Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 November 2017

Menghindarkan Krisis Identitas Anak

Siapapun yang tak mengenal tuhannya, ia tidak akan mengenal dirinya. Begitu pula ketika seseorang tak mengenal orientasi hidupnya, ia akan kehilangan arah hidupnya dan terombang-ambing menjadi sampah peradaban. Terhempas arus ke sana ke mari, kemana angin bertiup ke sanalah ia akan berlabuh. Tak punya kendali dan peta hidup, ke manakah biduknya akan ia labuhkan. Karena itulah, kita harus menghindarkan anak-anak kita dari bahaya krisis identitas seraya memiliki orientasi hidup yang jelas.
Agar anak-anak kita memiliki #orientasi_hidup, ada 3 langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua, yaitu:
#Pertama, berikanlah kasih sayang terlebih dahulu.
Sempatkan waktu untuk bercanda bersama mereka. Sehingga mereka memahami bahwa kita menyayangi mereka. Sebagaimana Rasulullah Saw pun mencurahkan kasih sayang terhadap anak-anak.
#Kedua, rangsang mereka untuk berpikir.
Ajaklah mereka untuk melihat kenyataan dunia. Rangsanglah mereka untuk ikut andil memberikan solusi. Arahkan mereka untuk memberikan solusi berdasarkan daya penggerak yang bersifat ruhani dan bukan semata bersifat pragmatis materialistis.
#Ketiga, agar visioner rangsanglah mereka agar menjadi manusia idealis.
Agar idealisme mereka tak membuatnya menarik diri dari kehidupan, kita perlu mengajak mereka mendiskusikan fakta atau realitas yang ada. Ajaklah mereka untuk berpikir bahwa hukum Allah Swt atasnya tak berubah sedikit pun. Hukum Allah adalah solusi semua masalah hidup manusia, dan penerapan seluruh hukum-Nya akan menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Dengan demikian, anak-anak kita akan mengenal dirinya sebagai #hambaAllah dan akan terhindar dari #krisis_identitas. Wallahu a'lamu bishshawwaab.

Senin, 31 Oktober 2016

Saat Anak PAUD Bicara Cinta


Cinta adalah naluriah, semua manusia pasti merasakannya. Bayi yang baru lahir pun bisa merasakan adanya cinta dari bundanya. Maka tak aneh bila anak PAUD pun sudah bisa bicara tentang cinta. Apalagi di era penjajahan budaya seperti saat ini, saat cinta terumbar di berbagai media namun dalam balutan syahwat semata.

Tadi pagi sekira sinar mentari pagi menghangat di teras rumah. Saat pantulan sinarnya memantul di dedaunan segar, yang terlihat di balik kaca ruang tamu. Saya duduk dan bercanda ria di ruang tamu bersama putera ketiga saya, Muhammad Watsiq Billah. Usianya masih dini, 4 tahun 5 bulan, namun dialog tentang cinta dengannya membuat saya ingin berbagi cerita. Terutama untuk para remaja yang sudah bisa memilih dan membeda.

                “Bi, kalau abi cinta ummi ga?” tanyanya seiring senyumnya yang  khas nan menggoda.

          “Iya cinta dong. Tak hanya ke ummi, ke Ade juga cinta, ke kakak, ke teteh. Apalagi ke Mamih dan ke Papah.” Jawab saya agak panjang.

            “Kalau cinta seperti Si Boy mah ga boleh ya Bi?” Tanyanya lagi. Saya ga tahu ia mendapat info Si Boy dari mana. Karena televisi di rumah tak pernah menyala, mungkin dari teman-temannya. Tapi, saya pun tahu yang ia maksud.

“Iya dong,” baru saja saya mengiyakannya, Ade Watsiq langsung memotongnya.

“Si Boy mah cintanya kepada wanita-wanita yang lain-lain ya Bi,” tanyanya.

Menyimak ucapannya, saya pun sembari berpikir, apa maksud dari “wanita-wanita yang lain-lain” yang Ade ucapkan tadi. Seolah tahu sesaat saya berpikir, Ade pun memperjelas ucapannya.

“Mengapa abi cinta ummi, kan dulunya ummi wanita lain?” Tanyanya.

“Oh.., saya paham maksud istilah wanita lain yang diucapkannya. Yakni wanita ajnabi atau wanita yang bukan mahrom,” gumam saya dalam hati.  

            “Kan abi sudah menikahi ummi,” jawab saya singkat.
            “Kalau cinta seperti Si Boy yang belum menikah mah, dosa ya Bi?” Tanyanya kembali.
            “Iya jelas dosa,” jawab saya.
            “Dimarah sama Allah ya Bi?”
            “Iya, Allah pasti marah.”
            “Kalau sudah menikah mah, Allah tidak marah ya Bi?” tanyanya seolah meminta penegasan.
            “Iya kalau sudah menikah mah, ga apa-apa,” jawab saya.

Seolah puas dengan jawaban yang diberikan, ia pun langsung beralih ke aktifitas yang lain. Saya dan istri hanya saling berpandangan, ada kebanggaan tersendiri ketika anak PAUD sudah paham bagaimana seharusnya cinta tersalurkan.

Memahami aturan cinta itu sebenarnya sederhana, karena anak PAUD saja terbukti bisa. Hanya tinggal kita memilih, maukah cinta itu berada dalam keridloan Allah Swt atau dalam kemurkaan-Nya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary H. – 1 Shafar 1438 H)
                

Minggu, 23 Oktober 2016

"Di Manakah Bendera Rasul?"

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ –صلعم- كَانَتْ رَايَتُهُ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

Rayahnya (panji peperangan) Rasul saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa-nya) berwarna putih. (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

Di pagi yang cerah, Watsiq (4th) asyik menatap atlas dunia yang baru dipampang umminya di dinding ruang tamu. Seluruh gambar ia amati dengan seksama. Mulai dari lokasi Indonesia hingga Amerika ia tanyakan. Yang berkali-kali ia tanyakan adalah lokasi Amerika Selatan. Lalu, ia pun beralih ke bagian sisi-sisinya.
"Ini bendera apa Bi?" Ia pun menunjuk ke salah satu bendera negara.
Abinya pun menjawab satu persatu pertanyaan Watsiq. Tentunya setelah membaca nama negara yang tertulis di bawah bendera. Maklum, tak semua warna dan gambar bendera negara dihapal oleh abinya. Misalnya seperti bendera negara Cyprus.
"Kalau bendera Amerika, mana Bi?" Watsiq mengganti pertanyaannya.
"Kalau bendera China, mana Bi?" Ia bertanya setelah tetehnya ikut nimbrung dan menanyakan bendera China.
"Ini nih, sekarang bukan China lagi, sudah ganti nama jadi Tiongkok", jawab Abi.
"Kalau bendera Rasul, mana Bi?" Tanya Watsiq kembali.
Abi yang sedang sibuk mengabadikan momen, tidak segera menjawabnya.
"Bendera Rasul, mana Bi?" Ia bertanya kembali dengan nada yang tidak sabar.
Abi pun langsung menyimpan hpnya, demi menjawab pertanyaan Watsiq yang membutuhkan jawaban lengkap, sesuai usianya.
Seraya memutarkan tangannya di sekitar Asia, Afrika dan sebagian Eropa, abi berkata, "Bendera Rasul itu tadinya tertancap di semua wilayah ini, Nak."
"Setelah penjajah menguasai negeri-negeri ini, bergantilah bendera Rasul itu dengan bermacam-macam bendera."
"Karena itu, Ade-lah nanti yang berjuang untuk mengembalikan bendera Rasul"
Mendengar penjelasan Abi, Watsiq langsung bertanya lagi.
"Emang ada Bi, anak kecil yang berjuang?" Tanyanya.
Ummi yang sedari tadi memperhatikan tanya jawab Abi dan putranya, langsung menimpali.
"Ada Nak, di Palestina banyak anak-anak yang berjuang untuk Islam."
"Ade mau ke Palestina Bi, Ade mau ikut berjuang," ujar Watsiq dengan semangat.
"Akan ada masanya nanti Nak, saat kita kembali membebaskan Palestina," jelas Abi. Belum selesai Abi bicara, Watsiq langsung protes.
"Tapi, Ade mau bendera Rasul. Pokoknya Ade mau bendera Rasul!" Seraya ia berlari menjauh sebagai tanda protes.
"Ya sudah, ntar Abi printkan dulu ya," jelas Abi.
Abi pun langsung membuka netbooknya, googling mencari image Al Liwa dan Ar Royah. Watsiq pun dengan aktif memilih gambar yang ditampilkan oleh mesin pencari.
Watsiq memilih empat gambar, ternyata ia suka dengan gambar Al Liwa dan Ar Royah yang sedang diangkat dan berkibar, serta yang sedang di pertempuran. Setelah diprint, ia langsung menghampiri umminya untuk menempelkan 4 gambar bendera Rasulullah di samping atlas dunia.
Melihatnya, abi bergumam dalam hati. Mengucap do'a, semoga Watsiq menjadi pembela Islam yang terpercaya. Masuk dalam barisan mujahid yang mengangkat kembali panji Rasulullah Saw. Aamiin. (Ary H.)

#MadrasahRumah
#HSBAJannaty