Hafidz berlari dan terus berlari.
Sendirian di tengah hutan rindang, yang ia ingat hanyalah pesan bundanya.
“Berlarilah,
Nak! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.
Sangat jauh ia meninggalkan Bunda
yang terjatuh bersimbah darah. Kaki bundanya terkilir karena terantuk batu
besar saat sedang berlari bersamanya.
“Bunda,
Hafidz tidak mau berpisah dengan Bunda,” ucapnya seraya memeluk Bundanya
yang jatuh tertelungkup. Tangan Hafidz membasah merah, meraba punggung Sang
Bunda yang penuh dengan luka. Di depan mata kepalanya, beberapa orang botak
yang kesetanan menyabetkan senjata tajam berkali-kali ke punggung bundanya
hingga bajunya robek dan tembus hingga ke kulit. Sebelum berlari, bunda sempat
melilitkan kerudung ke kepala hingga lehernya. Tak berpeniti. Membuatnya
semakin terlihat acak-acakan tak karuan. Dalam luka, wajah Bunda masih
tersenyum.
“Berlarilah, Hafidz!
Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.
“Hanya engkau
anggota keluarga yang tersisa, selamatkan dirimu, Nak!”
Hafidz terus memeluk bundanya. Ia
usapkan tangannya berkali-kali ke bajunya. Ia tak mau bila luka Bundanya
semakin perih karena tetesan keringat tangannya.
“Bunda,
Hafidz tak bisa hidup tanpa Bunda,” jawabnya lirih.
Air matanya mengalir
deras. Ia tak mampu lagi menahan tangis. Entah ini sudah merupakan tangisan
yang ke berapa ratus kalinya. Hafidz memang masih sangat kecil. Usianya masih 7
tahun. Usia di mana anak-anak kita asyik main bersepeda di taman kota. Tentu
tak terbayangkan jika ia harus hidup tak tentu arah di tengah hutan.
Namun
ia sangat ketakutan. Di depan matanya, ayah dan kakaknya dibunuh secara sadis.
Puluhan entah ratusan sayatan benda tajam mencincang ayah dan kakaknya. Padahal
usia kakaknya pun tak terpaut jauh darinya. Haris, kakak Hafidz, masih berusia
9 tahun. Usia di mana anak-anak bersekolah. Akan tetapi, Haris tak pernah
bersekolah. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal belajar baca tulis Al Quran
di Musholla kecil nan sederhana. Karena penguasa negeri itu sudah lama menutup
akses pendidikan untuk Hafidz, keluarga serta para tetangganya. Jangankan
pendidikan, akses kebutuhan pokok pun sangat sulit didapatkan.
Hafidz
terus memeluk Bundanya, tangannya kirinya menggenggam erat tangan Sang Bunda.
Sungguh ia tak mau berpisah. Namun ia ketakutan, orang-orang botak dan
berseragam itu sangat membenci Hafidz, keluarganya serta para tetangganya.
Seakan Hafidz dan teman-temannya adalah binatang hama yang harus segera dimusnahkan.
”Bunda!”
panggil Hafidz kepada Bundanya yang terlihat semakin lelah.
“Iya
Nak!” Jawab Bunda dengan tetap tersenyum.
“Bunda,
mengapa mereka sangat membenci kita?” Tanya Hafidz dengan polos.
“Nak, mereka membenci kita hanya karena kita muslim,”
Jelas Bunda.
“Bunda, apakah hanya karena kita muslim, mereka
membenci kita? Bukankah kita tak pernah mengganggu mereka?”
“Iya Nak. Kamu masih terlalu kecil untuk memahami
ini”
“Karena itu, larilah Nak! Segera berlari! Sebelum
orang-orang jahat itu menemukan kita.”
“Hafidz
ingat kan kalau Hafidz harus selalu taat kepada perintah Bunda?”
Bunda pun melepaskan pegangan
tangan Hafidz. Ia mendorong tubuh Hafidz berkali-kali supaya Hafidz mau berdiri
dan berlari.
Hafidz pun terus berlari seraya berkali-kali
menatap ke belakang. Ia meninggalkan Bundanya yang terluka. Ia terus berlari
bertelanjang kaki. Semua duri yang diinjaknya seolah tak dirasa. Berkali-kali
ia menoleh ke arah Bunda, lama kelamaan bayangan Bunda semakin terhalang
dedaunan dan pepohonan. Namun Hafidz terus berlari dan berlari. Ia akan terus
berlari, hingga ia bertemu orang-orang yang bersedia menerima dan menjaganya
sebagai seorang muslim.
#AryH
#PengelolaFPMudahNulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar