Rabu, 31 Januari 2018

Menghentikan Gerhana


Segala pujian hanya untuk Allah Ta'ala; segala kebesaran hanya milik-Nya. Sang Pemilik langit dan bumi, yang semua makhluk tunduk pada kehendak-Nya. Jika Ia menghendaki sesuatu terjadi maka pasti akan terjadi, jika Ia mencegah sesuatu perkara maka perkara itu pun tak akan ada.

Gerhana bulan merupakan salah satu di antara sekian banyak sunnatullah. Selama bumi berrotasi dan bulan berrevolusi mengitarinya, gerhana pasti terjadi. Siang dan malam pun pasti datang bergantian. Meskipun dalam kurun yang berbeda-beda, tergantung di bagian bumi sebelah manakah kita berdiri.

Sunnatullah berada dalam wilayah yang menguasai manusia. Artinya, manusia sedikit pun tak punya peran untuk mengubahnya. Manusia dipaksa untuk menerima dan menyaksikan terjadinya gerhana. Ia tak bisa memilih, apakah gerhana itu boleh terjadi ataukah tidak. Bahkan hanya untuk menyaksikannya saja, ia pasrah pada cuaca. Jika cerah, ia bisa menyaksikannya. Adapun jika mendung menghalangi, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Begitulah sunnatullah menimpa kehidupan manusia.

Memang harus kita akui bahwa area hidup itu terbagi dua, ada yang menguasai manusia dan ada pula yang dikuasai manusia. Sunnatullah merupakan area yang tidak dikuasai manusia. Begitu pula berbagai kejadian yang Allah telah mengijinkannya untuk terjadi, maka ia pun terjadi atas kehendak-Nya. Baik manusia memandang hal tersebut baik atau pun buruk, tugas manusia adalah qonaah terhadapnya. Karena hanya Allah-lah yang mengetahui hakikat kebaikan dan keburukan dari suatu kejadian.

Sebagaimana ketika Rasulullah menggambarkan bahwa sebaik-baiknya kurun adalah kurun beliau, kemudian kurun setelahnya dan setelahnya. Artinya ada degradasi kebaikan dari suatu kurun ke kurun berikutnya. Para shahabat r.a. tidak protes atasnya. Begitu pula ketika Rasulullah menyampaikan bahwa akan ada keburukan yang menimpa umat Islam, para shahabat beliau hanya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan ketika itu?" Artinya, fokus para shahabat adalah pada amal dan bukan pada taqdir. Para shahabat fokus pada area yang ia kuasai dan bukan pada ketetapan Allah yang pasti terjadi.

Begitu pula ketika terjadi gerhana. Fokus kita bukanlah pada bagaimana kita mencegah terjadinya gerhana karena itu di luar area kuasa kita, namun fokus kita adalah bertakbir, istighfar, berdoa, bersedekah serta berbagai amalan shalih lainnya yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala. Sehebat apapun manusia dan teknologinya, ia tak akan pernah bisa menghentikan gerhana.

Demikian juga sunnatullah lainnya, semisal pergantian antara kebaikan dan keburukan di atas dunia. Atau pergantian antar tipe penguasa yang digambarkan dalam hadits Rasulullah, hingga ditutup dengan khilafah di atas manhaj kenabian, merupakan perkara yang tak bisa dicegah. Karena itulah, hendaknya fokus seorang mukmin tetaplah pada amal. Kondisi yang silih berganti antara keluangan dan kesempitan hanyalah ujian yang mesti ditapaki dalam hidup.

Tak terkecuali juga kemenangan yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang beriman dan beramal shalih, itu pun pasti terjadi. Sekuat apapun iblis dan para setan dari kalangan jin dan manusia menghalanginya, janji Allah pasti terjadi. Upaya mereka tiada lain bagaikan upaya menghentikan gerhana, pasti sia-sia. Wallahu al muwafiq ila sabili arrosyadi.

=Ary H.=
(Pengelola FP Mudah Nulis)

Minggu, 28 Januari 2018

Materi KulWA 6 : ”Kepekaan Pemikiran Modal Utama Penulis Opini”


Assalamu 'alaikum...masihkah ada yang terjaga?
InsyaAllah, kita malam ini akan mulai KulWA "Mudah Menulis Opini"
Karena sudah terlambat dr jadwal, langsung saja kita mulai dengan bismillah.
Semoga ilmu yang akan kita bagi dan praktekkan menjadi bermanfaat. Aamiin.

Karena judul kulwa di kelas ini adalah "Mudah Menulis Opini". Maka akan kita mulai dari yang mudah-mudah.

Sebelumnya, saya akan bertanya...
Seberapa mudah rekan-rekan membedakan rasa pahit dan manis? Atau membedakan benda tajam dan tumpul? Atau mendeteksi cairan oli dan air di lantai?
Jawabannya, tentu sangat mudah sekali...

Mengapa demikian? Karena alhamdulillah, kita dianugerahi oleh Allah Ta'ala berbagai indera yang bisa merasakan secara sempurna. Meskipun, terkadang ada bedanya. Antara orang biasa dan orang yang terlatih, semisal jagal kambing akan lebih terlatih dalam membedakan ketajaman sebuah pisau. Hal itu tak masalah. Yang penting, indera kita bisa membedakannya.

Saya menanyakan hal ini sebagai pembuka karena ada hubungannya dengan tulisan pendek saya tentang kepekaan pemikiran yang dishare di FB Mudah Nulis hari ini.

Di antara rekan-rekan, adakah yang sudah membacanya?
Kalau belum, baca dulu gih! He…he.. Nanti saja ding, sehabis KulWA ini.

Nah, "Kepekaan Pemikiran" (dalam istilah saya), merupakan modal utama kalau kita mau belajar menulis opini.

Sebagai penulis opini. Tentu saja, mesti menumbuhkan dulu rasa peka terhadap kondisi / fakta yang terjadi di tengah masyarakat. Kepekaan yang dimaksud bukanlah kepekaan fisik laksana rasa dan tekstur atau meraba dan mengecap. Tetapi kepekaan yang tumbuh karena sang penulis memiliki sebuah idealita pemikiran.

Tentunya, bagi seorang penulis opini muslim, idealita pemikiran itu mestilah tumbuh atau berpijak di atas aqidah Islam.

Ada yang selama ini merasa belum peka? Misalnya, tak tertarik komen apapun ketika ada kejadian / fakta.

Intinya, selama kita masih suka memberikan pandangan dan mengomentari fakta, sebenarnya kita sudah memiliki kepekaan.

Hanya saja, mengenai kepekaan itu terasah atau belum, hal itu merupakan perkara yang lain.
Oleh karena itu, sebagai seseorang yang berkeinginan untuk menjadi seorang penulis opini. Mulailah untuk menuangkan hasil dari deteksi "kepekaan pemikiran" kita itu dalam bentuk tulisan.
Kita mulai dari hal yang mudah. Cobalah dulu membuat tulisan tersebut dalam 3 paragrap.

Misalkan,
Paragrap 1 (Fakta):

Pesta LGBT dibubarkan aparat dan ormas Islam di Tasikmalaya

Paragrap 2 (Analisa):
Mengapa terjadi demikian?

Paragrap 3 (Solusi):
Bagaimana kondisi seharusnya menurut versi penulis

3 paragrap sudah menjadi opini pendek.

Ini hanyalah contoh saja. Maksud saya, untuk belajar beropini, mulailah dari 3 paragrap sederhana seperti demikian.

Fakta (yang disoroti, upayakan aktual), Analisa (pandangan penulis, mengapa terjadi demikian), Solusi (bagaimana seharusnya menurut penulis).

Ada pertanyaan?
Pertanyaan 1 : Sebelum penjelasan fakta itu apa hrs ada pengantar yg bisa menarik si pembaca. Nah kadang bingung diawalnya hrs gmna cikgu?
Jawaban 1 : Langsung saja ke fakta. Kalau perlu kutip, kutip saja kemudian sertakan sumbernya.

Pertanyaan 2 : Ust,  apakah analisa juga boleh dikutip?
Jawaban 2 : Boleh, selama kutipan itu dibahasaka dengan bahasa versi penulis. Jika pun dikutip apa adanya, jangan terlalu banyak.

Pertanyaan 3 : Berarti pertama lngsung fakta yg aktualnya sja ya cikgu? Nah misalkan ada 1tema yg di ambil namun dri bbrp fakta yg aktual. Itu hrs gmna?
Jawaban 3 : Awali dgn fakta yang lebih heboh

Bagi yang sama sekali merasa belum peka, bisa dilatih dengan sering mengomentari fakta, baik lisan ataupun tulisan.

Pertanyaan 4: Cikgu, di daerah sy kan dekat banget nih dengan perusahan LNG, tapi kami kesusahan dapetin gas.. Malah gasnya mahal. Nah kadang sy suka nulis ini..biar masyarakat bisa mikir .. Tpi suka bingung gimana mulainya..? Daerah Luwuk banggai, perusahannya di batui . Bahkan termasuk LNG terbesar di dunia..
Jawaban 4 : "Bagaikan ayam kelaparan di lumbung padi", peribahasa ini mungkin cocok untuk masyarakat......
Analisa, harus akurat. Apalagi tahu terbesar dari mana sumbernya? Pemerintah setempat biasanya bangga kalau ada LNG, pasti dipublish volume produksinya.

Dalam rangka membiasakan kepekaan pemikiran, yuk dicoba buat tulisan 3 paragrap yang terdiri dari :

Fakta:
(Soroti kejadian yang paling menarik di sekitar anda)

Analisa:
Mengapa terjadi demikian?

Solusi:
Bagaimana seharusnya menurut penulis.

Sudah itu saja. Coba dirutinkan 7 hari smp kulWA pekan depan ya? Minimal 1 hari 1 tulisan saja.
Nanti tugasnya diposting di FB (bagi yg tidak punya FB, WApri saja ke saya).

Di bawah tulisan kasih hastag
#PenulisBelaIslam
#KelasOpiniAMK

Pertanyaan 5 : Klo misal kita ada tulisan, boleh kah minta bantu kritik dan sarannya pak?
Jawaban 5 : Boleh bu, tp WApri atau via email.

Pertanyaan 6 : Cikgu ada contoh tulisannya? Biar ada gambaran dikit
Jawaban 6 : Saya buat contoh di sini ya...

======
Gabungan organisasi masyarakat (ormas) Islam melakukan aksi unjuk rasa di Kota Tasikmalaya pada Selasa, 23/1/2018. Mereka menolak LGBT (Kabar Priangan, 24/1/2018).

Sebagai kota Santri, LGBT di Tasikmalaya sangat membuat miris. Semua terjadi karena tidak ada penilaian yang tegas terhadapnya. Dinilai buruk tidak, dinilai baik pun tidak namun yang terjadi adalah pembiaran.

Supaya penilaian terhadap perilaku itu bisa jelas, kita harus punya pandangan yang khas tentang terpuji dan tercela sebuah perbuatan. Tentunya sebagai seorang muslim kita sudah memilikinya, hal itu tiada lain adalah pandangan halal dan haram. Jika dikembalikan kepada pandangan tersebut, insyaAllah perilaku semisal LGBT tidak akan berkembang.
======

Materi sudah, tugas sudah, contoh pun sudah. Tinggal istirahat ya...
Utk tugas, jangan lupa tag akun FB saya Aryh Menata Kata

Semoga ilmu yang kita bagi & praktekkan bermanfaat, khususnya untuk kaum muslim dan umumnya untuk negeri ini. Aamiin.

Mudah, mudah, mudah, bismillah...
Kita tutup dengan do'a penutup majelis...

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

*) Disampaikan oleh Ary H. dalam Kuliah WA di Grup Akademi Menulis Kreatif pada 28 Januari 2018

Jumat, 12 Januari 2018

Materi Kulwa 5 Mengembangkan Status Menjadi Tulisan



Kita tentu terbiasa membuat status di sosial media. Status-status pernah kita tulis, bisa pula kita kembangkan menjadi sebuah tulisan opini. Misalnya, ketika penyerangan pemerintah Myanmar terhadap muslim etnis Rohingya serta penyerangan Rusia dan rezim Assad terhadap Aleppo, saya menulis status FB (Facebook) berupa tulisan pendek sebagai berikut :

#Kehormatan Muslimah

Pada tahun ke-2 Hijriah. Seorang muslimah dijahili seorang Yahudi Bani Qainuqa. Pakaian muslimah tersebut dikaitkan pada sesuatu, hingga saat muslimah tersebut berjalan, tersingkaplah auratnya.

Gelak tawa pun terdengar dari orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya. Kejadian ini membangkitkan semangat seorang lelaki muslim untuk menjaga izzah umat Islam. Ia pun segera menghampiri dan membunuh pelaku penistaan tersebut. Hal tersebut bukannya membuat kaum Yahudi sadar, mereka malah mengeroyok dan membunuh lelaki muslim tersebut.

Kejadian tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau langsung memerintahkan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk melakukan pengepungan ke Bani Qainuqa. Selama 15 hari perkampungan Qainuqa dikepung hingga penduduknya menyerah.

Abdullah bin Ubay bin Salul mengiba belas kasih Rasulullah Saw untuk tidak menghukum Bani Qainuqa. Namun Rasulullah Saw tetap tegas. Beliau menetapkan untuk mengeksekusi Ka'ab bin Al 'Asyraf dan mengusir seluruh Bani Qainuqa. Dengan keputusan yang tegas tersebut, kemuliaan Islam dan kaum muslim terjaga.

Saat ini, bukan hanya satu orang. Ribuan muslimah menjerit dan menangis darah. Ibu-ibu, remaja hingga puteri-puteri kita di Palestina, Rohingya, Afghanistan, Suriah, Irak mencekam dalam ketakutan setiap harinya. Bukan hanya aurat mereka yang disingkap, namun kulit yang menempel pun terancam terkelupas.

Yang mengenaskan, di negeri-negeri Islam lainnya, singkapan aurat bukan lagi hinaan. Budaya kebebasan yang menjangkiti pemikiran, telah menjadikan singkapan aurat menjadi bagian dari gaya hidup. Kehormatan muslimah seolah hanya ternilai dari penampakan fisik semata. Kulit putih, hidung mancung, tinggi badan semampai dan bodi ramping seakan jadi ukuran paten kehormatan seorang muslimah.

Padahal dalam Islam, kehormatan muslimah tergambar dari kepribadiannya, yaitu dari pola pikir dan pola sikapnya. Selama pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi dengan ketaqwaan, maka di sanalah jaminan kehormatan seorang muslimah. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)


Status tersebut kemudian saya kembangkan menjadi sebuah tulisan utuh sebagai berikut :

Kehormatan Muslimah

Pada tahun ke-2 Hijriah. Seorang muslimah dijahili seorang Yahudi Bani Qainuqa. Pakaian muslimah tersebut dikaitkan pada sesuatu, hingga saat muslimah tersebut berjalan, tersingkaplah auratnya.

Gelak tawa pun terdengar dari orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya. Kejadian ini membangkitkan semangat seorang lelaki muslim untuk menjaga izzah umat Islam. Ia pun segera menghampiri dan membunuh pelaku penistaan tersebut. Hal tersebut bukannya membuat kaum Yahudi sadar, mereka malah mengeroyok dan membunuh lelaki muslim tersebut.

Kejadian tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau langsung memerintahkan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk melakukan pengepungan ke Bani Qainuqa. Selama 15 hari perkampungan Qainuqa dikepung hingga penduduknya menyerah.

Abdullah bin Ubay bin Salul mengiba belas kasih Rasulullah Saw untuk tidak menghukum Bani Qainuqa. Namun Rasulullah Saw tetap tegas. Beliau menetapkan untuk mengeksekusi Ka'ab bin Al 'Asyraf dan mengusir seluruh Bani Qainuqa. Dengan keputusan yang tegas tersebut, kemuliaan Islam dan kaum muslim terjaga.

Saat ini, bukan hanya satu orang. Ribuan muslimah menjerit dan menangis darah. Ibu-ibu, remaja hingga puteri-puteri kita di Palestina, Rohingya, Afghanistan, Suriah, Irak mencekam dalam ketakutan setiap harinya. Bukan hanya aurat mereka yang disingkap, namun kulit yang menempel pun terancam terkelupas.

Yang mengenaskan, di negeri-negeri Islam lainnya, singkapan aurat bukan lagi hinaan. Budaya kebebasan yang menjangkiti pemikiran, telah menjadikan singkapan aurat menjadi bagian dari gaya hidup. Kehormatan muslimah seolah hanya ternilai dari penampakan fisik semata. Kulit putih, hidung mancung, tinggi badan semampai dan bodi ramping seakan jadi ukuran paten kehormatan seorang muslimah.

Padahal dalam Islam, kehormatan muslimah tergambar dari kepribadiannya, yaitu dari pola pikir dan pola sikapnya. Selama pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi dengan ketaqwaan, maka di sanalah jaminan kehormatan seorang muslimah.

Allah Swt berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al Hujurat: 13)

Menurut Imam Al Qurthubi, dikisahkan dalam satu riwayat bahwasanya Rasulullah Saw bersabda kepada Tsabit bin Qais bin Syamas. Rasulullah Saw bersabda kepadanya : “Lihatlah ke wajah-wajah kaum yang ada!” Maka Tsabit pun melihatnya. Kemudian Rasulullah Saw bersabda. “Apa yang telah kamu lihat?” Tsabit menjawab, “Aku melihat ada yang berkulit putih, hitam dan merah.” Lalu Rasulullah Saw bersabda,” Sesungguhnya kamu tidak lebih utama dari mereka terkecuali dengan taqwa.” 

Warna kulit, keturunan dan penampilan fisik dalam Islam adalah sesuatu yang bersifat musayyar. Wilayah yang manusia tak bisa memilih sebelumnya, mau tidak mau manusia harus menerimanya. Oleh karena itu, Islam memandang –dan ini adalah keyakinan- bahwa semua itu tidak akan dipertanyakan oleh Allah Swt di akhirat kelak. Sehingga, bagaimanapun indahnya warna kulit, mulianya keturunan dan mulusnya penampilan atau tampilan fisik lainnya yang bukan dalam wilayah pilihan manusia. Semuanya bukanlah penanda kehormatan seorang muslimah.

Islam pun tak memilah-milah ketaqwaan manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Lelaki maupun perempuan, selama beriman dan beramal shalih, maka Allah Swt menyediakan kebaikan untuknya di Akhirat kelak.

Inilah pandangan utama Islam terkait kehormatan seorang muslimah. Ketaqwaan menjadi modal utamanya. Sehingga tampilan luar tidaklah tepat jika ada orang yang beranggapan bahwa Islam tak memperhatikan kehormatan seorang muslimah. Bahkan sebaliknya, Islam menjaganya dan menempatkannya dalam kemuliaan derajat. Jauh lebih mulia daripada penempatan dan perlakuan kaum jahiliyyah terhadap kaum wanita sebelum Islam datang.

Tak hanya itu, Islam pun menjaga kehormatan seorang muslimah dari penistaan dan penodaan. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw merupakan contoh utamanya. Saking berharganya kehormatan seorang muslimah, seorang lelaki muslim sampai berani mengambil resiko hingga berkorban nyawa. Bahkan hal ini pun diperkuat oleh Rasulullah Saw yang bertindak tegas terhadap Ka’ab bin Al ‘Asyraf dan kaumnya.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dilakukan pula oleh pemimpin umat Islam yang mengikutinya. Yang sangat heroik dan dikenang sejarah adalah apa yang dilakukan oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah Abu Ishaq (Muhammad Ar-Rasyid). Beliau dibai’at menjadi khalifah pada bulan Rajab 218 H dan wafat pada 19 Rabiul Awwal 227 H.

Pada tahun 223 H, seorang budak muslimah dilecehkan orang Romawi. Pakaiannya disangkutkan pada sebuah paku, sehingga tersingkaplah auratnya. Maka Al-Mu’tashim langsung memerangi negeri Romawi. Imam As-suyuthi mengisahkan bahwa peperangan ini mengakibatkan kerugian yang sangat besar di pihak tentara Romawi. Kerugian Romawi tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah dilakukan oleh Khalifah manapun sebelumnya. Al-Mu’tashim telah berhasil menghancurleburkan barisan mereka dan merobohkan benteng pertahanannya, kemudian membebaskan Amuriyah. Pada penyerangan tersebut, 3000 orang tentara Romawi terbunuh dan sekitar 30.000 orang lainnya tertawan.

Begitulah pembelaan Rasulullah Saw dan pemimpin muslim yang mengikuti beliau. Demi membela kehormatan seorang muslimah yang tersingkap auratnya, armada perang pun dikirimkan. Jauh berbeda dengan kondisi saat ini, ribuan kaum muslimah dirusak kehormatannya bahkan dianiaya hingga meregang nyawa, belum ada seorang pun pemimpin yang tergerak untuk mengirimkan pasukan.


Sudahlah paradigma kebebasan yang sekuleristik telah merusak nilai kehormatan muslimah, saat mereka teraniaya pun tak ada pemimpin yang bisa melindunginya. Di negeri yang terlihat damai, tak ada penerapan  syariah yang menempatkan nilai kehormatan muslimah pada kemuliaan. Di negeri yang dijajah secara fisik, tak ada pula khalifah yang bisa menjaga kehormatan muslimah tersebut dari penistaan dan pembunuhan. Tanpa syariah dan khilafah, kehormatan muslimah terbukti telah terabaikan. Masihkah kita menunda penerapannya? Wallohu a'lamu bishshowwaab.