Kamis, 22 September 2016

Bendungan Sekulerisme dan Kebangkitan Islam

Bagaikan air yang terus mengalir, ia pasti kan memberikan tekanan ke berbagai arah. Semakin banyak mata air yang menjadi sumbernya, semakin banyak debit air yang mengalir ke hilir. Apalagi, jika air tersebut mengarah pada satu alur dan arah yang sama. Sekuat dan sebesar apapun bendungan, takkan mampu menahannya. Begitulah sunnatullah pasti berlaku.

Di tengah kering kerontang lahan serta penderitaan akibat kemarau panjang sekulerisme. Suara kebangkitan Islam di berbagai penjuru negeri laksana mata air-mata air di pegunungan yang menyejukkan. Umat yang sudah lama kehausan, menanti cucuran berkah penerapan syariah dan khilafah, yang pasti menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Memang, bukanlah kemarau panjang yang mengundang air. Mata air kebangkitan Islam terlahir semata karena kasih sayang Allah Swt. Dialah yang kuasa menciptakan para pembela Islam dalam setiap zaman. Semakin lama, mata air-mata air tersebut semakin banyak, air pun semakin menderas kencang.

Syaithan tak tinggal diam. Melalui para pemujanya yang selalu berasyik masyuk dengan kesesatan, ia terus menginginkan umat manusia tetap hidup dalam kemarau yang panjang. Dikomandani negara teroris AS dan Israel, serta didukung kaum Yahudi dan Nasrani, mereka melakukan berbagai cara untuk menghalangi derasnya aliran kebangkitan umat. Mereka membuat bendungan pemikiran yang besar di benak-benak umat. Liberalisme, HAM, demokrasi, pluralisme, sinkretisme dan berbagai ide lainnya laksana susunan batu-bata yang berpondasikan sekulerisme. Semua pemikiran itu digunakan untuk menghalangi kebangkitan Islam.

Tidak hanya itu, mereka pun menanam agen-agen mereka yang terus menerus menutup setiap mata air yang muncul ke permukaan. Jika perlu, digali dan dibongkar paksa supaya hilang. Alih-alih menghilang, semakin digali dan dibongkar, mata air-mata air itu malah semakin besar dan banyak.

Barat lalu membuat fatamorgana pemikiran melalui penyesatan politis. Ide-ide sesat yang berasas sekulerisme, dibuat seolah berasal dari Islam. Harapan mereka, umat mendekat dan menganggapnya sebagai mata air kebangkitan. Hal itu juga tak kan bertahan, karena lama kelamaan umat pasti tersadar jika yang didekatinya bukanlah mata air sebenarnya. Meskipun mereka menggunakan lisan-lisan fasih para tokoh dan penyeru umat yang telah terbeli, tetap saja semua kepalsuan itu akan terbuka.

Tekanan kebangkitan umat semakin deras dan besar karena mata air yang memancar semakin banyak. Ditambah langit yang mulai mendung, pertanda berkah hujan kan turun. Syaithan dan kafir Barat makin ketakutan. Mereka pun membuat kanal-kanal sekulerisme untuk mengalirkan derasnya aliran kebangkitan kaum muslim. Mereka membuat kanal-kanal kecil untuk mengalirkan dorongan perubahan tersebut, supaya hantaman dan tekanan terhadap bendungan sekulerisme berkurang.

Di antara langkah yang dilakukannya adalah memunculkan khilafah-khilafah palsu dan memoles beberapa rezim (penguasa) supaya terlihat membela Islam. Sehingga, kaum muslim merasa sudah ada kebangkitan, dan terbelokkan dari jalan lurus. Padahal pada intinya, sistem dan ideologi yang dipakai tetaplah demokrasi dan sekulerisme. Jika demikian, maka jadilah kaum muslim laksana kaum dahaga, yang terpuaskan dengan setetes air di mulut yang disuapkan oleh kaum kafir penjajah. Kemudian kita berucap, "lumayan setetes juga, daripada tiada air sama sekali."

Itulah kanal-kanal sekulerisme. Tetapi sebanyak apapun kanal sekulerisme yang dibuat kaum kafir penjajah, tidak akan pernah menghentikan kebangkitan Islam yang hakiki, karena itu merupakan janji Allah Swt yang pasti. Hujan hidayah dan rahmat pasti kan datang, bendungan sekulerisme pasti kan jebol dan hancur berantakan. Kemudian dahaga berkepanjangan itu kan segera berganti berkah dan berkah, lalu berkah. Marilah setiap kita berperan, karena menyambut janji Allah Swt dengan dakwah, pahalanya sangatlah besar. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary AtTasiky)

#Opini
#JanjiAllah
#BendunganSekulerisme
#AkademiMenulis
#KebangkitanIslam

Senin, 19 September 2016

Surat untuk Sahabat


Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh
Para sahabat yang selalu kurindu, semoga rahmat Allah selalu tercurah untukmu.

Sahabat, aktifitas dakwah akan terus berjalan, baik kita bersamanya ataupun tidak. Fase berinteraksi dengan masyarakat sebagaimana yang dijalankan oleh Rasulullah Saw, semakin hari semakin menuntut pengorbanan yang lebih. Para penguasa, orang-orang yang dzalim, serta para mutsaqqofun (orang yang tercelup dengan tsaqofah Barat) terus-menerus menjadi penentang dan penghambat kafilah dakwah. Namun tetap saja, dakwah tidak boleh dan tidak akan berhenti.

Dalam kondisi semakin dekatnya pertolongan Allah Swt. Dalam suasana semakin panasnya bara kesabaran yang mesti kita genggam, Aku menemukan sebuah risalah, nasihat dari Dr. Najaat Hafidz*). Sebuah risalah yang sarat akan makna serta nasihat perjuangan. Oleh karena itulah, aku salin dan kugubahkan surat tersebut untukmu sahabat. Sebuah nasihat tentang kesabaran di jalan dakwah.

Sahabat yang selalu kurindu, hendaklah kita mengetahui terlebih dahulu bahwa kesabaran itu suatu kekuatan dalam jiwa seseorang, yang memiliki peran aktif dan positif. Allah Ta’ala akan memberikannya dalam jiwa seseorang yang berusaha ikhlash dan jujur mengikuti petunjuk-Nya. Dia memberinya kekuatan memikul beban, bertahan dan tabah menghadapi berbagai godaan, fitnah dan cobaan hingga ia menemui Allah Swt, sedang Dia ridha kepadanya. Baik dengan merealisasikan kemenangan yang didambakannya atau dengan mati syahid fi sabilillah. Dalam ukuran Islam, keduanya merupakan kemenangan.

Hendaklah kita menyadari bahwa setiap kita adalah objek atau sasaran ujian. Ingatlah sabda Rasulullah Saw : “Tidak ada musibah yang menimpa muslim, melainkan Allah Ta’ala menjadikannya kifarat baginya, sampai pun duri yang menusuknya.” (THR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw bersabda : “Bala senantiasa menimpa orang mukmin atau mukminah dalam harta dan anaknya, sehingga ia menemui Allah tanpa kesalahan.” (THR. Bukhari dan Muslim). Juga dikatakan dalam hadits yang lain : “Bala senantiasa menimpa hamba hingga ia berjalan di atas bumi tanpa dosa.” (THR. Tirmidzi).

Terkait bala yang menimpa, hendaklah engkau mengingat firman Allah Swt :
الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)
“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata : “Kami telah beriman.” sedangkan mereka tidak diuji? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.” (TQS. Al Ankabut[29]: 1-3)

Karena itulah hendaknya disadari bahwa cobaan dan ujian itu merupakan saringan antara yang benar dan lainnya. Allah Swt berfirman :
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (24)
“Supaya Allah membalas orang-orang yang benar karena kebenarannya, serta menyiksa orang-orang munafiq jika Ia berkehendak atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (Al Ahzab[33]: 24).

Rasulullah Saw juga menjelaskan kepada kita bahwa jalan menuju kebaikan, jalan surga, harganya mahal sekali. Bagi orang yang hendak memetik kebajikannya, ia mesti membayar harganya berupa kesabaran dan ketabahan. Sebagaiman sabda Rasulullah Saw : “Surga itu dikelilingi dengan duka derita, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan hawa nafsu.” (THR. Muslim).

Wahai sahabat, kita diperintahkan meneladani jejak Rasulullah Saw dalam menghadapi berbagai masalah, ujian dan cobaan sebesar apapun dengan modal sabar dan tabah. Begitu pula jika kita membuka lembaran sejarah para sahabat Rasulullah Saw serta para pendahulu kita yang shalih, kita akan menemukan senjata mereka yang paling ampuh ketika menghadapi ujian dan cobaan, yaitu kesabaran dan ketabahan.

Para sahabat Rasulullah mengarungi gelanggang dakwah tanpa mengindahkan derita dan sengsara yang dihadapi. Dengan tekad bulat, mereka terus berjalan, menghidupkan dakwah Allah, meninggikan kalimat-Nya dan kemuliaan agama-Nya.

Karena itulah wahai para sahabat seperjuangan, hendaklah kita melatih diri agar bersikap sabar dan tabah hingga datang pertolongan dan kemenangan dari Allah.

Ketahuilah sahabat, bahwa kafilah dakwah itu akan berjalan dengan perlindungan dan penjagaan Allah. Siapa yang berjalan bersamanya akan tiba dan berjaya. Ia akan bergabung dengan kafilah-kafilah kebajikan dan hidayah lainnya, yang terdiri dari para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Alangkah baiknya berteman dengan mereka. (lih. Q.S. An Nisa[4]: 69).
Siapa yang ragu dan mundur, pastilah ia akan rugi dan menyesal.

Ingatlah selalu sahabat, bahwa sabar dan tabah dalam menghadapi bala ujian dan cobaan, akan menambah kekuatan iman orang yang menyandangnya. Setiap kali kita melipatgandakan kesabaran dan ketabahan, setiap itu pula kekuatan iman kita akan bertambah kukuh. Kita akan dapat menundukkan semua problema hidup dan rintangan yang dihadapi, berdiri dengan tegar menghadapi berbagai rintangan yang mengepung setiap muslim. Dengan demikian, insyaAllah, pahala dan ganjaran yang dijanjikan akan kita dapatkan.

Kita tidak harus mengharapkan datangnya bala dan ujian. Tidak! Rasulullah Saw melarang kita berbuat demikian. Beliau bersabda: “Janganlah kamu mengharapkan berpapasan dengan musuh, mohonlah senantiasa kesehatan dari Allah. Kalau kamu bertemu dengan musuh, maka bersabarlah, jangan melarikan diri. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al Arbain Annawawiyyah).

Perhatikanlah sahabat, begaimana Rasulullah Saw memerintahkan kepada kita supaya senantiasa memohon kesehatan kepada-Nya. Tetapi kalau kita diuji dan bukan diharapkan kedatangannya, tidak ada jalan lain bagi kita selain sabar dan tabah. Semoga kita akan menerima ganjaran besar yang dijanjikan Allah Swt.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa terhitung.” (TQS. Az Zumar[39]: 10).     

Sahabat-sahabat yang selalu kurindu, aku bukanlah yang terbaik di antaramu. Hanya saja aku menemukan beberapa butir permata ilmu dalam sebuah risalah. Dengan menulis surat ini, aku berharap dapat berbagi denganmu. Semoga persahabatan kita kekal hingga ke surga. Hanya satu saja yang selalu kupinta kepada-Nya, semoga kita istiqomah di jalan dakwah hingga ke akhir hayah.  
Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.

Saudaramu
Ary H.

*) Risalah yang dimaksud adalah Buku Nasihat untuk Para Wanita. Terj. dari Risalatun Ila Ibnati (Nashihah li Kulli Bint). Tulisan Dr. Najaat Hafidz yang diterjemahkan oleh H. Salim Basyarahil.

http://aryherawan.blogspot.co.id/2016/09/surat-untuk-sahabat.html?m=1 

Kamis, 15 September 2016

Inspirasi Menulis dari Felix Y. Siauw

Siapa sih anak muda atau aktifis sosmed yang tidak kenal Felix Siauw. Da'i mantan muallaf yang berasal dari Palembang ini bernama lengkap Felix Yanwar Siauw. Atau mungkin Anda akan mudah menemukan buku-buku karyanya di deretan buku best seller di Toko Buku Gramedia. Namun jika Anda tidak aktif di sosmed dan tidak pula sering ke toko buku, berarti Anda sedang membaca tulisan yang salah. He..he.., bercanda sedikit.

Bagaimana kisah sukses penulis buku best seller seperti Felix Siauw, berikut saya kutipkan inspirasinya dari status FB beliau dengan akun Felix Yanwar.

"Saya juga nggak tahu, kapan saya mulai suka dengan buku, sejauh yang saya ingat mulainya dari komik, lalu cerita bergambar, lalu novel, barulah ke buku-buku non-fiksi, tepatnya sejarah.

Kecintaan saya terhadap buku mungkin lebih dari yang lainnya di dunia. Dulu pas kuliah, berkali-kali makan harus mengalah dengan buku, jalan-jalan harus kalah dengan membaca buku.

Dari banyak membaca, saya terinspirasi untuk menulis. Bukan untuk dinikmati sendiri, tapi untuk anak-anak nanti. Agar mereka tahu siapa ayahnya, apa yang ayahnya inginkan dan perjuangkan.

Sebab menulis itu memang tak semudah berbicara. Tapi berbicara itu mudah dilupakan, tapi tidak yang ditulis. Yang ditulis tercatat, terdokumentasi, dan mudah dipertanggungjawabkan.

Bila membaca adalah pengetahuan, maka menulis adalah berbagi pengetahuan. Bila membaca adalah menambah ilmu, maka menulis adalah mengikatnya, begitu ucap sahabat Ali bin Abu Thalib.

Maka yang bisa saya wariskan pada anak-anak, bukanlah sedikit ilmu yang mampu saya kumpulkan, tapi semangat mencintai ilmu, itulah yang lebih berarti, mendekatkan mereka pada buku.

Sebab ulama semua punya banyak kesamaan, mereka menyukai buku, mereka dekat dengan buku. Maka biasakan anak-anak kita juga menyukai buku, dekat dengan timbunan ilmu.

Sebisa mungkin jauhkan godaan-godaan lainnya seperti game, dan televisi, gadget dan media lainnya. Perbanyak buku walau pajangan, beri mereka godaan untuk membaca, menambah ilmu.

Sebab ilmu itu selamanya akan didapat, diolah, dan dibagi oleh manusia. Dan media penyimpanannya adalah buku, disampaikan dari masa ke masa, ide itu tetap, walau orangnya beda."

Begitulah sedikit inspirasi dari seorang penulis muslim yang sudah terkenal. Semoga kita bisa mengikuti kesuksesannya. Menggabungkan aktifitas membaca dan menulis, menemukan motivasi utama dalam menulis serta keutamaan aktifitas menulis.

Selamat membaca, menulis dan berbagi !

(Ary H.)

Lansia

Lansia atau lanjut usia. Istilah untuk orang yang usianya sudah melewati setengah abad. Tentunya sudah bukan lagi anak muda.

Secara sunnatullah, semakin bertambah usia semakin berkurang jatah umurnya. Bahkan Rasulullah Saw pernah mengingatkan bahwa rata-rata usia umatnya itu tidak jauh dari usia beliau, yakni sekitar 60 tahunan.

Semakin tua hendaknya semakin sadar diri. Semakin lemah, semakin banyak organ tubuh yang mengalami penurunan fungsi. Rambut memutih, penglihatan memudar, kulit keriput, tulang pun mulai rapuh. Semakin tua, banyak nikmat yang semakin berkurang. Sudah menjadi sunnatullah, setiap makhluk akan menuju kepada kebinasaan. Pelan maupun cepat, jauh maupun dekat, mati adalah pasti.

Namun sangat disayangkan jika Lansia, yang sudah tak muda itu, dipertontonkan berjoget ria berjamaah. Bukan berjamaah ngaji di masjid dan majlis taklim. Tak hanya itu, supaya terlihat islami, joget ria itu pun menggunakan seragam gamis lengkap berkerudung. Berasyik masyuk terlenakan dengan acara musik yang diwarnai ikhtilath (campur baur pria dan wanita yang bukan mahrom). Syair-syair yang dilantunkannya pun bukan syair-syair yang meningkatkan iman. Bahkan hanya syair hura-hura dan cinta semata.

Ajal memang tak pilih usia. Tentunya setiap kita menginginkan akhir kehidupan yang baik. Kondisi optimal dalam ketaatan kepada Allah Swt saat ajal menjemput. Pernahkah para pembuat tayangan, sponsor juga keluarga yang membimbing para lansia itu berpikir, bagaimana jika ajal datang saat kelelahan berjoged. Mungkinkah kalimah tahlil yang keluar dari lisan-lisan para Lansia tersebut?

Perjalanan ke stasiun televisi, berdandan, berjoged hingga pulang kembali ke rumah tentu menguras tenaga. Begitu pula jika tenaga itu dipakai untuk berjalan ke majlis taklim, mengaji, berdakwah dan taqorrub ilallah. Jika itu pilihan, mengapa tidak memilih amal shalih. Usia yang tidak muda tentu membuat energi dalam beramal menjadi serba terbatas. Alangkah baiknya, kesempatan itu dipakai sebaik-baiknya untuk mendekat kepada Sang Pencipta.

Membersamai para orang tua dalam usia senja mereka tentu sangat besar pahalanya. Membuat mereka bahagia tidaklah mesti dibawa ke dalam aktifitas hura-hura. Karena bahagia itu hasil dari sebuah persepsi. Adapun persepsi merupakan buah dari pemahaman yang sudah dimengerti dan diyakini kebenarannya. Teringat seorang shahabat Abu Ayyub Al Anshari r.a., dalam kondisi rentanya, beliau masih semangat berjihad menyambut janji Rasulullah Saw untuk membebaskan konstantinopel. Meskipun konstantinopel belum berhasil ditaklukkan tetapi semangat jihadnya menjadi inspirasi para pasukan sesudahnya. Karena beliau minta dimakamkan di jejak terdepan pasukan yang beliau pimpin.

Semoga para Lansia dan keluarga muslim yang melibatkan orang tuanya dalam acara joged ria berjamaah segera menginsyafi kekeliruannya. Kita sebagai anak-anak bisa membimbing para Lansia agar semakin banyak mengingat maut dan mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan ketaatan dan dakwah, bukan malah menceburkan orang tua kita ke dalam aktifitas maksiat yang melenakan.

(Ary H. - Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif.)

#BerbaktiKepadaOrangTua
#AmalJariyah
#AryAttasiky

Selasa, 13 September 2016

Tulisan Truk yang Menggugah

Tak selamanya tulisan di belakang truk itu saru dan sekedar cari sensasi. Sore ini saya membaca tulisan truk yang sangat berharga. Meskipun ditulis hanya dengan kuas dan cat air, tetapi makna tulisannya mendalam dan berbekas.

"MATI ITU PASTI, KHUSNUL KHOTIMAH ITU PILIHAN"

Meskipun tulisan yang lebih tepatnya adalah HUSNUL bukan KHUSNUL, tetapi kita bisa paham apa yang dimaksud, yakni HUSNUL KHOTIMAH (Akhir kehidupan yang baik).

Kata manusia atau insan sangat dekat dengan kata "nis-yan" atau "nasiya" yang berarti lupa. Meskipun semua manusia pasti mati, tidak ada pengecualian. Tetapi seringkali lupa akan kematian. Bisa jadi hal itu karena kehidupan dunia yang indah dan melenakan. Seakan-akan kita kan hidup selamanya. Padahal mati selalu mengintai di mana saja manusia berada. Itu pasti.

Husnul khatimah jelas pilihan. Karena syukur ataupun kufur juga pilihan. Akhir kehidupan yang baik tergantung amal kita selama hidup. Meskipun tentunya, ujung niat dan amal kitalah yang menentukan. Allah Swt yang Maha Menerima Taubat selalu menerima taubat sebelum sakaratul maut menjemput. Seorang pelaku maksiat atau kafir sekalipun, kemudian baru satu hari bertaubat dengan taubat nasuha lalu wafat, bisa terkategori husnul khatimah.

Kejadian seperti yang saya ceritakan di atas janganlah membuat kita terperdaya, hidup terus bergelimang dengan dosa dengan harapan kita dapat bertaubat sebelum ajal menjemput. Karena, siapa yang tahu kapan dan di mana ajal akan menjemput kita. Oleh karena itu, husnul khatimah adalah pilihan. Sepanjang hidup, kita terus diberi pilihan antara Husnul Khatimah ataukah Su'ul Khatimah.

Semoga Allah Swt mewafatkan kita dalam kondisi amal dan pengorbanan terbaik dalam ketaqwaan kita kepada-Nya. Aamiiin.

#TulisanTruk
#InspirasiTulisan
#AryAttasiky

Pengorbanan Vs Pengorbanan

Berkorban merupakan bukti sebuah keseriusan dan kesungguhan. Tanpa pengorbanan, komitmen seseorang dipertanyakan. Tidak hanya dalam kebenaran, berkorban pun dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Jika kaum muslim berkorban untuk membuktikan komitmen mereka pada Islam, orang-orang kafir sebaliknya.

Tak sedikit yang menghubungkan pengorbanan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Tetapi kali ini, penulis tertarik untuk menulis tentang pengorbanan dari apa yang terjadi pada perang Uhud. Perang antara Negara Islam Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah Saw melawan Kaum musyrik Makkah.

Uhud adalah sebuah nama Gunung yang terletak di utara Madinah, berjarak sekitar 1 mil dari Madinah. Ketinggiannya sekitar 1.077 m. Dinamakan Perang Uhud karena lokasi pertempuran kaum muslim dan kaum musyrik terjadi di dekatnya. Rasulullah pun meletakkan pasukan pemanah di bukit Uhud tersebut.  Perang ini terjadi pada hari Sabtu, 7 Syawal 3 H atau diperkirakan bertepatan dengan 23 Maret 625 M.

Pada perang Uhud orang-orang kafir Quraisy membiayai pemberangkatan tentara dari hasil perdagangan mereka di Syam. Ketika itu seluruh dagangan dan keuntungannya diberhentikan oleh Abu Sufyan di Darun Nadwah, sebuah tempat yang dibangun oleh Qushay bin Kilab bin Murrah dan dipakai oleh orang-orang Makkah untuk bermusyawarah.

Abu Sufyan tidak membagikan harta dagangan tersebut karena dianggap tiada yang berhak atasnya. Hingga para tokoh kafir Quraisy berkata kepadanya : “Wahai Abu Sufyan, lihatlah barang-barang yang kau datangkan dari Syam tersebut kemudian engkau menahannya. Kau tahu bahwa hal itu adalah harta para penduduk Makkah dan modal orang-orang Quraisy. Padahal mereka telah merelakan harta tersebut sebagai bekal pemberangkatan tentara untuk menyerang Muhammad. Dan kau sendiri tahu bahwa mereka yang telah mati (pada perang Badar) adalah bapak-bapak kita, anak-anak kita dan keluarga kita semuanya.” Maka Abu Sufyan pun menjawab: “Benarkah orang-orang Quraisy telah merelakan harta tersebut?” Mereka mengatakan : ”Ya”. Abu Sufyan berkata : ”Kalau begitu, aku adalah orang yang paling pertama menyetujui rencana ini. Bani Abdi Manaf bersamaku. Aku seorang yang sangat dihinakan dan aku akan membalas dendam. Anakku Hanzhalah, juga para pemimpin kaumku telah terbunuh di Badar.” Saat itu, seluruh harta berjumlah 1000 unta (sekitar Rp 14 milyar) dan 50.000 dinar (sekitar Rp 125,4 milyar), atau totalnya sekitar 139,4 milyar rupiah.

Terkait pengorbanan orang kafir tersebut, Allah Swt menurunkan firman-Nya, yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan, dan ke dalam Jahannam-lah orang-orang kafir itu dikumpulkan.” (TQS. Al Anfal[8] : 36)

Selain wafatnya penghulu para syuhada, yakni Hamzah bin Abdul Mutahllib. Dari peristiwa perang Uhud juga kita bisa mengambil pelajaran dari empat peristiwa kematian yang penuh dengan pengorbanan. Yang pertama dan kedua adalah kematian Shu’ab dan Mush’ab. Shu’ab adalah seorang budak yang membawa panji pasukan musyrik Makkah. Ia memegang panji setelah para pemegang panji sebelumnya terbunuh oleh pasukan muslim. Kilab bin Thalhah bin Abi Thalhah dibunuh oleh Zubair bin al-Awwam. Lalu al-Julas bin Thalhah bin Abi Thalhah dibunuh oleh Thalhah bin Ubaidillah. Kemudian Arthah bin Syurahbil berhasil dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib. Serta Syuraih bin Qarizh yang tidak diketahui siapa pembunuhnya.

Shu’ab mengangkat panji itu dengan gagah berani. Ia mengangkat panji kaum musyrik itu dengan tangan kanannya. Quzman lalu menghampirinya dan berhasil menebas tangannya hingga putus. Shu’ab pun lalu memegang panji itu dengan tangan kirinya. Quzman pun terus menyerangnya hingga tangan kiri Shu’ab pun tertebas hingga putus. Kemudian Shu’ab mendekap panji itu dengan kedua lengannya yang masih tersisa seraya membungkukkan punggungnya. Quzman lalu menyerangnya dan berhasil membunuhnya. Kematian yang penuh pengorbanan, tetapi ia mati dalam memperjuangkan kekafiran.

Sungguh sangat berbeda dengan Mush’ab. Nama lengkapnya Mush’ab bin Umair. Ia dikenal dengan Mush’ab Al Khair (Mush’ab yang baik). Duta dakwah Islam pertama yang diutus Rasulullah Saw ke Madinah. Pemuda bangsawan, tampan dan kaya yang telah rela menukarkan semua kesenangannya hanya demi Islam. Pemuda yang membuat para shahabat menunduk dan menangis ketika melihatnya. Para shahabat melihatnya berjubah usang dan bertambal-tambal, padahal masih segar dalam ingatan mereka bagaimana penampilan Mush’ab sebelum masuk Islam. Pakaiannya selalu bersih dan indah ibarat bunga di taman serta menebarkan aroma wewangian. Melihatnya, Rasulullah Saw tersenyum bahagia dan bersabda : ”Dahulu tiada yang menandingi Mush’ab dalam mendapatkan kesenangan dari orang tuanya. Lalu semua itu ia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Pada perang Uhud, Mush’ab Al Khair terpilih sebagai pemegang panji Islam. Setelah Rasulullah Saw merapihkan barisan pasukan kaum muslim, beliau bertanya: “Siapa yang membawa panji kaum musyrik?” Dikatakan kepada beliau: “Bani Abdiddar.” Beliau bersabda: ”Kita lebih layak untuk itu. Mana Mush’ab bin Umair?” Mush’ab berkata: “Ini aku wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Ambillah panji ini.” Mush’ab pun mengambilnya dan maju di depan Rasulullah Saw.

Mush’ab membawa panji kalimah Tauhid itu dengan gagah berani. Bahkan tatkala barisan kaum muslim porak poranda, karena pasukan pemanah yang meninggalkan lokasinya lalu pasukan kaum muslim diserang balik oleh Khalid bin Walid, Mush’ab tetap gigih berperang. Seorang tentara berkuda musuh yang bernama Ibnu Qamiah menyerangnya hingga menebas tangan kanannya sampai putus. Mush’ab tetap teguh seraya membacakan Q.S. Ali Imran[3] : 144, yang artinya :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”        

Kemudian Mush’ab meraih panji Islam dengan tangan kirinya. Namun sekali lagi Ibnu Qamiah berhasil menebas tangan kirinya hingga putus. Mush’ab tetap teguh seraya membaca ayat yang sama. Lalu ia mendekapkan panji Islam itu ke dadanya dengan kedua lengannya yang masih tersisa.  Namun untuk ketiga kalinya Ibnu Qamiah berhasil menyerangnya. Ibnu Qamiah menancapkan tombak yang berhasil menembus tubuh Mush’ab. Mush’ab pun syahid di jalan Allah. Kematian mulia yang penuh dengan pengorbanan.  Rasulullah Saw pun menegaskan bahwa beliau akan menjadi saksi atas kesyahidan Mush’ab dan para shahabat lainnya yang gugur saat itu.

Kematian yang ketiga adalah kematian Quzman. Lain halnya dengan Shu’ab yang berperang penuh pengorbanan lalu mati sebagai pasukan musyrik. Begitu pula Mush’ab yang berperang penuh pengorbanan lalu tercatat sebagai syuhada kaum muslim. Quzman adalah orang yang berperang bersama pasukan muslim, penuh pengorbanan dan gagah berani, tetapi ia tidak tercatat sebagai syuhada bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai ahli neraka.

Quzman adalah lelaki terpandang dari Bani Zhafar. Ia terkenal sangat pemberani. Quzman ikut ke medan Uhud dan berperang dengan serius. Tatkala kaum muslim mengalami kekalahan dalam perang Uhud, ia mematahkan ujung pedangnya. Kemudian maju menerobos pasukan kaum musyrik hingga berhasil membunuh 60-70 tentara musyrik.

Quzman terluka sangat parah. Ketika ia dihampiri oleh para shahabat, dikatakan kepadanya : ”Selamat untukmu wahai Abu al –Ghaidaq. Kau mati syahid.” Ia menyahut :  ”Kabar gembira apa yang kalian sampaikan kepadaku? Demi Allah aku tidak berperang kecuali atas dorongan fanatisme keluarga.” Para shahabat menjawab: “Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan surga.” Ia menjawab : “Surga dari Harmal. Demi Allah, aku tidak berperang demi surga atau neraka, aku berperang semata-mata demi membela keluarga besar.”

Dalam riwayat lain di ujung hayatnya Quzman berkata : “Aku berperang hanya demi mempertahankan agar jangan sampai Quraisy menginjak-injak kehormatan kita.” Ia tidak tahan dengan luka-lukanya. Setelah belum berhasil bunuh diri dengan menembuskan anak panah ke badannya, ia pun menjatuhkan tubuhnya di atas pedangnya hingga menembus punggungnya, ia pun tewas. Mengenainya, Rasulullah Saw bersabda: “Ia termasuk penduduk neraka.”  

Adapun kematian yang keempat adalah yang terjadi pada Abdullah bin Jubair al-Anshari Al-Ausi. Nama aslinya adalah Abdullah Jubair bin Nu’man bin Umayyah, ia berasal dari Bani Tsa’labah bin Amru bin Auf. Abdullah bin Jubair mendapatkan julukan Abu al-Mundzir, tergolong angkatan pertama yang masuk Islam dari kalangan Yatsrib. Ia pun hadir dalam Bai’at Aqabah kedua.

Nabi Muhammad Saw mengangkat Abdullah bin Jubair sebagai panglima pasukan pemanah. Rasulullah menempatkan pasukan pemanah di bukit Uhud dan memerintahkan mereka supaya jangan meninggalkan lokasinya. Ketika perang Uhud berkecamuk pasukan pemanah melepaskan bidikannya ke arah pasukan musyrik. Anak panah pun melesat mengenai orang musyrik atau kuda yang ditungganginya. Hingga pasukan musyrik terpukul mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta-hartanya. Saat itulah pasukan pemanah tergoda untuk mengambil harta ghanimah yang ditinggalkan pasukan musyrik. Abdullah bin Jubair segera mengingatkan mereka, ia berseru seraya memanjatkan pujian kepada Allah serta mengagungkan-Nya atas segala pemberian-Nya. Ia memerintahkan pasukannya agar taat kepada Rasul-Nya.

Langkah mundur pasukan musyrik ternyata hanya tipu muslihat saja. Setelah melihat pasukan pemanah menuruni bukit Uhud, Khalid bin Walid segera berputar dan menyerang kembali kaum muslim. Disusul kemudian oleh pasukan Ikrimah bin Abu Jahal.

Abdullah bin Jubair dan beberapa orang tersisa berusaha melawan. Ia menyerang dengan anak panahnya hingga tiada anak panah yang tersisa. Ia lalu mengambil tombaknya dan bertempur sengit dengan bersenjatakan tombak, hingga tombaknya patah. Tak patah semangat, kemudian ia mengambil pedangnya dan bertempur habis-habisan hingga membunuh musuh-musuhnya. Akhirnya pedangnya pun patah. Tetapi ia terus bertempur hingga ia terbunuh dan syahid.

Abdullah bin Jubair dibunuh oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Ia bertempur dengan sangat hebat dan penuh pengorbanan. Bersama 10 pasukan pemanah yang masih tersisa, ia menghadapi 200 pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal Pasukan kaum musyrik memperlakukan jenazah Abdullah bin Jubair dengan sangat keji. Mereka menusuk-nusukkan tombak mereka hingga perutnya rusak dengan usus yang berhamburan.

Mengenai para syuhada Uhud, Allah Swt menurunkan firman-Nya (yang artinya) :

“Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian. Sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (TQS. Ali Imran[3]: 152)    

Sebetulnya masih banyak lagi pelajaran yang dipetik dari peristiwa Uhud. Namun pada intinya, dari kecamuk perang Uhud kita bisa melihat ada pengorbanan versus pengorbanan. Ada pengorbanan orang kafir untuk memusuhi Islam Ada pengorbanan bermotif fanatisme semata dan bukan karena Allah.  Ada juga pengorbanan yang dilakukan sepenuhnya hanya karena Allah Swt semata. Semuanya berkorban harta, tenaga dan bahkan nyawa. Tetapi yang mulia hanyalah pengorbanan kaum muslim yang berkorban di jalan Allah dan karena Allah Swt semata. Semoga kita termasuk orang-orang yang berkorban dengan pengorbanan yang mulia. Aamiin. Wallaahu a’lamu bishshawwaab.  (Ary H. – Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif)

Sumber:  www.banjarkota.com

Sumber Bacaan :

1) Al Waqidi. Al Maghazi (ed. terj.) Sejarah Lengkap Peperangan Rasulullah Saw Jilid I. Diterjemahkan oleh Abu Fuad. Al Azhar. 2015.
2) Fathi As’ad Na’jah. Pembela-pembela Islam, Buku Ketiga (terjemahan dari aS-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah Ulama’ wa Qodah). Diterjemahkan oleh Mujiburrahman, SE. Pustaka Thariqul Izzah. 2006.
3) Ibnu Hisyam. Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam Jilid 2 (terjemahan dari aS-sirah an-Nabawiyyah li-Ibni Hisyam). Diterjemahkan oleh Fadhli Bahri, Lc. Darul Falah. 2011.
4) Khalid Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah Saw (terjemahan dari Rijal Haula Rasulillah). Diterjemahkan oleh Muhil Dhofir, Lc. Al-I’tishom. 2007.
5) M. Ali Dodiman. Kamus Pintar Daulah Islam. Pustaka Ali. 2014.

Minggu, 04 September 2016

Copy Writing (2) Buku Menulis Perjuangan dan Dakwah

Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi asyik dengan seorang pejabat di Kota Tasikmalaya. Setelah membahas tentang tema dalam salah satu buletin Islam mingguan, kami pun menyinggung sedikit tentang budaya membaca.

Dalam suatu survey salah satu Perguruan Tinggi AS, dinyatakan bahwa dalam hal budaya baca, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia hanya setingkat lebih baik dari sebuah negara miskin Botswana di Afrika. Sepertinya bukanlah hal yang aneh.

Saya pernah menempuh perjalanan Tasik - Surabaya dengan kereta. Sepanjang perjalanan semua asyik dengan aktifitas masing-masing, tetapi di antara berbagai macam aktifitas, 3 orang bule asyik dengan bukunya masing-masing.

Sementara waktu, pernah juga berkesempatan untuk menemui saudara di salah satu pulau kecil di daerah NTB, Gili Tarawangan. Ketika sedang mengabadikan momen di pinggir pantai, terlihat turis asing sedang menikmati mentari seraya membaca buku.

Membaca bagi mereka sudah membudaya. Bukan tanpa alasan, hal itu erat kaitannya dengan karya lainnya. Karena semua karya membutuhkan ilmu. Ketika suatu bangsa paham bahwa karya-karyanya sedang dinanti, ia sadar kondisi bahwa umatnya sedang memimpin umat-umat yang lain, maka tumbuh budaya mencari ilmu secara ideologis. Walaupun kita tahu bahwa ideologi yang berasal dari Barat hanya berbuah pragmatisme dan materialisme.

Umat Islam pun demikian. Ketika sadar bahwa sejatinya adalah pemimpin. Diberi amanah oleh Allah Swt untuk mengatur bangsa dan umat Islam yang lain. Dalam diri umat Islam pun tumbuh produktifitas yang sangat hebat. Karya para ulama membuktikan itu semua. Tokoh-tokoh umat Islam dahulu sangat aktif membaca dan menulis, karena sadar diri bahwa umatnya juga umat yang lain membutuhkan kiprah umat Islam.

Karena itulah, membaca dan menulis bagi umat Islam adalah sebuah keniscayaan. Jika umat sadar diri bahwa dirinya adalah pemimpin peradaban.

Atas dorongan inilah saya menyusun buku Menulis Perjuangan dan Dakwah, berharap generasi umat paham akan pentingnya sebuah tulisan dalam memimpin peradaban. Pun, besar harapan saya para penulis muslim dapat berkontribusi besar, meninggalkan era kegagalan serta  membangun peradaban barokah bersama Islam.

Semoga Allah Swt melimpahkan keistiqomahan. Aamiin.

(Ary H.)

Copy Writing (1) Buku Menulis Perjuangan dan Dakwah

Menulis, aktifitas yang dilakukan sejak kita masih kanak-kanak. Jika dulu usia SD, mungkin remaja saat ini sudah menulis semenjak PAUD atau Kober. Bahkan tak jarang kita menulis status di sosial media. Kadang curhat, berdo'a, bercerita, menyampaikan berita dan sebagainya. Tetapi tetap saja tak sedikit dari kita yang tidak Pede dengan aktifitas menulis.

Ada yang susah memilih kata-kata,  sibuk menata kalimat atau ribet membentuk paragrap. Pokoknya, menulis itu sepertinya susah kalau mau diajak serius. Akhirnya, kita mencap diri kita tak bisa menulis. Padahal, kita belajar sedari PAUD.

Menulis itu mudah, tentu bagi yang sudah terbiasa. Bagi yang belum terbiasa, bisa mulai membiasakan diri dengan menulis. Anda bisa mencoba beberapa tips membiasakan menulis yang disajikan dalam buku Menulis Perjuangan dan Dakwah (MPD) yang akan segera terbit, insyaAllah.

Tak hanya sampai di tips pembiasaan menulis, MPD pun mengajak kita untuk menjadikan tulisan tak sekedar bernilai rupiah, tetapi juga bernilai ibadah. Bahkan tak sedikit pula tulisan yang menjadi alat untuk mengubah peradaban. Baik peradaban jahiliyyah menjadi Islam, maupun dari peradaban Islam menjadi sekuler. Karena itulah generasi Islam perlu menulis. Semoga kehadiran MPD nantinya bisa menjadi secercah motivasi. Aamiiin.

(Ary H.)

Terima kasih untuk:
Ust. Nopriadi Hermani dan Master Apu Indragiry serta rekan Akademi Menulis Kreatif

Kamis, 01 September 2016

Sekulerisme Mematikan Cinta

Mungkin judul tulisan ini terlalu melankolis. Tetapi demikianlah faktanya. Sekulerisme yang diemban oleh Barat telah menjadikan manusia laksana binatang-binatang yang berjalan. Atau setidaknya zombie yang hidup tanpa perasaan. Ideologi pemisahan agama dari kehidupan ini membuat slogan-slogan cinta menjadi basi dan mati. Bahkan, hanya menjadi rayuan dan tipuan para penjual kehormatan.

Akibatnya tidak sedikit orang yang menjadikan cinta Allah Swt hanya menjadi slogan. Inilah bahaya utama sekulerisme. Cinta kepada Allah yang seharusnya menumbuhkan cinta kepada-Nya dalam berbagai aspek kehidupan, menaati berbagai perintah dan larangan-Nya, serta mencontoh Rasul-Nya. Tetapi, sekulerisme membuat cinta itu mati. Cinta Allah diucap di bibir, tetapi dalam perilaku tak mau mengacu kepada aturan Allah Swt. Manusia bahkan membuat aturan versi sendiri serta menganggap buatannya itulah yang terbaik. Benar-benar cinta yang telah mati. Bila tak dikatakan cinta palsu. 

Tatkala Allah Swt memberkahi manusia dengan fitrah naluri melestarikan jenis. Maka tumbuh di dalam diri manusia pun cinta akan lawan jenis. Cinta ini akan tumbuh secara fitrah, diberikan Allah demi kelestarian umat manusia. Tanpanya, takkan ada status anak dan istri dan akan terjadi putus generasi. Tetapi sekulerisme telah membuat rasa cinta itu menjadi mati. Gaya hidup yang memisahkan agama meniscayakan liberalisasi pergaulan.

Muda-mudi bergaul bebas, tua muda berganti pasangan, menjadi hal yang tidak tabu lagi. Cinta yang seharusnya tumbuh, hanya menjadi syahwat seksual dan hiburan semata. Dampaknya, aborsi merajalela. Perceraian meningkat luar biasa, penyakit seksual menular pun mewabah. Harga diri manusia jatuh menjadi sekedar lekuk tubuh dan rupiah. Berdasarkan data WHO dan institut Guttmacher satu dari empat perempuan hamil berakhir aborsi, 56 juta janin tak berdosa dibunuh setiap tahunnya. Para pemuda menjadi korban pornografi dan pornoaksi. Ahli Neuropsikologi Saraf, Ihsan Gumilar, menyatakan bahwa adiksi pornografi itu sama dengan narkoba. Kecanduan pornografi membuat otak seseorang kebanjiran dophamine. Hal ini akan membuat seseorang ketagihan yang akan berujung pada kriminalitas serta penyimpangan seksual. Semua terjadi karena liberalisasi.

Tatkala naluri melestarikan jenis menyempit menjadi kenikmatan seksual semata maka pergaulan bebas akan semakin merajalela. Manusia pun akan cenderung enggan menikah dan memiliki anak, kelestarian manusia pun terancam. Fakta tersebut kini melanda banyak negara penganut sekulerisme. Angka kelahiran yang sangat minim, membuat generasi muda mereka terancam punah. Misal Jepang dengan angka kelahiran yang terus menurun drastis sedangkan usia harapan hidup terus meningkat.

Diperkirakan pada tahun 2060, 40% populasi penduduk Jepang adalah orang berusia 65 tahun ke atas (bbc.com). Negara-negara Eropa pun tak jauh berbeda, angka kematian di Eropa lebih banyak dibandingkan angka kelahiran. Sebuah laporan yang dipimpin ahli demografi Texas A & M University mengungkapkan bahwa 58 persen dari 1.391 kabupaten di Eropa memiliki lebih banyak kematian daripada kelahiran. Menurut Profesor Sosiologi Texas A & M, Dudley Poston, penurunan jumlah penduduk usia muda akan berimbas pada ketahanan demografi. (cnnindonesia.com).        

Tak hanya itu, sekulerisme pun telah menjadikan hubungan cinta orang tua dan anak menjadi hampa. Ketika sekulerisme tertanam di benak anak. Orang tua hanya akan dipandang jika bermateri dan berharta, tak ada hormat jika semua itu tak ada. Begitu pula cinta orang tua terhadap anaknya menjadi berbeda, karena keberhasilan yang ditakar berdasar materi semata.

Tatkala Allah Swt memberkahi manusia dengan gharizatul baqo’ (naluri mempertahankan diri), dalam diri manusia pun tumbuh kecintaan pada negeri. Tetapi sekulerisme membuatnya menjadi sekedar slogan hampa tak berarti. Dengan sekulerisme, sinta negeri tak lebih hanya menjadi sekedar ilusi. Tersebab, pengaturan ekonomi kapitalismenya membuat manusia saling menzalimi. Suatu negeri menjajah negeri yang lain. Negara maju berkuasa, negara miskin dan berkembang terinjak tak berdaya.

Negara-negara penjajah membuat jebakan. Mereka mengeruk kekayaan di banyak negeri untuk diri sendiri. Emas, gas, serta SDA lainnya dieksploitasi atas nama investasi. Tak hanya itu, mereka pun mengeluarkan jeratan utang ke banyak negeri. Utang yang tak kan pernah lunas itu melahirkan upeti yang bernama pajak. Pajak pun diekstensifikasi dan diintensifikasi hanya untuk membayar upeti. Bagaimana bisa anak negeri sampai depresi karena tertagih pajak yang tinggi, tetapi tunggakan deviden perusahaan tambang asing mereda sepi sendiri. Pada saat yang sama, SDA dikeruk hingga habis diangkut ke luar negeri. Tak sampai sana saja, jika pajak tetap tak mencukupi, maka aset-aset negeri pun dilelang untuk menutupi pemasukan. Kepada siapa? kepada para kapitalis, terutama asing. Cinta negeri? tak ada lagi. Ia mati seiring pembelaan kepada para penjajah negeri.

Itulah sekulerisme, ideologi yang cacat sejak lahirnya, tak bisa diharapkan karena penuh dengan dusta. Cinta Allah, sesama manusia serta negeri pun menjadi omong kosong belaka.

Hakikat cinta manusia yang sebenarnya hanyalah kepada Allah Swt. Karenanya, cinta lain yang tumbuh secara fitrah pasti akan terjaga. Itu pasti dan bukan hanya sekedar ilusi.

Islam menjaga kecintaan manusia kepada Allah Swt tidak hanya dengan shalat lima waktu. Tetapi ketundukan dalam berbagai aktifitas. Penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah dengan menerapkan aturan-Nya. Rakyat dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah dengan beramar ma’ruf nahyi munkar. Rakyat dan penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah Swt dengan membela agama serta negerinya. Cinta pun disemai dalam berbagai bidang kehidupan. Sistem pendidikan diterapkan berbasis aqidah Islam. Sistem pergaulan diterapkan berdasarkan syariah. Begitu pula sistem politik, sanksi, serta kebudayaan.

Islam membuat cinta antara anak dan orang tua menjadi jauh lebih bermakna. Semua tak hanya terkait materi semata. Islam mewajibkan anak untuk berbakti. Islam menjadikan keshalihan sebagai mutiara. Anak shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya menjadi amal yang akan terbawa hingga seusai mati. Ukuran keshalihan pun jelas. Yakni, taat kepada perintah dan larangan Allah Swt. Menapaki setiap yang halal dan menjauhi setiap yang haram. Kuantitas materi, sama sekali tidak menjadi ukuran. Bila demikian, semua insan pasti akan berpeluang memiliki cinta ini. Cinta yang melintasi sekat materi, tak terbatas untuk si kaya semata.     

Islam pun mengharamkan menggadai negeri. Jika orang mengaku cinta Allah, ia pasti akan tunduk ketika Allah melarangnya menjual aset negeri. Begitu pula akan patuh tatkala Allah Swt mewajibkannya berjihad menjaga setiap jengkal negeri. Semua dilakoni hanya karena Allah Swt memerintahkannya, bukan yang lain.

Walhasil, sekulerisme telah mematikan cinta. Ia membuat cinta hanya menjadi slogan-slogan semata. Di balik itu tersimpan kerakusan syahwat manusia. Sungguh berbeda dengan Islam, cinta yang terlahir dari Islam adalah cinta yang nyata, tanpa ada kepalsuan. Karena yang membimbingnya adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary H. – Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif)