Sabtu, 25 Agustus 2018

Kitab Mufarrijul Kurub Wa Mufarrihul Qulub karya Syaikh Yusuf bin Ismail An Nabhani

===============
DOA TOLAK BALA
===============

Syekh Abu Thalib Al Makki menulis dalam kitabnya Qutul Qulub (yang terkenal), pada Fasal 5: "Kami meriwayatkan dari 'Umar bin 'Abdul Aziz dari Muhammad bin 'Ubaidillah, dia berkata, "Saya mendatangi Abu Darda' r.a. (salah seorang sahabat Nabi s.a.w.) dan dikatakan kepadanya, "Rumah anda terbakar."

Beliau menjawab, "Allah tidak akan melakukan itu."

Kemudian seseorang datang lagi dan berkata, "Wahai Abu Darda', setiap kali api mendekat ke rumah anda, apinya padam."

"Saya sudah tahu," jawab Abu Darda'.

"Kami tidak tahu maksud perkataan anda yang lebih mengherankan."

Kata Abu Darda', "Sungguh aku telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda,

"Barangsiapa membaca beberapa kalimat ini malam hari atau siang hari, maka tidak ada sesuatupun yang akan memberi mudlarat kepadanya.,"

Dan hari ini aku telah mengucapkannya, yaitu:

"اللهم أنت ربي لا إلٰه إلا أنت....

sampai ...
إن ربي على صراط مستقيم."

Lengkapnya adalah sebagai berikut :

اللهم أنت ربي لا إلٰه إلا أنت، عليك توكلت وأنت رب العرش العظيم، ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم. أعلم أن الله على كل شيء قدير وأن الله قد أحاط بكل شيء علما. اللهم إني أعوذ بك من شر نفسي ومن شر كل دابة أنت آخذ بناصيتها إن ربى على صراط مستقيم٭

(Allaahumma anta robbii, laa ilaaha illa anta, 'alaika tawakkaltu wa anta robbul 'arsyil 'azhiim, maa syaa allaahu kaana wa maa lam yasya' lam yakun, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhim. A'lamu annallaaha 'alaa kulli syai in qodiir, wa annallaaha qod ahaatha bi kulli syai in 'ilma. Allaahumma innii a'udzu bika min syarri nafsii wa min syarri kulli daabbatin anta aakhidzun binaashiyatihaa. Inna robbii 'alaa shiraathim mustaqiim.)

Terjemah kurang lebih:

"Paduka adalah Robb hamba, tidak ada ilaah (sesembahan) selain Paduka, kepada Paduka hamba berserah diri, dan Paduka adalah Pemilik 'Arasy Yang Agung. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi. Tidak ada daya  (menolak/menghindari kejelekan) dan tidak ada kekuatan (mengerjakan/mencapai kebaikan) kecuali dengan "qudrat" (kekuasaan) dan "iradat" (kehendak) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Hamba mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah melingkupi segala sesuatu. Ya Allah, hamba mohon perlindungan Paduka daripada kejahatan nafsu (diri) hamba dan dari kejahatan segala makhluk (yang berjalan di muka bumi) yang ubun2nya (nyawanya) ada dalam genggaman Paduka. Sungguh Robb hamba berada di Jalan Yang Lurus."

(Dikutip dari kitab "Mufarrijul Kuruub wa Mufarrihul Qulub", tulisan Syaikh Yusuf bin Isma'il An Nabhani, terbitan Darul Kutubil 'Ilmiyyah, Beirut, 1996 M / 1416 H.)

Catt: Syaikh Yusuf bin Isma'il An Nabhani adalah kakek sekaligus guru Syaikh Taqiyuddin An Nabhani (Muassis sekaligus Amir pertama Hizbut Tahrir).

Unduh kitabnya di sini

Senin, 06 Agustus 2018

GERAKAN ISLAMOPHOBIA, PASTI GAGAL!



Cadar dikesankan sangar, pakaian yang membuka aurat dikesankan terhormat. Tatkala melihat wanita bercadar langsung mencap radikal, namun ketika ada yang mengkritisi aurat perempuan yang terbuka langsung membela diri dengan alasan privasi. Terhadap orang yang risih dengan pamerisasi aurat, mudah menuduh otaknya yang bermasalah. Namun terhadap orang yang menutup aurat dan memakai cadar, malah pemakainya yang dicap bermasalah. Begitulah logika sekulerisme radikal yang penuh dengan islamophobia.
Berbagai pemikiran serta simbol yang identik dengan pelaksanaan syariah Islam selalu salah, sedangkan berbagai hal yang mengutamakan kebebasan, meskipun itu melabrak syariah senantiasa berada di atas kebenaran.
Memang miris, di balik pelarangan cadar yang tembus dari Paris Perancis hingga kampus negeri di sebelah utara Parangtritis, kita melihat betapa berbahayanya islamophobia. Karenanya, semua perkara yang sebenarnya merupakan pendapat Islami bisa dipandang menjadi tabu. Tersebab ia dipandang bertentangan dengan paham kebebasan. Namun mata kita juga semakin terbuka, mengenai siapa yang radikal sebenarnya.
Apalagi ketika kita menyaksikan demo sekelompok perempuan yang menyuarakan kebebasan perempuan. Di balik tuntutannya, selalu syariah Islam yang menjadi target penggugatan.
Islamophobia adalah ketakutan terhadap Islam secara berlebihan, bahkan cenderung tidak memiliki dasar alasan yang kuat terhadapnya. Islamophobia semakin menguat setelah sekulerisme menjadi pemimpin tunggal dunia. Keyakinan kaum muslim akan kebangkitan agamanya, ditambah berbagai prediksi tentang kebangkitan Islam, seolah menambah ketakutan Barat terhadap Islam.
Sebagaimana Snouck Hurgronje yang menjadi penanam bibit Islamophobia di era penjajahan Belanda, kaum Islamophobia menyadari bahwa kekuatan umat Islam terletak pada pemahamannya. Oleh karena itu berbagai aturan, tata hidup dan tata perilaku yang bersumber dari pemahaman Islam mesti dipisahkan dari umatnya. Bahkan tak jarang hingga sesuatu yang mereka cap sebagai perkara yang simbolistik pun diperlakukan sama. Padahal mereka sering berkoar-koar kalau simbol itu tidak terlalu penting dan jangan terjebak pada simbol. Namun anehnya, belakangan malahan mereka sendiri yang phobia terhadap simbol Islam.  
Berbagai langkah pencitraburukkan Islam sebagai sesuatu yang mengerikan, menakutkan serta sadis pun dipropagandakan. Sebenarnya apa yang sebenarnya dicari oleh penggerak islamophobia? Sebenarnya satu, memalingkan manusia dari Islam. Itu saja.
Lalu akan berhasilkah berbagai gerakan pencitraburukan terhadap Islam ini? Tidak akan. Mengapa demikian, dikarenakan beberapa alasan berikut :
Pertama, Islam merupakan agama menentramkan hati dan akal. Kebenaran Islam bukanlah kebenaran dan bersifat dogmatis dan doktiner. Aqidah Islamiyyah sebagai pondasi berbagai pemikiran Islam merupakah aqidah yang rasional. Kebenarannya dapat dibuktikan dengan dalil aqli dan naqli. Banyak ayat Al Quran yang menyentuh akal manusia untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah Swt. Sehingga potensi akal diposisikan dan digunakan secara benar dan proporsinal.
Misalnya, ketika Allah Swt berfirman
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (TQS. Al Baqarah : 21-22)  
Dan
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (TQS. Al Anbiya : 22)
Keyakinan yang diraih melalui proses berpikir secara benar akan menancap kuat. Hal inilah yang akan membuat berbagai makar terhadap Islam yang dilakukan selama ini tidak bisa menghapus Islam dari muka bumi. Bahkan ketika fitnah dan tuduhan itu semakin massif, orang yang melirik Islam pun malah semakin banyak.
Sebagaimana yang terjadi di Eropa. Menurut penelitian Pew Research Center, sentimen negatif warga Eropa terhadap muslim sangat melonjak sepanjang tahun 2016. Di Inggris, islamophobia di kalangan penduduk meningkat sampai 28 persen. Di Spanyol dan Italia, prosentase masing-masing adalah 50% dan 69%. Sedangkan di Yunani, presentasinya 65%. Hungaria tertinggi dengan angka 72%. Polandia, Perancis, Jerman, Belanda, dan Swedia menyusul dengan laporan peningkatan yang juga terbilang tinggi. (www.pikiran-rakyat[dot]com). Akan tetapi jumlah penduduk muslim semakin hari semakin bertambah, bahkan survey Pew Research Center pun menunjukkan bahwa populasi muslim Eropa bisa meningkat hingga 3 kali lipat pada tahun 2050. Salah satu faktornya adalah karena anak-anak kalangan kaum muslim cenderung mengikuti agama orang tuanya.
Kedua, Islam merupakan agama yang sesuai fitrah. Allah Swt berfirman,
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (TQS. Ar Ruum: 30)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tegakkanlah wajahmu dan teruslah berpegang pada apa yang disyariatkan Allah kepadamu berupa agama Nabi Ibrahim yang hanif, yang merupakan pedoman hidup bagimu. Allah telah menyempurnakan agama ini dengan puncak kesempurnaan. Dengan demikian maka engkau masih berada pada fitrahmu yang lurus.
Beliau pun menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan mengenal-Nya, mentauhidkan-Nya dan mengakui bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah.
Karena itulah, Islam pasti akan diterima oleh setiap yang hanif (lurus). Berbagai aturan yang terlahir dari Islam merupakan aturan yang pasti sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Sehingga ketika orang menjauh dari Islam maka ia akan gelisah. Sebaliknya, ketika ia mengambil kebenaran Islam maka ia akan tenang.
Sebagaimana yang terjadi pada George bin Todzira, panglima Byzantium yang gelisah setelah berdialog dengan Khalid bin Walid di sela peperangan Yarmuk, lalu ia masuk Islam dan menjadi salah satu syuhada kaum muslim. Atau seperti ketenangan yang bersemayam dalam diri Hindun setelah ia masuk Islam setelah Fathu Makkah. Ia berkata, “Demi Allah! Belum pernah aku melihat Allah disembah dengan sebenarnya di Masjidil Haram sebelum malam tadi.” Ia pun menghancurkan berhalanya seraya berkata, “Dulu, kami terperdaya olehmu!”
Kesesuaian Islam dengan fitrah manusia berlaku hingga akhir zaman. Meskipun peralatan teknologi berubah semakin canggih, fitrah manusia tetaplah tidak berubah. Manusia membutuhkan makan, minum, bernafas serta memiliki kecenderungan naluri beragama, melestarikan jenis (semisal seksual) serta ingin eksistensinya diakui. Perkakas dapur dan peralatan makan bisa berubah-ubah, begitu pula dengan tempat makannya, tetapi tetap saja yang dibutuhkan oleh manusia adalah makan.
Islam telah mengatur berbagai pemenuhan kebutuhan fisik serta naluriah manusia sesuai fitrahnya. Islam tidak mematikan kecenderungan naluri seksual atau membebaskannya secara liar, namun Islam mengaturnya supaya tetap dalam derajat kemuliaan manusia. Kesesuaian fitrah inilah yang akan menjaga Islam tetap diemban oleh manusia. Bahkan ketika manusia menjauh dari Islam, berbagai kegelisahan, perselisihan dan kekacauan akan melanda kehidupannya.
Ketiga, Islam terbukti gemilang dalam sejarah peradaban dunia. Tiada pandangan hidup atau ideologi yang terbukti bertahan dalam kegemilangan selama lebih dari 13 abad. Komunisme telah runtuh menorehkan berbagai masalah dan kerusakan. Kapitalisme sedang memimpin manusia dengan berbagai penjajahan dan eksploitasi. Dalam kepemimpinan kapitalisme kerusakan terjadi di seluruh lini kehidupan. Degradasi lingkungan, kriminalitas, perang saudara, kesenjangan kaya dan miskin serta penindasan etnis terus berlangsung.
Padahal selama dalam naungan Islam, wilayah dunia berada dalam kedamaian dan kesejahteraan. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh CEO Hewlet Packard Carly Fiorina bahwa peradaban Islam mampu menghasilkan sebuah negara super yang membentang dari samudera ke samudera, dari daerah sub-tropik hingga ke daerah tropik dan gurun. Dalam wilayah kekuasaannya, tinggal ratusan juta warganya, yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan bangsa.  Salah satu dari sekian banyak bahasanya menjadi bahasa universal dan menjadi jembatan penghubung antar warganya yang tinggal diberbagai negeri. Tentaranya tersusun dari orang-orang yang berlainan kebangsaannya. Kekuatan militernya mampu memberikan kedamaian dan kesejahteraan yang belum pernah ada sebelumnya. jangkauan armada perdagangannya membentang dari Amerika latin sampai ke Cina, serta daerah-daerah yang berada di antara keduanya.
Carly pun menyampaikan bahwa ketika pemberangusan seringkali mengancam keberadaan ilmu pengetahuan, peradaban Islam justru melindungi, mempertahankan, serta menyampaikannya kepada umat-umat lain.
Keempat, kebangkitan Islam merupakan janji Allah. Sebagaimana firman-Nya,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun  dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah ( janji )  itu, maka  mereka itulah orang-orang yang  fasik.” (TQS. An Nur :55)
Imam As Sadi menjelaskan bahwa janji Allah di dalam ayat ini berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.
Walhasil, semasif apapun upaya menumbuhkan Islamophobia di tengah masyarakat dunia niscaya tidak akan menemukan hasilnya. Justru sebaliknya, akan semakin banyak orang yang berpikir, kembali kepada fitrahnya serta memperjuangkan Islam. Wallahu al-Hadi ila Sabili Ar Rosyad.
(Aryh MN – Pengelola FP Mudah Nulis)

Jumat, 03 Agustus 2018

Pisahkan Agama dan Politik

Dalam pandangan sekulerisme, pemisahan agama dan politik merupakan suatu hal yang mutlak. Tak ada tawar menawar lagi, politik harus dibebaskan dari agama. Hal ini disebabkan karena dalam pandangan sekulerisme, politik merupakan perkara dunia. Sedangkan agama merupakan perkara langit.

Mereka beranggapan bahwa ketika perkara dunia memakai doktrin-doktrin agama, maka peracunan pemikiran akan memenuhi benak kaum miskin yang tereksploitasi oleh penguasa dan kaum kaya. Di satu sisi menaati para penguasa akan dianggap sebagai penghambaan terhadap Tuhan. Sedangkan di sisi yang lain mereka diupah dengan 'janji-janji surga' untuk bertahan dari kezaliman penguasa. Sebagaimana yang terjadi pada era kegelapan Eropa.

Trauma historis akan dark age ini sulit dilupakan. Karena sudah mendarah daging menjadi sebuah ideologi tersendiri, yakni sekulerisme. Bahkan ia meng-gebyah uyah semua agama, termasuk ketika mereka memperlakukan agama Islam.

Hanya saja ketika pemikiran sekulerisme ini masuk ke tubuh umat Islam. Banyak perkara yang akhirnya menjadi polemik. Hal ini karena terjaganya Al Quran Al Karim. Meskipun sekulerisme mendera berkali-kali bahkan mengungkung kehidupan kaum muslim, kesempurnaan ajaran Islam tetap tak bisa disembunyikan.

Memang sebagian kaum muslim ada yang memilih dan memilah dalam menyampaikan isi Al Quran, namun berbagai hal mengenai perkara politik di dalamnya tetap akan terbaca. Apalagi Assunnah serta berbagai penjelasan para ulama salaf terhadap Al Quran dan Assunnah pun tetap tertelusur secara keilmuan. Hal ini semakin menyulitkan kaum sekuler untuk menghapus pemikiran politik Islam dari benak kaum muslim.

Bukan sekulerisme namanya kalau tak lihai berkompromi. Bahkan kompromilah yang membuat ideologi ini bertahan lebih lama dibandingkan ideologi komunisme. Selain dibaca sebagai ancaman, sekulerisme membaca semangat Islam politik sebagai peluang. Tentu dengan catatan yang sangat tebal, yakni jangan sampai Islam politik menggugat sekulerisme.

Oleh karena itulah, tidak aneh jika pada satu kesempatan kaum sekuler sering menyerukan pemisahan Islam dan politik. Tetapi pada kesempatan yang lain mereka memanfaatkan semangat Islam politik untuk mempertahankan eksistensinya.

Doktrin ibadah, kesabaran, ketaatan kepada ulil amri seringkali dijadikan sebagai senjata supaya kaum muslim tetap berpegang teguh pada suatu tatanan kehidupan yang sebenarnya mengabaikan penerapan hukum Allah Ta'ala. Ujung-ujungnya tidak sedikit tokoh agama yang  tersedot ke dalam pusaran kekuasaan.

Melihat kondisi masyarakat yang semakin terpuruk meskipun dengan kehadiran para ahli agama dalam kekuasaan, kaum muslim makin apriori. "Tuh kan, kalau agama sudah dibawa ke dalam politik pasti bermasalah!" Semisal kalimat seperti itulah yang seringkali didengar kini. Akhirnya, kaum sekuler pun kembali mengambil keuntungan. Mereka makin aktif untuk mempropagandakan pemisahan agama dan politik.

Padahal Islam politik yang sebenarnya adalah mengatur berbagai sendi kehidupan dengan aturan Islam (Al Quran dan Assunnah). Yang menjadi masalah saat ini, sudahkah para ahli agama yang masuk ke dalam kekuasaan itu menerapkan aturan Islam secara paripurna? Jika belum, jangan salahkan Islam politik karena yang menjadi masalah bukanlah pemikiran Islamnya. Tetapi kita sebagai umat Islam yang belum mampu meyakinkan masyarakat akan Islam politik yang sebenarnya. Wallahu a'lamu bishshawwab.

(AryhMN - Pengelola FP Mudah Nulis)

#Islam #Politik #Ulama #Politisi #Sekulerisme

Rabu, 01 Agustus 2018

Mendamba Pemimpin Rabbani


مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (TQS. Ali Imran: 79)

Ketika para pendeta Yahudi dan Nashrani Najran diseru oleh Rasulullah Saw untuk masuk Islam, salah seorang Nashrani Najran bertanya kepada Rasulullah Saw, 
“Hai Muhammad! Apakah engkau menginginkan supaya kami menyembahmu sebagaimana kaum Nashrani menyembah Isa bin Maryam?”

“Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah serta memerintahkan untuk menyembah selain Allah! Tidaklah untuk itu Allah telah mengutusku dan tidak pula memerintahkan hal tersebut kepadaku,” jawab Rasulullah Saw.

Kemudian Allah Swt menurunkan ayat ini bersama satu ayat sesudahnya (QS. Ali Imran: 80, pen.).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tidaklah layak bagi seseorang yang telah Allah berikan Al Kitab, hikmah dan nubuwwah untuk menyeru manusia, “Jadikanlah aku sebagai sesembahan selain Allah!” yakni saingan bagi Allah. Apabila hal tersebut tidak layak dilakukan oleh seorang Nabi atau Rasul, apatah lagi manusia yang selainnya.

Oleh karena itu, Imam Hasan Al Bashri rahimahullahu ta’ala menyampaikan bahwa seorang mukmin tidak boleh mengajak orang lain agar menyembahnya. Beliau menjelaskan bahwa yang perilakunya demikian adalah orang ahli kitab. Mereka (ahli kitab) telah mempertuhankan para pendeta dan rahib mereka, sebagaimana firman Allah Swt :
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (TQS. At Taubah: 31)

Dalam Al Musnad, Imam Tirmidzi menyampaikan bahwasanya Adi Bin Hatim berkata, 
“Wahai Rasulullah, tidaklah mereka (Ahli Kitab) menyembah para rahib dan pendetanya.” Rasulullah Saw bersabda,”Akan tetapi para pendeta dan rahib itu menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, kemudian ahli kitab menaatinya. Itulah penyembahan mereka terhadap pendeta dan rahib mereka.”      

Kebodohan para pendeta, rahib serta penghulu kesesatan dicela dan dicaci dalam ayat ini. Jelas berbeda dengan para Rasul dan para Ulama yang mengikutinya, mereka hanya menyeru kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan untuk dilaksanakan. Serta mereka hanya melarang kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan untuk dijauhi.

Karena itu “hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani”, yakni orang-orang yang faqih, ahli ibadah dan ahli taqwa.

Menurut Ibnu Mas’ud r.a., orang-orang rabbani adalah pemimpin yang ‘alim. Sedangkan menurut Abdullah bin Jubair adalah pemimpin yang bertaqwa. Adapun Ibnu Zaid menyampaikan bahwa rabbani adalah para penguasa.

Hasan menjelaskan bahwa orang-orang rabbani adalah orang yang mampu menyatukan antara ilmu agama dan politik. Atau sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Ubaidah, bahwa orang-orang rabbani adalah orang ‘alim yang memahami halal dan haram, perintah Allah dan larangan-Nya serta mengetahui berita yang telah menimpa dan akan dialami oleh umat Islam.

Oleh karena itu, Mujahid berkata bahwa rabbani adalah orang yang memiliki ilmu dan pemahaman. Ia memiliki pengetahuan tentang politik, pengaturan dan pemenuhan berbagai urusan rakyat, serta bisa membawa keberesan dalam urusan dunia dan akhirat.

Imam Thabari menutup tafsir ayat ini dengan kalimat,
“Wahal sekalian manusia! Para pemimpin mereka! Yang mengurus agama dan dunia mereka! Jadilah kalian orang-orang yang rabbani yang mengajarkan manusia dengan Al Quran serta yang terkandung di dalamnya tentang halal dan haram, fardlu dan mandub serta seluruh perkara agama dengan membaca dan mempelajari Al Quran.”

Memahami apa yang disampaikan oleh para ulama mengenai orang-orang rabbani, sungguh kaum muslim dunia saat ini membutuhkan pemimpin rabbani. Pemimpin yang ‘alim dan faqih yang merujuk kepada Al Quran dan Assunnah dalam mengurus masyarakat. Pemimpin yang menjadikan aktifitas dan pandangan politiknya sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jernih dan luas pandangannya, semata karena ia selalu membaca dan mempelajari Al Quran. Sehingga apa yang halal di dalam Al Quran menjadi halal juga dalam pandangannya serta apa yang haram dalam Al Quran pun menjadi haram dalam pandangannya.

Hanya saja mungkinkah pemimpin rabbani akan terlahir dalam rahim politik yang sekuler? Yang jangankan menerapkan hukum-hukum Al Quran, bahkan seluruh aturan kehidupan pun harus dibangun di atas asas selain agama. (AryhMN - Pengelola FP Mudah Nulis)