Nak, kini engkau pun merasakan sebagaimana yang pernah ayahmu rasakan. Di saat teman-teman kita dikunjungi orang tuanya, kita hanya bisa menatap keceriaan mereka. Terkadang sembari membayangkan, "Oh, seandainya saja mereka adalah aku dan orang tuaku."
Nak, ayahmu bangga padamu. Engkau lebih tegar dibandingkan ayahmu dahulu. Mungkin karena sekarang terbantu pula oleh kecanggihan sarana telekomunikasi. Bukan lagi sekedar untaian kata dalam secarik kertas. Kini, saling menatap lewat monitor mini pun bisa menjadi pelepas rindu.
Wajahmu tampak segar, senyum manis yang menggambarkan keceriaan, suaramu teduh dan menenangkan. Kami di sini bahagia dapat mendengar dan melihatmu.
Ingin rasanya menghentikan waktu sejenak biar tak melaju, lalu ayah terbang menemuimu. Namun sungguh, mustahil bagi kita untuk melawan sunatullah perjalanan waktu. Waktu akan terus berlalu dan kita tak pernah bisa menduakan jasad.
Nak, apa yang engkau alami. Setiap hari, siang dan malamnya. Setiap waktu, detik dan menitnya. Setiap rasa, senang dan sedihnya. Semua akan terakumulasi dalam kenangan di masa depan. Dan setiap pilihanmu dalam menghadapi semua itu, akan membuatmu semakin tangguh di masa depan. Engkau yang akan meraih asa dan cita, pasti menantang segala hambat dan rintang.
Tataplah masa depan, mulailah dari akhir dalam pikiran, yakni ridlo Allah Swt sebagai tujuan. Sebagaimana pesanku selalu, rajin dan semangatlah mempelajari tsaqofah Islam. Karena engkau terlahir untuk masa depan dan masa depan adalah milik Islam.
#MasaDepanMilikIslam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar