Minggu, 29 November 2015

Ketika Anak Bertanya tentang Seks

Memperhatikan pergaulan dan pesatnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini, seringkali membuat orang tua waswas. Terutama penyebaran konten pornografi di berbagai jaringan sosial media.

Sebagai orang tua, saya dan istri memang mengharapkan saat-saat seperti ini. Yakni, saat yang tepat untuk menjelaskan tentang seks kepada putri sulung tercinta (10 th). Kami sangat tidak menginginkan jika ia mendapatkan hal tersebut dari yang lain, apalagi dari teman-temannya. Karena dikhawatirkan, informasi yang diterima adalah informasi yang bias, yang terpisah dari pandangan Islam tentang hal tersebut.

Tidak sedikit orang tua yang merasa canggung dan menganggap pembicaraan seks dengan anak sebagai hal yang tabu. Padahal itu merupakan hal yang penting, karena setiap manusia dianugerahi naluri seksual. Naluri tersebut mesti diarahkan supaya penyalurannya selamat, serta sesuai dengan petunjuk Allah Swt.

Saat itu tiba, ketika istri tercinta mengikutsertakan Si Sulung dalam sebuah acara remaja yang digagas Muslimah HTI Tasikmalaya. Karena menjelang hari AIDS, tema yang dibahas pada acara tersebut seputar pergaulan remaja. Alhamdulillah, putri sulung yang baru kelas 5 SD adalah peserta termuda yang hadir pada acara tersebut. Karena peserta selainnya adalah para mahasiswi. Saya juga tidak hadir di lokasi, begitu pula istri. Ini hanya masalah teknis yang dipilih. Berharap ada pertanyaan dari putri kami setelah acara selesai.

Selesai acara, saya menjemput Si Sulung. Alhamdulillah, meskipun pada tempat yang waktu kurang tepat, ia menanyakan kepada saya hal yang diharapkan.
     "Bi, ada hal yang kakak ga ngerti?" Tanyanya kepada saya di atas motor yang sedang melaju.
     "Apa itu Nak?" Tanya saya.
     "Seks itu apa Bi?" Ia balik bertanya.
Sungguh saya lupa jawaban terbaik yang pernah saya siapkan. Tetapi, saya jawab dulu secara bahasa.
     "Nak, seks itu berasal dari bahasa Inggris, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya jenis kelamin." Jawab saya singkat.
Banyaknya kendaraan yang melaju, tentu membuat komunikasi kami tidak lancar. Karena saat itu kami juga ditemani Si Bungsu yang baru berusia 3,5 tahun, maka saya pun memutuskan untuk menginterupsi pertanyaan. Saya meminta pengertiannya, untuk membahas tema tersebut setelah sampai di rumah.

     "Nak, sudah waktunya kakak paham hal tersebut. Tetapi, hal itu harus dibicarakan di rumah ya?" Pinta saya. tersebut
    "Supaya jelas dan konsentrasi, kakak juga harus sendiri. Teteh dan Ade jangan ikutan dulu membahasnya", jelas saya.

Saya ingin memastikan supaya anak kedua (7 thn) dan Si Bungsu tidak ikut nimbrung mendiskusikannya nanti. Alhamdulillah, ia pun bisa memahaminya. Sepanjang jalan itu pikiran saya menerawang, memikirkan jawaban terbaik yang akan saya berikan nanti.

Putri sulungku benar-benar menantikan penjelasan. Malam itu ia memintaku penjelasan yang tadi sempat terputus. Sesuai kesepakatan dengan istri, bahwa saya yang bertugas menjelaskan kepadanya. Istri langsung paham, ia langsung mengajak anak kedua dan ketiga kami untuk melakukan aktifitas lain. Terus terang, untuk menangani Si Bungsu, istri saya jauh lebih lihai dan cekatan. Lalu, saya pun mengajak Si Sulung bicara berdua.
    "Nak, seks itu adalah segala sesuatu aktifitas atau perbuatan yang mengarah pada bertemunya alat kelamin laki-laki dan perempuan." Jelas saya. "Dari mulai ngobrol-ngobrol, pandang-pandangan, pegang-pegangan, berdua-duaan sampai tidur berdua."
Si Sulung mendengarkannya secara seksama. Kemudian, saya melanjutkan penjelasan saya. Dan inilah yang paling penting baginya.
     "Dan semua itu di dalam Islam adalah haram, " intonasi saya lebih tegas dan jelas pada kalimat yang terakhir. Mengapa saya langsung memvonis haram duluan, karena saya berbicara dengan anak yang masih belum menikah.
     "Terkecuali bagi yang sudah menikah," lanjut saya.
Melihat ia memperhatikan dengan seksama, saya sangat gembira.sangat
     "Mengapa demikian?" Tanya saya secara retoris.
     "Karena, Allah Swt menciptakan naluri seksual pada manusia supaya manusia bisa lestari atau beranak pinak," jelas saya.
     "Manusia itu tadinya dari Adam dan Hawa ya Bi?" Tanya Si Sulung kepada saya. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa obrolan kita berdua sudah nyambung.
     "Iya Nak, naluri seksual juga Allah berikan pada binatang. Sehingga mereka bisa berkembang biak. Tetapi, manusia dan binatang berbeda. Manusia diberi akal untuk memilih dan memilah. Aktifitas seks bagi manusia yang belum menikah merupakan perbuatan dosa," jelas saya. Kebetulan materi halqoh yang saya berikan kepadanya baru saja membahas tentang potensi akal manusia.
     "Termasuk, para remaja yang berdua-duaan, pegang-pegangan, pacaran. Semua itu perbuatan dosa," lanjut saya.
     "Kalau menonton film yang seperti itu boleh ga Bi?" Ia bertanya. Sungguh pertanyaan ini mengagetkan saya. Terus terang, saya jadi gelisah dengan pertanyaannya. Jangan-jangan, saya langsung negatif thinking.
     "Sama, itu juga diharamkan!" Tegas saya.
Dasar orang tua panik. Di era sosial media yang bebas seperti ini, mungkin perasaan saya merupakan sesuatu yang wajar. Meskipun, sampai saat ini, saya dan istri sepakat untuk tidak memberikan fasilitas android kepadanya.
     "Kakak pernah melihat film seperti itu?" Tanya saya dengan cemas.
     "Iih...! Tidak pernah", jawabnya sambil bergidik.
     "Kok, kakak bisa bertanya seperti itu?" Tanya saya penasaran.
     "Kan tadi dijelaskan di acara, bahwa ada remaja yang suka nonton film seks," jawabnya. Saya lupa-lupa ingat jawabannya, tapi kurang lebih seperti itulah kalimatnya. Sungguh jawaban yang sangat menenangkan.
     "Ooh, tadi apa lagi yang dibahas di acara Nak?" Tanya saya untuk mengalihkan pembicaraan.
     "Ya seputar itu Bi. Ada nyanyi, ada juga dan tayangan-tayangan," jawabnya.

Alhamdulillah, akhirnya anakku memahami penjelasan seks dari ayahnya sendiri. Tugas selanjutnya saya berikan kepada istri. Yaitu untuk menjelaskan organ reproduksi lebih dalam lagi, karena ini lebih khusus terkait masalah perempuan.

Mudah-mudahan kisah ini bisa diambil ibrohnya. Menjelaskan seks kepada anak merupakan sesuatu yang penting. Bukan pada seksnya semata, yang kucing dan ayam saja bisa melakukannya tanpa diberi pelajaran. Tetapi, jauh lebih berharga daripada itu, yaitu memahami petunjuk Allah Swt tentang hal tersebut. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar