Senin, 31 Oktober 2016

Saat Anak PAUD Bicara Cinta


Cinta adalah naluriah, semua manusia pasti merasakannya. Bayi yang baru lahir pun bisa merasakan adanya cinta dari bundanya. Maka tak aneh bila anak PAUD pun sudah bisa bicara tentang cinta. Apalagi di era penjajahan budaya seperti saat ini, saat cinta terumbar di berbagai media namun dalam balutan syahwat semata.

Tadi pagi sekira sinar mentari pagi menghangat di teras rumah. Saat pantulan sinarnya memantul di dedaunan segar, yang terlihat di balik kaca ruang tamu. Saya duduk dan bercanda ria di ruang tamu bersama putera ketiga saya, Muhammad Watsiq Billah. Usianya masih dini, 4 tahun 5 bulan, namun dialog tentang cinta dengannya membuat saya ingin berbagi cerita. Terutama untuk para remaja yang sudah bisa memilih dan membeda.

                “Bi, kalau abi cinta ummi ga?” tanyanya seiring senyumnya yang  khas nan menggoda.

          “Iya cinta dong. Tak hanya ke ummi, ke Ade juga cinta, ke kakak, ke teteh. Apalagi ke Mamih dan ke Papah.” Jawab saya agak panjang.

            “Kalau cinta seperti Si Boy mah ga boleh ya Bi?” Tanyanya lagi. Saya ga tahu ia mendapat info Si Boy dari mana. Karena televisi di rumah tak pernah menyala, mungkin dari teman-temannya. Tapi, saya pun tahu yang ia maksud.

“Iya dong,” baru saja saya mengiyakannya, Ade Watsiq langsung memotongnya.

“Si Boy mah cintanya kepada wanita-wanita yang lain-lain ya Bi,” tanyanya.

Menyimak ucapannya, saya pun sembari berpikir, apa maksud dari “wanita-wanita yang lain-lain” yang Ade ucapkan tadi. Seolah tahu sesaat saya berpikir, Ade pun memperjelas ucapannya.

“Mengapa abi cinta ummi, kan dulunya ummi wanita lain?” Tanyanya.

“Oh.., saya paham maksud istilah wanita lain yang diucapkannya. Yakni wanita ajnabi atau wanita yang bukan mahrom,” gumam saya dalam hati.  

            “Kan abi sudah menikahi ummi,” jawab saya singkat.
            “Kalau cinta seperti Si Boy yang belum menikah mah, dosa ya Bi?” Tanyanya kembali.
            “Iya jelas dosa,” jawab saya.
            “Dimarah sama Allah ya Bi?”
            “Iya, Allah pasti marah.”
            “Kalau sudah menikah mah, Allah tidak marah ya Bi?” tanyanya seolah meminta penegasan.
            “Iya kalau sudah menikah mah, ga apa-apa,” jawab saya.

Seolah puas dengan jawaban yang diberikan, ia pun langsung beralih ke aktifitas yang lain. Saya dan istri hanya saling berpandangan, ada kebanggaan tersendiri ketika anak PAUD sudah paham bagaimana seharusnya cinta tersalurkan.

Memahami aturan cinta itu sebenarnya sederhana, karena anak PAUD saja terbukti bisa. Hanya tinggal kita memilih, maukah cinta itu berada dalam keridloan Allah Swt atau dalam kemurkaan-Nya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary H. – 1 Shafar 1438 H)
                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar