Tampilkan postingan dengan label Kisah Si Abdul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Si Abdul. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2016

Sekedar Pertemuan

(Kisah Fiksi)
Masuk kuliah sedari pagi hingga siang memang cukup melelahkan. Terutama kedua mata yang tak bisa diajak kompromi. Kantuk berat mendera dengan membayangkan guling dan bantal melambai-lambai. Namun semua itu hilang sesaat setelah dosen mengucapkan salam penutup. Meski tungkai agak sedikit lunglai, Abdul melangkah dengan semangat. Sore itu ia ada janji dengan teman SMA-nya, Manaf, yang saat ini tinggal di Kecamatan Selatan.
Tiba-tiba HP-nya bergetar, pertanda ada pesan yang masuk.
"Teman-teman, mengingatkan nanti sore jam 15.30 kita kumpul-kumpul di kantor ya. Ada hal penting yang harus dibahas." Begitulah sms yang diterima Abdul. Ternyata dari Ketua LDK Harisul Islam.
"Ah, Mas Doko ini setiap kali sms pertemuan. Mesti penting terus, padahal pertemuan kemarin saja cuma bahas masalah dana." Ujar Abdul dalam hati.
Abdul pun terus melangkahkan kaki menuju kost-annya yang tak terlalu jauh dari kampusnya.
"Hal seperti itu kan cukup dibicarakan dengan seksi Dana Usaha saja. Apalagi waktu pertemuan sebelumnya, cuma ngobrol ke sana ke mari tentang rangkaian acara mahasiswa baru di kampus. Bukan membicarakan acara-acara LDK," lanjutnya. Abdul masuk ke kamarnya lalu berbaring melepas penat. Pinggangnya yang sedari tadi tertekuk tegang, seakan langsung terasa santai dan rileks. Lamunannya pun terus mempermasalahkan pesan dari Mas Doko. Bukan apa-apa, ia kadung punya janji main dengan temannya.
"Assalamu'alaikum!" Tetiba seseorang mengetuk kamar kostnya. Lamunannya pun langsung terpecah.
"Wa 'alaikumussalaam! Yusuf ya?" Jawab Abdul seraya membukakan pintu. Ia sudah sangat hapal suara sahabatnya.
Abdul mengambil jaket dan kunci motornya. Lalu duduk di atas kasur dipannya. Yusuf malah memilih duduk di lantai seraya bersender di dinding kamar kost. Ia memang lebih duduk dan bersandar di tempat yang dingin.
"Ayo! Kita ke kantor! Sudah dapat smsnya kan?"
"Sms dari pak Ketu? Ada. Tapi kayaknya aku ga bisa hadir Suf," balas Abdul.
Mendengar jawaban Abdul, mengernyitlah dahi Yusuf dibuatnya.
"Kenapa ga bisa? Pertemuan penting loh?"
"Ah, setiap kali sms pertemuan juga selalu penting terus. Padahal kan tak semuanya penting," kilah Abdul.
“Lembaga kita kan lembaga dakwah.”
“Iya, aku juga tahu”
“Sedangkan dakwah kan aktifitas yang penting. Jadi setiap pertemuan pasti jadi pertemuan yang penting.” Jelas Yusuf meluruskan kekeliruan sobatnya.
“Aku juga paham Suf. Namun baiknya kamu sampaikan juga tuh ke para senior yang sedang sibuk skripsi.  Mereka jarang sekali  hadir di setiap pertemuan. Padahal kan menulis skripsi dan konsultasi dengan dosen pembimbing tidak mesti setiap hari.” Abdul berkilah.
Yusuf pun diam sejenak, karena sebenarnya ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Abdul. Namun, Yusuf mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain.
                “Tapi, nanti kan kita dihisab sendiri-sendiri Dul,” bantah Yusuf.           
"Aku ada acara ke tempat temanku di Kecamatan Selatan. Aku ga enak, sudah lama ia mengajak aku berkunjung ke kostannya."
Yusuf menyerah, karena sepertinya Abdul tidak akan berubah pikiran. Ia tetap akan memilih untuk pergi ke tempat temannya.
                “Ya sudahlah kalau begitu, Dul. Ini juga sudah mau Ashar, aku mau pulang dulu ke kost-ku.”
                “Assalamu’alaikum,” pamit Yusuf seraya pergi keluar kamar kost Abdul,
                “Wa ‘alaikumussalaam,“ balas Abdul. Ia bangkit dan mengiringi langkah temannya.
Sore itu setelah shalat Ashar, Abdul pun langsung pergi ke temannya di Kecamatan Selatan, sekitar 30 km dari tempat kostnya.

  
Esok paginya.
“Gimana nih Si Manaf ga bangun-bangun juga, padahal waktu shubuh sudah mau habis.”
“Padahal aku ada kegiatan LDK di Kecamatan Barat,” gumam Abdul dalam hatinya.  
                “Naf, bangun naf!”
Abdul terus menggoyang-goyangkan badan temannya.
                “Sudah jam lima seperempat nih, ayo shalat Shubuh!
“Aku sudah ke masjid, baca Quran,eh.. kamu masih tidur saja.” Tegas Abdul.
Usaha Abdul tak sia-sia, Manaf pun terbangun dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
Setelah Manaf selesai melaksanakan Shalat, Abdul langsung pamitan.   
“Aku langsung pamit pulang ya, aku mau langsung ke Asrama Nashirul Haq di kecamatan Barat. Ada acara LDK ”
“Oh ya sudah, hati-hati ya!”
“Assalamu’alaikum!”
“Wa ‘alaikumussalam!”
Abdul tidak langsung memacu motornya ke Kecamatan Barat, ia mampir dulu ke kota. Alhamdulillah, ada dua orang mahasiswa baru yang ia kontak dan mau ikut kegiatan LDK. Keduanya adalah Aman dan Amin, dari namanya saja sudah bisa ditebak kalau keduanya adalah kakak beradik. Dan memang kenyataannya begitu, bahkan mereka adalah saudara kembar. Wajahnya keduanya mirip sekali. Setelah menjemput Aman dan Amin, Abdul langsung ke lokasi acara. Di luar perkiraan, menjemput Aman dan Amin di kota lalu ke kecamatan Barat, ternyata menghabiskan waktu yang lama. Padahal, Abdul merupakan orang yang suka tepat waktu.
Mitos Abdul sebagai orang yang selalu tepat waktu, runtuh seketika. Karena baru jam 9.30 wib ketiganya sampai di Asrama Nashirul Haq. Padahal acara dimulai jam 8.00 wib. Lokasi Asrama Nashirul Haq memang jauh dari keramaian, sehingga sering dipakai sebagai tempat kegiatan semacam training.
Saat ketiganya memasuki lokasi kegiatan, memang merasakan kejanggalan, khususnya Abdul. Bukan karena sepi dan mistik, namun tak semeriah biasanya. Sedari datang ke tempat parkir, pandangan Abdul menyapu beberapa motor yang berjejer rapih, tapi tak ada satu pun yang dikenalnya. Bahkan ketika masuk, tak ada satu pun spanduk kegiatan yang terpasang. Hanya terlihat beberapa penghuni asrama saja sedang duduk-duduk santai.  
                “Mas, kok sepi?” Tanya Aman
                “Emang di mana lokasinya?”
                “Iya Mas, kok seperti tidak ada kegiatan apa-apa?” Amin menimpali kakaknya.
Abdul pun tersenyum kebingungan.
                “Iya ya, padahal sampai rapat terakhir kemarin. Lokasi kegiatannya memang di sini.” Jawab Abdul.
Dengan agak ragu, Abdul pun memberanikan diri untuk bertanya. Dan sungguh memang di luar dugaannya. Ternyata di aula Nashirul Haq tidak ada kegiatan apapun, bahkan aulanya sedang berantakan karena ada aktifitas renovasi dan pengecatan ruangan.
                “Telpon saja mas, siapa tahu lokasi atau acaranya dipindah!” Usul Amin
                “Justru itu, hp saya ketinggalan di kost-an sedari kemarin sore.” Jawab Abdul.
Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pulang ke kostannya masing-masing.
Sekitar jam 10.30 wib Abdul sampai di kostannya. Naik motor ke sana kemari sangat melelahkan baginya. Sembari berbaring melepas lelah, ia pun mengambil HP-nya yang ketinggalan sedari kemarin. Betapa kagetnya ia, banyak sekali panggilan tak terjawab di HP-nya. Dari Mas Doko 5 kali, bahkan Yusuf meneleponnya 15 kali. Panggilan tak terjawab itu dari mulai jam 16.30  sudah tercatat, bahkan ada juga yang jam 8.30 Wib tadi pagi.
Ternyata pesan masuk yang belum terbaca pun tidak sedikit. Lebih dari 5 pesan tak terbaca di inbox-nya. Tatkala membacanya, terbelalak mata Abdul.
“Tolong Dul, diangkat telponnya. Kita ada masalah, infocus yang dibawa mati lampunya. Sedangkan infocus yang satu lagi ada di lemari besi yang kamu pegang kuncinya. Acara mau dimulai.” Itulah salah satu pesan yang dikirim Yusuf.
Ada juga pesan dari Mas Doko tentang hasil keputusan rapat kemarin sore :
                “Menyikapi keputusan Kampus yang meminta kita untuk melakukan pengiritan biaya, maka 1) Lokasi acara dipindah ke Masjid Jami As Salam di Desa Tentram Kecamatan Utara. 2) Untuk jaga-jaga, mohon membawa infocus, battere dan netbook cadangan. 3) Alhamdulillah Ust. Halim (Inspirator dan Penulis Buku Terkenal) sudah fix bisa mengisi acara kita, tanpa mau diberi kompensasi apapun. Karena itu jangan sia-siakan kesempatan ini, bawa peserta sebanyak-banyaknya. Yassarollohu Umurona. Aamiin.”
Astaghfirullah, terbayang oleh Abdul bagaimana jadinya kegiatan hari ini. Ia melihat jarum pendek di jam dinding sudah mau mendekat ke angka 11. Benar kata Yusuf, ternyata semua pertemuan itu adalah pertemuan penting. Pertemuan bukanlah sekedar pertemuan, tetapi pertemuan untuk merencanakan sebuah keberhasilan. Abdul menyadari, meskipun ia bukanlah panitia tetapi sebagai pengurus LDK, kehadirannya sangatlah penting. Meskipun untuk hanya sekedar duduk dan mendengarkan keputusan hasil rapat. Apalagi, pembicara yang hadir adalah ustadz yang dinanti-nantikannya selama ini. Padahal sebelumnya, kehadiran beliau yang diinisiasi oleh salah seorang alumni LDK, baru sebatas wacana.
Dengan rasa bersalah, Abdul memberanikan diri untuk membuka daftar panggilan tak terjawab, lalu menelepon Mas Doko. Meskipun kegiatan sudah akan selesai, namun ia berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
(T A M A T) 
Ary H.  (Islamic Writer and Blogger)

Selasa, 22 November 2016

Di Sini Di Sana

Abdul merenung, berderet pertanyaan melintas di benaknya, 
"Saat flu aku bisa membawanya bekerja, mengapa untuk dakwah terasa berat rasanya. Saat sakit kepala bisa kubawa mengantar anak, mengapa tak bisa untuk mengantar lembaran dakwah. Jika pegal mendera tetap bisa kubawa belanja, mengapa untuk mengundang orang ke pengajian linu sekali rasanya. Saat terserang batuk aku bisa bercerita di pos ronda, mengapa untuk ngisi kultum singkat terasa parah rasanya. Bila mata terasa lelah bisa kubawa lama menonton televisi, mengapa untuk membaca Al Quran perih terasa. Kantuk ini bisa kutahan untuk bercanda di sosial media, tapi jika kubawa belajar, pedih menahannya. Capek badanku bisa kubawa wisata, tapi kajian rutin tak bisa dipaksa. Tipis dompet bisa kubawa belanja, tebal dompet ku tak bisa bawa infak dan sedekah. Di sini aku bisa, di sana ku tak bisa. Mengapa?"
Semua pertanyaan itu terus ia bawa, seraya memohon ampun kepada Allah Al Ghofur di sepertiga malam. 

Beban Yang Menguatkan

(Kisah Fiksi)

Abdul pun terkulai lemas. Di tengah padang pasir yang luas, nafasnya terasa berat. Matahari yang menyengat semakin mengeringkan tenggorokannya, kulitnya memerah dengan keringat bercucuran. Tungkai kakinya melemah, ia telah kehabisan bekal dan tenaga.
Teringat akan perjalanan yang telah ia lalui. Rekan-rekannya di sepanjang jalan, di kanan dan kiri, menyapanya seraya menawarkan bekal perjalanan untuk ia bawa.
"Tidak, cukup segini saja bekalku, bebanku nanti bertambah berat," ujar Abdul menolak setiap tawaran.
Padahal jika ia mau membawa bekal demi bekal, mungkin kakinya akan semakin terlatih menahan beban. Punggungnya pun akan semakin kuat menahan setiap lelah, seraya ada tambahan tenaga dari bekal yang ia bawa. Saat perjalanan yang ditempuh semakin gersang, setidaknya beberapa teguk air yang akan menyegarkan. Saat perjalanan bertambah kerontang, setidaknya beberapa kepal roti yang akan mengenyangkan. Mungkin, ia bisa lebih jauh berjalan hingga sampai di tujuan.
Seumpama itulah Abdul berpikir terkait perjalanan dakwahnya. Ia merasa lemas, futhur di tengah jalan, karena setiap bekal yang ditawarkan rekan-rekannya ia tolak. Padahal bekal yang ditawarkan adalah mengisi kajian mingguan, khutbah jumat, panitia kegiatan keislaman, membagi selebaran, menjadi penanggung jawab kontakan atau mengelola daerah dakwah dan lain sebagainya. Semua bekal itu tentunya akan menguatkannya. Meskipun memikulnya akan terasa berat di awal, namun pasti berguna di masa depan.
Di tengah perjalanan yang panas, kering kerontang, Abdul terus merayap. Mengubah tujuan mencari tempat yang teduh. Namun tak jua ia dapatkan. Semoga sebelum ajal datang, Abdul masih sempat bertemu lagi rekan-rekannya, yang mau bersama berbagi bekal dengannya.

Sakit

(Kisah Fiksi)

Hujan turun deras sedari pagi, hanya sebentar saja ia terhenti di sore hari. Seolah memberi kesempatan pada burung-burung untuk terbang kembali ke sarangnya. Sebakda Isya, Abdul berdiri di depan pintu menatap hujan yang tak kunjung mereda.
"Duh, gimana nih jadwal kajian Islam rutin! Kalau hujan begini, mending ijin saja," Abdul berujar sendirian.
Terbayang di benaknya, menembus hujan lebat dengan kendaraan roda dua. Jas hujan miliknya, pasti takkan mampu menghalangi dingin yang bakal mendera.
Di tengah keraguan itulah, Abdul akhirnya memutuskan untuk tidak berangkat.
"Biarlah saat ini ijin, pekan depan aku kan masih bisa hadir," gumamnya dalam hati.
Setelah menutup pintu rumahnya, Abdul pun mengeluarkan hpnya lalu menulis pesan.
"Tadz, mohon maaf kali ini saya ijin tidak bisa hadir. Hujan lebat, dingin sekali. Saya tidak kuat dingin."
Begitulah pesan Abdul yang dikirim via WA-nya.
"Mengapa tidak berangkat kajian, Pak?" Kata Sang Istri yang sedari tadi memperhatikan suaminya mondar-mandir.
"Hujan bu, Bapak tidak tahan dingin," jawabnya seraya bergidik.
"Oh, begitu. Ya sudah, Bapak istirahat saja," timpal Sang istri.
Baru saja Abdul membaringkan badannya, tiba-tiba hpnya berdering. Tertulis "No tidak dikenal" di layar hpnya. Abdul menduga, pastilah yang menelpon adalah Ust. Amin, yaitu pembina kajian Islamnya selama ini.
Abdul sama sekali tak tertarik untuk mengangkat hpnya. Sdh terbayang di benaknya, pasti Ust. Amin sekedar hendak menanyakan kabarnya saja.
Setelah berdering berkali-kali, akhirnya ia pun mengambil hpnya. Dengan sedikit emosi, ia pun menekan tanda tolak panggilan. Lalu kembali menulis pesan.
"Assalamu'alaikum tadz, mohon maaf saya tidak bisa ikut kajian. Saya sedang sakit." Abdul seakan surti bahwa Ustadz Amin pasti menanyakan kabarnya.
Tak lama kemudian, ada balasan dari nomor tidak dikenal tersebut.
"Wa 'alaikumussalaam, mohon maaf saya bukan Ustadz. Saya Budi, saya tertarik dengan program training yang Bapak kelola untuk perusahaan saya. Tadinya saya mau mengundang Bapak untuk presentasi esok hari di kantor kami. Tapi berhubung Bapak sedang sakit, biarlah kami cari yang lain saja. Mohon maaf telah mengganggu waktu istirahat bapak. Terima kasih"
Abdul: &?#?*+?&?

Bekal

(Kisah Fiksi)

Sebuah pagi yang redup, ketika mentari masih bersembunyi kedinginan berselimutkan awan, Abdul duduk santai di teras rumahnya. Secangkir kopi dan sebuah buku sejarah Islam menemani kesendiriannya. Seruput kopi hangat menjadi penyela aktifitas membacanya, setidaknya bisa menyegarkan mata yang lelah.
Membaca buku sejarah, membuatnya menerawang ke salah satu kisah dalam episode buku kehidupannya. Pikirannya sibuk mencari file kisah memori yang sangat menarik baginya.
Saat itu, ia masih kuliah. Di sebuah sore yang cerah, ia kedatangan tamu seorang senior di kampusnya, Mas Andi namanya. Ia adalah salah seorang aktifis Lembaga Dakwah Kampus. Setelah lama berbincang,
"Begitu Mas, saya tidak ada waktu untuk.ikut kajian keislaman di kampus. Waktu saya padat Mas," ujar Abdul menolak ajakan Mas Andi.
"Kuliahmu padat ya? Ga ada liburnya?" Tanya Mas Andi.
"Iya mas, setiap hari aku masuk dari pagi sampai siang," Jawab Abdul.
"Kalo menyempatkan di sela-sela kuliah, bagaimana?" Tanya Mas Andi kemudian.
Sebetulnya Abdul punya luang waktu banyak di sela-sela kuliahnya, antara satu jadwal mata kuliah dengan jadwal berikutnya. Tetapi, ia tidak mau kuliahnya terganggu aktifitas lain. Ia ingin fokus kuliah saja.
"Nggak Mas, kalau kuliah aku ingin fokus kuliah saja. Saya takut mengecewakan orang tua, kalau saya ditanya pas pulang nanti," jawab Abdul kemudian.
"Kalau sore hari bagaimana?" Mas Andi bertanya lagi.
"Aku sibuk les bahasa Mas, saya ingin menyiapkan bekal untuk masuk dunia kerja nanti," jawabnya langsung disertai alasan. "Kan Mas tahu sendiri kalau bahasa Asing sangatlah penting untuk bekal masa depan," lanjutnya.
Mas Andi manggut-manggut tanda mengerti. Setelah berdiam sejenak, ia bertanya kembali, "Bagaimana kalau malam?"
"Mmmmh....," gumam Abdul, ia terdiam sejenak. Lalu menjawabnya, "sibuk Mas, sibuk ngerjakan tugas untuk kuliah pada esok harinya."
"Kalau malam minggu bagaimana? Kan libur tuh," tanya Mas Andi.
"Duh, ga bisa Mas. Saya sering kumpul-kumpul dengan teman kostan. Hari minggunya juga jadwal saya nyuci pakaian," Abdul menutup semua peluang Mas Andi untuk bertanya lagi.
"Oh ya sudahlah kalau begitu," jawab Mas Andi.
"Dul, kamu memang hebat. Benar-benar serius menyiapkan masa depan dengan baik," ujar Mas Andi.
"Iya mas, kalau tidak serius, bagaimana aku dewasa kelak," Jawab Abdul berbangga.
"Itu bagus Dul, keseriusan seperti itu harus dipertahankan. Apalagi kamu juga mengikuti les bahasa Asing sebagai tambahan bekalnya" lanjut Mas Andi.
Abdul semakin senang, Mas Andi mau mengerti dirinya.
"Namun, apakah kamu yakin dan menjamin tetap sehat dan hidup dewasa kelak?" Tanya Mas Andi pelan-pelan.
Abdul belum mengerti arah pertanyaan Mas Andi.
"Maksudnya gimana, Mas?" Tanya Abdul.
"Iya, Abdul menjamin ga bakal hidup sampai usia dewasa? Tahu ga umur Abdul sampai berapa tahun?" Tanya Mas Andi.
"Ya enggak lah, Mas!" Jawab Abdul. "Kematian kan ada di tangan Allah Swt, tidak ada manusia yang tahu ajalnya sampai kapan," lanjutnya seraya tersenyum.
"Tapi, kita pasti mati kan?" Tanya Mas Andi kemudian.
"Iya pasti lah, Mas!" Abdul menjawabnya dengan ringan.
"Nah inilah Dul," Mas Andi berhenti sejenak. Lalu menghela nafas dengan pelan-pelan.
"Iya kenapa Mas?" Abdul penasaran.
"Menjadi dewasa belum pasti dialami, namun ajal dan akhirat pasti kan dialami. Mengapa untuk masa depan yang belum pasti, kita serius menyiapkannya. Sedangkan untuk masa depan yang sudah pasti, bagaimana? Apa bekal yang sudah kita siapkan?" Tanya Mas Andi.
Abdul terhenyak dengan pertanyaan ini. Ia pun bertanya ke dalam dirinya, apa bekal yang sudah ia siapkan untuk masa depan yang sudah pasti. Adakah?
Abdul pun terhenti dari lamunan masa lalunya, ia kembali menyeruput kopinya dan membaca buku sejarah yang ia pegang sedari tadi. Alhamdulillah, Allah Swt memberikan kesempatan hidup hingga ia dewasa. Meskipun bekal hidupnya sampai saat ini masih jauh dari kata cukup. Tapi setidaknya, dengan mengikuti kajian Islam dan dakwah itulah ia belajar untuk menyiapkan bekal untuk masa depan Akhirat yang pasti kan dialami setiap insan.
(Tamat)

Saling Menuntut

(Kisah Fiksi)

Hari Senin, hari yang biasanya penuh kesibukan. Tak terkecuali bagi seorang Abdul, sejak pulang dari masjid, ia langsung bersiap-siap. Sebagai seorang trainer, ia mesti tampil rapih dan prima di hadapan para pesertanya.
"Bu, kemeja biruku di mana ya?" Tanya Abdul kepada istrinya, sambil mondar-mandir kesana-kemari.
"Yang mana Pak?" Tanya Sang Istri.
"Itu bu, yang baru beli minggu kemarin? Masak sih ibu lupa, kan belinya juga sama ibu?" Jawab Abdul.
"Cepat dicari ya Bu! Tempat training hari ini cukup jauh, Bapak butuh waktu!" Lanjutnya. Ia mulai kesal.
"Iya pak, ini kan sedang Ibu cari. Mengapa sih ga dr tadi malam mempersiapkannya?" Tanya istrinya, seraya terus memeriksa isi lemari. Tapi kemeja yang dicari tetap saja tidak ketemu.
"Ibu kan tahu sendiri, kemarin kan Bapak sibuk kajian dan mengikuti kegiatan keislaman sampai malam!" Jawabnya.
"Harusnya ibu kan yang mempersiapkan. Kemarin kan ibu libur, harusnya bisa mempersiapkan kemeja Bapak!" Ujar Abdul dengan ketus.
"Bapak ini, ibu kan kemarin juga ada acara dan rapat persiapan kegiatan training keislaman. Pan kegiatan dakwah juga." Jawab Sang Istri.
"Astaghfirullah Pak, kemejanya ketemu, tapi masih di cucian!" Teriak Sang Istri.
"Maafin Ibu ya Pak, Bapak pakai kemeja yang lain dulu!" Pinta Sang Istri dengan nada memelas.
"Ibu ini, gimana sih! Kemeja Bapak yang lain kan sudah mulai lusuh? Kata Bapak juga, kalau mau kegiatan di luar rumah, lihat dulu kegiatan di dalam rumah! Itu kan tugas Ibu!" Abdul mulai morang-maring. "Tugas utama ibu itu di rumah, ingatlah! ibu akan dihisab jika mengabaikan tugas utama ibu di rumah," jelas Abdul.
"Maafin Ibu Pak, tetapi kemeja yang ada di lemari juga Ibu lihat masih bagus kok Pak," tegas Sang istri.
"Cuci saja sekarang Bu! Bapak tunggu saja. Ibu ini gimana sih, ga bisa mengatur waktu!" Ketus Abdul, ia terus saja menyalahkan Sang istri.
"Iya, baiklah Pak!" Jawab Sang istri seraya menuju kamar mandi.
Tapi, tak lama Sang istri kembali lagi.
"Pak, kayaknya ga bisa mencuci pakaian sekarang," ujar Sang istri.
"Mengapa Bu? Alasan apa lagi?" Abdul terus saja emosi.
"Ibu baru ingat, kita ga punya sabun cuci Pak, kemarin ibu mau belanja. Tapi ibu benar-benar ga ada uang.
"Ibu juga baru ingat, pagi ini juga belum bisa masak karena gasnya habis," jelas Sang istri.
Abdul pun terdiam, ia memang ada uang di sakunya. Tetapi itu hanya cukup untuk ongkos ia pergi ke tempat training. Mungkin pas pulang, ia baru bisa ada uang.
"Pinjam dulu dong bu, bapak kan baru ada uang nanti pas pulang," ucap Abdul dengan nada suara mulai pelan.
"Pinjam ke mana Pak? Bapak kan tahu sendiri kalau ibu tak berani berutang!" Jawab Sang istri.
"Ibu kan sudah bilang. Kalau Bapak harus cari tambahan kerjaan lain. Mengisi training dengan jadwal yang tidak menetap, sudah tidak cocok lagi dengan kebutuhan yang semakin meningkat. Anak-anak juga bertambah besar. Tugas Bapak kan harus menafkahi istri dan anak dengan layak," jelas Sang istri dengan pelan.
"Bapak juga perlu tahu, mengapa Ibu kemarin seharian di luar rumah. Karena Ibu belajar membuat proposal, ibu berkali-kali minta diajari ke Bapak, tetapi Bapak sibuk terus," jelas Sang istri.
Abdul terdiam. Ia mulai merenungi setiap perkataan istrinya.
"Bukankah mendidik istri juga merupakan tugas seorang suami?" Tanya Sang istri, seraya melihat ke wajah suaminya.
Sang istri tak menyangka, ia melihat lelehan air mata di kedua sudut mata Abdul. Abdul pun langsung terduduk di kursi. Melihatnya, Sang istri pun terdiam dan tak melanjutkan ucapannya.
Sang istri sadar, ia telah berbuat lancang kepada suaminya. Ia telah menyakiti hati suaminya. Ia berpikir, bagaimana kalau suaminya tidak ridlo terhadapnya, padahal keridloan Allah Swt terletak pada keridloan seorang suami. Setelah lama terdiam, ia pun memberanikan bicara.
"Maafkan Ibu, Pak! Ibu telah lancang kepada Bapak," ucap Sang istri.
"Ga apa-apa Bu! Bukan itu yang membuat Bapak menangis," jawab Abdul.
"Jika bukan perkataan Ibu, lalu apa yang membuat Bapak bersedih?" Tanya Sang istri kemudian.
Abdul hanya terdiam, bibirnya seakan berat untuk berucap. Namun, tak lama kemudian ia berkata dengan nada yang pelan, jauh sekali dari nada bicaranya saat mencari kemeja barunya.
"Di dunia saja kita sudah saling menuntut, apalagi di akhirat kelak. Dimana setiap manusia akan lari dari saudaranya, ibu dan ayahnya, istri dan anaknya. Karena setiap kita akan sibuk dengan urusan berat kita masing-masing." Jelas Abdul seraya menyeka air matanya.
Mendengar jawaban suaminya, Sang istri pun lalu terdiam. Ia tak kuasa menahan deras air matanya, lalu ia pun terduduk di samping suaminya.
(T A M A T)

Niat Baik

(Kisah Fiksi)

#Niat_Baik

Menikmati kopi hangat di teras rumah, seraya menatap keindahan awan yang terlukis indah. Betapa santainya Abdul pagi ini. Bukan tanpa agenda, namun karena semua rencana sudah disiapkan sedari malam harinya.

"Alhamdulillah, pagi yang cerah. Saat yang tepat untuk bepergian dengan sepeda motor nih. Apalagi lokasi kegiatan hari ini masih di dalam kota," pikir Abdul dalam benaknya.

"Jika masih siang, nanti kan bisa sekalian jemput istri. Kan jarang-jarang bisa menjemputnya. Apalagi kalau sedang ngisi kegiatan di luar kota," ucapnya dalam hati.

Tak lama berselang, Sang istri menghampiri duduk di sampingnya.

"Gimana pak? Bisa jemput Ibu nanti siang? Hari ini kan Bapak tidak keluar kota," tanya Sang istri.

"Gimana nanti ya Bu? Biasanya kan sehabis kegiatan suka ada rapat evaluasi," jawab Abdul.

Sebetulnya, Abdul tak ada janjian evaluasi dengan panitia siang itu. Namun entah mengapa, tiba-tiba terbersit keinginan untuk membuat kejutan bagi Sang istri. Apalagi selama ini, Abdul selalu tak bisa jika diminta menjemputnya.

"Gimana Bapak ini, tadi malam katanya bisa sekalian jemput? Ya sudahlah kalau begitu, Ibu pulangnya naik angkutan umum saja," Jawab Sang istri.

"Iya bu, naik angkutan umum saja," jawab Abdul. Hatinya terasa bahagia, karena punya kesempatan untuk memberikan kejutan buat Sang istri. Meskipun hanya sekedar menjemput.

"Berangkatnya saja kita bareng ya Bu? Kebetulan kan satu arah," Tegas Abdul.

"Iya Pak! Ga apa-apa toh Ibu selama ini sudah biasa naik angkutan umum. Ayo siap-siap berangkat!" Ajak Sang istri.

Abdul dan istrinya pun keluar rumah bersama. Selepas mengantar istrinya, Abdul pun ke lokasi kegiatannya hingga menjelang dzuhur.

Setelah selesai acara, sesaat sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur, tiba-tiba salah seorang panitia menghampirinya.

"Pak, afwan nanti sehabis acara kita evaluasi kegiatan dulu ya!" Ujarnya.

Mendengarnya, Abdul kaget bukan kepalang. Rencananya untuk memberi kejutan kepada Sang istri bisa gagal total nih, pikirnya.

"Gimana pak, bisa kan? Ketua panitia yang memintanya? Soalnya, kehadiran Bapak sangatlah penting untuk evaluasi kegiatan ini," tegasnya.

"Duh, gimana ya? Saya mau jemput istri saya. Kasihan dia kalau pulang naik angkutan umum," Jawab Abdul.

"Mengapa juga dadakan, kan tidak ada rencana evaluasi?" Tanya Abdul.

"Iya, ketua panitia lupa menegaskan. Karena pikirnya, rapat evaluasi sehabis acara itu hal yang sudah biasa."

"Afwan kalau dadakan begini, saya tidak bisa," tegas Abdul.

"Oh, ya ga apa-apa pak. Nanti kami minta masukan tertulisnya."

"Iya lah kalau begitu, insyaAllah nanti kalau saya sudah sampai di rumah."

Setelah shalat dzuhur, Abdul pun langsung melaju sepeda motornya. Ia sudah membayangkan, bagaimana roman bahagia Sang istri, jika ternyata ia datang menjemputnya.

Singkat cerita, sampailah Abdul di lokasi tempat istrinya di antar tadi. Sebuah rumah asri nan sederhana. Tanaman yang tertata dan teras yang bersih, menggambarkan kerapihan para penghuninya.

Namun kok rumahnya terlihat sepi. Abdul mulai ragu, jangan-jangan istrinya sudah pulang. Untuk memastikannya, ia pun turun dari motornya, bermaksud untuk mengetuk pintu rumah serta mengucapkan salam.

Belum saja niatnya terlaksana, tiba-tiba terdengar suara seseorang berjalan di belakangnya.

"Eh, Nak Abdul. Assalamu 'alaikum!" Tanya seorang ibu paruh baya menyapanya dengan ramah.

"Wa 'alaikumussalaam warohmatullah!"

"Mau jemput Si Neng ya? kan tempat kegiatannya dipindah ke rumah Bu Rima," jelasnya.

Ibu tersebut sangat mengenalnya begitupun sebaliknya. Beliau adalah bu Amin mertua bu Dina, teman istrinya mengaji.

"Puterinya Bu Rima sakit, jadi kajiannya dipindah ke sana," jelas Ibu Amin.

"Oh begitu bu, makasih infonya Bu. Saya langsung pamit saja," ujar Abdul seraya langsung menaiki motor bebeknya.

"Iya, kasihan Nak Abdul. Si Neng ga ngasih kabar apa-apa gitu?" Tanyanya.

Abdul hanya menjawabnya dengan senyuman,

"Assalamu'alaikum," pamit Abdul.

Ia pun langsung pamit. Seraya melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Ia pikir masih ada waktu untuk menjemput istrinya. Karena seingatnya, jadwal kegiatan istrinya sampai jam setengah dua.

Ia langsung memundurkan motornya tanpa menunggu jawaban salam bu Amin.

Rumah Bu Irma memang tidak jauh dari rumahnya.  Malahan kalau naik angkutan umum, hanya sekali naik saja. Tetapi jika dari lokasinya saat ini, hanya ada dua pilihan jalur. Ia memutar melalui jalur lingkar atau masuk dalam kota melalui jalur satu arah. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memutar ke jalan lingkar. Pertimbangannya adalah menghindari macet.

Alhamdulillah, jalur lingkar sepi dan lenggang. Meskipun jaraknya lebih jauh, namun waktu tempuhnya bisa lebih cepat.

Saat sedang melaju kencang, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat ada kerumunan polisi lalu lintas. Wah ada razia nih, pikirnya. Ia pun memelankan motornya, lalu ke pinggir mengikuti arahan pak polisi yang bertugas.

"Selamat siang pak! Mohon maaf perjalanannya terganggu. Boleh keluarkan SIM dan STNK-nya Pak!" Sapa Pak Polisi.

Tanpa basa-basi, Abdul pun langsung mengeluarkan SIM dan STNKnya dan menyerahkannya kepada petugas.

"Mohon maaf pak! masa berlaku SIM Bapak sudah habis, mari ikuti saya Pak!" ucap Pak Polisi itu kemudian.

"Habis, masak sih pak?" Tanya Abdul seolah tak percaya. Ia pun memastikannya, namun ternyata Pak Polisi tersebutlah yang benar. Masa berlaku SIM-nya tertulis 13 Juli 2016, sudah lewat 4 bulan yang lalu. Abdul pun pasrah. Bukan hanya harus merelakan STNK-nya ditahan, ia pun harus merelakan waktunya habis berlalu di lokasi razia.

Kesempatan untuk menjemput istrinya pun pupus. Meskipun demikian ia tetap memaksakan ke rumah Bu Irma, siapa tahu istrinya belum pulang. Namun sayang sekali, Sang istri sudah pulang bersama teman-temannya.

Sesampai di rumah, ia pun mengisahkan semua kejadian tadi kepada istrinya.

"Bapak, bapak, ada-ada saja. Makanya Pak, niat baik saja belumlah cukup. Tetapi, harus dijalankan juga dengan cara yang baik. Coba kalau Bapak menempuh cara yang baik, pasti niat baik bapak berakhir baik," petuah Sang istri.

"Iya Bu, bapak khilaf. Astaghfirulloh," akunya seraya mengusapkan telapak tangan ke wajahnya.

(T A M A T)

Sabtu, 12 November 2016

Sesal Tangis Si Abdul

(Sebuah Kisah Fiksi)
Malam itu hujan lebat tak biasa. Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Namun, semua itu tak menyurutkan Abdul untuk memacu kendaraannya. Di benaknya, hanyalah ada rasa bahagia, saat bisa berkumpul dengan sesama aktifis dakwah. Meskipun, malam itu ia hadir hanya mewakili rekannya di LDK Harisul Islam, yang berhalangan hadir.
Bara semangat, membuat perjalanan menjadi hangat. Abdul tak lagi merasakan kedinginan. Alhamdulillah, ia sampai di lokasi pertemuan. Rekan-rekannya dari LDK lain sudah hadir, termasuk dari LDK Al Ikhlash dan Al Ihsan. Malam itu, adalah agenda fiksasi acara training Kader bersama.
Pada awalnya, pertemuan berjalan biasa. Namun tatkala membahas biaya, para peserta rapat tercengang dengan adanya kekurangan dana sebanyak 230.000,-. Akhirnya, diputuskanlah bahwa seluruh peserta tak diberi konsumsi.
"Sebentar, dari LDK Al Ikhlash siap infak tambahan 150 ribu," ujar Umar, perwakilan dari LDK Al Ikhlash.
"Alhamdulillaah," ucap syukur para peserta rapat.
"Bagaimana dengan Harisul Islam?" Tanya pimpinan rapat.
"Nanti dulu ya, pikir-pikir dulu," Abdul kebingungan. Karena jarak Harisul Islam cukup jauh ke lokasi. Apalagi ada salah seorang utusan tak memiliki kendaraan, lokasi acara yang berada di pedesaan. Mengharuskannya untuk meminjam atau sewa sepeda motor. Begitulah yang berkecamuk di pikiran Abdul.
Belum selesai Abdul menyelesaikan perenungannya. Tiba-tiba, Utsman dari LDK Al Ihsan mengacungkan tangan.
"Dari Al Ihsan siap infak tambahan 100rb rupiah," ujar Utsman.
"Alhamdulillaah," ucap syukur pun kembali terdengar dari para peserta rapat.
"Sebelum rapat ditutup. Sesuai kesepakatan, ini ada uang bensin atau ojek untuk utusan acara besok. Namun besarannya hanya 20rb rupiah," ujar ketua panitia.
Abdul berpikir, 20rb rupiah untuk ongkos ojek? Padahal untuk ke lokasi pedesaan yang jauh seperti itu, ongkos normalnya adalah 50rb. "Ya biarlah, nanti kan ada infak lagi dari teman-teman Harisul Islam," ujar Abdul dalam hati.
Esok harinya, Abdul bertemu dengan sahabatnya, Yusuf, dari LDK Harisul Islam. Persiapan utusan sudah matang.
"Bagaimana, sudah fix utusan yang dari Harisul Islam?" Tanya Abdul.
"Alhamdulillah sudah, tadi ada kekurangan kendaraan. Tapi sudah ada solusi, sewa di Ghani. Sudah dibayar," jawab Yusuf mantap.
"Berapa sewanya? Pastinya murah dong, Ghani kan aktifis Harisul Islam juga" Tanya Abdul.
"Ojek sih, bukan sewa. 80rb. Sudah dibayar," jawab Yusuf.
"Hah, 80rb!" Abdul terkaget.
"Kan biaya ojek normal saja 50rb saja?" Tanya Abdul kembali.
"Ga apa-apa, sudah dibayar. Tadi juga sempat ditawar, tapi Ghani tidak berkenan.
Abdul hanya bisa termenung mendengar jawaban Yusuf.
"Sudahlah, jangan jadi pikiran. Bisnis kan tetep bisnis," kata Yusuf.
"Bukan begitu, ini kan acara kita bersama. Suksesnya juga sukses kita bersama. Ya setidaknya, Ghani bisa berbaik hati, meminjamkan motornya tanpa sewa. Semua juga kan demi kesuksesan acara kita," jawab Abdul.
"Satu lagi yang membuat aku sedih, Suf."
"Di saat rekan-rekan LDK lain berlomba-lomba meraih nilai spiritual dengan menambah infak. Anggota LDK kita masih berpikir hanya nilai materi semata. Mengapa ya?" Ucap Abdul.
Abdul dan Yusuf pun terdiam. Mereka memikirkan, kemanakah semangat pengorbanan yang selama ini dimiliki rekan-rekan Harisul Islam.
Dalam ketermenungan tersebut, Abdul teringat.
Astaghfirullah, mungkin aku yang tak pernah peduli. Ketika Ghani butuh uang kost, aku ga pernah nanya. Ketika Ghani butuh perlengkapan kuliah, aku ga pernah tanya. Mungkin di saat ini, Ghani memang benar-benar sedang membutuhkan uang.
Hati Abdul menangis, teriris. Bukan karena apa-apa, tetapi karena pengorbanan dirinya yang masih sangat sedikit.
(Tamat)