Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Apa yang Kamu Sembah Sepeninggalku?

Ma ta’buduna min ba’di?

Kaum Yahudi dan Nashrani selalu berpaling dari mentauhidkan Allah Swt. Bahkan tatkala mereka hidup di jaman Rasulullah Saw, pada saat wahyu masih turun. Mereka juga mendustakan Rasulullah. Padahal mereka berhadapan langsung dengan Sang Utusan Allah tersebut. Tak hentinya mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Kaum Yahudi berkata bahwa Uzair anak Allah, sedangkan Kaum Nashrani berkata bahwa Isa Al Masih sebagai anak Allah. (lih. Q.S. At-Taubah[9]: 30). Sebuah kedustaan yang nyata, yang sangat bertentangan dengan ajaran tauhid.

Mereka menasabkan keturunan mereka kepada Nabi Ibrahim a.s., Ismail a.s., Ishaq a.s. maupun Ya’qub a.s. Oleh karena itu, Allah Swt mengingatkan mereka atas semua pengingkaran mereka. Allah Swt berfirman :
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ         
Artinya :
“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (TQS. Al Baqarah[2] : 133).

Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa yang diseru sebagai “kalian” dalam ayat ini adalah Yahudi dan Nashrani. Mereka bernasab kepada Nabi Ibrahim tetapi tidak pernah berwasiat sebagaimana kakek buyutnya. Bahkan, mereka tetap dalam keyakinan Yahudi dan Nashrani. Allah Swt menentang perkataan dan dusta mereka. Allah mencela mereka : Apakah kalian menyaksikan Ya’qub dan mengetahui apa yang diwasiatkannya? kemudian kalian menyerukannya berdasar pada ilmu? Yakni, kalian tidak menyaksikannya, bahkan kalian berpaling (darinya). Aku-lah yang menyaksikan pendahulu kalian (Ya’qub). (Al Jaami’ li Ahkaam al Qur-aan).

Adapun Imam Thabari mengutip Abu Ja’far yang mengatakan : Apakah kalian -wahai bangsa Yahudi dan Nashrani- yang mendustakan Nabi Muhammad, hadir dan menyaksikan saat maut akan menjemput Ya’qub? Jika kalian tidak hadir di sana, maka janganlah kalian menyerukan berbagai kebathilan terhadap para Nabi dan utusan-Ku. Bahkan, kalian mengklaim mereka termasuk golongan Yahudi dan Nashrani. Sesungguhnya Aku-lah yang mengutus kekasih-Ku Ibrahim –serta anaknya Ishaq, Ismail dan keturunannya- dengan kelurusan Tauhid dan berserah diri (kepada-Ku). Dengan itu pula mereka berwasiat kepada anak keturunannya. Berdasar keyakinan itu pula, mereka membuat perjanjian dengan anak keturunannya. Seandainya kalian menyaksikan mereka. (Jamii’u al-Bayaan li Ta’wiil al Qur-aan).

Wasiat penting yang ditanyakan Ya’qub kepada anak keturunannya tidak lain adalah “ma ta’buduna min ba’di?” (“Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”). Sebuah pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang memberikan keleluasaan jawaban kepada orang yang ditanya. Imam Asy-Syaukani menegaskan bahwa dikatakan “ma ta’buduna” karena yang disembah selain Allah, pada umumnya adalah benda-benda mati seperti berhala, api, matahari dan bintang. (Fathu al-Qodiir)

Pertanyaan yang mengandung makna yang dalam. Karena penggunaan lafadz “ma” mengandung makna tersendiri. Syaikh Atha Ibnu Khalil Abu ar-Rasytah menjelaskan bahwa jawaban yang diberikan anak keturunan Ya’qub, yakni penyembahan kepada Allah semata, merupakan jawaban yang tidak berdasar pada taqlid atau arahan dari ayah mereka. Akan tetapi jawaban tersebut terlahir dari penerimaan yang rasional dan iman yang benar akan hal tersebut. Seolah-olah ketika mereka ditanya tentang “ma ta’buduna”, mereka tidak memiliki informasi sebelumnya dari siapapun. Mereka pun menjawabnya berdasar pada keyakinan, bukan ketaqlidan. Dikarenakan orang Arab menggunakan lafadz “ma” ketika bertanya tentang sesuatu yang majhul (tidak dikenal). Sedangkan jika diketahui makhluk berakal maka memakai “man”, apabila bertanya terhadapnya. Adapun jika bertanya mengenai gambarannya, maka dikatakanlah “ma zaidun a faqiihun am thobiibun?” (“Apakah Zaid seorang faqih ataukah dokter?”).

Pertanyaan “ma ta’buduna min ba’di?” merupakan pertanyaan bagi mereka tentang sesembahan mereka, pertanyaan yang mendasar. Sebagaimana jika mereka belum mengetahui sesuatu apapun dari Si penanya tentang hal yang ditanyakan. Sehingga, jawaban mereka bukanlah taqlid atau berdasar informasi yang tidak memiliki argumentasi. Tetapi, sebuah jawaban yang dibangun atas ilmu yang pasti, seperti inilah buktinya. (At Taisiir fi Ushuul at Tafsiir).

Allah Swt mengkabarkan bahwa jawaban anak keturunan Ya’qub a.s. adalah jawaban yang teguh di atas ajaran tauhid. Yakni, penegasan bahwa kami ikhlas beribadah kepada Allah, mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta tidak menjadikan selain-Nya sebagai sesembahan. Dengan menelaah ayat ini, tertolaklah semua klaim dan kebohongan yang ditimpakan Yahudi dan Nashrani kepada para Nabi dan Rasul Allah. Tertolak pula semua ide kufur yang menyatakan tiga agama satu tuhan  Ide sinkretisme yang beranggapan bahwa perbedaan Islam, Yahudi dan Nashrani hanyalah perbedaan cara semata. Ajaran yang mengatakan bahwa pangkal ketiga agama tersebut intinya adalah ajaran Nabi Ibrahim, ini adalah ide kufur yang menyesatkan.

Meskipun yang diseru langsung di dalam ayat ini adalah kaum Yahudi dan Nashrani. Bukan berarti kita tidak perlu mengambil ibrah darinya. Bahkan sebaliknya, kita mesti mengambil pendidikan dan pengajaran darinya. Sebuah pelajaran tentang perkara penting dan utama dalam pendidikan anak-anak kita.

Ketika seseorang sakit keras, sebuah sakit yang biasanya mengantarkan pada kematian. Perkataannya tentu tidaklah akan jauh dari apa yang selalu ada di benaknya. Jika selama sehatnya yang ada di benaknya adalah harta, tentu harta itulah yang akan ia tanyakan dan katakan. Oleh karena itu, ketika seorang Ya’qub bertanya “ma ta’buduna min ba’di?” tentu pengajaran tauhid itulah yang selalu ada di benaknya. Lalu, bagaimanakah dengan kita?

Di era yang serba materialistis ini, tidak jarang para orang tua dihadapkan pada kekhawatiran akan masa depan anak-anaknya. Namun sayangnya, kekhawatiran itu seringkali bukanlah tentang “ma ta’buduna min ba’di?” Bahkan lebih cenderung pada “ma ta’kuluna min ba’di?” (Apa yang kalian makan sepeninggalku?). Atau mungkin “ma taf’aluna min ba’di?” (“Apa yang kalian kerjakan sepeninggalku?”), pertanyaan tentang profesi dan pekerjaannya. Sehingga, tidak jarang para orang tua memporsir anak-anaknya untuk belajar ini dan itu, menguasai keterampilan ini dan itu. Tetapi penekanan akan Tauhid, dilupakan. Tidak sedikit dari kita yang jarang sekali atau bahkan tak pernah peduli akan pertanyaan, “ma ta’buduna min ba’di?” Seolah-olah semua hal tentang anak-anak kita hanyalah tentang materi dan harta untuknya. Na’udzu billahi min dzalik.


Menyiapkan masa depan terbaik untuk anak-anak kita memang tanggung jawab setiap orang tua. Akan tetapi, akhirat tetaplah jauh lebih baik dibandingkan dunia. Bahkan, dunia pun diraih untuk kepentingan akhirat, bukan sebaliknya. Ma ta’buduna min ba’di? merupakan pertanyaan tentang siapa yang paling berhak disembah dan ditaati. Mendidik anak keturunan kita tentang kepada siapakah mereka mesti menghamba. Menghamba kepada Allah merupakan misi utama penciptaan jin dan manusia. Sudahkah kita berwasiat kepada anak-anak kita, wasiat yang mampu menjawab pertanyaan “ma ta’buduna min ba’di?” dengan jawaban yang penuh keimanan dan kesadaran. Semoga.
(Tulisan pengingat diri pribadi dan keluarga, Ary Herawan, 7 Jumadil Akhir 1437 H)

Jumat, 11 Desember 2015

Kecepatan dan Percepatan dalam Hidup

Bagi yang pernah mendengarkan ceramahnya KH. Abdullah Gymnastiar, apa yang saya tuliskan di atas mungkin bukan sesuatu yang asing. Saya pun pernah mendengarnya dari ceramah beliau sekitar 11 tahun yang lalu. Mudah-mudahan ini bisa merefresh kembali ingatan kita mengenai hal tersebut.

Dalam konsep sains, kecepatan adalah besarnya perpindahan persatuan waktu. Jadi semakin sedikit waktu yang yang dibutuhkan oleh suatu benda untuk menempuh jarak tertentu maka semakin tinggi kecepatannya. Misal bila seorang pelari 100 meter yang memerlukan waktu 9 detik untuk sampai ke garis finish, berarti ia lebih cepat bila dibandingkan dengan pelari 100 meter yang memerlukan waktu 11 detik untuk sampai ke garis finish. Kita bisa membayangkannya, siapa di antara mereka yang memenangkan perlombaan.

Berbeda dengan kecepatan, percepatan adalah besarnya perubahan kecepatan persatuan waktu. Percepatan tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan kecepatan. Misalnya seorang pelari yang memiliki percepatan 2 m/s2, berarti dia melakukan pertambahan kecepatan sebanyak 2 m/s dalam setiap detiknya. Bila ia memulai start dalam kondisi diam, maka detik pertama ia menempuh jarak 1 m, detik kedua 4 m, detik ketiga 9 m dan jarak yang ditempuh terus meningkat seiring dengan pertambahan kecepatannya. Sehingga pada detik ke-5 ia bisa menempuh jarak 5 m. Berbeda dengan pelari yang hanya mengandalkan kecepatan saja, walaupun ia memulai detik pertama dengan kecepatan 4 m/s (lebih cepat dari pelari pertama). Akan tetapi setelah itu ia tidak melakukan percepatan (kecepatannya konstan), maka detik pertama ia menempuh jarak 4 m, detik kedua 8 m, detik ketiga 12 m dan seterusnya. Sehingga pada detik ke-5, ia hanya akan menempuh jarak sejauh 20 m. Kita pun bisa membayangkannya, walaupun pada awalnya terlambat, namun yang melakukan percepatanlah yang akan memenangkan perlombaan.

Kehidupan manusia penuh dengan dinamika. Sehingga dalam hidup pun setiap manusia selalu berpindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, tidak ada yang tetap. Terkadang kita tidak menyangka, tetangga kita yang miskin pada tahun lalu, tahun ini ia menjadi seorang pengusaha sukses. Atau tiba-tiba kita menemukan sebuah buku dengan tulisan nama teman kita di covernya. “Dahulu Si Fulan tidak bisa mengarang, kok tiba-tiba bisa menyusun sebuah buku” tanya kita dalam hati. Atau bisa juga kita menemukan kejadian yang lain, seorang teman kita yang tidak bisa bicara di hadapan umum, malahan saat ini menjadi seorang motivator atau trainer terkenal. Kadang timbul pertanyaan di benak kita, “Apa yang dia lakukan sampai bisa seperti itu ya?”
Orang-orang yang telah ‘menyalip’ hidup kita, kemudian mereka tampil di barisan terdepan itulah mereka yang telah melakukan percepatan dalam hidup. Atau mereka melakukan percepatan yang lebih tinggi daripada yang kita lakukan. Kita dapat bayangkan, bila kita menjalani hidup dengan kecepatan konstan (percepatan = 0) maka akan banyak orang yang ‘menyalip’ hidup kita, yaitu mereka yang melakukan peningkatan kecepatan (percepatan) dalam hidupnya. Jadi bila kita berada dalam ketertinggalan, kita harus memiliki percepatan.

Sebagaimana dalam konsep sains, percepatan terjadi dengan adanya pemberian gaya, dan besarnya gaya persatuan waktu itulah yang kemudian disebut dengan usaha (work). Semakin besar usaha yang dilakukan maka waktu yang dibutuhkan akan semakin sedikit. Karena itulah, usaha adalah konsekuensi yang mesti dilakukan bila kita menginginkan percepatan dalam hidup.

Seringkali ketika kita melihat keberhasilan orang lain dalam hidup, kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Kita tidak memperhatikan proses usaha yang telah dia lakukan. Misal, tatkala kita menyaksikan seseorang dengan kemampuan yang menonjol seperti ahli retorika yang mengagumkan, penulis yang handal, pengusaha yang terampil, pendidik yang profesional, pelajar yang sukses dan sebagainya, kita tidak memperhatikan bagaimana besarnya usaha telah ia kerahkan sampai bisa seperti itu. Ia mesti telah melakukan usaha yang besar sampai bisa seperti itu, bisa menukar waktu tidurnya dengan latihan pidato, bisa menukar waktu bermainnya dengan mengikuti training/seminar, bisa bisa menukar waktu nonton tvnya dengan membaca buku, bisa menukar kesenangan jajannya dengan berinvestasi, bisa mengganti waktu main gamenya dengan latihan menulis dan sebagainya.

Berikut adalah beberapa fakta yang bisa kita jadikan contoh. Untuk menjadi penulis yang handal, seorang Felix Siauw telah menukar waktu main gamenya dengan latihan menulis. Untuk menjadi seorang retoris yang mengagumkan, seorang Dwi Condro Triono, penulis buku best seller Retorika untuk Mengguncang Dunia, hampir setiap pagi mengisi ceramah di hadapan teman-teman kostnya. Bila ada temannya yang tidak bersedia mengisi ceramah, beliau selalu siap tampil untuk menggantikannya (sebagaimana yang pernah penulis dengar langsung dari beliau). Seorang Fahmi Amhar, yang pernah dikukuhkan sebagai doktor dan peneliti termuda di Indonesia, beliau pernah menulis di dalam status FB-nya, yang intinya, untuk menjadi seperti saat ini berapa banyak kesenangan yang harus ia tukar dengan berbagai kesabaran.
Begitu pun apabila kita berkaca pada para pendahulu kita, misalnya Imam Syafi’i yang menjadi penghapal Al Quran pada usia 7 tahun, ibunya adalah seorang hafidzah yang mengkhatamkan Al Quran 2 kali dalam seminggu. Artinya, ibu beliau telah meluangkan waktu untuk selalu mengkhatamkan Al Quran sehingga Imam Syafi’i sangat sering mendengar bacaan Al Quran sejak masih dalam kandungan. Begitu juga Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel, beliau telah menghabiskan masa kecilnya dengan mempelajari aqidah dan syariah, berbagai bahasa, geografi, taktik perang dan sebagainya. Apalagi bila kita berkaca kepada Rasulullah SAW, kesuksesan beliau dalam berdakwah karena beliau telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk berdakwah, setelah diangkat menjadi Rasul, beliau bersabda kepada Khadijah r.a., “Tidak ada waktu istirahat (bagi kita) setelah hari ini.”

Begitulah sunatullah, untuk menghasilkan percepatan dalam hidup, kita mesti melakukan usaha. Namun, penting untuk kita pahami bahwa keberhasilan dalam hidup tidak bisa hanya mengandalkan percepatan. Kita mesti kita ingat, bahwa percepatan adalah suatu besaran vektor, artinya ia tidak hanya memiliki nilai, tetapi ia juga memiliki arah. Sehingga percepatan itu mesti mengarah pada satu tujuan yang benar.
Bila kita adalah orang biasa yang menginginkan menjadi seorang penulis yang handal, maka percepatan kita harus diarahkan kepada tujuan tersebut dan kita pun hanya melakukan usaha yang relevan dengan tujuan tersebut. Misal untuk menjadi seorang penulis kita membiasakan diri menulis satu paragrap perhari, atau meluangkan waktu untuk menulis setengah jam perhari.

Sebagai seorang muslim, kita pun mesti menyadari bahwa arah percepatan hidup yang mesti searah dengan tujuan utama kita, yaitu keridloan Allah SWT. Sebagaimana Firman-Nya :

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash[28]:77)

Semoga kita menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidup ini, yaitu orang yang bisa melakukan percepatan dalam hidup dan mengarahkannya menuju tujuan utama, yakni keridloan Allah SWT. aamiiin. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(ary.attasiky.28/12/2013)

Kamis, 05 November 2015

Organ-organ Tubuh yang Protes

"Organ-organ tubuh protes, mereka butuh istirahat," kata dokter Tatan. Dokter yang kutemui pagi ini di tempat prakteknya. Selama dua minggu ini aku memang merasakan kondisi badan yang kurang fit, mudah lelah, sering ngantuk dan ada rasa terbakar di mulut. Produktifitas aktifitas pun menjadi menurun. Sadar diri akan hal ini, konsultasi ke dokter adalah alternatif solusinya.

"Tubuh manusia itu unik, ia selalu memberi sinyal," jelas pak Dokter. "Setiap butuh asupan makanan, timbul rasa lapar. Ketika butuh minuman, muncul rasa haus. Begitupun tatkala butuh tidur, tubuh mengirimkan sinyal kantuk." Lanjutnya. Penjelasan ini mengingatkanku pada kebutuhan fisik (Al Hajah Al Udlwiyyah). Salah satu potensi manusia yang diberikan oleh Sang Pencipta. Potensi tubuh ini memaksa manusia untuk makan, minum dan istirahat. Bila tidak dilayani, ia akan protes dan mengantarkan pada rasa sakit. Inilah mungkin yang dilakukan organ-organ tubuhku kini, pikirku.

"Karena itulah tatkala tubuh meminta, jangan telat minum, makan dan tidur," pesan Sang Dokter yang terkenal ramah itu, kepadaku pagi tadi. Belakangan ini, aku memang tidak pernah menunda makan jika lapar. Tetapi kuakui, jika minum air putih dan istirahat sering kutunda. Mungkin inilah yang membuat metabolisme tubuh menjadi kurang seimbang. Karena, ia juga menekankan kepadaku bahwa air putih sangat penting untuk membuang racun-racun dalam tubuh. Gangguan metabolisme inilah yang mengirim sinyal rasa pahit ke mulut. Mau makan dan minum yang manis pun, mulut tetap terasa pahit.

"Kita ikhtiar dulu dengan obat ya?" Tanyanya padaku. Aku tahu, ini hanyalah pertanyaan retoris yang tidak perlu untuk dijawab. Karena yang penting adalah kalimat berikutnya. Ia berkata, "semoga Allah Swt memberikan kesembuhan. Aamiin." Inilah yang penting. Allah Swt -lah pemilik raga ini dan kepadaNya-lah kita serahkan semuanya, karena manusia hidup hanya untuk mengabdi pada-Nya.

Membuat tulisan ini, saya teringat sosok Ustadz Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia. Pasca sakit jantung yang -secara medis- hampir merenggut nyawa beliau, tulisannya yang berjudul "Lelaki Bercincin" langsung muncul di media. Pikirku, kapan beliau menulisnya. Teringat pula akan sosok ulama produktif Syaikh Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah. Kata guruku, Syaikh Ibnu Qoyyim biasa menulis sambil duduk. Ketika beliau merasakan pegal, beliau lalu menulis sambil berdiri. Tatkala lelah menulis sambil berdiri, beliau pun menulis sambil berbaring. Karena itulah, di tengah protesnya organ-organ tubuhku, aku pun menyusun tulisan ini sembari berbaring.

Lelah itu pasti, karena di dunia tempat lelah. Sakit itu ketetapan Allah Swt, kita tak bisa melawannya. Tetapi menyikapi sakit dalam memperjuangkan cita-cita, itu adalah pilihan. Dan pilihanku adalah di sini. Tetap belajar, beramal dan berbagi hingga ajal tiba. Semoga.

(Ary Herawan, 24 Muharam 1437 H)

Kamis, 29 Oktober 2015

Tulisanku Malam Ini

Tulisanku Malam Ini
(Menulis Apapun selama 30 menit)

Malam ini, entah apa yang akan kutuliskan. Namun, ini adalah bentuk komitmenku pada tujuan, komitmenku pada program Sang Pembelajar. Program yang aku canangkan sendiri untuk diriku. Meskipun waktu telah menunjukkan jam 22.48 wib, tetapi utang waktuku pada programku masih tersisa. Yakni, muroja’ah hafalan dan menulis selama 30 menit. Oleh karena itulah, apapun harus aku tulis. Inilah realisasi dari program menulis apapun selama 30 menit. Karena kita tidak menulis karena kita ingin menulis, tetapi kita menulis karena kita harus menulis.
Sebenarnya, ingin sekali diri ini mengkritisi pengesahan RUU Pengupahan. Karena bila ditelaah, pengesahan RUU tersebut hanyalah program itu melanggengkan dominasi para kapital (pemilik modal), tentunya siapa di balik mereka kita pun tahu, tiada lain adalah para pemodal asing. Selain itu, ingin juga menulis tentang kunjungan Jokowi ke AS. Sungguh terang-terangan presiden AS Barrack Obama mengatakan bahwa pertemuan itu lebih untuk kepentingan AS. Sudah nyata seperti itu, kok sampai didatangi segala.
Ada juga fakta tentang pemberian sumbangan dari AS lebih dari 2 milyar untuk menangani kebakaran lahan. Ingin juga mengkritisinya sebagai bagian dari membongkar makar penjajah. Bagaimana AS terlihat sok peduli lingkungan, padahal pada kenyataannya. Negara-negara besarah yang banyak melakukan perusakan lingkungan.  Bahkan mereka membuat program jual beli karbon untuk menyeimbangkan lingkungan. Mereka buang emisi karbonnya secara bebas, biarlah negara berkembang dan miskin yang melakukan penanaman guna mengurangi emisi karbon.
Di benak ini, terlintas juga untuk menyelesaikan cerpen tentang “Aku dan Sepeda Baruku”, atau “Secercah Hidayah di Surau Sekolah”. Namun, seolah ada hambatan dari mana memulainya. Seperti mood dan tidak mood itu tidak bisa diciptakan. Memang benar, apa yang saya kutip dari bukunya Much. Khoiri, kita tidak menulis karena kita ingin menulis. Buktinya, ingin menulis ini, ingin menulis itu, tetapi tidak ada satu pun yang ditulis. Akan tetapi, tulisan ini ditulis dengan penekanan bahwa aku harus menulis. Terbukti, jadilah tulisan ini.
Tulisan ini sengaja mengalir begitu saja. Saya ingin tahu sejauh mana saya bisa bertahan menulis apapun selama 30 menit. Masa iya yang buat program tetapi tidak bisa menjalankannya. Padahal tadi malam program menulis apapun selama 30 menit, saya lewatkan begitu saja. Begitu pula upload  tulisan ke blog pribadi, terlewatkan sekali (dari target 2 hari sekali).
Sebenarnya, malu juga kepada diri sendiri. Terutama jika membaca buku-buku yang mengajak pada kehidupan liberal (serba bebas). Diri ini belum mampu membantahnya dengan menerbitkan buku juga. Seperti beberapa hari yang lalu di perpustakaan sekolah, menemukan buku yang isinya penuh dengan sinkretisme, pluralisme dan gaya hidup bebas. Kesel sih, tapi mengapa aku belum bisa bikin yang lebih bagus dari mereka? Itulah yang kerap jadi pertanyaan. Oleh karena itu, jawabannya tidak lain adalah aku harus menulis apapun selama 30 menit sehari. Supaya aku menjadi terlatih dan bisa juga menerbitkan buku tahun depan. aamiiin.  
Akhir tulisan ini, saya mohon maaf karena ngantuk sudah mendera. Semoga kita bertemu di puncak kesuksesan. Aamiiin. (Ary Herawan, 29/10/2015)

Senin, 27 April 2015

Istiqomah dalam Idealisme Dakwah

Image result for istiqomah dakwah khilafah
Pada tahun 2000-an Penulis pernah berkesempatan menjadi panitia sebuah kegiatan keagamaan. Saat itu Penulis bersama beberapa teman masih aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) pada salah satu PTS di Jogjakarta. Masih terngiang sampai saat ini, ketika itu salah satu pembicara mengatakan bahwa dunia mahasiswa adalah dunia yang sangat idealis. Dunia mahasiswa bukanlah dunia nyata. Dunia nyata adalah saat kita sudah keluar dari kampus. Kita yang sekarang, bisa jadi bukanlah kita yang nanti. Begitulah kurang lebih ia menuturkan pada awal penyampaian materinya. Pada saat itu Penulis berpikir, apa maksudnya? masa iya seperti itu dunia di luar kampus? Tapi, apa yang disampaikan Sang Pemateri tersebut kini menjadi kenyataan. Sekitar 15 tahun telah berlalu, kami yang dulu aktif di LDK pun sekarang sudah tersebar di berbagai tempat. Saat ini, berbagai profesi pun telah kami sandang. Namun, hanya segelintir saja di antara kami yang masih menjadi aktifis dakwah. Bahkan, para senior pun banyak yang berguguran. Ternyata, istiqomah itu tidaklah mudah.

Berjalan dengan penuh keistiqomahan memang akan menghadapi banyak godaan. Apalagi istiqomah dalam hal yang bersifat prinsip dan kebenaran. Ada orang yang pada saat mudanya, teguh sekali memegang aturan Islam. Jangankan pacaran, ketemu lawan jenis saja ia langsung memalingkan muka. Tapi ketika sudah beristri dan bekerja, ia malah menjadi berani untuk boncengan dengan rekan kerjanya yang bukan mahrom, kerap yang menjadi alasannya adalah tuntutan pekerjaan.

Kita mungkin masih ingat peristiwa reformasi 1998. Saat itu para aktifis pemuda dan mahasiswa gencar sekali menentang korupsi. Saat ini tidak sedikit di antara mereka yang memegang jabatan di pemerintahan, tapi semua idealisme anti korupsinya telah luntur, malahan tak jarang justru menjadi biangnya korupsi.  Atau bahkan ada aktifis Islam yang bertahun-tahun menyuarakan Islam sebagai satu-satunya ideologi yang benar. Ia pun mengajarkan ke banyak orang bahwa memisahkan Islam dengan ideologi adalah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan), dan sekulerisme adalah ide kufur yang haram untuk diperjuangkan. Namun, saat ini ia malahan jor-joran menolak Islam sebagai ideologi. Islam hanyalah aqidah, namun untuk ideologi kita bisa mengambil yang lain, katanya. Kemudian, berbagai alasan lainnya pun ia lontarkan, asal menegaskan bahwa Islam bukanlah ideologi. Padahal alasan-alasan tersebutlah yang dahulu sering ia bantah saat ia menjelaskan Islam sebagai ideologi. Ada pula para aktifis yang ketika di masa muda membela Islam, namun ketika dewasa ia malah menjadi aktifis proyek anti terorisme. Padahal, proyek tersebut penuh rekayasa Barat dalam memerangi kebangkitan Islam.

Istiqomah atau konsisten memang bukanlah kata yang bisa berdiri sendiri, yang ketika kita menjalaninya maka akan dijamin mendapat pujian dari Allah SWT. Hanya istiqomah dalam kebenaranlah yang akan mendapat pahala dari Allah SWT, sebagaimana firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang mereka berkata:”Tuhan kami adalah Allah.” Lalu mereka istiqomah, para malaikat akan turun atas mereka (dengan berkata):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (TQS. Fushilat[41]:30)
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”, lalu mereka tetap istiqomah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”(TQS. Al-Ahqof[46]:13).
Adanya do’a dari para malaikat, surga dan kepastian hilangnya rasa khawatir dan kesedihan merupakan janji Allah kepada orang-orang yang istiqomah dalam hal keimanan.

Rasulullah SAW pun memberikan penegasan kemestian istiqomah  dalam hal  pengamalan syariah. Tatkala ada yang meminta supaya hukum potong tangan tidak diberlakukan kepada pencuri dari kalangan bangsawan, Rasulullah SAW menolaknya dengan mengatakan bahwa seandainya putrinya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya beliau pun akan memotong tangan putrinya tersebut.

Sikap Rasulullah SAW dalam berdakwah pun sama. Tatkala Utbah bin Rabi’ah menawarkan harta, kemuliaan dan jabatan supaya Rasulullah SAW meninggalkan dakwahnya, beliau dengan tegas menolaknya. Kemudian saat beliau dirayu pamannya (Abu Thalib) untuk menghentikan dakwahnya, beliau menegaskan : “Wahai paman, demi Allah, kalaupun mereka menaruh matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku supaya aku meninggalkan urusan (agama) ini, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan agamanya atau aku binasa karenanya.”1)

Sikap yang sama pula ditunjukkan oleh beliau SAW ketika didatangi perwakilan tokoh kafir Quraisy. Mereka yang terdiri dari Aswad bin Al Muthallib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Al Walid bin Al Mughirah, Umayah bin Khalaf dan Al ‘Ash bin Wa’il As Sahmi mendatangi beliau SAW pada saat thawaf di Ka’bah. Mereka berkata :
“Wahai Muhammad, Biarkanlah kami menyembah apa yang engkau sembah dan engkau juga menyembah apa yang kami sembah sehingga kami dan engkau dapat bekerja sama dalam menjalankan urusan ini.”
“Jika yang engkau sembah itu lebih baik daripada apa yang kami sembah, berarti kami telah mengambil bagian kami darinya. Demikian pula jika apa yang kami sembah lebih baik daripada yang engkau sembah, berarti engkau telah mendapatkan bagianmu darinya,” lanjut mereka.2)
Rasulullah menjawabnya dengan wahyu Allah SWT, yang artinya :
“Katakanlah! Hai orang-orang kafir ! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu juga tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”(TQS. Al Kafirun[109]: 1-6).

Sebetulnya masih banyak lagi contoh keistiqomahan sikap Rasulullah SAW dalam memegang prinsip kebenaran, mungkin perlu bab tersendiri untuk membahasnya. Namun yang mesti menjadi panduan bagi kita adalah bahwasanya ancaman dan godaan memang selalu berputar merayu-rayu keistiqomahan kita. Berbagai keburukan dari mulai hinaan, ejekan, propaganda sampai hilangnya nyawa senantiasa mengancam orang-orang yang istiqomah. Begitu pula berbagai kebaikan berupa pujian, materi, tahta bahkan wanita pun selalu menggoda orang-orang yang istiqomah.

Tulisan ini memang tidak menafikan adanya perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, yang bisa jadi seseorang berpindah dari satu pendapat mujtahid kepada pendapat mujtahid yang lain. Namun penulis berharap, semoga kita dan semua yang telah berkomitmen menjadi para pembela Islam, senantiasa dikuatkan untuk selalu istiqomah dalam keimanan dan amal. Cukuplah firman Allah SWT berikut menjadi bahan renungan bagi kita semua :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS. At Taubah[9]:16).

Sebagaimana kutipan sebuah lagu “aku yang dulu bukanlah yang sekarang”. Maka, tidak menutup kemungkinan pula terjadi pada diri kita “aku yang nanti bukanlah yang sekarang”. Bila itu terjadi tentunya kita berharap pada tataran yang mubah (boleh) bukan pada degradasi idealisme dakwah. Walhasil, hanya Allah swt yang Maha Membolak-balikan hati, marilah kita bermunajat kepada Allah, “Ya Allah, yang Maha Membolak-balikkan hati teguhkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu. aamiin.” Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan)

Daftar Pustaka :
1) Muhammad Rawwas Qol’ahji. 2007. Sirah Nabawiyah. Al Azhar Press.

2) Ahmad Hatta, dkk. 2011. The Great Story of Muhammad SAW. Maghfirah Pustaka.

Senin, 16 Maret 2015

Membaca dan Menulis, Aktifitas Kaum Muslim

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013  menyebutkan bahwa orang baca di Indonesia hanya 20 persen. Sementara hampir 80 persen orang lebih suka nonton TV (televisi) dan mendengarkan radio. Bahkan indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu yang mempunyai minat baca. Rendahnya minat baca tersebut, tentu berdampak terhadap minat menulis, hasil-hasil karya tulis ilmiah mahasiswa Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN sangat berbeda jauh.
Berdasarkan data Indonesian Scientific Journal Database terdata sekitar 13.047 buah jurnal di Indonesia yang berkategori ilmiah yang masih aktif, sangat tertinggal jauh dari Malaysia yang sudah 55.211 dan Thailand 58.931. Kepala Balai Bahasa Bandung, Abdul Khak menuturkan, tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan anak muda. (republika.co.id)
Sesungguhnya membaca dan menulis adalah aktifitas yang tidak asing bagi kaum muslim. “Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan” adalah terjemah ayat pertama dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, Allah SWT menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang yang membaca Al Quran dan mengajarkan Al Quran, tentunya termasuk mengajarkan cara membacanya. Begitupun dengan aktifitas menulis, setiap kali Rasulullah saw menyampaikan wahyu yang diterimanya, para shahabat langsung menjaganya dengan hafalan dan tulisan.  
Menuliskan Al Quran tentu berbeda dengan menulis karya. Menuliskan Al Quran adalah mencatat apa adanya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Para shahabat hanya mencatat apa adanya, semua isi dan urutannya sudah merupakan ketetapan Allah SWT. Jadi menuliskan Al Quran adalah mencatatnya sebagai input pemahaman, sedangkan menulis karya adalah menyampaikan informasi melalui media tulisan, atau output pemahaman. Akan tetapi, yang Penulis soroti adalah aktifitas menulisnya. Baik yang berupa input pemahaman maupun outputnya.
Dalam buku Pengantar Ilmu-ilmu Al Quran (Terj. Al Manar fi ‘Ulumil Quran), Dr. Muhammad Ali Al Hasan menjelaskan tentang peristiwa Jam’ul Quran (pengumpulan Al Quran). Beliau mengutip perkataan Zaid bin Tsabit r.a. yang mengatakan bahwa ia (Zaid) mengumpulkan Al Quran dari tulisan-tulisan yang terdapat pada tulang-tulang ekor, batu-batuan yang tipis dan dari hafalan para shahabat. Selain itu, para ulama menjelaskan bahwa fase pertama dari Jam’ul Quran adalah pengumpulan pada masa Rasulullah saw, yang berarti menghafalkan dan menuliskan setiap kali ada ayat yang turun.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., Utsman bin Affan berkata: Jika turun ayat, Nabi saw. memanggil beberapa orang penulis lalu beliau bersabda, “Letakkan ini di surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begini.” (HR. Abu Ubaid di Fadhâil, Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dalam Al-Kubrâ, Ibn al-Mundzir, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi, dll). Pada masa Nabi Muhammad saw, Al Quran telah berhasil dikumpulkan dengan jalan dihafal dan ditulis. Muhammad bin al-Hanafiyah ditanya tentang peninggalan Nabi SAW, maka dia berkata: “Beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali maa baina ad-diffatain (apa-apa yang ada di antara dua sampul), yaitu al-Quran.” Selain menjelaskan tentang keterjagaan Al Quran, beberapa riwayat tersebut membuktikan adanya aktifitas menulis generasi awal kaum muslim.
Begitu pula generasi emas kaum muslimin selanjutnya, Imam Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami'al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari. Imam Abu Dawud telah menulis 35 kitab, 1.871 bab, dan 4.800 hadis. Ulama pencetus madzhab Syafi’i, Imam Syafi’i, telah menulis ratusan kitab. Menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 kitab, sedangkan menurut Al-Marwaziy sebanyak 113 kitab. Sementara Yaqut Al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu An-Nadim dalam Al-Fahrasat.
Selain yang telah disebutkan penulis, masih ada jutaan penulis muslim yang terdiri dari para shahabat, tabi’in, muhaddits, serta para ulama lainnya dengan hasil yang istimewa. Selain daya hafal yang luar biasa, aktifitas membaca dan menulis mereka, tentunya menjadi pendukung utama tersusunnya karya-karya monumental tersebut.
Dalam masalah sains dan teknologi, salah satu ilmuwan muslim terkenal adalah Ibnu Sina. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdullah Ibn Sina, ia telah menulis dalam berbagai bidang termasuk teologi, filologi, matematika, astronomi, dan fisika. Karya-karyanya berjumlah hampir 450 volume dari  berbagai mata pelajaran, 240 volume di antaranya terselamatkan. Secara khusus, 150 karya berkonsentrasi pada filsafat dan 40 lainnya berkonsentrasi pada obat-obatan. Karyanya yang paling masyhur adalah Al Qanun fi al-Tibb ("Kanun"). Buku tersebut telah diterbitkan di Roma pada tahun 1593 sebelum dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka masa tidak sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 buah bahasa. Pada abad ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan pokok di beberapa universitas Italia dan Perancis. Malahan sampai abad ke-19, bukunya masih diulang cetak dan digunakan oleh para mahasiswa kedokteran.
Seutama-utamanya membaca, tentu membaca Al Quran, karena merupakan petunjuk bagi umat manusia. Rasulullah saw bersabda, yang artinya “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (THR. Imam Al-Bukhari, Muslim). Akan tetapi, bukan berarti tidak ada peluang pahala pada aktifitas membaca selainnya. Bila aktifitas membaca yang kita lakukan merupakan bagian dari proses belajar, dan yang kita pelajari adalah tsaqofah Islam dan ilmu yang berguna, tentu kita akan berpeluang mendapatkan pahala dari kewajiban belajar.
Aktifitas menulis juga merupakan bagian dari proses belajar. Imam Syafi’i mengatakan dalam syairnya  Al ‘ilmu kash-shoidi wa- kitabatu qoyyiduhu, qoyyid shuyudaka bil hibali watsiqoh (Ilmu itu bagaikan binatang buruan dan tulisan itu bagaikan pengikatnya, ikatlah binatang-binatang buruanmu itu dengan tali yang kokoh). Meskipun banyak orang yang memiliki daya hafal luar biasa, namun tidak sedikit yang mudah lupa karena berbagai urusan. Oleh karena itu, tulisan bisa menjadi pengingatnya.
Selain merupakan bagian dari proses belajar, menulis pun berpeluang menjadi ladang amal jariah. Pahalanya akan terus mengalir kepada Sang Penulis, hatta ketika ia sudah wafat sekalipun. Bila kita menuliskan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana yang dilakukan generasi emas kaum muslim, tentu akan menjadi tabungan pahala yang sangat banyak. Rasulullah saw bersabda, yang artinya : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (THR. Muslim). Bisa kita bayangkan, berapa banyak pahala yang mengalir dari setiap ilmu bermanfaat, yang telah dituliskan oleh para pendahulu kita. Sungguh merupakan nikmat Allah SWT yang sangat luar biasa.
Membaca dan menulis merupakan aktifitas kaum muslim. Akan tetapi bukan berarti semua hal menjadi bebas untuk dibaca dan ditulis, hanya tsaqofah Islam serta ilmu (sains dan teknologi) yang bermanfaat semata, akan berpeluang menjadi ladang pahala bagi kaum muslim. Adapun untuk tsaqofah di luar Islam, kita diperbolehkan membaca hanya untuk mengkritisinya, bukan untuk menyebarkannya. Walhasil, mari pelajari dan sebarkan ilmu dan tsaqofah Islam dengan aktifitas membaca dan menulis. InsyaAllah, pahala menanti kita di hadapan. aamiiin.

(Ary H. - Pengelola FP Mudah Nulis dan Mentor Kelas Opini di Akademi Menulis Kreatif)

Selasa, 10 Maret 2015

Menulis Perjuangan dan Dakwah

Oleh: Ary Herawan
INI pertama kali saya menulis dengan menggunakan laptop axioo jadul yang sudah tersimpan lama di lemari. Ya, daripada terus rebutan netbook acer aspire one dengan anak dan istri, nanti ide-ide saya tidak tercurahkan, alias terpendam saja tanpa ada yang mengetahuinya.
Setelah hampir sepekan tidak menulis, saya berusaha merefresh lagi, dan merenungkan kembali mengenai apa yang menjadi motivasi saya menulis. Dua buah buku yang saya baca selama 4 hari kemarin, mengingatkan saya akan tujuan aktifitas menulis. Buku pertama “Membongkar Aib Seks Bebas & Hedonisme Kaum Selebriti” tulisan Sdra Nurani Soyomukti dan buku kedua “Juara Sepanjang Masa” tulisan sdri Afifah Afra. Apabila kita membaca judulnya saja, dua buku tersebut memang seolah tidak ada hubungannya dengan aktifitas menulis. Apalagi buku yang pertama, di dalamnya syarat dengan pemikiran-pemikiran sosialis marxisme. Sedangkan buku kedua ditulis untuk kalangan remaja, padahal saya kan sudah bapak-bapak. Dua penulis buku tersebut, telah mengingatkan saya bahwa aktifitas menulis adalah aktifitas perjuangan.
Motivasi menulis yang utama bukanlah semata-mata untuk mendapatkan selembar rupiah. Menulis adalah sama dengan aktifitas bicara, namun bedanya bila bicara dilakukan dengan lisan. Sedangkan menulis adalah bicara lewat tulisan. Pernahkah terpikir dalam benak kita, bahwa setiap kali kita berbicara dengan orang, kita berharap mendapatkan rupiah dari apa yang kita bicarakan. Tentu tidak, karena tujuan kita berbicara adalah supaya orang memahami apa yang kita sampaikan. Atau dengan kata lain, bicara adalah aktifitas penyampaian ide atau gagasan. Begitu pula sebetulnya dengan aktifitas menulis. Menulis adalah sebuah penyampaian ide atau gagasan melalui tulisan.
Sebuah tulisan akan menggambarkan apa yang ada dalam pikiran Sang Penulis. Sehingga, sebuah tulisan akan menggambarkan seperti apa penulisnya. Bila ia hanya seorang pendongeng, maka tentunya tulisannya pun seputar dongeng. Begitu pun bila ia seorang aktifis gerakan, tulisannya penuh dengan heroisme perjuangan, baik aktifis sosialis, liberalis maupun Islam.
Perenungan ini telah yang mengantarkan saya pada motivasi awal menekuni dunia menulis. Saya ingin memperjuangkan ide-ide Islam yang saya yakini dan berkontribusi dalam proses penyadaran umat. Saya merenung, ide-ide Sosialis-Marxis saja bisa dicerna oleh umat bila itu dituangkan dalam tulisan. Ia terus awet dalam bentuk bacaan dan tersebar di seluruh penjuru negeri, bahkan dunia. Ditambah lagi bila penulisnya memiliki suatu landasan ideologis. Sehingga kepuasannya terletak pada tersebarnya ide-ide dan pemikirannya di tengah rakyat, lalu rakyat terprovokasi untuk bangkit melawan kapitalisme kaum borjuis. Saya berpikir kembali, mengapa dalam tiga hari ini saya seolah-olah kehilangan motivasi dalam menulis.
Perenungan ini juga telah mengingatkan saya pada bukunya Syaikh Muhammad Ismail yang berjudul Al Fikru Al Islami (Bunga Rampai Pemikiran Islam, ed.terj.). Kurang lebih beliau menegaskan bahwa dorongan aktifitas manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu dorongan materi (quwwah madiyah), dorongan moral (quwwah ma’nawiyah) dan dorongan spiritual (quwwah ruhiyah). Dorongan materi akan membuat manusia beraktifitas karena ada sokongan materi, bila sokongan materi tak ada maka aktifitasnya pun melemah. Dorongan moral akan membuat manusia beraktifitas karena adanya pujian manusia, bila pujian itu tak ada maka aktifitasnya pun melempem.
Namun dengan dorongan spiritual, manusia akan selalu beraktifitas berdasarkan kesadarannya akan hubungan dengan Allah SWT. Maka dorongan spiritual-lah yang selayaknya dijadikan sebagai pendorong hakiki dalam beraktifitas. Karena ia tak mengandalkan sokongan materi dan pujian. Ia akan selalu ada selama seorang hamba menyadari bahwa dirinya adalah makhluk Sang Kholik yang harus selalu taat kepadaNya.
Perenungan ini juga telah mengingatkan saya kepada seorang guru sekaligus sahabat di Yogyakarta. Tidak perlu saya menyebutkan namanya, tapi saya berharap semoga beliau membaca tulisan ini. Kata-katanya yang selalu terngiang-ngiang sampai saat ini adalah “Maknailah setiap aktifitas kita! Karena kadang kita terjebak pada rutinitas, akhirnya kita jenuh disebabkan kita lupa apa makna dari aktifitas kita”.
Karena itulah memaknai setiap aktifitas, termasuk menulis,  sangatlah penting. Maka ia akan menjaga semangatnya, dan pemaknaan yang paling ideal bagi seorang muslim adalah aktifitas ibadah (penghambaan diri kepada Allah SWT dengan menta’atinya). Sehingga menulis adalah ibadah, menulis adalah aktifitas perjuangan, menulis adalah aktifitas penyadaran dan dakwah.
Terakhir, sekecil apapun kemampuan menulis kita pada awalnya. Semoga kita bisa terus mengasahnya dengan satu motivasi, yaitu dakwah. Sehingga tulisan-tulisan kita bisa menjadi katalisator reaksi penyadaran umat akan ide-ide Islam. Aamiiin. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
sumber : https://www.islampos.com/menulis-perjuangan-dan-dakwah-154633/

Senin, 15 September 2014

Neraca Masa Muda Kita

Bila kita pernah belajar sains, tentu kita akan mengenal neraca massa atau masyarakat umum mengenalnya dengan istilah timbangan. Yakni alat untuk menimbang benda. Massa selalu berbanding lurus dengan berat, semakin besar massa suatu benda maka akan semakin berat atau semakin berbobot.
Namun kita belum pernah menemukan alat berupa neraca masa, atau alat timbangan masa (baca : timbangan waktu). Seandainya alat tersebut ada kemudian kita timbang-timbang masa yang pernah kita lalui, tentu kita bisa memprediksi bahwa masa mudalah masa yang paling berharga bagi kita.
Sangat berharganya masa muda ini tergambar dari ungkapan Ali bin Abu Thalib r.a. tatkala ditanya oleh seorang sahabat: “wahai Ali jika engkau kaya, apa yang kau perbuat dengan kekayaanmu?” beliau menjawab: “aku akan membeli masa muda.” Subhanalloh! begitu berharganya masa muda. Masa muda juga merupakan penentu masa tua, tepatlah bila Syeikh Musthofa Al-Gulayani mengungkapkan sebuah pepatah yang terkenal "Syubaanul Yaum Rijalul Ghad Wa banaatul Yaum Ummahatul Ghad" (Pemuda masa kini adalah lelaki masa depan dan pemudi masa kini adalah ibu masa depan). Dengan kata lain, baik buruknya suatu masyarakat di masa depan ditentukan oleh bagaimana aktifitas pemuda-pemudinya saat ini.
Kisah-kisah heroik yang sampai kepada kita juga banyak didominasi oleh para pemuda. Misalnya para shahabat Rasulullah SAW, yang masuk Islam pada masa-masa sangat membutuhkan pengorbanan, didominasi oleh para pemuda. Ali bin Abi Thalib r.a. dan Zubair bin Awwam r.a. sejak usia 8 tahun sudah terlibat dalam perjuangan. Usamah bin Zaid r.a., memimpin pasukan perang pada usia 18 tahun. Begitu pun Al Arqam bin Abi Al-Arqam r.a. (12 tahun), Abdullah bin Mas’ud r.a. (14 tahun), Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. (17 tahun), Ja’far bin Abi Thalib r.a. (18 tahun), Zaid bin Haritsah r.a. (20 tahun), Utsman bin Affan r.a. (20 tahun), Umar bin Al Khaththab r.a. (26 tahun). Adapun Abu Bakar Ashshiddiq r.a. berusia 37 tahun dan Sayyidusysyuhada Hamzah bin Abdul Muthallib berusia 42 tahun. Masih banyak lagi ribuan pemuda yang menjadi para pembela Islam pada masa-masa awal. Bahkan peran para pemudi pun tidak kalah heroik, peran Asma binti Abu Bakar r.a. yang pada usia remaja sudah menjadi tim sukses hijrahnya Rasulullah SAW. Juga ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok pemudi cerdas yang mendampingi Rasulullah SAW sejak usia 9 tahun. Juga Hafshah binti Umar yang sudah berjuang bersama Islam pada usia 10 tahun.
Tidak hanya sampai di masa para shahabat, kegemilangan para pemuda juga ditorehkan pada masa-masa setelahnya. Misal Imam Syafi’i hafal Al Quran pada usia 9 tahun dan sudah diminta ijtihadnya pada usia 13 tahun. Sejarah juga mencatat pemuda-pemuda pembela Islam seperti Syaifudin Quthuz, Thariq bin Ziyad Sang Pembebas Andalusia dan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan konstantinopel pada usia 21 tahun.
Itulah beberapa peran pemuda yang mengisi bejana masa mudanya dengan bobot amal yang sepadan, bahkan jauh lebih berat dari masanya. Namun berbeda dengan kita saat ini. Kita seringkali menganggap bahwa masa muda adalah masa mencari jati diri. Fase labil yang kemudian menyebabkan semua tingkah lakunya harus serba dimaklumi. Bahkan senandung terkenal mengatakan bahwa masa muda adalah masa yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah, masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau salah tak perduli. Begitulah kata bang Haji.
Persepsi-persepsi seperti inilah yang seringkali membuat kita abai terhadap masa muda, karena semua aktifitas muda-mudi, walaupun beresiko bahaya dunia akhirat, semuanya dianggap hal yang lumrah. Sehingga wajar bila hasilnya sangat mengerikan, data dari BKKBN 2013 dari 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya, 30 persen di antaranya dilakukan oleh remaja. Hal ini berarti  ada 690 ribu kasus aborsi dilakukan oleh remaja Indonesia dalam setiap tahunnya, jadi dalam setiap hari ada 1.891 orang remaja yang melakukan aborsi di Indonesia. Sedangkan aborsi remaja terjadi karena Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD), KTD terjadi akibat aktifitas seks pra nikah (baca: zina). Padahal tidak setiap aktifitas maksiat tersebut berbuah kehamilan, jadi bisa kita bayangkan berapa ribu remaja yang terjebak dalam seks bebas setiap harinya? na’udzubillahi min dzalik. Ini baru dari satu sisi, sebuah potret buram masa kini. Belum lagi masalah tawuran, miras, narkoba, budaya hedonisme dan sederet masalah dunia muda lainnya. 
Jadi persepsi terhadap masa muda yang keliru itulah yang mesti kita ubah. Karena sejatinya, masa muda bukanlah masa pencarian jati diri tapi masa pembuktian jati diri. Karena kalau kita telaah dalam pandangan Islam, akan kita dapati bahwa masa remaja termasuk dalam fase baligh, yaitu fase di mana amal baik dan buruk sudah dihisab oleh Allah SWT. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, yang artinya : “Diangkat pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri, orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh. ” (THR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Hadits ini pun bisa dipahami, bila sudah baligh maka akan dicatat (baca : dihisab) seluruh amalnya, baik taat maupun maksiat.
Oleh karena itu, menjelang akhir tahun ini saatnya kita hitung bobot masa muda kita. Sudahkah bejana masa muda yang sangat berharga ini kita isi dengan aktifitas yang sepadan harganya. Atau bahkan dengan aktifitas yang lebih berbobot sebagaimana para pendahulu kita yang telah menuliskan sejarah dengan tinta emas pengorbanan dan perjuangan mereka. Ataukah kita masih termasuk para pemuda yang berleha-leha, membiarkan masa muda yang berharga berlalu begitu saja, tanpa amal, tanpa prestasi, tanpa bobot dan makna. Bahkan termasuk pemuda yang panjang angan-angan, berharap umur panjang dan berencana insyaf pada usia tua. Padahal tidak ada seorang manusia pun yang bisa menjamin dirinya tetap bugar sampai usia tua.   
Bila tak ada jaminan, saatnya kita untuk menghitung neraca masa kita. Tidak ada kata terlambat untuk berhitung selama nyawa masih dikandung badan. Karena masa lalu bagi seorang mukmin adalah suatu pelajaran untuk mempersiapkan masa depan. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS.Al Hasyr[59]:18).
Saatnya juga kita renungkan apa yang diucapkan Hatim al-Asham, “Ada empat perkara yang tidak diketahui nilainya kecuali dalam empat keadaan: Masa muda tidak akan diketahui nilainya kecuali saat menjadi tua. Kelapangan tidak akan diketahui nilainya kecuali saat ditimpa bencana (kesempitan).Nikmat sehat tidak akan diketahui nilainya kecuali saat sakit. Hidup tidak akan diketahui nilainya kecuali saat mati.” (An-Nawawi, Nasha’ih al-‘Ibad). Maka pilihan ada di tangan kita, membiarkan masa muda kita kosong yang berarti rugi, memperberatnya dengan kelalaian dan dosa yang berarti celaka, atau memperberatnya dengan amal, prestasi dan pahala yang berarti bahagia. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky)

Senin, 08 September 2014

Kelahiran dan Kematian

Image result for kelahiran dan kematian
Setiap makhluk Allah swt, pasti akan mengalami kedua fase penting dalam hidup. Yakni, kelahiran dan kematian. Tepat hari kemarin, tetangga di blok belakang rumah berbahagia karena baru dapat momongan. Hari ini, tetangga yang lain sedang bersedih. Karena ia baru dapat musibah kehilangan ibunda tercinta untuk selamanya.
Kelahiran dan kematian bagaikan dua sisi mata uang dalam kehidupan manusia. Kita tidak bisa hanya memilih salah satunya. Karena kita sudah terlahir, maka pasti kita akan mati. Sehingga kita tak perlu takut mati.
Teringat seorang teman yang bercerita. Ada seorang bapak yang memiliki putri yang divonis leukeumia. Bahkan dokter sudah angkat tangan dengan mengatakan bahwa umur putri kesayangannya itu tinggal 2 bulan lagi. Lalu, Sang Ayah setiap hari memotivasi anaknya supaya tidak takut dengan kematian, supaya tegar, supaya tabah dan bersabar. Alhamdulillah anaknya tegar dan bersabar, hingga ajal menjemputnya.
Fitrah setiap insan, khususnya ibu, pasti sangat bahagia bila dapat melahirkan keturunan. Karena itu, kelahiran adalah suatu anugerah. Anugerah yang terindah bagi kita. Kita sudah terlahir ke dunia, maka anugerah ini mesti selalu kita syukuri. Allah swt sangat murka dengan orang yang tidak mensyukuri hidupnya, bahkan sampai mengakhiri hidupnya sendiri.
Kematian itu pasti. Bahkan bila kita bersembunyi di balik benteng yang kokoh sekalipun, maut pasti akan menjemput kita. Maut adalah pintu yang akan dilewati oleh setiap insan. Pintu itulah yang menghubungkan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, kehidupan kita yang sebenarnya.
Sahabat...sudah siapkah kita memasuki pintu kematian? Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu siap menghadapi maut. aamiiin. (ary.attasiky)