Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Februari 2016

Pengaruh Sekulerisme Terhadap Ekonomi


Sekulerisme adalah pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan. Dikatakan demikian karena dalam pandangan sekulerisme, kehidupan dunia ini harus dipisahkan dengan pandangan akan sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Jika pun seseorang meyakini bahwasanya dunia dan seisinya diciptakan oleh Tuhan, ia tidak perlu mempertimbangkan hal itu dalam kehidupan dunianya, selain hanya aktifitas ritual semata. Begitu pula ketika ia meyakini bahwa manusia akan dikembalikan kepada Tuhan, maka hal itu tidak perlu diikutkan dalam kehidupan dunianya, selain keyakinan adanya pengampunan dosa. Keyakinannya terhadap Tuhan tidaklah berpengaruh pada seluruh aktifitasnya, selain aktifitas ritual, do’a dan permohonan ampunan.

Pandangan seperti ini tentu akan membuat seluruh tatanan kehidupan tidak dibangun di atas dasar agama. Karena itulah, dari pandangan hidup sekulerisme terlahir liberalisme (ide kebebasan). Liberalisme merasuk dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam ekonomi. Sistem ekonomia liberal ini pun dikenal dengan sistem ekonomi kapitalisme.

Pandangan utama liberalisme dalam ekonomi adalah pemberian kebebasan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dinikmati secara fisik. Manusia tidak perlu terikat dengan aturan Tuhan serta manusia harus dibebaskan untuk menikmati apapun. Pembatasan terhadap manusia merupakan pengekangan yang ditabukan. Sehingga terlahir pandangan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas. Semakin banyak manusia menikmati materi semakin banyak lagi yang ia butuhkan.

Berdasar pada kebutuhan manusia yang tidak terbatas inilah timbul problem kelangkaan relatif. Karena berbagai alat pemuas kebutuhan yang ada tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Alat pemuas kebutuhan yang dimaksud bisa berupa barang atau jasa. Barang seperti makanan, pakaian, minuman dan sebagainya. Adapun jasa seperti layanan dokter, supir dan sebagainya.

Pandangan kelangkaan relatif ini meniscayakan adanya aktifitas produksi. Produksi dilakukan untuk memperbanyak alat pemuas kebutuhan yang sudah ada, atau mengembangkannya menjadi produk lain.

Kebutuhan manusia akan barang/jasa memunculkan adanya nilai pada suatu barang/jasa. Setiap barang/jasa yang dibutuhkan manusia dianggap memiliki nilai. Meskipun hanya sedikit orang yang membutuhkan barang/jasa itu ada, tetap dianggap bernilai. Predikat nilai harus terbebas dari keyakinan, dogma dan doktrin apapun, termasuk agama. Bahkan pandangan para cendekiawan dan ilmuwan pun harus diabaikan, karena fokusnya adalah pada kebutuhan manusia. Selama ada yang membutuhkan barang dan jasa, maka ia bernilai dan layak diproduksi dan diperjualbelikan. Misalnya,  minuman keras sudah jelas merusak, baik dalam pandangan agama maupun ilmuwan. Tetapi karena ada sebagian orang yang membutuhkan maka masih dianggap bernilai. Begitu pula dalam dunia jasa, seperti pornografi dan pelacuran. Keduanya jelas sudah menimbulkan kerusakan di tengah masyarakat, tetapi tetap dianggap bernilai karena masih ada yang membutuhkannya. Inilah yang dimaksud dengan nilai guna.

Tidak semua manusia mampu memproduksi barang yang ia butuhkan. Oleh karena itu, mesti terjadi pertukaran barang/jasa di tengah masayarakat. Suatu barang bisa ditukar dengan barang yang lain. Misal, beras bisa ditukar dengan jagung. Begitu pula seekor domba bisa ditukar dengan alat-alat pertanian. Sehingga ada nilai tukar dari suatu barang.

Bagi para ekonom kapitalis, kajian tentang nilai suatu barang/jasa -baik nilai guna dan nilai tukar- sangatlah penting. Karena terkait interaksi manusia dengan alat pemuas kebutuhannya. Dari nilai suatu barang ini pula akan muncul penilaian aktifitas yang produktif dan non produktif. Aktifitas produktif adalah aktifitas manusia yang bisa menghasilkan nilai pada suatu barang/jasa, atau menambah nilai pada suatu barang/jasa.

Manusia semakin modern, pertukaran barang/jasa di antara mereka sudah menggunakan alat tukar (uang). Predikat nilai barang/jasa pun ditakar dengan uang, inilah yang dimaksud dengan harga. Jika nilai tukar barang/jasa dinisbatkan dengan barang/jasa lainnya, maka harga barang/jasa hanya dinisbatkan pada uang.

Sehingga, ekonomi yang terlahir dari sekulerisme dibangun atas tiga pilar. Yakni, problem kelangkaan relatif, nilai serta harga yang ada pada alat pemuas kebutuhan. Semua pilar-pilar tersebut terfokus pada materi semata.

Kebutuhan manusia yang diakui hanyalah kebutuhan fisik. Kebutuhan ma’nawiyah berupa pujian dan kebutuhan spiritual berupa aktifitas ibadah, sama sekali tidak mendapat perhatian dalam sistem ekonomi kapitalisme.

Sekulerisme juga tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan, padahal keduanya jelas berbeda. Kebutuhan merupakan kebutuhan fisik yang muncul dari tubuh manusia, yang jika tidak dipenuhi bisa menimbulkan kerusakan fisik manusia, misal makan dan minum. Sedangkan keinginan tidaklah demikian adanya, ia hanya muncul dari naluri eksistensi diri manusia. Misal ketika manusia haus, yang dibutuhkan tubuh manusia adalah air, lebih dari itu adalah keinginan. Sehingga, kapitalisme pun tidak membahas kebutuhan manusia pada apa yang seharusnya diperlukan manusia, tetapi pada apa yang diinginkan semata. Sebagai contoh, pornografi yang sudah jelas-jelas merusak tetap saja dianggap bermanfaat. Semata karena ada yang menginginkannya. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan, sumber bacaan : Muqoddimah Sistem Ekonomi Islam, Hafidz Abdurrahman, Al-Azhar)