Gara-gara tidak percaya serta menganggap peringatan Tsunami sebagai lelucon semata, 165 orang tewas di Hawaii dan Alaska. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 1 April 1946 dan dikenal dengan Tsunami April Mop. Itulah peristiwa yang tercatat sebagai korban terbesar akibat mentradisikan lelucon April Mop.
Saudi Gazette melansir (2/04/2012), seorang ibu di Arab Saudi terkena serangan jantung. Peristiwa naas itu terjadi karena ia dikerjai dua anaknya. Ibu yang tinggal di Jeddah tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit setelah mendengar salah satu anaknya, Fatimah (7 tahun), diculik seseorang. Keluarga Fatimah baru saja hendak melapor polisi setelah dikabarkan hilang selama tiga jam, sebelum gadis kecil itu lalu muncul sambil tertawa-tawa, mengatakan bahwa itu hanyalah April Mop. Fatimah mengaku disembunyikan kakaknya, Wafa (15 tahun), untuk mengerjai ibunya. Wafa tidak menyangka, keputusannya untuk melakukan kebohongan khas tradisi April Mop ini berujung petaka.
Kedua peristiwa tersebut benar-benar terjadi, lalu apakah itu tradisi April Mop? April Mop (April Fools’ Day, Bahasa Inggris) yang diperingati setiap 1 April dianggap sebagai hari berbohong/lelucon. Pada hari ini orang dibolehkan berbohong, menipu atau melakukan lelucon lainnya terhadap siapapun dengan tujuan mempermalukan Si korban.
Kemunculan tradisi berbohong ini sangat tidak jelas asal usulnya. Banyak sekali cerita yang beredar di tengah masyarakat terkait sejarah kemunculannya. Ada yang beranggapan bahwa peringatan tersebut berasal dari perayaan Tahun Baru bangsa Roma dan penganut Hindu. Menurut bangsa Roma dan penganut Hindu, mereka merayakan Tahun Baru pada setiap 1 April. Tanggal 1 ini dipilih karena dianggap sebagai tanggal yang paling dekat dengan vernal equinox. Yakni, waktu di saat seluruh bumi diperbaharui dengan datangnya musim semi. Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memerintahkan untuk mengganti penanggalan Kalender Julian tua tersebut, kemudian menggantikan peringatan Tahun Baru masehi ke tanggal 1 Januari. Akan tetapi kisah ini masih diragukan, dengan alasan bahwa kalender Gregorian tidak diadopsi oleh Inggris sampai tahun 1752.
Adapun Joseph Boskin, profesor sejarah di Universitas Boston, mengatakan bahwa April Mop dimulai pada era pemerintahan Constantine. Ketika sekelompok badut bergurau dengan Kaisar Romawi untuk menjalankan kekaisaran. Kemudian Constantine mengizinkan seorang badut yang bernama Kugel untuk mencobanya sehari. Akhirnya, kegiatan ini pun menjadi acara tahunan. Penjelasan Sang Profesor ini ditulis dalam artikel yang dimuat Associated Press pada tahun 1983. Namun setelah beberapa minggu, pihak AP menyadari bahwa Joseph telah mengarang cerita tersebut dan itu hanyalah bagian dari April Mop itu sendiri.
Sebagian kaum muslim menghubungkan April Mop dengan peristiwa pembantaian Kaum Muslim Andalusia. Ustadzah Irena Handono, melalui cuitannya pada 1 April 2013, menyampaikan bahwa bicara April Mop ada kaitannya dengan sejarah Muslim Spanyol di tanggal 1 April 1487 M. Beliau mengingatkan jika anak muda, Islam, yang ikut-ikutan April Mop itu berbahaya. Karena mereka tidak menyadari sejarah kelamnya.
Sejarah kelam yang dimaksud ada kaitannya dengan Perang Granada (1482-1492 M). Pada saat itu, pemerintahan Monarki Katolik (los Reyes Católicos) Isabella I dari Castile dan Ferdinand II dari Aragon, melakukan serangan militer terhadap pemerintahan Islam di Granada. Serangan tersebut berakhir dengan kekalahan Granada, serta mengakhiri semua pemerintahan Islam di semenanjung Iberia (al-Andalus) tersebut.
Kaum muslim dibohongi oleh tentara Salib. Mereka dijanjikan jaminan keselamatan untuk keluar dari Spanyol, bahkan disediakan kapal-kapal yang tertambat di pelabuhan sebagai alat transportasinya. Kaum muslim yang curiga dengan tawaran tersebut diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal yang sudah dipersiapkan. Setelah benar-benar melihat kapal-kapal tersebut, mereka pun bersiap untuk meninggalkan Granada.
Keesokan harinya, penduduk Muslim Granada terbagi dua. Ada sebagian yang meninggalkan rumah mereka dan berangkat menuju pelabuhan, sebagian yang lain bertahan di rumahnya karena tidak mempercayai tentara Salib. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, tentara Salib itu membakar rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Adapun umat Islam yang menuju pelabuhan pun tidak mengalami nasib yang lebih baik. Tentara Salib membakar kapal-kapal yang ada, kemudian mereka menghunus pedang untuk membantai seluruh umat Islam yang telah berada di pelabuhan. Konon peristiwa pilu yang diawali dengan kebohongan pasukan salib ini terjadi pada 1 April 1487 M, bertepatan dengan 892 H. Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai April Fools’ Day yang belakangan menjadi tenar dengan sebutan April Mop. Khusus untuk cerita 1 April 1487 M ini memang masih ada yang meragukan. Namun, terkait serangan pasukan salib ke Granada, serta pembantaian terhadap kaum muslim Andalusia merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan.
Muhammad Tariq Ghazi, penulis buku ‘The Cartoons Cry’ menyangsikan cerita tersebut. Salah satu alasan beliau adalah bahwa Granada jatuh ke tangan pasukan Salib pada 2 Januari 1492 M. Abu Abdullah Muhammad, penguasa Islam terakhir di Granada dan Andalusia menyerahkan kunci Granada kepada Raja Ferdinand. Inilah hari berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia. Hari keruntuhan kekuasaan Islam setelah selama delapan abad Islam berkuasa sejak tahun 92 H. Oleh karena itu, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak mempercayai begitu saja cerita asal muasal April Mop tanpa memeriksanya terlebih dahulu dengan kaidah ilmiah. Bahkan menurut beliau, bisa jadi cerita dibuat sebagai bagian dari April Mop itu sendiri untuk membodoh-bodohi umat Islam.
Walhasil, sesuai dengan tradisi April Mop yang membolehkan bohong dan dusta, sejarah kemunculannya pun menjadi simpang siur karena banyak bercampur dengan Hoax (pemberitaan palsu).
Terlepas dari banyaknya versi terkait asal usul April Mop, tetapi kesamaannya adalah perayaan April Mop bukanlah berasal dari Islam. Karena itulah merayakannya bisa terkategori tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir. Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud). Kalimat celaan tegas “termasuk bagian dari mereka” merupakan indikasi keharaman perilaku tersebut.
April Mop terkategori hadlarah, yaitu kebudayaan yang terlahir dari pandangan hidup tertentu. Perayaan April Mop merupakan buah ideologi sekulerisme yang telah melahirkan liberalisme dan permisivisme. Sehingga, materilah yang menjadi standar kebahagiaannya dan manfaat sebagai tolok ukur perbuatannya. Dusta, lelucon dan mengerjai orang tidak lagi ditinjau dari sudut pandang syariah, tetapi dari sudut pandang kebahagiaan materi dan manfaat semata, bahkan dikapitalisasi karena dipandang menguntungkan secara materi. Padahal Rasulullah Saw sangat mencela dusta dan mengkategorikannya sebagai salah satu tanda kemunafikan.
Selain itu, dua kisah di awal tulisan ini bisa menjadi ibroh. Tradisi dusta dan lelucon khas April Mop telah berbuah petaka. Padahal Rasulullah Saw bersabda : “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari). Rasulullah Saw pun mengingatkan, “Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allâh akan menyulitkannya.” (HR. Ibnu Majah).
Kaum muslim terus menerus menjadi objek serangan budaya. Meskipun perayaan April Mop di Indonesia belum seheboh Valentine Day, tetapi dari tahun ke tahun pembudayaannya semakin meningkat. Sebagai contoh lain, kita tentu masih ingat bahwa pada tahun 90-an budaya mngerjai orang pada tanggal kelahirannya merupakan sesuatu yang asing. Akan tetapi kita bisa lihat kondisi saat ini, pembudayaan yang massif telah menjadikannya sebagai kebiasaan tahunan mulai dari anak SD. Inilah serangan budaya. Semuanya terjadi karena pengabaian hukum-hukum Allah Swt (Syariah).
Apabila Syariah Islam diterapkan secara sempurna, penerapannya di bidang pendidikan akan membentuk pola pikir dan pola sikap Islami. Generasi muda akan dibina untuk memilih budaya hanya berdasarkan standar hukum Syara’, yakni halal dan haram. Ekonomi Islam pun tidak akan menjadikan budaya kufur sebagai aset, baik untuk pemasukan negara maupun individu individu. Bahkan sebaliknya, negara akan mengoptimalkan budaya Islam sebagai sarana dakwah terhadap non muslim. Selain itu, penerapan sistem sanksi Islam akan mencegah penyebaran dan pemanfaatan budaya selain Islam. Pelakunya akan dikenai peringatan maupun takzir. Namun, semuanya tentu hanya dapat diterapkan secara sempurna di dalam sistem khilafah, yang dipimpin oleh seorang imam/khalifah. Benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw : “Sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya.” (HR. Muslim). Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(Ary Herawan, Pendidik di SMPT Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar