Minggu, 27 Maret 2016

Kebahagiaan Berbagi Sedikit Ilmu Menulis

Menjelang tengah hari tadi (27/03/2016), di sela-sela mengasuh anak-anak, saya rebahkan badan di tempat tidur. Mata ini terasa mengantuk. Mungkin karena sisa tadi malam, hampir setengah malam saya isi ‘kencan’ bersama ketiga anak-anak saya. Kami menonton film bersama di rumah. Saya menemani mereka seraya mengenang masa kanak-kanak.

Belum sempat mata ini terpejam, terdengar suara telpon dari salah seorang sahabat. Ternyata beliau meminta saya untuk mengisi materi jurnalistik di hadapan siswa setingkat SMP dan SMA. Padahal sebelumnya, saya belum pernah mengisi tersebut. Menulis memang bukanlah hal baru bagi saya. Artikel, berita, opini, cerpen sampai puisi pun pernah tertuang di blog ini. Alhamdulillah, beberapa di antaranya pernah ditayangkan media cetak maupun daring. Namun untuk mengisi materi jurnalistik, belum pernah sekalipun diminta. Permintaan dadakan ini juga bukan tanpa alasan. Tersebab pemateri yang direncanakan, yakni seorang wartawan senior, mendadak tidak bisa hadir. Antara diterima dan ditolak, di wilayah ikhtiar inilah hati dan akal ini berada.

Meskipun diminta mengisi saat itu juga, entah mengapa tidak ada sedikit pun keberatan dalam diri ini. Tanpa garis besar materi, power point, apalagi makalah atau sebagainya, diri ini sama sekali tidak merasa keberatan. Bahkan, seolah ada motivasi dan kebahagiaan tersendiri untuk langsung mengiyakan. Hati ini seolah berkata, “Saya, Yes!” seraya tersenyum riang.

Singkat cerita, saya berdiri di hadapan puluhan siswa-siswi. Alhamdulillah, selama 15 menit perjalanan menuju lokasi, saya menemukan ide materi. Materi itulah yang saya sampaikan. Saya memposisikan diri bukan sebagai pakar teori, tetapi sebagai seorang praktisi. Setelah sedikit muqaddimah, kemudian bridging materi seputar menulis serta motivasinya, saya meminta semua peserta untuk mengeluarkan alat tulisnya. Namun sayangnya, meskipun dinamakan Training Jurnalistik, hanya beberapa siswa dan siswi yang membawa alat tulis. Akhirnya, sebagian peserta saya ijinkan untuk mengetik menggunakan handphone.

Saya hanya ingin membuktikan kepada para peserta bahwa menulis itu mudah. Itu saja yang saya targetkan. Setelah semua peserta siap, para peserta diminta menjawab beberapa pertanyaan. Tetapi jawabannya mesti ditulis dalam bentuk kalimat berita. Berikut urutan pertanyaannya, 1) Apa makanan favorit Anda? ; 2) Di manakah Anda biasa membelinya; 3) Kapankah Anda biasa membelinya? ; 4) Siapakah penjualnya? ; 5) Mengapa Anda menyukainya? ; dan 6) Bagaimanakah cara membuatnya? Meskipun dengan alat tulis yang berbeda-beda, semua pertanyaan itu mampu dijawab tuntas oleh semua peserta. Kemudian saya tegaskan kepada semua peserta, ternyata terbukti mereka bisa menulis. Mereka yang sebelumnya hanya terbiasa menulis satu atau dua baris status di sosial media, ada yang mampu menulis hingga 15 baris. Lalu, saya minta kepada mereka untuk menggabungkan semua jawaban menjadi satu paragrap. Alhamdulillah, tidak ada seorang pun yang kesulitan.

Terakhir, saya minta mereka untuk membacakan tulisannya masing-masing. Sayang sekali, semua  peserta masih malu-malu melakukannya. Akhirnya saya yang membacakannya. Masya Allah! semua karya disambut dengan tepuk tangan yang meriah. Ternyata, semua peserta terbukti bisa menulis. Itu kan baru satu paragrap? Iya tentu saja, semua tulisan berawal dari langkah kecil. Insya Allah, dari satu paragrap itulah tumbuh kepercayaan diri bahwa “Menulis itu mudah dan saya bisa menulis!” Adapun pertanyaan seputar makanan favorit, itu hanyalah tema yang bisa diganti dengan apapun. Bisa dengan sebuah kota, tempat wisata, sekolah, kejadian dan sebagainya.


 Alhamdulillah! sungguh bahagia bisa berbagi sedikit ilmu menulis bersama para santri serta alumni SMPT dan MA Fajrul Islam Kota Tasikmalaya. Saya bukanlah motivator, inspirator apalagi author, namun al faqir yang cinta menulis. Selamat berkarya membangun peradaban barokah! Aamiin.             (Ary Herawan). 

Jumat, 25 Maret 2016

Kebinasaan bagi Ashhabul Ukhdud, Penguasa Pembantai Kaum Mukmin

Ashhabul Ukhdud (Orang-orang yang membuat parit) dicela oleh Allah Swt dalam Q.S. Al Buruuj[85]: 4, yang artinya : “Binasalah orang-orang yang membuat parit”. Mereka adalah para pembesar Najran di Yaman yang hidup di antara masa Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad Saw. Allah sangat mencela mereka karena tindakan keji mereka terhadap kaum mukmin. Mereka memaksa kaum mukmin untuk meninggalkan keimanannya. Tetapi karena kaum mukmin memegang teguh keimanannya, para pembesar tersebut pun  membuat parit-parit yang besar. Mereka lalu membakar seluruh kaum mukmin di dalam parit-parit tersebut.1)
Imam Al Qurthubi menceritakan kisahnya di dalam al Jami’ li Ahkam Al Quran, beliau mengutip sebuah hadits yang cukup panjang dari Shuhaib r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, serta dikeluarkan oleh Imam At Tirmidzi.
Rasulullah Saw menceritakan bahwa pada masa sebelum masa Beliau dan para shahabat r.a., ada seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika Sang tukang sihir merasa sudah tua, ia pun berkata kepada Sang raja: “Sesungguhnya aku sudah tua, carikanlah aku seorang pemuda, supaya aku bisa mengajarkan sihir kepadanya.” Lalu diutuslah seorang pemuda untuk belajar sihir kepadanya.
Di suatu perjalanan menuju tukang sihir, Sang pemuda bertemu dengan seorang Rahib, kemudian ia duduk dan menyimak perkataannya, ia pun merasa takjub terhadapnya. Akhirnya, setiap kali ia hendak menemui tukang sihir, ia pun mampir untuk belajar kepada Sang rahib. Sehingga ketika ia datang ke tukang sihir, ia dipukul (karena terlambat, pen.). Sang pemuda pun mengadukan hal tersebut kepada Sang rahib. Sang rahib pun berkata : “Jika engkau khawatir terhadap kepada tukang sihir, katakanlah bahwa keluargamu telah menahanmu. Adapun jika engkau khawatir terhadap keluargamu, katakanlah bahwa tukang sihir telah menahanmu.” Maka teruslah ia seperti itu.
Pada suatu waktu ada seekor binatang buas -dalam riwayat lain disebutkan binatang tersebut adalah singa- yang menghalangi aktifitas para penduduk. Maka ia pun berkata :”Pada hari inilah aku akan tahu mana ajaran lebih utama, tukang sihir ataukah rahib?” Ia pun mengambil sebuah batu, lalu berkata : “Ya Allah, jika ajaran yang disampaikan rahib lebih engkau cintai dibandingkan tukang sihir, maka bunuhlah binatang buas ini sehingga penduduk bisa beraktifitas kembali.” Maka, ia pun melempar binatang tersebut, hingga binatang tersebut tewas dan penduduk pun bisa beraktifitas kembali. Sang pemuda pun menemui rahib lalu menceritakan kejadian tersebut. Sang Rahib berkata :”Wahai anakku, saat ini kamu lebih hebat dariku. Urusanmu telah sampai pada apa yang aku pandang. Sungguh nanti Engkau akan menemui cobaan (bencana), jika engkau terkena cobaan tersebut maka janganlah engkau menunjuk aku.”
Pemuda tersebut pun dapat mengobati penyakit buta dan kusta. Ia pun mengobati berbagai penyakit yang diderita manusia. Hal itu terdengar oleh seorang pejabat raja. Ia telah buta. Ia datang dengan membawa hadiah yang banyak, lalu berkata :”Semua hadiah ini untukmu, jika kau bisa menyembuhkanku”. Sang pemuda pun menjawab : “Aku tidak bisa menyembuhkan siapapun, hanya Allah-lah yang menyembuhkan. Maka jika engkau beriman kepada-Nya, lalu memohon kepada-Nya. Ia pasti akan menyembuhkanmu.” Sang pejabat pun beriman kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkannya.
Ketika Sang pejabat menemui raja, lalu duduk sebagaimana yang lainnya. Sang raja pun bertanya : “Siapa yang telah mengembalikan penglihatanmu?” Ia pun menjawab : “Tuhanku”. Raja bertanya:”Kamu punya Tuhan selain aku?” Pejabat pun menjawab : “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka Sang raja pun menyiksanya, dan tak berhenti siksaannya sampai ia menunjuk kepada Sang pemuda. Lalu didatangkanlah Sang pemuda, kemudian raja pun berkata kepadanya : ”Hai anakku, apakah telah sampai sihirmu pada sesuatu yang bisa menyembuhkan penyakit buta dan kusta? Lalu engkau lakukan dan lakukan kembali?” Sang pemuda menjawab: ”Aku tidak menyembuhkan siapapun, yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Sang raja pun menyiksanya, dan tak berhenti siksaannya sampai ia menunjuk kepada Sang rahib. Kemudian didatangkanlah Sang rahib. Dikatakanlah kepadanya, “Kembalilah kamu kepada agamamu!” Akan tetapi ia tetap menolaknya, hingga digergaji kepalanya. Lalu didatangkanlah Sang pejabat. Dikatakanlah kepadanya, “Kembalilah kamu kepada agamamu!” Akan tetapi ia pun sama menolaknya, hingga digergaji kepalanya. Selanjutnya didatangkanlah Sang pemuda. Dikatakanlah kepadanya “Kembalilah kamu kepada agamamu!” Ia pun enggan. Maka Sang raja menyuruh sekelompok penjaganya:”Pergilah kalian dengannya ke sebuah bukit begini dan begitu, naiklah kalian sampai ke puncaknya, jika ia tidak kembali kepada agamanya lemparkanlah ia (dari puncak, pen.). Maka pergilah para penjaga membawa pemuda tersebut, menaiki bukit. Sang pemuda pun berdo’a : “Ya Allah, hentikanlah aku dari mereka sesuai kehendak-Mu!” Maka bergetarlah bukit dan berjatuhanlah para penjaganya.   
Sang pemuda pun kembali menemui raja. Maka berkatalah Sang raja :”Apa yang menimpa para penjagamu?” Ia menjawab :”Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.” Raja pun menugaskan sekelompok penjaga lainnya, lalu berkata :”Pergilah kalian dengannya dan bawalah ia dengan perahu yang besar hingga kalian berada di tengah lautan. Jika ia tidak kembali pada agamanya maka lemparkanlah ia. Mereka pun pergi membawa pemuda tersebut. Sang pemuda berdo’a :”Ya Allah, hentikanlah aku dari mereka sesuai kehendak-Mu!” Rusaklah kapal dan tenggelamlah para penjaganya.
Sang pemuda pun kembali menemui raja. Maka berkatalah Sang raja :”Apa yang menimpa para penjagamu?” Ia menjawab :”Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.” Sang pemuda lalu berkata kepada raja:”Sesungguhnya engkau tidak akan bisa membunuhku, hingga engkau mengerjakan apa yang aku perintahkan kepadamu untuk mengerjakannya.” Raja bertanya :”Apakah itu?” Sang pemuda menjawab:” Kumpulkanlah orang-orang di suatu tempat, saliblah aku pada sebatang kayu. Ambillah panah dari kantongku, letakkan pada busurnya. Kemudian katakanlah :”Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.” Lalu panahlah aku. Maka jika engkau melakukan semua itu, engkau dapat membunuhku.
Raja pun mengumpulkan orang-orang di suatu tempat, ia menyalib pemuda itu pada sebatang kayu. Kemudian ia mengambil panah dan meletakkannya pada busurnya. Lalu berkata: ”Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.” Ia pun menarik busur panahnya, lalu memanah Sang pemuda hingga wafat. Orang-orang pun berkata:”Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Raja lalu mendatangi mereka, dikatakanlah kepadanya: ”Apakah Engkau tidak melihat apa yang anda ingatkan? Sungguh Allah telah menurunkan peringatan melaluimu, orang-orang sungguh telah beriman.”   
Raja pun memerintahkan pembuatan parit-parit di sepanjang jalan, lalu menyalakan api di dalamnya. Lalu berkata :”Barangsiapa yang tidak kembali pada agamanya, maka mereka akan memasukkannya ke dalamnya (parit berapi, pen.).” Orang-orang yang beriman pun masuk ke dalam parit tersebut. Hingga ada seorang perempuan yang membawa anak kecil. Ia pun merasa ragu memasukinya. Maka berkatalah anaknya:”Wahai ibuku, bersabarlah engkau, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”2)
Sungguh biadab apa yang dilakukan Sang raja. Kaum mukmin dibunuh hanya karena keimanannya, baik anak-anak, orang tua, lelaki maupun perempuan. Mereka dihabisi hanya karena beriman kepada Allah Swt. “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (TQS. Al Buruuj[85]: 8).
Inilah kisah penguasa pembantai kaum mukmin yang dicela Allah Swt. Tidaklah semata-mata Allah Swt mengisahkannya di dalam Al Quran, terkecuali untuk diambil pelajaran darinya. Karena pada setiap ada seruan Al Haq (kebenaran), selalu saja ada para penentangnya. Termasuk ketika surat Al Buruuj diturunkan di Makkah. Rasulullah Saw beserta para shahabat ditimpa fitnah (cobaan) dari orang-orang kafir. Baik berupa tuduhan, ancaman, siksaan hingga pembunuhan. Mereka dimusuhi hanya karena keimanan serta ketaatannya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.
Sejarah juga mencatat berbagai fitnah yang ditimpakan kaum kafir terhadap kaum mukmin. Ada kisah penyulaan ratusan ribu kaum muslim di Wallachia oleh Vlad III Dracul The Impaler. Pembantaian kaum muslim di Spanyol oleh Ratu Isabela, yang terkenal dengan asal-usul topi Sarbenito (topi khas peringatan tahun baru masehi). Begitu pula kisah pembantaian kaum muslim di Jerusalem oleh “The European Crussaders” pada tahun 1099 M. Serta masih banyak lagi.
Tidak berhenti pada tataran sejarah semata, kondisi saat ini pun menunjukkan hal yang sama. Kaum kafir terus menimpakan fitnah terhadap orang-orang yang beriman. Kekejaman dan pembantaian yang dilakukan penguasa AS, Israel serta sekutunya di Irak, Afghanistan, Palestina, Suriah dan negeri muslim lainnya menjadi bukti nyata hal tersebut. Jutaan kaum mukmin telah menjadi korban kebiadaban mereka. Semua hanya karena keimanan, bukan yang lain. Bahkan isu ISIS, terorisme, radikalisme, serta fundamentalisme terus menerus ‘digoreng’ Amerika Serikat (AS) dan sekutunya untuk menyudutkan orang-orang beriman. dengan dalih isu dan tuduhan tersebut, tidak sedikit kaum mukmin tak berdosa menjadi korban tuduhan, siksaan dan pembunuhan.
Dalam kondisi seperti ini, kita hendaknya selalu meresapi firman Allah Swt. Allah Swt mengancam kaum kafir serta menghibur kaum mukmin dengan sebuah janji-Nya. Firman-Nya, yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada kaum mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat. Maka bagi mereka azab Jahannam yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.” (TQS. Al Buruuj[85]: 10-12).  Dan Allah Swt pasti menepati janji-Nya.
Oleh karena itu, pada masa-masa penuh fitnah terhadap kaum mukmin seperti saat ini. Tidak ada yang harus dilakukan oleh kaum mukmin, selain istiqomah di dalam keimanan serta ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Bagaimana hebatnya Abrahah dan pasukannya, ketika Allah Swt menghendaki kebinasaan atasnya maka binasalah mereka. Begitu pula Fir’aun yang memiliki balatentara yang banyak, serta Tsamud yang mampu memotong batu-batu besar di lembah. “(Allah) Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang. (Yaitu) Fir’aun dan Tsamud.”                           (TQS. Al Buruuj[85]: 16-18). Setiap pembantai kaum mukmin pasti akan ditimpa kebinasaan, serta setiap orang yang memegang teguh keimanannya pasti akan mendapatkan kemenangan. Betapa pun saat ini terlihat hebat di hadapan manusia, seperti AS dan sekutunya. Mereka bagaikan Ashhabul Ukhdud gaya baru.
Sama seperti Ashhabul Ukhdud, AS dan sekutunya memposisikan kaum mukmin sebagai musuh yang membahayakan aqidah dan ajarannya. Yakni aqidah sekulerisme, yang meniadakan peran Tuhan di dalam seluruh aspek kehidupan. Di atas keyakinan itulah mereka membangun seluruh sistem aturan, kemudian mempropagandakannya ke seluruh dunia melalui penjajahan. Dalam pandangan mereka, jika kaum mukmin dibiarkan berkuasa kemudian menerapkan aturan Allah Swt, niscaya berakhirlah kekuasaaan dan penjajahan yang mereka lakukan di seluruh dunia. Tidak berbeda seperti kekhawatiran seorang Fir’aun di masa lampau.
Secara syariah, Islam memang berbeda dengan ajaran agama sebelumnya. Tetapi secara keimanan sama-sama mentauhidkan Allah Swt serta menyeru tunduk kepada-Nya. Sehingga, apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi berbagai fitnah yang menimpanya, tetaplah harus menjadi panduan bagi kita. Meskipun beliau Saw dan para shahabat radliyallohu ‘anhum ditimpa fitnah yang besar, tetapi mereka tetap istiqomah. Rasulullah Saw beserta para shahabat r.a. terus berdakwah, menyeru masyarakat untuk beriman serta tunduk kepada-Nya. Beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya serta menerapkan Syariah-Nya. Sehingga tidak ada pilihan bagi kaum mukmin saat ini, selain terus istiqomah di atas keyakinan Aqidah Islam, serta menyerukan penerapan seluruh aturan Allah yang terpancar dari aqidah tersebut.
Allah Swt pasti memenuhi janji-Nya untuk memenangkan kaum mukmin. “Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia-lah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (TQS. Arrum[30]: 4-5). Adapun kebinasaan pasti akan menimpa kaum kafir, yang  senantiasa ingkar dan membangkang terhadap Allah Swt. Sebagaimana yang Allah Swt tegaskan, yang artinya “Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) di Lauh Mahfudz.” (TQS. Al Buruuj[85]: 19-22). Maha Benar Allah Swt dengan segala firman-Nya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan, www.aryherawan.blogspot.com)

Sumber Bacaan :
1)                Lih. Q.S. Al Buruuj[85]: 1-9
2)                Lih. Al Jami’ li Ahkam al Qur-an, Al Qurthubi (w. 671 H).

Rabu, 23 Maret 2016

Serangan Budaya April Mop

Gara-gara tidak percaya serta menganggap peringatan Tsunami sebagai lelucon semata, 165 orang tewas di Hawaii dan Alaska. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 1 April 1946 dan dikenal dengan Tsunami April Mop. Itulah peristiwa yang tercatat sebagai korban terbesar akibat mentradisikan lelucon April Mop.

Saudi Gazette melansir (2/04/2012), seorang ibu di Arab Saudi terkena serangan jantung. Peristiwa naas itu terjadi karena ia dikerjai dua anaknya. Ibu yang tinggal di Jeddah tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit setelah mendengar salah satu anaknya, Fatimah (7 tahun), diculik seseorang. Keluarga Fatimah baru saja hendak melapor polisi setelah dikabarkan hilang selama tiga jam, sebelum gadis kecil itu lalu muncul sambil tertawa-tawa, mengatakan bahwa itu hanyalah April Mop. Fatimah mengaku disembunyikan kakaknya, Wafa (15 tahun), untuk mengerjai ibunya. Wafa tidak menyangka, keputusannya untuk melakukan kebohongan khas tradisi April Mop ini berujung petaka.

Kedua peristiwa tersebut benar-benar terjadi, lalu apakah itu tradisi April Mop? April Mop (April Fools’ Day, Bahasa Inggris) yang diperingati setiap 1 April dianggap sebagai hari berbohong/lelucon. Pada hari ini orang dibolehkan berbohong, menipu atau melakukan lelucon lainnya terhadap siapapun dengan tujuan mempermalukan Si korban.

Kemunculan tradisi berbohong ini sangat tidak jelas asal usulnya. Banyak sekali cerita yang beredar di tengah masyarakat terkait sejarah kemunculannya. Ada yang beranggapan bahwa peringatan tersebut berasal dari perayaan Tahun Baru bangsa Roma dan penganut Hindu. Menurut bangsa Roma dan penganut Hindu, mereka merayakan Tahun Baru pada setiap 1 April. Tanggal 1 ini dipilih karena dianggap sebagai tanggal yang paling dekat dengan vernal equinox. Yakni, waktu di saat seluruh bumi diperbaharui dengan datangnya musim semi. Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memerintahkan untuk mengganti penanggalan Kalender Julian tua tersebut, kemudian menggantikan peringatan Tahun Baru masehi ke tanggal 1 Januari. Akan tetapi kisah ini masih diragukan, dengan alasan bahwa kalender Gregorian tidak diadopsi oleh Inggris sampai tahun 1752.

Adapun Joseph Boskin, profesor sejarah di Universitas Boston, mengatakan bahwa April Mop dimulai pada era pemerintahan Constantine. Ketika sekelompok badut bergurau dengan Kaisar Romawi untuk menjalankan kekaisaran. Kemudian Constantine mengizinkan seorang badut yang bernama Kugel untuk mencobanya sehari. Akhirnya, kegiatan ini pun menjadi acara tahunan. Penjelasan Sang Profesor ini ditulis dalam artikel yang dimuat Associated Press pada tahun 1983. Namun setelah beberapa minggu, pihak AP menyadari bahwa Joseph telah mengarang cerita tersebut dan itu hanyalah bagian dari April Mop itu sendiri.

Sebagian kaum muslim menghubungkan April Mop dengan peristiwa pembantaian Kaum Muslim Andalusia. Ustadzah Irena Handono, melalui cuitannya pada 1 April 2013, menyampaikan bahwa bicara April Mop ada kaitannya dengan sejarah Muslim Spanyol di tanggal 1 April 1487 M. Beliau mengingatkan jika anak muda, Islam, yang ikut-ikutan April Mop itu berbahaya. Karena mereka tidak menyadari sejarah kelamnya.

Sejarah kelam yang dimaksud ada kaitannya dengan Perang Granada (1482-1492 M). Pada saat itu, pemerintahan Monarki Katolik (los Reyes Católicos) Isabella I dari Castile dan Ferdinand II dari Aragon, melakukan serangan militer terhadap pemerintahan Islam di Granada. Serangan tersebut berakhir dengan kekalahan Granada, serta mengakhiri semua pemerintahan Islam di semenanjung Iberia (al-Andalus) tersebut.

Kaum muslim dibohongi oleh tentara Salib. Mereka dijanjikan jaminan keselamatan untuk keluar dari Spanyol, bahkan disediakan kapal-kapal yang tertambat di pelabuhan sebagai alat transportasinya. Kaum muslim yang curiga dengan tawaran tersebut diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal yang sudah dipersiapkan. Setelah benar-benar melihat kapal-kapal tersebut, mereka pun bersiap untuk meninggalkan Granada.

Keesokan harinya, penduduk Muslim Granada terbagi dua. Ada sebagian yang meninggalkan rumah mereka dan berangkat menuju pelabuhan, sebagian yang lain bertahan di rumahnya karena tidak mempercayai tentara Salib. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, tentara Salib itu membakar rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Adapun umat Islam yang menuju pelabuhan pun tidak mengalami nasib yang lebih baik. Tentara Salib membakar kapal-kapal yang ada, kemudian mereka menghunus pedang untuk membantai seluruh umat Islam yang telah berada di pelabuhan. Konon peristiwa pilu yang diawali dengan kebohongan pasukan salib ini terjadi pada 1 April 1487 M, bertepatan dengan 892 H. Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai April Fools’ Day yang belakangan menjadi tenar dengan sebutan April Mop. Khusus untuk cerita 1 April 1487 M ini memang masih ada yang meragukan. Namun, terkait serangan pasukan salib ke Granada, serta pembantaian terhadap kaum muslim Andalusia merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan.

Muhammad Tariq Ghazi, penulis buku ‘The Cartoons Cry’ menyangsikan cerita tersebut. Salah satu alasan beliau adalah bahwa Granada jatuh ke tangan pasukan Salib pada 2 Januari 1492 M. Abu Abdullah Muhammad, penguasa Islam terakhir di Granada dan Andalusia menyerahkan kunci Granada kepada Raja Ferdinand. Inilah hari berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia. Hari keruntuhan kekuasaan Islam setelah selama delapan abad Islam berkuasa sejak tahun 92 H. Oleh karena itu, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak mempercayai begitu saja cerita asal muasal April Mop tanpa memeriksanya terlebih dahulu dengan kaidah ilmiah. Bahkan menurut beliau, bisa jadi cerita dibuat sebagai bagian dari April Mop itu sendiri untuk membodoh-bodohi umat Islam.

Walhasil, sesuai dengan tradisi April Mop yang membolehkan bohong dan dusta, sejarah kemunculannya pun menjadi simpang siur karena banyak bercampur dengan Hoax (pemberitaan palsu).

Terlepas dari banyaknya versi terkait asal usul April Mop, tetapi kesamaannya adalah perayaan April Mop bukanlah berasal dari Islam. Karena itulah merayakannya bisa terkategori tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir. Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud). Kalimat celaan tegas “termasuk bagian dari mereka” merupakan indikasi keharaman perilaku tersebut.  

April Mop terkategori hadlarah, yaitu kebudayaan yang terlahir dari pandangan hidup tertentu. Perayaan April Mop merupakan buah ideologi sekulerisme yang telah melahirkan liberalisme dan permisivisme. Sehingga, materilah yang menjadi standar kebahagiaannya dan manfaat sebagai tolok ukur perbuatannya. Dusta, lelucon  dan mengerjai orang tidak lagi ditinjau dari sudut pandang syariah, tetapi dari sudut pandang kebahagiaan materi dan manfaat semata, bahkan dikapitalisasi karena dipandang menguntungkan secara materi. Padahal Rasulullah Saw sangat mencela dusta dan mengkategorikannya sebagai salah satu tanda kemunafikan.

Selain itu, dua kisah di awal tulisan ini bisa menjadi ibroh. Tradisi dusta dan lelucon khas April Mop telah berbuah petaka. Padahal Rasulullah Saw bersabda : “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari). Rasulullah Saw pun mengingatkan, “Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allâh akan menyulitkannya.” (HR. Ibnu Majah).

Kaum muslim terus menerus menjadi objek serangan budaya. Meskipun perayaan April Mop di Indonesia belum seheboh Valentine Day, tetapi dari tahun ke tahun pembudayaannya semakin meningkat. Sebagai contoh lain, kita tentu masih ingat bahwa pada tahun 90-an budaya mngerjai orang pada tanggal kelahirannya merupakan sesuatu yang asing. Akan tetapi kita bisa lihat kondisi saat ini, pembudayaan yang massif telah menjadikannya sebagai kebiasaan tahunan mulai dari anak SD. Inilah serangan budaya. Semuanya terjadi karena pengabaian hukum-hukum Allah Swt (Syariah).

Apabila Syariah Islam diterapkan secara sempurna, penerapannya di bidang pendidikan akan membentuk pola pikir dan pola sikap Islami. Generasi muda akan dibina untuk memilih budaya hanya berdasarkan standar hukum Syara’, yakni halal dan haram. Ekonomi Islam pun tidak akan menjadikan budaya kufur sebagai aset, baik untuk pemasukan negara maupun individu individu. Bahkan sebaliknya, negara akan mengoptimalkan budaya Islam sebagai sarana dakwah terhadap non muslim. Selain itu, penerapan sistem sanksi Islam akan mencegah penyebaran dan pemanfaatan budaya selain Islam. Pelakunya akan dikenai peringatan maupun takzir. Namun, semuanya tentu hanya dapat diterapkan secara sempurna di dalam sistem khilafah, yang dipimpin oleh seorang imam/khalifah. Benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw : “Sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya.” (HR. Muslim). Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(Ary Herawan, Pendidik di SMPT Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)  

Senin, 21 Maret 2016

Color Run dan Propaganda LGBT

Minggu pagi (28/02/2016) jalanan Kota Banjar menjadi penuh warna, terutama di parkir Banjar Water Park. Sekitar 1500-an orang peserta tumpah ruah mengikuti Festival Color Run 2016. Kegiatan tersebut merupakan puncak acara Ultah Kota Banjar yang ke-13. Namun sayangnya, sangat sedikit orang yang tahu apa itu Color Run. Mayoritas peserta yang hadir hanya menilai keunikan dan kemeriahannya saja, tanpa mengkaji ada apa di balik fenomena Color Run tersebut. Padahal, Color Run merupakan kegiatan yang sedang booming dan mendunia.

Color Run adalah ajang lari 5K (lima kilometer). Pada setiap satu kilometer, para peserta (Color Runner) akan ditaburi bubuk warna-warni, dari mulai ujung kaki hingga kepala. Setelah para peserta sampai di finish, mereka akan disuguhi festival musik yang heboh dan meriah lengkap dengan Disk Jockey. Para peserta pun bebas menari, melemparkan bubuk warna-warni, serta berpoto unik.

Sejak pertama kali diadakan di Amerika pada Maret 2011, kegiatan yang bertajuk utama kesehatan dan kebahagiaan ini terus mendunia. Saat ini, lebih dari 200 kota dan 40 negara mengadakan event ini pada setiap tahunnya. Bahkan semakin terus berkembang secara pesat.

Bagi seorang muslim, tentu tidaklah elok jika menilai suatu kegiatan hanya berdasarkan kemeriahannya semata. Apalagi diberi embel-embel silaturahmi, sebuah istilah yang memiliki makna tertentu dalam pandangan syariah. Padahal bila melihat rangkaian acaranya yang penuh dengan hura-hura, campur baur pria dan wanita yang bukan mahram, serta aurat yang dipamerkan, semuanya terkategori kemaksiatan.

Selain itu, hubungan Color Run dengan propaganda LGBT ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Warna-warni yang ditaburkan dalam acara Color Run bukanlah warna yang tak bermakna. Hal ini semakin kentara dalam acara Tropicolor World Tour 2016, yang direncanakan pihak manajemen Color Run secara mendunia. Yang menarik  dalam ajang tersebut adalah sebuah festival finish yang disebut Rainbow Beach (Pantai Pelangi, Ind.). Kita tahu bahwa rainbow adalah simbol para aktifis dan propagandis LGBT yang mengartikan warna-warni pelangi dengan pemaknaan yang khas. Yakni, merah (life & sexuality), jingga (healing & friendship), kuning (vitality & energy), biru (harmony & artistry) serta Ungu (spirit & gratitude). Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.  

Melalui situs resminya ca.thecolorrun.com, manajemen Color Run menyampaikan bahwa mereka merupakan perusahaan nirlaba. Color Run telah menyumbangkan lebih dari $ 4 juta untuk kegiatan amal. Kepada siapa sajakah kegiatan amal ini ditujukan? Dalam communityni.org terungkap bahwa kegiatan amal tersebut di antaranya ditujukan untuk Rainbow Project. Yakni, sebuah organisasi kesehatan yang bekerja untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental dan emosional serta kesejahteraan kaum LGBT di Irlandia Utara (www.rainbowproject.org). Pada 16 Agustus tahun lalu, Communityni.org menuliskan “Run the Colour Run for The Rainbow Project and raise money for LGBT individuals”. Sebuah seruan untuk menyukseskan acara Color Run di Crawsfordburn Forest Park, Irlandia Utara.

Sungguh telah terbukti apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw sekitar 14 abad yang lalu:

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.).

KH. Muhammad Shiddiq Al Jawi menyampaikan bahwa LGBT saat ini bukan lagi menjadi perilaku individu, tetapi sudah menjadi gerakan global yang terorganisir. Gerakan LGBT dilakukan via jalur intelektual/akademik, sosial budaya, komunitas, bisnis sampai jalur politik (diplomasi). Khusus jalur sosial budaya bertujuan agar masyarakat menerima perilaku LGBT. Bahkan sedikit demi sedikit dan secara tidak sadar ikut membudayakan simbol LGBT serta menyuburkan gerakannya. Padahal Islam telah mencela secara tegas perilaku maksiat tersebut.

Umat Islam memang mesti terus berbenah, baik secara pemikiran maupun sikap perilaku. Serangan budaya Barat yang bermuara pada kemaksiatan bukanlah hanya satu, tetapi sangat banyak. Color Run hanyalah salah satunya. Akan tetapi pangkal semuanya hanyalah satu, yakni sekulerisme yang telah mengabaikan hukum-hukum Allah Swt. Oleh karena itu selain aktif membina diri dan keluarga dengan Islam, kita juga harus giat berdakwah supaya sekulerisme segera terenyahkan dan hukum Allah Swt segera dapat ditegakkan. Wallohu al muwafiq ila sabiili ar rosyad. (Ary Herawan/www.banjarkota.com)

Minggu, 20 Maret 2016

Yang Selalu Terucap

Harap dan lirih do'aku
Selalu terucap kalian
Kupinta kepada Sang Pencipta
Akan ampunan serta kasih-Nya
Tercurah untuk kalian
Wahai kedua orang tuaku
Seluruh cinta, tetesan darah, keringat dan air mata
Hanya mampu kubalas dengan do'a

Dalam lirih do'aku
Terucap pula kalian
Wahai istri dan putera-puteriku
Kupinta kepada Pencipta
Kalian selalu menjadi peneduh mataku
Harapanku,
Kita menjadi kaum bertaqwa

Sebelum tiba suatu masa
Di mana manusia hanya peduli nasibnya
Anak terpisah dari ibu dan ayahnya
Suami terpisah dari istrinya
Istri terpisah dari suaminya
Orang tua pun terpisah dari anak-anaknya
Setiap jiwa hanya memikirkan hasil amalnya
Tak peduli nasab dan keturunannya
Sebelum masa itu tiba
Aku tak kan berhenti berharap
Mengucap do'a untuk kalian.

(Tasikmalaya, 12 Jumadil Akhir 1437 H)

Mati

Aku, kamu dan dia
Semua makhluk pasti mati
Saat pangkat dan jabatan takkan berguna
Saat kuasa dan senjata takkan berdaya
Petantang-petenteng tiada lagi
Mati, akhiri rasa dunia

Bukan mati yang perlu dikhawatirkan
Pasca mati yang mesti kita pikirkan
Mati teraniaya ataupun mati saat bergaya titel dan kuasa
Hanyalah kondisi akhir kita di dunia
Tetaplah iman dan amal yang utama

Bukankah Sang Pencipta telah mengingatkan

"Sesungguhnya orang-orang yang menimpakan cobaan kepada mukminin dan mukminat, kemudian tidak bertaubat. Maka bagi mereka siksa Jahannam, dan siksa yang membakar."

"Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Maka bagi mereka Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar".

Aku, kamu dan dia pasti mati !!!
Hanya iman dan amal yang akan menemani

(Kadipaten, 6 Jumadil Akhir 1437 H)

Warna-warni Hidup

Hidup ini penuh warna
Tetapi, bukan untuk melenakan
Menikmati hidup
Adalah dengan taat dan syukur kepada Yang Menghidupkan

@Kedai Cofee 114, Jl. Raya Kadipaten

Kopi Pagiku

Hmmm....
Aroma harum nan menyengat
Mengalir ke hidung sehirup nafas
Ku hirup nikmat, cerah hariku
Terbenam mata menikmati wangi khasmu
Kuraih tangkai cangkirmu
Hangat mengalir ke ujung jari
Semakin dekat
Harummu semakin menyengat
Ke seruput,
Hmmm...
Sedap tercerap indera pengecap
Lalu, mengalir pelan ke kerongkongan
Alhamdulillah,
Masih bisa kurasa nikmatmu, sobat

(Kadipaten, 5 Jumadil Akhir 1437 H)

Menembus Kabut

Kabut tebal menghalang pandang
Berteman lentera, terus berjalan
Tertusuk dingin tembus ke tulang
Kaki yang dingin, tak peduli beban
Menyambut hangat Sang Mentari

Ini hidup, kawan
Tak usah risaukan cobaan
Kabut dan cuaca masih bisa kau tahan
Selama api semangatmu masih berkobar

Hangat Sang Mentari menanti kita, kawan
Kabut jalanan bukanlah penghenti langkah
Selama kita masih mau membakar lentera, dan
Menahan dingin meski sekejap

Teruslah melangkah, kawan
Tembuslah kabutmu
Tahanlah dinginmu
Hangat mentari menanti di hadapan

(Kadipaten, 5 Jumadil Akhir 1437 H)

Rabu, 16 Maret 2016

Apa yang Kamu Sembah Sepeninggalku?

Ma ta’buduna min ba’di?

Kaum Yahudi dan Nashrani selalu berpaling dari mentauhidkan Allah Swt. Bahkan tatkala mereka hidup di jaman Rasulullah Saw, pada saat wahyu masih turun. Mereka juga mendustakan Rasulullah. Padahal mereka berhadapan langsung dengan Sang Utusan Allah tersebut. Tak hentinya mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Kaum Yahudi berkata bahwa Uzair anak Allah, sedangkan Kaum Nashrani berkata bahwa Isa Al Masih sebagai anak Allah. (lih. Q.S. At-Taubah[9]: 30). Sebuah kedustaan yang nyata, yang sangat bertentangan dengan ajaran tauhid.

Mereka menasabkan keturunan mereka kepada Nabi Ibrahim a.s., Ismail a.s., Ishaq a.s. maupun Ya’qub a.s. Oleh karena itu, Allah Swt mengingatkan mereka atas semua pengingkaran mereka. Allah Swt berfirman :
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ         
Artinya :
“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (TQS. Al Baqarah[2] : 133).

Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa yang diseru sebagai “kalian” dalam ayat ini adalah Yahudi dan Nashrani. Mereka bernasab kepada Nabi Ibrahim tetapi tidak pernah berwasiat sebagaimana kakek buyutnya. Bahkan, mereka tetap dalam keyakinan Yahudi dan Nashrani. Allah Swt menentang perkataan dan dusta mereka. Allah mencela mereka : Apakah kalian menyaksikan Ya’qub dan mengetahui apa yang diwasiatkannya? kemudian kalian menyerukannya berdasar pada ilmu? Yakni, kalian tidak menyaksikannya, bahkan kalian berpaling (darinya). Aku-lah yang menyaksikan pendahulu kalian (Ya’qub). (Al Jaami’ li Ahkaam al Qur-aan).

Adapun Imam Thabari mengutip Abu Ja’far yang mengatakan : Apakah kalian -wahai bangsa Yahudi dan Nashrani- yang mendustakan Nabi Muhammad, hadir dan menyaksikan saat maut akan menjemput Ya’qub? Jika kalian tidak hadir di sana, maka janganlah kalian menyerukan berbagai kebathilan terhadap para Nabi dan utusan-Ku. Bahkan, kalian mengklaim mereka termasuk golongan Yahudi dan Nashrani. Sesungguhnya Aku-lah yang mengutus kekasih-Ku Ibrahim –serta anaknya Ishaq, Ismail dan keturunannya- dengan kelurusan Tauhid dan berserah diri (kepada-Ku). Dengan itu pula mereka berwasiat kepada anak keturunannya. Berdasar keyakinan itu pula, mereka membuat perjanjian dengan anak keturunannya. Seandainya kalian menyaksikan mereka. (Jamii’u al-Bayaan li Ta’wiil al Qur-aan).

Wasiat penting yang ditanyakan Ya’qub kepada anak keturunannya tidak lain adalah “ma ta’buduna min ba’di?” (“Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”). Sebuah pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang memberikan keleluasaan jawaban kepada orang yang ditanya. Imam Asy-Syaukani menegaskan bahwa dikatakan “ma ta’buduna” karena yang disembah selain Allah, pada umumnya adalah benda-benda mati seperti berhala, api, matahari dan bintang. (Fathu al-Qodiir)

Pertanyaan yang mengandung makna yang dalam. Karena penggunaan lafadz “ma” mengandung makna tersendiri. Syaikh Atha Ibnu Khalil Abu ar-Rasytah menjelaskan bahwa jawaban yang diberikan anak keturunan Ya’qub, yakni penyembahan kepada Allah semata, merupakan jawaban yang tidak berdasar pada taqlid atau arahan dari ayah mereka. Akan tetapi jawaban tersebut terlahir dari penerimaan yang rasional dan iman yang benar akan hal tersebut. Seolah-olah ketika mereka ditanya tentang “ma ta’buduna”, mereka tidak memiliki informasi sebelumnya dari siapapun. Mereka pun menjawabnya berdasar pada keyakinan, bukan ketaqlidan. Dikarenakan orang Arab menggunakan lafadz “ma” ketika bertanya tentang sesuatu yang majhul (tidak dikenal). Sedangkan jika diketahui makhluk berakal maka memakai “man”, apabila bertanya terhadapnya. Adapun jika bertanya mengenai gambarannya, maka dikatakanlah “ma zaidun a faqiihun am thobiibun?” (“Apakah Zaid seorang faqih ataukah dokter?”).

Pertanyaan “ma ta’buduna min ba’di?” merupakan pertanyaan bagi mereka tentang sesembahan mereka, pertanyaan yang mendasar. Sebagaimana jika mereka belum mengetahui sesuatu apapun dari Si penanya tentang hal yang ditanyakan. Sehingga, jawaban mereka bukanlah taqlid atau berdasar informasi yang tidak memiliki argumentasi. Tetapi, sebuah jawaban yang dibangun atas ilmu yang pasti, seperti inilah buktinya. (At Taisiir fi Ushuul at Tafsiir).

Allah Swt mengkabarkan bahwa jawaban anak keturunan Ya’qub a.s. adalah jawaban yang teguh di atas ajaran tauhid. Yakni, penegasan bahwa kami ikhlas beribadah kepada Allah, mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta tidak menjadikan selain-Nya sebagai sesembahan. Dengan menelaah ayat ini, tertolaklah semua klaim dan kebohongan yang ditimpakan Yahudi dan Nashrani kepada para Nabi dan Rasul Allah. Tertolak pula semua ide kufur yang menyatakan tiga agama satu tuhan  Ide sinkretisme yang beranggapan bahwa perbedaan Islam, Yahudi dan Nashrani hanyalah perbedaan cara semata. Ajaran yang mengatakan bahwa pangkal ketiga agama tersebut intinya adalah ajaran Nabi Ibrahim, ini adalah ide kufur yang menyesatkan.

Meskipun yang diseru langsung di dalam ayat ini adalah kaum Yahudi dan Nashrani. Bukan berarti kita tidak perlu mengambil ibrah darinya. Bahkan sebaliknya, kita mesti mengambil pendidikan dan pengajaran darinya. Sebuah pelajaran tentang perkara penting dan utama dalam pendidikan anak-anak kita.

Ketika seseorang sakit keras, sebuah sakit yang biasanya mengantarkan pada kematian. Perkataannya tentu tidaklah akan jauh dari apa yang selalu ada di benaknya. Jika selama sehatnya yang ada di benaknya adalah harta, tentu harta itulah yang akan ia tanyakan dan katakan. Oleh karena itu, ketika seorang Ya’qub bertanya “ma ta’buduna min ba’di?” tentu pengajaran tauhid itulah yang selalu ada di benaknya. Lalu, bagaimanakah dengan kita?

Di era yang serba materialistis ini, tidak jarang para orang tua dihadapkan pada kekhawatiran akan masa depan anak-anaknya. Namun sayangnya, kekhawatiran itu seringkali bukanlah tentang “ma ta’buduna min ba’di?” Bahkan lebih cenderung pada “ma ta’kuluna min ba’di?” (Apa yang kalian makan sepeninggalku?). Atau mungkin “ma taf’aluna min ba’di?” (“Apa yang kalian kerjakan sepeninggalku?”), pertanyaan tentang profesi dan pekerjaannya. Sehingga, tidak jarang para orang tua memporsir anak-anaknya untuk belajar ini dan itu, menguasai keterampilan ini dan itu. Tetapi penekanan akan Tauhid, dilupakan. Tidak sedikit dari kita yang jarang sekali atau bahkan tak pernah peduli akan pertanyaan, “ma ta’buduna min ba’di?” Seolah-olah semua hal tentang anak-anak kita hanyalah tentang materi dan harta untuknya. Na’udzu billahi min dzalik.


Menyiapkan masa depan terbaik untuk anak-anak kita memang tanggung jawab setiap orang tua. Akan tetapi, akhirat tetaplah jauh lebih baik dibandingkan dunia. Bahkan, dunia pun diraih untuk kepentingan akhirat, bukan sebaliknya. Ma ta’buduna min ba’di? merupakan pertanyaan tentang siapa yang paling berhak disembah dan ditaati. Mendidik anak keturunan kita tentang kepada siapakah mereka mesti menghamba. Menghamba kepada Allah merupakan misi utama penciptaan jin dan manusia. Sudahkah kita berwasiat kepada anak-anak kita, wasiat yang mampu menjawab pertanyaan “ma ta’buduna min ba’di?” dengan jawaban yang penuh keimanan dan kesadaran. Semoga.
(Tulisan pengingat diri pribadi dan keluarga, Ary Herawan, 7 Jumadil Akhir 1437 H)