Senin, 31 Oktober 2016

Saat Anak PAUD Bicara Cinta


Cinta adalah naluriah, semua manusia pasti merasakannya. Bayi yang baru lahir pun bisa merasakan adanya cinta dari bundanya. Maka tak aneh bila anak PAUD pun sudah bisa bicara tentang cinta. Apalagi di era penjajahan budaya seperti saat ini, saat cinta terumbar di berbagai media namun dalam balutan syahwat semata.

Tadi pagi sekira sinar mentari pagi menghangat di teras rumah. Saat pantulan sinarnya memantul di dedaunan segar, yang terlihat di balik kaca ruang tamu. Saya duduk dan bercanda ria di ruang tamu bersama putera ketiga saya, Muhammad Watsiq Billah. Usianya masih dini, 4 tahun 5 bulan, namun dialog tentang cinta dengannya membuat saya ingin berbagi cerita. Terutama untuk para remaja yang sudah bisa memilih dan membeda.

                “Bi, kalau abi cinta ummi ga?” tanyanya seiring senyumnya yang  khas nan menggoda.

          “Iya cinta dong. Tak hanya ke ummi, ke Ade juga cinta, ke kakak, ke teteh. Apalagi ke Mamih dan ke Papah.” Jawab saya agak panjang.

            “Kalau cinta seperti Si Boy mah ga boleh ya Bi?” Tanyanya lagi. Saya ga tahu ia mendapat info Si Boy dari mana. Karena televisi di rumah tak pernah menyala, mungkin dari teman-temannya. Tapi, saya pun tahu yang ia maksud.

“Iya dong,” baru saja saya mengiyakannya, Ade Watsiq langsung memotongnya.

“Si Boy mah cintanya kepada wanita-wanita yang lain-lain ya Bi,” tanyanya.

Menyimak ucapannya, saya pun sembari berpikir, apa maksud dari “wanita-wanita yang lain-lain” yang Ade ucapkan tadi. Seolah tahu sesaat saya berpikir, Ade pun memperjelas ucapannya.

“Mengapa abi cinta ummi, kan dulunya ummi wanita lain?” Tanyanya.

“Oh.., saya paham maksud istilah wanita lain yang diucapkannya. Yakni wanita ajnabi atau wanita yang bukan mahrom,” gumam saya dalam hati.  

            “Kan abi sudah menikahi ummi,” jawab saya singkat.
            “Kalau cinta seperti Si Boy yang belum menikah mah, dosa ya Bi?” Tanyanya kembali.
            “Iya jelas dosa,” jawab saya.
            “Dimarah sama Allah ya Bi?”
            “Iya, Allah pasti marah.”
            “Kalau sudah menikah mah, Allah tidak marah ya Bi?” tanyanya seolah meminta penegasan.
            “Iya kalau sudah menikah mah, ga apa-apa,” jawab saya.

Seolah puas dengan jawaban yang diberikan, ia pun langsung beralih ke aktifitas yang lain. Saya dan istri hanya saling berpandangan, ada kebanggaan tersendiri ketika anak PAUD sudah paham bagaimana seharusnya cinta tersalurkan.

Memahami aturan cinta itu sebenarnya sederhana, karena anak PAUD saja terbukti bisa. Hanya tinggal kita memilih, maukah cinta itu berada dalam keridloan Allah Swt atau dalam kemurkaan-Nya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary H. – 1 Shafar 1438 H)
                

Minggu, 30 Oktober 2016

Kebangkitan Suatu Bangsa

Apakah hal yang berharga bagi kebangkitan sebuah bangsa? Sumber daya alam yang melimpah? Wilayah yang strategis? Tentara dan pasukan yang kuat? Jumlah rakyat yang banyak? Ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern? Atau bahkan pertahanan dan keamanan yang mutakhir dan canggih?

Dalam kondisi bangsa Indonesia terpuruk sebagaimana saat ini, tentu tidak sedikit dari kita yang berpikir bagaimanakah supaya bangsa ini bisa bangkit?

Untuk menjawabnya cukuplah kisah  dari seorang Jubair bin Nufair, tentang percakapannya dengan Abu Darda, salah seorang shahabat yang dijuluki "Orang bijak dari umat ini" oleh Rasulullah Saw.

Ketika Siprus berhasil dibebaskan (28 H) melalui tangan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, pada masa khalifah Utsman, Abu Darda terlihat menangis. Melihat kejanggalan tersebut, Jubair bin Nufair bertanya kepadanya,

"Mengapa engkau menangis pada hari Allah memberikan kemenangan dan kemuliaan kepada Islam dan kaum muslim?"

Orang bijak itu (Abu Darda, pen.) meletakkan tangannya ke bahu Jubair dan berkata,

"Betapa rendahnya makhluk-makhluk ini di hadapan Allah ketika mereka mengabaikan perintah-perintah-Nya! Bangsa ini (Bizantium) adalah bangsa yang besar dan perkasa, serta memiliki kekuasaan! Tetapi mereka melanggar hukum-hukum Allah. Maka mereka pun terpuruk dalam keadaan yang engkau bisa saksikan sekarang ini. Allah menetapkan mereka dalam penahanan. Dan bilamana Allah menetapkan taqdir-Nya, berupa penahanan seperti ini pada diri suatu umat, berarti Allah tidak peduli terhadap mereka."(al-Futuhat al-Islamiyyah, ed.terj.)

Rasulullah Saw sangat tepat menjuluki Abu Darda dengan sebutan Orang Bijak. Sikap dan ucapannya memang sangat bijak, tatkala kebanyakan orang bahagia dalam kemenangan. Ia merenung bagaimana suatu bangsa itu bisa terpuruk. Tiada lain adalah karena pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Oleh karena itu, suatu bangsa bisa bangkit dari keterpurukan hanya dengan ketaatan kepada hukum-hukum Allah. Dan itu tiada lain kecuali dengan menegakkan syariah dan khilafah. Dimana hukum-hukum Allah pasti akan diterapkan secara paripurna. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. / 1 Shafar 1438 H.)

Menyoal Istilah Harga Mati

Setiap manusia akan mati, tanpa kecuali. Namun bukan berarti kita berhak untuk menyia-nyiakan hidup. Karena hidup setelah kematian sungguh jauh lebih kekal. Dan sebagai bekal menghadapinya, adalah kehidupan kita saat ini. Sehingga hakikatnya, kematian merupakan gerbang yang menentukan. Allah Swt menegaskan dalam Q.S. Ali Imran [3] : 102:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"dan janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan Islam"

Saat ini, tak sedikit dari kita yang menyuarakan slogan harga mati. Tentu yang dimaksud adalah sesuatu yang dipegang teguh, meski harus meregangkan nyawa. Karena itulah, sesuatu yang kita jadikan harga mati harus dipastikan menjamin keselamatan kita di kehidupan selanjutnya. Jika tidak, bukan hanya kematian kita kan sia-sia, bahkan di kehidupan akhirat pun kita kan merana.

Adalah Rasulullah Saw, satu-satunya manusia utama yang bisa dijadikan teladan. Harga mati beliau bisa disimak dalam pernyataan berikut:

"Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah Islam), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, pastilah aku tidak akan meninggalkannya." (Ibnu Hisyam)

Adalah Mush'ab Bin Umair, yang dikenal dengan julukan Mush'ab Al Khair (Mush'ab yang baik). Salah satu bintang terang dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw, Sang Duta Islam pertama. Ia beberapa kali menantang maut semenjak masuk Islam. Padahal sebelum masuk Islam, ia adalah remaja yang penuh dengan kemegahan dan kesenangan. Sejak keislamannya diketahui ibundanya, ia harus berhadapan dengan preman-preman kafir Quraisy bayaran ibunya. Sampai beliau bisa meninggalkan Makkah dan hijrah ke Habasyah.

Tatkala Rasulullah Saw mengutus beliau menjadi duta Islam di Madinah, ia langsung menerimanya dengan penuh ketaatan. Ia tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, lalu mendakwahi kabilah demi kabilah yang ada di Madinah. Bukan tanpa rintangan, ketika sedang berdakwah Usaid bin Khudair, yang belum masuk Islam, langsung mengancam lehernya dengan todongan tombak. Alhamdulillah dengan kelihaian lisannya, Mush'ab Al Khair berhasil meyakinkan Usaid bin Khudair sampai ia dan kaumnya masuk Islam.

Pengorbanan Mush'ab demi kemuliaan Islam tidak hanya sampai di sana. Saat perang Uhud, Rasululullah menugaskannya untuk memegang panji hitam bertuliskan dua kalimah syahadah (ar royah). Ia mengangkatnya dengan penuh semangat kemuliaan.

Pada awalnya, perang Uhud dimenangkan kaum muslim. Namun setelah para pemanah mengabaikan perintah Rasulullah, supaya jangan meninggalkan posisinya, kaum muslim menjadi terdesak. Dalam kekacauan yang menimpa pasukan kaum muslim, Rasulullah Saw menjadi incaran kaum musyrik. Melihat orang yang dicintainya terancam, Mush'ab langsung mengangkat Ar-Royah tinggi-tinggi seraya mengayunkan pedangnya tanpa henti. Ia mengobrak-abrik pasukan kafir musyrik, mengalihkan perhatian mereka supaya tidak mengincar Rasulullah Saw. Mush'ab berperang dengan gigih. Ia tak peduli dengan resiko kematian yang dihadapinya. Datanglah seorang pasukan berkuda musuh, Ibnu Qamiah, ia menebas tangan kanan Mush’ab hingga terputus.  Dengan tetap teguh, Mush’ab membaca ayat :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (TQS. Ali Imran [3] : 144)  

Mush’ab meraih Ar-Royah dengan tangan kirinya, Ibnu Qamiah pun kembali menebaskan pedangnya ke tangan kiri Mush’ab hingga terputus. Mush’ab Al Khair lalu membungkuk, mendekap Ar-Royah dengan kedua lengannya yang masih tersisa dan mendekapkan ke dadanya. Seraya membaca kembali Q.S. Ali Imran[3]: 144 :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (TQS. Ali Imran [3] : 144)  

Ibnu Qamiah kembali menyerang Mush’ab untuk yang ketiga kalinya, dengan sebuah tombak yang ia hunjamkan ke tubuh Mush’ab hingga gugur sebagai syuhada. Beginilah Mush’ab Al Khair yang telah mendermakan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Islam. Ketika melihat jenazah Mush’ab bin Umair, dengan penuh kasih sayang Rasulullah membaca firman Allah Swt :

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka kepada Allah.” (TQS. Al Ahzab[33] : 23

Ketika Rasulullah Saw sedang mengkafaninya, beliau bersabda : “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapih rambutnya daripadamu. Tetapi sekarang, rambutmu kusut dan (tubuhmu) hanya dibalut sehelai burdah.”

Begitulah salah satu bintang terang dalam rintisan peradaban Islam. Ia menetapkan harga matinya dengan tepat, pada satu-satunya jalan hidup yang diridloi oleh Allah Swt, yakni Islam.

Begitu pula yang menimpa pasangan suami istri, Yasir dan Sumayah, keduanya ditimpakan siksaan yang berat oleh para dedengkot kafir Quraisy. Semata-mata supaya meninggalkan Islam. Namun mereka tetap teguh, menukar seluruh hidupnya dengan gerbang kematian menuju keridloan Allah Swt.

Adalah Khabab bin Arat, seorang pembuat pedang yang meninggalkan kemusyrikan dan masuk Islam. Ia mengalami siksaan yang luar biasa. Syaikh Muhammad Khalid mengisahkan bahwa orang-orang kafir Quraisy mengubah semua besi yang ada di rumah Khabbab menjadi belenggu dan rantai. Lalu, mereka memasukannya ke dalam tungku hingga menyala membara. Setelah itu, mereka lilitkan ke tubuh, kedua tangan dan kedua kaki Khabbab. Siksaan yang diterima Khabbab sangatlah berat, tetapi ia lebih kuat dari siksaan tersebut.

Untuk meneruskan siksaan mereka kepada Khabbab, kaum musyrik Quraisy terpaksa meminta bantuan kepada Ummu Anmar, mantan tuan Khabbab. Wanita itu ikut menyiksa Khabbab. Ia mengambil besi panas membara, lalu menaruhnya di atas ubun-ubun Khabbab. Khabbab sangat kesakitan, namun sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya. Ia menahan nafas dan suaranya agar tidak keluar keluhan yang hanya akan membuat para algojo itu bergembira.

Rasulullah Saw menyaksikan semua siksaan yang menimpa Khabbab. Namun beliau dan kaum muslim masih belum memiliki kekuatan. Rasulullah Saw hanya bisa mendo’akannya, beliau mengangkat kedua tangannya lalu bersabda : “Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab.”

Do’a Rasulullah Saw langsung terkabul, selang beberapa hari Ummu Anmar sakit keras, ia melolong seperti anjing. Untuk mengobatinya, hanyalah dengan besi panas yang ditempelkan ke kepalanya.

Khabbab hidup lebih lama dari para penyiksanya, ia menyaksikan kegemilangan dakwah Islam. Ia wafat pada 37 H. Ketika melewati kuburan Khabbab, Ali bin Abi Thalib termenung cukup lama, wajahnya berduka lalu berkata :

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Khabbab, ia masuk Islam tanpa paksaan, ia hijrah mengikuti ketaatan, ia jalani hidup sebagai mujahid pejuang.”

Begitulah orang-orang yang ridlo terhadap Allah Swt serta Allah Swt pun ridlo terhadap mereka, mereka telah menetapkan harga matinya pada Islam semata. Kita? semoga dapat mengikuti meraka. Aamiin.

(Ary H. / 29 Muharram 1438 H)           

Minggu, 23 Oktober 2016

"Di Manakah Bendera Rasul?"

Ø£َÙ†َّ رَسُÙˆْÙ„َ اللهِ –صلعم- Ùƒَانَتْ رَايَتُÙ‡ُ سَÙˆْدَاءَ ÙˆَÙ„ِÙˆَاؤُÙ‡ُ Ø£َبْÙŠَضَ

Rayahnya (panji peperangan) Rasul saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa-nya) berwarna putih. (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

Di pagi yang cerah, Watsiq (4th) asyik menatap atlas dunia yang baru dipampang umminya di dinding ruang tamu. Seluruh gambar ia amati dengan seksama. Mulai dari lokasi Indonesia hingga Amerika ia tanyakan. Yang berkali-kali ia tanyakan adalah lokasi Amerika Selatan. Lalu, ia pun beralih ke bagian sisi-sisinya.
"Ini bendera apa Bi?" Ia pun menunjuk ke salah satu bendera negara.
Abinya pun menjawab satu persatu pertanyaan Watsiq. Tentunya setelah membaca nama negara yang tertulis di bawah bendera. Maklum, tak semua warna dan gambar bendera negara dihapal oleh abinya. Misalnya seperti bendera negara Cyprus.
"Kalau bendera Amerika, mana Bi?" Watsiq mengganti pertanyaannya.
"Kalau bendera China, mana Bi?" Ia bertanya setelah tetehnya ikut nimbrung dan menanyakan bendera China.
"Ini nih, sekarang bukan China lagi, sudah ganti nama jadi Tiongkok", jawab Abi.
"Kalau bendera Rasul, mana Bi?" Tanya Watsiq kembali.
Abi yang sedang sibuk mengabadikan momen, tidak segera menjawabnya.
"Bendera Rasul, mana Bi?" Ia bertanya kembali dengan nada yang tidak sabar.
Abi pun langsung menyimpan hpnya, demi menjawab pertanyaan Watsiq yang membutuhkan jawaban lengkap, sesuai usianya.
Seraya memutarkan tangannya di sekitar Asia, Afrika dan sebagian Eropa, abi berkata, "Bendera Rasul itu tadinya tertancap di semua wilayah ini, Nak."
"Setelah penjajah menguasai negeri-negeri ini, bergantilah bendera Rasul itu dengan bermacam-macam bendera."
"Karena itu, Ade-lah nanti yang berjuang untuk mengembalikan bendera Rasul"
Mendengar penjelasan Abi, Watsiq langsung bertanya lagi.
"Emang ada Bi, anak kecil yang berjuang?" Tanyanya.
Ummi yang sedari tadi memperhatikan tanya jawab Abi dan putranya, langsung menimpali.
"Ada Nak, di Palestina banyak anak-anak yang berjuang untuk Islam."
"Ade mau ke Palestina Bi, Ade mau ikut berjuang," ujar Watsiq dengan semangat.
"Akan ada masanya nanti Nak, saat kita kembali membebaskan Palestina," jelas Abi. Belum selesai Abi bicara, Watsiq langsung protes.
"Tapi, Ade mau bendera Rasul. Pokoknya Ade mau bendera Rasul!" Seraya ia berlari menjauh sebagai tanda protes.
"Ya sudah, ntar Abi printkan dulu ya," jelas Abi.
Abi pun langsung membuka netbooknya, googling mencari image Al Liwa dan Ar Royah. Watsiq pun dengan aktif memilih gambar yang ditampilkan oleh mesin pencari.
Watsiq memilih empat gambar, ternyata ia suka dengan gambar Al Liwa dan Ar Royah yang sedang diangkat dan berkibar, serta yang sedang di pertempuran. Setelah diprint, ia langsung menghampiri umminya untuk menempelkan 4 gambar bendera Rasulullah di samping atlas dunia.
Melihatnya, abi bergumam dalam hati. Mengucap do'a, semoga Watsiq menjadi pembela Islam yang terpercaya. Masuk dalam barisan mujahid yang mengangkat kembali panji Rasulullah Saw. Aamiin. (Ary H.)

#MadrasahRumah
#HSBAJannaty

Jumat, 21 Oktober 2016

Santri dan Islam, Tak Bisa Dipisahkan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri adalah orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yg saleh.(1) Santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan Ilmu Agama Islam di suatu tempat yang dinamakan Pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Menurut bahasa, istilah santri berasal dari bahasa Sanskerta, shastri yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata cantrik yang berarti para pembantu begawan atau resi, seorang cantrik diberi upah berupa ilmu pengetahuan oleh begawan atau resi tersebut. Tidak jauh beda dengan seorang santri yang mengabdi di Pondok Pesantren, sebagai konsekuensinya ketua Pondok Pesantren memberikan tunjangan kepada santri tersebut.(2)

Dari pemaknaan tersebut, jelaslah bahwa santri tak bisa dilepaskan dari Islam. Kemuliaan seorang santri, bukan sekedar pada status dan keilmuannya, namun ada pada Islamnya. Sehingga kebanggaan menjadi santri, sejatinya adalah karena kebanggaan menjadi muslim. Jika tidak demikian -na'udzubillahi min dzalik- maka hilanglah kemuliaan santri.

Apalagi jika merujuk kepada sejarah, penentuan hari Santri merujuk pada seruan Jihad yang dikumandangkan oleh Syaikh Hasyim Asy'ari. Pembelaan terhadap negeri yang dilandasi perintah Allah Swt. Sehingga, lebih baik mulia dalam syahadah daripada hidup 'aman sentosa' tetapi di bawah ketiak para penjajah.

Kecintaan terhadap Allah Swt, Rasul-Nya dan Islamlah yang mendorong kaum para syuhada berjihad membela negeri ini. Semata-mata karena Allah Swt yang menetapkan perintah Jihad. Bukan semata-mata dorongan semangat hidup semata. Sebagaimana yang dikatakan Khalid bin Walid r.a. kepada komandan Persia bahwa kalian akan menghadapi pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan. Inilah kemuliaan yang diberikan oleh Allah Swt kepada kaum muslim yang berjihad membela negerinya, satu di antara dua kemuliaan, yaitu terusirnya penjajah atau menjemput syahadah.

Saat ini, penjajahan terhadap negeri ini masih berlangsung. Penjajahan yang berlaku saat ini adalah penjajahan non militer. Penjajahan ideologi kapitalisme terhadap negeri-negeri Islam. Penjajahan kapitalisme dilakukan secara pemikiran dan penerapan perundang-undangan. Oleh karena itu, perjuangan melawan penjajahan masih terus berlanjut sampai sistem kapitalisme sekuler hengkang dari negeri ini.

Pembelaan para pendahulu terhadap negeri ini adalah menjaga seluruh potensi dan kekayaan negeri dari jarahan asing. Oleh karena itu, aktualisasi cinta negeri para santri sejatinya bukanlah mempertahankan sekulerisme, tetapi mendorong negeri ini berubah ke arah Islam. Karena hanya Islamlah yang bisa menyelamatkan potensi dan kekayaan negeri ini. Sekulerisme hanya akan membuat negeri ini semakin terpuruk. Tax amnesty, asuransi berkedok jaminan kesehatan, utang luar negeri yang membengkak, kerusakan lingkungan, penguasaan swasta atas 95% hutan Indonesia, semua itu adalah bagian dari penjajahan ala kapitalisme sekuler. Hal ini belum termasuk kerusakan moral, sosial, budaya dan pendidikan. Karena semuanya diarahkan pada peraihan nilai materi semata, bukan ke arah pembentukan ketaqwaan. Sehingga, tiada yang diharapkan selain Islam. Sebagaimana firman Allah Swt :

"Dan barangsiapa yang berharap kepada selain Islam sebagai diin, maka tidak akan diterima darinya. Dan dia di  Akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (TQS. Ali Imran[3] : 85)

Sekulerisme yang diterapkan di negeri ini telah membiarkan orang kafir menjadi pemimpin atas kaum mukmin. Padahal Allah Swt mengharamkannya.  Bahkan, tatkala Al Quran dihina pun, hukum yang ada pun kentara sekali tak berpihak terhadap Islam.

Jika dahulu para ulama dan santri mengemban kemuliaan dengan mengumandangkan seruan jihad mengusir penjajah Belanda, maka saat ini pun kita masih bisa mengemban keutamaan yang setara. Yakni, menyerukan kebenaran Islam kepada para penguasa negeri yang lebih condong kepada penjajah asing. Bukankah Rasulullah Saw bersabda:

"Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang haq di hadapan pemimpin yang jahat." (THR. Abu Dawud)

Inilah jihad kaum santri saat ini, berdakwah untuk menjaga pemikiran Islam serta menjadi katalisator perubahan masyarakat ke arah Islam.

Perubahan ke arah Islam yang dimaksud tiada lain adalah perubahan ke arah penerapan Syariah Islam secara menyeluruh. Sebagaimana yang dirintis oleh Rasulullah Saw di Makkah hingga Islam diterapkan di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah. Meskipun dilakukan secara pemikiran, tetapi Rasulullah Saw dan para shahabat menjadikan aktifitas dakwahnya sebagai perkara hidup dan mati. Mereka tak pernah gentar dengan aniaya, pun tak tergoda dengan iming-iming harta, tahta dan wanita. Tatkala Rasulullah Saw dirayu untuk menghentikan aktifitas dakwahnya, beliau berkata:  “Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kanan saya dan bulan ditangan kiri saya, sungguh saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan urusan (agama) ini atau saya mati karenanya.”

Kapitalisme saat ini memang makin menggurita. Begitu pula sekulerisme semakin membudaya. Tetapi santri mesti tetap bangga dengan Islam. Biar hujan berbadai, petir menggelegar, bara Islam tetap digenggam sampai mati. Karena, ialah harga mati kaum mukmin, termasuk para santri.  Allah Swt berfirman:

"Wahai sekalian orang-orang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kalian mati terkecuali dalam keadaan muslim." (TQS. Ali Imran[3] : 102).

Wallohu a'lamu bishshowwaab. (Ary H. / 20 Muharram 1437 H)

Sumber:
(1) kbbi.web.id
(2) wikipedia.id

Rabu, 19 Oktober 2016

Bukan Motivasi

Melihat anaknya yang selalu terlihat murung, Sang ibu pun bertanya kepada anaknya.
“Nak, mengapa belakangan ini kamu sering terlihat murung?” sapa Sang ibu.
“Jangan terus terpuruk seperti itu jika punya masalah, bangkitlah!” Sang ibu memotivasi.
Mendengar ucapan Sang ibu, Sang anak terdiam. Tak lama, ia pun menjawab dengan suara yang pelan,
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.”
Mendengar ucapan Sang anak, Sang ibu tak mau menyerah. Ia pun terus berusaha memotivasi anaknya.
            “Kamu pasti bisa bangkit Nak. Jangan terus larut dan tenggelam dalam masalahmu sendiri”
“Setiap orang pasti punya masalah, dan kamu pasti mampu mengarunginya.”
Sang anak malah menundukkan pandangannya, tak sedikit pun ia menatap wajah ibunya yang tersenyum penuh semangat. Lalu berkata,
            “Aku tenggelam dalam lautan luka dalam.”
Sang ibu pun mulai memahami kondisi anaknya yang sedang putus asa. Tetapi ia tetap berharap Sang anak mau bangkit dari masalah yang dihadapinya. Seraya mengusap pundak anaknya, Sang ibu berkata dengan penuh kelembutan.
            “Sedalam apapun masalahmu Nak, pasti ada jalan keluarnya.”
            “Sampaikanlah kepada Ibu, mungkin ibu bisa membantu.”
Sang anak hanya terus tertunduk tanpa senyuman. Ia tertekur dengan mata penuh kesenduan. Hanya sedikit kalimat yang keluar dari mulutnya.
            “Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang,” ujar Sang anak seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Setelah berbagai upaya motivasi yang diberikannya, Sang ibu pun mulai terbawa suasana. Satu keinginan dalam hatinya, anaknya harus bangkit dan menghadapi masalah. Tetapi, mengapa anaknya tak mau juga mengerti. Dengan nada sedikit memelas, ia kembali mengingatkan anaknya.
            “Nak, hidup ini penuh rintangan. Jika kamu gampangan seperti ini, bagaimana nanti?”
            “Ibu masih di sini bersamamu, bagaimana jika kelak ibu meninggalkanmu untuk selamanya?”
Mendengar pertanyaan Sang ibu yang begitu emosional, Sang anak hanya tertegun. Ia pun mengangkat kepalanya dengan pelan. Ia tatap mata Ibunya, lalu berkata,
            “Aku tanpamu, butiran debu,” hanya kalimat pendek itulah yang keluar dari mulutnya.
Kisah fiktif ini awalnya saya baca dari sebuah buku. Terus terang, saya lupa lagi judul dan penulis bukunya, namun semoga kisah inspiratifnya menjadi amal jariyah untuk beliau. Sengaja saya menceritakan kembali kisah ini untuk dapat diambil pelajaran.
Sejuta motivasi takkan bermakna. Jika tak ada sedikit pun keinginan yang muncul dari diri kita sendiri. Sebagaimana manusia dewasa yang tenggelam di kolam sedalam 50 cm. Hanya akan terjadi jika ia hanya berbaring pasrah, serta tak sedikit pun berusaha untuk bangkit. Ketika mulai kehabisan nafas, ia pun hanya diam. Ketika air mulai masuk ke pernafasan dan paru-paru, ia pun hanya terdiam. Tak ada keinginan untuk bangkit dan berdiri. Kolam dangkal menjadi mematikan, masalah sepele pun menjadi menakutkan.
Bagi yang tak mau bergerak dan bangkit. Semua masalah di benaknya menjadi besar. Semua mimpi dan keinginan seolah menjadi mustahil. Padahal sejuta motivasi ditujukan kepadanya, ia tetap tak mau bangkit dan bergerak. Padahal, berjuta kemudahan di balik satu kesulitan sudah merupakan sunnatullah. Allah Swt berfirman, yang artinya:
“Maka sesungguhnya bersama (satu) kesulitan itu terdapat (banyak) kemudahan. Sesungguhnya sesudah (satu) kesulitan itu terdapat (banyak) kemudahan.” (TQS Al Insyirah[94] : 5-6)
Saya sengaja menambahkan kata berkurung. Penggunaan al ‘usr (memakai alif lam/ bentuk ma’rifat) dengan yusr (tanpa alif lam/bentuk nakirah) dalam ayat tersebut mengandung makna kuantitas yang berbeda.
Tak sedikit dari kita terjebak kalimat blunder yang hanya berujung pada satu kata, yakni motivasi. “Sejuta motivasi tak berarti jika tanpa aksi. Sejuta aksi tak bernilai jika tak islami. Amal islami mudah layu jika tak istiqomah. Keistiqomahan pun mudah patah jika tanpa pengorbanan. Namun, semangat pengorbanan kadang harus terpancing oleh motivasi yang mengena diri.”  Ujung-ujungnya, motivasi lagi.
Memang benar, tak ada aktifitas/perbuatan tanpa dorongan dan motivasi. Tetapi tidaklah tepat jika kita selalu mengharapkan motivasi luar yang akan menggerakkan diri kita. Diri kita bergerak karena motivasi kita. Jika kita diam, sejuta motivasi pun tak berarti. Sebagaimana yang termaktub dalam kitab mulia, “Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah apa yang ada di dalam diri mereka.” (TQS. Ar Ra’du[13]: 11).

Semua ikhtiar merupakan pilihan kita. Akan tetapi ada beberapa hal yang tak bisa kita lupakan sebagai manusia. Sifat pelupa selalu melekat pada manusia, karena itulah kita mesti saling mengingatkan untuk selalu pada track yang benar. Jika kita menyukai aktifitas menulis, maka bergaullah dengan para penulis. Jika kita ingin menjaga keshalihan diri, bergaullah dengan orang-orang shalih. Selanjutnya, sunatullah selalu melekat. Manusia berlari karena ia belajar berjalan. Manusia berjalan karena ia belajar berdiri. Begitulah sunnatullah, untuk menjadi ahli dan pakar, kita harus menjadi pembelajar. Semoga bermanfaat.
(Ary H. – Siswa Akademi Menulis Kreatif, 18 Muharram 1438 H)