Rabu, 16 Maret 2016
Apa yang Kamu Sembah Sepeninggalku?
Jumat, 11 Desember 2015
Kecepatan dan Percepatan dalam Hidup
Bagi yang pernah mendengarkan ceramahnya KH. Abdullah Gymnastiar, apa yang saya tuliskan di atas mungkin bukan sesuatu yang asing. Saya pun pernah mendengarnya dari ceramah beliau sekitar 11 tahun yang lalu. Mudah-mudahan ini bisa merefresh kembali ingatan kita mengenai hal tersebut.
Dalam konsep sains, kecepatan adalah besarnya perpindahan persatuan waktu. Jadi semakin sedikit waktu yang yang dibutuhkan oleh suatu benda untuk menempuh jarak tertentu maka semakin tinggi kecepatannya. Misal bila seorang pelari 100 meter yang memerlukan waktu 9 detik untuk sampai ke garis finish, berarti ia lebih cepat bila dibandingkan dengan pelari 100 meter yang memerlukan waktu 11 detik untuk sampai ke garis finish. Kita bisa membayangkannya, siapa di antara mereka yang memenangkan perlombaan.
Berbeda dengan kecepatan, percepatan adalah besarnya perubahan kecepatan persatuan waktu. Percepatan tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan kecepatan. Misalnya seorang pelari yang memiliki percepatan 2 m/s2, berarti dia melakukan pertambahan kecepatan sebanyak 2 m/s dalam setiap detiknya. Bila ia memulai start dalam kondisi diam, maka detik pertama ia menempuh jarak 1 m, detik kedua 4 m, detik ketiga 9 m dan jarak yang ditempuh terus meningkat seiring dengan pertambahan kecepatannya. Sehingga pada detik ke-5 ia bisa menempuh jarak 5 m. Berbeda dengan pelari yang hanya mengandalkan kecepatan saja, walaupun ia memulai detik pertama dengan kecepatan 4 m/s (lebih cepat dari pelari pertama). Akan tetapi setelah itu ia tidak melakukan percepatan (kecepatannya konstan), maka detik pertama ia menempuh jarak 4 m, detik kedua 8 m, detik ketiga 12 m dan seterusnya. Sehingga pada detik ke-5, ia hanya akan menempuh jarak sejauh 20 m. Kita pun bisa membayangkannya, walaupun pada awalnya terlambat, namun yang melakukan percepatanlah yang akan memenangkan perlombaan.
Kehidupan manusia penuh dengan dinamika. Sehingga dalam hidup pun setiap manusia selalu berpindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, tidak ada yang tetap. Terkadang kita tidak menyangka, tetangga kita yang miskin pada tahun lalu, tahun ini ia menjadi seorang pengusaha sukses. Atau tiba-tiba kita menemukan sebuah buku dengan tulisan nama teman kita di covernya. “Dahulu Si Fulan tidak bisa mengarang, kok tiba-tiba bisa menyusun sebuah buku” tanya kita dalam hati. Atau bisa juga kita menemukan kejadian yang lain, seorang teman kita yang tidak bisa bicara di hadapan umum, malahan saat ini menjadi seorang motivator atau trainer terkenal. Kadang timbul pertanyaan di benak kita, “Apa yang dia lakukan sampai bisa seperti itu ya?”
Orang-orang yang telah ‘menyalip’ hidup kita, kemudian mereka tampil di barisan terdepan itulah mereka yang telah melakukan percepatan dalam hidup. Atau mereka melakukan percepatan yang lebih tinggi daripada yang kita lakukan. Kita dapat bayangkan, bila kita menjalani hidup dengan kecepatan konstan (percepatan = 0) maka akan banyak orang yang ‘menyalip’ hidup kita, yaitu mereka yang melakukan peningkatan kecepatan (percepatan) dalam hidupnya. Jadi bila kita berada dalam ketertinggalan, kita harus memiliki percepatan.
Sebagaimana dalam konsep sains, percepatan terjadi dengan adanya pemberian gaya, dan besarnya gaya persatuan waktu itulah yang kemudian disebut dengan usaha (work). Semakin besar usaha yang dilakukan maka waktu yang dibutuhkan akan semakin sedikit. Karena itulah, usaha adalah konsekuensi yang mesti dilakukan bila kita menginginkan percepatan dalam hidup.
Seringkali ketika kita melihat keberhasilan orang lain dalam hidup, kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Kita tidak memperhatikan proses usaha yang telah dia lakukan. Misal, tatkala kita menyaksikan seseorang dengan kemampuan yang menonjol seperti ahli retorika yang mengagumkan, penulis yang handal, pengusaha yang terampil, pendidik yang profesional, pelajar yang sukses dan sebagainya, kita tidak memperhatikan bagaimana besarnya usaha telah ia kerahkan sampai bisa seperti itu. Ia mesti telah melakukan usaha yang besar sampai bisa seperti itu, bisa menukar waktu tidurnya dengan latihan pidato, bisa menukar waktu bermainnya dengan mengikuti training/seminar, bisa bisa menukar waktu nonton tvnya dengan membaca buku, bisa menukar kesenangan jajannya dengan berinvestasi, bisa mengganti waktu main gamenya dengan latihan menulis dan sebagainya.
Berikut adalah beberapa fakta yang bisa kita jadikan contoh. Untuk menjadi penulis yang handal, seorang Felix Siauw telah menukar waktu main gamenya dengan latihan menulis. Untuk menjadi seorang retoris yang mengagumkan, seorang Dwi Condro Triono, penulis buku best seller Retorika untuk Mengguncang Dunia, hampir setiap pagi mengisi ceramah di hadapan teman-teman kostnya. Bila ada temannya yang tidak bersedia mengisi ceramah, beliau selalu siap tampil untuk menggantikannya (sebagaimana yang pernah penulis dengar langsung dari beliau). Seorang Fahmi Amhar, yang pernah dikukuhkan sebagai doktor dan peneliti termuda di Indonesia, beliau pernah menulis di dalam status FB-nya, yang intinya, untuk menjadi seperti saat ini berapa banyak kesenangan yang harus ia tukar dengan berbagai kesabaran.
Begitu pun apabila kita berkaca pada para pendahulu kita, misalnya Imam Syafi’i yang menjadi penghapal Al Quran pada usia 7 tahun, ibunya adalah seorang hafidzah yang mengkhatamkan Al Quran 2 kali dalam seminggu. Artinya, ibu beliau telah meluangkan waktu untuk selalu mengkhatamkan Al Quran sehingga Imam Syafi’i sangat sering mendengar bacaan Al Quran sejak masih dalam kandungan. Begitu juga Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel, beliau telah menghabiskan masa kecilnya dengan mempelajari aqidah dan syariah, berbagai bahasa, geografi, taktik perang dan sebagainya. Apalagi bila kita berkaca kepada Rasulullah SAW, kesuksesan beliau dalam berdakwah karena beliau telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk berdakwah, setelah diangkat menjadi Rasul, beliau bersabda kepada Khadijah r.a., “Tidak ada waktu istirahat (bagi kita) setelah hari ini.”
Begitulah sunatullah, untuk menghasilkan percepatan dalam hidup, kita mesti melakukan usaha. Namun, penting untuk kita pahami bahwa keberhasilan dalam hidup tidak bisa hanya mengandalkan percepatan. Kita mesti kita ingat, bahwa percepatan adalah suatu besaran vektor, artinya ia tidak hanya memiliki nilai, tetapi ia juga memiliki arah. Sehingga percepatan itu mesti mengarah pada satu tujuan yang benar.
Bila kita adalah orang biasa yang menginginkan menjadi seorang penulis yang handal, maka percepatan kita harus diarahkan kepada tujuan tersebut dan kita pun hanya melakukan usaha yang relevan dengan tujuan tersebut. Misal untuk menjadi seorang penulis kita membiasakan diri menulis satu paragrap perhari, atau meluangkan waktu untuk menulis setengah jam perhari.
Sebagai seorang muslim, kita pun mesti menyadari bahwa arah percepatan hidup yang mesti searah dengan tujuan utama kita, yaitu keridloan Allah SWT. Sebagaimana Firman-Nya :
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash[28]:77)
Semoga kita menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidup ini, yaitu orang yang bisa melakukan percepatan dalam hidup dan mengarahkannya menuju tujuan utama, yakni keridloan Allah SWT. aamiiin. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(ary.attasiky.28/12/2013)
Kamis, 05 November 2015
Organ-organ Tubuh yang Protes
"Organ-organ tubuh protes, mereka butuh istirahat," kata dokter Tatan. Dokter yang kutemui pagi ini di tempat prakteknya. Selama dua minggu ini aku memang merasakan kondisi badan yang kurang fit, mudah lelah, sering ngantuk dan ada rasa terbakar di mulut. Produktifitas aktifitas pun menjadi menurun. Sadar diri akan hal ini, konsultasi ke dokter adalah alternatif solusinya.
"Tubuh manusia itu unik, ia selalu memberi sinyal," jelas pak Dokter. "Setiap butuh asupan makanan, timbul rasa lapar. Ketika butuh minuman, muncul rasa haus. Begitupun tatkala butuh tidur, tubuh mengirimkan sinyal kantuk." Lanjutnya. Penjelasan ini mengingatkanku pada kebutuhan fisik (Al Hajah Al Udlwiyyah). Salah satu potensi manusia yang diberikan oleh Sang Pencipta. Potensi tubuh ini memaksa manusia untuk makan, minum dan istirahat. Bila tidak dilayani, ia akan protes dan mengantarkan pada rasa sakit. Inilah mungkin yang dilakukan organ-organ tubuhku kini, pikirku.
"Karena itulah tatkala tubuh meminta, jangan telat minum, makan dan tidur," pesan Sang Dokter yang terkenal ramah itu, kepadaku pagi tadi. Belakangan ini, aku memang tidak pernah menunda makan jika lapar. Tetapi kuakui, jika minum air putih dan istirahat sering kutunda. Mungkin inilah yang membuat metabolisme tubuh menjadi kurang seimbang. Karena, ia juga menekankan kepadaku bahwa air putih sangat penting untuk membuang racun-racun dalam tubuh. Gangguan metabolisme inilah yang mengirim sinyal rasa pahit ke mulut. Mau makan dan minum yang manis pun, mulut tetap terasa pahit.
"Kita ikhtiar dulu dengan obat ya?" Tanyanya padaku. Aku tahu, ini hanyalah pertanyaan retoris yang tidak perlu untuk dijawab. Karena yang penting adalah kalimat berikutnya. Ia berkata, "semoga Allah Swt memberikan kesembuhan. Aamiin." Inilah yang penting. Allah Swt -lah pemilik raga ini dan kepadaNya-lah kita serahkan semuanya, karena manusia hidup hanya untuk mengabdi pada-Nya.
Membuat tulisan ini, saya teringat sosok Ustadz Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia. Pasca sakit jantung yang -secara medis- hampir merenggut nyawa beliau, tulisannya yang berjudul "Lelaki Bercincin" langsung muncul di media. Pikirku, kapan beliau menulisnya. Teringat pula akan sosok ulama produktif Syaikh Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah. Kata guruku, Syaikh Ibnu Qoyyim biasa menulis sambil duduk. Ketika beliau merasakan pegal, beliau lalu menulis sambil berdiri. Tatkala lelah menulis sambil berdiri, beliau pun menulis sambil berbaring. Karena itulah, di tengah protesnya organ-organ tubuhku, aku pun menyusun tulisan ini sembari berbaring.
Lelah itu pasti, karena di dunia tempat lelah. Sakit itu ketetapan Allah Swt, kita tak bisa melawannya. Tetapi menyikapi sakit dalam memperjuangkan cita-cita, itu adalah pilihan. Dan pilihanku adalah di sini. Tetap belajar, beramal dan berbagi hingga ajal tiba. Semoga.
(Ary Herawan, 24 Muharam 1437 H)
Kamis, 29 Oktober 2015
Tulisanku Malam Ini
Senin, 27 April 2015
Istiqomah dalam Idealisme Dakwah
Senin, 16 Maret 2015
Membaca dan Menulis, Aktifitas Kaum Muslim
Selasa, 10 Maret 2015
Menulis Perjuangan dan Dakwah
Senin, 15 September 2014
Neraca Masa Muda Kita
Senin, 08 September 2014
Kelahiran dan Kematian
Setiap makhluk Allah swt, pasti akan mengalami kedua fase penting dalam hidup. Yakni, kelahiran dan kematian. Tepat hari kemarin, tetangga di blok belakang rumah berbahagia karena baru dapat momongan. Hari ini, tetangga yang lain sedang bersedih. Karena ia baru dapat musibah kehilangan ibunda tercinta untuk selamanya.
Kelahiran dan kematian bagaikan dua sisi mata uang dalam kehidupan manusia. Kita tidak bisa hanya memilih salah satunya. Karena kita sudah terlahir, maka pasti kita akan mati. Sehingga kita tak perlu takut mati.
Teringat seorang teman yang bercerita. Ada seorang bapak yang memiliki putri yang divonis leukeumia. Bahkan dokter sudah angkat tangan dengan mengatakan bahwa umur putri kesayangannya itu tinggal 2 bulan lagi. Lalu, Sang Ayah setiap hari memotivasi anaknya supaya tidak takut dengan kematian, supaya tegar, supaya tabah dan bersabar. Alhamdulillah anaknya tegar dan bersabar, hingga ajal menjemputnya.
Fitrah setiap insan, khususnya ibu, pasti sangat bahagia bila dapat melahirkan keturunan. Karena itu, kelahiran adalah suatu anugerah. Anugerah yang terindah bagi kita. Kita sudah terlahir ke dunia, maka anugerah ini mesti selalu kita syukuri. Allah swt sangat murka dengan orang yang tidak mensyukuri hidupnya, bahkan sampai mengakhiri hidupnya sendiri.
Kematian itu pasti. Bahkan bila kita bersembunyi di balik benteng yang kokoh sekalipun, maut pasti akan menjemput kita. Maut adalah pintu yang akan dilewati oleh setiap insan. Pintu itulah yang menghubungkan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, kehidupan kita yang sebenarnya.
Sahabat...sudah siapkah kita memasuki pintu kematian? Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu siap menghadapi maut. aamiiin. (ary.attasiky)