Selasa, 28 November 2017

Rangkuman Materi -2 Mudah Menulis Opini

Rangkuman Materi ke-2  “Mudah Menulis Opini” 

Sekali lagi Tentang Mindmapping dan Belajar secara ATM *)

A.        Sekali lagi Tentang Mindmapping

Bagi seorang profesional, munculnya ide-ide yang terus mengalir dari pikiran sangatlah dibutuhkan. Tak terkecuali bagi seorang penulis opini. Bila ide mengalir deras dari pikiran, tulisan pun menjadi lancar tanpa macet. Begitupun sebaliknya, bila tanpa ide-ide baru, tulisan pun akan sulit dikembangkan. Baik menulis puisi, cerpen, artikel, novel, apalagi buku yang berbab-bab bahkan berjilid-jilid.

Sebagai penulis pemula, saya pun sering merasakan kebuntuan ide. Menurut saya sih itu merupakan sesuatu yang wajar. Karena saya yakin, kendala tersebut pasti sering melanda para penulis. Jangankan untuk seorang penulis pemula, para penulis mahir pun pasti pernah merasakannya.

Ide itu terlahir dari sebuah proses berpikir. Sedangkan proses berpikir adalah pencerapan objek oleh indera yang diteruskan ke otak, lalu otak menafsirkan objek tersebut berdasarkan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak. Atau dengan kata lain, tahkim (penghukuman) suatu objek/fakta oleh otak berdasarkan informasi sebelumnya. Karena itulah, lahirnya sebuah ide berhubungan dengan input informasi ke otak dan output informasi dari otak.

Secara input informasi, kebuntuan ide yang dialami para penulis, bisa diurai dengan aktifitas banyak membaca. Bagaikan teko, semakin banyak diisi air maka akan semakin banyak isinya. Potensi kuantitas mengalirnya pun akan semakin besar. Membaca yang serius (deep reading) akan memperbanyak ide secara optimal. Selain itu, banyak menyimak, melakukan, mendengar dan melihat berbagai hal yang bermanfaat dapat memperkaya informasi ke dalam otak. Karena, informasi bisa dicerap oleh otak melalui berbagai alat indera. Namun, hal ini baru terkait input informasi ke dalam otak.

Adapun terkait dengan kelancaran output ide, hal itu bisa dilatih dengan fastwriting dan mindmapping. Terkait fastwriting, saya telah menjelaskannya dalam tulisan sebelumnya. Bila fastwriting bisa membantu melancarkan aliran ide, maka mindmapping bisa membantu memunculkan ide-ide baru yang lebih kreatif.

Berdasarkan pengalaman saya belajar di Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry, mindmapping adalah latihan menghubung-hubungkan suatu ide dengan ide-ide yang lain, sebanyak-banyaknya. Mindmapping bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, karena ia hanya membutuhkan kertas kosong, alat tulis dan stopwatch.

Karena kita belajar menulis opini. Mari kita lakukan mindmapping pada istilah-istilah aktual dan momen yang rutin terjadi tahunan.

Sebagai contoh, karena sekarang sedang rame-ramenya hari Guru. Bisa juga kita membuat mindmapping dari kata Guru.






      B.      Belajar Secara ATM

Tak hanya belajar bisnis yang menggunakan rumus ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). Belajar menulis pun bisa menggunakan rumus yang sama. Terutama bagi yang sedang belajar menulis opini. Kita bisa mengambil tulisan opini para penulis yang sudah mapan, kemudian kita tuliskan ulang dengan gaya bahasa yang berbeda dengan penulis aslinya. Sebagai contoh, saya mengutip satu paragrap tulisan berkut

-------------
Fenomena gay atau homoseks terus memakan korban. Kalau dahulu hanya anak-anak perempuan yang jadi korban perbudakan seks, kini jaringan prostitusi kaum gay telah memangsa anak laki-laki. Seperti dibongkarnya prostitusi gay di Cipayung, Puncak, Bogor, 30 Agustus lalu.
(Tulisan Kholda Naajiyah dari rubrik Muslimah di Tabloid Media Umat yang berjudul "Gay Perusak Calon Imam")
-------------

Kemudian saya ubah paragrap tersebut menjadi sebagai berikut :

-------------
Perbudakan seks makin menggila. Saat ini, tak hanya anak-anak perempuan yang ditargetkan, anak lelaki pun jadi incaran. Itulah yang terungkap dari terbongkarnya kasus jaringan prostitusi gay di Cipayung, Bogor pada 30 Agustus lalu. Bahkan, sebagian kalangan menganggap bahwa kejadian ini bisa berupa fenomena gunung es. Satu kejadian yang mewakili ribuan fakta.
-------------

Mungkin gaya bahasa saya berbeda dan tidak sebagus penulis aslinya. Tetapi yang penting bagi kita adalah belajar menulis dulu, perkara gaya bahasanya bagus dan tidak, bukan urusan kita. Fokus pada tugas utama, yakni menulis.
Atau bisa juga kita ambil contoh tulisan yang lebih panjang. Semisal tulisan berikut :

----------------------------------
Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya menghamba kepada Pencipta (Al Khaliq) dan bukan kepada ciptaan (makhluq) apalagi apa yang diciptakan oleh ciptaan.

Dialah Allah SWT, Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya. Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman:

Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. Ali Imrân/3: 109)

Sebagai milik Allah, maka –suka atau tidak suka—semuanya pasti dikembalikan dan berserah diri kepada Allah SWT:

“...kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83)

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123)

Sengaja Allah SWT memilih kalimat pasif: dikembalikan karena memang semua persoalan tanpa kecuali, pasti akan dikembalikan atau dipaksa untuk kembali kepada Allah Sang Pemilik & Sang Penguasa (al-Malik). Atas dasar inilah sehingga tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali berserah diri secara mutlak kepada Allah SWT.

Dan atas dasar ini pula, manusia tidak dibenarkan memisahkan aktivitas hidupnya, sebagian untuk Allah dan sebagiannya lagi untuk yang lain. Semuanya harus total dipersembahkan hanya kepada Allah SWT:

"Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162)

(Sumber tulisan : https://web.facebook.com/yukngajiid)
----------------------------

Setelah kita mengamati substansi tulisannya, kita bisa meniru serta memodifikasi tulisan tersebut menjadi sebagai berikut :
---------------------------

Merasa Merdeka

Merasa kadang berbeda dengan fakta. Ada yang merasa miskin, padahal faktanya kaya. Ada juga yang merasa tak bisa padahal faktanya mampu. Atau seperti mayoritas negara berkembang di dunia saat ini, merasa merdeka padahal faktanya terjajah. Mengapa bisa demikian? Semua karena persepsi yang keliru tentang merdeka.

Banyak yang memahami merdeka sekedar bebas. Karena itulah, jika semua manusia dibiarkan bebas maka pasti akan berlaku hukum rimba. Manusia kuatlah yang akan jadi eksploitator, lainnya hanya sebagai korban eksploitasi. Pasti tetap akan berujung penjajahan. Apapun itu modelnya, baik secara militer maupun non militer.

Dikutip dari web official Yuk Ngaji, kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya menghamba kepada Pencipta (Al Khaliq) dan bukan kepada ciptaan (makhluq), apalagi apa yang diciptakan oleh ciptaan. Dialah Allah SWT, Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya. Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman: "Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan." (QS. Ali Imrân/3: 109).

Kita adalah milik Allah. Tentunya sebagai milik Allah, kita pasti akan dikembalikan kepada-Nya. Karena itulah berserah diri kepada Allah Swt merupakan sebuah kemestian Karena “…kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83) serta "kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123).

Kata "dikembalikan" menunjukkan bahwa kita berperan sebagai objek. Semua diri kita serta urusan kita pasti akan kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa (Al Malik). Tiada sedikit pun ada kuasa kita untuk menolaknya. Kembali kepada Allah merupakan keniscayaan. Sehingga, tiada lagi yang bisa dilakukan manusia selain tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.

Kita tentu ingat ikrar kita yang sering diucap ulang, bahwa "sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ Dengan ikrar itulah kita memastikan bahwa hidup kita untuk ibadah, taat sepenuhnya kepada Allah. Seluruh urusan pun dikembalikan kepada Allah.

Tak ada pemisahan antara kehidupan dan ketaatan. Tak ada pemisahan antara kehidupan dan agama. Yang bermakna, tak ada ideologi sekulerisme yang akan kita biarkan bertahta dalam jiwa. Hanya Islam semata, itulah yang mengisi hati, pikiran dan amal kita. InsyaAllah kemerdekaan hakiki kan kita raih bersama. Bukan sekedar merasa.
------------------------------
Kita memang meniru tetapi kita tidak menjadi plagiator tak pula sekedar menyalin, karena yang kita ambil adalah substansi tulisannya atau ide yang terkandung di dalamnya. Substansi tulisan itu kita tangkap kemudian kita tuliskan ulang dengan gaya bahasa kita sendiri. Mudah kan? insyaAllah mudah selama kita mau mencobanya.


*) Disampaikan oleh Ary H. pada Kelas Opini “Akademi Menulis Kreatif”.

Rabu, 22 November 2017

Keperkasaan Seorang Anshor

Sedikit cerita tentang Usaid bin Hudhair. Beliau adalah salah seorang tokoh Yatsrib yang sangat disegani. Sikapnya tegas dan berprinsip, pun merupakan keturunan dari kalangan terhormat dan mulia. Seorang penyair pernah membuat syair tentang ayahnya,

Seandainya maut mau menghindar dari orang perkasa
niscaya ia membiarkan Hudhair ketika menutup pintunya
ia akan berkeliling, sampai malam menjelma
lalu duduk dan berdendang dengan asyiknya.

Usaid terkenal sangat berani dan memiliki kedudukan sebagaimana ayahnya. Beliau merupakan seorang pemimpin kabilah. Ketika mendengar bahwa ada seseorang warga Makkah yang mendakwahkan agama baru (Islam), yaitu Mush'ab bin Umair yang diutus oleh Rasulullah, Usaid marah hebat. Ia beranggapan bahwa orang tersebut akan memecah belah kesatuan dan kondusifitas di Madinah. Karena itulah ia harus mengusir Mush'ab.

Untuk memberi pelajaran kepada Mush'ab,  Usaid pun langsung menenteng tombak lalu langsung menemui Mush'ab yang sedang berdakwah. Di majelis itu ada As'ad bin Zurarah serta beberapa orang lainnya yang serius mendengarkan ceramah Mush'ab bin Umair. Usaid datang dengan penuh kemarahan dan keberangan. Ia langsung menodongkan tombaknya kepada Mush'ab seraya mengusirnya.

Berhadapan dengan orang yang sedang marah besar, Mush'ab berkata dengan santun,

"Apakah engkau berkenan duduk dan mendengarkannya? Jika engkau menyukainya, engkau dapat menerimanya. Sedangkan jika engkau tidak menyukainya, kami akan menghentikan apa yang tidak engkau sukai."

Usaid memang orang yang sangat cerdas dan tajam perasaannya. Tidak salah jika penduduk Yatsrib menjulukinya "Al Kamil" (Si Sempurna). Dalam kondisi sangat marah sekalipun, akalnya masih bisa berpikir normal. Ia pun mau menerima tawaran Mush'ab. Ia berkata,

"Engkau benar, sekarang sampaikanlah apa yang ada padamu!"

Mush'ab pun membacakan Al Quran, hidayah Islam meresap ke dalam hati Usaid bin Hudhair r.a. Selanjutnya melalui dakwah Usaid banyak tokoh dan penduduk Yatsrib yang masuk Islam.

Mengenai Usaid r.a., Rasulullah Saw bersabda:

"Laki-laki yang paling beruntung adalah Usaid bin Hudhair."

Usaid bin Hudhair memang sangat beruntung, karena dalam kondisi sangat benci dan marah sekalipun, #akal sehatnya masih #berfungsi. Dari jalan itulah ia menerima #hidayah #Islam dan tercatat mulia di langit dan bumi sebagai bagian dari #barisan #penolong #dakwah Rasulullah Saw, atau disebut dengan kaum #Anshor.

#Aryh
#Kisah
#ShahabatRasul

Minggu, 19 November 2017

Rangkuman Materi-1 Mudah Menulis Opini

(KulWA 1)

A. Mengapa Menulis Opini
InsyaAllah kita sudah mengenal jenis tulisan opini. Sebagai pembukaan, pertemuan pertama ini. Saya akan mulai dengan sebuah pertanyaan tentang mengapa kita harus beropini?

Yang pertama, karena setiap perubahan dimulai dari opini. Ide yang 'dilempar' di tengah masyarakat.
Sebagai contoh sederhana. Di perumahan saya sering terjadi banjir jika hujan besar. Terutama blok yang lebih rendah. Kemudian orang-orang pun beropini (menyampaikan pendapat) tentang bagaimana solusinya. Sebelum aksi untuk menangani masalah banjir, tentu ada opini terlebih dulu.

Yang kedua, karena berita yang berseliweran di media massa lebih banyak opini dibandingkan fakta. Sebagai contoh, saya tadi membaca sebuah tulisan pada sebuah majalah Islam. Faktanya cuma 1 tapi opininya banyak.

#Fakta :
Arab Saudi berinvestasi sebesar US$500 milyar atau sekitar Rp 6.783 triliun untuk membangun satu kota kawasan bisnis. Di dalamnya termasuk investasi sektor hiburan, konser musik serta bioskop umum.

#Opini :
Kami (KSA) akan membangun sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi dan orang-orang di seluruh dunia.
Saudi tidak akan lagi jadi rujukan Islam konservatif.
Saudi akan menjadi kekuatan modern dan maju di berbagai bidang kehidupan
Saudi akan menjadi negara dan bangsa yang berkarakter Islami, yang cocok untuk abad ke-21.

#Perbedaannya
Fakta itu kejadian apa adanya, sedangkan opini merupakan pandangan subjektif penulis terhadap fakta.
Itulah dua alasan utama, mengapa kita beropini. Sebagai penulis atau calon penulis, tentu kita dapat beropini melalui tulisan.

B. Syarat utama Menulis Opini
Menurut saya, menulis opini adalah aktfitas menulis non fiksi kedua termudah setelah menulis pengalaman pribadi. Jauh lebih mudah daripada skripsi dan tesis. Beneran! Serius nih! syarat utamanya hanya dua saja, kita mesti memiliki sesuatu yang disorot dan sebuah pandangan pribadi. Yang disorot bisa berupa isu, data, fakta, pernyataan orang terkenal, bahkan bisa pula tulisan orang lain. Adapun yang kedua adalah pandangan pribadi kita atas hal tersebut. Mudah kan syaratnya. Namun ada lagi syarat pokoknya, yakni mau menuliskannya. Karena jika kita tidak mau menuliskannya, syarat utamanya jadi gugur semua.

C. Mencari Ide untuk Disorot
Saat ini, mencari ide untuk disorot sangatlah mudah. Banyak membaca koran, banyak membuka internet dan banyak menonton berita. Mengapa demikian? karena sebuah tulisan opini membutuhkan tema yang aktual. Lewat sehari saja, tulisan kita bisa kadaluarsa.

Sebagai awalan, supaya bisa melakukan persiapan yang panjang, kita bisa menggunakan kalender. Lalu kita tandai hari-hari penting dalam beberapa bulan ke depan. Misal untuk sekarang, di bulan Desember ada hari ibu, emansipasi, natal dan tahun baru (biasanya isu toleransi menguat di moment ini), refleksi akhir tahun dan sebagainya.

Pencarian ide akan jauh lebih mudah jika kita terbiasa berlatih mindmapping. Tentang mindmapping bisa dibaca pada bab berikutnya.

Ide yang disorot bisa juga berdasarkan mood. Ketika kita melihat suatu kejadian yang tidak sreg, lalu kita langsung berpikir tentang apa yang seharusnya. Maka itu sudah bisa menjadi opini. Saya punya sebuah pengalaman. Saat pertama kali menulis tulisan opini. Saya pernah membuat tulisan opini hanya karena tidak sreg dengan pernyataan seorang tokoh di media massa. Kemudian ketidaksetujuan itu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Sesederhana itulah kita membuat tulisan opini.

Sebagai pemula. 1) utamakan isu yang rutin berulang, semisal hari-hari besar 2) utamakan isu yang kita punya pandangan pribadi atasnya dengan lebih komplit (biasanya ini terkait mood atau kedalaman ilmu kita atasnya). Misal, ada isu "Penyeragaman Daya Listrik", ada isu "Kekerasan Terhadap Anak Meningkat di Tasikmalaya", dari dua isu ini, manakah yang lebih kita kuasai. Itu saja.

D. Membuat Pandangan Pribadi
You are what you read. Iya, kita adalah apa yang kita baca. Pandangan pribadi kita tidak akan jauh dari apa yang telah kita baca dan dengarkan lalu kita benarkan. Oleh karena itu, untuk membuat persepsi akan isu yang kita sorot, mau tidak mau, kita mesti mau membaca. Jika tak mau membaca, apa yang akan kita tuangkan?

Bagi kita yang masih miskin literasi. Aktifitas membaca rujukan sumber (literasi) bisa kita lakukan setelah menentukan ide yang disoroti. Misalnya, Ketika kita sudah menentukan akan menyoroti Hari Ibu misalnya. Maka, kita bisa memperbanyak bacaan mengenai peran wanita saat ini serta idealitanya. Idealita dalam pandangan siapa? jika kita adalah seorang aktifis dakwah Islam, tentunya idealita dalam pandangan Islam. Mungkin kita bisa membuka buku-buku Islam, tafsir, hadits dan sebagainya yang menjelaskan tentang idealita posisi seorang perempuan.

E. Mengatasi Macet Menulis
Saya sering membaca, punya persepsi dalam benak, tetapi kok tetap susah mengutarakan dalam tulisan. Buatlah kerangka terlebih dulu, untuk mempermudahnya kita bisa menggunakan pendekatan 5 W + 1 H. What (apa)-kah kejadian atau fakta apa yang akan dibahas. When (kapan)-kah kejadian atau fakta itu terjadi. Where (di mana)-kah lokasi kejadian atau faktanya. Who (siapa)-kah pelakunya. Why (mengapa) itu terjadi. Kemudian How (bagaimana)-kah solusinya. Untuk sebuah tulisan opini, What, when, where dan who merupakan tulisan pembuka. Kita bisa menuliskannya secara singkat di awal, dan jangan lupa untuk menuliskannya dengan semenarik mungkin. Pada perkara Why dan How inilah kita bisa menuliskannya secara panjang lebar, bahkan analisa kita mestilah didukung oleh data dan fakta yang akurat dan tertelusur (bisa dipertanggungjawabkan).

Dalam hal Why (analisa) dan How (solusi), kita bisa memilih mana yang akan ditekankan. Apakah tulisan kita mau opini analisa, yakni mengajak orang supaya mengikuti analisa kita. Ataukah opini solusi, yakni mengajak orang untuk mengikuti solusi yang kita tawarkan. Jika kita bermaksud mengirim opini ke Surat Kabar Harian, baiknya pilih salah satu saja supaya pembaca lebih terpuaskan. 

Dikarenakan space opini di surat kabar versi cetak sangatlah terbatas, maksimal hanya 2 lembar kertas A4, spasi 1 dengan pinggiran 2-2-2-2, huruf Calibri 11. Terkecuali, jika kita bisa melobi tulisan opini kita bersambung, tetapi itu sangat jarang terjadi.

Dan yang terakhir, dan ini tak kalah penting, tulisan opini harus disertai ajakan kepada para pembaca supaya mau mengikuti analisa atau solusi yang kita tawarkan.

Contoh opini analisa, bisa dibuka di link berikut :

Contoh opini solusi, bisa dibuka di link berikut :

F. Kalimat Pendek dan Gaya Bahasa Populer.
Menulis opini di media berbeda dengan menulis buku. Kolom di media pendek-pendek dan pembacanya tidak sepanjang halaman buku. Oleh karena itulah, supaya menyegarkan para pembaca, alangkah lebih baiknya jika kita menggunakan kalimat yang pendek.
Misal :
“Degradasi lingkungan senantiasa dihadapkan dengan pembangunan. Bagaikan makan buah simalakama. Bila lingkungan ingin lestari maka hentikan pembangunan. Bila pembangunan ingin berjalan maka korbankan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, green building and economy yang diwacanakan Gubernur Jawa Barat dalam sebuah acara di Aula Timur Gedung Sate (19/02/2015), patut diapresiasi. Bahkan tidak cukup hanya sekedar wacana, namun perlu direalisasikan dalam bentuk kebijakan yang nyata.”


PERTANYAAN-PERTANYAAN:

#Pertanyaan 1 : hal2 yg hrs dihindari dlm. penulisan opini?
#Jawaban 1: Apa yang harus dihindari dalam tulisan opini? 1) Logika yang tidak beralur 2) Kalimat yang terlalu panjang. 3) beberapa media tidak menyukai kalimat yang menghakimi.
Penjelasan poin 1) dan 3)
1) Hubungan satu paragrap dengan paragrap selanjutnya harus saling menguatkan. Sertakan data untuk menguatkan kepercayaan pembaca terhadap penulis. 3) Misalnya, kalimat, "kenaikan tarif listrik merupakan pengkhianatan terhadap rakyat dan kezaliman yang nyata.", Kalau media umum, biasanya mengedit kalimat seperti ini menjadi "kenaikan tarif listrik merupakan kebijakan yang tidak pro rakyat serta akan sangat membebani masyarakat."
Kalimat kedua lebih diterima. Oleh karena itu, pembahasaan dalam tulisan opini akan ditentukan pula dengan ke manakah kita akan mengirimkan tulisan tersebut. Gaya setiap media berbeda-beda.

#Pertanyaan 2: Ciri2 opini yang baik?
#Jawaban 2:  Opini itu lebih ke arah menggiring pandangan pembaca untuk mengikuti pendapat kita. Bukan untuk menghakimi orang yang tidak sependapat dengan kita. Opini yang baik tentunya yang runut, dari mulai fakta disertai data, kemudian solusi.

#Pertanyaan 3: Bagaimana memilih fakta yang akurat dan tertelusur?
#Jawaban 3: Untuk saat ini, ketika media dikooptasi untuk menjadi pendukung rezim. Tentu agak susah. Namun semisal fakta angka kriminalitas, kenakalan remaja, itu sering muncul di media disampaikan oleh dinas terkait. Itu bisa kita ambil. Intinya, dari media atau surat kabar yang ada. Tetapi yang kita ambil hanya faktanya saja bukan dengan opininya. Karena sebagai contoh saya di awal. Faktanya KSA berinvestasi pada sarana hiburan, opininya malah yang jauh lebih banyak.

#Pertanyaan 4: Berapa maksimal karakter ny mas?
#Jawaban 4: Patokan untuk tulisan opini ke koran adalah 4 halaman A4 spasi 2 dengan pinggiran 2-2-2-2 jenis huruf calibri. atau 2 halaman A4 dengan spasi 1 pinggiran 2-2-2-2. Nah, untuk latihan jangan dulu memikirkan tekni. Karena opini itu hanya membutuhkan 2 hal (1.Ide yg disoroti dan 2. pandangan penulis). Jadi, fokuslah hanya pada dua hal ini terlebih dulu.
Tentukan satu fakta, curahkan semua pandangan kita terhadap fakta tersebut. Kemudian lengkapi pandangan kita dengan data-data.

#Pertanyaan 5: Menentukan data yg kita pilih itu fakta akurat drmn? krn seringkali sekarang fakta yg diangkat di media terkadang hoax.
#Jawaban 5 : Misalnya kita mau menyoroti "Kemewahan Para Pejabat"
Data di bawah ini bisa kita ambil kemudian di belakangnya dituliskan (Namasuratkabar, tanggal terbit)

Apalagi jika data itu kemudian disandingkan dengan data lain semisal, biaya membangun satu jembatan yang sangat dibutuhkan oleh rakyat yang hendak beraktifitas.

PENUTUP
Saya mengucapkan terima kasih atas atensi rekan-rekan, dan mohon maaf apabila ada kekurangan, salah dan kekhilafan selama berbagi materi.

InsyaAllah pekan depan kita akan ketemu lagi. Materinya masih seputar "Mudah Menulis Opini". Semoga bermanfaat dan mari kita tutup dengan hamdalah dan doa penutup majlis.

Jazakumullohu khoiron master Apu Indragiry atas kesempatannya. Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.


(Ary H. – Islamic Writer & Blogger.)
Materi disampaikan pada KulWA grup Kelas Opini AMK pada 19 November 2017 pukul 20.00 s.d. 22.00 WIB)

Fakta dan Opini Sebuah Tulisan

Sebuah tulisan di media itu tersusun dari fakta dan opini. Misalnya sebagai berikut :

Arab Saudi berinvestasi sebesar US$500 milyar atau sekitar Rp 6.783 triliun untuk membangun satu kota kawasan bisnis. Di dalamnya termasuk investasi sektor hiburan, konser musik serta bioskop umum.

Opini
Kami (KSA) akan membangun sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi dan orang-orang di seluruh dunia.
Saudi tidak akan lagi jadi rujukan Islam konservatif.
Saudi akan menjadi kekuatan modern dan maju di berbagai bidang kehidupan
Saudi akan menjadi negara dan bangsa yang berkarakter Islami, yang cocok untuk abad ke-21.

Fakta itu kejadian apa adanya, sedangkan opini merupakan pandangan subjektif penulis terhadap fakta.

Sabtu, 18 November 2017

Bela Negara atau Bela Sekulerisme?

Opini bela negara belakangan ini semakin menguat atau dikuatkan oleh rezim dan para pendukungnya. Namun anehnya, seiring dengan semakin menguatnya isu bela negara malah semakin banyak pula kebijakan rezim yang pro terhadap asing dan aseng. Dari mulai penjualan BUMN, jalan tol, bandara serta utang yang semakin membengkak.

Utang dan investasi menjadi jalan utama 'penjualan' negeri ini. Utang dipakai untuk membangun infrastruktur. Infrastruktur yang ada kemudian dilelang untuk mendapatkan uang. Lalu uang tersebut dipakai untuk membayar utang dan bunganya. Ujung-ujungnya, infrastruktur pun bukan lagi milik negara. Rakyat harus membayar untuk dapat menikmatinya, seraya dikenai berbagai jenis pajak untuk membayar utang beserta bunganya.

Begitu pula dengan sumber daya alam yang ada. Tanpa investasi, pengelola negara seolah tak percaya diri untuk mengeksploitasinya. Dampaknya, hampir seluruh eksploitasi pertambangan dikuasai oleh asing dan aseng. Emas, perak, bijih besi, timah, tembaga, gas alam hingga uranium pun terkeruk dari negeri ini. Anak negeri cukup bahagia meski hanya dengan beberapa recehan sebagai upah atas cucuran keringatnya. Mereka menjadi buruh di tanahnya sendiri.

Ekonomi kerakyatan hanyalah simbolisme kata-kata, karena yang berjalan senyatanya adalah ekonomi kapitalis. Jika benar-benar berpihak kepada rakyat niscaya rakyat tak akan dikenai kenaikan tarif listrik yang terus berlipat. Kini, tak sedikit dari pengguna listrik 900 kwh saja harus merogoh kocek antara 250-300 ribu perbulan untuk membayar listrik. Belum lagi pencabutan subsidi gas yang semakin mencekik. Di tengah kondisi seperti ini, rakyat masih pula akan dibebani dengan penyeragaman daya menjadi 5.500 kwh.

Belum lagi jika bicara moralitas yang semakin jeblok. Kekerasan terhadap anak meningkat, dan yang paling tinggi angkanya adalah pelecehan seksual terhadap anak. Aborsi semakin menggila dan pergaulan bebas semakin nyata di depan mata. Perilaku muda-mudi yang dulu dianggap tabu, kini mudah sekali ditemukan pemampakannya di ruang publik. Namun pada saat yang sama, pendidikan agama malah diframing sebagai akar radikalisme yang membahayakan. Pengajian dianggap berpotensi makar. Padahal berbagai ajang kemaksiatan dijaga dan dilestarikan dengan alasan menjaga kebhinekaan. Yang sebenarnya, alasan tersebut tak pernah berlaku untuk ide dan pemikiran islami.

Agama itu suci dan politik dianggap kotor, agama jangan dibawa-bawa ke ranah politik, begitulah slogannya. Inilah yang dimaksud dengan sekulerisme. Jika demikian, jangan harap moral rakyat akan membaik. Karena para politisinya pun sudah mencap dirinya hidup di ranah yang kotor dan sama sekali tidak mau diatur dengan sesuatu yang suci. Namun anehnya, kaum agamawan pendukung rezim yang sering meneriakkan kembalikan kesucian dan kemuliaan agama. Malahan justru mendekat ke para penguasa seraya menantikan derasnya recehan yang digelontorkan melalui program para politisi.

Slogan bela negara yang diteriakkan berulang-ulang pun seolah memiliki dua makna. Yakni makna tersurat dan tersirat. Makna tersuratnya adalah membela negeri dari setiap rongrongan dan penjajahan asing yang membahaykan, termasuk menjaga rakyatnya dari berbagai eksploitasi dan tipu daya  asing. Sedangkan makna tersiratnya adalah bela sekulerisme, atau pertahankan pemisahan agama dan kehidupan di negeri ini. Pertahankan hukum-hukum yang tak berlandaskan pada hukum agama seraya jauhkan berbagai hukum agama yang berpotensi mengatur masyarakat.

Jika bela negara dimaknai sebagai bela sekulerisme, maka sampai kapanpun dan diteriakkan sebanyak apapun bela negara hanya sekedar akan menjadi slogan semata. Karena sekulerisme dan penjajahan adalah dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Sedangkan jika bela negara dimaknai sebagai pembelaan terhadap seluruh sumber daya alam dan manusia negeri ini. Maka negeri ini harus menganut pandangan hidup yang benar-benar anti penjajahan.

Tinggal kita bertanya dalam diri. Mau bela negara atau bela sekulerisme?

Kamis, 16 November 2017

Sisi Perjuangan Seorang Tokoh Sekuler

Ia terlahir di sebuah kawasan miskin di wilayah Yunani yang bernama Tesalonika. Ayahnya hanya seorang mantan pegawai rendahan di sebuah kantor pemerintah. Karena hidup tak berpendapatan, ayahnya pun membanting stir menjadi seorang pebisnis. Namun nasib baik belum berpihak kepadanya, ayahnya gagal berbisnis dan menjadi seorang pemabuk. Ketika penyakit TBC menjadi pengantar kematian ayahnya, usianya baru 7 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk menjadi seorang yatim.

Ibunya adalah seorang yang buta huruf. Namun ia adalah muslimah yang sangat taat beribadah. Karena itulah, Sang ibu menginginkannya untuk menjadi seorang ulama. Akan tetapi, ia memilih menjadi seorang remaja pemberontak dengan perilaku yang buruk. Atas saran keluarga besarnya, ia pun dimasukkan ke sekolah militer di Salonika.

Terlahir dengan berbagai penderitaan dan kesulitan hidup, membuatnya bermental baja dan pantang menyerah. Ia gigih dan tekun belajar hingga meraih prestasi yang mengagumkan. Ia sangat pandai di bidang militer dan matematika. Saking pandainya, temannya pun menjuluki dia  dengan julukan “kamil”. Bahkan, ia dipromosikan untuk menjadi salah seorang staf pengajar. Kerja kerasnya membuahkan hasil, ia mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir. Pada tahun 1905, gelar kehormatan sebagai kapten pun berhasil ia sandang.

Meskipun pandai, tak membuatnya menjadi seorang pelajar yang studi oriented. Masa mudanya ia isi dengan mengaktifkan diri dalam sebuah kelompok perjuangan revolusioner yang bernama “Vatan”. Kelompok ini sangat militan dan fanatik memperjuangkan liberalisme. Kelompok ini selalu menyalahkan Islam atas keterbelakangan yang menimpa negerinya. Kelompok ini lantang mengkritik pemerintahan Islam. Para anggotanya bersumpah untuk melengserkan pemerintah serta mengganti konstitusi dan undang-undang, kemudian akan menggantikannya dengan sistem pemerintahan ala Barat.

Kebencian kelompok Vatan terhadap Islam sungguh tak kepalang. Kelompok ini sangat berkeinginan untuk menghapuskan otoritas para ulama, menghapuskan pemakaian jilbab dan kerudung serta mendeklarasikan kesetaraan gender. Keaktifannya dalam kelompok tersebut telah mengantarkan dia untuk menjadi pemimpinnya.

Pada tahun 1908 ia diajak bergabung dalam sebuah komite nasional. Namun ia benci diperintah, ia tak puas ketika berbagai ide dan kemauannya ditentang oleh anggota yang lain. Sepuluh tahun ia habiskan untuk kembali menekuni bidang kemiliteran. Berkat kekerasan hati dan kecerdasan otaknya, ia merengkuh makin banyak kekuasaan politik.

Hampir setiap malam ia begadang menahan kantuk. Ia rencanakan berbagai langkah makar untuk mendapatkan sebuah kekuasaan yang absolut baginya. Kesempatan itu akhirnya datang, peperangan yang ia pimpin ketika melawan sekutu Eropa telah mengantarkannya menjadi seorang “Penyelamat.” Rakyat pun mulai mengagung-agungkannya. Ia pun dipuja sebagai pahlawan.

Semua impiannya selama ini untuk menghancurkan Islam semakin menyata. Karena ia beranggapan bahwa negerinya hanya bisa maju dan modern, jika mengeliminasi berbagai hal yang berbau Islam. Sehingga tanpa ragu, ia pun selalu menyerang Islam dan pilarnya.

Pada 3 Maret 1924, ia mengajukan UU yang menghapuskan sistem pemerintahan Khilafah Islam untuk selamanya dan mendirikan negara sekuler. Sebelum UU ini diperkenalkan, ia membungkam para penentang dan semua suara-suara kritis dengan ancaman hukuman mati. Akhirnya, UU tersebut pun disahkan tanpa perdebatan. Ia adalah Musthafa Kemal Pasha.

*)sumber bacaan : Mustafa Kemal Ataturk; Pembawa Kehancuran Islam Turki. Percikan Iman No. 04 Th.VII April 2006.

Banggalah Menjadi Generasi Islam!

Nak, hari ini engkau masih kecil dan menyaksikan. Bagaimana tercabik-cabiknya persaudaraan umat Islam. Umat Islam suatu bangsa seolah dilarang peduli terhadap umat Islam bangsa lainnya. Kita dipenjara oleh sekat-sekat semu yang sangat subjektif.

Sekat semu itu rapat dan kuat ketika umat Islam ingin saling peduli sesamanya, namun longgar dan sangat fleksibel terhadap selainnya.

Sekat-sekat semu itu seolah penentu surga dan nerakanya seseorang. Seolah nanti di akhirat kita akan dihisab  berdasarkan sekat-sekat semu tersebut. Sekat semu yang memenjara, yang membuat tubuh umat Islam mati rasa.

Nak, di masamu kelak. Umat Islam akan bersatu sebagaimana persatuan kaum Aus dan Khazraj; umat Islam akan saling bantu sebagaimana kaum Muhajirin dan Anshar; umat Islam akan bersaudara sebagaimana teguhnya persaudaraan Bani Hasyim dan Bani Umayah.

Di masamu itulah umat Islam benar-benar dipersatukan oleh tali agama Allah, yakni Al Quran. Persatuan hakiki umat Islam, ketika syariah Islam menjadi panduan dan keputusan seorang khalifah menjadi pengangkat setiap perselisihan.

Nak, persiapkanlah dirimu dengan ilmu dan tsaqofah Islamiyyah. Karena masa depan dunia adalah milik Islam dan kaum muslim. Saat itu, semua umat dan bangsa akan meminta solusi penyelesaian masalahnya terhadap umat Islam, termasuk dirimu.

Berbanggalah menjadi generasi umat Islam,  generasi yang akan menyelamatkan masa depan dunia.

Engkau adalah Santri

Nak, engkau adalah santri. Meskipun masih sedang belajar untuk menjadi orang yang memahami serta mengamalkan agama.

Entah di hari ini engkau sedang berbahagia atau tidak, namun orang menyebutmu santri. Engkau merupakan bagian dari komunitas masyarakat yang dianggap lebih paham terhadap agama dibandingkan yang lainnya.

Karena itulah Nak, di pundakmu tersimpan tanggung jawab. Bukan hanya terhadap masyarakat yang menanti kiprahmu, namun lebih dari itu yakni terhadap Rabb semesta alam. Amat besar kebencian di sisi-Nya, jika ilmumu hanya engkau ucapkan semata, tanpa pengamalan.

Sejak ayah mendidikmu dalam kemandirian untuk belajar di pesantren, engkau menyandang gelar tersebut, santri. Sejak itu pula tak ada tugas utamamu selain mempelajari Islam, mengamalkannya, mengajarkannya serta mendakwahkannya. Meskipun sebenarnya, hal tersebut merupakan  kewajiban setiap mukmin apapun profesinya.

Tak perlu silau dengan dunia. Biarlah ia tetap di tanganmu jangan kau taruh di hatimu. Tanamkan bahwa engkau adalah pendidik keluarga dan masyarakat. Engkau hanya mendidik mereka dengan Islam, bukan dengan yang lain.

Tetapkan karir hidupmu menembus sekat batas fana dunia. Biarkan ia berpijak pada kehidupan sebelum dunia, serta  terhubung dengan kehidupan setelah dunia. Tempatkan kriteria suksesmu laksana Bunda Khadijah r.a., Aisyah r.a., Fathimah r.a., atau Asma r.a., serta para muslimah pendidik terbaik dalam Islam.

Di hari santri-mu ini, semoga engkau sedang mengaji dan bukan sedang bernyanyi; semoga engkau sedang menghapal hadits dan bukan sedang terlena dalam hura; semoga engkau sedang bershalawat dan bukan sedang berikhthilat; semoga engkau selalu tegar dan tak mudah tergiur dollar.

Bertawakkallah kepada Allah Swt. Sebakda shalat, ayah selalu berdo'a untukmu. Tetaplah istiqomah putriku.

Dari Ayah untuk Anak Pondok

Nak, kini engkau pun merasakan sebagaimana yang pernah ayahmu rasakan. Di saat teman-teman kita dikunjungi orang tuanya, kita hanya bisa menatap keceriaan mereka. Terkadang sembari membayangkan, "Oh, seandainya saja mereka adalah aku dan orang tuaku."

Nak, ayahmu bangga padamu. Engkau lebih tegar dibandingkan ayahmu dahulu. Mungkin karena sekarang terbantu pula oleh kecanggihan sarana telekomunikasi. Bukan lagi sekedar untaian kata dalam secarik kertas. Kini, saling menatap lewat monitor mini pun bisa menjadi pelepas rindu.

Wajahmu tampak segar, senyum manis yang menggambarkan keceriaan, suaramu teduh dan menenangkan. Kami di sini bahagia dapat mendengar dan melihatmu.

Ingin rasanya menghentikan waktu sejenak biar tak melaju, lalu ayah terbang menemuimu. Namun sungguh, mustahil bagi kita untuk melawan sunatullah perjalanan waktu. Waktu akan terus berlalu dan kita tak pernah bisa menduakan jasad.

Nak, apa yang engkau alami. Setiap hari, siang dan malamnya. Setiap waktu, detik dan menitnya. Setiap rasa, senang dan sedihnya. Semua akan terakumulasi dalam kenangan di masa depan. Dan setiap pilihanmu dalam menghadapi semua itu, akan membuatmu semakin tangguh di masa depan. Engkau yang akan meraih asa dan cita, pasti menantang segala hambat dan rintang.

Tataplah masa depan, mulailah dari akhir dalam pikiran, yakni ridlo Allah Swt sebagai tujuan. Sebagaimana pesanku selalu, rajin dan semangatlah mempelajari tsaqofah Islam. Karena engkau terlahir untuk masa depan dan masa depan adalah milik Islam.

#MasaDepanMilikIslam

Engkau Bukan Pelampiasan Mimpi

Nak, engkau bukanlah tempat pelampiasan mimpi-mimpi orang tuamu. Dimana semua mimpi tersebut merupakan mimpi yang belum pernah bisa mereka raih. Sehingga kau dituntut harus bisa begini dan begitu, yang sebenarnya hal itu hanya untuk memuaskan kedua orang tuamu. Namun engkau adalah generasi manusia masa depan. Engkau perealisasi cita-cita umat dan penjemput berbagai janji Allah Ta'ala.

Kami hanya ingin terteduhkan mata menatap kalian. Kami hanya berharap kalian menjadi amal jariyah bagi kami, menjadi anak shalih yang selalu mendo'akan kedua orang tuanya. Itu sudah cukup bagi kami.

Namun untuk meraih keduanya, tentu membutuhkan ilmu dan amal. Ilmu dan amal yang berlandaskan pada keimanan, bukan yang lain. Di masa depan, manusia akan sangat membutuhkan Islam. Kaum muslim akan menjadi pemimpin umat manusia di dunia. Bagaimana mungkin kita akan menunjuki mereka dengan hidayah Islam, jika kita tak paham Al Quran dan tak mengenal As Sunnah.

Saat Islam menjadi mercusuar peradaban, manusia akan masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Mereka tentu membutuhkan banyak bimbingan ilmu, inilah ladang amal bagimu kelak. Oleh karena itu, mendidikmu bukan pelampiasan mimpi. Namun mendidikmu adalah menguatkan aqidah, memahamkan syariah, membiasakan amal dan dakwah serta menghiasinya dengan akhlaq mahmudah.  

Nak, pendidikan membutuhkan keikhlashan. Baik itu dari kami, gurumu dan juga dirimu. Tanpa keikhlashan, engkau akan patah hati ketika menemui kesulitan dan jumawa ketika menjumpa kemudahan. Lakukanlah semata karena Allah Ta'ala. Guru-gurumu adalah orang tuamu di sekolah, berbaktilah kepada mereka selama mereka berbakti kepada Allah Swt.

Kunci utama kesuksesan seorang mukmin hanyalah ketaqwaan kepada Allah Swt, tak ada yang lain. Oleh karena itu, Rasulullah Saw selalu mewasiatkan hal ini dalam berbagai momen. Dan tentunya, ketaqwaan itu diraih dengan ilmu dan amal. Dengan ilmu, kita bisa memilih dan memilah perintah dan larangan Allah; dengan amal, kita bisa menambah-nambah timbangan kebaikan untuk bekal  kelak di negeri Akhirat.

Nak, selalu ingatkan kami jika lalai dalam mendidikmu dalam agama. Karena kami juga manusia yang bisa berbuat khilaf dan dosa.

Nasihat Aqiqah (2)

Nak, hidup itu selalu berkaitan dengan pengorbanan. Mau menjadi mukmin maupun kafir. Mau jadi ahli taat maupun ahli maksiat. Semuanya butuh pengorbanan. Namun demikian, semua pengorbanan itu tentu akan ada balasan serta nilainya. Dan kita berharap, pengorbanan kita akan selalu berbalas keridloan dan bernilai pahala dari Allah Swt. Aamiin.

Pada waktunya nanti, kamu akan mendengarkan atau membaca kisah tentang bagaimana kerja kerasnya Raja Namruz untuk memerangi agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim a.s. Kamu juga akan mengetahui bagaimana kisah pengorbanan tenaga, pikiran dan harta Fir'aun untuk memerangi Nabi Musa a.s. Begitu pula pengorbanan pasukan raja lalim Ashabul Ukhdud untuk membungkam keimanan rakyatnya.

Selain itu, kamu pula pasti akan mendengar kisah tentang pengorbanan pikiran, tenaga, waktu serta harta dari tokoh semisal Abu Jahal, Abu Lahab dan Umayah dalam memerangi Islam. Atau pula pengorbanan seorang tokoh Yahudi Huyai bin Akhtab dalam memusuhi Rasulullah di Madinah. Bahkan ketika dieksekusi oleh Rasulullah Saw., tak ada sedikit pun penyesalan terucap dari mulutnya. Malahan dengan sikap sok ksatria, ia berkata kepada Rasulullah Saw:

"Demi Allah, aku sedikit pun tidak menyesal karena memusuhimu. Namun siapa pun yang dikalahkan Allah, pasti kalah."

Kemudian ia berkata kepada semua yang hadir,
"Wahai kalian semua, tidaklah mengapa dengan putusan Allah. Taqdir, qadar dan pembantaian sudah ditetapkan Allah untuk Bani Israil."

Akan tetapi, kamu tak perlu kagum sedikit pun terhadap pengorbanan mereka. Karena pengorbanan mereka adalah pengorbanan yang akan berbalas murka dan bernilai siksa dari Allah Swt.

Anakku, engkau hanya perlu kagum atas pengorbanan para Nabi, para sahabat, kaum mukmin, orang-orang shalih, para syuhada dan shiddiqin dalam menggenggam ketaatan kepada Allah Swt. Karena pengorbanan mereka-lah pengorbanan yang benar.

Oleh karena itulah, kami ingin menyambut kelahiranmu dengan sebuah pengorbanan. Pengorbanan yang disunnahkan oleh Allah Swt, ibadah aqiqah namanya. Dengan diawali kalimah basmalah, hamdalah, syahadat serta shalawat; Diiringi dengan takbir, dengan nama Allah, disembelihlah hewan aqiqah dari Shofiyya Dinuha Lillah binti Ary.

Kami berharap, semoga Allah Swt menerima pengorbanan ini dan membimbingmu menjadi wanita shalihah, yang selalu siap berkorban menuju ridlo Allah Ta'ala serta menjadikanmu menjadi seorang yang "murni agamanya karena Allah Swt semata." Aamiin.

Robbana hablana min azwajina wa min dzurriyatina qurrota a'yunin waj'alna lil muttaqina imaman. Aamiin. 

#Aqiqah

Rabu, 15 November 2017

Shofiyya

Menyebut namanya, teringat akan seorang muslimah keturunan para Nabi nan berhati mulia. Suaminya adalah Rasulullah Saw, kakek buyut atau leluhurnya adalah Nabi Harun a.s. dan paman buyutnya adalah Nabi Musa a.s. Menurut Imam Adz-Dzahabi, nama lengkapnya adalah Shofiyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa'yah, keturunan Al Lawi bin nabi Israil bin Ishaq bin Ibrahim.
Shofiyah r.a. berasal dari Yahudi Khaibar. Ayahnya merupakan tokoh Yahudi Khaibar dan ibunya keturunan Bani Quraidzah. Meskipun demikian, kecerdasannya telah mengantarkannya menuju hidayah Islam. Sebelum dinikahi oleh Rasulullah Saw, ia pernah bermimpi seakan bulan jatuh ke dalam kamarnya. Mimpi yang hampir sama dengan yang pernah dialami oleh istri pertama Rasulullah Saw, Khadijah r.a.
Al Hafidz Abu Nu'aim berkata bahwa Shofiyah merupakan wanita yang bertaqwa, suci dan selalu menitikkan air mata. Kemudian menurut Adz-Dzahabi, Shofiyah merupakan wanita mulia, berakal, keturunan bangsawan, cantik dan taat beragama.
Secara bahasa, arti namanya adalah suci atau murni.
Merujuk pada akar katanya, yakni "Shofa". Nama ini juga mengingatkan al faqir pada sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad Hawari, yang merupakan syarah dari kitab "Attakattul Hizbi" karangan syaikh Taqiyuddin An Nabhani rahimahullahu ta'ala.
Syaikh Muhammad Hawari menjelaskan bahwa pemikiran Islam itu membutuhkan "Shifa" (pemurnian). Yang dimaksud oleh beliau bahwa shifa bermakna "wudluh ar ru'yah" (gamblang), yakni bahwa keterkaitan pemikiran tersebut dan dasar (aqidah)-nya dapat dipahami dengan jelas. Sehingga setiap hukum syariah yang didakwahkan harus berkaitan dengan dalil yang membangunnya. Oleh karena itu, Shofiyyah bisa bermakna wanita yang mengemban pemikiran islami yang jelas dalil dan sumbernya.
Di masa depan, saat Islam berkuasa, banyak dibutuhkan perempuan pendidik yang bertaqwa, cerdas serta mengemban pemikiran Islam yang murni dan gamblang. Karena kekuatan Islam terletak pada kemurnian pemikirannya. Pemikiran yang hanya bersumber pada aqidah Islam dan tidak tercampuri pemikiran-pemikiran asing di luar Islam.
Semoga akan banyak terlahir para muslimah yang murni agamanya karena Allah semata, dan engkau merupakan salah satunya, Shofiyya Dinuha Lillah.
Allohumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in. Aamiin.

Nak, inilah dunia. InsyaAllah, kelak di masamu timur hingga ke baratnya serta utara sampai ke selatannya, akan dikuasai oleh kaum muslim.
Allah Swt akan memuliakan Islam dan kaum muslim dengan tegaknya kembali hukum-hukum Allah Swt. Engkau adalah muslimah pendidik generasi para pembebas dan para mujahid, pencetak para ulama dan mujtahid serta penyokong para ilmuwan dan pemikir Islam.
Allah Swt akan menghinakan kekufuran dan mengantarkan para pemeluknya ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Dan Allah Swt Maha Menepati janji dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Nak, kemurnian pemikiranmu yang terpancar dari aqidah Islamiyyah akan dibutuhkan umat manusia. Lakukanlah karena Allah Ta'ala semata. Karena, #MasaDepanMilikIslam.

Senin, 13 November 2017

Antara Ulama dan Umala

Ulama itu mulia bukan karena keilmuannya, apalagi hanya berdasarkan kebangsaannya. Namun berdasarkan ketakutannya kepada Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [فاطر:٢٨].
Artinya: 
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hambanya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa Maha Pengampun."
(TQS. Fathir:  28)


Para mufassir berkata bahwa tidaklah takut kepada Allah ta'ala dengan sebenar-benarnya takut, terkecuali para ulama yang mengenali-Nya dengan sebenar-benarnya.

Imam Ibnu Katsir berkata, yakni orang-orang yang mengenal Allah. Karena sesungguhnya semakin ma'rifat terhadap (Allah) Al-Adzim Al-Qadim, keyakinan terhadap-Nya pun akan lebih sempurna dan ketakutan kepada-Nya akan lebih besar dan lebih banyak.

Senada dengan yang dijelaskan oleh Imam Al Qurthubi, bahwa ayat ini berkaitan dengan para ulama yang takut terhadap kuasa-Nya. Orang yang percaya bahwasanya Allah azza wajalla Maha Kuasa, serta yakin bahwa Allah akan menyiksanya karena kemaksiatannya.

Adapun Shahabat Rasullullah Saw, ketika menjelaskan ayat ini, yang pertama Ibnu Abbas r.a. beliau berkata: "(yakni) orang-orang yang meyakini bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Yang kedua, Anas bin Malik r.a. , berkata: "Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka ia bukanlah orang 'alim (kata tunggal dari ulama, pen.). Yang ketiga, Ibnu Mas'ud r.a. berkata: "Cukuplah ketakutan kepada Allah ta'ala sebagai ilmu."

Begitulah ulama, mereka mulia bukan karena ilmunya semata, apalagi karena suku bangsanya, tetapi jauh lebih utama dari itu. Yakni, karena ketakutannya kepada Allah Swt.

Jika seorang yang dipandang ulama sudah tidak takut kepada Allah, maka ia mudah terjatuh menjadi 'umala (para agen/pekerja). Yang digerakkan oleh uang atau orang yang membayarnya dan bukan oleh ketakutan kepada Allah Swt. Apalagi kalau yang mempekerjakannya adalah orang-orang kafir atau para kapitalis penjajah, maka terhinalah ia menjadi umala-ul musta'mar (para agen/pekerja penjajah).

Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Minggu, 12 November 2017

Nak, Jangan Menyekutukan Allah!

Anakku,
Saat engkau membaca surat cinta ini semoga engkau selalu dalam curahan rahmat dan maghfirah Allah Swt. Ayah menulis surat ini di masa-masa penuh fitnah; iman dan kafir menjadi samar; serta perbedaan tauhid dan syirik pun telah mengabur. Umat Islam berada di masa yang seperti digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw. Ia bagaikan hidangan lezat di hadapan orang-orang yang lapar. Namun demikian, ayah dan ibumu tetap penuh dengan harapan bahwa masa depan adalah milik Islam dan kaum muslim. Oleh karena itulah, ayah sengaja menulis surat cinta ini sebagai petuah yang diambil dari seorang ahli hikmah ketika mendidik anaknya.

Anakku,
Janganlah engkau menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun, karena sesungguhnya syirik itu kedzaliman yang sangat besar. Ingatlah Nak, manusia bangkit dan terpuruk tergantung kepada pemikiran asasinya, tergantung pada bagaimana ia memandang hidup ini. Yakni tentang dari mana ia, alam semesta dan kehidupan ini berasal, untuk apakah semua ini ada dan akan ke manakah setelah semuanya berakhir.
Seluruh permasalahan yang akan engkau hadapi di dunia ini adalah semata karena engkau hidup. Jika engkau adalah tanah semata, niscaya engkau tidak akan pernah memiliki masalah. Oleh karena itulah, masalah utama yang sebenarnya engkau hadapi adalah masalah tentang hidup ini. Andaikan saja engkau tiba-tiba terbangun di hutan belantara yang asing dengan berbagai fasilitas yang lengkap, tentu engkau akan bertanya “mengapa aku ada disini? Untuk apa aku ada di sini? Dan akan ke manakah aku setelah dari sini?”

Anakku,
Pandanglah dirimu serta segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Kita memiliki mata, namun mata kita memiliki keterbatasan dalam memandang; kita memiliki tubuh, namun tubuh kita akan berujung pada kerapuhan, kerusakan dan kematian; bahkan kita memiliki akal, namun akal kita tak mampu konsisten menilai sebuah kebaikan dan keburukan, ia mudah berubah karena manfaat. Pandanglah gunung yang tinggi menjulang, bumi yang terhampar, laut yang membiru, matahari yang cerah bersinar, bulan yang indah merona, bintang-bintang yang gemerlap memesona serta berbagai benda langit di angkasa. Semuanya ternyata memiliki keterbatasan. Gunung bisa mudah terguncang, laut tak pernah bisa melawan angin, bumi tak bisa berputar balik, matahari tak bisa melawan malam, bulan dan bintang pun tak pernah bisa melawan siang, semua benda langit tunduk pada suatu aturan. Jelaslah, semuanya merupakan kumpulan benda-benda yang lemah dan terbatas.
Begitu pula jika kita berpikir tentang kehidupan, ia selalu terbatas pada satu individu. Kamu adalah kamu, aku adalah aku dan si fulan adalah si fulan. Semuanya memiliki kehidupan sendiri yang terbatas pada dirinya semata. Kehidupan pun lemah dan terbatas.
Jika manusia, kehidupan dan alam semesta ini terbatas, hal itu berarti semuanya menyandarkan keberadaannya pada sesuatu yang bersifat tidak terbatas. Dia-lah Sang Pencipta, yang telah menciptakan semuanya dari tiada menjadi ada. Dan Dia adalah Allah Swt, bukan yang lain.
“Katakanlah: "Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah [adalah Tuhan] yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya". (TQS. Al Ikhlash : 1-4)

Anakku,
Ikrimah menjelaskan bahwa ketika orang-orang Yahudi berkata, "Kami menyembah Uzair anak Allah." Dan orang-orang Nasrani mengatakan, "Kami menyembah Al-Masih putra Allah." Dan orang-orang Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Dan orang-orang musyrik mengatakan.”Kami menyembah berhala." Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
 {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}
Seluruh kehidupan ini diciptakan oleh Allah Swt. Allah Ta’ala, Dia-lah Maha Pencipta yang memiliki sifat Wajibul Wujud dan Azali (tidak berawal dan tidak berakhir).
Semua makhluk bersandar kepada-Nya dan Dia tidak bersandar kepada apapun dan siapapun. Oleh karena itulah, beribadah kepada-Nya merupakan sebuah fitrah insan dan taat kepada-Nya merupakan sebuah kemestian. Ketika hal ini diyakini dan dilaksanakan, akan terurailah semua persoalan hidupmu. Semua masalah hidupmu akan terjawab hanya dengan memutlakkan ketaatan kepada-Nya.
Ketika manusia meyakini ada Pencipta selain-Nya, maka dapat dipastikan bahwa ia berada dalam kesalahan. Sungguh, jika ada dua atau lebih pencipta di dunia ini maka akan hancur dan luluh lantaklah dunia ini. Karena akan terjadi persaingan di antara tuhan-tuhan. Oleh karena itu, Pencipta itu hanyalah satu, Dia-lah Allah Swt Yang Maha Esa. Beribadahlah hanya kepada-Nya dan mengharap perhitungan-Nya, janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Anakku,
Menyekutukan Allah Swt dengan selain-Nya tidak hanya terjadi pada aktifitas ritual. Ketika manusia meyakini bahwa ada ketetapan lain yang lebih baik daripada ketetapan Allah Swt pun, bisa terjebak dalam perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Sebagaimana ketika Rasulullah Saw membacakan ayat berikut di hadapan Adi bin Hatim (saat belum masuk Islam), 

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah serta mempertuhankan al-Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan..” (QS.Attaubah[9]:31)
Adi bin Hatim menyanggah Rasulullah SAW dengan mengatakan :

إنهم لم يعبدوهم. فقال: "بلى، إنهم حرموا عليهم الحلال، وأحلوا (2) لهم الحرام، فاتبعوهم، فذلك عبادتهم إياهم

“Sesungguhnya mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak menyembah mereka (para pendeta dan rahib)”. Maka Rasulullah SAW menjawab : “Sesungguhnya mereka (para pendeta dan rahib) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Kemudian mereka (Yahudi dan Nasrani) mengikutinya, itulah penyembahan mereka terhadap para pendeta dan rahib mereka.”.

Pentahbisan pendeta dan rahib sebagai tuhan-tuhan tidak dalam konteks penyembahan, namun dalam konteks ketaatan mereka kepada pendeta dan rahib mereka dalam penetapan halal dan haram (menetapkan hukum). Mereka menjadikan pendapat pribadi pendeta dan rahib sebagai untuk menetapkan halal dan haram, padahal bertentangan dengan ketetapan Allah Swt.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh Asy-Syaukani bahwa sesungguhnya mereka menaati pendeta-pendeta mereka, dalam perintah dan larangannya. Pendeta-pendeta itu menempati kedudukan sebagai tuhan-tuhan karena mereka ditaati sebagaimana layaknya tuhan-tuhan.
Allah SWT mencela orang Yahudi dan Nasrani yang memperlakukan para pendeta dan rahib sebagai pembuat hukum. Tindakan mereka itu dikategorikan menyekutukan Allah Swt. Ditegaskan dalam frasa “Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” Sebab, hanya Allah-lah yang memiliki wewenang untuk menetapkan halal dan haram. Kita sebagai manusia hanya memahami dari apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Swt.

Anakku,
Tiada lagi harapan dalam iman jika telah tercampur dengan syirik. Karena syirik akan menumbuhkan amal yang berpijak bukan karena Allah Swt, namun karena sesuatu yang selain-Nya. Seluruh amal pun akan menjadi rusak. Begitu pula apabila pertimbangan baik dan buruk disandarkan kepada selain perintah dan larangan Allah Swt, akan rusaklah kehidupan manusia. Pertimbangan manfaat dan keuntungan sesaat akan mendominasi setiap keputusan yang diambil, bukan lagi pertimbangan ridla dan murka Allah Swt terhadapnya. Hukum rimba akan berlaku di antara manusia. Maka demi kepentingan sesaat, manusia yang kuat akan mendominasi dan mengeksploitasi orang yang lemah di antara mereka. Karena itulah anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah Swt. Sesungguhnya perbuatan syirik merupakan kezaliman yang sangat besar.

Menghindarkan Krisis Identitas Anak

Siapapun yang tak mengenal tuhannya, ia tidak akan mengenal dirinya. Begitu pula ketika seseorang tak mengenal orientasi hidupnya, ia akan kehilangan arah hidupnya dan terombang-ambing menjadi sampah peradaban. Terhempas arus ke sana ke mari, kemana angin bertiup ke sanalah ia akan berlabuh. Tak punya kendali dan peta hidup, ke manakah biduknya akan ia labuhkan. Karena itulah, kita harus menghindarkan anak-anak kita dari bahaya krisis identitas seraya memiliki orientasi hidup yang jelas.
Agar anak-anak kita memiliki #orientasi_hidup, ada 3 langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua, yaitu:
#Pertama, berikanlah kasih sayang terlebih dahulu.
Sempatkan waktu untuk bercanda bersama mereka. Sehingga mereka memahami bahwa kita menyayangi mereka. Sebagaimana Rasulullah Saw pun mencurahkan kasih sayang terhadap anak-anak.
#Kedua, rangsang mereka untuk berpikir.
Ajaklah mereka untuk melihat kenyataan dunia. Rangsanglah mereka untuk ikut andil memberikan solusi. Arahkan mereka untuk memberikan solusi berdasarkan daya penggerak yang bersifat ruhani dan bukan semata bersifat pragmatis materialistis.
#Ketiga, agar visioner rangsanglah mereka agar menjadi manusia idealis.
Agar idealisme mereka tak membuatnya menarik diri dari kehidupan, kita perlu mengajak mereka mendiskusikan fakta atau realitas yang ada. Ajaklah mereka untuk berpikir bahwa hukum Allah Swt atasnya tak berubah sedikit pun. Hukum Allah adalah solusi semua masalah hidup manusia, dan penerapan seluruh hukum-Nya akan menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Dengan demikian, anak-anak kita akan mengenal dirinya sebagai #hambaAllah dan akan terhindar dari #krisis_identitas. Wallahu a'lamu bishshawwaab.

Para Pahlawan

Tertatih kaki menggusur lelah
Peluh keringat bercucuran sudah
Menyiram luka yang merekah
Melelehkan merahnya darah
Meski luka bertambah parah
Para pahlawan tak surut langkah
Angkat senjata usir penjajah
Gemakan takbir, Jihad fi sabilillah
Menerjang peluru bertameng dada
Lawan para penjajah durjana
Bebaskan negeri Indonesia
Songsong predikat syuhada
Maut menjemput di pertempuran
Syahadah terakhir terucap lisan
Tersenyum penuh kebahagiaan
Penduduk langit pun memberi sambutan
Wahai para pahlawan
Tekadmu telah terpatri iman
Juangmu berpedoman Al Quran
Bagimu, hanya Allah-lah sebagai tujuan
(Ary H. – 16 Dzulqo’dah 1437 H)

Ditinggal Anak Mencari Ilmu

Nak,
Jika cintaku tak sedang menyertaimu, yakinlah kalau cinta-Nya selalu membersamai para pencari ilmu.
Nak,
Jika sayang ini tak sedang kau nikmati, yakinlah bahwa Allah mencurahkan rahmat di setiap majelis yang mengingat-Nya.
Nak,
Naluriah orang tua sama denganmu, namun ia mestilah terkendali. Ketika kau bisa menjadi pengendalinya, maka ia akan menjadi potensimu dalam menjalankan misi insani meraih visi menuju Ilahi.
Nak,
Yakinlah engkau tak bersendiri, doa kami semoga engkau menjadi generasi peneduh mata.
Engkau terlahir untuk masa depan, dan masa depan adalah milik Islam dan umatnya. Sedari sekarang engkau berbekal, maka engkau akan menjadi pemimpin dan pendidik para pemimpin di masa datang. Aamiin.