Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 November 2017

Para Pahlawan

Tertatih kaki menggusur lelah
Peluh keringat bercucuran sudah
Menyiram luka yang merekah
Melelehkan merahnya darah
Meski luka bertambah parah
Para pahlawan tak surut langkah
Angkat senjata usir penjajah
Gemakan takbir, Jihad fi sabilillah
Menerjang peluru bertameng dada
Lawan para penjajah durjana
Bebaskan negeri Indonesia
Songsong predikat syuhada
Maut menjemput di pertempuran
Syahadah terakhir terucap lisan
Tersenyum penuh kebahagiaan
Penduduk langit pun memberi sambutan
Wahai para pahlawan
Tekadmu telah terpatri iman
Juangmu berpedoman Al Quran
Bagimu, hanya Allah-lah sebagai tujuan
(Ary H. – 16 Dzulqo’dah 1437 H)

Senin, 11 September 2017

Mengakhiri Derita

Derita umat ini bukan hanya Rohingya
Ada Palestina, Afghanistan, Suriah,
Irak, Xinjiang, Ethiopia, Yaman, 
Dan negeri-negeri terjajah lainnya
Membuat air mata seolah tiada keringnya
Bumi pun membasah karena darah
Luka lama bertambah parah
Luka baru datang bertambah
Dan terus bertambah
Bermula dari melemahnya aqidah
Merambah pada pengabaian syariah
Lalu berujung pada penghapusan khilafah
Negeri Islam menjadi hidangan mewah
Bancakan para penjajah
Belum lagi dengan eksploitasi via ekonomi
Dengan cekikan dan jeratan utang ribawi
Pajak semakin meninggi dari hari ke hari
Kaum asing pendatang bermodal tinggi
Berduyun-duyun menggeser pemilik negeri
Tak ada perisai laksana Abu Bakar Sang Khalifah
Tak ada perisai laksana Umar Abu Hafshah
Tak ada perisai laksana Mu'tashim Billah
Tak ada perisai laksana Abdul Majid yang bermarwah
Menjaga aqidah,
Menjaga setiap jengkal negeri dengan penuh izzah
Negeriku negeri Islam
Negeri untuk seluruh umat
Aturan syariah yang penuh rahmat
Khilafah untuk keadilan seluruh rakyat
Tanpa ada paksaan dan tanpa penindasan
Berbagai keyakinan hidup berkeadilan
Ketika darah kaum muslim akan terjaga
Darah kafir ahlu dzimmah pun haram dinoda
Semua hidup di bawah aturan Sang Pencipta
Tanpa penjajahan sesama manusia
Rohingya membuka mata
Sungguh penghalang kita adalah pikiran kita
Ketika setiap bangsa merasa mulia
Serta berharkat jika menginjak selainnya
Sampai kapankah kita terinjak?
atau ingin jadi penginjak?
Apabila terus demikian adanya
Rohingya bukanlah yang terakhir
Mari akhiri derita umat yang terjajah
Dengan khilafah yang menerapkan syariah

Minggu, 09 April 2017

Cemburu

Ya Allah,
Ada cemburu mendera,
Kepada insan-insan shalih
yang mendekap erat Islam penuh keistiqomahan
hingga ke ajalnya,
Adapun hamba,
Bilakah kelak demikian adanya?
Ya Allah,
Teguhkanlah hamba
Dalam harap, doa dan upaya
di atas iman yang terhunjam di dada

(Ary H.)

Rindu Rasul

Rinduku mengembun di sudut mata
Memeluk setiap kisah
Mengembara dalam benak
Semua tentangmu adalah indah
Berharap rindu tanda cinta
Membara tanda percaya
Bukan terkagum semata
Cinta yang berbuah amal
Percaya yang berbuah pengorbanan
Hingga berkumpul nanti di Mahsyar
Di bawah panji Rasulullah

(Ary H. - 7 Rajab 1438 H)

#PanjiRasulullah
#IslamRahmatanLilAlamin

Rabu, 29 Maret 2017

Bendera Rasulullah



Mengangkatnya
Teringat akan Rasulullah
Manusia mulia tercinta
Rahmat bagi sekalian alam
Mengangkatnya
Teringat akan para shahabat
Panglima Mush'ab di medan Uhud
Panglima Zaid bin Haritsah,
Ja'far bin Abu Thalib,
Dan Abdullah bin Rawahah di medan Mu'tah
Mengangkatnya
Teringat Khalid Sang Pedang Allah
menggedor keangkuhan Persia dan Romawi,
menggetarkan kesombongan kaum musyrik,
menghinakan kaum murtad dan nabi palsu,
dan membuat musuh Allah gelisah tanpa nyenyak
Generasi terbaik umat Islam
Mengangkatnya penuh kemuliaan
Di hadapan syirik dan kekufuran
Menancapkannya di seluruh bagian bumi Allah
Ialah bendera Islam
Bendera Rasulullah
(Ary H.)
Sumber gambar : FB Kurnia Agus dan Apip Kawali

Selasa, 28 Maret 2017

Bendera Islam


Bendera Islam

Sederas air tercurah
Mengharap ridla Allah
Dibiasi air yang tersinari mentari
Mengibar bendera Islam
Menyubur ukhuwwah
Mengubur ashobiyyah
Satukan tekad
Menjunjung bendera Islam
Segagah Zaid bin Haritsah
Di padang pasir Balqa'
Menjemput taman-taman surga
Di hadapan Romawi terhina
Angkat tanganmu sahabat
Menunjuklah ke langit
Simbol persatuan umat
Satu Islam
Satu bendera
Satu perjuangan
Hanya Allah sebagai tujuan
(Ary H.)
Sumber gambar : FB Saepul Kholid

Panji Rasulullah


Kibarkan persaksian
Setegar syuhada Badar
Seteguh mujahid Uhud
Sekokoh para panglima Mu'tah
Kibarkanlah
La ilaha illallah
Muhammadurrasulullah
Dalam ketegasan hitam dan putih
Setegas Bilal bin Rabah
Di hadapan pongah Umayah
Sarat keistiqomahan iman
Kibarkan persaksian kita
Kibarkan panji kita
Panji Rasulullah
(Ary H. )
Sumber gambar : FB Yayan Satriana

Liwa Muhammad


Liwa Muhammad

Semulia apa yang tertera
Dua syahadah utama
La ilaha illa Allah
Muhammadun Rasulullah
Mush'ab al-Khair
Sang bintang mahkota dakwah
Dalam sebuah ghazwah Rasulillah
Duta Islam pertama maju menerjang
Mengangkat liwa Muhammad
Setiap kehilangan satu lengan
Ia berseru, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, telah didahului sebelumnya oleh para Rasul."
Hingga menjemput syahid dengan seyuman
Di medan Uhud fi sabilillah
(Ary H.)


*) sumber gambar : FB Muhammad Benny Adzan Firmansyah

Senin, 27 Juni 2016

Ironi Malam Kemuliaan

Menanti malam seribu bulan
Malam diturunkan Al Quran
Seraya sebagian isinya dicampakkan
Ia dipisahkan dari sistem kehidupan
Bahkan suara rakyat berlagak suara Tuhan
Mari berkaca diri wahai insan beriman

(Ary H. - Selong, 23 Ramadhan 1437 H)

Minggu, 26 Juni 2016

KALA PALESTINA BERTUTUR

Terenyuh aku dalam luka
Meleleh air mata ini tak terasa
Seiring hati yang teriris cerita
Kisahmu saudaraku
Seba'da Ashar di sepuluh terakhir bulan mulia
Di sebuah Masjid nan megah dan terjaga
Dimanja teduhnya cuaca
Semilir angin yang menyejukkan

Kala engkau bertutur saudaraku,
Aku berderai air mata
Meluapkan amarah yang terkurung dalam dada
Merasa diri lemah tak berdaya

Engkau saudaraku dari tanah suci Palestina
Kau berwasiat tentang berbagai fadhilah
Tentang Ashar, Ramadhan hingga malam Lailatul Qadar
Tentang...
Masjid Al Aqsha dan tanah Palestina
Masjid mulia yang terabadikan dalam Al Quran
Kiblat pertama umat Islam yang kini terabaikan
Terkotori najis-najis bangsa kera,
Ternodai simbol-simbol yahudi
Serta tuturmu tentang derita saudara muslim Palestina
Terjajah, tersiksa di dalam sebuah penjara raksasa
Berderai air mataku tak tertahan

Tak hanya sampai di sana
Kau pun bercerita tentang para khalifah
Para perisai kaum muslim
Semua menjaga Al Aqsha
Khalifah Umar yang mengambil kunci Al Aqsha
Sulthan Salahuddin Al Ayyubi yang menaklukkan Tartar
Khalifah Sultan Hamid II yang mengusir Hertzl serta menolak uangnya
Semuanya, demi menjaga Al Aqsha
Lalu, engkau bertanya saudaraku
Maka siapa yang akan menjaga Al Aqsha sekarang?
Kuusap lagi, derai air mata ini
Seraya malu, lemah tak berdaya

Tapi, engkau tetap tegar
Dan terus menyampaikan rasa terima kasih
Jazakumullohu khoiron untuk seluruh muslim Indonesia
Tak terlihat air matamu, entah karena sudah tiada yang tersisa

Saudaraku, aku membathin
InsyaAllah sedekah kaum muslim akan berpahala
Namun, solusi atas tanah Palestina bukan sekedar harta
Ia digunakan membangun, bangsa kera menghancurkannya
Diperbaiki lalu yahudi biadab meluluhlantakkannya
Semua ini bukan hanya tentang sedekah
Kisahmu tentang Palestina dan Masjid Al Aqsha

Tanah Palestina adalah tanah umat Islam
Yang direbut zionis penjajah
Tentara-tentara muslim  yang di barak harus bergerak !
Angkat senjata, bebaskan tanah Palestina !
Hancurkan Yahudi, selamatkan muslim Palestina !
Muliakan kembali Masjidil Aqsha
Bukan semata dengan rupiah, yang seringkali seadanya
Berderai air mata, umat terbaik menjadi lemah tak berdaya

Sebagaimana wasiatmu saudaraku
Umat Islam seluruhnya saudara
Dalam saling bantu dan kasih mereka laksana satu jasad
Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, bagian lain menderita panas dan demam
Mengapa kaum ini menjadi lemah tak berdaya?

Semua terjadi sejak khilafah tiada
Ashobiyyah nasionalisme yang memenjara
Para penguasa yang berkhianat
Serta kungkungan ideologi kapitalisme yang sesat

Saudaraku yang tercinta
Kusimak seluruh kisahmu seraya mengusap lelehan air mata
Kisahmu adalah pembakar semangat,
Pengingat diri yang khilaf
Karena solusi hakiki atas tanah Palestina
Hanyalah dengan KHILAFAH dan JIHAD

(Ary H. - Selong, 21 Ramadhan 1437 H)

Sabtu, 25 Juni 2016

Harap yang Tak Pernah Putus

Bila harap ini selalu ada
Hanyalah kepada-Mu Sang Maha Pengasih
Berlumpur pekat dosa
Bergelimang maksiat
Kotor diri tak ada suci
Berlari, berjalan, merangkak mendekat
Taubat dan maksiat silih berganti

Wahai dzat Yang Maha Suci
Sungguh hamba malu pada-Mu
Setiap kali lisan ini meminta

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau
Hamba yang berdosa memohon ampunan-Mu
Berharap jannah-Mu
Hamba berlindung kepada-Mu dari siksa neraka
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun
Yang selalu mencintai ampunan, ampunilah hamba

Tak ada lagi tempat hamba berharap
Karena harap yang tak pernah putus,
Hanyalah kusandarkan kepada-Mu


(Ary H. – Selong, 21 Ramadhan 1437 H)

Kamis, 23 Juni 2016

Al Quran; Dulu dan Kini

Di tengah kelam kehidupan insan
Jahil dan pandir dalam bertuhan
Latta, uzza, manat dan hubal
Yang utama jadi sembahan

Suku, harta dan nasab jadi patokan
Penguasa atau rakyat jelata
Merdeka atau hamba sahaya
Kedudukan menjadi alat penindas kaum yang lemah
Hina dan mulia menjadi stigma segelintir manusia

Kaum wanita tak berdaya
Terpasung syahwat para pria pendosa
Bila keluarga tak mau terhina
Membunuhnya, lebih mulia

Allah lalu menurunkan Al Quran
Diemban manusia termulia
Muhammad Rasulullah
Al Quran datang laksana cahaya dalam kelam
Menjadi petunjuk semua insan

Tatkala Al Quran jadi panduan
Hukum Allah ditegakkan
Berbagai aturan terpancar dari keimanan
Dunia sejahtera dinaungi keadilan

Iblis terlaknat tak mau diam
Syaithan jin dan manusia ia kerahkan
Manusia pun mulai mencampakkan Al Quran
Mulai kekuasaan hingga masalah ritual
Kembali terjebak dalam kelam

Hidup manusia kini menjauh dari Al Quran
Manusia kembali menindas manusia
Kaum lemah teraniaya tak berdaya
Al Quran adalah panduan, menjadi sekedar retorika
Al Quran adalah petunjuk, laksana penghias bibir semata
Al Quran hanyalah penenang kaum tertindas
Dengan secuil iman yang masih tersisa
Di tengah gempuran sekulerisme yang menggurita

Entah sampai kapan
Bilakah manusia tersadar
Adakah hukum yang lebih baik dari Al Quran?

(Ary H. - Selong, 19 Ramadhan 1437 H)

Minggu, 20 Maret 2016

Yang Selalu Terucap

Harap dan lirih do'aku
Selalu terucap kalian
Kupinta kepada Sang Pencipta
Akan ampunan serta kasih-Nya
Tercurah untuk kalian
Wahai kedua orang tuaku
Seluruh cinta, tetesan darah, keringat dan air mata
Hanya mampu kubalas dengan do'a

Dalam lirih do'aku
Terucap pula kalian
Wahai istri dan putera-puteriku
Kupinta kepada Pencipta
Kalian selalu menjadi peneduh mataku
Harapanku,
Kita menjadi kaum bertaqwa

Sebelum tiba suatu masa
Di mana manusia hanya peduli nasibnya
Anak terpisah dari ibu dan ayahnya
Suami terpisah dari istrinya
Istri terpisah dari suaminya
Orang tua pun terpisah dari anak-anaknya
Setiap jiwa hanya memikirkan hasil amalnya
Tak peduli nasab dan keturunannya
Sebelum masa itu tiba
Aku tak kan berhenti berharap
Mengucap do'a untuk kalian.

(Tasikmalaya, 12 Jumadil Akhir 1437 H)

Mati

Aku, kamu dan dia
Semua makhluk pasti mati
Saat pangkat dan jabatan takkan berguna
Saat kuasa dan senjata takkan berdaya
Petantang-petenteng tiada lagi
Mati, akhiri rasa dunia

Bukan mati yang perlu dikhawatirkan
Pasca mati yang mesti kita pikirkan
Mati teraniaya ataupun mati saat bergaya titel dan kuasa
Hanyalah kondisi akhir kita di dunia
Tetaplah iman dan amal yang utama

Bukankah Sang Pencipta telah mengingatkan

"Sesungguhnya orang-orang yang menimpakan cobaan kepada mukminin dan mukminat, kemudian tidak bertaubat. Maka bagi mereka siksa Jahannam, dan siksa yang membakar."

"Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Maka bagi mereka Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar".

Aku, kamu dan dia pasti mati !!!
Hanya iman dan amal yang akan menemani

(Kadipaten, 6 Jumadil Akhir 1437 H)

Warna-warni Hidup

Hidup ini penuh warna
Tetapi, bukan untuk melenakan
Menikmati hidup
Adalah dengan taat dan syukur kepada Yang Menghidupkan

@Kedai Cofee 114, Jl. Raya Kadipaten

Kopi Pagiku

Hmmm....
Aroma harum nan menyengat
Mengalir ke hidung sehirup nafas
Ku hirup nikmat, cerah hariku
Terbenam mata menikmati wangi khasmu
Kuraih tangkai cangkirmu
Hangat mengalir ke ujung jari
Semakin dekat
Harummu semakin menyengat
Ke seruput,
Hmmm...
Sedap tercerap indera pengecap
Lalu, mengalir pelan ke kerongkongan
Alhamdulillah,
Masih bisa kurasa nikmatmu, sobat

(Kadipaten, 5 Jumadil Akhir 1437 H)

Menembus Kabut

Kabut tebal menghalang pandang
Berteman lentera, terus berjalan
Tertusuk dingin tembus ke tulang
Kaki yang dingin, tak peduli beban
Menyambut hangat Sang Mentari

Ini hidup, kawan
Tak usah risaukan cobaan
Kabut dan cuaca masih bisa kau tahan
Selama api semangatmu masih berkobar

Hangat Sang Mentari menanti kita, kawan
Kabut jalanan bukanlah penghenti langkah
Selama kita masih mau membakar lentera, dan
Menahan dingin meski sekejap

Teruslah melangkah, kawan
Tembuslah kabutmu
Tahanlah dinginmu
Hangat mentari menanti di hadapan

(Kadipaten, 5 Jumadil Akhir 1437 H)

Jumat, 26 Februari 2016

Syukur di Pagi Hari

Padi hijau terhampar
Ujungnya yang mulai menguning
Laksana gradasi hamparan permadani
Sesekali, alam menghembus nafasnya pelan
Semilir angin yang melenakan
Sang Matahari pun masih berselimut awan
Seakan malas beranjak dari peraduan
Dhuha yang teduh

Burung-burung melayang rendah
Matanya lincah mencari bulir padi yang padat
Sambil bercengkerama ceria, bercericit
Beradu vokal dengan gaduhnya gergaji mesin
Cericitmu tetap alami dan indah

Bukit-bukit berjejer hijau
Dengan barisan pepohonan yang mulai merenggang
Beradu warna hijau truk dan excavator
Hijau alami bukitmu tetap lebih menyegarkan mata

Senandung Al Quran
Sayup-sayup terdengar merdu di balik dinding
Pengobat berbagai tekanan kehidupan
Menenangkan

Puji syukur pada-Mu Ya..Al Mushawwir
Mata hamba masih luas memandang
Telinga hamba masih jelas mendengar
Sungguh nikmat yang tiada terkira

(Pagi di Fajrul Islam, Jumadil Awwal 1437 H)

Minggu, 27 Desember 2015

Renungan Malam

Malam...
Nafasmu berhembus menyentuh kulit
Seram...
Dalam benak penuh tanya terbersit
Kelam...
Tak sedikit pun membuat Ijro'il sulit
Malam...seram...kelam...
Setiap nyawa digenggam Al Mumiit
Pejam...
Masihkah mata ini kan melihat fajar terbit?
Atau, di alam lain aku kan terbangkit?
Adalah rahasia Penguasa bumi dan langit

(Ary Herawan, 15 Rabi'ul Awwal 1437 H)

Sabtu, 26 Desember 2015

KEBENARAN

Ia satu
Hakikatnya, ia hanya satu
Jika muncul lebih dari satu
Sisanya mesti keliru

Untuk perkara yang qath'i
Satu untuknya adalah mesti
Yang lain adalah salah, itu pasti

Adapun untuk perkara yang dzanni
Yang benar, dua pahala diberkahi
Jika salah, satu pahala pun kan diberi

Memilihnya bukan karena egoisme

Memisahkan wahyu darinya, terjebak sekulerisme

Menakarnya dengan benda semata, terjerumus materialisme

Mencampurnya dengan yang salah, tergoda sinkretisme

Mencarinya berdasar akal terbimbing wahyu, itulah yang sejati

(Yang Menikmati Kebenaran Islam, Rabi'ul Awwal 1437 H)