Lafadz “Az ziyadah” (bertambah) dan “An
Nuqshon” (berkurang) adalah lafadz musytarak (memiliki banyak makna,
pen.) dalam bahasa. Terkadang bermakna pertambahan dan pengurangan nilai, yakni
dalam hal luas dan volume, terkadang bermakna menguat dan melemah. Adapun qarinah
(indikasi) yang membatasinya adalah maksudnya. Apabila yang dimaksud adalah “Az
ziyadah” (bertambah) dan “An Nuqshon” (berkurang) dalam hal keimanan, maka
sesungguhnya yang dimaksud adalah menguat dan melemah, karena pembenaran yang
pasti tidak boleh mengalami penambahan dan pengurangan nilai. Hal ini dapat
dipahami dari berbagai ayat berikut :
1. Q.S. Ali Imran[3] : 173
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ
فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ
الْوَكِيلُ
“(Yaitu)
orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang
berkata kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk
menyerang kamu, kerena itulah takutlah kepada mereka, maka bertambah kuatlah
keimanan mereka, dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi
kami dan Dia-lah sebaik-baik pelindung.”
2. Q.S. Al Anfal[8] : 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman (adalah) orang-orang yang apabila disebut nama Allah
gemetar hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka
bertambah kuatlah imannya dan kepada Tuhan mereka bertawakal.”
3. Q.S. Al Ahzab[33] : 22, yang artinya :
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ
وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا
وَتَسْلِيمًا
“Dan ketika orang-orang
mukmin melihat golongan-golongan (pasukan Ahzab) itu, mereka berkata, “Inilah
yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan
Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah, kecuali keimanan dan
keislaman mereka.”
Bahwasanya kaum mukmin telah kuat dan kokoh keimanannya
disebabkan berbagai perkara yang telah Allah Swt jelaskan dalam ayat-ayat
tersebut. Semua itu karena makna keimanan sebagaimana yang telah kami jelaskan
(pembenaran yang pasti dan sesuai fakta berdasarkan dalil). Ia tidak boleh
mengalami penambahan dan pengurangan yang bermakna nilai. Karena hal tersebut akan menjadi
(pembenaran) yang tidak pasti, berpaling menjadi dugaan dan keraguan, dan menjadi
kekufuran.
*) Tema ini merupakan terjemahan dari hal. 47 kitab At
Taisiir Fi Ushuli t-Tafsiir karya Syaikh Al ‘Alim Atha Ibnu Khalil Abu Ar
Rasytah (Amir Hizbut Tahrir).
Diterjemahkan oleh : Ary Herawan, 29 Dzulhijjah 1436
H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar