Kamis, 29 Oktober 2015

Makna Oportunistik Terorisme

Makna Oportunistik Terorisme
Duarrr!  Bom meledak di Mall Alam Sutera. Para pengamat 'profesional' langsung berkomentar. Topik utama pembicaraan langsung seputar terorisme dan ancaman nyatanya. Bahkan tak jarang dibumbui dengan kemungkinan jaringan anu dan anu. Bila ternyata pelakunya muslim, akan ramailah pemberitaan tentangnya, seolah tuduhan terorisme menemukan muaranya. Akan tetapi, jika pelakunya bukan muslim, lama kelamaan tuduhan itu akan menghilang, seiring berita yang tenggelam (baca: ditenggelamkan).

Bom yang dijuluki The Mother Of Satan ini, bagaikan pembalik atas berbagai makar dan tuduhan yang mengindentikkan terorisme dengan Islam. Terduga lone wolf bomber yang bernama Leopard, ternyata seorang non muslim. Padahal sebelum pelakunya tertangkap, kicau opini sudah ke sana ke mari, wira wiri menuduh teroris itu dan ini.

Istilah teroris dan/atau terorisme sudah memiliki makna oportunistik. Makna yang hanya berpijak pada kepentingan tertentu, dan tidak berpijak pada prinsip yang tetap. Karena, jika kita mengikuti alur berpikir para pemberi istilahnya. Misal, karena motifnya pemerasan maka kasus bom Mall Alam Sutera tidak bisa dikategorikan teroris. Kemudian pelaku yang tidak memiliki motif politis. Kita tentu bertanya, bagaimana dengan gerombolan OPM? bukankah mereka bersenjata dan memiliki motif politis yang utama? Tetapi sampai sekarang pun pemerintah RI tidak pernah mengkategorikannya sebagai tindakan terorisme. Meskipun sudah banyak korban akibatnya dan menimbulkan teror tersendiri di tengah masyarakat.

Adapun jika yang dipakai standar dalam penggunaan istilah terorisme adalah tingkat kengerian dan jumlah korban. Tentunya agresi AS ke dunia Islam, merupakan kejahatan yang mengerikan dan paling banyak memakan korban. Tetapi, pemerintah RI tidak berani mengkategorikan AS sebagai negara teroris, malah bermesraan dan memfasilitasinya untuk memeras SDA dan SDM negeri ini.

Makna oportunistik terorisme ditarik ulur hanya untuk menyudutkan Islam dan kaum muslim, bukan yang lain. Buktinya, lihat saja barang bukti yang sering ditampilkan dalam penangkapan para terduga teroris, biasanya buku-buku atau kitab yang berlatar belakang Islam. Istilah-istilah yang dilekatkan pun selalu diidentikkan dengan berbagai istilah yang ada di dalam Al Quran, mulai dari Jihad, Fai sampai ke Thaghut.

Makar ini tentu tidak terlepas dari ketakutan Barat terhadap Islam dan kaum muslim. Terutama, kaum muslim yang sangat muak dengan penjajahan AS. Atau kaum muslim yang mencari solusi atas derita negeri, seraya mengajak masyarakat untuk kembali meniti aturan Ilahi. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Ary Herawan
www.aryherawan.blogspot.com.

Tulisanku Malam Ini

Tulisanku Malam Ini
(Menulis Apapun selama 30 menit)

Malam ini, entah apa yang akan kutuliskan. Namun, ini adalah bentuk komitmenku pada tujuan, komitmenku pada program Sang Pembelajar. Program yang aku canangkan sendiri untuk diriku. Meskipun waktu telah menunjukkan jam 22.48 wib, tetapi utang waktuku pada programku masih tersisa. Yakni, muroja’ah hafalan dan menulis selama 30 menit. Oleh karena itulah, apapun harus aku tulis. Inilah realisasi dari program menulis apapun selama 30 menit. Karena kita tidak menulis karena kita ingin menulis, tetapi kita menulis karena kita harus menulis.
Sebenarnya, ingin sekali diri ini mengkritisi pengesahan RUU Pengupahan. Karena bila ditelaah, pengesahan RUU tersebut hanyalah program itu melanggengkan dominasi para kapital (pemilik modal), tentunya siapa di balik mereka kita pun tahu, tiada lain adalah para pemodal asing. Selain itu, ingin juga menulis tentang kunjungan Jokowi ke AS. Sungguh terang-terangan presiden AS Barrack Obama mengatakan bahwa pertemuan itu lebih untuk kepentingan AS. Sudah nyata seperti itu, kok sampai didatangi segala.
Ada juga fakta tentang pemberian sumbangan dari AS lebih dari 2 milyar untuk menangani kebakaran lahan. Ingin juga mengkritisinya sebagai bagian dari membongkar makar penjajah. Bagaimana AS terlihat sok peduli lingkungan, padahal pada kenyataannya. Negara-negara besarah yang banyak melakukan perusakan lingkungan.  Bahkan mereka membuat program jual beli karbon untuk menyeimbangkan lingkungan. Mereka buang emisi karbonnya secara bebas, biarlah negara berkembang dan miskin yang melakukan penanaman guna mengurangi emisi karbon.
Di benak ini, terlintas juga untuk menyelesaikan cerpen tentang “Aku dan Sepeda Baruku”, atau “Secercah Hidayah di Surau Sekolah”. Namun, seolah ada hambatan dari mana memulainya. Seperti mood dan tidak mood itu tidak bisa diciptakan. Memang benar, apa yang saya kutip dari bukunya Much. Khoiri, kita tidak menulis karena kita ingin menulis. Buktinya, ingin menulis ini, ingin menulis itu, tetapi tidak ada satu pun yang ditulis. Akan tetapi, tulisan ini ditulis dengan penekanan bahwa aku harus menulis. Terbukti, jadilah tulisan ini.
Tulisan ini sengaja mengalir begitu saja. Saya ingin tahu sejauh mana saya bisa bertahan menulis apapun selama 30 menit. Masa iya yang buat program tetapi tidak bisa menjalankannya. Padahal tadi malam program menulis apapun selama 30 menit, saya lewatkan begitu saja. Begitu pula upload  tulisan ke blog pribadi, terlewatkan sekali (dari target 2 hari sekali).
Sebenarnya, malu juga kepada diri sendiri. Terutama jika membaca buku-buku yang mengajak pada kehidupan liberal (serba bebas). Diri ini belum mampu membantahnya dengan menerbitkan buku juga. Seperti beberapa hari yang lalu di perpustakaan sekolah, menemukan buku yang isinya penuh dengan sinkretisme, pluralisme dan gaya hidup bebas. Kesel sih, tapi mengapa aku belum bisa bikin yang lebih bagus dari mereka? Itulah yang kerap jadi pertanyaan. Oleh karena itu, jawabannya tidak lain adalah aku harus menulis apapun selama 30 menit sehari. Supaya aku menjadi terlatih dan bisa juga menerbitkan buku tahun depan. aamiiin.  
Akhir tulisan ini, saya mohon maaf karena ngantuk sudah mendera. Semoga kita bertemu di puncak kesuksesan. Aamiiin. (Ary Herawan, 29/10/2015)

Senin, 26 Oktober 2015

Perjuangan Menulis bagi Seorang Muslim

Menjadi penulis membutuhkan perjuangan, tentunya. Namun sungguh sia-sia jika perjuangan hanya berakhir menjadi tumpukan dokumen semata. Tidak mencerahkan, menggugah dan mengajak orang untuk berubah ke arah yang lebih baik. Atau bahkan sebaliknya –dan ini jauh lebih berbahaya- mengajak orang untuk bermaksiat, berbuat jahat dan berubah ke arah yang lebih buruk.

Menulis hanyalah menuangkan ide dan gagasan yang tersimpan di otak. Otak bagaikan teko, jika diisi teh manis maka ia akan mengeluarkan teh manis. Sebaliknya jika diisi teh beracun, ia pun akan mengeluarkan teh beracun. Otak yang diisi dengan informasi-informasi yang benar, tentu akan mengalirkan tulisan yang tidak hanya baik, tetapi juga mampu memperbaiki.

Kebenaran asasi bukanlah sesuatu yang subjektif, bahkan ia adalah sesuatu yang objektif. Kebenaran asasi berpijak pada aqidah. Berpijak pada jawaban atas pertanyaan mendasar manusia, mengenai dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup di dunia dan mau kemanakah setelah hidup ini.

Bagi seorang yang berpikir secara cemerlang, tidak ada jawaban yang menenteramkan hati dan akal selain jawaban Islam. Yaitu, hidup ini berasal dari Allah Swt sebagai Al Khaliq. Hidup manusia hanya untuk beribadah (tunduk patuh) kepada Allah Swt. Kemudian setelah kehidupan ini berakhir, kita akan kembali kepada Allah Swt, mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita.1)

Sungguh sia-sia jika manusia berjuang di dalam hidupnya, tetapi bukan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Ia akan mengorbankan setiap waktunya, detik demi detik, menit demi menit sampai ke tahun demi tahun untuk sesuatu yang tidak jelas. Sungguh ia akan merugi 2). Oleh karena itu, seluruh aktifitas hendaklah menjadi perjuangan untuk taat kepada-Nya, tak terkecuali aktifitas menulis.

Saat ini berseliweran ajakan kemaksiatan, kekufuran dan kemusyrikan yang dibungkus dengan tulisan yang menyenangkan. Renyah dan enak dibaca, mampu menghanyutkan para pembaca untuk mengikutinya.

Pemahaman komunisme, sekulerisme, liberalisme sampai Nazisme pun semakin banyak dituliskan. Tentunya, ia siap mengisi benak orang-orang yang haus akan pengetahuan, umumnya adalah kalangan terpelajar. Sungguh besar pengaruh para penulis. Sesuatu yang sangat beralasan, jika negara penjajah AS secara rutin mengundang para penulis dunia lewat Program Menulis Internasional yang dipusatkan di University of Lowa. Salah seorang panitia program tersebut pernah mengatakan, mengundang satu penulis lebih beruntung daripada sepuluh orang bukan penulis.3)

Para pejuang Islam pun tak boleh ketinggalan. Tanpa menafikan keutamaan kontak intensif dengan objek dakwah, menulis pun bisa menjadi senjata perang pemikiran. Sebagaimana kita baca dalam sejarah, salah satu faktor kemunduran Islam adalah masuknya pemahaman filsafat, dan itu masuk ke benak kaum muslim melalui tulisan-tulisan yang diterjemahkan. Begitupun sebaliknya, kitab-kitab tulisan para ulama salaf (terdahulu) telah terbukti berpengaruh besar terhadap dakwah Islam di Nusantara.

Ijtihad dan pemikiran para muassis gerakan Islam juga banyak terlestarikan melalui kitab dan tulisan. Ada Syaikh Hasan Al Bana, Syaikh Yusuf Al Kandahlawi, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, Syaikh Sayyid Quthb dan masih banyak lagi yang lainnya (semoga Allah Swt merahmati mereka. aamiiin), buah pikiran mereka masih menginspirasi umat sampai saat ini. Banyak orang yang telah tercerahkan, kemudian berubah lebih baik setelah mempelajari buku-buku mereka, hatta setelah mereka wafat sekalipun. Nampaklah keistimewaan sebuah tulisan, perjuangannya bisa melewati batas umur para penulisnya.

Aktifitas menulis memang membutuhkan perjuangan. Tetapi, selayaknya perjuangan menulis itu adalah demi perjuangan itu sendiri. Yakni, perjuangan membongkar ide-ide busuk, serta agitasi dan provokasi terhadap kemaksiatan. Dan tak kalah pentingnya, perjuangan untuk mempropagandakan Islam, bukan yang lain. #YukMenulis #YukNgaji.

Catatan Kaki:
1) Untuk lebih jelasnya pembahasan paragrap ini bisa membuka tulisan Saya “Simpul Besar Manusia dalam Surat Al Infithar” dan “Berpikirlah! maka Kita akan Menjadi yang Utama” di www.aryherawan.blogspot.com
2)  Lih. QS. Al Ashr
3)  Much. Khoiri. Rahasia Top Menulis. 2014. 

Minggu, 25 Oktober 2015

Menumbuhkan Cinta Menulis

Mencintai pekerjaan adalah sesuatu hal yang sangat penting, begitulah pandangan keumuman kita. Bahkan, keahlian seseorang seringkali dihubungkan dengan kecintaannya pada suatu pekerjaan. Mencintai terlebih dulu pekerjaannya, barulah ada garansi untuk menjadi ahli karenanya.

Dunia menulis pun tak luput dari pandangan tersebut. Untuk menjadi penulis, biasanya kita menghubungkannya dengan kecintaan seseorang terhadap aktifitas menulis. Misal, ketika seseorang suka menulis sedari kecil, disimpulkanlah bahwa ia berbakat menjadi seorang penulis. Benarkah mesti demikian adanya?

Penulis tidak membantah adanya kesukaan seseorang terhadap menulis sedari kecil. Mungkin memang benar demikian adanya. Penulis pun tak menampik bahwa mencintai menulis adalah sesuatu yang penting. Karena, cinta menulis akan membuat kita enjoy bersamanya. Namun, penulis kurang setuju jika cinta menulis merupakan bakat bawaan sedari lahir. Sehingga, ia tak bisa disemai dan ditumbuhkan.

Ada dua hal pokok yang bisa menumbuhkan cinta menulis. Yang pertama, cinta menulis bisa disemai dari motivasi utama. Seorang penulis dan penyair muda, Apu Indragiry, sering menekankan pentingnya “AMBAK” bagi seorang penulis. “AMBAK” adalah akronim dari “Apa manfaatnya bagiku?” (“Apa manfaat menulis bagiku?” , pen.). “AMBAK” akan menjadi motivasi utama bagi seorang penulis. Karena fitrah naluriah manusia, mencintai setiap apa yang bermanfaat baginya. Karena itulah, jika kita ingin mencintai menulis maka kita mesti menemukan “AMBAK” kita. “AMBAK” bisa dituliskan, lalu ditempelkan di tempat yang sering kita lihat. Dan yang lebih utama adalah simpan “AMBAK” itu di dalam pikiran dan hati kita, lalu kita zoom hal itu setiap saat. 

Adapun yang kedua, penulis teringat akan sebuah pepatah Jawa “Witing tresno jalaran soko kulino”, yang artinya “cinta muncul karena sering bertemu.” Bila kita cermati pepatah ini, cinta memang sering muncul dari tingginya kuantitas pertemuan. Sehingga, jika kita ingin mencintai menulis, kita harus sering ‘bertemu’ dengannya. Misal, kita buat program rutin “menulis apapun setiap hari” selama 30 menit. Tanpa perlu berpikir teori dan struktur kalimat, pokoknya menulis apapun. Bisa berupa puisi, cerpen, pengalaman pribadi atau artikel dan opini, pokoknya apapun yang mengharuskan kita untuk menulis. Sarana menulis yang dipakai pun bebas kita pilih, bisa dengan pulpen, HP ataupun netbook. Yang penting bagi kita adalah ‘bertemu’ dengan menulis.

Dengan program rutin “menulis apapun setiap hari”, kita akan diharuskan menulis. Somerset Maugham menegaskan, “We do not write because we want to; we write because we have to.” (Kita tidak menulis karena kita ingin menulis; kita menulis karena kita harus menulis!). (Much. Khoiri, 2014).

InsyaAllah, dua hal pokok tersebut akan menumbuhkan cinta menulis. Ketika cinta menulis telah tumbuh, menjadi penulis profesional pun akan selangkah lebih mudah. Semoga. #Yuk Menulis.

(Ary Herawan, Penulis adalah Guru SMKN Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya dan Peserta Akademi Menulis Kreatif)

Jumat, 23 Oktober 2015

Al Haqiiqah dan Al Majaz

(Makna Hakiki dan Majazi dalam Bahasa Arab)1)

Inilah penjelasan mengenai makna hakiki dan majazi yang penulis kutip dari kitab At-Taysiir fii Ushuli t-tafsiir.2) hal. 16-17.  Al ‘alim Atha Ibnu Khalil Abu Ar-Rasytah rahimahullahu ta’ala menjelaskan sebagai berikut :

Dengan menelaah bahasa Arab yang telah dibakukan, jelaslah bahwa sumber-sumber Arab menyebutkan dan mengartikan lafadz-lafadz mereka dalam empat jenis3) :

Pertama, Al-Haqiiqah, yang terdiri dari tiga bentuk :
    a. Al-Haqiiqah Al-lughawiyyah: Yakni, makna yang ditempatkan untuk suatu lafadz berdasarkan asal penempatannya dalam bahasa Arab. Seperti lafadz ra’sun untuk manusia atau hewan adalah bagian tubuh yang paling atas.

  b. Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah:  Yakni, makna yang ditransformasikan terhadap suatu lafadz berdasarkan penggunaan ‘urf (adat/kebiasaan) Arab, sebagai pengganti makna yang ditempatkan sebagai asalnya. Seperti penyebutan lafadz Ad-Daabbah untuk setiap yang berjalan dengan empat kaki berdasarkan ‘urf (adat/kebiasaan). Merupakan pengganti makna bahasa, atas “setiap yang merayap di muka bumi”. Maka penggunaan kalimat Ad-Daabbah merupakan Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah untuk hewan yang berkaki empat. Ini dinamakan Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah Al-‘ammah, yakni berdasarkan adat/kebiasaan Arab secara umum.
Ada pula Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah Al-‘khashshah dalam istilah para sastrawan, seperti penggunaan lafadz al-faa’il terhadap siapapun/apapun yang disandarkan perbuatan terhadapnya (pelaku perbuatan) di kalangan ulama nahwu.

  c. Al-Haqiiqah Asy-syar’iyyah: Yakni, makna yang ditransformasikan untuk suatu lafadz berdasarkan syara’. Seperti lafadz ash-sholat untuk ucapan dan aktifitas yang khusus, sebagai pengganti makna bahasa yang berarti do’a.

Kedua, Al-Majaaz
Al-Majaaz adalah mengabaikan al-haqiiqah (makna hakiki) dalam penggunaan lafadz. Makna lain yang digunakan selain makna hakiki berdasarkan qarinah (indikasi) berikut :

     a.  Terdapat penghalang untuk menggunakan makna hakiki karena suatu hubungan (‘alaqoh)
Dinamakan majaz mursal apabila hubungannya tidah mempunyai persamaan, seperti “yaj’aluuna ashoobi’ahum fii aadzaanihim” (Al Baqarah : 19). Maka penyebutan keseluruhan (al ‘ashoobi/jari-jemari’), sedangkan yang dimaksud adalah sebagian ujung jari. Hal ini dinamakan al ‘alaqoh al kulliyyah.
Dinamakan Majaz aqli apabila hubungannya itu tidak disandarkan pada selain hakikat. Misal dalam kalimat “Bana al-amiiru l-madiinah” (Sang pemimpin telah membangun kota). Kegiatan membangun kota disandarkan kepada al-amiir (Pemimpin), padahal nyatanya kegiatan pembangunan tidak dilakukan oleh pemimpin tersebut.
Kemudian dinamakan Isti’aaroh jika ada hubungan persamaan. Misal dalam kalimat “sho’udat ila ro’si l-jabali” (naik ke puncak gunung). Penyebutan al-ro’su (kepala) untuk bagian teratas gunung sama dengan penyebutan al-ro’su (kepala) secara hakiki, yaitu bagian teratas badan.
Adanya indikasi dalam semua kalimat tersebut mencegah maksud makna aslinya. Jari-jemari tidak masuk ke telinga seluruhnya, Sang Pemimpin pun tidak terjun langsung membangun kota serta gunung tidak memiliki kepala.   

     b.  Tidak terdapat penghalang untuk menggunakan makna hakiki.
Hal ini dinamakan Al-kinayah (metomini terj.). Contohnya kalimat (na’uumu adl-dluha) sebagai kinayah terhadap pemudi yang dimanja dan dilayani di rumahnya. Dalam hal ini, tidak ada indikasi yang menghalangi maksud makna hakikinya, karena pemudi tersebut bisa jadi benar-benar tidur di waktu dluha.

Diterjemahkan oleh Ary Herawan, 11 Muharram 1437 H.
  1. Judul bukanlah terjemahan, judul bab dalam kitab aslinya adalah Al lughatu l-Arabiyyah.
  2. Kitab Tafsir karya Asy-Syaikh Al ‘Alim ‘Atha Ibnu Khalil Abu Al-Rasytah (Amir Hizbut Tahrir saat ini), Darul Umah, Beirut, 2006 (ed. Mu’tamadah).
  3. Dua jenis lafadz lainnya, yaitu Al Isytiqoq dan at-Ta’rib, insyaAllah akan diterjemahkan kemudian.

Kamis, 22 Oktober 2015

Aktifitas Jihad Wali Songo

Para pengusung Islam Nusantara sering mempropagandakan bahwa Wali Songo hanya berdakwah melalui budaya. Ternyata pernyataan itu tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung menutup-nutupi aktifitas jihad para Wali Songo. Aktifitas jihad Wali Songo tercatat di dalam sejarah. Di antaranya dalam pertempuran Kesultanan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Sultan Fattah (Raden Fatah), melawan sisa pasukan Mojopahit yang dipimpin Girindro Wardhono.
Pada tahun 1481 M, pasukan gabungan dengan jumlah yang besar dipersiapkan oleh Sultan Fattah. Strategi yang digunakan adalah Supit Urang (mengepung kekuatan musuh dari berbagai penjuru). Sunan Kudus diangkat menjadi Senopati Manggolo Yudho (Panglima Tertinggi). Beliau bersenjata keris yang bernama Ciptoko atau Cintoko dan memiliki dua panji berwarna hijau. Para wali lainnya yang ikut dalam perang ini adalah Sunan Mejagung, Sunan Giri (Raden Paku) dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).
Jumlah seluruh prajurit mencapai 9.100 prajurit. Terdiri dari 40 prajurit dari Campha, 7 prajurit dari Mejagung, 40 santri dari Sunan Gunung Jati, 7 prajurit dari Gunung Srandil, Syaikh Maulana Maghribi membantu dengan mengirimkan 7 prajurit berpengalaman dari Andalusia. Sunan Kalijogo membantu 40 prajurit, 7 prajurit dari Malaka, 40 prajurit dari Pasai, 40 prajurit dari Ponorogo, 40 prajurit dari Aceh, 7 prajurit dari Sukadana, dan 8.000 prajurit dari Demak serta daerah lain. Senjata yang digunakan adalah pedang, keris serta panah api yang dibawa oleh kesatuan Surogeni yang bermarkas di Suregenen.1)
Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah, para Shahabatnya dan juga para pemimpin terbaik kaum muslimin. Bahwasanya tiada kekuatan dan kemenangan selain karena pertolongan Allah Swt semata. Sunan Kudus memerintahkan pasukannya untuk menunaikan shalat jamaah terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan dengan berdoa memohon kemenangan kepada-Nya.
Strategi yang digunakan untuk menggentarkan musuh saat itu, mirip dengan strategi Khalid bin Walid r.a. ketika menghadapi pasukan Romawi dalam perang Mu’tah.2) Atas nasihat Sunan Kalijaga, pasukan dipencarkan menjadi kelompok-kelompok kecil yang banyak. Masing-masing kelompok menyalakan api unggun, sehingga pasukan kaum muslim terkesan amat banyak. Pasukan Mojopahit pun menjadi gentar melihatnya.
Pertempuran antara pasukan Islam Demak dan Pasukan Girindro Wardhono berlangsung dahsyat. Melihat pasukan kaum muslim yang tampak banyak, pasukan Mojopahit kocar-kacir melarikan diri. Sunan Kudus memerintahkan pasukannya untuk mengejar musuh yang lari ke arah timur. Ketika sampai di Trowulan, ternyata kota tersebut telah dikosongkan. Sehingga dengan leluasa pasukan Demak mengumpulkan semua pusaka Mojopahit lalu memboyongnya ke Demak sebagai harta rampasan perang.3)
Para wali pun berperan dalam persiapan aktifitas jihad pasukan kaum muslim. Jajaran komandan tertinggi militer kesultanan Demak juga pernah dijabat oleh para Sunan. Di antaranya adalah Sunan Ngudung dan Sunan Kudus. Pada saat Sunan Kudus menjadi Senopati, pasukan dibagi menjadi dua, yaitu pejalan kaki dan pasukan berkuda. Sunan Kudus merekrut prajurit yang tangguh dengan seleksi yang ketat. Menurut Babad Mojopahit dan Babad Para Wali Jilid 3 hal. 19-204), seleksi prajurit dilakukan di alun-alun depan Masjid Agung Demak pada setiap pagi. Kyai Patih Wonossalam menguji setiap calon yang akan direkrut menjadi prawiro tamtomo diadu dengan seekor banteng. Jika calon prajurit dapat mengalahkannya tanpa senjata, maka ia akan diterima menjadi prawiro tamtomo.
Itulah bukti bahwa adanya aktifitas jihad yang dilakukan oleh para wali. Jadi, kurang tepat jika dikatakan bahwa para wali hanya melakukan pendekatan budaya semata. Terbukti, mereka pun melakukan aktifitas Jihad secara serius untuk mempertahankan kekuasaan Islam, serta memperluas penyebarannya. (22/10/2015)
(Ary Herawan, pengelola www.aryherawan.blogspot.com)

Sumber Bacaan :
   1)   Lih. Rachmad Abdullah. Sultan Fattah. Al Wafi. Solo. 2015. hal 89.
   2)   Lih. Taqiyuddin An Nabhani. Ad Daulah Al Islamiyyah (Negara Islam, terj.). Pada Bab Perang      Mu’tah.
   3)   Rachmad Abdullah. Sultan Fattah. Al Wafi. Solo. 2015. hal 89. hal. 90

   4)   Idem, hal. 140   

Selasa, 20 Oktober 2015

SEMARAK HIJRIYAH

Peringatan tahun baru hijriyah belakangan ini semakin semarak. Jauh lebih semarak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Tiap kota dan Kabupaten di Jawa Barat mengadakan pawai obor dan berbagai perlombaan. Tentu tujuannya adalah supaya umat Islam mengenal tahun baru Islam. Karena memang kita akui, mayoritas umat Islam lebih banyak mengenal penanggalan masehi dibandingkan hijriyah.
Berbagai maksud baik dalam rangka tahun baru hijriyah patut diapresiasi. Akan tetapi, semarak kegiatan tahun baru hijriyah tidak boleh membuat kita melupakan maknanya.

Penamaan bulan qomariah memang sudah ada sebelum Nabi Muhammad Saw diutus. Akan tetapi, perhitungan tahun hijriyah ditetapkan setelahnya, yakni pada masa Khalifah Umar bin Al Khaththab r.a. Umar menetapkan tahun pertama hijriyah bertepatan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Sebuah peristiwa yang sangat berharga dalam rangkaian sejarah dakwah Islam.

Rasulullah Saw berangkat hijrah pada malam 27 Shafar tahun ke-14 kenabian, atau bertepatan dengan 12 September 622 M. Rasulullah Saw hijrah ditemani shahabat Abu Bakar Ashshiddiq r.a. Mereka berdua sampai di Madinah pada hari Jum’at 12 Rabi’ul Awwal 1 H, setelah sebelumnya singgah di Quba pada hari Senin 8 Rabi’ul Awwal 1 H. Masyarakat madinah menyambutnya dengan semarak dan penuh antusias. Hampir tiap hari mereka memandangi padang pasir yang luas, menanti-nanti Nabi sekaligus pemimpin yang sangat mereka cintai.

Semarak kaum mukmin pada masa itu sangatlah sarat makna. Kegembiraan mereka terpancar dari keceriaan wajah, tutur kata dan bait-bait syair yang dilantunkannya. “Bulan purnama telah menyinari kita. Dari Tsaniyatul Wada’. Wajiblah kita lantunkan syukur. Selama ada yang mengajak kepada Allah. Wahai orang yang diutus kepada kami. Engkau telah membawa perkara yang ditaati. Kesemarakan yang terlahir karena rasa syukur. Setelah lama mereka larut dalam kehidupan jahilyyah, datanglah Rasulullah Saw. Utusan Allah sekaligus pemimpin yang mengajak Iman kepada Allah Swt, serta taat kepada-Nya.

Tidak hanya kaum Anshar, kaum Muhajirin pun menyambut perintah hijrah ini dengan banyak pengorbanan. Ummu Salamah yang terpisah lebih dari setahun dengan suami dan putrinya. Kemudian Ayyasy yang dijebak dan ditahan di Makkah selama 2 tahun. Pengorbanan Abu Bakar Ashshiddiq yang menemani perjalanan hijrah Rasulullah Saw. Atau Shuhaib bin Sinan Ar Rumi yang meninggalkan seluruh hartanya, kemudian berhijrah hanya dengan jubah yang dipakainya. Sampai turun firman Allah Swt mengenainya, yang artinya : “dan di antara manusia, ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (TQS. Al Baqarah[2] : 207). Sungguh perniagaan yang sangat menguntungkan.

Hijrah Rasulullah Saw dan kaum Muhajirin semarak syukur atas Iman serta ketaatan kepada Allah Swt. Karena itulah, kaum Muhajirin dan Anshar sangat menikmati setiap perjuangan dan pengorbanan karenanya. Setelah hijrah, wahyu Allah yang telah turun, diterapkan menjadi hukum positif di masyarakat. Adapun yang turun setelahnya, diterapkan secara langsung tanpa menunda-nunda.

Hijrah merupakan momentum penting rangkaian dakwah Rasulullah Saw. Ketika sebelum hijrah, benteng keimanan kaum muslim hanyalah dirinya sendiri. Sehingga, tak sedikit kaum muslim yang disiksa, bahkan dibunuh hanya karena agamanya. Setelah hijrah, masyarakat dan negara pun menjadi benteng penjaga keimanan. Karenanya Islam benar-benar terjaga dari berbagai penodaan terhadapnya. Ketika sebelum hijrah, Rasulullah mengecam kebiasaan maksiat, misal kebiasaan berbuat curang kaum jahiliyyah secara lisan semata (lih. Q.S. Al Mutahffifin). Setelah hijrah, Rasulullah Saw menerapkan sistem ekonomi Islam secara utuh. Bahkan, Rasulullah pun mengangkat para qadli hisbah, serta melakukan inspeksi ke pasar untuk mencegah berbagai praktek kecurangan. Sebelum hijrah, posisi Rasulullah Saw tidak diindahkan. Setelah hijrah, orang kafir di Madinah pun tunduk dan patuh kepadanya, beliau menjadi pemutus berbagai perselisihan di tengah masyarakat. Sebelum hijrah, kaum muslim diboikot dan diembargo. Setelah hijrah kaum muslim memiliki wilayah kekuasaan yang terus meluas seiring menyebarnya dakwah Islam. Setelah hijrah, dengan penerapan hukum Allah secara sempurna, kaum muslim memiliki izzah (kemuliaan).

Islam tidak hanya sekedar konsep yang dapat dibaca dalam Al Quran, namun teraplikasi sampai metode teknis pelaksanaannya. Setelah menjadi pemimpin di Madinah, beliau Saw menerapkan aturan dengan wahyu sebagai rujukan. Rasulullah Saw mengangkat para wali (pemimpin setara gubernur), menyiapkan pasukan, mengurus pengelolaan sumber daya alam. Beliau saw pun menyiapkan para tabib, pendidik, para tentara, para penarik zakat dan sebagainya.

Hijrah Rasulullah menjadi momentum transformasi masyarakat, dari yang ahli maksiat menjadi ahli taat. Setelah 13 tahun Rasulullah dan para shahabat menghela perubahan ke arah Islam dengan perjuangan dan pengorbanan. Mulai dari waktu, tenaga, harta dan kedudukan, bahkan nyawa karena kedzaliman penguasa Makkah pada saat itu. Akhirnya, kaum muslim mendapatkan pertolongan Allah Swt melalui kaum Anshar. Oleh karena itu, luapan semarak syukur kaum Muhajirin dan Anshar sungguh tak terkira. Pada hari itu, bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah Swt.

Mari kita bandingkan dengan semarak peringatan tahun baru hijriyah yang kita lakukan saat ini. Sudahkah kita semarak bergembira karena hukum Allah Swt diterapkan sempurna. Ataukah kita bersukacita hanya karena isi acara yang penuh hiburan dan hadiah semata. Tentu kita bisa menjawabnya dengan hati yang jujur. Tentunya, peringatan tahun baru hijriyah bukanlah pawai obor semata, tetapi sejauh mana perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dan bagi kaum mukmin, tidak ada yang lebih baik daripada diterapkannya hukum Allah Swt secara sistemik dan paripurna. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

Minggu, 18 Oktober 2015

#Secercah Hidayah di Surau Sekolah# 2

(Cerita Fiksi)

Ajakan yang Menggelisahkan

“Teeet....!” Bel sekolah berbunyi.
Siswa dan siswi SMA Sambongpari Kota Tasikmalaya berhamburan keluar, tak terkecuali Dadan.
   “Aduh, panas sekali hari ini!” Keluhnya. “Tapi, ndak apalah, ada Nasi Padang kesukaanku menanti di rumah, “ ia menghibur dirinya.
Tak terasa, air liurnya hampir saja menetes, membayangkan Nasi Padang kesukaannya. Suasana yang panas terik seakan langsung menjadi adem. Musim kemarau belakangan ini, memang membuat cuaca di Kota Resik menjadi terasa lebih panas dari biasanya.

Dadan langsung menuju ke halaman sebelah barat sekolah. Tempat ia biasa menyimpan sepedanya.
Sesaat sebelum beranjak pergi dengan sepeda merahnya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil.
“Hei..., hei...!”
Dadan berhenti, menolehkan wajah ke arah orang yang memanggilnya.
“Oh, ya. Kamu memanggilku?” Tanya Dadan. Kedua alisnya mengangkat dengan dahi mengerut.  Terlihat di hadapannya seorang siswa yang berpakaian dengan sangat rapih.
Belum sempat siswa tersebut menjawab. Dadan masih bertanya lagi.
“Ada perlu apa Rif?” Lanjut Dadan. Ia memang mengenali siswa tersebut, karena ia teman satu kelasnya.
“Iya, manggil kamu dong Dan.“ Jawab Arif. “Tak kirain kamu belum kenal aku?” Tanya Arif dengan penuh senyuman.
“Masa sih aku ga kenal kamu.” Jawab Dadan dengan membalas senyuman Arif.
“Kamu kan yang kemarin ikut lomba pidato SMA tingkat Kota Tasikmalaya itu kan?” Tanya Dadan.
“Masa ga kenal, kan beberapa kali kamu dipanggil keluar kelas oleh Pak Randi.” Jelasnya.
“Oh iya ya...,” Jawab Arif malu-malu. Ia tak menyangka, jika siswa baru pendiam ini mengenali dirinya.
“Pak Randi memanggilku berkali-kali untuk latihan pidato di ruang guru”, Arif melanjutkan ucapannya.
“Terus gimana, menang lomba pidatonya?” Tanya Dadan penasaran, seraya kembali berjalan pelan sambil mendorong sepedanya.
Dengan tersenyum lebar, Arif menjawab, “Alhamdulillah, dapat pengalaman berharga.”
Arif berjalan mengiringi Dadan.
“Juara berapa?” Dadan penasaran.
“Belum...” Arif berhenti sejenak. “Peserta lain banyak yang jauh lebih bagus dariku. Tapi aku senang kok.” Jelas Arif.
“Ga juara kok senang...” Dadan menimpalinya dengan agak ketus.
Arif tersenyum, lalu berkata, “Dan, Allah Swt itu tidak hanya melihat hasil. Tetapi Ia juga menilai prosesnya.”
Dadan termenung dengan penjelasan Arif, ia belum memahaminya.
“Maksudnya gimana Rif?” Obrolan mereka semakin akrab, Dadan seakan mulai lupa dengan Nasi Padangnya.
“Iya, dalam pandangan manusia, apa yang aku lakukan mungkin tidak ada hasilnya.” Jawab Arif. “Tetapi selama aku menjalani proses persiapan, latihan kemudian pidato ketika lomba. Allah pasti melihatnya.” Lanjutnya.
Dadan mendengarkan ucapan Arif dengan seksama.
“Dan InsyaAllah, Allah yang akan menilainya. Adapun hasil, itu sudah merupakan Taqdir.” Jelas Arif. “Kita harus qonaah” Lanjutnya. Tangan Arif mulai beraksi, bak Pak Randi ketika menjelaskan materi Pelajaran Agama Islam.
“Wah..ga ngerti aku. Apa itu taqdir dan qonaah” Dadan mengernyitkan dahi, pertanda ia serius menyimak. Ingin sekali ia banyak berbicara dengan Arif, tapi perutnya mulai terasa lapar.
“Eh, tapi kamu tadi manggil aku untuk apa?” Tanya Dadan kembali ke pencetus obrolan akrab mereka.
“Oh iya ya,” Kata Arif sambil garuk-garuk dan tersenyum. “Besok, Rohis mau mengadakan acara pengajian dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Kamu hadir ya?” Arif bertanya sambil memegang pundak Dadan. Anak ini memang suka sok akrab, tetapi biasanya orang suka luluh dengan ajakannya.
“Kamu kan belum aktif di eks kul manapun. Ayolah, bantu-bantu di Rohis.” Arif melanjutkan ajakannya.
“Deg !”, Jantung Dadan serasa berhenti berdetak. Dadan tiba-tiba terdiam. Ia malah mempercepat langkah menuju gerbang sekolah.
“Kenapa kamu tiba-tiba diam Dan?” Arif keheranan. “Aku minta maaf ya, jika ada kata-kataku yang menyinggungmu.” Arif menjadi kikuk dengan perilaku Dadan.
“Ga, ga apa-apa kok Rif.” Jawab Dadan singkat.
Arif semakin penasaran, “Oh ya sudah jika ga ada apa-apa, tapi kamu bisa hadir kan?” Tanya Arif.
“Eh...eh...” Mulut Dadan terkatup kelu. Serasa berat untuk berucap. Tetapi obrolan akrab mereka sedari tadi, membuyarkan keraguan Dadan untuk menjawab pertanyaan Arif.
“Aku sebetulnya malu.” Jawab Dadan pelan.
“Malu kenapa Dan?” Arif semakin penasaran.
“Aku...aku....” Lidah Dadan terasa keras, tenggorokannya pun laksana tersekat benda padat. Dengan sangat pelan, Dadan menjelaskan berkata : “Aku tidak bisa membaca Al Quran.”
Wajah Dadan memerah, tampak sekali ia malu karena pengakuannya.
Arif mengerti dengan kondisi lawan bicaranya. Ia pun berusaha membesarkan hati Dadan.
“Oh, besok itu hanya acara pengajian kok Dan.” Jelas Arif. “Tidak ada tes baca tulis Al Quran. Lanjutnya sambil mengusap-usap punggung temannya. Dengan tersenyum, Arif melanjutkan penjelasannya,
“Kita hanya duduk dan mendengarkan saja kok Dan. Tidak lebih dari itu.” Ucap Arif.
“Jadi, kamu bisa hadir ya?” Tanya Arif kembali.
“Beneran Rif, tidak akan disuruh membaca Al Quran?” Dadan seolah tidak percaya.
“Insya Allah, pasti tidak ada. Aku jamin. Kan aku ketua panitianya.” Jawab Arif.
Dadan sebetulnya tetap malu untuk hadir. Karena, selain tidak bisa membaca Al Quran. Ia juga sudah lupa kapan terakhir ia melaksanakan shalat. Seingatnya, ia terakhir shalat pada saat akan diwisuda TPA, sekitar 5 tahun yang lalu, itu juga karena acaranya di samping masjid. Sehingga, banyak sekali bacaan-bacaan shalat yang sudah ia lupakan. Akan tetapi, ia tidak enak juga jika harus menolak ajakan Arif. Masa untuk duduk dan mendengarkan saja ia tidak mau hadir.
Melihat temannya kebingungan, Arif lalu berkata, “Dan, semua manusia itu menjalani proses. Dan Allah Swt pasti menilai semua prosesnya.”
Kata-kata ini bukan datang dari seorang Jamil Azzaini atau seorang Mario Teguh, atau para motivator tingkat nasional lainnya. Tetapi, tutur kata Arif yang tenang membuat kalimat itu serasa penuh makna. Hati Dadan pun luluh untuk menerima ajakan Arif.
“Iya deh, aku pasti hadir.” Jawab Dadan. “Tapi...” Lanjutnya dengan ragu.
“Tapi apa Dan?” Tanya Arif.
“Beneran tidak akan disuruh membaca Al Quran ya?” Tanya Dadan belum yakin.
“InsyaAllah..., tidak akan, aku jamin....” Arif menjawabnya dengan penuh keyakinan.

======

Kamis, 15 Oktober 2015

#Secercah Hidayah di Surau Sekolah#

(Cerita Fiksi)
Bagian 1

     "Buk! "
Dadan melempar tas punggungnya ke sudut kamar. Wajahnya merah dan kusut.
     "Sial! Mengapa nasibku jelek seperti ini?"
Ia menggerutu sendiri seraya membantingkan badannya ke kasur.
      "Gedebug!"
Matanya lurus menatap langit-langit kamarnya. Seraya bergumam sendiri.
       "Seandainya ayah masih sekaya dulu, tentu aku tidak akan secapek ini."
Masih terbayang di benaknya, ia mengayuh sepeda pergi pulang sekolah. Padahal jarak rumah ke sekolahnya sekitar 5 km.
Hampir setiap hari Dadan meratapi nasibnya. Sebagai anak tunggal yang dibesarkan dalam kemewahan, tentu perlu banyak beradaptasi bila harus hidup dalam kekurangan.
Dadan menatap langit-langit kamarnya. Lamunannya hanyut dalam keindahan masa lalu.
         "Daaan, dadaan..!" Teriakan ayah membuyarkan lamunannya.
Tetapi sedikit pun Dadan tak mau beranjak dari tempat tidurnya.
         "Ngapain sih ayah teriak-teriak?" Ucapnya dalam hati.
         "Lah..., paling juga nyuruh makan siang". Lanjutnya, dengan wajah masam.
          "Dadaaan!" Untuk ke sekian kalinya ayah memanggilnya dari dapur.
          "Ngapain sih Yah?" Sahutnya seraya berteriak.
Tetapi, sedikit pun Dadan tidak menghampiri ayahnya. Padahal, jarak kamarnya ke dapur hanya 5 meter. Tidak seperti rumah mewahnya dulu, untuk berjalan dari kamar menuju dapur pun harus melewati taman dan kolam ikan terlebih dulu.
        "Makan dulu Nak!" Ajak Ayah.
Ayah pun berjalan menuju kamar Dadan. Nampak di hadapannya, seorang anak berseragam SMA yang sedang terbaring.
       "Kamu pasti capek kan? Tanya ayah dengan penuh senyuman.
       "Makan dulu yuk!" Lanjutnya.
         
Dadan malah menatap ayahnya dengan wajah dingin cemberut.
          "Aku tidak mau makan Yah," tolaknya.
          "Aku bosan dengan masakan ayah. Aku hanya mau makan di rumah makan." Lanjutnya dengan ketus.
Ayah paham bahwa yang dimaksud Dadan adalah RM Sederhana, rumah makan Padang langganan keluarganya dahulu, di saat bisnisnya masih maju dan berlimpah.
Sambil duduk di samping Dadan, ayah mengusap-usap pundak Dadan seraya berkata,
          "Besok lagi ya Nak, hari ini kebetulan cuci motor ayah sedang sepi." Jawab ayah.
           "Tapi, Ayah janji ya...?" Dadan mulai melunak. Pak Fuad memang pintar mengambil hati anaknya.
           "Iya Nak, Ayah janji." Jawabnya meyakinkan anak semata wayangnya.
         
          "Besok bila cuci motor Ayah rame, pasti Ayah belikan, " lanjutnya.
           "Ya sudah Yah, aku mau tidur dulu ya.." kata Dadan sambil berbalik badan.
Dadan memeluk guling kesayangan, lalu menutupi sisi wajahnya. Seraya pikirannya melayang, berharap yang terjadi kepadanya hanya mimpi semata.
           "Mimpi yang indah ya Nak." Jawab Pak Fuad seraya menatap wajah putranya dengan penuh cinta.
Cukup lama Pak Fuad memandangi Dadan. Matanya yang sayu, berkaca-kaca, tak terasa butiran air mata terkumpul bening di sudut matanya. Setiap kali melihat Dadan, ia teringat mendiang istrinya tercinta. Istrinya wafat karena kecelakaan lalu lintas setahun yang lalu.
(Bersambung)

Senin, 12 Oktober 2015

Penjelasan Mengenai Bertambah dan Berkurangnya Iman *)

Lafadz “Az ziyadah” (bertambah) dan “An Nuqshon” (berkurang) adalah lafadz musytarak (memiliki banyak makna, pen.) dalam bahasa. Terkadang bermakna pertambahan dan pengurangan nilai, yakni dalam hal luas dan volume, terkadang bermakna menguat dan melemah. Adapun qarinah (indikasi) yang membatasinya adalah maksudnya. Apabila yang dimaksud adalah “Az ziyadah” (bertambah) dan “An Nuqshon” (berkurang) dalam hal keimanan, maka sesungguhnya yang dimaksud adalah menguat dan melemah, karena pembenaran yang pasti tidak boleh mengalami penambahan dan pengurangan nilai. Hal ini dapat dipahami dari berbagai ayat berikut :
     1.       Q.S. Ali Imran[3] : 173

                                         الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang berkata kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerena itulah takutlah kepada mereka, maka bertambah kuatlah keimanan mereka, dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik pelindung.”
     2.       Q.S. Al Anfal[8] : 2

                                    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (adalah) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambah kuatlah imannya dan kepada Tuhan mereka bertawakal.”
     3.       Q.S. Al Ahzab[33] : 22, yang artinya :
  
                         وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (pasukan Ahzab) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah, kecuali keimanan dan keislaman mereka.”

Bahwasanya kaum mukmin telah kuat dan kokoh keimanannya disebabkan berbagai perkara yang telah Allah Swt jelaskan dalam ayat-ayat tersebut. Semua itu karena makna keimanan sebagaimana yang telah kami jelaskan (pembenaran yang pasti dan sesuai fakta berdasarkan dalil). Ia tidak boleh mengalami penambahan dan pengurangan  yang bermakna nilai. Karena hal tersebut akan menjadi (pembenaran) yang tidak pasti, berpaling menjadi dugaan dan keraguan, dan menjadi kekufuran.

*) Tema ini merupakan terjemahan dari hal. 47 kitab At Taisiir Fi Ushuli t-Tafsiir karya Syaikh Al ‘Alim Atha Ibnu Khalil Abu Ar Rasytah (Amir Hizbut Tahrir).

Diterjemahkan oleh : Ary Herawan, 29 Dzulhijjah 1436 H

Jumat, 09 Oktober 2015

Langit-langit

Langit-langit

putih seputih warna putih langit

Langit-langit
Kutatap
bersih sebersih terang bersih langit

Adakah dirimu di sini?

Ary Herawan

Baitul Marhamah, Penghujung Dzulhijjah 1436 H

Kamis, 08 Oktober 2015

Wana yang Teraniaya

Hidung yang  tersandera
Tenggorokan yang meradang
Paru yang terjelaga
Nyawa yang meregang

Ini,
Wana yang teraniaya,
Rusak, lumpuh, terluka karena serakah kapitalis pendosa

Alam yang tersiksa,
Hancur, lemah, ternoda karena regulasi nafsu manusia

Sungguh benar firman Allah ta'ala
Rusak darat dan laut karena ulah manusia
Dosa dan maksiat karena berpaling dari hukum-Nya

Ya...Allah yang Maha Perkasa,
Segerakanlah pertolongan-Mu
Hadirkanlah para penguasa pencinta-Mu
Penyambut seruan-Mu dan Rasul-Mu
Penerap hukum wahyu-Mu

karena,
Hanya itulah satu-satunya solusi bagi negeri ini

Wana lestari dalam naungan syariah-Mu,
Pasti dan niscaya adanya

Tasikmalaya, 25 Dzulhijjah 1436 H
Ary Herawan

Rabu, 07 Oktober 2015

Anak Sehat Fisik dan Pikir

“Aku anak sehat, tubuhku kuat. Karena ibuku, rajin dan cermat. Semasa aku bayi, slalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi...”

Lantunan syair lagu tersebut terus terngiang-ngiang di telinga ini. Sekitar satu jam terus berulang sambil menunggu peresmian Posyandu di dekat rumah. Maklum, sebagai pengurus RW, saya diundang hadir pada acara tersebut.

Berbicara tentang kesehatan anak. Semua orang tua tentu menginginkan anak yang sehat. Sedikit saja anak terlihat sakit, tentu kita akan membawanya berobat. Anak yang sehat akan mudah beraktifitas, mudah belajar dan tumbuh berkembang dengan baik. Siapa pun, tidak ada yang menafikan akan pentingnya kesehatan.

Kriteria sehat tentu tidak hanya fokus ke badan semata. Tidak sedikit orang yang sehat secara fisik, tetapi ia lemah secara pikir. Di antara para pembaca, tentu pernah merasakan grogi. Terus terang, saya pernah merasakannya. Saat itu, masih kelas 3 SD. Saya diminta untuk mengikuti ajang lomba pidato. Ketika naik panggung, mendadak badan menggigil, jantung berdebar kencang, suara bergetar, penglihatan pun mendadak kabur dan tidak fokus. Semua itu terjadi bukan karena saya tidak sarapan Tetapi hanya karena di kepala ini ada rasa takut akan cemoohan dan penilaian orang lain. Takut karena isi pikiran sendiri.

Sehat, tentu dibutuhkan oleh fisik dan pikir. Begitu pula dengan anak-anak kita. Bila kita meresapi kisah Thalut, raja yang dipilih oleh Allah Swt untuk meruntuhkan kekejaman rezim Jalut. Allah Swt menegaskan bahwa ia adalah orang yang memiliki ilmu dan fisik yang kuat. (basthotan fil ilmi wal jismi) . Fisiknya mampu menghadapi berbagai rintangan di medan peperangan. Pikir-nya juga tidak mudah tertekan dengan berbagai strategi musuh. Sehingga, bila kita menginginkan anak yang sehat. Tentu tidak hanya fisiknya saja, tetapi juga pikir-nya.

Antara pikiran yang mempengaruhi fisik, atau fisik yang mempengaruhi pikiran, masih debatable. Kedua teori ini berkembang baik di dunia kedokteran tradisional maupun modern. Ada yang mengatakan orang menderita maag karena pikiran. Karena pikiran akan memicu produksi asam lambung yang berlebih. Tetapi, ada juga yang mengatakan sebaliknya. Justru, lambung yang bermasalah membuat orang mudah gelisah dan tidak bisa tidur. Akhirnya pikirannya melayang kesana-kemari, sehingga menjadi beban. Masing-masing memiliki argumentasi. Tetapi yang pasti, keduanya saling berkaitan. Oleh karena itu, baik fisik maupun pikir, keduanya harus sehat.

Tidak ada yang memungkiri, kesehatan fisik ditunjang oleh suplai makanan dengan gizi yang seimbang. Karbohidrat, protein, vitamin dan mineral semuanya dibutuhkan oleh tubuh. Akan tetapi, tidak cukup suplai makanan saja. Untuk sehat secara fisik, anak-anak kita juga membutuhkan gerak. Rasulullah Saw menekankan pada olahraga dan permainan fisik. Semisal beladiri, berkuda, memanah, berenang dan sebagainya.

Selain untuk membangun kekuatan, olahraga fisik juga bermanfaat untuk menumbuhkan keberanian dan keahlian. Kuat (secara fisik, pen) saja, tetapi tak mempunyai keberanian dan keahlian akan sia-sia.1) Selain itu, untuk menumbuhkan keberanian sejak dini, berbagai aktifitas penuh tantangan juga perlu diperkenalkan kepada anak-anak. Semisal mendaki, berkemah dan sebagainya.

Adapun sehat pikiran bukanlah semata sehat otaknya. Karena aktifitas berpikir adalah proses yang melibatkan empat komponen. Yaitu, fakta (objek), alat indera, otak dan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak).2) Sebagaimana otak yang sehat membutuhkan suplai gizi yang baik, tentu ia juga membutuhkan suplai informasi yang baik. Sebagai contoh, kita tentu sering melihat aksi para da’i cilik. Bagi mereka, pidato di hadapan kamera dan penonton, tidaklah menakutkan. Tentu karena ia diberikan suplai informasi yang baik dan mencukupi, tentang bagaimana tampil dihadapan audiens. Otaknya disuplai dengan berbagai informasi yang bergizi.

Jenis informasi yang bergizi untuk anak sangat beragam bentuknya. Berbagai kisah tauladan para Nabi dan Rasul, kisah-kisah heroik para pahlawan, termasuk ketekunan para ulama dan cendekiawan adalah informasi yang bergizi untuk membentuk anak-anak yang sehat pikirnya. Dalam benak anak, akan terbentuk keinginan yang kuat untuk menjadi sukses. Selain itu, tentu dibarengi juga dengan kesiapan menghadapi berbagai rintangannya.

Anak juga belajar menyuplai informasi dari penerimaan para orang tua. Tuntutan untuk sukses di berbagai bidang secara sempurna, tentu akan menjadi beban tersendiri bagi anak. Apalagi, jika tidak ada sedikit pun penerimaan orang tua tanpa 100% kesuksesan anak. Sang anak akan merasa tidak diterima, dalam benaknya akan terbentuk bahwa aku adalah orang yang tidak pernah sukses. Mohammad Fauzil Adhim menyampaikan bahwa banyak remaja mengalami masalah psikologis bukan karena otaknya tidak cerdas dan wajahnya mengenaskan tetapi karena penerimaan dirinya yang kurang baik.3)  

Pada saat Ummu Fadhl merenggut anaknya secara kasar karena pipis di pangkuan Rasulullah Saw. Beliau Saw menegurnya dengan mengatakan: “Pakaian ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini karena renggutanmu yang kasar?”. Kisah ini menunjukkan bahwa sikap kita adalah sumber informasi bagi anak. Sikap kasar tentu akan menjadi informasi yang tidak bergizi, sikap yang lembut penuh cinta tentu akan menjadi informasi yang bergizi.

Penulis pernah berdialog dengan salah seorang konsultan perkembangan anak. Ia sangat prihatin dengan berbagai informasi kriminalitas yang sering ditampilkan di televisi. Menurutnya, hal itu akan memberikan informasi yang berbahaya anak-anak. Pada taraf tertentu, berbagai informasi negatif itu akan membentuk rasa takut yang berlebihan. Bahkan, anak bisa menjadi takut dan merasa susah untuk menjadi sukses.  

Anak sehat tentu membutuhkan fisik yang sehat. Kesehatan fisik bisa dengan suplai gizi dan olah raga fisik. Adapun untuk pikir-nya, tentu membutuhkan informasi yang baik-baik. Informasi itu bisa terekam dari apa yang dia dengar, baca, amati dan rasakan. Oleh karena itu, mari sehatkan anak-anak kita juga dengan berbagai informasi yang menyehatkan.   

Daftar Bacaan :
        1)                Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, 2014.
        2)                Lih. Taqiyuddin An Nabhani, At Tafkir (Hakekat Berpikir, Terj.)

        3)                Mohammad Fauzil Adhim, Saat Berharga untuk Anak Kita, 2009. 

Sabtu, 03 Oktober 2015

Aku dan Sepeda Baruku

"Pah, ayo dong belikan aku sepeda!" Pintaku kepada Papah Sabtu siang itu. Mungkin itu rengekanku  yang keberapa puluh kalinya. Saat itu, aku masih kelas V SD. Melihat teman-temanku bersepeda baru, aku pun jadi ingin memilikinya. Maklum, sepeda bekas kakak pertamaku sudah mulai usang. Sehingga, hampir tiap pagi, sore dan malam, terus saja aku meminta Papah untuk membelikan sepeda baru. Bahkan, tatkala Papah baru pulang kerja pun, aku tak peduli. Keinginanku yang menggebu, telah menghalangiku dari melihat cucuran keringat dan wajah lelahnya.

"Ya, tunggu sebentar, Papah ganti baju dulu. Setelah itu, kita langsung ke toko sepeda." Akhirnya, Sabtu siang itu, Papah bersedia membelikanku sepeda baru. "Iya Pah, Asyiiik !" mataku langsung berbinar-binar dengan bibir tersenyum lebar. Tanganku pun terkepal dengan langkah penuh semangat, aku mondar-mandir menunggu Papah. Terbayang di benakku, sebuah sepeda baru yang bisa kupamerkan di hadapan teman-temanku.

Marrubeni, itulah merk sepeda baruku. Bila dibandingkan dengan punya teman-temanku, tampilannya jauh lebih trendi. Accesoriesnya pun lebih oke dan ramai. Di stangnya sudah dihiasi nomor yang membuatnya semakin keren. Warna dominannya hitam, dengan variasi kuning dan merah. Wah, pokoknya saking kerennya sepeda tersebut, sampai sekarang pun aku masih bisa membayangkannya. Aku sangat puas, karena aku yang memilihnya sendiri.

Malam Minggu itu terasa sangat panjang bagiku. Tak sabar rasanya hati ini ingin segera melewatinya. Makanya, setelah isya, aku langsung menuju tempat tidurku, sebuah dipan di kamar berukuran 2x2,25 m. Namun, mata ini susah sekali terpejam. Khayalanku jauh mendahului putaran jam dinding tua yang tergantung di ruang keluarga. Pikiranku jauh meninggalkan Sang Rembulan malam yang ditemani bintang-bintang. "Besok pagi, teman-temanku mesti kagum dengan sepeda baruku". Gumamku dalam hati dengan wajah cerah berseri. Aku terus membayangkan hari esok, bermain sepeda bersama teman-teman. Apalagi, esok adalah hari libur, aku pasti bisa puas bermain seharian. Setelah lama larut dalam lamunan, akhirnya aku pun tertidur lelap.

Seperti biasanya, Papah membangunkan putra-putrinya untuk shalat fajar. Aku pun langsung bangun dengn penuh semangat. Bahkan, seusai shalat ditunaikan, aku langsung bergegas mandi dan ganti pakaian. Sebagaimana rencana tadi malam, aku ingin segera memamerkan sepeda baruku. Setelah sarapan, aku pun langsung berpamitan untuk main. "Hati-hati ya bermain sepedanya!" Ujar Mamih padaku. "Iya Mih" jawabku yang dilanjutkan dengan ucapan salam. Aku pun mendorong sepeda menyebrangi Jl.Mayor Sl Tobing. Tujuanku adalah lapangan bermain dekat rumah nenekku di daerah Sambong Pari Kulon.

Pagi itu masih sekitar jam 7 Wib. Aku dan sepeda baruku sudah berada di lapangan yang dituju. Sebagaimana yang kubayangkan, teman-temanku langsung mengerubuti aku dan sepeda baruku. "Wah, bagus sekali sepedanya!" Puji teman-temanku. Hati ini makin berbunga-bunga mendengarnya. Tapi sayang, di antara mereka tidak ada yang mau bersepeda keliling ke luar kampung. Waktu itu, kasus penculikan anak masih sangat jarang. Sehingga, anak-anak sudah terbiasa bermain sepeda sampai melewati dua atau tiga kampung tetangga.

Aku pun memutuskan untuk bermain ke salah seorang teman sekolahku, namanya Aat, lengkapnya Aat Ruhiat. Katanya, itu adalah nama khas orang Sunda. Konon katanya kalau orang Sunda menikah dengan bule Rusia, nama anaknya mesti Cecep Ghorbachev. Kembali lagi ke Aat, ia tinggal di Sambong Babakan Kaler. Untuk sampai ke kampungnya, aku mengayuh sepeda melewati Kampung Sambong Pari Kidul dan rimbunan kebun bambu.
Aku masih beruntung, pagi itu Aat ada di rumah. Ia pun bersedia main sepeda denganku. Bahkan, ia menyarankanku untuk mengajak Cucu turut serta. Cucu Suhendar, itulah nama lengkapnya. Ia  teman sekolah kami berdua. Kami pun bermain sepeda dengan riang gembira. Tertawa-tawa, bercanda-canda dan beradu kecepatan serta saling susul-menyusul.

Semakin lama kayuhanku semakin cepat. Dengan penuh semangat, aku dan sepeda baruku jauh meninggalkan Cucu dan Aat. Aku pun tertawa riang seraya menoleh ke belakang. Ternyata, Cucu dan Aat juga bersemangat mengejarku. Aku pun mengayuh dengan lebih cepat lagi. Di tengah kayuhan cepatku, cepat tiba-tiba terdengar Cucu dan Aat berteriak lantang. "Ary Awaaas!  Ada motor di depan!" Namun, naas bagiku. Di pertigaan Sambong PLN yang sepi itu tabrakan tak terhindarkan. Aku yang sedang menyebrang dengan kencang, ditabrak sebuah sepeda motor yang juga melaju dengan sangat kencang.

"Brukk ! Gubrak! " Aku pun langsung tak sadarkan diri. Kejadiannya berlalu sangat cepat. Aku tak ingat apa-apa. Yang tersisa di memoriku, saat itu aku terkulai lemas di pangkuan orang dewasa. Kepalaku pusing dan sangat susah untuk bernafas. Kemudian salah seorang di antara mereka ada yang berkata. "Oh, ini perutnya memar membiru".

(bersambung)