Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 September 2017

Bacaan Surat Pendek Pak Ustadz


“Idza jaa’a nashrullah..!” teriak anak-anak kecil yang berjamaah maghrib di shaf bagian belakang.

Mereka mendahului imam yang masih membaca basmallah sebakda ucapan “Aamiin” para jamaah. Anak-anak seolah sudah mengetahui surat apa yang akan dibaca oleh imam. Ternyata benar, setelah membaca basmallah, imam pun membaca surat yang ditebak oleh anak-anak. Surat An Nashr, surat nomor 110 dalam Al Quran yang terdiri dari 3 ayat.

Aku yang berada di belakang imam pun menduga hal yang sama. Pasti Ust. Salim akan membaca surat tersebut. Kadang aku berpikir, mengapa setiap berjamaah shalat Maghrib, beliau selalu membaca surat tersebut pada raka’at pertama.

“Mengapa ya Ron, Ust. Salim selalu membaca surat tersebut?” Tanyaku kepada Roni, temanku yang sama-sama aktif di Ikatan Remaja Masjid Al Ihsan. Masjid di mana Ust. Salim sering mengimami shalat Maghrib. Imam di masjidku memang ada tiga orang. Ust. Hafidz mengimami shalat Shubuh, Ust. Salim untuk Maghrib dan Isya adapun Ust. Shadiq mengimami Dzuhur dan Ashar.

“Aku juga ga tahu, Dul. Bahkan aku juga bertanya-tanya sama sepertimu.”

“Mengapa ya? Padahal hapalan surat Ust. Salim kan lumayan banyak.”

“Mengapa hanya surat itu saja yang sering beliau baca ketika rakaat shalat Maghrib?”

“Iya, saking rutinnya beliau membaca surat tersebut. Anak-anak saja sampai bisa menebaknya.”

“Apa beliau sudah lupa surat-surat yang lain ya? Hal tersebut dibolehkan oleh Rasulullah atau tidak ya?

Aku dan Roni terus saja bertanya-tanya. Meskipun lama-lama aku berpikir, kok sepertinya pembicaraan kami semakin mengarah pada buruk sangka.

“Sudahlah Ron. Kita akhiri saja perbincangan ini. Ga baik juga kalau kita bertanya-tanya sendiri. Mendingan kita tanya langsung ke beliau, yuk!” Ajakku kepada Roni.

“Kamu saja Dul, aku ngga berani,” kilah Roni.

“Dasar kamu Ron, masak begitu saja ga berani?” tanyaku.

“Kan kamu juga yang bertanya-tanya sedari awal, kalau aku sih ga ada masalah,” jawab Roni.

“Lah, kamu ini. Tadi kamu bilang sama bertanya-tanya sepertiku. Sudahlah biarin saja, ga usah dipikirkan!”

“Ngapain juga nyari jawaban itu, mending kita nyari jawaban PR-nya pak Ahmad untuk dikumpul besok.”

“PR apa tuh?” tanyaku kepada Roni. Sungguh aku lupa kalau ada tugas rumah yang harus dikumpulkan besok.

”Itu, mencari dari manakah asal-usul istilah HOAX berasal. Harus dibuat dalam bentuk tulisan essai.” Jelas Roni.

“Oh yang itu ya? Waduh aku benar-benar lupa, aku pamit dulu ya,” pamitku seraya berlari meninggalkan Roni sendirian di pos Ronda.

Malam pun aku lalui dengan membuat essai untuk tugas pak Ahmad. Namun pikiranku tetap saja melayang ke surat An Nashr yang rutin dibaca Ust. Salim. Aku pun bertanya-tanya, bolehkah hal tersebut jika dilakukan secara terus-menerus. Bukankah surat-surat pendek yang lain pun masih banyak? Pikirku dalam hati. Sebenarnya aku sangat ingin menanyakannya kepada Ust. Salim, namun saat bertemu dengannya, melihat wajahnya saja aku sudah sungkan.

“Mak, boleh ga kalau kita hanya membaca surat tertentu di dalam shalat?” aku bertanya kepada Emak yang sedang menyetrika di kamar.

“Membaca surat tertentu bagaimana maksudmu, Nak?” Emak malah bertanya balik.

“Begini Mak, belakangan ini ust. Salim selalu saja membaca surat An Nashr ketika mengimami shalat Maghrib. Boleh ga Mak?” jelasku.

“Surat-surat pendek yang lain kan masih banyak Mak?” lanjutku.

“Oalah Nak! Itu toh maksudmu?” ujar Emak seraya terus melipat pakaian yang sudah rapih.

“Bukan oalah Mak, boleh ga Mak?” aku semakin penasaran.

“Setahu Emak sih boleh-boleh saja. Setelah membaca Al Fatihah, kita kan diperbolehkan membaca surat yang mudah untuk dibaca,” jelas Emak.

“Tapi, lebih baik kamu tanya sendiri sana ke Ust. Salim! Kan ilmu Emak juga terbatas. Emak ga pernah mesantren,” tutur Emak.

Begitulah sepenggal kisah pertanyaanku kepada Emak. Namun Emak memang tak sepintar pengisi acara “Mamah dan Aa”. Curhatku tak menemukan jawaban, malah tetap berujung pada pertanyaan. Emak malah berpendapat sama dengan Roni, menyuruhku langsung bertanya kepada Ust. Salim. Akhirnya, aku pun lanjut masuk kamar dengan tetap membawa pertanyaan. 

Hari demi hari berlalu, Ust. Salim tetap mengimami shalat Maghrib di masjid kami. Beliau pun tetap dengan surat An Nashr-nya di rakaat pertama. Namun aku tak mau terus menduga-duga. Aku mencari-cari kesempatan supaya bisa menanyakan hal tersebut kepada beliau. Akhirnya, aku pun mendapatkan kesempatan tersebut.

Setelah mengajar anak-anak Diniyah aku pun menunggu adzan Maghrib di dalam masjid. Ya beri’tikaf sejenaklah lumayan setengah jam, pikirku. Tak biasanya, Ust. Salim datang sekitar sepuluh menit sebelum adzan. Ketika melihat beliau masuk masjid, aku pun menyapa dan menyalaminya.

Sesaat sebelum beliau berlalu ke depan, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepadanya “Sebentar ustadz, bolehkah saya bertanya?”

“Oh, boleh saja?” Beliau pun langsung duduk bersender di dinding utara Masjid.

“Mau bertanya tentang apa?” Lanjut beliau.

“Begini ustadz, sebelumnya saya mohon maaf jika pertanyaan saya ini menyinggung pak Ustadz.

“Ga apa-apa Dul, tenang saja,” jawabnya seraya menatapku ramah.

“Pertanyaan ini sebetulnya sudah lama saya pendam, tetapi saya baru bisa menanyakannya kepada ustadz. Kebetulan ketemu ustadz sore ini di masjid,” jelasku agak panjang.

“Iya, pertanyaan apa? Ntar malah keburu waktu Maghrib tiba,” ucapnya.

“Oh iya, ya. Ini pak Ustadz…ehm…” bicaraku agak tersendat.

“Mengapa belakangan ini, pak Ustadz selalu membaca surat An Nashr dalam setiap rakaat pertama shalat Maghrib?” aku menyelingi pertanyaanku dengan senyuman.

“He..he…, maaf lho pak Ustadz. Saking seringnya dibaca, anak-anak sampai hafal.”

Ustadz Salim tak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak sembari tangannya sibuk menjumputi remah-remah sampah di karpet masjid. Begitulah kebiasaannya apabila sedang bicara santai. Sesekali, tangannya melemparkan remah-remah sampah itu ke luar jendela.

“Begini Dul. Bukankah lebih baik jika pengulangan bacaan itu membuat anak-anak menjadi hapal?”

“He..he..Iya sih pak Ustadz,” jawabku seraya tersenyum.

“Tapi, ga masalah ya pak Ustadz kalau kita membaca surat tersebut terus-terusan?” tanyaku kemudian.

“Begini Dul. Pada jaman Rasulullah Saw, ada seorang shahabat Anshar yang sering menjadi imam di masjid Quba. Setiap habis Al Fatihah, ia memulai bacaan surat pendeknya dengan surat Al Ikhlash. Para shahabat yang lain pun memprotesnya namun ia tetap pada pendiriannya. Permasalahan tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau Saw kemudian bertanya kepada orang tersebut, “Hai, Fulan! Apakah yang menghalangimu untuk melaksanakan apa yang diminta oleh para shahabatmu? Dan apakah yang membuatmu selalu membaca surat ini (Al Ikhlash) dalam setiap raka’at?” Ia menjawab,”Sesungguhnya aku menyukainya (surat Al Ikhlash) wahai Rasulullah.” Maka Nabi Saw pun bersabda,”Sesungguhnya kesukaanmu kepadanya akan memasukkanmu ke dalam surga.”

“Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari rahimahullahu ta’ala di dalam bab menggabungkan antara dua surat dalam satu raka’at.” Jelas Ustadz Salim.

“Lalu, apa hubungannya pak Ustadz?” Tanyaku yang belum memahami penjelasan beliau.

“Sebentar Dul, satu lagi.”

“Imam al Bukhari pun meriwayatkan sebuah hadits dalam Kitab Tauhid. Bahwasanya Rasulullah Saw telah mengutus seseorang dalam sebuah sariyah (ekspedisi militer). Maka dia menutup surat pendeknya dengan membaca surat Al Ikhlash. Hal ini pun sampai kepada Rasulullah Saw, Beliau memerintahkan para shahabat untuk menanyakan alasannya. Para shahabat pun menanyakan hal tersebut kepadanya. Orang itu menjawab,“Karena ia (surat Al Ikhlash) merupakan sifat Ar Rahman dan aku suka membacanya.” Maka Nabi Saw bersabda,”sampaikanlah kepadanya, Allah menyukainya.” Jelas Ustadz Salim kemudian.

“Jadi, bagaimana pak Ustadz?”

“Dul, kamu tahu kandungan surat An-Nashr?”

“Iya pak Ustadz, tentang pertolongan Allah.”

“Kamu tahu kondisi kaum muslim saat ini. Palestina, Irak, Afghanistan, Suriah, dan…” suara Ust. Salim tercekat. Tiba-tiba ia diam dan menunduk.

”dan…,” air mata beliau menetes.

“yang menimpa Rohingya.”

Aku hanya bisa terdiam mendengarkannya dengan seksama.

”Belum lagi yang menimpa kaum muslim di negeri ini, kaum muslim hidup dalam keterpurukan yang sangat parah.”
“Bagi Bapak, Surat An-Nashr itu memberikan keyakinan dan pengharapan. Keyakinan akan pertolongan Allah, keyakinan akan keniscayaan kemenangan umat Islam di masa depan. Karena itulah Dul, Bapak sangat suka membacanya.”
“Dul, Allah Swt memerintahkan kita untuk meminta tolong kepadanya dengan sabar dan shalat. Bapak berharap, shalat Bapak bisa selalu menguatkan Bapak akan keyakinan terhadap pertolongan Allah Ta’ala.”

“dan…., insyaAllah Dul, kita harus menyambut pertolongan yang semakin dekat itu dengan usaha atau dakwah.” Pungkas Ust. Salim sembari menyeka lelahan air matanya.

Aku tak menyangka jawaban Ust. Salim akan sampai sedalam itu. Memang, jika menyaksikan berbagai tuduhan, berita miring serta ketidakadilan dunia terhadap umat Islam saat ini. Hatiku pun sering tercabik-cabik. Mengapa kaum muslim selalu menjadi pihak tertuduh. Namun, mengapa keyakinanku akan pertolongan Allah belum seyakin Ust. Salim. Ah, mungkin karena ilmuku yang masih terbatas. Sejak Maghrib itu, aku pun berjanji untuk mempelajari ilmu agama lebih serius lagi.

Maghrib itu, seakan aku baru mendengar surat An Nashr. Aku mendengarnya dengan sarat makna.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”                              (TQS. An Nashr: 1-3)

"Bunda, Mengapa Mereka Membenci Kita?"

Hafidz berlari dan terus berlari. Sendirian di tengah hutan rindang, yang ia ingat hanyalah pesan bundanya.

“Berlarilah, Nak! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.
Sangat jauh ia meninggalkan Bunda yang terjatuh bersimbah darah. Kaki bundanya terkilir karena terantuk batu besar saat sedang berlari bersamanya. 

            “Bunda, Hafidz tidak mau berpisah dengan Bunda,” ucapnya seraya memeluk Bundanya yang jatuh tertelungkup. Tangan Hafidz membasah merah, meraba punggung Sang Bunda yang penuh dengan luka. Di depan mata kepalanya, beberapa orang botak yang kesetanan menyabetkan senjata tajam berkali-kali ke punggung bundanya hingga bajunya robek dan tembus hingga ke kulit. Sebelum berlari, bunda sempat melilitkan kerudung ke kepala hingga lehernya. Tak berpeniti. Membuatnya semakin terlihat acak-acakan tak karuan. Dalam luka, wajah Bunda masih tersenyum.

“Berlarilah, Hafidz! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.

“Hanya engkau anggota keluarga yang tersisa, selamatkan dirimu, Nak!”

Hafidz terus memeluk bundanya. Ia usapkan tangannya berkali-kali ke bajunya. Ia tak mau bila luka Bundanya semakin perih karena tetesan keringat tangannya.

            “Bunda, Hafidz tak bisa hidup tanpa Bunda,” jawabnya lirih. 

Air matanya mengalir deras. Ia tak mampu lagi menahan tangis. Entah ini sudah merupakan tangisan yang ke berapa ratus kalinya. Hafidz memang masih sangat kecil. Usianya masih 7 tahun. Usia di mana anak-anak kita asyik main bersepeda di taman kota. Tentu tak terbayangkan jika ia harus hidup tak tentu arah di tengah hutan.

Namun ia sangat ketakutan. Di depan matanya, ayah dan kakaknya dibunuh secara sadis. Puluhan entah ratusan sayatan benda tajam mencincang ayah dan kakaknya. Padahal usia kakaknya pun tak terpaut jauh darinya. Haris, kakak Hafidz, masih berusia 9 tahun. Usia di mana anak-anak bersekolah. Akan tetapi, Haris tak pernah bersekolah. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal belajar baca tulis Al Quran di Musholla kecil nan sederhana. Karena penguasa negeri itu sudah lama menutup akses pendidikan untuk Hafidz, keluarga serta para tetangganya. Jangankan pendidikan, akses kebutuhan pokok pun sangat sulit didapatkan.

Hafidz terus memeluk Bundanya, tangannya kirinya menggenggam erat tangan Sang Bunda. Sungguh ia tak mau berpisah. Namun ia ketakutan, orang-orang botak dan berseragam itu sangat membenci Hafidz, keluarganya serta para tetangganya. Seakan Hafidz dan teman-temannya adalah binatang hama yang harus segera dimusnahkan.     

                ”Bunda!” panggil Hafidz kepada Bundanya yang terlihat semakin lelah.

                “Iya Nak!” Jawab Bunda dengan tetap tersenyum.

                “Bunda, mengapa mereka sangat membenci kita?” Tanya Hafidz dengan polos.

                “Nak, mereka membenci kita hanya karena kita muslim,” Jelas Bunda.

                “Bunda, apakah hanya karena kita muslim, mereka membenci kita? Bukankah kita tak pernah mengganggu mereka?”

                “Iya Nak. Kamu masih terlalu kecil untuk memahami ini”

                “Karena itu, larilah Nak! Segera berlari! Sebelum orang-orang jahat itu menemukan kita.”

                “Hafidz ingat kan kalau Hafidz harus selalu taat kepada perintah Bunda?”

Bunda pun melepaskan pegangan tangan Hafidz. Ia mendorong tubuh Hafidz berkali-kali supaya Hafidz mau berdiri dan berlari.

Hafidz pun terus berlari seraya berkali-kali menatap ke belakang. Ia meninggalkan Bundanya yang terluka. Ia terus berlari bertelanjang kaki. Semua duri yang diinjaknya seolah tak dirasa. Berkali-kali ia menoleh ke arah Bunda, lama kelamaan bayangan Bunda semakin terhalang dedaunan dan pepohonan. Namun Hafidz terus berlari dan berlari. Ia akan terus berlari, hingga ia bertemu orang-orang yang bersedia menerima dan menjaganya sebagai seorang muslim.

#AryH
#PengelolaFPMudahNulis


       

Minggu, 23 Oktober 2016

"Di Manakah Bendera Rasul?"

Ø£َÙ†َّ رَسُÙˆْÙ„َ اللهِ –صلعم- Ùƒَانَتْ رَايَتُÙ‡ُ سَÙˆْدَاءَ ÙˆَÙ„ِÙˆَاؤُÙ‡ُ Ø£َبْÙŠَضَ

Rayahnya (panji peperangan) Rasul saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa-nya) berwarna putih. (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

Di pagi yang cerah, Watsiq (4th) asyik menatap atlas dunia yang baru dipampang umminya di dinding ruang tamu. Seluruh gambar ia amati dengan seksama. Mulai dari lokasi Indonesia hingga Amerika ia tanyakan. Yang berkali-kali ia tanyakan adalah lokasi Amerika Selatan. Lalu, ia pun beralih ke bagian sisi-sisinya.
"Ini bendera apa Bi?" Ia pun menunjuk ke salah satu bendera negara.
Abinya pun menjawab satu persatu pertanyaan Watsiq. Tentunya setelah membaca nama negara yang tertulis di bawah bendera. Maklum, tak semua warna dan gambar bendera negara dihapal oleh abinya. Misalnya seperti bendera negara Cyprus.
"Kalau bendera Amerika, mana Bi?" Watsiq mengganti pertanyaannya.
"Kalau bendera China, mana Bi?" Ia bertanya setelah tetehnya ikut nimbrung dan menanyakan bendera China.
"Ini nih, sekarang bukan China lagi, sudah ganti nama jadi Tiongkok", jawab Abi.
"Kalau bendera Rasul, mana Bi?" Tanya Watsiq kembali.
Abi yang sedang sibuk mengabadikan momen, tidak segera menjawabnya.
"Bendera Rasul, mana Bi?" Ia bertanya kembali dengan nada yang tidak sabar.
Abi pun langsung menyimpan hpnya, demi menjawab pertanyaan Watsiq yang membutuhkan jawaban lengkap, sesuai usianya.
Seraya memutarkan tangannya di sekitar Asia, Afrika dan sebagian Eropa, abi berkata, "Bendera Rasul itu tadinya tertancap di semua wilayah ini, Nak."
"Setelah penjajah menguasai negeri-negeri ini, bergantilah bendera Rasul itu dengan bermacam-macam bendera."
"Karena itu, Ade-lah nanti yang berjuang untuk mengembalikan bendera Rasul"
Mendengar penjelasan Abi, Watsiq langsung bertanya lagi.
"Emang ada Bi, anak kecil yang berjuang?" Tanyanya.
Ummi yang sedari tadi memperhatikan tanya jawab Abi dan putranya, langsung menimpali.
"Ada Nak, di Palestina banyak anak-anak yang berjuang untuk Islam."
"Ade mau ke Palestina Bi, Ade mau ikut berjuang," ujar Watsiq dengan semangat.
"Akan ada masanya nanti Nak, saat kita kembali membebaskan Palestina," jelas Abi. Belum selesai Abi bicara, Watsiq langsung protes.
"Tapi, Ade mau bendera Rasul. Pokoknya Ade mau bendera Rasul!" Seraya ia berlari menjauh sebagai tanda protes.
"Ya sudah, ntar Abi printkan dulu ya," jelas Abi.
Abi pun langsung membuka netbooknya, googling mencari image Al Liwa dan Ar Royah. Watsiq pun dengan aktif memilih gambar yang ditampilkan oleh mesin pencari.
Watsiq memilih empat gambar, ternyata ia suka dengan gambar Al Liwa dan Ar Royah yang sedang diangkat dan berkibar, serta yang sedang di pertempuran. Setelah diprint, ia langsung menghampiri umminya untuk menempelkan 4 gambar bendera Rasulullah di samping atlas dunia.
Melihatnya, abi bergumam dalam hati. Mengucap do'a, semoga Watsiq menjadi pembela Islam yang terpercaya. Masuk dalam barisan mujahid yang mengangkat kembali panji Rasulullah Saw. Aamiin. (Ary H.)

#MadrasahRumah
#HSBAJannaty

Minggu, 27 Maret 2016

Kebahagiaan Berbagi Sedikit Ilmu Menulis

Menjelang tengah hari tadi (27/03/2016), di sela-sela mengasuh anak-anak, saya rebahkan badan di tempat tidur. Mata ini terasa mengantuk. Mungkin karena sisa tadi malam, hampir setengah malam saya isi ‘kencan’ bersama ketiga anak-anak saya. Kami menonton film bersama di rumah. Saya menemani mereka seraya mengenang masa kanak-kanak.

Belum sempat mata ini terpejam, terdengar suara telpon dari salah seorang sahabat. Ternyata beliau meminta saya untuk mengisi materi jurnalistik di hadapan siswa setingkat SMP dan SMA. Padahal sebelumnya, saya belum pernah mengisi tersebut. Menulis memang bukanlah hal baru bagi saya. Artikel, berita, opini, cerpen sampai puisi pun pernah tertuang di blog ini. Alhamdulillah, beberapa di antaranya pernah ditayangkan media cetak maupun daring. Namun untuk mengisi materi jurnalistik, belum pernah sekalipun diminta. Permintaan dadakan ini juga bukan tanpa alasan. Tersebab pemateri yang direncanakan, yakni seorang wartawan senior, mendadak tidak bisa hadir. Antara diterima dan ditolak, di wilayah ikhtiar inilah hati dan akal ini berada.

Meskipun diminta mengisi saat itu juga, entah mengapa tidak ada sedikit pun keberatan dalam diri ini. Tanpa garis besar materi, power point, apalagi makalah atau sebagainya, diri ini sama sekali tidak merasa keberatan. Bahkan, seolah ada motivasi dan kebahagiaan tersendiri untuk langsung mengiyakan. Hati ini seolah berkata, “Saya, Yes!” seraya tersenyum riang.

Singkat cerita, saya berdiri di hadapan puluhan siswa-siswi. Alhamdulillah, selama 15 menit perjalanan menuju lokasi, saya menemukan ide materi. Materi itulah yang saya sampaikan. Saya memposisikan diri bukan sebagai pakar teori, tetapi sebagai seorang praktisi. Setelah sedikit muqaddimah, kemudian bridging materi seputar menulis serta motivasinya, saya meminta semua peserta untuk mengeluarkan alat tulisnya. Namun sayangnya, meskipun dinamakan Training Jurnalistik, hanya beberapa siswa dan siswi yang membawa alat tulis. Akhirnya, sebagian peserta saya ijinkan untuk mengetik menggunakan handphone.

Saya hanya ingin membuktikan kepada para peserta bahwa menulis itu mudah. Itu saja yang saya targetkan. Setelah semua peserta siap, para peserta diminta menjawab beberapa pertanyaan. Tetapi jawabannya mesti ditulis dalam bentuk kalimat berita. Berikut urutan pertanyaannya, 1) Apa makanan favorit Anda? ; 2) Di manakah Anda biasa membelinya; 3) Kapankah Anda biasa membelinya? ; 4) Siapakah penjualnya? ; 5) Mengapa Anda menyukainya? ; dan 6) Bagaimanakah cara membuatnya? Meskipun dengan alat tulis yang berbeda-beda, semua pertanyaan itu mampu dijawab tuntas oleh semua peserta. Kemudian saya tegaskan kepada semua peserta, ternyata terbukti mereka bisa menulis. Mereka yang sebelumnya hanya terbiasa menulis satu atau dua baris status di sosial media, ada yang mampu menulis hingga 15 baris. Lalu, saya minta kepada mereka untuk menggabungkan semua jawaban menjadi satu paragrap. Alhamdulillah, tidak ada seorang pun yang kesulitan.

Terakhir, saya minta mereka untuk membacakan tulisannya masing-masing. Sayang sekali, semua  peserta masih malu-malu melakukannya. Akhirnya saya yang membacakannya. Masya Allah! semua karya disambut dengan tepuk tangan yang meriah. Ternyata, semua peserta terbukti bisa menulis. Itu kan baru satu paragrap? Iya tentu saja, semua tulisan berawal dari langkah kecil. Insya Allah, dari satu paragrap itulah tumbuh kepercayaan diri bahwa “Menulis itu mudah dan saya bisa menulis!” Adapun pertanyaan seputar makanan favorit, itu hanyalah tema yang bisa diganti dengan apapun. Bisa dengan sebuah kota, tempat wisata, sekolah, kejadian dan sebagainya.


 Alhamdulillah! sungguh bahagia bisa berbagi sedikit ilmu menulis bersama para santri serta alumni SMPT dan MA Fajrul Islam Kota Tasikmalaya. Saya bukanlah motivator, inspirator apalagi author, namun al faqir yang cinta menulis. Selamat berkarya membangun peradaban barokah! Aamiin.             (Ary Herawan). 

Selasa, 03 November 2015

#SECERCAH HIDAYAH DI SURAU SEKOLAH#3

(Cerita Fiksi)
#SECERCAH HIDAYAH DI SURAU SEKOLAH#3
Ajakan yang Menggelisahkan bag. 2

Semakin malam suara detak jam dinding semakin jelas terdengar. Kedua mata Dadan tetap saja sulit terpejam.  Padahal sudah berkali-kali ronda berkeliling seraya memukul kentongan, pertanda malam sudah sangat larut.
                "Duh ! Mengapa mata ini sulit sekali terpejam?" Ujarnya dalam hati. Semakin ia memejamkan matanya, pikirannya malah semakin terjaga.
                "Perutku begah lagi, ga enak begini. Apa karena Nasi Padang yang ku santap tadi siang ya?" Ia terus bertanya-tanya.
                Padahal ia sering menyantap Nasi Padang kesukaannya, perutnya belum pernah bermasalah karenanya. Pikirannya terus berkecamuk. Ia berbalik badan seraya memeluk gulingnya. Kakinya terasa pegal, gelisah tak karuan rasanya. Diluruskan ga enak, ditekuk pun ga nyaman. Ia pun mencoba membalik bantalnya, tetap saja tak dapat terlelap.
                "Aduh bagaimana ini, mana esok harus masuk sekolah lagi", gerutunya. "Apa aku tegang karena undangan acara pengajian Rohis itu ya?" Ingatnya.
                 “Kalau begitu, besok aku harus kabur duluan ah,“ gumam Dadan. “Lagian acaranya juga dimulai sehabis Dzuhur.” tambahnya.
                Lama kelamaan hati Dadan pun menjadi tenang. Ia pun tertidur setelah lewat jam satu dini hari.
---------------------------
                Tidak pagi ini saja Dadan bangun kesiangan. Jika ada siaran langsung klub sepak bola kesayangannya pun, ia sering begadang. Karena itulah, ia sudah lihai mengatasinya. Ia tidak mandi, tetapi hanya mencuci muka, tangan dan kakinya. Kemudian sedikit mencuci ketiaknya dengan sabun mandi. Langsung berseragam lalu mengayuh sepedanya menuju sekolah.
                Selama di sekolah, Dadan menghindari pembicaraan dengan Arif. Sampai tibalah jam pelajaran ke enam, menjelang istirahat kedua. Dadan terus saja membolak-balikan pulpen yang dipegangnya. Posisi duduknya pun terus berganti miring kanan dan kiri, ia berharap ingin segera meninggalkan sekolah.
                “Duh, tumben ini Bu Lina, biasanya dia selesai sebelum bel istirahat berbunyi,” keluhnya dalam hati. Biasanya, Bu Lina bahasa Indonesia memang keluar kelas lebih cepat dari waktu istirahat. Tetapi, tidak demikian dengan hari ini.
                “Teeet ! Saatnya istirahat kedua !” Bel SMA Sambongpari pun berbunyi.
                Riuh respon para siswa mendengar bel istirahat, membuat suara Bu Lina semakin tidak terdengar. Bu Lina hanya tersenyum. Seraya membereskan bukunya, ia pun berpesan, “Anak-anak, dikarenakan Bapak dan Ibu Guru ada rapat persiapan UTS, maka pembelajaran hari ini dilanjutkan di rumah ya..!”
                “HOREEE ! ASYIIK !” hampir semua siswa berteriak kegirangan. Namun tak demikian dengan Dadan. Ia melirik ke arah Arif, ia ingin memastikan Arif tidak memperhatikannya.
                “Sebentar....sebentar dulu anak-anak, “ Bu Lina mulai agak berteriak di tengah kegaduhan para siswa yang kegirangan.  “Dengarkan dulu!” Ucapnya seraya memberi isyarat dengan kedua tanganya. “Hari ini ada pengajian Rohis. Bagi kalian yang ada waktu, Ibu berharap kalian bisa mengikutinya, “ ajak Bu Lina.
                “Tuh ketua Rohisnya saja ada di sini,” kata Bu Lina seraya menunjuk Arif.
                Semua siswa memandang Arif. Merasa menjadi pusat perhatian, Arif hanya tersenyum. Tetapi, tidak demikian dengan Dadan, ia malah semakin menundukkan pandangannya ke arah meja yang ada persis di depannya. Seakan pura-pura tidak mendengar perkataan Bu Lina.            
                 “Terima kasih atas perhatian dan partisipasi kalian dalam pembelajaran, mohon maaf bila ada salah, ketemu lagi minggu depan,“ ucap Bu Lina seraya menatap seisi kelas. Setelah mengucapkan salam, beliau pun keluar meninggalkan kelas.
                Para siswa berhamburan keluar kelas. Dadan tetap duduk terdiam di kursinya, ia memperhatikan Arif yang terlihat buru-buru meninggalkan ruangan. “Aku beruntung, Arif pergi duluan,“ gumamnya.
                Dadan tersenyum kegirangan, wajahnya cerah dengan mata berbinar senang. Seakan terlepas dari beban yang sedari kemarin menggelayuti pikirannya. Sebagaimana biasanya, Dadan langsung menuju halaman sebelah barat sekolahnya. Ia segera mendorong sepedanya menuju gerbang sekolah. Wajahnya terus saja lurus ke arah gerbang. Entah kenapa, gerbang yang hanya berjarak 50 meteran dari halaman barat sekolahnya, kali ini terasa sangat jauh. Matanya hanya fokus memandang gerbang yang ditujunya. Ia tak memperhatikan setiap orang yang berpapasan dengannya.
“Dan, mau kemana?” Tiba-tiba terdengar seseorang menyapanya. Bagaikan disambar geledek di siang bolong. Dadan sungguh mengenali suara tersebut, yang tiada lain adalah Arif. Terlihatlah Arif sedang mengangkut meja persis di hadapannya.
Dadan belum sempat menjawab, namun Arif bertanya lagi, “Katanya mau ikut pengajian?”
                Saking malunya, ingin sekali Dadan menutupi seluruh wajahnya dengan tas bututnya. Atau ia kabur melaju sepedanya dengan kecepatan 100 km per jam. Kabur seketika dari tempat itu. Wajah Dadan memerah, mulutnya terkatup di antara senyum yang tertahan.
                “Eh..., Arif...,” Jawab Dadan. “Ini, Ayahku memintaku untuk langsung pulang,“ Kilah Dadan. Ia berbohong untuk menutupi ingkar janjinya. Padahal tak sedikit pun Ayah berpesan kepadanya untuk segera pulang.
                Arif sangat mengerti kecanggungan temannya. Meskipun temannya telah terbukti mengingkari janjinya, tak sedikit pun ia menampakkan kekecewaan di wajahnya. Ia tetap tersenyum, dengan keringat mengucur dari kedua dahinya.
“Oh gitu, sayang sekali ya...” Jawab Arif seraya menurunkan meja dari atas pundaknya.
                “Padahal pengajiannya tidak akan  lama kok, paling juga maksimal sekitar 1 jam-an,” jelas Arif.
                Dadan diam sejenak, kemudian berkata, “Duh gimana ya Rif, kasihan ayahku, nanti ia ga ada yang bantu.” Dadan sangat berharap, alasan membantu ayah pasti bisa meluluhkan hati Arif. Padahal, dari sejak ayahnya membuka usaha cuci motor, ia tak pernah membantunya sama sekali.
                 “Iya ya..., kasihan juga beliau,” Jawab Arif.
                Meskipun ada keraguan dan ketidaktegaan di hati Dadan saat mendengar respon Arif, tetapi ia merasa senang. Pikirnya, ia telah sukses mengelabui temannya. 
“Iya Rif, kasihan ayahku, mungkin lain kali ya..?” kata Dadan.
                 “Iya deh ga apa-apa Dan, lain kali saja,“ Jawab Arif. “Hati-hati di jalan Dan, santai saja bawa sepedanya!” lanjut Arif.
                Arif menyodorkan tangan kanannya, mengajak Dadan bersalaman. Seranya berkata, “Salam ya untuk ayahmu. Semoga kita bisa menjadi amal jariyah untuk kedua orang tua kita, Assalamu’alaikum!”
Dadan menepis semua keraguannya. Seraya menjawab, “wa ‘alaikum salam...”, sambil menyambut tangan Arif yang sudah menunggu.
“Maksud perkataanmu barusan apa ya Rif?” Tanya Dadan sebelum melepaskan tangan temannya. Sepertinya ada sesuatu yang membuat ia penasaran.
                “Perkataanku yang mana?” Arif malah balik bertanya.
“Itu tuh menjadi amal jariyah untuk orang tua kita?” jawab Dadan.
                “Oh itu, maksudku adalah menjadi anak shalih yang selalu mendo’akan orang tua kita,“ Jawab Arif.
Arif terdiam sejenak, kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Amal jariyah itu adalah amal yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun orangnya sudah wafat sekalipun. Amal jariyah ada tiga, ilmu yang bermanfaat, shadaqoh jariyah dan anak shalih yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya.” Jelas Arif.
“Kita sama-sama tahu diri. Sebagai anak, tentu kita belum dan bahkan tidak bisa membalas semua pengorbanan orang tua kita.” sambungnya.
                Dadan mulai menyimak penjelasan Arif dengan seksama. “Lalu, dengan apa kita membalas mereka Rif?” Dadan semakin penasaran.
                “Tentunya, dengan menjadi anak shalih yang selalu mendo’akan mereka,” jawab Arif dengan mantap.
                “Bagaimana caranya itu Rif?” Dadan bertanya lagi.
                Arif tidak langsung menjawab pertanyaan Dadan. Ia pun melepaskan jabatan tangannya, kemudian merangkul bahu Dadan seraya menepuknya pelan. Kemudian menatap wajah Dadan dengan penuh senyuman.
Arif lalu berkata,“InsyaAllah, caranya dengan kita  taat sepenuhnya kepada Allah. Kemudian berdo’a memintakan ampunan dan kebaikan untuk kedua orang tua kita.”
                Dadan pun diam termenung, apa yang disampaikan Arif ini seolah baru saja ia dengar. Selama ini ia hanya berpikir bahwa hanya uanglah yang dapat membalas setiap pengorbanan orang tuanya. Karena itulah, ia bermimpi bisa kerja di tempat yang enak dengan gaji yang tinggi. Kemudian, ia bahagiakan ayahnya yang setiap hari membanting tulang untuknya.
“Sudah dulu ya Dan, kasihan ayahmu di rumah menunggu.” ucap Arif memecah kesunyian. “Jangan lupa, salam buat ayahmu ya..., nanti kapan-kapan aku mampir ke rumahmu, “ lanjutnya.
                “Eh iya Rif, makasih ya atas ilmunya,” jawab Dadan.
                Arif tersenyum, lalu berkata, “iya, sama-sama, assalamu’alaikum...”.
Setelah mengucapkan salam yang kedua kalinya, Arif langsung mengangkat kembali meja yang tadi ia turunkan sejenak.  
                “Wa ‘alaikum salam..”, Jawab Dadan seraya menatap Arif yang pergi meninggalkannya.
Dadan pun mengayuh sepedanya menjauhi gerbang sekolah.
                Sepanjang perjalanan Dadan terus saja berpikir, ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
                “Arif...Arif, sungguh polos sekali sikapmu,“ Gumam Dadan. “Tetapi, mengapa aku mesti berdusta ya?” Dadan bertanya berkali-kali di dalam hati.
Di tengah kayuhan sepedanya, hati Dadan terus saja dipenuhi pertanyaan atas sikap dirinya sendiri. Sampai-sampai terbersit sebuah pertanyaan, sampai kapan ia akan menghindari ajakan Arif. Padahal selama ini ia sering merasakan kegelisahan dalam hidupnya. Pikirannya terus saja menerawang. hingga ia tak lagi fokus ke jalan yang sedang dilaluinya.
“TEET !” Sebuah klakson mobil mengagetkannya. “Sialan Lu ! Naik sepeda makin ke tengah saja!” umpat pengemudi mobil truk tak bermuatan yang melaju kencang.
Dadan sungguh kaget, sepeda yang dinaikinya langsung oleng ke arah selokan pinggir jalan. Tapi, untung saja ia masih bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Jantung Dadan berdegup kencang, wajahnya putih memucat pasi seakan darah di wajahnya hilang menguap. Sungguh ngeri membayangkan jika dirinya tersenggol truk yang melaju kencang tadi.  
Dadan diam sebentar, ia masih memegang sepedanya. Termenung di pinggir jalan, ia semakin teringat setiap perkataan Arif. Bagaikan menyusun puzzle, pikirannya menyusun setiap langkah perjalanan hidupnya. Dadan terus saja berpikir.
“Selama ini aku selalu merepotkan orang tuaku,” pikirnya.
“Bagaimana aku bisa beramal jariyah untuk mereka, sedangkan aku selalu menjauhi agama?” Tanyanya dalam hati.
Susunan puzzle pengalaman hidupnya ia susun dalam benak. Termasuk kejadian yang barusan hampir mencelakainya. Lalu, ia berkata, “Aku harus berubah! Kapan lagi jika bukan sekarang, mumpung aku belum mati !”
Di tengah perhentiannya itu, Dadan lalu memutar sepedanya kembali ke arah sekolah. Seraya berucap mantap, “Bismillah!”

-------------------------------------

Minggu, 18 Oktober 2015

#Secercah Hidayah di Surau Sekolah# 2

(Cerita Fiksi)

Ajakan yang Menggelisahkan

“Teeet....!” Bel sekolah berbunyi.
Siswa dan siswi SMA Sambongpari Kota Tasikmalaya berhamburan keluar, tak terkecuali Dadan.
   “Aduh, panas sekali hari ini!” Keluhnya. “Tapi, ndak apalah, ada Nasi Padang kesukaanku menanti di rumah, “ ia menghibur dirinya.
Tak terasa, air liurnya hampir saja menetes, membayangkan Nasi Padang kesukaannya. Suasana yang panas terik seakan langsung menjadi adem. Musim kemarau belakangan ini, memang membuat cuaca di Kota Resik menjadi terasa lebih panas dari biasanya.

Dadan langsung menuju ke halaman sebelah barat sekolah. Tempat ia biasa menyimpan sepedanya.
Sesaat sebelum beranjak pergi dengan sepeda merahnya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil.
“Hei..., hei...!”
Dadan berhenti, menolehkan wajah ke arah orang yang memanggilnya.
“Oh, ya. Kamu memanggilku?” Tanya Dadan. Kedua alisnya mengangkat dengan dahi mengerut.  Terlihat di hadapannya seorang siswa yang berpakaian dengan sangat rapih.
Belum sempat siswa tersebut menjawab. Dadan masih bertanya lagi.
“Ada perlu apa Rif?” Lanjut Dadan. Ia memang mengenali siswa tersebut, karena ia teman satu kelasnya.
“Iya, manggil kamu dong Dan.“ Jawab Arif. “Tak kirain kamu belum kenal aku?” Tanya Arif dengan penuh senyuman.
“Masa sih aku ga kenal kamu.” Jawab Dadan dengan membalas senyuman Arif.
“Kamu kan yang kemarin ikut lomba pidato SMA tingkat Kota Tasikmalaya itu kan?” Tanya Dadan.
“Masa ga kenal, kan beberapa kali kamu dipanggil keluar kelas oleh Pak Randi.” Jelasnya.
“Oh iya ya...,” Jawab Arif malu-malu. Ia tak menyangka, jika siswa baru pendiam ini mengenali dirinya.
“Pak Randi memanggilku berkali-kali untuk latihan pidato di ruang guru”, Arif melanjutkan ucapannya.
“Terus gimana, menang lomba pidatonya?” Tanya Dadan penasaran, seraya kembali berjalan pelan sambil mendorong sepedanya.
Dengan tersenyum lebar, Arif menjawab, “Alhamdulillah, dapat pengalaman berharga.”
Arif berjalan mengiringi Dadan.
“Juara berapa?” Dadan penasaran.
“Belum...” Arif berhenti sejenak. “Peserta lain banyak yang jauh lebih bagus dariku. Tapi aku senang kok.” Jelas Arif.
“Ga juara kok senang...” Dadan menimpalinya dengan agak ketus.
Arif tersenyum, lalu berkata, “Dan, Allah Swt itu tidak hanya melihat hasil. Tetapi Ia juga menilai prosesnya.”
Dadan termenung dengan penjelasan Arif, ia belum memahaminya.
“Maksudnya gimana Rif?” Obrolan mereka semakin akrab, Dadan seakan mulai lupa dengan Nasi Padangnya.
“Iya, dalam pandangan manusia, apa yang aku lakukan mungkin tidak ada hasilnya.” Jawab Arif. “Tetapi selama aku menjalani proses persiapan, latihan kemudian pidato ketika lomba. Allah pasti melihatnya.” Lanjutnya.
Dadan mendengarkan ucapan Arif dengan seksama.
“Dan InsyaAllah, Allah yang akan menilainya. Adapun hasil, itu sudah merupakan Taqdir.” Jelas Arif. “Kita harus qonaah” Lanjutnya. Tangan Arif mulai beraksi, bak Pak Randi ketika menjelaskan materi Pelajaran Agama Islam.
“Wah..ga ngerti aku. Apa itu taqdir dan qonaah” Dadan mengernyitkan dahi, pertanda ia serius menyimak. Ingin sekali ia banyak berbicara dengan Arif, tapi perutnya mulai terasa lapar.
“Eh, tapi kamu tadi manggil aku untuk apa?” Tanya Dadan kembali ke pencetus obrolan akrab mereka.
“Oh iya ya,” Kata Arif sambil garuk-garuk dan tersenyum. “Besok, Rohis mau mengadakan acara pengajian dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Kamu hadir ya?” Arif bertanya sambil memegang pundak Dadan. Anak ini memang suka sok akrab, tetapi biasanya orang suka luluh dengan ajakannya.
“Kamu kan belum aktif di eks kul manapun. Ayolah, bantu-bantu di Rohis.” Arif melanjutkan ajakannya.
“Deg !”, Jantung Dadan serasa berhenti berdetak. Dadan tiba-tiba terdiam. Ia malah mempercepat langkah menuju gerbang sekolah.
“Kenapa kamu tiba-tiba diam Dan?” Arif keheranan. “Aku minta maaf ya, jika ada kata-kataku yang menyinggungmu.” Arif menjadi kikuk dengan perilaku Dadan.
“Ga, ga apa-apa kok Rif.” Jawab Dadan singkat.
Arif semakin penasaran, “Oh ya sudah jika ga ada apa-apa, tapi kamu bisa hadir kan?” Tanya Arif.
“Eh...eh...” Mulut Dadan terkatup kelu. Serasa berat untuk berucap. Tetapi obrolan akrab mereka sedari tadi, membuyarkan keraguan Dadan untuk menjawab pertanyaan Arif.
“Aku sebetulnya malu.” Jawab Dadan pelan.
“Malu kenapa Dan?” Arif semakin penasaran.
“Aku...aku....” Lidah Dadan terasa keras, tenggorokannya pun laksana tersekat benda padat. Dengan sangat pelan, Dadan menjelaskan berkata : “Aku tidak bisa membaca Al Quran.”
Wajah Dadan memerah, tampak sekali ia malu karena pengakuannya.
Arif mengerti dengan kondisi lawan bicaranya. Ia pun berusaha membesarkan hati Dadan.
“Oh, besok itu hanya acara pengajian kok Dan.” Jelas Arif. “Tidak ada tes baca tulis Al Quran. Lanjutnya sambil mengusap-usap punggung temannya. Dengan tersenyum, Arif melanjutkan penjelasannya,
“Kita hanya duduk dan mendengarkan saja kok Dan. Tidak lebih dari itu.” Ucap Arif.
“Jadi, kamu bisa hadir ya?” Tanya Arif kembali.
“Beneran Rif, tidak akan disuruh membaca Al Quran?” Dadan seolah tidak percaya.
“Insya Allah, pasti tidak ada. Aku jamin. Kan aku ketua panitianya.” Jawab Arif.
Dadan sebetulnya tetap malu untuk hadir. Karena, selain tidak bisa membaca Al Quran. Ia juga sudah lupa kapan terakhir ia melaksanakan shalat. Seingatnya, ia terakhir shalat pada saat akan diwisuda TPA, sekitar 5 tahun yang lalu, itu juga karena acaranya di samping masjid. Sehingga, banyak sekali bacaan-bacaan shalat yang sudah ia lupakan. Akan tetapi, ia tidak enak juga jika harus menolak ajakan Arif. Masa untuk duduk dan mendengarkan saja ia tidak mau hadir.
Melihat temannya kebingungan, Arif lalu berkata, “Dan, semua manusia itu menjalani proses. Dan Allah Swt pasti menilai semua prosesnya.”
Kata-kata ini bukan datang dari seorang Jamil Azzaini atau seorang Mario Teguh, atau para motivator tingkat nasional lainnya. Tetapi, tutur kata Arif yang tenang membuat kalimat itu serasa penuh makna. Hati Dadan pun luluh untuk menerima ajakan Arif.
“Iya deh, aku pasti hadir.” Jawab Dadan. “Tapi...” Lanjutnya dengan ragu.
“Tapi apa Dan?” Tanya Arif.
“Beneran tidak akan disuruh membaca Al Quran ya?” Tanya Dadan belum yakin.
“InsyaAllah..., tidak akan, aku jamin....” Arif menjawabnya dengan penuh keyakinan.

======

Kamis, 15 Oktober 2015

#Secercah Hidayah di Surau Sekolah#

(Cerita Fiksi)
Bagian 1

     "Buk! "
Dadan melempar tas punggungnya ke sudut kamar. Wajahnya merah dan kusut.
     "Sial! Mengapa nasibku jelek seperti ini?"
Ia menggerutu sendiri seraya membantingkan badannya ke kasur.
      "Gedebug!"
Matanya lurus menatap langit-langit kamarnya. Seraya bergumam sendiri.
       "Seandainya ayah masih sekaya dulu, tentu aku tidak akan secapek ini."
Masih terbayang di benaknya, ia mengayuh sepeda pergi pulang sekolah. Padahal jarak rumah ke sekolahnya sekitar 5 km.
Hampir setiap hari Dadan meratapi nasibnya. Sebagai anak tunggal yang dibesarkan dalam kemewahan, tentu perlu banyak beradaptasi bila harus hidup dalam kekurangan.
Dadan menatap langit-langit kamarnya. Lamunannya hanyut dalam keindahan masa lalu.
         "Daaan, dadaan..!" Teriakan ayah membuyarkan lamunannya.
Tetapi sedikit pun Dadan tak mau beranjak dari tempat tidurnya.
         "Ngapain sih ayah teriak-teriak?" Ucapnya dalam hati.
         "Lah..., paling juga nyuruh makan siang". Lanjutnya, dengan wajah masam.
          "Dadaaan!" Untuk ke sekian kalinya ayah memanggilnya dari dapur.
          "Ngapain sih Yah?" Sahutnya seraya berteriak.
Tetapi, sedikit pun Dadan tidak menghampiri ayahnya. Padahal, jarak kamarnya ke dapur hanya 5 meter. Tidak seperti rumah mewahnya dulu, untuk berjalan dari kamar menuju dapur pun harus melewati taman dan kolam ikan terlebih dulu.
        "Makan dulu Nak!" Ajak Ayah.
Ayah pun berjalan menuju kamar Dadan. Nampak di hadapannya, seorang anak berseragam SMA yang sedang terbaring.
       "Kamu pasti capek kan? Tanya ayah dengan penuh senyuman.
       "Makan dulu yuk!" Lanjutnya.
         
Dadan malah menatap ayahnya dengan wajah dingin cemberut.
          "Aku tidak mau makan Yah," tolaknya.
          "Aku bosan dengan masakan ayah. Aku hanya mau makan di rumah makan." Lanjutnya dengan ketus.
Ayah paham bahwa yang dimaksud Dadan adalah RM Sederhana, rumah makan Padang langganan keluarganya dahulu, di saat bisnisnya masih maju dan berlimpah.
Sambil duduk di samping Dadan, ayah mengusap-usap pundak Dadan seraya berkata,
          "Besok lagi ya Nak, hari ini kebetulan cuci motor ayah sedang sepi." Jawab ayah.
           "Tapi, Ayah janji ya...?" Dadan mulai melunak. Pak Fuad memang pintar mengambil hati anaknya.
           "Iya Nak, Ayah janji." Jawabnya meyakinkan anak semata wayangnya.
         
          "Besok bila cuci motor Ayah rame, pasti Ayah belikan, " lanjutnya.
           "Ya sudah Yah, aku mau tidur dulu ya.." kata Dadan sambil berbalik badan.
Dadan memeluk guling kesayangan, lalu menutupi sisi wajahnya. Seraya pikirannya melayang, berharap yang terjadi kepadanya hanya mimpi semata.
           "Mimpi yang indah ya Nak." Jawab Pak Fuad seraya menatap wajah putranya dengan penuh cinta.
Cukup lama Pak Fuad memandangi Dadan. Matanya yang sayu, berkaca-kaca, tak terasa butiran air mata terkumpul bening di sudut matanya. Setiap kali melihat Dadan, ia teringat mendiang istrinya tercinta. Istrinya wafat karena kecelakaan lalu lintas setahun yang lalu.
(Bersambung)

Sabtu, 03 Oktober 2015

Aku dan Sepeda Baruku

"Pah, ayo dong belikan aku sepeda!" Pintaku kepada Papah Sabtu siang itu. Mungkin itu rengekanku  yang keberapa puluh kalinya. Saat itu, aku masih kelas V SD. Melihat teman-temanku bersepeda baru, aku pun jadi ingin memilikinya. Maklum, sepeda bekas kakak pertamaku sudah mulai usang. Sehingga, hampir tiap pagi, sore dan malam, terus saja aku meminta Papah untuk membelikan sepeda baru. Bahkan, tatkala Papah baru pulang kerja pun, aku tak peduli. Keinginanku yang menggebu, telah menghalangiku dari melihat cucuran keringat dan wajah lelahnya.

"Ya, tunggu sebentar, Papah ganti baju dulu. Setelah itu, kita langsung ke toko sepeda." Akhirnya, Sabtu siang itu, Papah bersedia membelikanku sepeda baru. "Iya Pah, Asyiiik !" mataku langsung berbinar-binar dengan bibir tersenyum lebar. Tanganku pun terkepal dengan langkah penuh semangat, aku mondar-mandir menunggu Papah. Terbayang di benakku, sebuah sepeda baru yang bisa kupamerkan di hadapan teman-temanku.

Marrubeni, itulah merk sepeda baruku. Bila dibandingkan dengan punya teman-temanku, tampilannya jauh lebih trendi. Accesoriesnya pun lebih oke dan ramai. Di stangnya sudah dihiasi nomor yang membuatnya semakin keren. Warna dominannya hitam, dengan variasi kuning dan merah. Wah, pokoknya saking kerennya sepeda tersebut, sampai sekarang pun aku masih bisa membayangkannya. Aku sangat puas, karena aku yang memilihnya sendiri.

Malam Minggu itu terasa sangat panjang bagiku. Tak sabar rasanya hati ini ingin segera melewatinya. Makanya, setelah isya, aku langsung menuju tempat tidurku, sebuah dipan di kamar berukuran 2x2,25 m. Namun, mata ini susah sekali terpejam. Khayalanku jauh mendahului putaran jam dinding tua yang tergantung di ruang keluarga. Pikiranku jauh meninggalkan Sang Rembulan malam yang ditemani bintang-bintang. "Besok pagi, teman-temanku mesti kagum dengan sepeda baruku". Gumamku dalam hati dengan wajah cerah berseri. Aku terus membayangkan hari esok, bermain sepeda bersama teman-teman. Apalagi, esok adalah hari libur, aku pasti bisa puas bermain seharian. Setelah lama larut dalam lamunan, akhirnya aku pun tertidur lelap.

Seperti biasanya, Papah membangunkan putra-putrinya untuk shalat fajar. Aku pun langsung bangun dengn penuh semangat. Bahkan, seusai shalat ditunaikan, aku langsung bergegas mandi dan ganti pakaian. Sebagaimana rencana tadi malam, aku ingin segera memamerkan sepeda baruku. Setelah sarapan, aku pun langsung berpamitan untuk main. "Hati-hati ya bermain sepedanya!" Ujar Mamih padaku. "Iya Mih" jawabku yang dilanjutkan dengan ucapan salam. Aku pun mendorong sepeda menyebrangi Jl.Mayor Sl Tobing. Tujuanku adalah lapangan bermain dekat rumah nenekku di daerah Sambong Pari Kulon.

Pagi itu masih sekitar jam 7 Wib. Aku dan sepeda baruku sudah berada di lapangan yang dituju. Sebagaimana yang kubayangkan, teman-temanku langsung mengerubuti aku dan sepeda baruku. "Wah, bagus sekali sepedanya!" Puji teman-temanku. Hati ini makin berbunga-bunga mendengarnya. Tapi sayang, di antara mereka tidak ada yang mau bersepeda keliling ke luar kampung. Waktu itu, kasus penculikan anak masih sangat jarang. Sehingga, anak-anak sudah terbiasa bermain sepeda sampai melewati dua atau tiga kampung tetangga.

Aku pun memutuskan untuk bermain ke salah seorang teman sekolahku, namanya Aat, lengkapnya Aat Ruhiat. Katanya, itu adalah nama khas orang Sunda. Konon katanya kalau orang Sunda menikah dengan bule Rusia, nama anaknya mesti Cecep Ghorbachev. Kembali lagi ke Aat, ia tinggal di Sambong Babakan Kaler. Untuk sampai ke kampungnya, aku mengayuh sepeda melewati Kampung Sambong Pari Kidul dan rimbunan kebun bambu.
Aku masih beruntung, pagi itu Aat ada di rumah. Ia pun bersedia main sepeda denganku. Bahkan, ia menyarankanku untuk mengajak Cucu turut serta. Cucu Suhendar, itulah nama lengkapnya. Ia  teman sekolah kami berdua. Kami pun bermain sepeda dengan riang gembira. Tertawa-tawa, bercanda-canda dan beradu kecepatan serta saling susul-menyusul.

Semakin lama kayuhanku semakin cepat. Dengan penuh semangat, aku dan sepeda baruku jauh meninggalkan Cucu dan Aat. Aku pun tertawa riang seraya menoleh ke belakang. Ternyata, Cucu dan Aat juga bersemangat mengejarku. Aku pun mengayuh dengan lebih cepat lagi. Di tengah kayuhan cepatku, cepat tiba-tiba terdengar Cucu dan Aat berteriak lantang. "Ary Awaaas!  Ada motor di depan!" Namun, naas bagiku. Di pertigaan Sambong PLN yang sepi itu tabrakan tak terhindarkan. Aku yang sedang menyebrang dengan kencang, ditabrak sebuah sepeda motor yang juga melaju dengan sangat kencang.

"Brukk ! Gubrak! " Aku pun langsung tak sadarkan diri. Kejadiannya berlalu sangat cepat. Aku tak ingat apa-apa. Yang tersisa di memoriku, saat itu aku terkulai lemas di pangkuan orang dewasa. Kepalaku pusing dan sangat susah untuk bernafas. Kemudian salah seorang di antara mereka ada yang berkata. "Oh, ini perutnya memar membiru".

(bersambung)

Jumat, 31 Oktober 2014

Inspirasi dari Celoteh Seorang Bocah

Ba’da Shubuh tadi, sepulang dari masjid saya biasanya langsung menuju kamar Aufa (9 th) dan Izza (6 th), anak pertama dan kedua saya untuk membangunkan mereka berdua. Namun karena anak ketiga saya sudah bangun, saya pun mengajaknya untuk membangunkan kedua kakaknya.
“Ayo de, kita bangunkan kakak dan teteh!”Ajak saya.
Saya mengajaknya berbicara dengan menggunakan panggilan kesayangan saya dan istri untuk mereka bertiga. Panggilan kakak untuk Aufa, teteh untuk Izza dan ade atau de untuk Watsiq.
“Egh...egh” Jawab de Watsiq. Lalu dengan wajah ceria, ia beranjak dari tempat tidurnya. Maklum, ia baru berusia 21 bulan, tapi ia sudah mengerti apa yang saya ucapkan.
Saya pun menyambutnya dengan tangan kanan saya, lalu memegangnya. Ade watsiq nampak bersemangat. Ia langsung menghampiri kedua kakaknya yang masih tertidur pulas dengan impian yang indah.
Singkat cerita, De Watsiq berhasil membangunkan kedua kakaknya. Walaupun terjadi sedikit insiden. Karena tanpa saya duga, ia membangunkan kakak pertamanya dengan gigitan kecil di lengan.
“Disayang dong kakaknya ya !” Kata saya. Ia pun lalu mengusap-ngusap kakaknya. Kemudian setelah itu mengulurkan tangannya, lalu mencium tangan kakaknya sebagai tanda permohonan maaf.
Serasa mendengar petir di siang hari, kaget bukan kepalang. Tiba-tiba De Watsiq berceloteh, “Jing..jing...” Begitulah saya mendengar celotehan De Watsiq berkali-kali. Pikir saya, yang ia maksud adalah sebuah kata-kata kasar, yakni anjing. Karena memang ia masih mengucapkan beberapa kata hanya dengan suku kata akhirnya saja.
“Bilang apa sayang? Tanya saya. Ia pun mengulanginya berkali-kali, “Jing...jing” Katanya sambil sesekali mengarahkan tangannya ke sebuah photo orang di kalender yang ada di kamar kedua kakaknya. 
 “Yang, dengar ga? kenapa Ade Watsiq bisa ngobrol seperti itu?” Tanya saya kepada istri yang sedang di depan layar notebook mungilnya. Saya memang biasa memanggilnya dengan panggilan Yang. “Iya, dengar dari luar mungkin.” Ujar istri saya.
Sebenarnya saya akan memakluminya bila itu diucapkan sambil menunjuk gambar atau wujud binatang yang dimaksud. Tapi ini kan celotehan, dan itu adalah hal yang tidak baik, pikir saya.
“Jing..., jing...” Ia pun terus mengulanginya, bahkan kali ini pun ia berkali-kali menunjuk kalender yang ada photo pak AG (mohon maaf bila saya menuliskannya dengan inisial) yang sedang mencalonkan diri jadi caleg. Aufa sendiri yang memasang kalender tersebut di kamarnya. “Ini kalender kakak, karena ngasihnya juga ke kakak” katanya. Kata-kata itu seolah pertanda bahwa siapapun tidak boleh mengganggu gugat pemasangan kalender tersebut di kamarnya.
“Ade, ga boleh bilang gitu, meng saja ya..!” Rayu saya, seraya mengingatkannya pada binatang kesukaannya. Meng adalah bahasa anak-anak Sunda untuk menyebut kucing. Ade Watsiq sangat suka sekali dengan kucing. Bahkan bila ia melihat photo kucing ia menciumnya dengan gemas.
“Meng...meng!” Ia pun lalu mengganti ucapannya.
Alhamdulillah! Berhasil ! Yes ! Mungkin itulah ekspresi dalam hati saya jika diungkapkan saat itu.
Namun, bagaikan mendengar petir yang kedua kalinya. Izza yang dari tadi menyaksikan dialog kami berdua, tiba-tiba berkata, ”Yang dimaksud Ade Watsiq itu mungkin Om Dije”, sambil tiduran dengan memeluk guling kesayangannya. “Karena kan bibi suka bilang ke Ade Watsiq kalau photo yang di kalender itu adalah Om Dije.” Lanjutnya seraya menjelaskan.
Gubrak! ekspresi saya pun berubah seketika. “Oh iya ya...mungkin yang Ade ucapkan dari tadi itu bukanlah jing, tapi jey untuk menyebut akhir suku kata Dije!” Ucap saya. Nada bicara saya agak dinaikkan supaya terdengar oleh istri yang sedang di ruang tengah. “Waduh, salah paham deh abi Nak” Kata saya ke Ade Watsiq.
Entah paham atau tidak yang saya ucapkan, ia pun langsung menunjuk photo pak AG, lalu berkata,”Meng, meng...” sambil melihat ke arah saya.
“Bukan nak, Ade tadi betul, itu om Dije Nak...” Ralat saya.
Mungkin sebagai tanda protes atas ketidakpahaman saya dari tadi, ia pun menunjuk photo pak AG lagi kemudian menatap saya dan berkata,”Meng..meng?”
“Maafkan abimu Nak, abi tidak mencermati dulu apa yang Ade ucapkan.”Ucap saya dengan nada penyesalan.
Mungkin jika Ade Watsiq sudah lancar berbicara, ia mungkin akan bilang kepada saya.”Makanya Abi, pahamilah dulu apa yang Ade ucapkan!”
Kemudian ia akan menjelaskan maksudnya,”Sebetulnya tadi Ade hanya ingin bilang kepada Abi bahwa Ade sudah tahu siapa nama orang yang di kalender tersebut. Masak namanya meng?”
Semoga kejadian ini bisa menjadi ibroh bagi saya khususnya dan kita umumnya. Memahami apa yang disampaikan lawan bicara itu adalah sesuatu yang sangat penting sebelum kita memberikan tanggapan atasnya. Seperti kejadian yang saya alami, maksud hati menasihati namun yang terjadi adalah mengajarkan yang salah.
Jazakumullohu khoiron anak-anakku, dari interaksi dengan kalian pula Abi menggali ilmu setiap harinya. Semoga kalian menjadi anak-anak shalih dan shalihah yang selalu mendo’akan abi dan ummimu. aamiiin.

https://www.facebook.com/notes/769184376442694/