Minggu, 27 Desember 2015

Renungan Malam

Malam...
Nafasmu berhembus menyentuh kulit
Seram...
Dalam benak penuh tanya terbersit
Kelam...
Tak sedikit pun membuat Ijro'il sulit
Malam...seram...kelam...
Setiap nyawa digenggam Al Mumiit
Pejam...
Masihkah mata ini kan melihat fajar terbit?
Atau, di alam lain aku kan terbangkit?
Adalah rahasia Penguasa bumi dan langit

(Ary Herawan, 15 Rabi'ul Awwal 1437 H)

Sabtu, 26 Desember 2015

Untuk Apa Berkumpul?

Ada kebahagiaan tersendiri bila bisa berkumpul bersama para pejuang. Setidaknya, menjaga semangat terus terjaga dan menyala. Sudah menjadi fitrah manusia, setiap manusia memiliki naluri eksistensi diri. Pada suatu kondisi, naluri ini bisa mendorong seseorang untuk semangat. Tetapi pada sisi yang lain, menggodanya juga untuk bersantai ria.

Oleh karena itu, mendasarkan aktifitas hanya pada dorongan naluriah semata, hanya akan membuat semangat yang kembang kempis. Visi yang ditanamkan dalam suatu aktifitas, memang bisa membantu menjaga semangat tetap menyala. Akan tetapi, hal itu tidak akan menafikan adanya godaan naluriah untuk bersantai ria. Di sinilah pentingnya kita berkumpul bersama orang-orang yang se-visi.

Berkumpul bersama orang-orang yang se-visi sudah dilakukan sejak dulu. Oleh karena itu, kita melihat banyak sekali perkumpulan. Baik yang legal, ilegal, formal maupun non formal. Ada perkumpulan dokter, bidan, pengacara, penulis, sastrawan, pendakwah dan sebagainya. Bahkan ada juga perkumpulan penjudi, penjahat, koruptor dan yang semisalnya. Semua itu dalam rangka menjaga visi mereka.

Para penulis juga penting untuk berkumpul. Setidaknya ada kesamaan visi di antara visi-visi pribadi mereka. Apalagi bagi kita sebagai para penulis pemula, kumpul-kumpul bisa saling memotivasi di antara kita. Bisa saling menguatkan dalam mengahadapi godaan naluriah untuk bersantai ria, lalu menyerah di tengah perjalanan. Visi pun tinggal mimpi.

Kecanggihan teknologi telah dibuat untuk mempermudah manusia. Berkumpul pun bisa dilakukan di dunia maya. Bisa via Whatsapp, messenger, facebook dan fasilitas sosial media lainnya. Karena berbagi ilmu, motivasi dan semangat bisa dilakukan via komunikasi literal, tidak harus verbal.

By the way , mari kita kumpul-kumpul. Mari kita jaga semangat kita untuk meraih visi kita masing-masing. Semoga kita bisa menjadi para penulis yang inspiratif dan mencerahkan. Sehingga mampu mendorong masyarakat kita menjadi masyarakat terbaik dunia. Teringat pesan dari salah seorang guru, semua berawal dari kumpul-kumpul. (26/12/2015)

(Ary Herawan, Penulis binaan Apu Indragiry @Akademi Menulis Kreatifl)

KEBENARAN

Ia satu
Hakikatnya, ia hanya satu
Jika muncul lebih dari satu
Sisanya mesti keliru

Untuk perkara yang qath'i
Satu untuknya adalah mesti
Yang lain adalah salah, itu pasti

Adapun untuk perkara yang dzanni
Yang benar, dua pahala diberkahi
Jika salah, satu pahala pun kan diberi

Memilihnya bukan karena egoisme

Memisahkan wahyu darinya, terjebak sekulerisme

Menakarnya dengan benda semata, terjerumus materialisme

Mencampurnya dengan yang salah, tergoda sinkretisme

Mencarinya berdasar akal terbimbing wahyu, itulah yang sejati

(Yang Menikmati Kebenaran Islam, Rabi'ul Awwal 1437 H)

Selasa, 22 Desember 2015

Islamophobia di Balik Terorisme


Berdasarkan warning dari FBI dan Australia Federal Office, akhirnya Densus 88 antiteror mabes Polri menangkap  terduga teroris di sejumlah tempat pada Sabtu (19/12). Seperti biasanya, terduga teroris pun dikaitkan dengan pesantren, ustadz, bendera hitam bertuliskan kalimah tauhid dan ISIS. Ujung-ujungnya, Islam dan kaum muslim. Sebagaimana yang pernah penulis sampaikan bahwa dampak ISIS adalah monsterisasi Islam. Dan, semakin hari semakin terlihat siapa sebenarnya di balik ISIS, tidak lain adalah sang dalang terorisme itu sendiri (baca : Amerika Serikat).

Untuk melemahkan revolusi Suriah, Amerika Serikat mengkotak-kotakkan perjuangan rakyat Suriah. Sebagai tabir penutup kepalsuannya, AS pun mendorong dunia untuk menjadikan ISIS sebagai musuh bersama. Terakhir, 34 negara muslim berkoalisi menyambut seruan AS. Ternyata target koalisi 34 negara muslim itu bukanlah hanya ISIS, tetapi ditujukan juga terhadap para pejuang Islam lainnya, yang notabene sangat berseberangan dengan ISIS. Dengan kemunculan ISIS, AS membawa negara-negara dunia ke arah ‘perang dunia ketiga’, yakni perang di bawah pimpinan AS melawan terorisme. Hanya saja, jika perang dunia pertama dan kedua terdiri dari suatu blok negara yang melawan blok negara yang lain. Sedangkan perang melawan terorisme merupakan perang AS melawan paranoid kebangkitan Islam. 

Hal ini sudah terbaca jauh-jauh hari dari Grand strategy baru Amerika Serikat. Grand strategy yang dicanangkan sejak berakhirnya Perang Dingin ini memiliki tujuh elemen. Pengamat politik internasional, Budi Mulyana, mengutip lima dari tujuh elemen tersebut, yaitu : Pertama, mempertahankan dunia unipolar, dan harus mencegah munculnya kompetitor baru di Eropa dan Asia. Kedua, terorisme merupakan ancaman baru. Ketiga, mengganti konsep pencegahan (deterrence) Perang Dingin. Saat ini, pencegahan, kedaulatan, dan perimbangan kekuatan harus berjalan bersama. Karena ancaman saat ini bukan negara adikuasa, tapi jaringan teroris transnasional. Keempat, memaknai ulang arti kedaulatan. Karena kelompok-kelompok teroris tidak dapat ditangkal. Amerika Serikat harus disiapkan untuk melakukan intervensi di mana-mana, kapan saja bertindak lebih dahulu menghancurkan ancaman. Kelima, Amerika Serikat perlu memainkan peran langsung dan leluasa untuk memusnahkan ancaman.

Jelas bahwa AS menggunakan terorisme sebagai senjata perang ideologinya terhadap Islam. Paul Wolfowitz pernah menyatakan bahwa ''Saat ini, kita sedang bertempur melawan teror-perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar yang kita hadapi adalah perang pemikiran. Jelas suatu tantangan, tapi juga harus kita menangkan.'' Donald Rumsfeld, juga pernah berbicara  tentang keberadaan tentara Amerika Serikat di Irak bahwa ''Jika tentara Amerika Serikat keluar dari Irak segera, Irak akan menjadi surga bagi teroris dan menjadi basis penyebaran Negara adidaya Islam yang akan mengancam dunia.... Irak akan menjadi basis negara Khilafah yang baru yang akan meluas ke Timur Tengah. Serta Presiden Amerika Serikat, George W Bush, pada tanggal 6 Oktober 2005 menyebutkan dengan menyamakan perang melawan terorisme saat ini dengan perang melawan komunisme. Baginya, ideologi pembunuh Islam radikal adalah tantangan terbesar dari abad baru kita.

Amerika Serikat, sekutu dan para agennya pun terus berupaya memalingkan manusia dari Islam. Mereka menciptakan islamophobia di tengah masyarakat. Terorisme, radikalisme dan berbagai tindakan kekerasan lainnya selalu diidentikkan dengan Islam. Khilafah atau negara Islam, Jihad, Syariah, Ar royah (bendera hitam bertuliskan kalimah tauhid), sampai kitab suci Al Quran,  merupakan simbol-simbol Islam yang selalu diserang. Stigmatisasi terhadap pesantren, rohis, situs Islam online dan berbagai kegiatan kajian keislaman terus dilakukan sampai saat ini. Inilah kriminalisasi simbol-simbol Islam.
Kriminalisasi Islam dan simbol-simbolnya ini memiliki target yang jelas, yakni menjauhkan Islam dari masyarakat. Karena perbuatan setiap manusia akan tergantung pada pemikirannya. Jika seseorang sudah menganggap syariah sebagai sesuatu yang menakutkan, serta termakan monsterisasi kegiatan keislaman. Maka, tentu saja ia akan semakin menjauh dari Islam.
Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa AS, sekutu dan para agennya memaknai terorisme secara opportunistik. Jika ada oknum kaum muslim yang melakukan aksi kekerasan bahkan baru terduga, media-media mereka pun mem-blow up-nya habis-habisan. Tetapi, jika pelakunya bukanlah kaum muslim, beritanya disembunyikan dan ditenggelamkan. Bahkan, genosida yang dilakukan AS dan sekutumya di Irak, Afghanistan, Palestina, Suriah dan negeri-negeri muslim lainnya, media mainstream tidak menyebutnya sebagai tindakan terorisme. Sungguh biadab.

Padahal kalau kita kaji secara faktual, terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror. Jadi, stigmatisasi Islam dan kaum muslim dengan istilah terorisme merupakan sesuatu yang tendensius.  Hal  itu tidak sesuai dengan fakta yang ada dan juga tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dari ajaran Islam. Allah SWT berfirman : "Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (TQS Al Anbiyaa` : 107). serta firman Allah Swt : "Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim." (TQS An Nahl : 89).

Islam adalah agama yang sangat menghargai hidup manusia. Karenanya, Islam sangat melarang pembunuhan jiwa tanpa hak. Islam pun menetapkan sanksi yang tegas kepada pelakunya. Oleh karena itu, aktifitas penyerangan bersenjata di negeri yang tidak dalam kondisi perang, semisal Indonesia, jelas dilarang Islam.

Islam merupakan agama yang sempurna. Allah Swt telah menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridloi-Nya. Islam anti terhadap tatanan kehidupan yang penuh penjajahan dan penindasan, Allah Swt menyebutnya sebagai hukum jahiliyyah. Imam Suyuthi menjelaskan bahwa kondisi kaum jahiliyyah pada saat itu, kaum yang kuat menindas yang lemah di antara mereka. Kaum terpandang mengeksploitasi budak-budak mereka. Allah Swt berfirman, yang artinya “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki?” (TQS. Al Maidah[5]: 50). Pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) pasti akan memunculkan penjajahan sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, serta penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Karena jika keluar dari standar wahyu, standar yang akan dipakai manusia pasti hanyalah hawa nafsunya.

Islam anti penjajahan.  Sebagaimana yang disampaikan oleh Rabi bin Amir di hadapan panglima Rustum, dengan tegas ia sampaikan bahwa dakwah Islam bertujuan untuk membebaskan seluruh manusia, dari penghambaan kepada sesama manusia menjadi menghamba hanya kepada Allah Swt semata.

Tidaklah aneh jika negara-negara penjajah Barat sangat membenci Islam. Karena hanya Islam-lah yang akan membuat masyarakat dunia bangkit melawan penjajahannya. Apalagi, jika perlawanan ini berwujud nyata dalam negara khilafah yang menerapkan Syariah secara kaffah.
Inilah urgensi pelabelan terorisme terhadap Islam, bagi negara penjajah AS. Karena tegaknya syariah dan khilafah bermakna berakhirnya penjajahan mereka terhadap negeri kaum muslim. Berakhir pula seluruh perampokan SDA besar-besaran yang mereka lakukan di negeri-negeri muslim. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary H.)

Minggu, 20 Desember 2015

DA'I

Derap langkah penuh tadlhiyyah
Menyusuri malam..., gelap
Terguntai lelah...
Menatap kanan kiri semak belukar
Tak secuil harta pun yang kau kejar

Gairah membuncah
Genggam bara ishlahiyyah
Hai...
Di situkah Engkau jadi pahlawan?
Jawabmu, tidak juga kawan

Meski ahli dunia tak banyak mengenalmu
Derapmu dipuji Sang Pemilik Surga
Dirimu dirindu Sang Pembawa risalah

Kamu bukanlah selebriti
Kicau sana kicau sini, harga pun melambung tinggi
Hanya seorang da’i
Yang merindu ridlo Ilahi

Lalu menikmati lelah
fiLlah...liLlah...biLlah

Rabu, 16 Desember 2015

Sakralisasi Demokrasi

Demokrasi merupakan bentukan dua kata, yaitu demos (rakyat) dan kratos (aturan). Dua kata ini berasal dari bahasa Yunani kuno yang bila digabungkan berarti kedaulatan rakyat, yaitu rakyatlah yang berhak untuk membuat dan menetapkan peraturan yang berlaku untuk mereka sendiri. Sehingga, otoritas tertinggi untuk membuat dan memberlakukan undang-undang, berada di tangan rakyat.

Ide demokrasi muncul pada abad pertengahan. Ia merupakan reinkarnasi dari konsep negara polis Athena, Barat mengadopsi ide tersebut sebagai konsekuensi dari ideologi sekulerisme yang mereka anut. Pengasingan agama pada wilayah private semata, membuat demokrasi menjadi pilihan ide utama untuk membangun konsep perpolitikan saat itu.

Setelah Barat merasa sukses dengan ideologi sekulerisme yang mereka perjuangkan, mereka pun menjajakannya ke bangsa-bangsa lain, termasuk ke negeri ini. Rakyat Indonesia yang baru saja terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang, langsung merasakan adanya ekspansi dua ideologi dunia yang dibawa AS dan Soviet, yaitu sekulerisme dan komunisme. Setelah gagal condong ke Soviet, Indonesia seolah bersikap netral dengan memprakarsai gerakan non blok. Namun pada kenyataannya, Gerakan Non Blok hanyalah topeng pusaran ideologi AS, yakni kapitalisme. Apalagi setelah tuntuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Akhirnya, ideologi sekulerisme –yang juga terkenal dengan kapitalisme- masuk ke Indonesia dengan leluasa,  termasuk berbagai ide turunannya, seperti demokrasi, HAM maupun liberalisme.

Dengan impian kesejahteraan, perkembangan opini demokrasi semakin menghebat di dunia.  Apalagi tatkala Barat menjajakannya dengan manis, sebagai anti tesis diktatorianisme. Yakni, bila kita tidak memilih demokrasi, berarti kita memilih pemerintahan yang diktator dan sewenang-wenang. Namun sebaliknya, bila kita memilih demokrasi, berarti kita akan bebas menentukan nasib kita sendiri. Mau sejahtera, tinggal memilih pemimpin dan membuat aturan yang bisa menyejahterakan. Sederhana sekali. Siapa yang tidak bermimpi sejahtera, semua bangsa di dunia tentu memimpikan hal tersebut.

Harapan hanya tinggal ilusi. Kesejahteraan dalam demokrasi benar-benar menjadi mimpi semata. Dalam kenyataannya, demokrasi bukanlah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, sebagaimana yang sering dipropagandakan selama ini. Ketidakmungkinan rakyat untuk berkumpul membuat aturan telah meniscayakan adanya konsep perwakilan. Dalam konsep pewakilan inilah campur tangan para pemilik modal muncul. Sehingga, yang duduk di dewan perwakilan adalah mereka yang disokong oleh para pemilik modal. Akhirnya, alih-alih berpihak kepada rakyat, keberpihakan mereka pun tentu lebih condong kepada tuan mereka (para pemilik modal). Walhasil, dari korporasi, oleh korporasi dan untuk korporasi adalah ungkapan yang lebih tepat dalam memahami fakta demokrasi.

Begitupun janji manis demokrasi sebagai antitesis dari konsep diktatorianisme. Realitanya hanyalah sekedar mitos. Karena dalam sistem demokrasi, peran rakyat dalam perpolitikan sangatlah kecil. Mereka hanya memilih pemimpin dan wakil mereka hanya dalam 5 tahun sekali. Selanjutnya, mereka harus menerima apapun yang diputuskan oleh kepala pemerintahan dan anggota dewan perwakilan. Meskipun suatu keputusan yang akan sangat menyengsarakan rakyat. Misal, kebijakan penghapusan subsidi BBM, liberalisasi pengelolaan sumber daya alam, penjualan aset dan privatisasi BUMN, penaikan harga elpiji dan TDL dan sebagainya. Berbagai kebijakan tersebut lebih banyak mengikuti arahan negara kapitalis, dibandingkan mendengar jeritan rakyat yang menangis.

Berbagai penderitaan sudah menimpa rakyat secara bertubi-tubi, dan masih akan terus berlanjut. Namun, sebagian di antara kita masih hanya fokus mengkritisi orang dan tidak mau mengkritisi demokrasinya. Seolah-olah demokrasi adalah sesuatu yang mutlak kebenarannya, atau sesuatu yang suci dan sakral. Sesuatu yang disakralkan biasanya memang tidak boleh disentuh sembarangan, ia akan diistimewakan dan di’agung’kan oleh pemiliknya. Begitu pula dengan demokrasi saat ini, ia seolah menjadi istimewa, mutlak benar dan tabu untuk dikritisi. Benar-benar sebuah sakralisasi demokrasi. Wallohu a’lamu bishshowwaab.


(Ary Herawan, Pendidik di Kota Tasikmalaya)

Selasa, 15 Desember 2015

Tangkuban Parahu

#Tangkuban_Parahu

Tegak gagahmu bermahkota awan
Kepul panas penghias kepundan
Nafas hutanmu sejuk menyegarkan
Ku tatap jauh, penuh keindahan

Tentangmu
Bukanlah tentang kemarahan sang tuan
Karena cinta bertepuk sebelah tangan
Kisah pengantar ke peraduan
Engkau satu bukti keagungan Tuhan
Pecut atas kesombongan sang insan

Kapanpun Tuhan berkehendak
Seketika pula kau kan hancur lantak
Kokoh gagahmu tak ada guna
Apalagi manusia yang mudah luka

*Ary Herawan*
(Tasikmalaya, 4 Rabi'ul Awwal 1437 H)

Hanya Setetes Air

#Hanya Setetes Air

Terhenyak diri dalam keangkuhan
Haus puji tak berujung
Rakus puja tak bermuara
Merajut cita dalam ketenaran
Menimba ilmu sekedar wawasan
Belagumu wahai diri
Setetes air berlagak samudera
Tetesanmu kan menguap dalam riya
bak belantara teduh yang terbakar api
Hilang tak bersisa
Ingatlah diri!
Setetes air tetaplah setetes air
Teteskan amalmu karena ikhlasmu
Kembalilah pada keikhlashan

(Tasikmalaya, 3 Rabi'ul Awwal 1437 H)

Minggu, 13 Desember 2015

Refleksi 12 Rabi'ul Awwal

#Refleksi 12 Rabi'ul Awwal#

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (TQS. Al Kahfi[18]:110)

Ayat terakhir surat Al Kahfi ini merupakan rangkaian jawaban Rasulullah saw terhadap pertanyaan para tokoh kafir Quraisy tentang kisah pemuda ashabul kahfi. Kemudian seruan supaya mereka beriman kepada Rasulullah saw. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya:

“Allah swt berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW, “Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang musyrik yang mendustakan risalah yang diturunkan kepadamu untuk mereka. Bahwasanya aku adalah manusia biasa seperti kalian, maka barangsiapa yang menuduh bahwa aku seorang pendusta maka datangkanlah yang semisal dengan apa yang aku bawa (Al Quran). Maka sesungguhnya aku tidaklah mengetahui perkara ghaib tentang masa lampau yang aku ceritakan kepada kalian, yakni mengenai apa yang kalian tanyakan tentang kisah Ashabul Kahfi dan Dzul Qarnain, juga dari apa-apa yang sesuai dengan esensi perkara tersebut, andaikan Allah SWT tidak menjelaskannya kepadaku.” 1)

Tatkala berbagai cara yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy untuk menghalangi dakwah Rasulullah saw mengalami kegagalan, mereka semakin bingung. Mereka sebenarnya tak punya alasan untuk menolak semua kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Namun, mereka pun tidak mau menerimanya, ego mereka terlalu besar untuk dapat menerima konsekuensi dari keimanan kepada Rasulullah saw. Mereka tidak mau kehilangan jabatan, kedudukan dan kesenangan dari sistem jahiliyyah yang selama ini mereka nikmati.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam diceritakan bahwa salah seorang tokoh mereka, yakni Nadlar bin al-Harits, sudah menyimpulkan bahwa Muhammad bukanlah tukang sihir. Menurutnya, Muhammad juga bukanlah dukun, penyair ataupun orang gila sebagaimana yang sering mereka tuduhkan selama ini. Kemudian tokoh-tokoh Quraisy mengutus Nadlar untuk menemui seorang rahib Yahudi di Madinah. Kemudian rahib Yahudi tersebut membekali Nadlar dengan tiga pertanyaan terkait masa lampau, yang bila Muhammad bisa menjawabnya maka ia pastilah Nabi yang diutus.
Sang rahib menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang harus ditanyakan tersebut adalah : Pertama, mengenai sekelompok pemuda yang telah meninggal pada masa lampau. Kedua, mengenai kisah lelaki pengembara yang menjelajahi dunia hingga ke belahan timur bumi dan belahan baratnya. Adapun pertanyaan ketiga adalah mengenai ruh. Para tokoh Quraisy tercengang. Semua pertanyaan yang diajukan mampu dijawab oleh Rasulullah saw dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Yaitu, tentang ashabul-kahfi, kisah Dzul Qarnain dan jawaban tentang ruh yang ada dalam surat Al-Isra. Akan tetapi kesombongan telah mendarah daging dalam diri mereka, mereka tetap tidak beriman. 2)

Ayat ini juga menjelaskan bahwa keistimewaan Nabi Muhammad SAW tidak bisa dipisahkan dari wahyu yang diturunkan Allah SWT kepadanya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas r.a. tatkala menafsirkan ayat tersebut :

“Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah keturunan Adam (manusia) seperti kalian, hanya saja Allah mengkhususkanku dengan wahyu dan memuliakanku dengan apa yang diwahyukan kepadaku.” 3)

Keistimewaan seorang Muhammad adalah keistimewaan seorang Nabi sekaligus Rasul (utusan) Allah SWT. Bila setiap 12 Rabi’ul Awwal ada momentum Maulid Rasulullah SAW, semestinya kita teringat pada apa yang membuat beliau mulia dan istimewa, yakni wahyu Allah swt. Wahyu Allah SWT berupa Al Quran dan As sunnah. Bahwasanya kita wajib mengambil keduanya sebagai pedoman hidup kita. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan apa-apa yang Rasul bawa untuk kalian maka ambillah ia, dan apa-apa yang Rasul larang untuk kalian maka tinggalkanlah.” (TQS. Al Hasyr[59]:7)

Sangat ironis bila pengagungan terhadap beliau dilakukan setiap tahun. Lantunan shalawat dikumandangkan di masjid, sekolah, pusat perbelanjaan, perkantoran bahkan di gedung kenegaraan. Tetapi pada sisi yang lain, berbagai kemaksiatan difasilitasi dan dimudahkan oleh negara. Begitu pula bila dalam masalah ibadah kita mencontoh Rasulullah SAW. Tetapi dalam masalah politik, ekonomi, sosial pergaulan dan sebagainya, kita malah memakai hukum buatan manusia, dengan balutan sistem demokrasi yang merusak.

Sistem demokrasi memposisikan keputusan manusia di atas wahyu Allah SWT. Misal, khamr yang sudah jelas keharamannya menurut Allah SWT, bisa tetap beredar (baca:halal) bila keputusan para wakil rakyat belum memutuskan keharamannya.

Padahal perkara utama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW adalah pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah, tidak ada yang lain. Imam Ath Thabari menuliskan  “Allah SWT mewahyukan kepadaku (Nabi Muhammad) bahwa Tuhan kalian yang wajib kalian sembah dan jangan kalian persekutukan dengan sesuatu apapun adalah Tuhan yang satu, tidak ada yang kedua dan tidak ada sekutu baginya.” 4).

Muhammad Ismail menjelaskan bahwa kalimat (اله) secara bahasa tidak memiliki makna lain, selain hanya satu makna, yakni (المعبود) /yang disembah.5) Sehingga bagi seorang muslim, pengakuan bahwa Allah SWT sebagai Sang Pencipta semata belumlah cukup.
Pengakuan tersebut harus dibarengi dengan menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan. Menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan juga bermakna menjadikan Allah SWT sebagai Asy-Syari’ (Pembuat Hukum). Karena makna syirik tidaklah hanya sekedar menyekutukan Allah SWT dalam ritual semata, namun juga dalam penetapan halal dan haram. Sebagaimana sabda Rasulullah saw kepada ‘Adi bin Hatim r.a. 6):

“Sesungguhnya mereka (para pendeta/rahib Yahudi dan Nasrani) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram kepada kaumnya. Kemudian kaumnya mengikuti mereka, maka itulah penghambaan kaum Yahudi dan Nasrani kepada mereka”  (THR. At Tirmidzi).

Selanjutnya Imam Ibnu Katsir menegaskan: “(Maka barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya), yakni : pahala dan balasan Allah untuk orang shalih. (maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih),  yaitu amal yang sesuai dengan aturan Allah. (dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun), yang dimaksud adalah hanya karena Allah semata dan tidak ada sekutu baginya. Inilah dua rukun amal yang akan diterima. Harus dilaksanakan secara ikhlash karena Allah dan secara benar sesuai aturan Rasulullah saw.7)

Penghambaan mutlak kepada Allah serta mencontoh Rasulullah SAW adalah dua syarat amal diterima oleh Allah SWT. Tentunya sebagai muslim, dua rukun amal tersebut mesti ada dalam berbagai aktifitas kita, baik yang beraspek spiritual maupun politis. Adapun penghambaan mutlak kepada Allah SWT dan meneladani Rasulullah SAW akan sempurna dengan penerapan syariah dan penegakan khilafah.

Penerapan syariah dalam sistem khilafah akan membuka kesempatan beramal shalih yang seluas-luasnya dalam berbagai bidang kehidupan. Bersamaan dengan itu pula, ia akan menutup serapat mungkin peluang manusia untuk melakukan berbagai jenis kemaksiatan. Sebagaimana apa yang dikerjakan oleh para shahabat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 10 H.

Pasca Rasulullah SAW wafat, para sahabat r.a. lebih mendahulukan pengangkatan khalifah untuk menerapkan syariah, dibandingkan dengan mengurus pemakaman Rasulullah saw. Setelah Abu Bakar Ash shiddiq r.a. diangkat menjadi khalifah, kemudian kaum muslimin berbaiat kepadanya, barulah prosesi pemakaman Rasulullah SAW dilaksanakan. Inilah ijma’ shahabat yang menjadi salah satu dalil kewajiban penegakan khilafah.

Walhasil, dengan refleksi momentum 12 Rabi’ul Awwal ini, marilah kita muliakan Rasulullah SAW. Dari mulai memperbanyak shalawat untuknya sampai mengikatkan diri terhadap wahyu yang dibawanya. Yakni, dengan menerapkan syariah dalam bingkai khilafah yang sesuai manhaj Rasulullah SAW. Wallohu a’lamu bishshowwab.

(Ary Herawan, sumber:  www.aryherawan.blogspot.com)

Daftar Pustaka :
1) Tafsir al-Quran al‘Azhim, Ibnu Katsir, 205/5.
2) Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam; dan The Great Story of Muhammad saw.
3) Ma’alim at-Tanzil, Al Baghawi, 212-213/5.
4) Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, Abu Ja’far Ath Thabari, 135/18.
5)  Al Fikru Al Islamy, Muhammad Ismail.
6)  Sunan At Tirmidzi. 3095.
7)  Tafsir al-Quran al‘Azhim, Ibnu Katsir, 205/5.

Jumat, 11 Desember 2015

Kecepatan dan Percepatan dalam Hidup

Bagi yang pernah mendengarkan ceramahnya KH. Abdullah Gymnastiar, apa yang saya tuliskan di atas mungkin bukan sesuatu yang asing. Saya pun pernah mendengarnya dari ceramah beliau sekitar 11 tahun yang lalu. Mudah-mudahan ini bisa merefresh kembali ingatan kita mengenai hal tersebut.

Dalam konsep sains, kecepatan adalah besarnya perpindahan persatuan waktu. Jadi semakin sedikit waktu yang yang dibutuhkan oleh suatu benda untuk menempuh jarak tertentu maka semakin tinggi kecepatannya. Misal bila seorang pelari 100 meter yang memerlukan waktu 9 detik untuk sampai ke garis finish, berarti ia lebih cepat bila dibandingkan dengan pelari 100 meter yang memerlukan waktu 11 detik untuk sampai ke garis finish. Kita bisa membayangkannya, siapa di antara mereka yang memenangkan perlombaan.

Berbeda dengan kecepatan, percepatan adalah besarnya perubahan kecepatan persatuan waktu. Percepatan tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan kecepatan. Misalnya seorang pelari yang memiliki percepatan 2 m/s2, berarti dia melakukan pertambahan kecepatan sebanyak 2 m/s dalam setiap detiknya. Bila ia memulai start dalam kondisi diam, maka detik pertama ia menempuh jarak 1 m, detik kedua 4 m, detik ketiga 9 m dan jarak yang ditempuh terus meningkat seiring dengan pertambahan kecepatannya. Sehingga pada detik ke-5 ia bisa menempuh jarak 5 m. Berbeda dengan pelari yang hanya mengandalkan kecepatan saja, walaupun ia memulai detik pertama dengan kecepatan 4 m/s (lebih cepat dari pelari pertama). Akan tetapi setelah itu ia tidak melakukan percepatan (kecepatannya konstan), maka detik pertama ia menempuh jarak 4 m, detik kedua 8 m, detik ketiga 12 m dan seterusnya. Sehingga pada detik ke-5, ia hanya akan menempuh jarak sejauh 20 m. Kita pun bisa membayangkannya, walaupun pada awalnya terlambat, namun yang melakukan percepatanlah yang akan memenangkan perlombaan.

Kehidupan manusia penuh dengan dinamika. Sehingga dalam hidup pun setiap manusia selalu berpindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, tidak ada yang tetap. Terkadang kita tidak menyangka, tetangga kita yang miskin pada tahun lalu, tahun ini ia menjadi seorang pengusaha sukses. Atau tiba-tiba kita menemukan sebuah buku dengan tulisan nama teman kita di covernya. “Dahulu Si Fulan tidak bisa mengarang, kok tiba-tiba bisa menyusun sebuah buku” tanya kita dalam hati. Atau bisa juga kita menemukan kejadian yang lain, seorang teman kita yang tidak bisa bicara di hadapan umum, malahan saat ini menjadi seorang motivator atau trainer terkenal. Kadang timbul pertanyaan di benak kita, “Apa yang dia lakukan sampai bisa seperti itu ya?”
Orang-orang yang telah ‘menyalip’ hidup kita, kemudian mereka tampil di barisan terdepan itulah mereka yang telah melakukan percepatan dalam hidup. Atau mereka melakukan percepatan yang lebih tinggi daripada yang kita lakukan. Kita dapat bayangkan, bila kita menjalani hidup dengan kecepatan konstan (percepatan = 0) maka akan banyak orang yang ‘menyalip’ hidup kita, yaitu mereka yang melakukan peningkatan kecepatan (percepatan) dalam hidupnya. Jadi bila kita berada dalam ketertinggalan, kita harus memiliki percepatan.

Sebagaimana dalam konsep sains, percepatan terjadi dengan adanya pemberian gaya, dan besarnya gaya persatuan waktu itulah yang kemudian disebut dengan usaha (work). Semakin besar usaha yang dilakukan maka waktu yang dibutuhkan akan semakin sedikit. Karena itulah, usaha adalah konsekuensi yang mesti dilakukan bila kita menginginkan percepatan dalam hidup.

Seringkali ketika kita melihat keberhasilan orang lain dalam hidup, kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Kita tidak memperhatikan proses usaha yang telah dia lakukan. Misal, tatkala kita menyaksikan seseorang dengan kemampuan yang menonjol seperti ahli retorika yang mengagumkan, penulis yang handal, pengusaha yang terampil, pendidik yang profesional, pelajar yang sukses dan sebagainya, kita tidak memperhatikan bagaimana besarnya usaha telah ia kerahkan sampai bisa seperti itu. Ia mesti telah melakukan usaha yang besar sampai bisa seperti itu, bisa menukar waktu tidurnya dengan latihan pidato, bisa menukar waktu bermainnya dengan mengikuti training/seminar, bisa bisa menukar waktu nonton tvnya dengan membaca buku, bisa menukar kesenangan jajannya dengan berinvestasi, bisa mengganti waktu main gamenya dengan latihan menulis dan sebagainya.

Berikut adalah beberapa fakta yang bisa kita jadikan contoh. Untuk menjadi penulis yang handal, seorang Felix Siauw telah menukar waktu main gamenya dengan latihan menulis. Untuk menjadi seorang retoris yang mengagumkan, seorang Dwi Condro Triono, penulis buku best seller Retorika untuk Mengguncang Dunia, hampir setiap pagi mengisi ceramah di hadapan teman-teman kostnya. Bila ada temannya yang tidak bersedia mengisi ceramah, beliau selalu siap tampil untuk menggantikannya (sebagaimana yang pernah penulis dengar langsung dari beliau). Seorang Fahmi Amhar, yang pernah dikukuhkan sebagai doktor dan peneliti termuda di Indonesia, beliau pernah menulis di dalam status FB-nya, yang intinya, untuk menjadi seperti saat ini berapa banyak kesenangan yang harus ia tukar dengan berbagai kesabaran.
Begitu pun apabila kita berkaca pada para pendahulu kita, misalnya Imam Syafi’i yang menjadi penghapal Al Quran pada usia 7 tahun, ibunya adalah seorang hafidzah yang mengkhatamkan Al Quran 2 kali dalam seminggu. Artinya, ibu beliau telah meluangkan waktu untuk selalu mengkhatamkan Al Quran sehingga Imam Syafi’i sangat sering mendengar bacaan Al Quran sejak masih dalam kandungan. Begitu juga Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel, beliau telah menghabiskan masa kecilnya dengan mempelajari aqidah dan syariah, berbagai bahasa, geografi, taktik perang dan sebagainya. Apalagi bila kita berkaca kepada Rasulullah SAW, kesuksesan beliau dalam berdakwah karena beliau telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk berdakwah, setelah diangkat menjadi Rasul, beliau bersabda kepada Khadijah r.a., “Tidak ada waktu istirahat (bagi kita) setelah hari ini.”

Begitulah sunatullah, untuk menghasilkan percepatan dalam hidup, kita mesti melakukan usaha. Namun, penting untuk kita pahami bahwa keberhasilan dalam hidup tidak bisa hanya mengandalkan percepatan. Kita mesti kita ingat, bahwa percepatan adalah suatu besaran vektor, artinya ia tidak hanya memiliki nilai, tetapi ia juga memiliki arah. Sehingga percepatan itu mesti mengarah pada satu tujuan yang benar.
Bila kita adalah orang biasa yang menginginkan menjadi seorang penulis yang handal, maka percepatan kita harus diarahkan kepada tujuan tersebut dan kita pun hanya melakukan usaha yang relevan dengan tujuan tersebut. Misal untuk menjadi seorang penulis kita membiasakan diri menulis satu paragrap perhari, atau meluangkan waktu untuk menulis setengah jam perhari.

Sebagai seorang muslim, kita pun mesti menyadari bahwa arah percepatan hidup yang mesti searah dengan tujuan utama kita, yaitu keridloan Allah SWT. Sebagaimana Firman-Nya :

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash[28]:77)

Semoga kita menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidup ini, yaitu orang yang bisa melakukan percepatan dalam hidup dan mengarahkannya menuju tujuan utama, yakni keridloan Allah SWT. aamiiin. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(ary.attasiky.28/12/2013)

Kamis, 10 Desember 2015

Yang Telah Hilang

Ia pernah ada
Peninggalan orang termulia
Ia dihilangkan
Para pengkhianat manusia

Ia dimustahilkan
Seolah tak pernah ada
Ia ditabukan
Karena tak boleh ada

Sang Kawan berkata, ia utopia
Sang Lawan berkata, ia berbahaya

Semua tentangnya, menantang dunia
Pengorbanan,
cemoohan,
ancaman,
kematian,
Karena menyeru padanya

bagiku,
Ia janji Sang Pencipta
Ia kabar gembira manusia termulia
Ia pasti kembali nyata

Di hari itu,
Kita pasti gembira
Musuh pasti merana

#Tasikmalaya_29_Shafar_1437H

Rabu, 09 Desember 2015

HUKUM JAHILIYYAH

Allah Swt menegasikan hukum jahiliyyah dengan hukum Allah. Dalam Q.S. Al Maidah[5] : 50, Allah Swt berfirman :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
artinya :
“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah[5] : 50)  
Pertanyaan “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki?” bermakna apakah mereka menuntut sanjungan dan kecenderungan (pada hukum jahiliyyah) ketika berpaling (dari hukum Allah Swt)? Adapun istifham inkari (yakni, pengingkaran dengan gaya bahasa bertanya, pen.) pada kata “wa man” bermakna tidak ada satu pun “(hukum) yang lebih baik daripada (hukum) Allah, bagi orang-orang yang yakin.”1)
Kaum jahiliyyah membedakan hukum untuk kaum bangsawan dan kaum lemah. Begitu pula kaum Yahudi. Yahudi menegakkan hudud terhadap kaum lemah dan faqir, tetapi mereka tidak menegakkannya terhadap kaum yang kuat dan kaya. Maka, mereka memunculkan ke-jahiliyyah-an dalam perbuatannya.2)
Abdu bin Hamid, Ibnu Jarir, Ibnu Al Mundzir dan Ibnu Abu Hatim dari Mujahid menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam kalimat “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki?” adalah kaum Yahudi. Abdu bin Hamid menyampaikan dari Qotadah, ia berkata : Hal ini mengenai kematian Yahudi. Bahwasanya kondisi kaum jahiliyyah pada saat itu, kaum yang kuat menindas kaum yang lemah di antara mereka. Kaum terpandang mengeksploitasi budak-budak mereka. “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki?”3)
Imam Al Bukhari menyampaikan dari Ibnu Abbas r.a., bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:“Manusia yang paling dibenci oleh Allah Swt ialah orang yang menghendaki sunnah jahiliyyah di dalam Islam, serta menuntut seseorang menumpahkan darahnya tanpa hak.”
Abu as-Syaikh menyampaikan bahwa as-Sadi berkata : Hukum itu ada dua jenis, yakni hukum Allah dan hukum Jahiliyyah. Lalu beliau membaca ayat ini (Q.S. Al Maidah[5]:50). Adapun Ibnu Abi Hatim menyampaikan dari ‘Urwah, ia berkata : Dinamakan al-jahiliyyah al-‘alamiyyah (Jahiliyyah dunia) sampai datang seorang wanita, lalu ia berkata : “Wahai Rasulullah kondisi pada masa Jahiliyyah begini dan begitu.” Kemudian Allah Swt menurunkan ayat yang menyebutkan Jahiliyyah.4)
Imam Abu Ja’far berkata bahwa Allah mengingatkan hukum Jahiliyyah. Apakah kaum Yahudi menginginkan berhukum kepadamu (Muhammad), sedangkan mereka tidak meridhai keputusanmu jika engkau (Muhammad) menghukumi mereka secara adil? Hukum Jahiliyyah adalah hukum-hukum para pemuja berhala yang berasal dari kaum musyrik. Sedangkan kaum Yahudi memegang kitab Allah, yang di dalamnya terdapat penjelasan hakikat hukum yang engkau (Muhammad) putuskan bagi mereka. Hal itu merupakan kebenaran yang tidak boleh ada perselisihan di dalamnya. Kemudian Allah Swt mengingatkannya, sebagai celaan terhadap orang-orang yang berpaling dari hukum Rasulullah Saw atas mereka, dari kalangan Yahudi. Perbuatan mereka merupakan tuntutan pada kejahilan. Dan siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah? 5)
Wahai Yahudi! terdapat peringatan Allah Swt bagi yang meyakini keesaan dan pengaturan-Nya. Allah Swt berfirman : “Manakah hukum yang lebih baik dari hukum Allah jika kalian orang-orang yang yakin? Sesungguhnya kalian memiliki Rabb (Pengatur), sedangkan kalian adalah ahli tauhid dan berikrar tentangnya?”6)
Allah Swt mengingkari siapapun yang menyimpang dari hukum Allah. Hukum yang pasti dan mencakup setiap kebaikan serta mencegah setiap keburukan. Adil terhadap manusia yang lain. Ia terbebas dari pandangan, hawa nafsu serta kesepakatan yang ditetapkan oleh orang-orang yang tidak bersandar pada syariah Allah. Sebagaimana kaum jahiliyyah menetapkan hukum berdasar pada  kesesatan dan kebodohan, berdasarkan pandangan dan hawa nafsu mereka.7)
Sebagaimana Tartar yang menetapkan hukum, berupa politik dinasti yang diambil dari dinasti Jenghis Khan. Ia menetapkan kitab Il-yasaq (Il-yasiq), yang merupakan kumpulan hukum-hukum kutipan dari berbagai syariah, dari hukum Yahudi, Nashrani dan Islam. Banyak hukum-hukum yang diambil hanya berdasarkan kemauan dan hawa nafsunya belaka. Il-yasaq menjadi undang-undang yang diterapkan dinastinya. Mereka mendahulukannya atas kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Maka barangsiapa yang berbuat demikian (secara yakin, pen.), maka ia terkategori kafir serta wajib diperangi sampai kembali pada hukum Allah dan Rasul-Nya.8)
Tidak boleh berhukum kepada selain Allah, sedikit maupun banyak. Allah Swt berfirman, yang artinya “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” Siapakah yang lebih adil daripada hukum Allah? bagi orang yang berpikir tentang Allah dan Syariah-Nya. Orang yang beriman, yakin dan mengetahui bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pembuat hukum. Ia Maha Kasih terhadap ciptaan-Nya, terhadap kalangan orang tua maupun anak-anak. Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui, Maha Berkuasa dan Maha Adil  atas segala sesuatu.9) Walhasil tidak ada (hukum) yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang yang yakin, bukan bagi orang yang jahil serta pengikut hawa nafsu.10) wallohu a’lamu bishshowwaab.
*) Ary Herawan, Praktisi Pendidikan di Kota Tasikmalaya.

Sumber Bacaan :
1)  Tafsir al-Jalalain, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi. Lihat pula al-Jami’ Li Ahkami al-Quran, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Anshari al-Khazraji Syamsuddin al-Qurthubi.
2)    Al-Jami’ Li Ahkami al-Quran, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Anshari al-Khazraji Syamsuddin al-Qurthubi.
3)    Ad-durr al-Mantsur fi at-Ta’wil bi al-Ma’tsur, Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as- Suyuthi.
4)    idem
5)    Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Quran, Abu Ja’far ath-Thabari
6)    idem.
7)    Tafsir Al-Quran al-Adzim, Abu al-Fida Isma’il bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi.
8)    idem.
9)    idem.

10) Fathu al-Qodir al-Jami’ baina fi ar-Riwayat wa ad-Diroyat min ‘Ilmi at-Tafsir. Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani.

Sabtu, 05 Desember 2015

Penolakan; Batu Asahan Seorang Penulis

Manusia selalu berharap setiap keinginannya dapat terkabul sempurna.  Hal tersebut merupakan sesuatu yang manusiawi. Naluri eksistensi diri yang dianugerahkan kepada setiap manusia, selalu menuntut adanya pengakuan diri. Oleh karena itulah, semua manusia tidak suka ditolak. Begitu pula dengan seorang penulis, keinginan utamanya mestilah penerimaan orang atas karya-karyanya. Baik oleh penerbit, surat kabar atau majalah secara khusus dan masyarakat secara umum.

Perbedaan juga merupakan fitrah manusia. Jika ada baik maka ada buruk, jika ada penerimaan maka pasti ada penolakan. Kita tidak bisa menyamakan semua isi kepala manusia. Karena itulah, penolakan atas karya kita belum tentu karena karya kita tidak baik. Bisa jadi karena penerbit atau media belum sependapat dengan hasil karya kita.  Berbaik sangka terhadap hasil karya sendiri bukanlah hal yang salah, bukan pula untuk membuat kita anti kritik, tetapi supaya kita senantiasa berbesar hati serta tidak berhenti berkarya.

Penulis pernah berkali-kali mendapatkan penolakan. Ada yang disertai dengan alasan, ada pula yang tidak, bahkan kebanyakannya tanpa disertai dengan alasan. Dari berbagai penolakan inilah penulis bisa banyak mengintrospeksi diri, membaca ulang tulisan, lalu memperbaikinya. Untungnya, ada blog pribadi yang bisa menampung semua tulisan pribadi tanpa seleksi. Ternyata banyak juga orang yang mengaksesnya, sehingga insyaAllah tulisan yang tertolak itu akan bermanfaat. Jadi, nikmati saja setiap penolakan dengan lapang dada.

Meskipun diberi label independen, setiap media membawa visi dan misi tertentu. Kejelian kita dalam membaca visi dan misi media, berpengaruh pada diterima atau tidaknya sebuah tulisan. Penulis pernah membuat tulisan bertema cinta Rasul. Bagi penulis, tulisan itu bukanlah yang terbaik. Tetapi, karena dikirim ke majalah nasional yang se-visi, alhamdulillah diterima. Tetapi pernah juga mengalami penolakan, mengirim artikel tema politik Islam ke media level daerah yang tidak se-visi.

Oleh karena itu, visi dan misi media yang dituju mesti kita kenali terlebih dulu. Mengenalinya bisa dengan cara membaca mayoritas tulisan yang muncul, atau opini yang dikembangkan media tersebut. Selain itu, tema yang aktual biasanya lebih berpeluang untuk diterima. Keaktualan tema bisa dihubungkan dengan peringatan hari-hari tertentu, semisal hari buruh, hari lingkungan hidup, hari kebangkitan nasional dan sebagainya. Bisa pula dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa menarik yang terjadi di sekitar kita.

Penentuan jenis media juga akan berpengaruh pada penerimaan sebuah tulisan. Media komunitas biasanya jauh lebih selektif dalam menayangkan tulisan. Karena itulah sebagai langkah permulaan, pilihlah koran lokal terlebih dulu. Karena, selain kita bisa mengirimkan tulisan kita secara langsung dengan format hard copy. Kita pun bisa berdiskusi langsung dengan editornya. Tentu di waktu-waktu senggang mereka.

Seorang penulis memang bisa memperoleh honor dari tulisannya. Namun sebagai penulis pemula, hendaklah tidak menjadikan honor sebagai tujuan utama. Fokuslah pada karya dan peningkatan kualitasnya. Kita tentu masih ingat ketika kita belajar berhitung 1 + 1, sedikit pun tidak terbersit di benak kita untuk mendapatkan uang darinya. Tetapi mari kita lihat saat ini, mungkinkah kita bisa jadi pedagang, guru, ahli komputer atau profesi lainnya, jika kita tidak menerapkan ilmu 1 + 1 = 2. Saat ini, ilmu berhitung kita justru jauh lebih berkembang dan aplikatif. Dengan memfokuskan diri hanya pada materi, penolakan itu justru akan terasa lebih pahit.

Menulis juga bukanlah ajang pamer kepintaran atau ketenaran. Sehingga jika ada yang menolak karya kita, seakan nama kita tercatat sebagai penulis yang buruk. Anggap saja setiap penolakan itu laksana  batu asahan, yang akan membuat karya kita lebih tajam dan berkilau.

Pepatah bijak mengatakan bahwa orang yang sukses bukanlah orang yang tidak pernah jatuh. Tetapi orang yang selalu bangkit dari setiap jatuhnya. Jika kita analogikan pada aktifitas menulis, penulis yang sukses bukanlah yang karyanya tidak pernah ditolak. Tetapi yang tetap berkarya meski berapa pun penolakan yang ia terima.

Terakhir, selamat berkarya! Mari kita nikmati setiap penolakan. Terutama untuk para rekanku, para penulis di Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry.

#YukMenulis
(Ary Herawan-Calon Penulis Sukses)

Rabu, 02 Desember 2015

Sang Haus dan Sang Mukhlish

Sang haus berlari dan terus berlari, di lautan pasir penuh badai penindasan, teriknya ancaman, serta jebakan yang menyesatkan

Di matanya, fatamorgana bagaikan segara  yang sejuk nan menyegarkan
Ia terus saja ia berlari, berharap sampai pada penawar dahaga

Entah berapa kali, ia pun tak tahu, sungguh ia tak peduli
karena baginya, segara di depan mata
Tatkala Sang mukhlish menyapa, "Hei, itu hanyalah fatamorgana!"
Sang haus terus berlari, "Bukan kawan, itu segara tujuan kita!"

"Menurut peta, itu bukan segara, Kawan," Sang mukhlish tak mau diam
"Itu persepsimu kawan, metode membaca peta kita sungguh berbeda," Sang haus tak mau kalah

Sang mukhlish terus berusaha, mencari segara yang sebenarnya,
Sang haus pun terus berlari,
berharap segara pada fatamorgana

Sang mukhlish teruslah berusaha! tak perlu kecewa pada Sang haus, Sungguh ia rindu bercanda ria di segara

Sang haus teruslah berlari!
tak usah berhenti berlari,
Berlarilah ! sampai semua fatamorgana terbukti bukan segara

Pada saatnya nanti, Sang haus dan Sang mukhlish akan ceria di segara yang nyata

InsyaAllah...

(Ary Herawan, 28 Safar 1437 H)

Urgensi Mindmapping bagi Penulis

Bagi seorang profesional, munculnya ide-ide yang terus mengalir dari pikiran sangatlah dibutuhkan. Tak terkecuali bagi seorang penulis. Bila ide mengalir deras dari pikiran, tulisan pun menjadi lancar tanpa macet. Begitupun sebaliknya, bila tanpa ide-ide baru, tulisan pun akan sulit dikembangkan. Baik menulis puisi, cerpen, artikel, novel, apalagi buku yang berbab-bab bahkan berjilid-jilid.

Sebagai penulis pemula, saya pun sering merasakan kebuntuan ide. Menurut saya sih itu merupakan sesuatu yang wajar. Karena saya yakin, kendala tersebut pasti sering melanda para penulis. Jangankan untuk seorang penulis pemula, para penulis mahir pun pasti pernah merasakannya.

Ide itu terlahir dari sebuah proses berpikir. Sedangkan proses berpikir adalah pencerapan objek oleh indera yang diteruskan ke otak, lalu otak menafsirkan objek tersebut berdasarkan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak. Atau dengan kata lain, tahkim (penghukuman) suatu objek/fakta oleh otak berdasarkan informasi sebelumnya. Karena itulah, lahirnya sebuah ide berhubungan dengan input informasi ke otak dan output informasi dari otak.

Secara input informasi, kebuntuan ide yang dialami para penulis, bisa diurai dengan aktifitas banyak membaca. Bagaikan teko, semakin banyak diisi air maka akan semakin banyak isinya. Potensi kuantitas mengalirnya pun akan semakin besar. Membaca yang serius (deep reading) akan memperbanyak ide secara optimal. Selain itu, banyak menyimak, melakukan, mendengar dan melihat berbagai hal yang bermanfaat dapat memperkaya informasi ke dalam otak. Karena, informasi bisa dicerap oleh otak melalui berbagai alat indera. Namun, hal ini baru terkait input informasi ke dalam otak.

Adapun terkait dengan kelancaran output ide, hal itu bisa dilatih dengan fastwriting dan mindmapping. Terkait fastwriting, saya telah menjelaskannya dalam tulisan sebelumnya. Bila fastwriting bisa membantu melancarkan aliran ide, maka mindmapping bisa membantu memunculkan ide-ide baru yang lebih kreatif.

Berdasarkan pengalaman saya belajar di Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry, mindmapping adalah latihan menghubung-hubungkan suatu ide dengan ide-ide yang lain, sebanyak-banyaknya. Mindmapping bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, karena ia hanya membutuhkan kertas kosong, alat tulis dan stopwatch. Langkah pertama, tentukan ide pertama (berupa sebuah kata). Kita tuliskan kata tersebut di tengah kertas, lalu lingkarilah. Misalnya, kita menuliskan kata "Pasar". Setelah itu, carilah kata-kata lain yang berhubungan dengan pasar, lalu lingkarilah kembali dan hubungkanlah kata-kata tersebut dengan sebuah garis. Misal, kita menemukan.kata "burung", "induk", "buah", "baru", "lama" dan sebagainya. Buatlah kata-kata itu sebagai cabang-cabang dari kata "pasar". Selanjutnya, buatlah kembali cabang-cabang dari kata, "burung", "induk", "buah", "baru", "lama" dan sebagainya sampai kertas penuh. Setelah mencoba, lakukanlah mindmapping dengan target waktu tertentu.

Mindmapping bukanlah membuat outline (kerangka) tulisan. Ia tidak berhubungan langsung dengan lahirnya sebuah karya tulisan. Mindmapping merupakan latihan berpikir kreatif. Dengan mindmapping, kita akan berusaha menghasilkan cabang-cabang ide yang baru. Dari sinilah, kreatifitas kita akan terlatih. Sehingga, output aliran ide-ide baru akan mengalir deras dari benak kita.

Lalu, hasil karya apa yang dihasilkan dari mindmapping? Hasil karya mindmapping adalah mindmapping itu sendiri, bukan yang lain. Kita tidak usah menjadikannya sebagai kerangka tulisan, karena idenya 'liar'' dan tidak sistemik. Tetapi, bukan berarti karenanya menjadi tidak berguna. Justru ide yang 'liar' inilah yang akan membantu para penulis untuk memecahkan kebuntuan ide. Termasuk dalam membuat kerangka tulisan, memperkaya bahasa, mendramatisasi konflik sebuah cerpen, memperdalam analisa sebuah artikel, atau memperkaya kajian dalam penulisan sebuah buku. Selamat mencoba.

(Ary Herawan, siswa Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry).