di atas air dan tak ada yang tertinggal seorang pun.

Syaikh Muhammad Khalid menuliskan bahwa Amir bin Sa'id bercerita. Pada suatu hari Sa'ad melihat seorang laki-laki sedang mencaci maki Ali r.a. Thalhah r.a. dan Zubair r.a. Ia pun menegur orang tersebut namun orang tersebut tak memedulikannya. Lalu Sa'ad berkata, "Kalau begitu aku akan mendo'akan keburukan untukmu." Laki-laki itu menjawab, "Kamu mengancamku? Kamu ini seperti nabi saja."

Sa'ad pergi,  berwudlu kemudian shalat dua raka'at. Ia  berdo'a kepada Allah Swt, "Ya Allah, Engkau tahu bahwa laki-laki itu telah mencaci maki kaum yang telah mendapatkan kebaikan-Mu. Caci makinya tentu membuat-Mu marah. Karena itu, tunjukkan kebesaran-Mu dan jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi orang lain." Tak lama kemudian, seokor unta mengamuk, menabrak laki-laki tersebut dan menginjak-injaknya hingga tewas.

Meskipun do'a-do'anya selalu dikabulkan oleh Allah Swt. Sa'ad termasuk orang yang sangat qona'ah terhadap ketetapan Allah Swt. Ketika ia memimpin pasukan Qadisiyah, ia terkena penyakit bisul yang parah, ia pun tetap mengomando pasukannya seraya bersabar atas penyakitnya.

Begitu pula tatkala suatu saat ia kehilangan penglihatannya. Kemudian datanglah seorang pemuda menemuinya, ia berkata,

"لَوْلَا دَعَوْتَ اللّٰهَ فَرَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ"

"Andaikan saja engkau meminta kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanmu, niscaya Allah akan mengembalikannya untukmu."

Sa'ad menjawabnya,

" يَا بُنَيَّ ! قَضَاءُ اللّٰهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ بَصَرِيْ"

"Hai anakku! Ketetapan Allah lebih aku cintai daripada penglihatanku."

MasyaAllah, sungguh tiada apa-apanya diri ini dibandingkan generasi terbaik umat Islam. Semoga kita bisa mengikutinya. Aamiiin. (Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Rabu, 04 Januari 2017

Menulis Tidak Membangkitkan

Terus terang, tulisan ini terinspirasi dari status seorang penulis muslimah sekaligus pakar parenting, Usth. Yanti Tanjung, tentang membaca dan menulis yang saya baca tadi malam.

Memang benar. Layaknya membaca, menulis tidaklah akan membangkitkan masyarakat. Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang kemudian disimpan sebagai pemikiran di dalam otak untuk diterima atau tidak berdasarkan pemahaman asasi yang dimilikinya. Atau bahkan disimpan hanya menjadi informasi semata.

Tapi, mengapa banyak pemikir yang menceritakan tentang peran berbagai tulisan terhadap kemunduran Islam? Misal, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani yang menceritakan tentang bagaimana peran tulisan-tulisan filsafat terhadap kemunduran Islam. Kemudian Dr. Abdullah Azzam yang menceritakan tentang berbagai tulisan yang menyuarakan kebencian terhadam Islam dan khilafah. Atau Snouck Hurgronje yang merekomendasikan Hindia Belanda supaya kaum muslim tidak memahami kitab Al Quran. Semua hal itu, bukanlah tentang membaca dan menulis. Akan tetapi tentang apa yang tertulis atau apa yang dibaca.

Ada perbedaan antara membaca dan menulis dengan apa yang dibaca dan ditulis. Misal, dengan gerakan menulis terlahirlah seratus penulis. Tetapi mereka semua menuliskan tentang kepasrahan terhadap penjajahan. Kemudian digerakkan juga masyarakat untuk membaca semua karya-karya para penulis tersebut. Kira-kira, akan bangkitkah masyarakat? Jelas tidak. Malah mungkin akan semakin pasrah akan penjajahan yang dideritanya. Alhasil, pemikiran yang terkandung dalam tulisanlah yang akan berpengaruh terhadap benak masyarakat.

Selain itu, pemikiran yang tertuang dalam tulisan pun akan dipengaruhi oleh kemampuan penulis dalam menuangkan kata-katanya dan kemampuan pembaca dalam memahami maksud kalimat yang dituangkan penulisnya.

Tulisan merupakan buah pemikiran. Ia tidak membangkitkan, akan tetapi pemikiran yang tertuang dalam tulisanlah yang menentukannya, apakah akan mengantarkan kepada kebangkitan ataukah tidak. Karena kebangkitan manusia hanya akan terjadi jika ada kebangkitan pemikiran. Adapun kebangkitan pemikiran tergantung pada pemikiran asasi yang diadopsinya. Dan bagi kaum muslim, pemikiran asasi tersebut adalah Aqidah Islamiyyah.

Suatu pemikiran pun tidak cukup tertuang dalam berbagai buku dan tulisan. Supaya membangkitkan, pemikiran tersebut haruslah diemban, ia tidak cukup hanya dibaca dan dituliskan. Sebagaimana Al Quran ketika diturunkan kepada Rasulullah Saw, tak hanya dituliskan dalam pelepah kurma, batu dan sebagainya. Akan tetapi diemban dalam aktifitas dakwah.

Alhasil, membaca dan menulis memang tidak akan membangkitkan. Tetapi apa yang tertulis akan mempengaruhi pemikiran masyarakat. Di sinilah peran para penulis muslim, menjaga apa yang tertuliskan supaya selalu ide-ide mulia yang mengajak kepada Islam. Begitu pula tak cukup dengan itu, ide-ide mulia tersebut diembannya dalam aktifitas dakwah yang membangkitkan. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

https://www.facebook.com/MudahNulis/

Berlatih Membuat Status Terbaik

Kepribadian manusia terbentuk dari dua hal, yaitu pola pikir dan pola sikap. Pola pikir merupakan cara berpikir seseorang ketika menilai suatu fakta atau kejadian. Pola pikir akan terlihat dari ucapan dan tulisan seseorang. Sedangkan pola sikap adalah cara pemenuhan seseorang terhadap kebutuhan jasmani maupun dorongan naluriahnya. Karena itulah, tulisan seseorang, sependek apapun itu, akan menggambarkan isi pikirannya.

Apabila suatu tulisan seseorang selalu berpijak di atas suatu pandangan hidup yang khas, berarti tulisan tersebut merupakan pola pikirnya. Meskipun dalam interaksi dunia maya, kita memiliki keterbatasan untuk mengetahui detail tentang perbuatan serta pola sikapnya, terkecuali bagi yang sering berinteraksi di dunia nyata. Alhasil, status seseorang di dunia maya, hanyalah menggambarkan tentang isi pikiran seseorang dan tak lebih dari itu. Sedangkan pola sikapnya bisa saja sejalan dengan tulisannya atau bisa jadi berbeda. Saat pola pikir dan pola sikap berbeda, inilah yang dinamakan dengan split personality (kepribadian yang terpecah).

Meskipun status di dumay hanya menggambarkan isi pikiran seseorang, tak berarti pula kita bebas mencurahkan setiap kata. Karena setiap apa yang tertuang dari pikiran kita, tentu saja akan ada perhitungannya di sisi Allah Swt. Tulisan kita sebagaimana lisan kita, bisa membahayakan atau bisa menyelamatkan. Namun sebaik-baik tulisan tentunya yang mengajak kepada hidayah Allah Swt, lalu diringi dengan amal shalih dan keistiqomahan beriman kepada-Nya. (lih. Q.S. Fushilat: 33).

Pada hakikatnya, status kita merupakan tulisan kita dan ia adalah isi pikiran kita. Cara pandang kita dalam melihat sebuah masalah akan tergambar dari bagaimana tulisan kita. Misal, tentang fakta kenaikan listrik di awal tahun 2007. Tentu akan beragam pikiran orang dalam menyikapinya. Orang yang pragmatis tentu akan berkomentar, yang penting terbeli, sudah cukup itu saja tanpa mencari solusi selain untuk dirinya sendiri. Orang yang peduli orang lain tentu akan berkomentar dengan bahasa yang lebih empati terhadap rakyat miskin. Sedangkan orang yang memandangnya sebagai suatu kezaliman, tentu akan berkomentar tentang solusi mengakhiri kezaliman tersebut.

Komentar kenaikan  listrik sebagai suatu kezaliman, tak memastikan pula berasal dari satu pola pikir  yang sama. Orang yang berpandangan dengan pandangan hidup Islam, akan memandang kezaliman itu sebagai akibat dari pengabaian syariah Islam. Sedangkan orang yang berpandangan dengan pandangan hidup sosialisme,  akan memandang kezaliman itu sebagai penyimpangan atas dialektika materialisme. Atau hanya melihat dari melebarnya jurang antara golongan kaya dan miskin, tak lebih dari itu. 

Namun ada juga orang yang abai atas berbagai kejadian di sekitarnya. Mau Al Quran dihina, mau penghinanya dihukum ataukah tidak, mau harga listrik naik, mau terjadi pembantaian kaum muslim di berbagai negeri Islam, tetap saja curhat urusan pribadi. Hal ini bisa jadi pertanda bahwa pola pikirnya individualis. Ia tak mau peduli siapapun terkecuali dirinya. Meskipun bisa saja dalam perbuatan dan pola sikapnya tidaklah sejalan dengan pola pikirnya. 

Oleh karena itu, setiap status dan tulisan yang nyata-nyata bertentangan dengan Islam sudah bisa dipastikan berasal dari orang yang berpola pikir tidak islami. Mohon dicatat, pola pikir tidak islami. Pola pikir tidak islami bukan berarti mengeluarkan seseorang dari Islam. Misal, ketika seseorang mencurahkan perasaan cinta di statusnya kepada pacarnya. Atau ketika seseorang menuliskan untuk tak perlu memedulikan etnis Rohingya karena ia bukanlah bangsa Indonesia. Kedua contoh status ini terlahir dari pola pikir yang tidak islami. Karena dalam Islam, mencurahkan perasaan cinta kepada pacar, yakni pasangan yang belum sah, merupakan sesuatu yang diharamkan. Begitu pula dengan ajakan untuk tidak peduli terhadap muslim yang lain. Tersebab peduli terhadap muslim yang lain, bangsa apapun itu, termasuk perbuatan yang diwajibkan oleh Islam.

Untuk menjaga agar status kita tak bertentangan dengan islam, marilah kita berlatih membuat status terbaik dengan melatih pola pikir kita agar senantiasa islami. Melatih pola pikir islami bisa dilakukan dengan dua aktifitas, yang pertama adalah aktifitas meningkatkan pemahaman keislaman, berupa mempelajari aqidah dan syariah Islam. Adapun yang kedua adalah selalu melatih akal kita agar selalu menilai semua fakta dan kejadian berdasarkan pertimbangan syariah. Dengan demikian, status kita tidaklah menjadi sekedar status, tetapi status terbaik yang selalu mengajak orang lain kepada kebaikan Islam, bukan yang lain. WaLlohu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi. 

(Ary H. – Islamic Writer & Blogger)  

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Selasa, 03 Januari 2017

Menaiki 1000 Anak Tangga

Jika kita pernah berwisata ke tempat-tempat yang tinggi, mungkin kita takkan merasa asing dengan sensasi menaiki ratusan hingga ribuan anak tangga. Di antara anak tangga yang pernah saya rasakan sensasinya adalah Air Terjun Pelangi di Cimahi, Air Terjun Sindanggila di Lombok Utara dan yang paling dekat adalah Kawah Gunung Galunggung. Menaikinya benar-benar membutuhkan ketepatan, perjuangan dan keistiqomahan.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa ketepatan menjadi hal yang pertama. Saya teringat sebuah buku lawas yang ditulis Stephen R. Covey, di awal penjelasan tentang 7 kebiasaan manusia yang paling efektif, ia menjelaskan tentang makna efektif. Menurutnya, efektif itu meletakkan tangga pada tempat yang tepat. Jika kita keliru meletakkan tangga atau tidak tepat menaiki tangga, tentu kita akan sampai di lokasi yang berbeda. Sebagai satu-satunya contoh di lokasi wisata Gunung Galunggung terdapat dua tangga yang berbeda, jika kita ingin sampai di lokasi yang sama, maka kita mesti tepat parkir di tempat yang sama dan menaiki tangga yang sama. Tangga yang berbeda, akan mengantarkan kita ke lokasi berbeda.

Itu kalau di tempat wisata. Coba kalau di rumah, pas kita memakai tangga untuk membetulkan genting bocor misalnya. Kita sandarkan tangga kita ke tetangga depan rumah, kemudian kita menaikinya. Semakin cepat kita sampai, semakin cepat pula kita salah lokasi. Sama-sama sampai di atap, tetapi tak bisa membetulkan genting yang bocor. Karena itulah, kita mesti punya ketepatan dalam menaiki tangga.

Meletakkan tangga yang tepat berlaku pula dalam kehidupan kita. Tak sedikit orang yang terbetik ide untuk menjadi seorang penulis. Kemudian ide itu ia simpan sebagai salah satu visi hidupnya. Mau tidak mau, ia mesti meletakkan tangganya di posisi yang tepat menuju visi tersebut. Belajar menuangkan kata-kata merupakan upaya meletakkan tangga di posisi yang tepat. Bagaimana bisa menjadi seorang penulis jika tak mau mulai menuangkan kata-kata.

Tak cukup dengan meletakkan tangga di tempat yang tepat, untuk menaikinya kita pun butuh perjuangan. Tangga menuju puncak bisa terdiri dari ratusan bahkan ribuan anak tangga. Setiap anak tangga yang dipijak pun bisa jadi membutuhkan ribuan kata-kata untuk dituangkan, bahkan tak sedikit pula waktu, tenaga dan uang saku yang kita korbankan. Itulah perjuangan dalam setiap menaiki tangga kesuksesan. Janganlah aneh jika tungkai kaki kita pun bergetar lemas dan lelah karenanya. Karena tiada lautan kemudahan tanpa riak kesulitan.

Apabila kita yakin menaiki tangga yang tepat tak perlu khawatir saat lelah mendera, istirahatlah sejenak. Para penebang pohon pun butuh mengasah gergajinya. Kala lelah menaiki tangga, duduklah dan perkaya pikiran dengan membaca. Bagaikan istirahat seorang petarung sejati, badannya diam tetapi pikirannya menerawang mencari teknik dan strategi baru untuk memenangkan pertandingan.

Untuk menjaga keistiqomahan, maka bekerja samalah. Saat menaiki ratusan anak tangga Galunggung, salah seorang anak saya beberapa kali berhenti. Tetapi karena kami berempat, maka satu dengan yang lainnya saling menyemangati. Kadang Si Bungsu yang masih PAUD menyemangati kakaknya yang Sulung, kadang saya menggendong Si Bungsu di anak tangga yang curam, atau kadang kita menunggu yang ketinggalan. Semuanya berjalan alami dalam kebersamaan.

Karena itulah dalam dunia kepenulisan kita pun butuh kebersamaan. Bergaul dengan para penulis, terutama yang memiliki kesamaan ide dan visi, mungkin bisa membantu untuk saling menguatkan, salah satunya di Akademi Menulis Kreatif.

Visi apapun, termasuk menjadi penulis, bisa jadi lebih dari sekedar menaiki 1000 anak tangga. Namun dengan menaiki tangga yang tepat,  disertai perjuangan dan saling menjaga keistiqomahan, cepat atau lambat insyaAllah akan terwujud. Yassarollohu umurona. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis

Rabu, 28 Desember 2016

Yang Berulang

"Vis, V**pa!" Seru anak-anak seraya menunjukkan dua jari membentuk simbol V, setelah mereka menepuk teman-nya terlebih dulu. Kegiatan seperti itu dilakukan setiap kali melihat pengemudi V**pa. Termasuk ketika saya sedang mengemudikan sebuah scooter tua. Entah di daerah lain, tetapi begitulah yang sedang nge-tren di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Tentunya, di samping ramenya 'wabah' telolet.

Pada awalnya saya bingung, apa yang dilakukan anak-anak itu setiap kali saya lewat. Mereka saling menepuk dan tertawa riang. Lama-kelamaan saya pun akhirnya paham juga. Namun, saya bertanya juga dalam hati, dari manakah anak-anak dapat ide melakukan hal tersebut.

Perilaku tersebut bukanlah hal yang baru dalam dunia candaan anak-anak. Berpuluh-puluh tahun yang lalu saat ayah saya masih muda, perilaku tersebut membudaya juga. Meskipun saat itu yang menjadi objek incarannya bukanlah motor melainkan mobil Vo**sw**en. Cerita itu saya dapat langsung dari ayah saya dalam sebuah obrolan santai kemarin sore. Ternyata, hidup ini banyak mengalami sesuatu yang berulang.

Meskipun dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, secara hakikat manusia tetaplah sama. Butuh makan, minum, terdorong beragama, cenderung menyukai yang santai, eksistensinya ingin diakui serta memiliki hasrat seksual dan yang lainnya. Dalam memenuhi semua kebutuhan dan dorongan tersebut, tak jarang pemenuhannya berulang.

Bukan hanya sekedar budaya tepuk teman ketika melihat sesuatu. Sampai kepada perilaku taat dan maksiat pun banyak yang berulang. Umur manusia yang melintasi berbagai jaman, lebih dari jutaan tahun menghuni muka bumi ini. Semuanya hanya mengulang apa yang telah lalu. Karena itulah, banyak kisah-kisah di dalam Al Quran yang bisa kita jadikan pelajaran.

Tatkala dulu ada pembunuhan yang dilakukan Qabil hanya karena kecemburuan, maka manusia sesudahnya pun melakukan hal serupa. Jika dahulu ada penguasa zalim yang memusuhi dakwah Islam saat ini pun sama. Atau ketika dalam Al Quran diceritakan perilaku terlaknat kaum Sodom pada jaman Nabi Luth, saat ini tak sedikit yang melakukan perilaku tersebut.

Begitu pula saat dulu ada sekelompok orang yang lebih rela mati teraniaya karena mempertahankan keimanan, saat ini pun sama. Ketika jaman jahiliyyah banyak orang berbuat zalim dengan hukum buatan manusia, kemudian Rasulullah dan para shahabat memperjuangkan tegaknya keadilan dengan aqidah dan syariah Islam. Saat ini pun berulang seperti itu. Saat dulu kaum bangsawan dan hartawan merasa jumawa menindas rakyat, kemudian kaum muslim hadir bersenjatakan pemikiran Islam. Semua itu pun berulang.

Allah Swt memang mempergilirkan kekuasaan dari suatu kaum kepada kaum yang lain,

"Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia ; dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir." (TQS. Ali Imran [3]: 140-141)

Ayat ini berkaitan dengan kekalahan kaum muslim dalam perang Uhud, setelah kemenangan yang diraih dalam perang Badar. Akan tetapi, hal ini juga berlaku terhadap kita. Allah Swt mempergilirkan antara keluangan dan kesempitan dalam beriman, semata-mata untuk menguji hamba-hamba-Nya. Kehidupan manusia laksana sejarah yang berulang.

Karena itulah, Rasulullah Saw mengingatkan bahwa ketika pada jaman beliau Islam datang dengan asing. Maka pada suatu saat nanti pun Islam akan menjadi asing kembali sebagaimana pada awalnya. Dan kita rasakan sendiri, bagaimana keterasingan perilaku umat saat ini terhadap syariah Islam. Berbagai peraturan Islam yang tertera secara qath'i dalam Al Quran, pun penunjukan maknanya juga demikian. Tetapi seolah tidak bisa teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya yang berkaitan dengan hudud (sanksi), hatta menjaga kewajiban shalat, shaum dan zakat pun hanya diserahkan kepada individu-individu semata. Negara hadir hanya tatkala ada yang bermanfaat di dalamnya, jika tiada manfaat maka tiada pula perannya. Begitu pula terkait hukum pergaulan, aturan berpakaian serta keharaman zina dan sebagainya pun asing di tengah-tengah umat. Apalagi terkait politik dan pemerintahan.

Namun dalam keterasingan yang berulang ini, Allah Swt menjanjikan pahala yang besar. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((بدأ الإسلام غريباً، وسيعود غريباً كما بدأ، فطوبى للغرباء (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a. Bahwasanya Nabi Saw bersabda:  "Islam datang dengan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana pada awal kedatangannya. Maka berbahagialah orang-orang yang asing." (THR. Muslim)

Dalam hadits shahih lainnya, para Imam Ahli Hadits menambahkan,

قيل: يا رسول الله، من الغرباء؟ قال: ((الذين يصلحون إذا فسد الناس))

Ditanyakan (kepada Rasulullah Saw): "Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing tersebut?" Beliau bersabda: "(Yakni) orang-orang yang berbuat keberesan tatkala manusia berbuat kerusakan."

Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir tatkala menafsirkan QS. Ar Rum[30] : 41, bahwa pangkal kerusakan adalah kemaksiatan. Dan kita juga paham bahwa kemaksiatan adalah keberpalingan manusia dari hukum-hukum Allah Swt. Ketika manusia jauh dari hukum Allah Swt, bahkan membuat hukum tandingan lain selain hukum-Nya. Maka di sanalah akan terjadi berbagai kerusakan. Karena itulah Allah Swt mengecap selain hukum Allah sebagai hukum Jahiliyyah.

Inilah yang sedang berulang di dunia saat ini. Keberpalingan manusia dari hukum Allah Swt. Oleh karena itu, tak ada yang terbaik yang mesti dilakukan oleh kaum mukmin selain istiqomah melakukan keberesan dengan dakwah. Meskipun karenanya ia menjadi orang yang terasing. Mudah-mudahan keterasingan itu berbuah kebahagiaan di sisi Allah Swt. Aamiiin. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

#MudahNulis

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Rabu, 09 November 2016

OONISME (Sebuah Kisah Fiktif)

Terceritakan di negeri Oon sedang terjadi kasus besar. Kasus ini melibatkan pejabat kerajaan. Seorang pejabat kerajaan yang licik, didakwa telah menerima suap dari seorang borjuis.

Di waktu yang telah ditentukan, dihadirkanlah terdakwa dalam suatu sidang terbuka di hadapan rakyat. Rakyat sebenarnya sudah mengetahui dan merasakan kejahatan pejabat kerajaan tersebut, dan rakyat berharap Sang pejabat tersebut dihukum seberat-beratnya.

Raja: "Aku persilahkan kepada penuntut untuk membacakan dakwaannya."

Si penuntut pun membacakan dakwaannya yang panjang, di akhir dakwaannya ia menegaskan bahwa terdakwa bersalah.

Penuntut: "...karena itulah, maka terdakwa jelas bersalah karena telah disuap sebanyak satu milyar dan harus diusir dari kerajaan ini."

Mendengar tuntutan dari Si Penuntut, Sang pembela langsung angkat tangan.

Pembela: "Keberatan, Raja!"

Raja pun mempersilahkan Pembela untuk menyampaikan keberatannya.

Pembela: "Mohon diperjelas, klien saya disuap pakai apa?"

Raja: "Keberatan diterima. Silahkan penuntut untuk memperjelas maksudnya."

Rakyat yang menyaksikan pengadilan tersebut semakin banyak. Mereka berdatangan dari penjuru kerajaan.

"Terdakwa terbukti disuap pakai uang satu milyar!" Tegas penuntut dengan nada agak kesal. Seolah yang sudah jelas seperti itu masih saja ditanyakan.

Mendengar jawaban penuntut yang tegas, rakyat pun senang. Mereka mulai riuh memberikan dukungan.

"Tenang, tenang saudara!" Teriak pembela disertai tawa dan tepuk tangan gembira.

"Wahai raja dan hadirin semua, terdengar jelas bahwa klien saya disuap pakai uang satu milyar, iya kan?" Tanya pembela.

"Iya!" Jawab raja singkat.

Rakyat pun mulai teriak, "Iyaaa!"

Lalu, pembela tersebut berkata:

"Berarti raja harus membebaskan klien saya, karena berdasarkan ejaan bahasa negeri Oon edisi terbaru. Istilah DISUAP PAKAI itu bermakna TIDAK DISUAP. Dan jika tidak disuap, berarti klien saja harus dibebaskan dari segala tuntutan."

Raja: "Anda benar! Karena itu saya putuskan bahwa terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan."

"Bagaimana Penuntut, menerima keputusanku?" Tanya raja.

"Saya menerima semua putusan raja, anda telah berlaku adil!" Tegas Penuntut.

Rakyat: "?$&?*#%!?*$+?&#-?"

Akhirnya, pejabat yang licik tersebut pun bebas.

Rabu, 19 Oktober 2016

Bukan Motivasi

Melihat anaknya yang selalu terlihat murung, Sang ibu pun bertanya kepada anaknya.
“Nak, mengapa belakangan ini kamu sering terlihat murung?” sapa Sang ibu.
“Jangan terus terpuruk seperti itu jika punya masalah, bangkitlah!” Sang ibu memotivasi.
Mendengar ucapan Sang ibu, Sang anak terdiam. Tak lama, ia pun menjawab dengan suara yang pelan,
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.”
Mendengar ucapan Sang anak, Sang ibu tak mau menyerah. Ia pun terus berusaha memotivasi anaknya.
            “Kamu pasti bisa bangkit Nak. Jangan terus larut dan tenggelam dalam masalahmu sendiri”
“Setiap orang pasti punya masalah, dan kamu pasti mampu mengarunginya.”
Sang anak malah menundukkan pandangannya, tak sedikit pun ia menatap wajah ibunya yang tersenyum penuh semangat. Lalu berkata,
            “Aku tenggelam dalam lautan luka dalam.”
Sang ibu pun mulai memahami kondisi anaknya yang sedang putus asa. Tetapi ia tetap berharap Sang anak mau bangkit dari masalah yang dihadapinya. Seraya mengusap pundak anaknya, Sang ibu berkata dengan penuh kelembutan.
            “Sedalam apapun masalahmu Nak, pasti ada jalan keluarnya.”
            “Sampaikanlah kepada Ibu, mungkin ibu bisa membantu.”
Sang anak hanya terus tertunduk tanpa senyuman. Ia tertekur dengan mata penuh kesenduan. Hanya sedikit kalimat yang keluar dari mulutnya.
            “Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang,” ujar Sang anak seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Setelah berbagai upaya motivasi yang diberikannya, Sang ibu pun mulai terbawa suasana. Satu keinginan dalam hatinya, anaknya harus bangkit dan menghadapi masalah. Tetapi, mengapa anaknya tak mau juga mengerti. Dengan nada sedikit memelas, ia kembali mengingatkan anaknya.
            “Nak, hidup ini penuh rintangan. Jika kamu gampangan seperti ini, bagaimana nanti?”
            “Ibu masih di sini bersamamu, bagaimana jika kelak ibu meninggalkanmu untuk selamanya?”
Mendengar pertanyaan Sang ibu yang begitu emosional, Sang anak hanya tertegun. Ia pun mengangkat kepalanya dengan pelan. Ia tatap mata Ibunya, lalu berkata,
            “Aku tanpamu, butiran debu,” hanya kalimat pendek itulah yang keluar dari mulutnya.
Kisah fiktif ini awalnya saya baca dari sebuah buku. Terus terang, saya lupa lagi judul dan penulis bukunya, namun semoga kisah inspiratifnya menjadi amal jariyah untuk beliau. Sengaja saya menceritakan kembali kisah ini untuk dapat diambil pelajaran.
Sejuta motivasi takkan bermakna. Jika tak ada sedikit pun keinginan yang muncul dari diri kita sendiri. Sebagaimana manusia dewasa yang tenggelam di kolam sedalam 50 cm. Hanya akan terjadi jika ia hanya berbaring pasrah, serta tak sedikit pun berusaha untuk bangkit. Ketika mulai kehabisan nafas, ia pun hanya diam. Ketika air mulai masuk ke pernafasan dan paru-paru, ia pun hanya terdiam. Tak ada keinginan untuk bangkit dan berdiri. Kolam dangkal menjadi mematikan, masalah sepele pun menjadi menakutkan.
Bagi yang tak mau bergerak dan bangkit. Semua masalah di benaknya menjadi besar. Semua mimpi dan keinginan seolah menjadi mustahil. Padahal sejuta motivasi ditujukan kepadanya, ia tetap tak mau bangkit dan bergerak. Padahal, berjuta kemudahan di balik satu kesulitan sudah merupakan sunnatullah. Allah Swt berfirman, yang artinya:
“Maka sesungguhnya bersama (satu) kesulitan itu terdapat (banyak) kemudahan. Sesungguhnya sesudah (satu) kesulitan itu terdapat (banyak) kemudahan.” (TQS Al Insyirah[94] : 5-6)
Saya sengaja menambahkan kata berkurung. Penggunaan al ‘usr (memakai alif lam/ bentuk ma’rifat) dengan yusr (tanpa alif lam/bentuk nakirah) dalam ayat tersebut mengandung makna kuantitas yang berbeda.
Tak sedikit dari kita terjebak kalimat blunder yang hanya berujung pada satu kata, yakni motivasi. “Sejuta motivasi tak berarti jika tanpa aksi. Sejuta aksi tak bernilai jika tak islami. Amal islami mudah layu jika tak istiqomah. Keistiqomahan pun mudah patah jika tanpa pengorbanan. Namun, semangat pengorbanan kadang harus terpancing oleh motivasi yang mengena diri.”  Ujung-ujungnya, motivasi lagi.
Memang benar, tak ada aktifitas/perbuatan tanpa dorongan dan motivasi. Tetapi tidaklah tepat jika kita selalu mengharapkan motivasi luar yang akan menggerakkan diri kita. Diri kita bergerak karena motivasi kita. Jika kita diam, sejuta motivasi pun tak berarti. Sebagaimana yang termaktub dalam kitab mulia, “Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah apa yang ada di dalam diri mereka.” (TQS. Ar Ra’du[13]: 11).

Semua ikhtiar merupakan pilihan kita. Akan tetapi ada beberapa hal yang tak bisa kita lupakan sebagai manusia. Sifat pelupa selalu melekat pada manusia, karena itulah kita mesti saling mengingatkan untuk selalu pada track yang benar. Jika kita menyukai aktifitas menulis, maka bergaullah dengan para penulis. Jika kita ingin menjaga keshalihan diri, bergaullah dengan orang-orang shalih. Selanjutnya, sunatullah selalu melekat. Manusia berlari karena ia belajar berjalan. Manusia berjalan karena ia belajar berdiri. Begitulah sunnatullah, untuk menjadi ahli dan pakar, kita harus menjadi pembelajar. Semoga bermanfaat.
(Ary H. – Siswa Akademi Menulis Kreatif, 18 Muharram 1438 H)