Jumat, 26 Februari 2016

Syukur di Pagi Hari

Padi hijau terhampar
Ujungnya yang mulai menguning
Laksana gradasi hamparan permadani
Sesekali, alam menghembus nafasnya pelan
Semilir angin yang melenakan
Sang Matahari pun masih berselimut awan
Seakan malas beranjak dari peraduan
Dhuha yang teduh

Burung-burung melayang rendah
Matanya lincah mencari bulir padi yang padat
Sambil bercengkerama ceria, bercericit
Beradu vokal dengan gaduhnya gergaji mesin
Cericitmu tetap alami dan indah

Bukit-bukit berjejer hijau
Dengan barisan pepohonan yang mulai merenggang
Beradu warna hijau truk dan excavator
Hijau alami bukitmu tetap lebih menyegarkan mata

Senandung Al Quran
Sayup-sayup terdengar merdu di balik dinding
Pengobat berbagai tekanan kehidupan
Menenangkan

Puji syukur pada-Mu Ya..Al Mushawwir
Mata hamba masih luas memandang
Telinga hamba masih jelas mendengar
Sungguh nikmat yang tiada terkira

(Pagi di Fajrul Islam, Jumadil Awwal 1437 H)

Selasa, 23 Februari 2016

Disfungsi Akal

Setiap potensi dianugerahkan oleh Allah Swt dengan fungsi yang jelas. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, begitupun akal untuk memilih dan memilah. Akal bisa memilah mana makanan dan mana batuan. Akal juga bisa memilah mana yang aman atau berbahaya bagi manusia. Bahkan, dengan akal juga manusia memahami hidayah Allah Swt. Supaya manusia bisa memahami mana jalan yang diridloi Allah Swt atau yang dibenci-Nya.

Fungsi akal sangat dipengaruhi oleh informasi yang masuk ke dalam otak. Informasi baik yang masuk, akal pun menjadi sehat. Tetapi, jika informasi sampah yang masuk, akal pun bisa mengalami disfungsi. Apalagi, ketika manusia diminta berpikir untuk memilih jalan hidup, tetapi yang digunakan bukanlah informasi yang berasal dari Sang Maha Hidup yang memberi kehidupan.

Disfungsi akal bukanlah terkait dengan tingkat IQ (Intelegensia) seseorang. Tapi, terkait ketepatan dan kejujuran hati untuk memilih sumber informasi. Bahkan, dalam hal ini, tingkat IQ sama sekali tiada artinya. Tatkala akal mengalami disfungsi, maka intelegensia setinggi apapun bisa setara bahkan lebih rendah dari binatang ternak. (lih. Q.S. Al Furqan[25]: 43-44).

Oleh karena itu, penulis sangat penuh tanya ketika ada pejabat muslim yang pintar dan berpendidikan. Ia beranggapan dan mengopinilan bahwa toa (pengeras suara) masjid sering mengganggu, rekaman pengajian sebagai polusi suara, suara pengeras suara sebelum adzan shubuh dapat menyebabkan anak-anak menjadi kurang tidur dan ngantuk di sekolahan.

Tetapi, pada sisi lain. Ketika ditanya komentarnya terkait perilaku bejat LGBT (Lesbian Gay Biseks Transgender), ia menganggapnya bukan masalah besar. Bahkan tidak mengganggu selama tidak disertai dengan ajakan. Serta negara pun tidak perlu ikut campur untuk menanganinya.

Mari kita coba renungkan dengan akal sehat. Kemudian kita bandingkan antara dampak negatif pengeras suara masjid dan LGBT. Kemudian dianalisa dengan penuh kejujuran. Lalu kita jawab, manakah yang lebih berbahaya? Semoga kita dijauhkan dari disfungsi akal. Wal'iyadzu billah.

(Ary Herawan)

Minggu, 21 Februari 2016

Pengaruh Sekulerisme Terhadap Ekonomi


Sekulerisme adalah pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan. Dikatakan demikian karena dalam pandangan sekulerisme, kehidupan dunia ini harus dipisahkan dengan pandangan akan sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Jika pun seseorang meyakini bahwasanya dunia dan seisinya diciptakan oleh Tuhan, ia tidak perlu mempertimbangkan hal itu dalam kehidupan dunianya, selain hanya aktifitas ritual semata. Begitu pula ketika ia meyakini bahwa manusia akan dikembalikan kepada Tuhan, maka hal itu tidak perlu diikutkan dalam kehidupan dunianya, selain keyakinan adanya pengampunan dosa. Keyakinannya terhadap Tuhan tidaklah berpengaruh pada seluruh aktifitasnya, selain aktifitas ritual, do’a dan permohonan ampunan.

Pandangan seperti ini tentu akan membuat seluruh tatanan kehidupan tidak dibangun di atas dasar agama. Karena itulah, dari pandangan hidup sekulerisme terlahir liberalisme (ide kebebasan). Liberalisme merasuk dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam ekonomi. Sistem ekonomia liberal ini pun dikenal dengan sistem ekonomi kapitalisme.

Pandangan utama liberalisme dalam ekonomi adalah pemberian kebebasan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dinikmati secara fisik. Manusia tidak perlu terikat dengan aturan Tuhan serta manusia harus dibebaskan untuk menikmati apapun. Pembatasan terhadap manusia merupakan pengekangan yang ditabukan. Sehingga terlahir pandangan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas. Semakin banyak manusia menikmati materi semakin banyak lagi yang ia butuhkan.

Berdasar pada kebutuhan manusia yang tidak terbatas inilah timbul problem kelangkaan relatif. Karena berbagai alat pemuas kebutuhan yang ada tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Alat pemuas kebutuhan yang dimaksud bisa berupa barang atau jasa. Barang seperti makanan, pakaian, minuman dan sebagainya. Adapun jasa seperti layanan dokter, supir dan sebagainya.

Pandangan kelangkaan relatif ini meniscayakan adanya aktifitas produksi. Produksi dilakukan untuk memperbanyak alat pemuas kebutuhan yang sudah ada, atau mengembangkannya menjadi produk lain.

Kebutuhan manusia akan barang/jasa memunculkan adanya nilai pada suatu barang/jasa. Setiap barang/jasa yang dibutuhkan manusia dianggap memiliki nilai. Meskipun hanya sedikit orang yang membutuhkan barang/jasa itu ada, tetap dianggap bernilai. Predikat nilai harus terbebas dari keyakinan, dogma dan doktrin apapun, termasuk agama. Bahkan pandangan para cendekiawan dan ilmuwan pun harus diabaikan, karena fokusnya adalah pada kebutuhan manusia. Selama ada yang membutuhkan barang dan jasa, maka ia bernilai dan layak diproduksi dan diperjualbelikan. Misalnya,  minuman keras sudah jelas merusak, baik dalam pandangan agama maupun ilmuwan. Tetapi karena ada sebagian orang yang membutuhkan maka masih dianggap bernilai. Begitu pula dalam dunia jasa, seperti pornografi dan pelacuran. Keduanya jelas sudah menimbulkan kerusakan di tengah masyarakat, tetapi tetap dianggap bernilai karena masih ada yang membutuhkannya. Inilah yang dimaksud dengan nilai guna.

Tidak semua manusia mampu memproduksi barang yang ia butuhkan. Oleh karena itu, mesti terjadi pertukaran barang/jasa di tengah masayarakat. Suatu barang bisa ditukar dengan barang yang lain. Misal, beras bisa ditukar dengan jagung. Begitu pula seekor domba bisa ditukar dengan alat-alat pertanian. Sehingga ada nilai tukar dari suatu barang.

Bagi para ekonom kapitalis, kajian tentang nilai suatu barang/jasa -baik nilai guna dan nilai tukar- sangatlah penting. Karena terkait interaksi manusia dengan alat pemuas kebutuhannya. Dari nilai suatu barang ini pula akan muncul penilaian aktifitas yang produktif dan non produktif. Aktifitas produktif adalah aktifitas manusia yang bisa menghasilkan nilai pada suatu barang/jasa, atau menambah nilai pada suatu barang/jasa.

Manusia semakin modern, pertukaran barang/jasa di antara mereka sudah menggunakan alat tukar (uang). Predikat nilai barang/jasa pun ditakar dengan uang, inilah yang dimaksud dengan harga. Jika nilai tukar barang/jasa dinisbatkan dengan barang/jasa lainnya, maka harga barang/jasa hanya dinisbatkan pada uang.

Sehingga, ekonomi yang terlahir dari sekulerisme dibangun atas tiga pilar. Yakni, problem kelangkaan relatif, nilai serta harga yang ada pada alat pemuas kebutuhan. Semua pilar-pilar tersebut terfokus pada materi semata.

Kebutuhan manusia yang diakui hanyalah kebutuhan fisik. Kebutuhan ma’nawiyah berupa pujian dan kebutuhan spiritual berupa aktifitas ibadah, sama sekali tidak mendapat perhatian dalam sistem ekonomi kapitalisme.

Sekulerisme juga tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan, padahal keduanya jelas berbeda. Kebutuhan merupakan kebutuhan fisik yang muncul dari tubuh manusia, yang jika tidak dipenuhi bisa menimbulkan kerusakan fisik manusia, misal makan dan minum. Sedangkan keinginan tidaklah demikian adanya, ia hanya muncul dari naluri eksistensi diri manusia. Misal ketika manusia haus, yang dibutuhkan tubuh manusia adalah air, lebih dari itu adalah keinginan. Sehingga, kapitalisme pun tidak membahas kebutuhan manusia pada apa yang seharusnya diperlukan manusia, tetapi pada apa yang diinginkan semata. Sebagai contoh, pornografi yang sudah jelas-jelas merusak tetap saja dianggap bermanfaat. Semata karena ada yang menginginkannya. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan, sumber bacaan : Muqoddimah Sistem Ekonomi Islam, Hafidz Abdurrahman, Al-Azhar)