Selasa, 28 November 2017
Rangkuman Materi -2 Mudah Menulis Opini
Rabu, 22 November 2017
Keperkasaan Seorang Anshor
Sedikit cerita tentang Usaid bin Hudhair. Beliau adalah salah seorang tokoh Yatsrib yang sangat disegani. Sikapnya tegas dan berprinsip, pun merupakan keturunan dari kalangan terhormat dan mulia. Seorang penyair pernah membuat syair tentang ayahnya,
Seandainya maut mau menghindar dari orang perkasa
niscaya ia membiarkan Hudhair ketika menutup pintunya
ia akan berkeliling, sampai malam menjelma
lalu duduk dan berdendang dengan asyiknya.
Usaid terkenal sangat berani dan memiliki kedudukan sebagaimana ayahnya. Beliau merupakan seorang pemimpin kabilah. Ketika mendengar bahwa ada seseorang warga Makkah yang mendakwahkan agama baru (Islam), yaitu Mush'ab bin Umair yang diutus oleh Rasulullah, Usaid marah hebat. Ia beranggapan bahwa orang tersebut akan memecah belah kesatuan dan kondusifitas di Madinah. Karena itulah ia harus mengusir Mush'ab.
Untuk memberi pelajaran kepada Mush'ab, Usaid pun langsung menenteng tombak lalu langsung menemui Mush'ab yang sedang berdakwah. Di majelis itu ada As'ad bin Zurarah serta beberapa orang lainnya yang serius mendengarkan ceramah Mush'ab bin Umair. Usaid datang dengan penuh kemarahan dan keberangan. Ia langsung menodongkan tombaknya kepada Mush'ab seraya mengusirnya.
Berhadapan dengan orang yang sedang marah besar, Mush'ab berkata dengan santun,
"Apakah engkau berkenan duduk dan mendengarkannya? Jika engkau menyukainya, engkau dapat menerimanya. Sedangkan jika engkau tidak menyukainya, kami akan menghentikan apa yang tidak engkau sukai."
Usaid memang orang yang sangat cerdas dan tajam perasaannya. Tidak salah jika penduduk Yatsrib menjulukinya "Al Kamil" (Si Sempurna). Dalam kondisi sangat marah sekalipun, akalnya masih bisa berpikir normal. Ia pun mau menerima tawaran Mush'ab. Ia berkata,
"Engkau benar, sekarang sampaikanlah apa yang ada padamu!"
Mush'ab pun membacakan Al Quran, hidayah Islam meresap ke dalam hati Usaid bin Hudhair r.a. Selanjutnya melalui dakwah Usaid banyak tokoh dan penduduk Yatsrib yang masuk Islam.
Mengenai Usaid r.a., Rasulullah Saw bersabda:
"Laki-laki yang paling beruntung adalah Usaid bin Hudhair."
Usaid bin Hudhair memang sangat beruntung, karena dalam kondisi sangat benci dan marah sekalipun, #akal sehatnya masih #berfungsi. Dari jalan itulah ia menerima #hidayah #Islam dan tercatat mulia di langit dan bumi sebagai bagian dari #barisan #penolong #dakwah Rasulullah Saw, atau disebut dengan kaum #Anshor.
#Aryh
#Kisah
#ShahabatRasul
Minggu, 19 November 2017
Rangkuman Materi-1 Mudah Menulis Opini
Fakta dan Opini Sebuah Tulisan
Sabtu, 18 November 2017
Bela Negara atau Bela Sekulerisme?
Opini bela negara belakangan ini semakin menguat atau dikuatkan oleh rezim dan para pendukungnya. Namun anehnya, seiring dengan semakin menguatnya isu bela negara malah semakin banyak pula kebijakan rezim yang pro terhadap asing dan aseng. Dari mulai penjualan BUMN, jalan tol, bandara serta utang yang semakin membengkak.
Utang dan investasi menjadi jalan utama 'penjualan' negeri ini. Utang dipakai untuk membangun infrastruktur. Infrastruktur yang ada kemudian dilelang untuk mendapatkan uang. Lalu uang tersebut dipakai untuk membayar utang dan bunganya. Ujung-ujungnya, infrastruktur pun bukan lagi milik negara. Rakyat harus membayar untuk dapat menikmatinya, seraya dikenai berbagai jenis pajak untuk membayar utang beserta bunganya.
Begitu pula dengan sumber daya alam yang ada. Tanpa investasi, pengelola negara seolah tak percaya diri untuk mengeksploitasinya. Dampaknya, hampir seluruh eksploitasi pertambangan dikuasai oleh asing dan aseng. Emas, perak, bijih besi, timah, tembaga, gas alam hingga uranium pun terkeruk dari negeri ini. Anak negeri cukup bahagia meski hanya dengan beberapa recehan sebagai upah atas cucuran keringatnya. Mereka menjadi buruh di tanahnya sendiri.
Ekonomi kerakyatan hanyalah simbolisme kata-kata, karena yang berjalan senyatanya adalah ekonomi kapitalis. Jika benar-benar berpihak kepada rakyat niscaya rakyat tak akan dikenai kenaikan tarif listrik yang terus berlipat. Kini, tak sedikit dari pengguna listrik 900 kwh saja harus merogoh kocek antara 250-300 ribu perbulan untuk membayar listrik. Belum lagi pencabutan subsidi gas yang semakin mencekik. Di tengah kondisi seperti ini, rakyat masih pula akan dibebani dengan penyeragaman daya menjadi 5.500 kwh.
Belum lagi jika bicara moralitas yang semakin jeblok. Kekerasan terhadap anak meningkat, dan yang paling tinggi angkanya adalah pelecehan seksual terhadap anak. Aborsi semakin menggila dan pergaulan bebas semakin nyata di depan mata. Perilaku muda-mudi yang dulu dianggap tabu, kini mudah sekali ditemukan pemampakannya di ruang publik. Namun pada saat yang sama, pendidikan agama malah diframing sebagai akar radikalisme yang membahayakan. Pengajian dianggap berpotensi makar. Padahal berbagai ajang kemaksiatan dijaga dan dilestarikan dengan alasan menjaga kebhinekaan. Yang sebenarnya, alasan tersebut tak pernah berlaku untuk ide dan pemikiran islami.
Agama itu suci dan politik dianggap kotor, agama jangan dibawa-bawa ke ranah politik, begitulah slogannya. Inilah yang dimaksud dengan sekulerisme. Jika demikian, jangan harap moral rakyat akan membaik. Karena para politisinya pun sudah mencap dirinya hidup di ranah yang kotor dan sama sekali tidak mau diatur dengan sesuatu yang suci. Namun anehnya, kaum agamawan pendukung rezim yang sering meneriakkan kembalikan kesucian dan kemuliaan agama. Malahan justru mendekat ke para penguasa seraya menantikan derasnya recehan yang digelontorkan melalui program para politisi.
Slogan bela negara yang diteriakkan berulang-ulang pun seolah memiliki dua makna. Yakni makna tersurat dan tersirat. Makna tersuratnya adalah membela negeri dari setiap rongrongan dan penjajahan asing yang membahaykan, termasuk menjaga rakyatnya dari berbagai eksploitasi dan tipu daya asing. Sedangkan makna tersiratnya adalah bela sekulerisme, atau pertahankan pemisahan agama dan kehidupan di negeri ini. Pertahankan hukum-hukum yang tak berlandaskan pada hukum agama seraya jauhkan berbagai hukum agama yang berpotensi mengatur masyarakat.
Jika bela negara dimaknai sebagai bela sekulerisme, maka sampai kapanpun dan diteriakkan sebanyak apapun bela negara hanya sekedar akan menjadi slogan semata. Karena sekulerisme dan penjajahan adalah dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Sedangkan jika bela negara dimaknai sebagai pembelaan terhadap seluruh sumber daya alam dan manusia negeri ini. Maka negeri ini harus menganut pandangan hidup yang benar-benar anti penjajahan.
Tinggal kita bertanya dalam diri. Mau bela negara atau bela sekulerisme?
Kamis, 16 November 2017
Sisi Perjuangan Seorang Tokoh Sekuler
Ia terlahir di sebuah kawasan miskin di wilayah Yunani yang bernama Tesalonika. Ayahnya hanya seorang mantan pegawai rendahan di sebuah kantor pemerintah. Karena hidup tak berpendapatan, ayahnya pun membanting stir menjadi seorang pebisnis. Namun nasib baik belum berpihak kepadanya, ayahnya gagal berbisnis dan menjadi seorang pemabuk. Ketika penyakit TBC menjadi pengantar kematian ayahnya, usianya baru 7 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk menjadi seorang yatim.
Ibunya adalah seorang yang buta huruf. Namun ia adalah muslimah yang sangat taat beribadah. Karena itulah, Sang ibu menginginkannya untuk menjadi seorang ulama. Akan tetapi, ia memilih menjadi seorang remaja pemberontak dengan perilaku yang buruk. Atas saran keluarga besarnya, ia pun dimasukkan ke sekolah militer di Salonika.
Terlahir dengan berbagai penderitaan dan kesulitan hidup, membuatnya bermental baja dan pantang menyerah. Ia gigih dan tekun belajar hingga meraih prestasi yang mengagumkan. Ia sangat pandai di bidang militer dan matematika. Saking pandainya, temannya pun menjuluki dia dengan julukan “kamil”. Bahkan, ia dipromosikan untuk menjadi salah seorang staf pengajar. Kerja kerasnya membuahkan hasil, ia mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir. Pada tahun 1905, gelar kehormatan sebagai kapten pun berhasil ia sandang.
Meskipun pandai, tak membuatnya menjadi seorang pelajar yang studi oriented. Masa mudanya ia isi dengan mengaktifkan diri dalam sebuah kelompok perjuangan revolusioner yang bernama “Vatan”. Kelompok ini sangat militan dan fanatik memperjuangkan liberalisme. Kelompok ini selalu menyalahkan Islam atas keterbelakangan yang menimpa negerinya. Kelompok ini lantang mengkritik pemerintahan Islam. Para anggotanya bersumpah untuk melengserkan pemerintah serta mengganti konstitusi dan undang-undang, kemudian akan menggantikannya dengan sistem pemerintahan ala Barat.
Kebencian kelompok Vatan terhadap Islam sungguh tak kepalang. Kelompok ini sangat berkeinginan untuk menghapuskan otoritas para ulama, menghapuskan pemakaian jilbab dan kerudung serta mendeklarasikan kesetaraan gender. Keaktifannya dalam kelompok tersebut telah mengantarkan dia untuk menjadi pemimpinnya.
Pada tahun 1908 ia diajak bergabung dalam sebuah komite nasional. Namun ia benci diperintah, ia tak puas ketika berbagai ide dan kemauannya ditentang oleh anggota yang lain. Sepuluh tahun ia habiskan untuk kembali menekuni bidang kemiliteran. Berkat kekerasan hati dan kecerdasan otaknya, ia merengkuh makin banyak kekuasaan politik.
Hampir setiap malam ia begadang menahan kantuk. Ia rencanakan berbagai langkah makar untuk mendapatkan sebuah kekuasaan yang absolut baginya. Kesempatan itu akhirnya datang, peperangan yang ia pimpin ketika melawan sekutu Eropa telah mengantarkannya menjadi seorang “Penyelamat.” Rakyat pun mulai mengagung-agungkannya. Ia pun dipuja sebagai pahlawan.
Semua impiannya selama ini untuk menghancurkan Islam semakin menyata. Karena ia beranggapan bahwa negerinya hanya bisa maju dan modern, jika mengeliminasi berbagai hal yang berbau Islam. Sehingga tanpa ragu, ia pun selalu menyerang Islam dan pilarnya.
Pada 3 Maret 1924, ia mengajukan UU yang menghapuskan sistem pemerintahan Khilafah Islam untuk selamanya dan mendirikan negara sekuler. Sebelum UU ini diperkenalkan, ia membungkam para penentang dan semua suara-suara kritis dengan ancaman hukuman mati. Akhirnya, UU tersebut pun disahkan tanpa perdebatan. Ia adalah Musthafa Kemal Pasha.
*)sumber bacaan : Mustafa Kemal Ataturk; Pembawa Kehancuran Islam Turki. Percikan Iman No. 04 Th.VII April 2006.
Banggalah Menjadi Generasi Islam!
Nak, hari ini engkau masih kecil dan menyaksikan. Bagaimana tercabik-cabiknya persaudaraan umat Islam. Umat Islam suatu bangsa seolah dilarang peduli terhadap umat Islam bangsa lainnya. Kita dipenjara oleh sekat-sekat semu yang sangat subjektif.
Sekat semu itu rapat dan kuat ketika umat Islam ingin saling peduli sesamanya, namun longgar dan sangat fleksibel terhadap selainnya.
Sekat-sekat semu itu seolah penentu surga dan nerakanya seseorang. Seolah nanti di akhirat kita akan dihisab berdasarkan sekat-sekat semu tersebut. Sekat semu yang memenjara, yang membuat tubuh umat Islam mati rasa.
Nak, di masamu kelak. Umat Islam akan bersatu sebagaimana persatuan kaum Aus dan Khazraj; umat Islam akan saling bantu sebagaimana kaum Muhajirin dan Anshar; umat Islam akan bersaudara sebagaimana teguhnya persaudaraan Bani Hasyim dan Bani Umayah.
Di masamu itulah umat Islam benar-benar dipersatukan oleh tali agama Allah, yakni Al Quran. Persatuan hakiki umat Islam, ketika syariah Islam menjadi panduan dan keputusan seorang khalifah menjadi pengangkat setiap perselisihan.
Nak, persiapkanlah dirimu dengan ilmu dan tsaqofah Islamiyyah. Karena masa depan dunia adalah milik Islam dan kaum muslim. Saat itu, semua umat dan bangsa akan meminta solusi penyelesaian masalahnya terhadap umat Islam, termasuk dirimu.
Berbanggalah menjadi generasi umat Islam, generasi yang akan menyelamatkan masa depan dunia.
Engkau adalah Santri
Nak, engkau adalah santri. Meskipun masih sedang belajar untuk menjadi orang yang memahami serta mengamalkan agama.
Entah di hari ini engkau sedang berbahagia atau tidak, namun orang menyebutmu santri. Engkau merupakan bagian dari komunitas masyarakat yang dianggap lebih paham terhadap agama dibandingkan yang lainnya.
Karena itulah Nak, di pundakmu tersimpan tanggung jawab. Bukan hanya terhadap masyarakat yang menanti kiprahmu, namun lebih dari itu yakni terhadap Rabb semesta alam. Amat besar kebencian di sisi-Nya, jika ilmumu hanya engkau ucapkan semata, tanpa pengamalan.
Sejak ayah mendidikmu dalam kemandirian untuk belajar di pesantren, engkau menyandang gelar tersebut, santri. Sejak itu pula tak ada tugas utamamu selain mempelajari Islam, mengamalkannya, mengajarkannya serta mendakwahkannya. Meskipun sebenarnya, hal tersebut merupakan kewajiban setiap mukmin apapun profesinya.
Tak perlu silau dengan dunia. Biarlah ia tetap di tanganmu jangan kau taruh di hatimu. Tanamkan bahwa engkau adalah pendidik keluarga dan masyarakat. Engkau hanya mendidik mereka dengan Islam, bukan dengan yang lain.
Tetapkan karir hidupmu menembus sekat batas fana dunia. Biarkan ia berpijak pada kehidupan sebelum dunia, serta terhubung dengan kehidupan setelah dunia. Tempatkan kriteria suksesmu laksana Bunda Khadijah r.a., Aisyah r.a., Fathimah r.a., atau Asma r.a., serta para muslimah pendidik terbaik dalam Islam.
Di hari santri-mu ini, semoga engkau sedang mengaji dan bukan sedang bernyanyi; semoga engkau sedang menghapal hadits dan bukan sedang terlena dalam hura; semoga engkau sedang bershalawat dan bukan sedang berikhthilat; semoga engkau selalu tegar dan tak mudah tergiur dollar.
Bertawakkallah kepada Allah Swt. Sebakda shalat, ayah selalu berdo'a untukmu. Tetaplah istiqomah putriku.
Dari Ayah untuk Anak Pondok
Nak, kini engkau pun merasakan sebagaimana yang pernah ayahmu rasakan. Di saat teman-teman kita dikunjungi orang tuanya, kita hanya bisa menatap keceriaan mereka. Terkadang sembari membayangkan, "Oh, seandainya saja mereka adalah aku dan orang tuaku."
Nak, ayahmu bangga padamu. Engkau lebih tegar dibandingkan ayahmu dahulu. Mungkin karena sekarang terbantu pula oleh kecanggihan sarana telekomunikasi. Bukan lagi sekedar untaian kata dalam secarik kertas. Kini, saling menatap lewat monitor mini pun bisa menjadi pelepas rindu.
Wajahmu tampak segar, senyum manis yang menggambarkan keceriaan, suaramu teduh dan menenangkan. Kami di sini bahagia dapat mendengar dan melihatmu.
Ingin rasanya menghentikan waktu sejenak biar tak melaju, lalu ayah terbang menemuimu. Namun sungguh, mustahil bagi kita untuk melawan sunatullah perjalanan waktu. Waktu akan terus berlalu dan kita tak pernah bisa menduakan jasad.
Nak, apa yang engkau alami. Setiap hari, siang dan malamnya. Setiap waktu, detik dan menitnya. Setiap rasa, senang dan sedihnya. Semua akan terakumulasi dalam kenangan di masa depan. Dan setiap pilihanmu dalam menghadapi semua itu, akan membuatmu semakin tangguh di masa depan. Engkau yang akan meraih asa dan cita, pasti menantang segala hambat dan rintang.
Tataplah masa depan, mulailah dari akhir dalam pikiran, yakni ridlo Allah Swt sebagai tujuan. Sebagaimana pesanku selalu, rajin dan semangatlah mempelajari tsaqofah Islam. Karena engkau terlahir untuk masa depan dan masa depan adalah milik Islam.
#MasaDepanMilikIslam
Engkau Bukan Pelampiasan Mimpi
Nak, engkau bukanlah tempat pelampiasan mimpi-mimpi orang tuamu. Dimana semua mimpi tersebut merupakan mimpi yang belum pernah bisa mereka raih. Sehingga kau dituntut harus bisa begini dan begitu, yang sebenarnya hal itu hanya untuk memuaskan kedua orang tuamu. Namun engkau adalah generasi manusia masa depan. Engkau perealisasi cita-cita umat dan penjemput berbagai janji Allah Ta'ala.
Kami hanya ingin terteduhkan mata menatap kalian. Kami hanya berharap kalian menjadi amal jariyah bagi kami, menjadi anak shalih yang selalu mendo'akan kedua orang tuanya. Itu sudah cukup bagi kami.
Namun untuk meraih keduanya, tentu membutuhkan ilmu dan amal. Ilmu dan amal yang berlandaskan pada keimanan, bukan yang lain. Di masa depan, manusia akan sangat membutuhkan Islam. Kaum muslim akan menjadi pemimpin umat manusia di dunia. Bagaimana mungkin kita akan menunjuki mereka dengan hidayah Islam, jika kita tak paham Al Quran dan tak mengenal As Sunnah.
Saat Islam menjadi mercusuar peradaban, manusia akan masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Mereka tentu membutuhkan banyak bimbingan ilmu, inilah ladang amal bagimu kelak. Oleh karena itu, mendidikmu bukan pelampiasan mimpi. Namun mendidikmu adalah menguatkan aqidah, memahamkan syariah, membiasakan amal dan dakwah serta menghiasinya dengan akhlaq mahmudah.
Nak, pendidikan membutuhkan keikhlashan. Baik itu dari kami, gurumu dan juga dirimu. Tanpa keikhlashan, engkau akan patah hati ketika menemui kesulitan dan jumawa ketika menjumpa kemudahan. Lakukanlah semata karena Allah Ta'ala. Guru-gurumu adalah orang tuamu di sekolah, berbaktilah kepada mereka selama mereka berbakti kepada Allah Swt.
Kunci utama kesuksesan seorang mukmin hanyalah ketaqwaan kepada Allah Swt, tak ada yang lain. Oleh karena itu, Rasulullah Saw selalu mewasiatkan hal ini dalam berbagai momen. Dan tentunya, ketaqwaan itu diraih dengan ilmu dan amal. Dengan ilmu, kita bisa memilih dan memilah perintah dan larangan Allah; dengan amal, kita bisa menambah-nambah timbangan kebaikan untuk bekal kelak di negeri Akhirat.
Nak, selalu ingatkan kami jika lalai dalam mendidikmu dalam agama. Karena kami juga manusia yang bisa berbuat khilaf dan dosa.
Nasihat Aqiqah (2)
Nak, hidup itu selalu berkaitan dengan pengorbanan. Mau menjadi mukmin maupun kafir. Mau jadi ahli taat maupun ahli maksiat. Semuanya butuh pengorbanan. Namun demikian, semua pengorbanan itu tentu akan ada balasan serta nilainya. Dan kita berharap, pengorbanan kita akan selalu berbalas keridloan dan bernilai pahala dari Allah Swt. Aamiin.
Pada waktunya nanti, kamu akan mendengarkan atau membaca kisah tentang bagaimana kerja kerasnya Raja Namruz untuk memerangi agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim a.s. Kamu juga akan mengetahui bagaimana kisah pengorbanan tenaga, pikiran dan harta Fir'aun untuk memerangi Nabi Musa a.s. Begitu pula pengorbanan pasukan raja lalim Ashabul Ukhdud untuk membungkam keimanan rakyatnya.
Selain itu, kamu pula pasti akan mendengar kisah tentang pengorbanan pikiran, tenaga, waktu serta harta dari tokoh semisal Abu Jahal, Abu Lahab dan Umayah dalam memerangi Islam. Atau pula pengorbanan seorang tokoh Yahudi Huyai bin Akhtab dalam memusuhi Rasulullah di Madinah. Bahkan ketika dieksekusi oleh Rasulullah Saw., tak ada sedikit pun penyesalan terucap dari mulutnya. Malahan dengan sikap sok ksatria, ia berkata kepada Rasulullah Saw:
"Demi Allah, aku sedikit pun tidak menyesal karena memusuhimu. Namun siapa pun yang dikalahkan Allah, pasti kalah."
Kemudian ia berkata kepada semua yang hadir,
"Wahai kalian semua, tidaklah mengapa dengan putusan Allah. Taqdir, qadar dan pembantaian sudah ditetapkan Allah untuk Bani Israil."
Akan tetapi, kamu tak perlu kagum sedikit pun terhadap pengorbanan mereka. Karena pengorbanan mereka adalah pengorbanan yang akan berbalas murka dan bernilai siksa dari Allah Swt.
Anakku, engkau hanya perlu kagum atas pengorbanan para Nabi, para sahabat, kaum mukmin, orang-orang shalih, para syuhada dan shiddiqin dalam menggenggam ketaatan kepada Allah Swt. Karena pengorbanan mereka-lah pengorbanan yang benar.
Oleh karena itulah, kami ingin menyambut kelahiranmu dengan sebuah pengorbanan. Pengorbanan yang disunnahkan oleh Allah Swt, ibadah aqiqah namanya. Dengan diawali kalimah basmalah, hamdalah, syahadat serta shalawat; Diiringi dengan takbir, dengan nama Allah, disembelihlah hewan aqiqah dari Shofiyya Dinuha Lillah binti Ary.
Kami berharap, semoga Allah Swt menerima pengorbanan ini dan membimbingmu menjadi wanita shalihah, yang selalu siap berkorban menuju ridlo Allah Ta'ala serta menjadikanmu menjadi seorang yang "murni agamanya karena Allah Swt semata." Aamiin.
Robbana hablana min azwajina wa min dzurriyatina qurrota a'yunin waj'alna lil muttaqina imaman. Aamiin.
#Aqiqah
Rabu, 15 November 2017
Shofiyya
Senin, 13 November 2017
Antara Ulama dan Umala
Minggu, 12 November 2017
Nak, Jangan Menyekutukan Allah!
Saat engkau membaca surat cinta ini semoga engkau selalu dalam curahan rahmat dan maghfirah Allah Swt. Ayah menulis surat ini di masa-masa penuh fitnah; iman dan kafir menjadi samar; serta perbedaan tauhid dan syirik pun telah mengabur. Umat Islam berada di masa yang seperti digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw. Ia bagaikan hidangan lezat di hadapan orang-orang yang lapar. Namun demikian, ayah dan ibumu tetap penuh dengan harapan bahwa masa depan adalah milik Islam dan kaum muslim. Oleh karena itulah, ayah sengaja menulis surat cinta ini sebagai petuah yang diambil dari seorang ahli hikmah ketika mendidik anaknya.
Janganlah engkau menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun, karena sesungguhnya syirik itu kedzaliman yang sangat besar. Ingatlah Nak, manusia bangkit dan terpuruk tergantung kepada pemikiran asasinya, tergantung pada bagaimana ia memandang hidup ini. Yakni tentang dari mana ia, alam semesta dan kehidupan ini berasal, untuk apakah semua ini ada dan akan ke manakah setelah semuanya berakhir.
Pandanglah dirimu serta segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Kita memiliki mata, namun mata kita memiliki keterbatasan dalam memandang; kita memiliki tubuh, namun tubuh kita akan berujung pada kerapuhan, kerusakan dan kematian; bahkan kita memiliki akal, namun akal kita tak mampu konsisten menilai sebuah kebaikan dan keburukan, ia mudah berubah karena manfaat. Pandanglah gunung yang tinggi menjulang, bumi yang terhampar, laut yang membiru, matahari yang cerah bersinar, bulan yang indah merona, bintang-bintang yang gemerlap memesona serta berbagai benda langit di angkasa. Semuanya ternyata memiliki keterbatasan. Gunung bisa mudah terguncang, laut tak pernah bisa melawan angin, bumi tak bisa berputar balik, matahari tak bisa melawan malam, bulan dan bintang pun tak pernah bisa melawan siang, semua benda langit tunduk pada suatu aturan. Jelaslah, semuanya merupakan kumpulan benda-benda yang lemah dan terbatas.
Ikrimah menjelaskan bahwa ketika orang-orang Yahudi berkata, "Kami menyembah Uzair anak Allah." Dan orang-orang Nasrani mengatakan, "Kami menyembah Al-Masih putra Allah." Dan orang-orang Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Dan orang-orang musyrik mengatakan.”Kami menyembah berhala." Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
Menyekutukan Allah Swt dengan selain-Nya tidak hanya terjadi pada aktifitas ritual. Ketika manusia meyakini bahwa ada ketetapan lain yang lebih baik daripada ketetapan Allah Swt pun, bisa terjebak dalam perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Sebagaimana ketika Rasulullah Saw membacakan ayat berikut di hadapan Adi bin Hatim (saat belum masuk Islam),
Allah SWT mencela orang Yahudi dan Nasrani yang memperlakukan para pendeta dan rahib sebagai pembuat hukum. Tindakan mereka itu dikategorikan menyekutukan Allah Swt. Ditegaskan dalam frasa “Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” Sebab, hanya Allah-lah yang memiliki wewenang untuk menetapkan halal dan haram. Kita sebagai manusia hanya memahami dari apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Swt.
Tiada lagi harapan dalam iman jika telah tercampur dengan syirik. Karena syirik akan menumbuhkan amal yang berpijak bukan karena Allah Swt, namun karena sesuatu yang selain-Nya. Seluruh amal pun akan menjadi rusak. Begitu pula apabila pertimbangan baik dan buruk disandarkan kepada selain perintah dan larangan Allah Swt, akan rusaklah kehidupan manusia. Pertimbangan manfaat dan keuntungan sesaat akan mendominasi setiap keputusan yang diambil, bukan lagi pertimbangan ridla dan murka Allah Swt terhadapnya. Hukum rimba akan berlaku di antara manusia. Maka demi kepentingan sesaat, manusia yang kuat akan mendominasi dan mengeksploitasi orang yang lemah di antara mereka. Karena itulah anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah Swt. Sesungguhnya perbuatan syirik merupakan kezaliman yang sangat besar.
Menghindarkan Krisis Identitas Anak
Para Pahlawan
Peluh keringat bercucuran sudah
Menyiram luka yang merekah
Melelehkan merahnya darah
Para pahlawan tak surut langkah
Angkat senjata usir penjajah
Gemakan takbir, Jihad fi sabilillah
Lawan para penjajah durjana
Bebaskan negeri Indonesia
Songsong predikat syuhada
Syahadah terakhir terucap lisan
Tersenyum penuh kebahagiaan
Penduduk langit pun memberi sambutan
Tekadmu telah terpatri iman
Juangmu berpedoman Al Quran
Bagimu, hanya Allah-lah sebagai tujuan
Ditinggal Anak Mencari Ilmu
Jika cintaku tak sedang menyertaimu, yakinlah kalau cinta-Nya selalu membersamai para pencari ilmu.
Jika sayang ini tak sedang kau nikmati, yakinlah bahwa Allah mencurahkan rahmat di setiap majelis yang mengingat-Nya.
Naluriah orang tua sama denganmu, namun ia mestilah terkendali. Ketika kau bisa menjadi pengendalinya, maka ia akan menjadi potensimu dalam menjalankan misi insani meraih visi menuju Ilahi.
Yakinlah engkau tak bersendiri, doa kami semoga engkau menjadi generasi peneduh mata.

