Apakah hal yang berharga bagi kebangkitan sebuah bangsa? Sumber daya alam yang melimpah? Wilayah yang strategis? Tentara dan pasukan yang kuat? Jumlah rakyat yang banyak? Ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern? Atau bahkan pertahanan dan keamanan yang mutakhir dan canggih?
Dalam kondisi bangsa Indonesia terpuruk sebagaimana saat ini, tentu tidak sedikit dari kita yang berpikir bagaimanakah supaya bangsa ini bisa bangkit?
Untuk menjawabnya cukuplah kisah dari seorang Jubair bin Nufair, tentang percakapannya dengan Abu Darda, salah seorang shahabat yang dijuluki "Orang bijak dari umat ini" oleh Rasulullah Saw.
Ketika Siprus berhasil dibebaskan (28 H) melalui tangan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, pada masa khalifah Utsman, Abu Darda terlihat menangis. Melihat kejanggalan tersebut, Jubair bin Nufair bertanya kepadanya,
"Mengapa engkau menangis pada hari Allah memberikan kemenangan dan kemuliaan kepada Islam dan kaum muslim?"
Orang bijak itu (Abu Darda, pen.) meletakkan tangannya ke bahu Jubair dan berkata,
"Betapa rendahnya makhluk-makhluk ini di hadapan Allah ketika mereka mengabaikan perintah-perintah-Nya! Bangsa ini (Bizantium) adalah bangsa yang besar dan perkasa, serta memiliki kekuasaan! Tetapi mereka melanggar hukum-hukum Allah. Maka mereka pun terpuruk dalam keadaan yang engkau bisa saksikan sekarang ini. Allah menetapkan mereka dalam penahanan. Dan bilamana Allah menetapkan taqdir-Nya, berupa penahanan seperti ini pada diri suatu umat, berarti Allah tidak peduli terhadap mereka."(al-Futuhat al-Islamiyyah, ed.terj.)
Rasulullah Saw sangat tepat menjuluki Abu Darda dengan sebutan Orang Bijak. Sikap dan ucapannya memang sangat bijak, tatkala kebanyakan orang bahagia dalam kemenangan. Ia merenung bagaimana suatu bangsa itu bisa terpuruk. Tiada lain adalah karena pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Oleh karena itu, suatu bangsa bisa bangkit dari keterpurukan hanya dengan ketaatan kepada hukum-hukum Allah. Dan itu tiada lain kecuali dengan menegakkan syariah dan khilafah. Dimana hukum-hukum Allah pasti akan diterapkan secara paripurna. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. / 1 Shafar 1438 H.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar