Senin, 19 September 2016

Surat untuk Sahabat


Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh
Para sahabat yang selalu kurindu, semoga rahmat Allah selalu tercurah untukmu.

Sahabat, aktifitas dakwah akan terus berjalan, baik kita bersamanya ataupun tidak. Fase berinteraksi dengan masyarakat sebagaimana yang dijalankan oleh Rasulullah Saw, semakin hari semakin menuntut pengorbanan yang lebih. Para penguasa, orang-orang yang dzalim, serta para mutsaqqofun (orang yang tercelup dengan tsaqofah Barat) terus-menerus menjadi penentang dan penghambat kafilah dakwah. Namun tetap saja, dakwah tidak boleh dan tidak akan berhenti.

Dalam kondisi semakin dekatnya pertolongan Allah Swt. Dalam suasana semakin panasnya bara kesabaran yang mesti kita genggam, Aku menemukan sebuah risalah, nasihat dari Dr. Najaat Hafidz*). Sebuah risalah yang sarat akan makna serta nasihat perjuangan. Oleh karena itulah, aku salin dan kugubahkan surat tersebut untukmu sahabat. Sebuah nasihat tentang kesabaran di jalan dakwah.

Sahabat yang selalu kurindu, hendaklah kita mengetahui terlebih dahulu bahwa kesabaran itu suatu kekuatan dalam jiwa seseorang, yang memiliki peran aktif dan positif. Allah Ta’ala akan memberikannya dalam jiwa seseorang yang berusaha ikhlash dan jujur mengikuti petunjuk-Nya. Dia memberinya kekuatan memikul beban, bertahan dan tabah menghadapi berbagai godaan, fitnah dan cobaan hingga ia menemui Allah Swt, sedang Dia ridha kepadanya. Baik dengan merealisasikan kemenangan yang didambakannya atau dengan mati syahid fi sabilillah. Dalam ukuran Islam, keduanya merupakan kemenangan.

Hendaklah kita menyadari bahwa setiap kita adalah objek atau sasaran ujian. Ingatlah sabda Rasulullah Saw : “Tidak ada musibah yang menimpa muslim, melainkan Allah Ta’ala menjadikannya kifarat baginya, sampai pun duri yang menusuknya.” (THR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw bersabda : “Bala senantiasa menimpa orang mukmin atau mukminah dalam harta dan anaknya, sehingga ia menemui Allah tanpa kesalahan.” (THR. Bukhari dan Muslim). Juga dikatakan dalam hadits yang lain : “Bala senantiasa menimpa hamba hingga ia berjalan di atas bumi tanpa dosa.” (THR. Tirmidzi).

Terkait bala yang menimpa, hendaklah engkau mengingat firman Allah Swt :
الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)
“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata : “Kami telah beriman.” sedangkan mereka tidak diuji? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.” (TQS. Al Ankabut[29]: 1-3)

Karena itulah hendaknya disadari bahwa cobaan dan ujian itu merupakan saringan antara yang benar dan lainnya. Allah Swt berfirman :
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (24)
“Supaya Allah membalas orang-orang yang benar karena kebenarannya, serta menyiksa orang-orang munafiq jika Ia berkehendak atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (Al Ahzab[33]: 24).

Rasulullah Saw juga menjelaskan kepada kita bahwa jalan menuju kebaikan, jalan surga, harganya mahal sekali. Bagi orang yang hendak memetik kebajikannya, ia mesti membayar harganya berupa kesabaran dan ketabahan. Sebagaiman sabda Rasulullah Saw : “Surga itu dikelilingi dengan duka derita, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan hawa nafsu.” (THR. Muslim).

Wahai sahabat, kita diperintahkan meneladani jejak Rasulullah Saw dalam menghadapi berbagai masalah, ujian dan cobaan sebesar apapun dengan modal sabar dan tabah. Begitu pula jika kita membuka lembaran sejarah para sahabat Rasulullah Saw serta para pendahulu kita yang shalih, kita akan menemukan senjata mereka yang paling ampuh ketika menghadapi ujian dan cobaan, yaitu kesabaran dan ketabahan.

Para sahabat Rasulullah mengarungi gelanggang dakwah tanpa mengindahkan derita dan sengsara yang dihadapi. Dengan tekad bulat, mereka terus berjalan, menghidupkan dakwah Allah, meninggikan kalimat-Nya dan kemuliaan agama-Nya.

Karena itulah wahai para sahabat seperjuangan, hendaklah kita melatih diri agar bersikap sabar dan tabah hingga datang pertolongan dan kemenangan dari Allah.

Ketahuilah sahabat, bahwa kafilah dakwah itu akan berjalan dengan perlindungan dan penjagaan Allah. Siapa yang berjalan bersamanya akan tiba dan berjaya. Ia akan bergabung dengan kafilah-kafilah kebajikan dan hidayah lainnya, yang terdiri dari para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Alangkah baiknya berteman dengan mereka. (lih. Q.S. An Nisa[4]: 69).
Siapa yang ragu dan mundur, pastilah ia akan rugi dan menyesal.

Ingatlah selalu sahabat, bahwa sabar dan tabah dalam menghadapi bala ujian dan cobaan, akan menambah kekuatan iman orang yang menyandangnya. Setiap kali kita melipatgandakan kesabaran dan ketabahan, setiap itu pula kekuatan iman kita akan bertambah kukuh. Kita akan dapat menundukkan semua problema hidup dan rintangan yang dihadapi, berdiri dengan tegar menghadapi berbagai rintangan yang mengepung setiap muslim. Dengan demikian, insyaAllah, pahala dan ganjaran yang dijanjikan akan kita dapatkan.

Kita tidak harus mengharapkan datangnya bala dan ujian. Tidak! Rasulullah Saw melarang kita berbuat demikian. Beliau bersabda: “Janganlah kamu mengharapkan berpapasan dengan musuh, mohonlah senantiasa kesehatan dari Allah. Kalau kamu bertemu dengan musuh, maka bersabarlah, jangan melarikan diri. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al Arbain Annawawiyyah).

Perhatikanlah sahabat, begaimana Rasulullah Saw memerintahkan kepada kita supaya senantiasa memohon kesehatan kepada-Nya. Tetapi kalau kita diuji dan bukan diharapkan kedatangannya, tidak ada jalan lain bagi kita selain sabar dan tabah. Semoga kita akan menerima ganjaran besar yang dijanjikan Allah Swt.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa terhitung.” (TQS. Az Zumar[39]: 10).     

Sahabat-sahabat yang selalu kurindu, aku bukanlah yang terbaik di antaramu. Hanya saja aku menemukan beberapa butir permata ilmu dalam sebuah risalah. Dengan menulis surat ini, aku berharap dapat berbagi denganmu. Semoga persahabatan kita kekal hingga ke surga. Hanya satu saja yang selalu kupinta kepada-Nya, semoga kita istiqomah di jalan dakwah hingga ke akhir hayah.  
Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.

Saudaramu
Ary H.

*) Risalah yang dimaksud adalah Buku Nasihat untuk Para Wanita. Terj. dari Risalatun Ila Ibnati (Nashihah li Kulli Bint). Tulisan Dr. Najaat Hafidz yang diterjemahkan oleh H. Salim Basyarahil.

http://aryherawan.blogspot.co.id/2016/09/surat-untuk-sahabat.html?m=1 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar