Setiap manusia akan mati, tanpa kecuali. Namun bukan berarti kita berhak untuk menyia-nyiakan hidup. Karena hidup setelah kematian sungguh jauh lebih kekal. Dan sebagai bekal menghadapinya, adalah kehidupan kita saat ini. Sehingga hakikatnya, kematian merupakan gerbang yang menentukan. Allah Swt menegaskan dalam Q.S. Ali Imran [3] : 102:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
"dan janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan Islam"
Saat ini, tak sedikit dari kita yang menyuarakan slogan harga mati. Tentu yang dimaksud adalah sesuatu yang dipegang teguh, meski harus meregangkan nyawa. Karena itulah, sesuatu yang kita jadikan harga mati harus dipastikan menjamin keselamatan kita di kehidupan selanjutnya. Jika tidak, bukan hanya kematian kita kan sia-sia, bahkan di kehidupan akhirat pun kita kan merana.
Adalah Rasulullah Saw, satu-satunya manusia utama yang bisa dijadikan teladan. Harga mati beliau bisa disimak dalam pernyataan berikut:
"Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah Islam), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, pastilah aku tidak akan meninggalkannya." (Ibnu Hisyam)
Adalah Mush'ab Bin Umair, yang dikenal dengan julukan Mush'ab Al Khair (Mush'ab yang baik). Salah satu bintang terang dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw, Sang Duta Islam pertama. Ia beberapa kali menantang maut semenjak masuk Islam. Padahal sebelum masuk Islam, ia adalah remaja yang penuh dengan kemegahan dan kesenangan. Sejak keislamannya diketahui ibundanya, ia harus berhadapan dengan preman-preman kafir Quraisy bayaran ibunya. Sampai beliau bisa meninggalkan Makkah dan hijrah ke Habasyah.
Tatkala Rasulullah Saw mengutus beliau menjadi duta Islam di Madinah, ia langsung menerimanya dengan penuh ketaatan. Ia tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, lalu mendakwahi kabilah demi kabilah yang ada di Madinah. Bukan tanpa rintangan, ketika sedang berdakwah Usaid bin Khudair, yang belum masuk Islam, langsung mengancam lehernya dengan todongan tombak. Alhamdulillah dengan kelihaian lisannya, Mush'ab Al Khair berhasil meyakinkan Usaid bin Khudair sampai ia dan kaumnya masuk Islam.
Pengorbanan Mush'ab demi kemuliaan Islam tidak hanya sampai di sana. Saat perang Uhud, Rasululullah menugaskannya untuk memegang panji hitam bertuliskan dua kalimah syahadah (ar royah). Ia mengangkatnya dengan penuh semangat kemuliaan.
Pada awalnya, perang Uhud dimenangkan kaum muslim. Namun setelah para pemanah mengabaikan perintah Rasulullah, supaya jangan meninggalkan posisinya, kaum muslim menjadi terdesak. Dalam kekacauan yang menimpa pasukan kaum muslim, Rasulullah Saw menjadi incaran kaum musyrik. Melihat orang yang dicintainya terancam, Mush'ab langsung mengangkat Ar-Royah tinggi-tinggi seraya mengayunkan pedangnya tanpa henti. Ia mengobrak-abrik pasukan kafir musyrik, mengalihkan perhatian mereka supaya tidak mengincar Rasulullah Saw. Mush'ab berperang dengan gigih. Ia tak peduli dengan resiko kematian yang dihadapinya. Datanglah seorang pasukan berkuda musuh, Ibnu Qamiah, ia menebas tangan kanan Mush’ab hingga terputus. Dengan tetap teguh, Mush’ab membaca ayat :
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (TQS. Ali Imran [3] : 144)
Mush’ab meraih Ar-Royah dengan tangan kirinya, Ibnu Qamiah pun kembali menebaskan pedangnya ke tangan kiri Mush’ab hingga terputus. Mush’ab Al Khair lalu membungkuk, mendekap Ar-Royah dengan kedua lengannya yang masih tersisa dan mendekapkan ke dadanya. Seraya membaca kembali Q.S. Ali Imran[3]: 144 :
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (TQS. Ali Imran [3] : 144)
Ibnu Qamiah kembali menyerang Mush’ab untuk yang ketiga kalinya, dengan sebuah tombak yang ia hunjamkan ke tubuh Mush’ab hingga gugur sebagai syuhada. Beginilah Mush’ab Al Khair yang telah mendermakan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Islam. Ketika melihat jenazah Mush’ab bin Umair, dengan penuh kasih sayang Rasulullah membaca firman Allah Swt :
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka kepada Allah.” (TQS. Al Ahzab[33] : 23
Ketika Rasulullah Saw sedang mengkafaninya, beliau bersabda : “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapih rambutnya daripadamu. Tetapi sekarang, rambutmu kusut dan (tubuhmu) hanya dibalut sehelai burdah.”
Begitulah salah satu bintang terang dalam rintisan peradaban Islam. Ia menetapkan harga matinya dengan tepat, pada satu-satunya jalan hidup yang diridloi oleh Allah Swt, yakni Islam.
Begitu pula yang menimpa pasangan suami istri, Yasir dan Sumayah, keduanya ditimpakan siksaan yang berat oleh para dedengkot kafir Quraisy. Semata-mata supaya meninggalkan Islam. Namun mereka tetap teguh, menukar seluruh hidupnya dengan gerbang kematian menuju keridloan Allah Swt.
Adalah Khabab bin Arat, seorang pembuat pedang yang meninggalkan kemusyrikan dan masuk Islam. Ia mengalami siksaan yang luar biasa. Syaikh Muhammad Khalid mengisahkan bahwa orang-orang kafir Quraisy mengubah semua besi yang ada di rumah Khabbab menjadi belenggu dan rantai. Lalu, mereka memasukannya ke dalam tungku hingga menyala membara. Setelah itu, mereka lilitkan ke tubuh, kedua tangan dan kedua kaki Khabbab. Siksaan yang diterima Khabbab sangatlah berat, tetapi ia lebih kuat dari siksaan tersebut.
Untuk meneruskan siksaan mereka kepada Khabbab, kaum musyrik Quraisy terpaksa meminta bantuan kepada Ummu Anmar, mantan tuan Khabbab. Wanita itu ikut menyiksa Khabbab. Ia mengambil besi panas membara, lalu menaruhnya di atas ubun-ubun Khabbab. Khabbab sangat kesakitan, namun sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya. Ia menahan nafas dan suaranya agar tidak keluar keluhan yang hanya akan membuat para algojo itu bergembira.
Rasulullah Saw menyaksikan semua siksaan yang menimpa Khabbab. Namun beliau dan kaum muslim masih belum memiliki kekuatan. Rasulullah Saw hanya bisa mendo’akannya, beliau mengangkat kedua tangannya lalu bersabda : “Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab.”
Do’a Rasulullah Saw langsung terkabul, selang beberapa hari Ummu Anmar sakit keras, ia melolong seperti anjing. Untuk mengobatinya, hanyalah dengan besi panas yang ditempelkan ke kepalanya.
Khabbab hidup lebih lama dari para penyiksanya, ia menyaksikan kegemilangan dakwah Islam. Ia wafat pada 37 H. Ketika melewati kuburan Khabbab, Ali bin Abi Thalib termenung cukup lama, wajahnya berduka lalu berkata :
“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Khabbab, ia masuk Islam tanpa paksaan, ia hijrah mengikuti ketaatan, ia jalani hidup sebagai mujahid pejuang.”
Begitulah orang-orang yang ridlo terhadap Allah Swt serta Allah Swt pun ridlo terhadap mereka, mereka telah menetapkan harga matinya pada Islam semata. Kita? semoga dapat mengikuti meraka. Aamiin.
(Ary H. / 29 Muharram 1438 H)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar