Minggu, 29 November 2015

Ketika Anak Bertanya tentang Seks

Memperhatikan pergaulan dan pesatnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini, seringkali membuat orang tua waswas. Terutama penyebaran konten pornografi di berbagai jaringan sosial media.

Sebagai orang tua, saya dan istri memang mengharapkan saat-saat seperti ini. Yakni, saat yang tepat untuk menjelaskan tentang seks kepada putri sulung tercinta (10 th). Kami sangat tidak menginginkan jika ia mendapatkan hal tersebut dari yang lain, apalagi dari teman-temannya. Karena dikhawatirkan, informasi yang diterima adalah informasi yang bias, yang terpisah dari pandangan Islam tentang hal tersebut.

Tidak sedikit orang tua yang merasa canggung dan menganggap pembicaraan seks dengan anak sebagai hal yang tabu. Padahal itu merupakan hal yang penting, karena setiap manusia dianugerahi naluri seksual. Naluri tersebut mesti diarahkan supaya penyalurannya selamat, serta sesuai dengan petunjuk Allah Swt.

Saat itu tiba, ketika istri tercinta mengikutsertakan Si Sulung dalam sebuah acara remaja yang digagas Muslimah HTI Tasikmalaya. Karena menjelang hari AIDS, tema yang dibahas pada acara tersebut seputar pergaulan remaja. Alhamdulillah, putri sulung yang baru kelas 5 SD adalah peserta termuda yang hadir pada acara tersebut. Karena peserta selainnya adalah para mahasiswi. Saya juga tidak hadir di lokasi, begitu pula istri. Ini hanya masalah teknis yang dipilih. Berharap ada pertanyaan dari putri kami setelah acara selesai.

Selesai acara, saya menjemput Si Sulung. Alhamdulillah, meskipun pada tempat yang waktu kurang tepat, ia menanyakan kepada saya hal yang diharapkan.
     "Bi, ada hal yang kakak ga ngerti?" Tanyanya kepada saya di atas motor yang sedang melaju.
     "Apa itu Nak?" Tanya saya.
     "Seks itu apa Bi?" Ia balik bertanya.
Sungguh saya lupa jawaban terbaik yang pernah saya siapkan. Tetapi, saya jawab dulu secara bahasa.
     "Nak, seks itu berasal dari bahasa Inggris, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya jenis kelamin." Jawab saya singkat.
Banyaknya kendaraan yang melaju, tentu membuat komunikasi kami tidak lancar. Karena saat itu kami juga ditemani Si Bungsu yang baru berusia 3,5 tahun, maka saya pun memutuskan untuk menginterupsi pertanyaan. Saya meminta pengertiannya, untuk membahas tema tersebut setelah sampai di rumah.

     "Nak, sudah waktunya kakak paham hal tersebut. Tetapi, hal itu harus dibicarakan di rumah ya?" Pinta saya. tersebut
    "Supaya jelas dan konsentrasi, kakak juga harus sendiri. Teteh dan Ade jangan ikutan dulu membahasnya", jelas saya.

Saya ingin memastikan supaya anak kedua (7 thn) dan Si Bungsu tidak ikut nimbrung mendiskusikannya nanti. Alhamdulillah, ia pun bisa memahaminya. Sepanjang jalan itu pikiran saya menerawang, memikirkan jawaban terbaik yang akan saya berikan nanti.

Putri sulungku benar-benar menantikan penjelasan. Malam itu ia memintaku penjelasan yang tadi sempat terputus. Sesuai kesepakatan dengan istri, bahwa saya yang bertugas menjelaskan kepadanya. Istri langsung paham, ia langsung mengajak anak kedua dan ketiga kami untuk melakukan aktifitas lain. Terus terang, untuk menangani Si Bungsu, istri saya jauh lebih lihai dan cekatan. Lalu, saya pun mengajak Si Sulung bicara berdua.
    "Nak, seks itu adalah segala sesuatu aktifitas atau perbuatan yang mengarah pada bertemunya alat kelamin laki-laki dan perempuan." Jelas saya. "Dari mulai ngobrol-ngobrol, pandang-pandangan, pegang-pegangan, berdua-duaan sampai tidur berdua."
Si Sulung mendengarkannya secara seksama. Kemudian, saya melanjutkan penjelasan saya. Dan inilah yang paling penting baginya.
     "Dan semua itu di dalam Islam adalah haram, " intonasi saya lebih tegas dan jelas pada kalimat yang terakhir. Mengapa saya langsung memvonis haram duluan, karena saya berbicara dengan anak yang masih belum menikah.
     "Terkecuali bagi yang sudah menikah," lanjut saya.
Melihat ia memperhatikan dengan seksama, saya sangat gembira.sangat
     "Mengapa demikian?" Tanya saya secara retoris.
     "Karena, Allah Swt menciptakan naluri seksual pada manusia supaya manusia bisa lestari atau beranak pinak," jelas saya.
     "Manusia itu tadinya dari Adam dan Hawa ya Bi?" Tanya Si Sulung kepada saya. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa obrolan kita berdua sudah nyambung.
     "Iya Nak, naluri seksual juga Allah berikan pada binatang. Sehingga mereka bisa berkembang biak. Tetapi, manusia dan binatang berbeda. Manusia diberi akal untuk memilih dan memilah. Aktifitas seks bagi manusia yang belum menikah merupakan perbuatan dosa," jelas saya. Kebetulan materi halqoh yang saya berikan kepadanya baru saja membahas tentang potensi akal manusia.
     "Termasuk, para remaja yang berdua-duaan, pegang-pegangan, pacaran. Semua itu perbuatan dosa," lanjut saya.
     "Kalau menonton film yang seperti itu boleh ga Bi?" Ia bertanya. Sungguh pertanyaan ini mengagetkan saya. Terus terang, saya jadi gelisah dengan pertanyaannya. Jangan-jangan, saya langsung negatif thinking.
     "Sama, itu juga diharamkan!" Tegas saya.
Dasar orang tua panik. Di era sosial media yang bebas seperti ini, mungkin perasaan saya merupakan sesuatu yang wajar. Meskipun, sampai saat ini, saya dan istri sepakat untuk tidak memberikan fasilitas android kepadanya.
     "Kakak pernah melihat film seperti itu?" Tanya saya dengan cemas.
     "Iih...! Tidak pernah", jawabnya sambil bergidik.
     "Kok, kakak bisa bertanya seperti itu?" Tanya saya penasaran.
     "Kan tadi dijelaskan di acara, bahwa ada remaja yang suka nonton film seks," jawabnya. Saya lupa-lupa ingat jawabannya, tapi kurang lebih seperti itulah kalimatnya. Sungguh jawaban yang sangat menenangkan.
     "Ooh, tadi apa lagi yang dibahas di acara Nak?" Tanya saya untuk mengalihkan pembicaraan.
     "Ya seputar itu Bi. Ada nyanyi, ada juga dan tayangan-tayangan," jawabnya.

Alhamdulillah, akhirnya anakku memahami penjelasan seks dari ayahnya sendiri. Tugas selanjutnya saya berikan kepada istri. Yaitu untuk menjelaskan organ reproduksi lebih dalam lagi, karena ini lebih khusus terkait masalah perempuan.

Mudah-mudahan kisah ini bisa diambil ibrohnya. Menjelaskan seks kepada anak merupakan sesuatu yang penting. Bukan pada seksnya semata, yang kucing dan ayam saja bisa melakukannya tanpa diberi pelajaran. Tetapi, jauh lebih berharga daripada itu, yaitu memahami petunjuk Allah Swt tentang hal tersebut. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Sabtu, 28 November 2015

Mewujudkan Nol Persen Mihol

Minuman beralkohol (Mihol) sudah sangat membuat gerah dan jengah masyarakat. Bagaimana tidak, minuman haram ini telah menjadi pemicu tingginya angka kriminalitas di berbagai daerah. Bahkan, 80 persen tindakan kriminal di Maluku dipicu oleh Mihol. Selain itu, korban berjatuhan karenanya juga bukan terbilang sedikit. Pada tahun 2013, sekitar 18.000 orang mati sia-sia karena menenggaknya.
Ditinjau dari aspek kesehatan, Mihol mengakibatkan berbagai dampak negatif berbahaya. Dari mulai  pembengkakan dan kanker hati, sampai pada kerusakan otak yang berujung pada depresi dan frustasi. Konsumsi Mihol juga dapat menurunkan fungsi alat indra serta mengakibatkan  kebutaan.  Selain itu, mempercepat osteoporosis, kerusakan sistem pencernaan, over dosis, kecanduan, serta berbagai hal berbahaya lainnya. Semua dampak negatif tersebut pada ujungnya bermuara pada kematian.
Islam mengkategorikan Mihol ke dalam khamr.  Allah Swt mengharamkannya dengan qarinah (indikasi) yang sangat tegas, menyebutnya rijsun min ‘amali sy-syaithon/keji dari perbuatan setan                            (lih. Q.S. Al Maidah[5] : 90). Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ali bin Abu Thalhah menjelaskan bahwa rijsun bermakna sukhtun (kebencian), adapun Said bin Zubair memaknainya sebagai itsmun (dosa).  
Ibnu Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram.” (THR. Muslim). Hal ini juga ditegaskan oleh Jabir bin Abdullah r.a., bahwa Rasulullah bersabda : “Apa saja yang banyaknya memabukkan maka yang sedikitnya adalah haram.” (THR. Abu Dawud).
Berbagai langkah yang telah dilakukan umat Islam untuk menghentikan peredaran miras, patut diapresiasi. Misalnya atas desakan ulama dan masyarakat, pada tanggal 24 Agustus 2015, pemerintah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengesahkan Perda Nomor 7 Tahun 2015 tentang Minuman Beralkohol (Mihol). Kemudian, diikuti dengan penerbitan Perwalkotnya pada tanggal 23 November 2015. Berbagai daerah pun tercatat telah menerbitkannya terlebih dulu.
Meskipun terlahir berbagai Perda Mihol atau Perda Miras dari berbagai daerah, pemberantasannya secara total masih diragukan. Selain efek jera yang belum optimal, pemerintah pusat pun masih belum berniat serius memberantasnya. Karena secara umum, mihol di Indonesia masih terkategori barang yang legal. Dalam Perpres No. 74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol ditetapkan bahwa minuman beralkohol golongan A (kadar etanol 0-5 %) dibebaskan dalam produksi, pengedaran dan penjualannya. Sedangkan, minuman beralkohol yang diawasi hanya golongan B (kadar etanol 5-20 %) dan C (kadar etanol 20-55 %). Pengawasan yang dilakukan pun bukanlah berarti pelarangan. Adanya kontradiksi Perda dengan Perpres ini tentu akan berpengaruh pada keseriusan pemberantasan Mihol, terutama dalam pemrosesan hukum. Ujungnya, efek jera yang diharapkan dari penegakkan hukum tidak tercapai. Mestinya, jika pemerintah RI serius memberantas Mihol, penghentian import, penutupan total seluruh pabrik dan tempat penjualannya, akan sangat tepat sasaran.
Legalisasi (baca : penghalalan) Mihol di negeri ini tidak terlepas dari pandangan kaum kapitalis terhadap nilai suatu barang. Menurut pandangan mereka, jika suatu barang memiliki kegunaan, barang tersebut layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Barang yang memiliki kegunaan adalah segala sesuatu yang diinginkan. Baik yang bersifat primer, sekunder maupun tersier. Baik yang dianggap memberikan kepuasan bagi sebagian orang, sedangkan bagi orang lain merupakan sesuatu yang membahayakan. Dengan demikian, Mihol pun masih terkategori barang yang memiliki nilai guna, karena dianggap mampu memenuhi kebutuhan manusia. Mereka tidak peduli dengan penilaian agama yang mengharamkan khamr.
Kaum kapitalis pun mengidentikkan antara kebutuhan dan keinginan. Sehingga, setiap keinginan manusia dianggap sebagai kebutuhan yang harus disediakan alat pemuas kebutuhannya. Termasuk, ketika ada rakyat yang menginginkan Mihol, hal itu dianggap sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.  Padahal faktanya, terdapat perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Sebagai contoh, lapar dan haus menuntut kebutuhan. Lapar membutuhkan makan dan haus membutuhkan minum.  Sehingga ketika orang merasa lapar maka ia membutuhkan makanan. Begitu pula ketika orang merasa haus maka ia membutuhkan minuman. Untuk orang yang haus, beberapa gelas air cukup untuk memenuhi kebutuhannya, lebih dari itu bukanlah kebutuhan tetapi keinginan. Orang pun bisa memilih dan memilah jenis minuman apa yang dibutuhkan tubuh dan yang membahayakan tubuh. Mengkonsumsi Mihol bukanlah memenuhi kebutuhan, melainkan hanya sekedar melampiaskan keinginan.
Terlahirnya berbagai Perda Mihol di beberapa daerah belumlah dapat mewujudkan nol persen Mihol di negeri ini. Karena, selama pemikiran ekonomi ala kaum kapitalis sekuler masih dipertahankan dan dilestarikan, mihol akan terus diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi. Bahkan diimpor, ditarik pajaknya, dimahalkan harganya, serta dilakukan pembinaan terhadap perkumpulan/aliansi para pengusahanya. Bukan diharamkan.
Perjuangan masih harus dilanjutkan. Dengan dakwah yang bersifat pemikiran, meruntuhkan tatanan sistem kehidupan ala kapitalisme yang berakar pada ideologi sekulerisme, hingga tergantikan dengan sistem kehidupan Islam yang terlahir dari aqidah Islamiyyah. Hanya di dalam tatanan masyarakat yang menerapkan syariah Islam secara paripurna, setiap barang haram -termasuk Mihol (yang terkategori khamr)- tidak akan bernilai guna, terlarang peredarannya serta sanksi yang sangat tegas bagi para pelanggarnya. Wallohu a’lamu bishshowwaab.


(Ary Herawan, Ketua Lembaga Pendidikan Islam Ar-Rahman Perum Baitul Marhamah 3 Kota Tasikmalaya)

Kamis, 26 November 2015

Fastwriting; Belajar Menulis dari Nol

Menulis itu mudah. Buktinya, hampir setiap orang pernah menulis. Ada yang menulis surat, diary, status di sosial media, perjanjian, atau menulis rangkuman pelajaran. Semua itu menjadi bukti bahwa menulis itu mudah.

Tetapi mengapa masih ada yang merasa susah menulis. Semua itu hanya karena susah mengungkapkan. Banyak ide di benak, tetapi macet untuk dituliskan. Inilah biasanya yang menjadi hambatan bagi seseorang yang mau membiasakan menulis (menjadi seorang penulis).

Ada suatu materi yang sangat berharga. Materi yang bisa memecah kebuntuan dalam menulis. Saya dapatkan materi itu dari Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry. Materi tersebut adalah fastwriting.

Bagaikan belajar sepeda motor, kita perlu belajar memindahkan gigi secara berurutan, dan itu terus kita lakukan secara berulang-ulang. Meskipun, ketika kita sudah mahir naik motor, kita seringkali oper gigi begitu saja. Bahkan kita tidak ingat, berapa kali kita oper gigi jika naik motor kemudian pergi belanja ke pasar. Semua itu karena kita sudah mahir. Tetapi, pentingkah belajar oper gigi bagi pengemudi sepeda motor? Tentu harus. Begitu pula dengan fastwriting.

Fastwriting adalah menulis suatu tema dalam waktu yang ditentukan, dengan kalimat sebanyak-banyaknya, tanpa coretan dan editan. Kurang lebih, begitulah yang saya pahami dari apa yang diajarkan oleh Master Apu. Misal, kita mau fastwriting tema Hari Guru dalam waktu 5 menit. Kita siapkan alat tulis, buku dan timer (bisa menggunakan stopwatch di HP). Nyalakan timer, kemudian kita tulis apapun yang ada di benak terkait tema Hari Guru. Pas waktu habis, berhentilah menulis. Begitulah teknis fastwriting.

Untuk permulaan, kita bisa memulai dari tema-tema sederhana, semisal air, banjir, kemarau atau yang semisalnya. Karena biasanya, setiap orang sudah memiliki banyak informasi di benaknya tentang tema-tema tersebut.

Fastwriting terus dilatih setiap hari, di waktu yang kita luangkan secara rutin. InsyaAllah, lama kelamaan problem kebuntuan dalam menulis akan terpecahkan.

Lalu, bagaimana bagi penulis yang sudah mahir? InsyaAllah fastwriting tetap akan bermanfaat. Master Apu mengingatkan bahwa pembalap moto GP dunia, seperti Lorenzo, masih memerlukan latihan. Begitu pula permisalan manfaat fastwriting bagi para penulis yang sudah mahir.

Akhir kata, selamat mencoba fastwriting !

(Ary Herawan, siswa Akademi Menulis Kreatif, tulisan ini merupakan salah satu hasil fastwriting yang sudah diedit)

Rabu, 25 November 2015

URGENSI PEMIKIRAN ISLAM

Pemikiran bagi umat manapun, merupakan kekayaan terbesar yang mereka miliki dalam kehidupannya-jika mereka termasuk umat yang baru lahir. Pemikiran bahkan merupakan peninggalan umat yang paling berharga, yang akan diwarisi oleh generasi penerus mereka-jika mereka termasuk umat yang memiliki identitas dalam bentuk pemikiran yang cemerlang.

Adapun kekayaan material, berbagai penemuan ilmiah, ragam rekayasa industri dan hal-hal lainnya, sesungguhnya masih jauh kedudukannya dibandingkan dengan pemikiran. Bahkan pencapaian semua kekayaan material tersebut bergantung pada pemikiran dan pelestariannya pun bergantung pada pemikiran. Pasalnya, jika kekayaan material sebuah bangsa hancur, maka dengan cepat mereka mampu memulihkannya kembali selama mampu memelihara kekayaan pemikiran mereka. Sebaliknya, jika kekayaan pemikiran sebuah bangsa telah diabaikan, meski mereka mampu melestarikan kekayaan materialnya, maka kekayaan itu akan segera lenyap dan mereka akan kembali menjadi miskin.

Berbagai kemajuan penemuan ilmiah yang telah diraih suatu bangsa dimungkinkan akan terulang kembali ketika penemuan-penemuan itu hilang, asalkan bangsa tersebut tidak kehilangan metode berpikir mereka. Sebaliknya, jika metode berpikir mereka yang produktif tersebut telah lenyap maka pasti mereka akan segera mundur kembali ke belakang, berbagai penemuan dan hasil rekayasa industri yang mereka miliki itu juga akan segera musnah.

Dari sini maka yang pertama kali harus dilestarikan adalah pemikiran. Di atas dasar pemikiran dan sesuai dengan metode berpikir yang produktif itulah akan diraih kekayaan material, dan sebuah bangsa akan berusaha meraih berbagai penemuan ilmiah, perekayasaan industri dan lain-lain.

Yang dimaksud dengan pemikiran di sini adalah adanya aktifitas berpikir pada diri umat tentang realitas kehidupan yang mereka hadapi. Maknanya, mereka masing-masing secara keseluruhan selalu menggunakan informasi (pengetahuan) yang mereka miliki ketika mengindera berbagai fakta yang ada untuk menilai fakta tersebut. Dengan kata lain, mereka selalu memiliki pemikiran yang bisa mereka gunakan dalam kehidupan mereka. Dengan seringnya mereka menggunakan pemikiran tersebut, akan muncul pada diri mereka metode berpikir yang produktif. (Syaikh Taqiyuddin Annabhani rahimahullahu ta'ala, An-Nidzomul Iqtishady fil Islam, ed.terj.)

Pemikiran asasi bagi seorang muslim adalah aqidah Islamiyyah. Informasi utama bagi metode berpikir umat Islam adalah Al Quran dan Assunnah, serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya berupa ijma shahabat dan qiyas syar'i.

Sangat penting bagi kita untuk memberikan nutrisi informasi yang bermanfaat untuk anak-anak kita. Aqidah dan Syariah itulah yang utama, dengan berbagai uslub (cara) terbaik dari setiap kita. Karena, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap diam, atau apa yang kita ajarkan untuk anak-anak kita.
Wallohu a'lamu bishshowwaab.

#Bagi setiap orang tua, setiap hari adalah HARI GURU, karena keluarga merupakan madrasah pertama bagi setiap anak.

#Disadur dan ditulis penuh cinta untuk madrasah pertamaku.

Ary Herawan

Selasa, 24 November 2015

Asa Terlarang

Silau kemilau merayu kalbu
Silap permata menggoda asa
Jejak langkah terekam sudah
Di atas duri emas dan bara permata
Tinggallah cerita

Menatap cermin terasa indah
Rindu merindu-rindu
Goda menggoda-goda
Asa terlarang mengundang takjub
Ku harus berlari pergi
dan terus berlari tanpa henti
Berpeluh lelah menuju Ilahi

Pintaku
Ya Al Ghani, Ya Al Ghafur
Sungguh ku bersimpuh
Penuh harap akan manisnya imanku

(Ary Herawan, waktu dzuhur, 13 Shafar 1437 H)

Penolakan Kaum Jahiliyyah Terhadap Al Quran*

Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw beserta risalah Islam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dengan ijin Rabb mereka menuju jalan Yang Maha Mulia dan Maha Terpuji1). Menjadikan mukjizat Nabi Muhammad Saw dan dalil kenabiannya sebagai Kitab yang diberkahi, yakni Al Quran Al Karim. Firman Allah Yang Maha Agung, yang tidak mengandung kebathilan, baik di hadapannya maupun di belakangnya, diturunkan dari Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.2)

Allah Swt menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dari huruf ucapan mereka, sebagai seruan kepada mereka dengan lisan Arab yang jelas. Al Quran menyeru mereka untuk mengimaninya, memahaminya, terikat dengannya. Akan tetapi mereka mendapati Al Quran tidak sesuai hawa nafsu mereka, tidak menghargai berhala-berhala mereka dan tidak menjadikan kerusakan dan perusakan mereka sebagai ajaran, sebagaimana yang mereka perbuat. Bahkan Al Quran merendahkan berhala-berhala mereka serta mengingkari penindasan, kezaliman dan kesewenang-wenangan mereka. Al Quran menyamakan majikan dan pembantu, kerabat dengan non kerabat, orang Arab dan Ajam (non Arab). Semuanya sama, terkecuali orang yang lebih bertaqwa, ia lebih bersih. “Tidak ada keutamaan orang Arab dengan Ajam kecuali dalam hal ketaqwaan.”3) Setiap kalian (manusia) berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Sesungguhnya Kami (Allah Swt) menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan wanita, kemudian menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.4) Tatkala mereka mendengarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw, mereka sadar dan tahu bahwasanya ia berasal dari Allah Swt, firman Allah dan bukan ucapan manusia. Mereka adalah ahli dan cerdas dalam bahasa Arab. Bahasa Arab adalah lisan mereka, bahasa asli mereka, produk dan barang mereka, mereka menggunakannya di pasar-pasar mereka, untuk bersaing dan mencari barang-barang yang mereka butuhkan.

Akan tetapi mereka berhenti pada apa yang mereka dengar. Mereka berpikir dan berhitung. Bagaimana kedudukan mereka menjadi sama dengan hamba sahaya mereka? Bagaimana mereka hidup tanpa budak? dan bagaimana lalu bagaimana? Bagaimana mereka menjadi tuan jika tidak melakukan kesewenang-wenangan dan kedzaliman yang mereka paksakan, serta kediktatoran yang mereka lakukan? Bagaimana dan bagaimana?

Mereka mengingkari Al Quran setelah mereka merenungkannya. Mereka berkata bahwa engkau (Muhammad) hanyalah manusia seperti kami, dan tidaklah Ar Rahman menurunkan apapun.5) Mereka berpaling dan sombong, membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
Mereka menduga bahwasanya perkara tersebut berhenti sampai batasan ini, merekalah yang  paling banyak melakukan permusuhan dan bantahan. Mereka akan mengatakan dan selalu berkata sesungguhnya yang apa yang dibawa Muhammad itu tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan atau dibacakan atasnya, ia mengucapkannya pada pagi dan petang. Dan sesungguhnya kalaulah mereka mau, sungguh mereka akan mengatakan apa yang dia (Muhammad) katakan6). Serta mereka pun akan membacakan apa seperti apa yang ia bacakan, kemudian mereka pergi, tertawa dan terkagum-kagum.

Mereka tidak menyangka bahwa akan ada dalil yang ditujukan kepada mereka, siapa yang bisa menyodorkan dalil kepada mereka?! Bahkan siapa yang akan mendebat mereka?! Jika Muhammad mengucapkan satu kalimat, mereka mengucapkan sepuluh kalimat. Jika Muhammad mengeraskan suaranya setingkat, mereka bergerombol menyainginya dengan suara teriakan dan jeritan yang tinggi. Kamu meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak berakal.7) Mereka mengisahkan cerita-cerita bathil untuk melawan kisah-kisah yang haq (benar). Mereka menduga bahwasanya dengan cerita-cerita bathil itu mereka bisa membuat kebenaran menjadi sempit berdesakan di dalamnya.

Akan tetapi, perkara tersebut datang di luar apa yang mereka inginkan, dari sisi apa yang tidak mereka perhitungkan. Maka dikatakanlah kepada mereka, jika kalian benar dengan argumentasi kalian, dan apa yang dibacakan Muhammad adalah perkataan manusia, serta jika kalian berkehendak pun sungguh kalian akan berkata seperti yang ia katakan, maka kesempatan yang luas di hadapan kalian. Al Quran ini nyata dan tidak ghaib, kalian mendengar ayat-ayatnya, memikirkan kalimat-kalimatnya, huruf-hurufnya pun terdiri dari jenis huruf yang biasa kalian ucapkan, maka marilah buat semisalnya. Jika kalian dapat membuatnya, serta mendatangkan yang semisal dengan Al Quran ini8) maka perkara ini seperti apa yang kalian katakan. (bersambung)

*) disadur dan diterjemahkan oleh Ary Herawan dari Muqoddimah kitab At Taysiir fii Ushuul at-Tafsiir Karya As-Syaikh Al ‘Alim Atha’ Ibnu Khalil Abu Ar-Rasytah

Catatan kaki :
1)       lihat Q.S. Ibrahim : 1
2)       lihat Q.S. Fushilat : 42
3)       lihat H.R. Imam Ahmad 5/411, Majma’ az-Zawaaid 8/83, Addur al-Mantsur 6/98.
4)       lihat Q.S. Al Hujurat : 13
5)       lihat Q.S. Yaasin : 15
6)       lihat Q.S. Al Anfal : 31
7)       lihat Q.S. Al Baqarah : 171

8)       lihat Q.S. Al Isra : 88

Sahabat yang Kurindukan

Kemarilah sahabat
Tak perlu sembunyi di balik dinding
Citaku sama citamu
Idealita kita bersama
Rinduku, rindumu satu
Kemuliaan Islam yang utama

Tak perlu berlari dariku sahabat
Bila lisan ini berduri, maafkanlah
Masih sepi hari tanpamu
Bukan sekedar basa-basi
Penghias bibir yang merayu

Semangatmu, tak kuragu
Mengapa kau masih sembunyi?
Di balik kepura-puraan dan apologi

Sahabat,
Musuh Islam jumawa
Ide-idenya teradopsi sempurna
Tak perlu berlindung di balik itu semua
Tampillah, muncullah!
Suarakan hanya Islam

Islamku, Islammu, Islam kita sama
Berbeda tak mengapa
Tapi,
Semai pemahaman tuai perbuatan
Pemahaman musuh disemai
Perbuatan salah pun kan dituai
Rela terjajah, tanpa rasa bersalah
Membantu penjajah, penuh sukarela

Kemarilah sahabat,
Mari suarakan hanya Islam
Suarakan wahyu Ilahi
Tanpa ragu dan gagu
Buang ide-ide penjajah yang menipu
Al Quran dan Assunnah, itulah sandaran kita

Kemarilah para pejuang,
Seru kita, pada Islam semata

(Ary Herawan, 12 Shafar 1437 H)

Sabtu, 21 November 2015

KIPRAH NYATA PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

Kiprah Nyata Persatuan Islam (Persis)

Ketika tulisan ini sampai kepada para pembaca. Penulis berharap, Muktamar XV Persatuan Islam (Persis) berlangsung dengan sukses, menghasilkan para pemimpin terbaik serta berbagai keputusan terbaik yang bermanfaat untuk umat. Teriring do'a, semoga seluruh pengorbanan terbaik, berupa harta, tenaga serta waktu, dibalas setimpal oleh Allah dengan sebaik-baiknya balasan. Aamiin.
Penulis  tergugah untuk menyusun tulisan ini setelah membaca sebuah tulisan di SKH Pikiran Rakyat (20/11/2015). Tulisan tersebut berjudul "Kiprah Persis Harus Lebih Nyata". Mengapa judul tersebut cenderung menarik? Karena kebiasaan kita saat ini, ketika menggunakan istilah nyata, selalu terfokus pada materi yang terukur dengan rupiah semata. Padahal, tidaklah selalu demikian adanya.
Alhamdulillah, penulis banyak belajar ilmu dan tsaqofah Islamiyyah di Mts Persis Cempakawarna Kota Tasikmalaya. Nyata tidaklah mesti hanya terukur dengan hitung-hitungan rupiah, tetapi ilmu dan pemahaman itu jauh lebih nyata dari itu. Misal, uang 1 milyar nyata, tetapi apalah artinya jika dipegang oleh orang yang jahil dalam agama? Negara Indonesia yang kaya raya sumber daya alam merupakan materi yang nyata, tetapi apalah artinya jika diatur oleh orang-orang yang berpemahaman bahwa hukum buatan manusia itulah yang terbaik? Kiprah nyata semua pesantren pada umumnya, termasuk pesantren Persis, telah terbukti sebagai penjaga kelestarian ilmu dan tsaqofah islamiyyah.
Selama di Ponpes Persis pula penulis memahami urgensi persatuan kaum muslim seraya berpegang teguh kepada tali (agama) Allah (i’tishom bi hablillah). Dari sanalah juga tumbuh keyakinan di hati ini akan niscayanya kebangkitan Islam, sebagai janji Allah Swt yang tidak akan pernah meleset. Ilmu, tsaqofah islamiyyah, urgensi persatuan kaum muslim serta keyakinan akan kebangkitan Islam, semuanya tertanam kuat hingga kini.
Penulis sepakat dengan apa  yang disampaikan oleh Kepala Bidang SDM dan organisasi Persis Kabupaten Bandung, Ust. Erry Ridwan Latief, yang disampaikan kepada Pikiran Rakyat (20/11/2015). Menurut beliau, keberadaan Persis telah memberikan corak dan warna baru dalam pemikiran dan gerakan Islam yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, dengan dukungan orang-orang yang berjuang di jalan Allah demi tetap tegaknya Al Quran dan Assunnah. Beliau pun menegaskan bahwa Persis harus serius membentuk kader-kader yang memiliki kemampuan sebagai perekat umat Islam Indonesia, bahkan dunia, yang sedang mengalami guncangan peradaban. Melahirkan kader yang tidak penakut dan tetap istiqomah.
Saat ini Indonesia membutuhkan Islam. Islam yang mampu menjawab berbagai tantangan jaman. Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam berbagai bidang kehidupan. Itulah solusi nyata terhadap persoalan negeri ini. Tentunya tiada yang lain, kecuali dengan penerapan Al Quran dan Assunnah.
Solusi yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah sekedar solusi yang bersifat pragmatis. Kelesuan perekonomian rakyat, bukanlah sekedar karena lemahnya skill dan permodalan. Tetapi justru lebih mendasar daripada itu, yakni karena penerapan sistem ekonomi liberal yang kapitalistik. Sistem ekonomi makro ciptaan para penjajah ini telah menjadikan sebagian manusia ‘memakan’ manusia yang lain. Negara maju mengeksploitasi negara berkembang. Oleh karena itu, ketika banyak kalangan berharap Persis semakin berkiprah di dunia pendidikan tinggi, penulis berharap Persis mampu memperluas penanaman fiqih ekonomi Islam yang sistemik dan komprehensif. Menanamkan keyakinan akan sistem ekonomi yang bersumber dari Al Quran dan Assunnah, serta melakukan perang pemikiran terhadap sistem ekonomi neoliberal.
Pertarungan antara al haq dan al bathil semakin hari semakin kentara. Penjajahan Amerika Serikat (AS) semakin terlihat faktanya. Untuk mempertahankan penjajahannya, selain melalui agresi militer, AS terus menebar racun pemikiran liberalisme, sekulerisme, pluralisme, HAM, demokrasi, sinkretisme dan isme-isme lainnya yang merusak aqidah umat Islam. Selain itu, mereka pun merayu para pemikir muslim untuk mengadopsinya. Di sinilah munculnya kader-kader muslim yang mukhlish dan istiqomah, sangat dibutuhkan. Karena, amal seseorang tergantung pemikirannya. Jika pemikiran seorang muslim sudah terasuki paham sekulerisme, penerapan hukum Al Quran dan Assunnah pun tidak akan lagi menjadi prioritas amalnya. Di sinilah letak bahaya peracunan Barat (westoxication).
Penulis mengenal Persis tangguh dalam menjaga aqidah umat Islam. Menjaga umat dari tersebarnya pemikiran takhayyul, bid’ah dan khurafat. Jaringan pesantren yang sudah meng-Indonesia merupakan modal untuk mengcounter pemikiran-pemikiran Barat.  
Penulis pun berharap, Persis tidak perlu risau bila ada anggapan bahwa Persis terlalu fiqih oriented. Hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak salah, justru yang kurang tepat adalah fakta oriented. Dalam artian hanya mengikuti fakta, sedangkan fiqih untuk menilai dan mengatur fakta diabaikan. Ketika banyak terjadi pergaulan bebas, orang yang fakta oriented akan berkata, "ya gimana lagi, sekarang sudah jamannya pergaulan bebas". Tetapi tidak begitu bagi orang yang fiqih oriented, ia tetap akan menganggap bahwa pergaulan bebas itu haram, seraya terpacu untuk terus berjuang mendakwahkan penerapan syariah Islam, sebagai satu-satunya solusi yang bisa menghilangkan pergaulan bebas.
Inilah sedikit pengalaman, pandangan dan ekspektasi penulis, sebagai orang yang merasakan langsung kiprah nyata Persis. Bila ekspektasi penulis dianggap terlalu melangit, Bisa jadi karena kita terlalu lama hidup dalam sistem buatan manusia bumi, yang rusak dan merusak. Sehingga, saatnya mendorong masyarakat kembali kepada sistem Sang Pemilik bumi dan langit, yakni Syariah Islam. Wallohu a’lamu bishshowwaab. 

(Ary Herawan, alumni Mts Persis Cempakawarna, lulusan tahun 1995)

Sabtu, 14 November 2015

Flu Rasisme AS

Apa penyakitmu saudara?
Telingamu normal,
tapi, mengapa kau tidak mendengarku?
Aku Palestina! Aku saudaramu
Aku merintih-rintih, kau diam
Adik Suriah menjerit kesakitan, kau diam
Kakak Afghanistan teriak teraniaya, kau juga diam
Apa?
Pantas saja kau sudah tuli hati

Aku lihat matamu normal
Tapi, mengapa kau tak lihat merah segar darah kami?
Saudaraku, kami berbanjir darah
Kami dianiaya AS, Rusia dan sekutunya

Oh, pantas saja kau sudah buta hati

Hei, mau kemana kau?
kau bisa dengar teriakan Si Paris tadi?
Buktinya, kau langsung lantang membelanya
Memangnya, siapa dia siapa kita?
Percuma, kau sudah tuli dan buta hati

Aku tahu penyakitmu saudara
Kau terjangkit virus Flu Rasisme
Penyakit pikir sebaran AS

Musuh menjadi saudaramu
tapi saudara kau jadikan musuhmu

Eh, Flu Rasisme atau Pluralisme ya...
Aku ingat-ingat dulu...
Tapi, percuma juga bicara padamu..
Bila kau tak mau ber(t)obat kepada Allah Sang Pencipta Alam

(Ary Herawan, @ ajang FASI Kec. Bungursari, 15/11/2015)

Kamis, 12 November 2015

Bid’ahkah Demokrasi?


Sudah lama sebenarnya penulis ingin mengkaji pembahasan tentang hal ini. Terdorong rasa ingin tahu akan hubungan demokrasi dengan bid’ah. Apakah demokrasi terkategori bid’ah ataukah bukan. Sebagian rekan penulis ada yang berpendapat bahwa demokrasi merupakan bid’ah. Alasannya, tentu karena demokrasi tidak ada ketika jaman Rasulullah Saw. Karena ia merupakan sesuatu yang baru dan diada-adakan.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, saya hanya mengambil pendapat yang disampaikan dua amir Hizbut Tahrir (HT), yakni Syaikh Taqiyuddin An Nabhani (Muassis dan Amir pertama HT) dan dan Syaikh Atha Ibnu Khalil Abu Ar-Rasytah (Amir HT saat ini), -semoga Allah Swt merahmati keduanya. aamiiin-. Dan, penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat.

Sebelum masuk ke pembahasan demokrasi itu bid’ah ataukah bukan. Sebaiknya kita memaknai dahulu apa itu bid’ah. Bid’ah merupakan istilah yang muncul dari nash. Pemaknaannya tidak bisa hanya sekedar dimaknai secara bahasa. Karena, pemaknaan suatu kata (kalimat, dalam bahasa Arab) mesti diutamakan istilah syar’inya terlebih dahulu, jika ada. Adapun jika tidak terdapat makna istilah syar’i, barulah menggunakan makna bahasa.

Amir Hizbut Tahrir Al ‘Alim Syaikh Atha Ibnu Khalil Abu Ar Rasytah mendefinisikan bid’ah sebagai berikut :
“al bid’atu hiya al mukhalifatu amri asy-syaari’i alladzi warodat lahu kaifiyatu adaa-in”
(Bid’ah adalah menyalahi perintah Pembuat Hukum (Allah), yang tertera tata cara penunaiannya).

Adapun bid’ah secara bahasa sesuai dengan kitab lisanul arab : “al mubtadi’ alladzi ya’ti amran ‘ala syubhin lam yakun..., wa abda’ta asysyaia : akhtara’tahu la ‘ala mitsalin”
(pelaku bid’ah adalah orang yang mendatangkan perkara pada gambaran yang belum ada..., dan anda melakukan bid’ah : anda melakukan inovasi tidak sesuai contohnya).

Bid’ah secara istilah juga demikian, artinya terdapat contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan seorang muslim melakukan yang menyalahinya. Ini berarti menyalahi tata cara syar’i yang telah dijelaskan oleh syara’ untuk menunaikan perintah syara’.1)
Rasulullah Saw bersadba :

«وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» [البخاري ومسلم]
“Dan siapa saja yang melaksanakan perbuatan yang tidak ada perintah (ketentuan) kami maka tertolak.” (HR. Imam Muslim)

Apabila Rasul melaksanakan suatu perbuatan serta menjelaskan tatacara menunaikannnya di dalam al-Kitab atau as-sunnah, maka kita harus mengikuti tata cara beliau apa adanya. Jika ada yang berbeda tata caranya dengan tata cara Rasul saw, maka bisa terkategori  bid’ah, yang sesat dan merupakan dosa besar.

Maka siapa yang menyalahi tatacara ini maka dia telah mendatangkan bid’ah. Siapa yang bersujud tiga kali sujud dan bukan dua sujud maka dia telah mendatangkan bid’ah dan itu sesat.2) Bid’ah tidak terjadi dalam selain ibadah. Karena hanya ibadah sajalah yang di dalamnya dinyatakan langkah-langkah praktis untuk menerapkan perintah asy-Syâri’.3)

Adapun muassis Hizbut Tahrir, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani rahimahullahu ta’ala, menjelaskan makna bid’ah sebagai berikut. Bid’ah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Nabi serta ijma’ shahabat, berupa hukum-hukum, baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan. Sedangkan selain hukum-hukum, baik menyangkut perbuatan maupun sesuatu benda, maka hal itu tidak termasuk bid’ah.4) 

Beliau menjelaskan sabda Rasulullah Saw, yang artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu setelah ilmu itu diberikan kepada kalian, akan tetapi Allah mencabutnya dengan cara mewafatkan para ulama, sehingga yang tersisa adalah orang-orang yang bodoh. Mereka diminta fatwanya, kemudian mereka pun berfatwa berdasarkan pendapat mereka. Maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Imam Al Bukhari dari Abdullah bin Umar r.a.)  

Menurut beliau, mereka berfatwa berdasarkan pendapat mereka yang datang dari diri mereka sendiri (bukan berdasar dalil syara, pen). Pendapat (ra’yun) seseorang inilah yang dinamakan Rasulullah Saw sebagai bid’ah.5)

Sekarang mari kita kaji fakta demokrasi. Demokrasi secara bahasa bermakna kedaulatan rakyat. Secara istilah bermakna otoritas tertinggi untuk membuat dan memberlakukan undang-undang ada di tangan rakyat.5) Pemikiran demokrasi tidak termasuk dalam aktifitas ibadah, ia masuk dalam ranah pemikiran (aqidah/keyakinan) yang berpengaruh terhadap muamalah politik (sistem pemerintahan), khususnya produk hukum yang dihasilkan. Oleh karena itu, merujuk pada pendapat Syaikh Atha’ Ibnu Khalil, maka demokrasi tidaklah terkategori bid’ah.

Demokrasi memang tidak terkategori bid’ah, tetapi ‘penuhanannnya’ terhadap pendapat manusia bisa memproduk banyak kebid’ahan. Dengan mengadopsi demokrasi, akan banyak terlahir hukum-hukum yang berdasar pada pendapat manusia semata. Menurut Syaikh Taqiyuddin An Nabhani rahimahullahu ta’ala, hukum yang hanya berdasar pada pendapat manusia semata itulah yang termasuk bid’ah. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Al Faqir Ary Herawan, 1 Shafar 1437)


Daftar Pustaka :
1)    htttp://www.hizbut-tahrir.or.id/2013/06/18/jawab-soal-tentang-bidah/
2)    http://www.hizbut-tahrir.or.id/2015/10/16/apakah-bidah-itu-dan-batasannya/
3)    http://www.hizbut-tahrir.or.id/2009/11/09/jawab-soal-seputar-bid%E2%80%99ah/
4)    Taqiyuddin An Nabhani. Asy-syakhshiyyah Al-Islamiyyah I. Ath-thab’aatu As-sadisah (Mu’tamadah).
5)    idem.
6)    http://rightsandwrong.com.au/DEMOCRAC2.pdf.

Senin, 09 November 2015

"Freeport Mencengkeram, Quo Vadis Bela Negara?”

“Freeport itu hanya sebagian kecil dari cengkeraman penjajahan. Jika dulu Indonesia dijajah oleh Belanda. Sekarang dijajah oleh yang namanya kapitalisme, ” tegas M. Ali Andrias, Kaprodi Ilmu Politik FISIP Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya.

Pernyataan ini beliau sampaikan dalam acara Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) di Aula Masjid Al Mujahidin, yang di adakan DPD II HTI Kota Tasikmalaya (8/11/2015).

Beliau pun menambahkan bahwa cengkeraman asing di bidang migas lebih banyak lagi. Contohnya adalah kunjungan Condolize Rice, yang terbukti bisa mempengaruhi Presiden RI untuk memberikan blok cepu kepada Exxon mobile.  Dari pernyataan ini, penulis menyimpulkan bahwa penjajahan kapitalisme –yang dipimpin AS- terhadap negeri ini adalah nyata. Kenyataan ini sudah disadari dan dirasakan oleh siapapun yang mencintai negeri ini.

Penjajahan adalah suatu bentuk kezaliman sekelompok manusia terhadap manusia yang lain. Sehingga para pendahulu kita, pahlawan negeri ini, sangat membencinya. Mereka berani berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mengusir para penjajah. Hatta tatkala Belanda membonceng sekutu untuk kembali melakukan penjajahan. KH. Hasyim Asy’ari rahimahullah menggelorakan seruan jihad yang disambut oleh para pemuda muslim, seperti Bung Tomo.

Belanda terusir, AS pun datang dengan penjajahan non fisiknya. Dengan balutan investasi dan kucuran utang luar negeri, mereka mulai menjerat negeri ini. Kemudian, dengan doktrin demokrasi, cengkeraman penjajahannya pun semakin menguat. Karena ruh demokrasi adalah liberalisasi dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi. Dengan memanfaatkan doktrin tersebut, AS memaksakan berbagai UU yang berpihak kepada asing. Berlindung di balik perundang-undangan tersebut, para penjajah semakin leluasa mengeruk kekayaan negeri ini, tanpa takut terusir sedikit pun, termasuk PT. Freeport.

Padahal eksploitasi emas yang dilakukan PT. Freeport sangat merugikan Indonesia. A. Mufti Nur Habib, pembicara dari DPD II HTI Kota Tasikmalaya, memaparkan beberapa fakta yang merugikan tersebut. Di antaranya, keuntungan real PT. Freeport yang valid tidak pernah bisa ditelusuri oleh pemerintah, bahkan BPK pun tidak bisa mengaudit Freeport, karena regulasinya tidak membolehkan.

Selanjutnya, deviden untuk pemerintah sangat kecil. Total dividen yang diterima pemerintah dari Freeport sejak 1992-2011 hanya sebesar USD 1,287 miliar. Demikian pula saham pemerintah di PT Freeport, hanya sekitar 9,36 persen. Itu artinya pada jangka waktu yang sama, PT Freeport menerima deviden USD 12,87 miliar dolar alias 10 kali lipat daripada yang didapat pemerintah. Parahnya, ternyata selama 2012-2014 PT Freeport tidak memenuhi kewajibannya untuk menyetor dividen kepada pemerintah, dan itu dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Bahkan, pada saat Pemerintah Propinsi Papua menagih pajak daerah Freeport sebesar 2,7 T (untuk periode 2009 – 2014), Freeport hanya mau membayar 7,5 M saja.

Bela Negara

Senada dengan yang disampaikan pembicara pertama, A. Mufti Nur Habib menegaskan bahwa PT. Freeport merupakan simbol kerakusan, arogansi dan penjajahan AS terhadap negeri ini. Lalu, quo vadis (mau ke manakah) bela negara yang selama ini digembar-gemborkan? Bila pada kenyataannya, penjajahan dan eksploitasi terhadap kekayaan negeri ini justru terjadi karena regulasi pemerintah sendiri.

Padahal program bela negara yang digagas oleh Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, beralasan wawasan kebangsaan yang sudah mulai luntur. Harapannya, terbentuk kader-kader bela negara yang bertugas melakukan pertahanan negara, jika sewaktu-waktu negara mendapat ancaman nyata maupun belum nyata.

Penjajahan baru (neo imperialisme) ala AS terhadap negeri ini merupakan ancaman nyata. Dampaknya, dirasakan setiap saat oleh rakyat Indonesia. Rakyat yang telah menyatakan dengan lantang bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Penulis teringat sebuah pernyataan dari Syaikh Ahmad Athiyyat dalam kitab Ath Thariq. Beliau menjelaskan bahwa adanya kezaliman tidak akan mendorong terjadinya perubahan, tetapi merasakan adanya kezaliman itulah yang akan mendorong terjadinya perubahan. Namun, merasakan kezaliman tidaklah cukup secara fisik, seperti mengecap rasa manis dan pahit oleh mulut. Ia mesti dirasakan oleh penginderaan yang bersumber dari pemahaman (ihsaasul fikri).

Neoimperialisme AS tidak bisa dilawan hanya dengan merasakannya secara fisik semata. Karena jika kita sedemikian adanya, tetapi masih berpaham laksana penjajah, semua itu hanya akan membuat kita semakin kebal terhadap penjajahan.

Karena itulah, HTI sering menyampaikan bahwa penjajahan kapitalisme berlindung di balik demokrasi. Untuk melawannya, hanya dengan menerapkan syariah Islam secara paripurna dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah bentuk pembelaan HTI terhadap negeri tercinta Indonesia. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

Kabar Priangan, 9 November 2015

(Ary Herawan, Ketua DPD II HTI Kota Tasikmalaya)

Jumat, 06 November 2015

Perilaku Erdogan dalam Timbangan Syara

Sebagian orang menduga bahwasanya orang sekuler nomor satu di Turki, Erdogan, memerintah berdasarkan Islam.  Sehingga, penting bagi kita untuk menimbangnya berdasarkan syara, karena ia adalah rujukan tatkala terjadi perselisihan. Allah Swt berfirman :

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Artinya :
“Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (TQS. An Nisa[4] : 59)
Ketika kita mengetahui bahwa ia telah memerintah dengan Islam maka kita akan mencintainya, karena ia telah bersama Allah dan syariat-Nya. Adapun ketika ternyata ia memerintah dengan sekulerisme maka kita akan membencinya dan mengambil pelajaran darinya, karena Rasul yang mulia saw bersabda :

 ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار
Artinya :
“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman : Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya. Jika ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya selain karena Allah semata. Dan, ia benci kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al Bukhari dari Anas bin Malik r.a.)

Berikut ini adalah beberapa perilaku Erdogan. Untuk menghukuminya, kita bisa menempatkan timbangan syariat. Apakah berbagai perilaku tersebut islami ataukah murni sekuler.

     1.  Erdogan Menerapkan Sekulerisme dan Tidak Menerapkan Hukum Syara’ :
Bahwasanya sistem pemerintahan Turki merupakan salinan dari sistem pemerintahan Barat, tidak menyimpang sedikitpun darinya. Seluruh lembaga negara tidak mengenal apapun selain undang-undang sekuler. Serta tidak terdapat satu pun undang-undang Erdogan yang berasal dari Islam. Seluruh perundangan tersebut bahkan merupakan bagian dari ideologi sekulerisme dan ideologi Musthafa Kamal, bukan bagian dari hukum Allah.

     2.  Pengkhianatan Erdogan Terhadap Islam dan Urusan Kaum Muslim.
Dengan penerapan sekulerismenya, Erdogan telah memerangi Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Ia menampakkan dirinya sebagai pelindung sekulerisme Turki. Meskipun sebagian kaum fanatik menganggapnya berbaju Islam. Padahal ia secara tegas mengatakan  bahwasanya ia adalah seorang sekuler. Dan yang lebih mengkhawatirkan, jika sebagian orang ikut-ikutan, kemudian mengatakan bahwa Obama telah Islam. Padahal kita tahu bahwa permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslim sangatlah besar ! 

     3.  Erdogan Membunuh Kaum Muslim di Afghanistan, Syam dan Irak.
Tentara Turki telah terlibat dalam pembunuhan penduduk Afghanistan, hingga aspek pertemanan mereka dengan kaum kafir di NATO. Turki telah menjadi komandan NATO sebanyak dua kali, yang terakhir pada era Erdogan. Di mana ia mengumumkan bergabung dengan koalisi salibis di bawah pimpinan Amerika, untuk melakukan pembunuhan terhadap kaum muslim di Irak dan Syam dengan dalih memerangi terorisme (Islam). Mereka membunuhi kaum muslim dengan darah dingin. Padahal Allah Swt berfirman :

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Artinya :
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar.” (TQS. An Nisa[4] : 93)

     4.  Erdogan Memerangi Islam dan Khilafah
Sesungguhnya Erdogan merupakan penjaga sekulerisme yang terpercaya di Turki, serta kepercayaan para tuan kafir. Ia memerangi para pengemban dakwah dengan seluruh kekuatan dan kekerasan. Bukan karena alasan apapun, selain karena  mereka (para pengemban dakwah, terj) menghendaki Turki kembali sebagaimana pada masa Khilafah, memimpin dunia kembali. Setelah Erdogan bersandiwara untuk konspirasi kaum kafir, menjadi pusat persenjataan mereka untuk memerangi Islam dan kaum muslim. Serta negara lemah yang memohon Eropa untuk memasukannya dalam Uni Eropa sesuai syarat yang mereka inginkan. Lalu Eropa menolak hal tersebut karena memperhitungkan khilafah Utsmaniyyah dengan beribu perhitungan.
Di sinilah dia menjebloskan para syabab Hizbut Tahrir ke pusat-pusat penahanan dan penjara-penjara.  Lalu menetapkan hukum-hukum sekuler yang keras terhadap mereka.

     5.  Erdogan Adalah Antek Amerika di Turki untuk Kekuasaan Amerika.
Aktifitas bantuan Erdogan untuk Amerika adalah nyata. Ia mengamankan sekulerisme dan demokrasinya, serta menerapkannya di Turki dalam seluruh aspek kehidupan. Ia melaksanakan agenda Amerika dan garis-garis kebijakannya dengan teliti. Ia menjaga kepentingan Amerika, serta merasa cemas ketika itu tertimpa bahaya. Amerika menyebut Erdogan sebagai model istimewa bagi penguasa sekuler, dibandingkan para penguasa kaum muslim lainnya. 

     6.  Erdogan dan Hubungan Pertemanannya dengan Intitusi Yahudi
Turki adalah negara pertama yang mengakui institusi Yahudi pada tahun 1948 M, langsung setelah negara-negara Barat. Lalu menjalin hubungan khusus dengannya. Pada Era Erdogan, hubungan tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya. Volume perdagangan antara Erdogan dan institusi Yahudi telah meningkat. Bersama Yahudi, ia pun menjalin hubungan militer dan keamanan, memordenisasi pesawat-pesawat Turki. Padahal intitusi Yahudi tersebut adalah pemerkosa Palestina dan tidak berhenti menumpahkan darah puluhan ribu penduduknya ! Keberadaan duta besar Yahudi di Turki adalah bukti nyata atas hubungan khusus antara teman-temannya. Adapun ucapan-ucapan lisan dan air mata buaya yang dicucurkan Erdogan hanyalah untuk meningkatkan jumlah suaranya dalam pemilu.
 
     7.  Erdogan adalah Teman Setia Musuh Rasulullah Saw.
Rasmusen, Perdana Menteri Denmark, merupakan musuh Allah. Dua kali penghinaan terhadap Rasulullah Saw terjadi pada era pemerintahannya. Pada saat itu, Hizbut Tahrir Denmark mengumpulkan 25.000 tanda tangan untuk diserahkan kepada Kementerian HAM, supaya pelaku penghinaan terhadap Rasulullah Saw dieksekusi sesuai pendapat kaum muslim, karena hukum menghina Rasulullah Saw adalah hukuman mati. Akan tetapi, kementerian menolak itu. Rasmusen pun marah, ia mengirimkan seruan yang ditayangkan melalui televisi, mengundang para jurnalis Eropa untuk menyiapkan penyebaran kartun penghinaan terhadap Rasulullah Saw dengan dalih kebebasan berpendapat yang demokratis. Setelah fase pemerintahannya berakhir di Denmark, karena permusuhannya terhadap Islam seperti Abu Jahal, negara-negara Barat menunjuknya sebagai pemimpin aliansi NATO untuk memerangi kaum muslim sesuai permintaan Barat. Dan kunjungan pertama Si Pendosa itu adalah ke temannya, Erdogan, yang menerimanya dengan penuh kehangatan dan menyenangkan. Padahal, ia adalah pimpinan aliansi NATO yang membunuhi kaum muslim di Afghanistan. 

     8.  Erdogan Memerangi Kegiatan Hizbut Tahrir untuk Membantu Revolusi Suriah
Erdogan dan orang yang di atasnya telah menyerukan perlawanan dan pencegahan terhadap revolusi Suriah, sebagaimana yang dilakukan Iran dan Suriah. Betapapun terdapat  tali dusta yang lemah, ketika ia memerangi kegiatan Hizbut Tahrir untuk membantu revolusi Syam yang diberkati, yakni kegiatan yang menyeru kaum muslim untuk membantu revolusi Suriah dan memperlihatkan kejahatan tirani Si Pendosa Basyar. Berbagai kegiatan itu merupakan kegiatan damai, seperti muktamar, seminar, aksi protes serta unjuk rasa. Erdogan malah menghentikannya dengan berbagai cara. Diketahuilah secara jelas bahwasanya ia memusuhi revolusi Suriah, seperti para penguasa lainnya. Iran berusaha untuk mengaborsi revolusi tersebut. Adapun Erdogan berusaha membelokkan perjalanannya, supaya muncul agen baru untuk tuannya Amerika, pengganti Basyar agen lamanya yang usang. Tatkala Hizbut Tahrir memberikan penjelasan, melalui berbagai kegiatannya, bahwasanya penduduk Syam telah bangkit demi revolusi mereka untuk tegaknya Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah, Erdogan gelisah sebagaimana para penguasa lainnya. Sehingga ia menjebloskan para syabab ke penjara dan berbagai pusat penahanan. Kemudian menetapkan hukuman sekuler yang keras, seperti penjara 117 tahun terhadap 49 orang syabab. Tidaklah aneh, karena demikianlah sekulerisme dan perundang-undangannya. Karena itulah, bagaimanapun perilakunya tetaplah perilaku para agen.

     9.  Erdogan membuka hotel-hotel dan pinggir pantai bagi kaum Nudis di kota Tatcheh pantai Aegea di Turki pada tahun 2010 M, serta menghadiahi kaum homo (gay) dengan aturan yang bisa melindungi mereka. Tidaklah aneh, karena demikianlah sekulerisme yang disombongkan oleh para pengikutnya. Mereka lupa bahwa seseorang akan dibangkitkan pada hari Kiamat bersama orang yang dicintainya.

  Kesimpulannya, Erdogan adalah antek Amerika dan musuh pahit Islam dan kaum muslim. Memerintah kaum muslim Turki dengan perundang-undangan kufur sekuler, dan ia merupakan orang sekuler kelas utama.

Ditulis untuk Maktab I’lami Hizbut Tahrir
Syayif Syarodi – Yaman

22 Muharram 1437 H
4 November 2015 M


diterjemahkan oleh        : Ary Herawan, 7/11/2015.
Sumber tulisan              : http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_52787   

بسم الله الرحمن الرحيم
أعمال أردوغان في الميزان!!!

لقد توهم بعض الناس أن رجل العلمانية الأول في تركيا أردوغان يحكم بالإسلام، والأصل أن نضع أعماله في ميزان الشرع فهو المرجع عند الاختلاف، قال تعالى ﴿فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً﴾.

وعندها سنعرف هل يحكم بالإسلام فنحبه لأنه مع الله وشريعته أو يحكم بالعلمانية فنكرهه ونتبرأ منه لأن الرسول الأكرم
ﷺ يقول: «ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ» وهذه بعض أعمال أردوغان نضعها في ميزان الشرع للحكم عليها هل هي إسلامية أم أنها علمانية خالصة.

1- أردوغان يحكم بالعلمانية ولم يطبق حكما شرعيا واحدا:

إن النظام التركي نسخة من النظام الغربي لا يختلف عنه في شيء؛ فجميع مؤسسات الدولة لا تعرف غير قوانين العلمانية ولا يوجد نص واحد في دستور أردوغان من الإسلام حتى القسم عندهم بمبادئ العلمانية ومبادئ "مصطفى كمال" وليس بالله.

2- خيانة أردوغان للإسلام وقضايا المسلمين:

إن أردوغان بتطبيقه للعلمانية يحارب الإسلام في كل مناحي الحياة، وهو يتفاخر بأنه حامي العلمانية في تركيا رغم أن بعض المتعصبين يلبسه ثوب الإسلام وهو يقول بصراحة أنا علماني، وأخشى أن يقلدهم آخرون فيقولون إن أوباما أسلم ونحن نعرف جميعا أنه أكبر عدو للإسلام والمسلمين!

أما قضايا المسلمين فلم ينصر قضية واحدة ولم يطلق رصاصة على اليهود في فلسطين بل لم يقتص للتسعة الأتراك الذين قتلهم اليهود في سفينة الحرية في 2010 وهم في ذمته.

3- أردوغان يقتل المسلمين في أفغانستان والشام والعراق:

لقد شارك جيش تركيا في قتل أهل أفغانستان إلى جانب أصدقائهم الكفار في حلف الناتو وقد تولت تركيا قيادة الناتو مرتين آخرها في عهد أردوغان، وها هو يعلن انضمامه إلى التحالف الصليبي بقيادة أمريكا لقتل المسلمين في العراق والشام بحجة مكافحة الإرهاب (الإسلام) وهم يقتلون المسلمين بدم بارد والله يقول: 
﴿وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا﴾.

4- أردوغان يحارب الإسلام والخلافة:

إن أردوغان حارس أمين للعلمانية في تركيا كما وثق به أسياده الكفار وهو يحارب حملة الدعوة بكل قوة وبكل قساوة لا لشيء إلا أنهم يريدون أن تعود تركيا كما كانت من قبل خلافة تقود الدنيا من جديد بعد أن حولها أردوغان إلى مسرح لتآمر الكفار فيها ومركز تنطلق منها أسلحتهم لحرب الإسلام والمسلمين ودولة ضعيفة تستجدي أوروبا أن تدخل اتحادهم بالشروط التي يريدونها فيرفضون ذلك بعد أن كانوا يحسبون للخلافة العثمانية ألف حساب.

فها هو يزج بشباب حزب التحرير في المعتقلات والسجون ويصدر في حقهم أحكام العلمانية القاسية.

5- أردوغان عميل أمريكي حول تركيا إلى ولاية أمريكية:

إن عمالة أردوغان لأمريكا ظاهرة للعيان فهو يؤمن بعلمانيتها وديمقراطيتها ويطبقها في تركيا في كل مناحي الحياة، وهو ينفذ أجندة أمريكا ومخططاتها بدقة ويحرس مصالحها ويفزع إليها وقت الخطر، وأمريكا تعتبر أردوغان النموذج المتميز للحاكم العلماني لبقية حكام المسلمين، وها هو بأوامر أمريكية يحول تركيا إلى ولاية أمريكية تقيم فيها القواعد العسكرية ومنصة الصواريخ النووية وعددها 90 رأساً نووياً، وكان أول خطاب لأوباما خارج أمريكا من تركيا وبجانبه أردوغان ليرسل رسالة للمسلمين مفادها أن تركيا إحدى الولايات المتحدة الأمريكية.

كما سمحت أمريكا لدول أوروبا أن تقيم قواعد صاروخية في تركيا لمحاربة الخلافة القادمة المرتقب إقامتها في الشام عقر دار الإسلام.

6- أردوغان وعلاقته الحميمة بكيان يهود:

لقد كانت تركيا أول دولة اعترفت بكيان يهود في عام 1948م بعد الدول الغربية مباشرة وأقامت معها علاقة متميزة، أما في عهد أردوغان فقد أصبحت أحسن من ذي قبل، فقد زاد حجم التبادل التجاري بين أردوغان وصديقته دولة يهود وأقام معها العلاقات العسكرية والأمنية وقام كيان يهود بتحديث الطائرات التركية وكأن اليهود غير مغتصبين لفلسطين ولم يسفكوا دماء عشرات الآلاف من أبنائها! وسفارة كيان يهود في تركيا شاهدة على العلاقة المتميزة بين الصديقين، أما الملاسنات الكلامية ودموع التماسيح التي يذرفها أردوغان فهي فقط لرفع رصيده الانتخابي.

7- أردوغان صديق حميم لأعداء رسول الله
ﷺ:

عدو الله رسموسان كان رئيس الوزراء للدنمارك وقد حدثت الإساءتين للرسول
ﷺ في فترة حكمه 2006م و2008م وعندما قام حزب التحرير في الدنمارك بجمع 25000 توقيع من أجل تقديمها لوزارة حقوق الإنسان لتقديم المسيء للرسول ﷺ لإعدامه من قبل المسلمين لأن حكم من أساء للرسول ﷺ هو القتل مباشرة، لكن الوزارة رفضت ذلك وغضب رسموسان ووجه خطاباً متلفزاً يدعو الصحف الأوروبية لإعادة نشر الرسوم المسيئة للرسول ﷺ بدعوى حرية الرأي الديمقراطية، وعندما انتهت فترة حكمه للدنمارك عينته الدول الغربية لأنه أشد عداوة للإسلام من أبو جهل رئيساً لحلف الناتو ليقتل المسلمين حسب الطلب الغربي، وكانت أول زيارة لهذا المجرم هي لصديقه الحميم أردوغان الذي استقبله استقبالاً حاراً وهنأه على رئاسة حلف الناتو الذي يقتل المسلمين في أفغانستان.

8- أردوغان يحارب أنشطة حزب التحرير المناصرة للثورة السورية:

لقد ادعى أردوغان وقوفه إلى جانب الثورة السورية كما ادعت إيران وسوريا المقاومة والممانعة، ولكن حبل الكذب قصير وإذا به يحارب أنشطة حزب التحرير المناصرة لثورة الشام المباركة وهي أنشطة تدعو المسلمين لمناصرة ثورة سوريا وتبرز جرائم الطاغية المجرم بشار، وهي أعمال سلمية مثل المؤتمرات والندوات والوقفات الاحتجاجية والمسيرات، لكن أردوغان وقف لها بالمرصاد فعرف الأتراك أنه عدو للثورة السورية كبقية الحكام فإيران تسعى إلى إجهاض الثورة وأردغان يسعى إلى حرف مسارها لإيجاد عميل جديد لسيدته أمريكا بديل لعميلها القديم المحروق بشار، فلما بين حزب التحرير من خلال الأنشطة أن أهل الشام قاموا بثورتهم من أجل إقامة الخلافة الراشدة على منهاج النبوة انزعج أردوغان كسائر الحكام فزج بالشباب في السجون والمعتقلات وأصدر في حقهم الأحكام القاسية مثل السجن 117 عاماً لـ49 من الشباب، ولا غرابة فهذه هي العلمانية وهذه قوانينها ومع ذلك فالأنشطة مستمرة مهما فعل العملاء.

9- أردوغان يفتتح فنادق وشاطئ للعراة في مدينة طاتشه على بحر إيجة في تركيا عام 2010م ويمنح الشواذ (المثليين) قوانين تحميهم، ولا غرابة فهذه هي علمانيته التي يفتخر به الإخوان ونسوا أن المرء يحشر يوم القيامة مع من يحب.

والخلاصة هي أن أردوغان عميل أمريكي وعدو لدود للإسلام والمسلمين ويحكم المسلمين في تركيا بقوانين الكفر العلمانية فهو علماني من الطراز الأول.


كتبه للمكتب الإعلامي المركزي لحزب التحرير
شايف الشرادي - اليمن





22 من محرم 1437
الموافق 2015/11/04م