Senin, 11 September 2017

"Bunda, Mengapa Mereka Membenci Kita?"

Hafidz berlari dan terus berlari. Sendirian di tengah hutan rindang, yang ia ingat hanyalah pesan bundanya.

“Berlarilah, Nak! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.
Sangat jauh ia meninggalkan Bunda yang terjatuh bersimbah darah. Kaki bundanya terkilir karena terantuk batu besar saat sedang berlari bersamanya. 

            “Bunda, Hafidz tidak mau berpisah dengan Bunda,” ucapnya seraya memeluk Bundanya yang jatuh tertelungkup. Tangan Hafidz membasah merah, meraba punggung Sang Bunda yang penuh dengan luka. Di depan mata kepalanya, beberapa orang botak yang kesetanan menyabetkan senjata tajam berkali-kali ke punggung bundanya hingga bajunya robek dan tembus hingga ke kulit. Sebelum berlari, bunda sempat melilitkan kerudung ke kepala hingga lehernya. Tak berpeniti. Membuatnya semakin terlihat acak-acakan tak karuan. Dalam luka, wajah Bunda masih tersenyum.

“Berlarilah, Hafidz! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.

“Hanya engkau anggota keluarga yang tersisa, selamatkan dirimu, Nak!”

Hafidz terus memeluk bundanya. Ia usapkan tangannya berkali-kali ke bajunya. Ia tak mau bila luka Bundanya semakin perih karena tetesan keringat tangannya.

            “Bunda, Hafidz tak bisa hidup tanpa Bunda,” jawabnya lirih. 

Air matanya mengalir deras. Ia tak mampu lagi menahan tangis. Entah ini sudah merupakan tangisan yang ke berapa ratus kalinya. Hafidz memang masih sangat kecil. Usianya masih 7 tahun. Usia di mana anak-anak kita asyik main bersepeda di taman kota. Tentu tak terbayangkan jika ia harus hidup tak tentu arah di tengah hutan.

Namun ia sangat ketakutan. Di depan matanya, ayah dan kakaknya dibunuh secara sadis. Puluhan entah ratusan sayatan benda tajam mencincang ayah dan kakaknya. Padahal usia kakaknya pun tak terpaut jauh darinya. Haris, kakak Hafidz, masih berusia 9 tahun. Usia di mana anak-anak bersekolah. Akan tetapi, Haris tak pernah bersekolah. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal belajar baca tulis Al Quran di Musholla kecil nan sederhana. Karena penguasa negeri itu sudah lama menutup akses pendidikan untuk Hafidz, keluarga serta para tetangganya. Jangankan pendidikan, akses kebutuhan pokok pun sangat sulit didapatkan.

Hafidz terus memeluk Bundanya, tangannya kirinya menggenggam erat tangan Sang Bunda. Sungguh ia tak mau berpisah. Namun ia ketakutan, orang-orang botak dan berseragam itu sangat membenci Hafidz, keluarganya serta para tetangganya. Seakan Hafidz dan teman-temannya adalah binatang hama yang harus segera dimusnahkan.     

                ”Bunda!” panggil Hafidz kepada Bundanya yang terlihat semakin lelah.

                “Iya Nak!” Jawab Bunda dengan tetap tersenyum.

                “Bunda, mengapa mereka sangat membenci kita?” Tanya Hafidz dengan polos.

                “Nak, mereka membenci kita hanya karena kita muslim,” Jelas Bunda.

                “Bunda, apakah hanya karena kita muslim, mereka membenci kita? Bukankah kita tak pernah mengganggu mereka?”

                “Iya Nak. Kamu masih terlalu kecil untuk memahami ini”

                “Karena itu, larilah Nak! Segera berlari! Sebelum orang-orang jahat itu menemukan kita.”

                “Hafidz ingat kan kalau Hafidz harus selalu taat kepada perintah Bunda?”

Bunda pun melepaskan pegangan tangan Hafidz. Ia mendorong tubuh Hafidz berkali-kali supaya Hafidz mau berdiri dan berlari.

Hafidz pun terus berlari seraya berkali-kali menatap ke belakang. Ia meninggalkan Bundanya yang terluka. Ia terus berlari bertelanjang kaki. Semua duri yang diinjaknya seolah tak dirasa. Berkali-kali ia menoleh ke arah Bunda, lama kelamaan bayangan Bunda semakin terhalang dedaunan dan pepohonan. Namun Hafidz terus berlari dan berlari. Ia akan terus berlari, hingga ia bertemu orang-orang yang bersedia menerima dan menjaganya sebagai seorang muslim.

#AryH
#PengelolaFPMudahNulis


       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar