Cinta adalah naluriah, semua
manusia pasti merasakannya. Bayi yang baru lahir pun bisa merasakan adanya
cinta dari bundanya. Maka tak aneh bila anak PAUD pun sudah bisa bicara tentang
cinta. Apalagi di era penjajahan budaya seperti saat ini, saat cinta terumbar
di berbagai media namun dalam balutan syahwat semata.
Tadi pagi sekira sinar
mentari pagi menghangat di teras rumah. Saat pantulan sinarnya memantul di
dedaunan segar, yang terlihat di balik kaca ruang tamu. Saya duduk dan bercanda
ria di ruang tamu bersama putera ketiga saya, Muhammad Watsiq Billah. Usianya
masih dini, 4 tahun 5 bulan, namun dialog tentang cinta dengannya membuat saya
ingin berbagi cerita. Terutama untuk para remaja yang sudah bisa memilih dan
membeda.
“Bi, kalau abi cinta ummi ga?” tanyanya seiring senyumnya
yang khas nan menggoda.
“Iya cinta dong. Tak hanya ke ummi, ke Ade juga cinta, ke
kakak, ke teteh. Apalagi ke Mamih dan ke Papah.” Jawab saya agak panjang.
“Kalau cinta seperti Si Boy mah ga boleh ya Bi?” Tanyanya
lagi. Saya ga tahu ia mendapat info Si Boy dari mana. Karena televisi di rumah
tak pernah menyala, mungkin dari teman-temannya. Tapi, saya pun tahu yang ia
maksud.
“Iya dong,” baru saja saya mengiyakannya,
Ade Watsiq langsung memotongnya.
“Si Boy mah cintanya kepada
wanita-wanita yang lain-lain ya Bi,” tanyanya.
Menyimak ucapannya, saya pun sembari
berpikir, apa maksud dari “wanita-wanita yang lain-lain” yang Ade ucapkan tadi.
Seolah tahu sesaat saya berpikir, Ade pun memperjelas ucapannya.
“Mengapa abi cinta ummi, kan
dulunya ummi wanita lain?” Tanyanya.
“Oh.., saya paham maksud istilah
wanita lain yang diucapkannya. Yakni wanita ajnabi atau wanita yang bukan
mahrom,” gumam saya dalam hati.
“Kan
abi sudah menikahi ummi,” jawab saya singkat.
“Kalau cinta seperti Si Boy yang belum menikah mah, dosa
ya Bi?” Tanyanya kembali.
“Iya jelas dosa,” jawab saya.
“Dimarah sama Allah ya Bi?”
“Iya, Allah pasti marah.”
“Kalau sudah menikah mah, Allah tidak marah ya Bi?” tanyanya seolah meminta penegasan.
“Iya kalau sudah menikah mah, ga apa-apa,” jawab saya.
Seolah puas dengan jawaban
yang diberikan, ia pun langsung beralih ke aktifitas yang lain. Saya dan istri
hanya saling berpandangan, ada kebanggaan tersendiri ketika anak PAUD sudah
paham bagaimana seharusnya cinta tersalurkan.
Memahami aturan cinta itu sebenarnya
sederhana, karena anak PAUD saja terbukti bisa. Hanya tinggal kita memilih,
maukah cinta itu berada dalam keridloan Allah Swt atau dalam kemurkaan-Nya.
Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary H. – 1 Shafar 1438 H)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar