Segala pujian hanya untuk Allah Ta'ala; segala kebesaran hanya milik-Nya. Sang Pemilik langit dan bumi, yang semua makhluk tunduk pada kehendak-Nya. Jika Ia menghendaki sesuatu terjadi maka pasti akan terjadi, jika Ia mencegah sesuatu perkara maka perkara itu pun tak akan ada.
Gerhana bulan merupakan salah satu di antara sekian banyak sunnatullah. Selama bumi berrotasi dan bulan berrevolusi mengitarinya, gerhana pasti terjadi. Siang dan malam pun pasti datang bergantian. Meskipun dalam kurun yang berbeda-beda, tergantung di bagian bumi sebelah manakah kita berdiri.
Sunnatullah berada dalam wilayah yang menguasai manusia. Artinya, manusia sedikit pun tak punya peran untuk mengubahnya. Manusia dipaksa untuk menerima dan menyaksikan terjadinya gerhana. Ia tak bisa memilih, apakah gerhana itu boleh terjadi ataukah tidak. Bahkan hanya untuk menyaksikannya saja, ia pasrah pada cuaca. Jika cerah, ia bisa menyaksikannya. Adapun jika mendung menghalangi, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Begitulah sunnatullah menimpa kehidupan manusia.
Memang harus kita akui bahwa area hidup itu terbagi dua, ada yang menguasai manusia dan ada pula yang dikuasai manusia. Sunnatullah merupakan area yang tidak dikuasai manusia. Begitu pula berbagai kejadian yang Allah telah mengijinkannya untuk terjadi, maka ia pun terjadi atas kehendak-Nya. Baik manusia memandang hal tersebut baik atau pun buruk, tugas manusia adalah qonaah terhadapnya. Karena hanya Allah-lah yang mengetahui hakikat kebaikan dan keburukan dari suatu kejadian.
Sebagaimana ketika Rasulullah menggambarkan bahwa sebaik-baiknya kurun adalah kurun beliau, kemudian kurun setelahnya dan setelahnya. Artinya ada degradasi kebaikan dari suatu kurun ke kurun berikutnya. Para shahabat r.a. tidak protes atasnya. Begitu pula ketika Rasulullah menyampaikan bahwa akan ada keburukan yang menimpa umat Islam, para shahabat beliau hanya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan ketika itu?" Artinya, fokus para shahabat adalah pada amal dan bukan pada taqdir. Para shahabat fokus pada area yang ia kuasai dan bukan pada ketetapan Allah yang pasti terjadi.
Begitu pula ketika terjadi gerhana. Fokus kita bukanlah pada bagaimana kita mencegah terjadinya gerhana karena itu di luar area kuasa kita, namun fokus kita adalah bertakbir, istighfar, berdoa, bersedekah serta berbagai amalan shalih lainnya yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala. Sehebat apapun manusia dan teknologinya, ia tak akan pernah bisa menghentikan gerhana.
Demikian juga sunnatullah lainnya, semisal pergantian antara kebaikan dan keburukan di atas dunia. Atau pergantian antar tipe penguasa yang digambarkan dalam hadits Rasulullah, hingga ditutup dengan khilafah di atas manhaj kenabian, merupakan perkara yang tak bisa dicegah. Karena itulah, hendaknya fokus seorang mukmin tetaplah pada amal. Kondisi yang silih berganti antara keluangan dan kesempitan hanyalah ujian yang mesti ditapaki dalam hidup.
Tak terkecuali juga kemenangan yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang beriman dan beramal shalih, itu pun pasti terjadi. Sekuat apapun iblis dan para setan dari kalangan jin dan manusia menghalanginya, janji Allah pasti terjadi. Upaya mereka tiada lain bagaikan upaya menghentikan gerhana, pasti sia-sia. Wallahu al muwafiq ila sabili arrosyadi.
(Pengelola FP Mudah Nulis)

