Jumat, 25 November 2016
Sekedar Pertemuan
Selasa, 22 November 2016
Di Sini Di Sana
Beban Yang Menguatkan
Sakit
Bekal
Saling Menuntut
Niat Baik
(Kisah Fiksi)
#Niat_Baik
Menikmati kopi hangat di teras rumah, seraya menatap keindahan awan yang terlukis indah. Betapa santainya Abdul pagi ini. Bukan tanpa agenda, namun karena semua rencana sudah disiapkan sedari malam harinya.
"Alhamdulillah, pagi yang cerah. Saat yang tepat untuk bepergian dengan sepeda motor nih. Apalagi lokasi kegiatan hari ini masih di dalam kota," pikir Abdul dalam benaknya.
"Jika masih siang, nanti kan bisa sekalian jemput istri. Kan jarang-jarang bisa menjemputnya. Apalagi kalau sedang ngisi kegiatan di luar kota," ucapnya dalam hati.
Tak lama berselang, Sang istri menghampiri duduk di sampingnya.
"Gimana pak? Bisa jemput Ibu nanti siang? Hari ini kan Bapak tidak keluar kota," tanya Sang istri.
"Gimana nanti ya Bu? Biasanya kan sehabis kegiatan suka ada rapat evaluasi," jawab Abdul.
Sebetulnya, Abdul tak ada janjian evaluasi dengan panitia siang itu. Namun entah mengapa, tiba-tiba terbersit keinginan untuk membuat kejutan bagi Sang istri. Apalagi selama ini, Abdul selalu tak bisa jika diminta menjemputnya.
"Gimana Bapak ini, tadi malam katanya bisa sekalian jemput? Ya sudahlah kalau begitu, Ibu pulangnya naik angkutan umum saja," Jawab Sang istri.
"Iya bu, naik angkutan umum saja," jawab Abdul. Hatinya terasa bahagia, karena punya kesempatan untuk memberikan kejutan buat Sang istri. Meskipun hanya sekedar menjemput.
"Berangkatnya saja kita bareng ya Bu? Kebetulan kan satu arah," Tegas Abdul.
"Iya Pak! Ga apa-apa toh Ibu selama ini sudah biasa naik angkutan umum. Ayo siap-siap berangkat!" Ajak Sang istri.
Abdul dan istrinya pun keluar rumah bersama. Selepas mengantar istrinya, Abdul pun ke lokasi kegiatannya hingga menjelang dzuhur.
Setelah selesai acara, sesaat sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur, tiba-tiba salah seorang panitia menghampirinya.
"Pak, afwan nanti sehabis acara kita evaluasi kegiatan dulu ya!" Ujarnya.
Mendengarnya, Abdul kaget bukan kepalang. Rencananya untuk memberi kejutan kepada Sang istri bisa gagal total nih, pikirnya.
"Gimana pak, bisa kan? Ketua panitia yang memintanya? Soalnya, kehadiran Bapak sangatlah penting untuk evaluasi kegiatan ini," tegasnya.
"Duh, gimana ya? Saya mau jemput istri saya. Kasihan dia kalau pulang naik angkutan umum," Jawab Abdul.
"Mengapa juga dadakan, kan tidak ada rencana evaluasi?" Tanya Abdul.
"Iya, ketua panitia lupa menegaskan. Karena pikirnya, rapat evaluasi sehabis acara itu hal yang sudah biasa."
"Afwan kalau dadakan begini, saya tidak bisa," tegas Abdul.
"Oh, ya ga apa-apa pak. Nanti kami minta masukan tertulisnya."
"Iya lah kalau begitu, insyaAllah nanti kalau saya sudah sampai di rumah."
Setelah shalat dzuhur, Abdul pun langsung melaju sepeda motornya. Ia sudah membayangkan, bagaimana roman bahagia Sang istri, jika ternyata ia datang menjemputnya.
Singkat cerita, sampailah Abdul di lokasi tempat istrinya di antar tadi. Sebuah rumah asri nan sederhana. Tanaman yang tertata dan teras yang bersih, menggambarkan kerapihan para penghuninya.
Namun kok rumahnya terlihat sepi. Abdul mulai ragu, jangan-jangan istrinya sudah pulang. Untuk memastikannya, ia pun turun dari motornya, bermaksud untuk mengetuk pintu rumah serta mengucapkan salam.
Belum saja niatnya terlaksana, tiba-tiba terdengar suara seseorang berjalan di belakangnya.
"Eh, Nak Abdul. Assalamu 'alaikum!" Tanya seorang ibu paruh baya menyapanya dengan ramah.
"Wa 'alaikumussalaam warohmatullah!"
"Mau jemput Si Neng ya? kan tempat kegiatannya dipindah ke rumah Bu Rima," jelasnya.
Ibu tersebut sangat mengenalnya begitupun sebaliknya. Beliau adalah bu Amin mertua bu Dina, teman istrinya mengaji.
"Puterinya Bu Rima sakit, jadi kajiannya dipindah ke sana," jelas Ibu Amin.
"Oh begitu bu, makasih infonya Bu. Saya langsung pamit saja," ujar Abdul seraya langsung menaiki motor bebeknya.
"Iya, kasihan Nak Abdul. Si Neng ga ngasih kabar apa-apa gitu?" Tanyanya.
Abdul hanya menjawabnya dengan senyuman,
"Assalamu'alaikum," pamit Abdul.
Ia pun langsung pamit. Seraya melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Ia pikir masih ada waktu untuk menjemput istrinya. Karena seingatnya, jadwal kegiatan istrinya sampai jam setengah dua.
Ia langsung memundurkan motornya tanpa menunggu jawaban salam bu Amin.
Rumah Bu Irma memang tidak jauh dari rumahnya. Malahan kalau naik angkutan umum, hanya sekali naik saja. Tetapi jika dari lokasinya saat ini, hanya ada dua pilihan jalur. Ia memutar melalui jalur lingkar atau masuk dalam kota melalui jalur satu arah. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memutar ke jalan lingkar. Pertimbangannya adalah menghindari macet.
Alhamdulillah, jalur lingkar sepi dan lenggang. Meskipun jaraknya lebih jauh, namun waktu tempuhnya bisa lebih cepat.
Saat sedang melaju kencang, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat ada kerumunan polisi lalu lintas. Wah ada razia nih, pikirnya. Ia pun memelankan motornya, lalu ke pinggir mengikuti arahan pak polisi yang bertugas.
"Selamat siang pak! Mohon maaf perjalanannya terganggu. Boleh keluarkan SIM dan STNK-nya Pak!" Sapa Pak Polisi.
Tanpa basa-basi, Abdul pun langsung mengeluarkan SIM dan STNKnya dan menyerahkannya kepada petugas.
"Mohon maaf pak! masa berlaku SIM Bapak sudah habis, mari ikuti saya Pak!" ucap Pak Polisi itu kemudian.
"Habis, masak sih pak?" Tanya Abdul seolah tak percaya. Ia pun memastikannya, namun ternyata Pak Polisi tersebutlah yang benar. Masa berlaku SIM-nya tertulis 13 Juli 2016, sudah lewat 4 bulan yang lalu. Abdul pun pasrah. Bukan hanya harus merelakan STNK-nya ditahan, ia pun harus merelakan waktunya habis berlalu di lokasi razia.
Kesempatan untuk menjemput istrinya pun pupus. Meskipun demikian ia tetap memaksakan ke rumah Bu Irma, siapa tahu istrinya belum pulang. Namun sayang sekali, Sang istri sudah pulang bersama teman-temannya.
Sesampai di rumah, ia pun mengisahkan semua kejadian tadi kepada istrinya.
"Bapak, bapak, ada-ada saja. Makanya Pak, niat baik saja belumlah cukup. Tetapi, harus dijalankan juga dengan cara yang baik. Coba kalau Bapak menempuh cara yang baik, pasti niat baik bapak berakhir baik," petuah Sang istri.
"Iya Bu, bapak khilaf. Astaghfirulloh," akunya seraya mengusapkan telapak tangan ke wajahnya.
(T A M A T)
Sabtu, 12 November 2016
Sesal Tangis Si Abdul
"Kan biaya ojek normal saja 50rb saja?" Tanya Abdul kembali.
"Di saat rekan-rekan LDK lain berlomba-lomba meraih nilai spiritual dengan menambah infak. Anggota LDK kita masih berpikir hanya nilai materi semata. Mengapa ya?" Ucap Abdul.