Minggu, 28 Agustus 2016

Vox Populi Vox Die

Para penganut demokrasi sering mempropagandakan vox populi vox dei, yang berarti suara rakyat adalah suara Tuhan. Slogan tersebut dikumandangkan sebagai perlawanan atas kelaliman Raja Louis XIV dari Perancis pada akhir abad XVII. Doktrin gereja saat itu mengajarkan bahwa raja merupakan perwakilan tuhan di bumi, sehingga segala titahnya merupakan titah tuhan yang wajib ditaati.
Dampaknya, para pendeta dan raja seringkali melakukan permufakatan jahat yang berujung pada derita rakyat. Inilah yang memicu munculnya gerakan perlawanan yang dimotori kaum cendekiawan.

Runtuhnya tirani rezim diktator di Perancis berdampak luas ke seluruh Eropa. Masa kegelapan Eropa berubah menjadi masa-masa penuh dengan kebebasan. Dogma dan doktrin kaum ortodox menjadi tidak laku lagi, tergantikan dengan eufhoria demokrasi yang lahir dari rahim sekulerisme. Kaum cendekiawan yang sedari lama terpasung, merumuskan ulang interaksi agama dan pengaturan masyarakat. Ujungnya, agama harus dibatasi pada urusan privat semata dan ditabukan dari pengaturan kehidupan masyarakat. Karena berdasarkan pengalaman mereka, agama telah terbukti hanya dijadikan stempel penguasa untuk menzalimi rakyatnya. Eropa pun meninggalkan masa kegelapannya lalu bangkit dengan sekulerisme.

Kebangkitan Barat dengan sekulerismenya seolah menjadi kiblat kebangkitan umat manusia. Apalagi setelah Inggris meruntuhkan Khilafah Utsmaniyyah pada tahun 1924. Ditambah lagi kemenangan AS atas perang dingin melawan Uni Soviet pada akhir abad XX. Negeri Islam yang sudah berkeping-keping akhirnya tersedot dalam pusaran sekulerisme. Umat Islam pun ikut-ikutan mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi. Barat mengemasnya sebagai antitesis dari sistem pemerintahan diktator. Tak sedikit kaum muslim yang ikut-ikutan menyuarakan vox populi vox dei.

Meskipun slogan vox populi vox dei sudah mulai banyak dikritisi. Suara rakyat tetaplah suara rakyat sedangkan suara tuhan tetap suara tuhan. Suara rakyat bukan suara tuhan karena rakyat bisa salah sedangkan tuhan tak pernah salah. Itulah beberapa kritikan terhadap slogan vox populi vox dei. Tetapi anehnya, tidak sedikit dari para pengkritik tersebut yang tetap berpegang pada sekulerisme. Mereka menempatkan suara tuhan hanya pada aspek ritualitas semata. Padahal, kehidupan manusia bukanlah sekedar dalam cakupan ritual semata.

Penyerahan kedaulatan mutlak kepada manusia dalam menetapkan hukum meniscayakan adanya kezaliman. Manusia yang kuat pastilah yang akan menguasai penentuan baik dan buruk. Mereka yang terdiri dari para kapitalis akhirnya mendominasi manusia yang lain. Budi Frensidy, pengamat pasar keuangan, mengutip laporan Oxfarm pada awal tahun 2015. Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa kekayaan 80 orang terkaya di dunia mencapai US$ 1,9 triliun atau lebih dari dua kali produk domestik bruto RI saat itu. Yang mencengangkan menurutnya, angka ini setara dengan kekayaan lebih dari 3 milyar penduduk dunia. Atau kekayaan satu orang di antara 80 orang terkaya sebanding dengan 40 juta orang kelompok bawah.

Tidak hanya sampai di sana. Oxfarm juga mencatat bahwa kekayaan 1 % penduduk teratas yang rata-rata US$1 2,7 juta per orang akan lebih besar dari 99% penduduk dunia lainnya. Sedangkan menurut laporan Institut Global untuk Penelitian Perkembangan Ekonomi milik PBB, sebanyak 10% populasi dunia menguasai 85% dari total aset dunia.

Kondisi Indonesia tidaklah jauh berbeda. Pada tahun 2015, Bank Dunia mencatat bahwa sebanyak 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 77% kekayaan nasional. Menurut Faisal Basri (beritatrans.com), kekayaan yang diperoleh orang kaya Indonesia tersebut diperoleh karena kedekatannya dengan penguasa.

Subsidi dihilangkan, pajak dinaikkan, BUMN dijual menjadi milik segelintir orang, utang menjerat negara miskin dan berkembang, SDA pun dieksploitasi habis-habisan. Sedangkan pada sisi yang lain, karpet merah pengampunan dan toleransi diberikan kepada para kapitalis dan pelaku tindak pidana pencucian uang, kebijakan tax amnesty salah satu buktinya.     

Sepanjang sejarah peradaban manusia, wahyu Allah Swt selalu menjadi penghapus kezaliman. Kaum Ad, Tsamud, Ashhabul Ukhdud, Namruz, Firaun, masyarakat jahilyyah Arab, semuanya menunjukkan bahwa kezaliman kerap terjadi saat manusia jauh dari aturan Allah Swt. Allah Swt mengutus para Rasul untuk membimbing manusia kembali kepada wahyu Allah Swt. Supaya seluruh manusia hidup dalam hidayah serta dinaungi keadilan.

Aqidah Islam jelas bertentangan dengan slogan vox pupuli vox dei. Apalagi jika kita merenungkan firman Allah Swt yang menegaskan bahwa jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (lih. Q.S. Al An’am[6]: 116). Dalam pandangan Islam, kebenaran bukan terletak pada pendapat mayoritas manusia. Kebenaran hanya terletak pada wahyu Allah Swt semata, bukan yang lain.

Sekulerisme yang berbuah demokrasi dan liberalisme telah nyata-nyata menciptakan kerusakan dan ketidakadilan. Vox populi vox dei hanyalah slogan menyesatkan. Selain bertentangan dengan keimanan, hakikat realitas yang terjadi adalah vox populi vox die atau suara rakyat adalah jeritan kematian. Walhasil, mari tinggalkan sekulerisme dan kembali kepada syariah Allah Swt.

(Ary H. -  Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif)

Minggu, 07 Agustus 2016

Kaya Konsep, Salah Satu Keuntungan Menulis

Ada yang menarik dari pengalaman saya hari ini (7/8/2016). Hari Ahad dengan agenda yang cukup padat. Sedari pagi sudah ada forum pertemuan dengan para tokoh dan ulama. Bersambung dari satu agenda ke agenda lainnya. Padahal, malamnya baru tidur jam 01.15 dinihari, setelah merampungkan tulisan tentang Milky Way.
Melompat dari satu agenda ke agenda yang lain, mungkin biasa. Tetapi jika ada agenda yang tidak dinyana atau dadakan, baru agak luar biasa. Begitulah yang saya alami hari ini. Ketika sedang sibuk dengan persiapan akreditasi di salah satu sekolah, tiba-tiba istri menelpon.
“Assalamu’alaikum Bi, ini anak-anak sudah pada nunggu!”
“Wa ‘alaikumussalam, ada apa gitu? Setelah jawab salam, saya balik bertanya.
“Kan sekarang Abi jadwal ngisi pengajian pemudi,” ucap istri mengingatkan.
“Ini anak-anaknya sudah pada ngumpul.”
Mendengar hal tersebut, saya cukup kaget. Karena baru ingat kalau malam itu adalah jadwal ngisi pengajian. Saya kira tetap di Rabu malam Kamis. Tapi bagaimana lagi, mau membatalkan juga tidak mungkin. Masak para remaja putri sudah niat untuk pengajian, kemudian dibubarkan begitu saja.
“Iya, abi baru beres ngprint. InsyaAllah langsung pulang,” kata saya.
Selama perjalanan, pikiran saya langsung menerawang di antara ide-ide yang berkelebatan. Akhirnya, jatuhlah pada suatu tema yaitu Milky Way. Mengapa demikian? karena semalam saya baru saja menulis tentang fenomena Milky Way yang dihubungkan dengan keimanan. Tapi sayangnya tulisan saya pendek, padahal space pengajian pemudi sampai 45 menitan. Ya ga apa-apalah, saya pikir itu juga sudah mencukupi.
Sesampainya di masjid, saya mendengar para pemudi sedang tilawah Al Quran. Ternyata yang mereka baca adalah Q.S. Al Buruuj. Saya langsung teringat tentang salah satu tulisan saya di salah satu media online, yakni tentang kisah Ashabul Ukhdud. Alhamdulillah, dengan bermodal dua tulisan yang pernah saya buat, saya pun punya konsep dalam mengisi materi sebuah pengajian.
Tapi kan pengalaman tersebut berhubungan dengan aktifitas membaca? Iya benar. Justru itulah, aktifitas menulis akan memaksa kita untuk membaca. Kemudian dengan membaca dan menulis itulah, berbagai informasi –baik berupa kisah maupun konsep- akan tertancap lebih kokoh di dalam memori kita.
Oleh karena itu, menulis bisa membuat pikiran kita menjadi kaya akan konsep. Yuk Menulis!
(Ary H. – Islamic Writer Educator @ Akademi Menulis Kreatif / 5 Dzulqo'dah 1437 H )  

Sabtu, 06 Agustus 2016

Milky Way Bukan Sekedar Pengamatan

Ada sesuatu yang baru di hari Sabtu (6/8/2016) tadi. Setidaknya itulah yang saya alami. Setelah membaca sebuah berita di salah satu surat kabar, cerita anak pulang sekolah serta status teman-teman di sosial media, ternyata ada kesamaan. Yaitu, sedang menghebohkan fenomena Milky Way. Agak sedikit penasaran juga, akhirnya saya buka-buka kembali surat kabar hari ini. Karena menurut saya, melihat keindahan langit kan sudah biasa, mengapa sekarang menjadi heboh.

Menurut Hendro Setyanto, astronom serta pengelola Imah Noong Bandung, Milky Way merupakan gugusan milyaran bintang-bintang, yang saking terangnya hingga membentuk efek selimut cahaya. Sebenarnya, fenomena itu terjadi rutin dalam setiap tahunnya, yakni pada periode bulan April hingga September.

Ternyata hebohnya fenomena Milky Way belakangan ini tidak terlepas dari Kampanye Malam Langit Gelap. Program yang diinisiasi oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ini,  dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Keantariksaan Nasional pada setiap 6 Agustus. Melalui program Malam Langit Gelap, LAPAN mengajak seluruh warga Indonesia untuk mematikan lampu serta berbagai penerangan pada Sabtu malam (6/8/2016), mulai jam 20.00 sampai 21.00. Mengapa mesti demikian? Karena fenomena Milky Way hanya bisa terlihat jika langit cerah serta didukung peniadaan polusi cahaya.

Menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, jika seluruh warga kota ikut serta dalam gerakan ini, maka sejumlah keajaiban akan tampak. Kita bisa melihat "Segitiga Musim Panas" yang terdiri dari bintang Vega, Deneb, Altair. Bintang-bintang yang tersusun dalam bentuk segitiga ini sangat legendaris. Di Jepang, gugusan ini dikenal dengan nama "Gingga". Mungkin dari istilah inilah muncul film anak-anak yang berjudul Ultraman Gingga. Selain itu, seluruh Indonesia juga bisa melihat berbagai rasi bintang dengan mata telanjang, di antaranya Angsa dan rasi Kalajengking. Bahkan khusus untuk Sabtu malam besok, Mars, Saturnus dan bintang Raksasa Merah Antares pun dapat disaksikan. Sungguh fenomena alam yang sangat luar biasa.

Entah serba kebetulan, atau memang inilah yang namanya kenikmatan iman. Saya langsung teringat dengan beberapa ayat yang dibaca pada ba’da maghrib tadi. Yakni, beberapa ayat di permulaan surat Al Mulk. Allah Swt berfirman, yang artinya :

“(Allah) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat suatu kekacauan dari ciptaan Sang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu melihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangilah pandanganmu sekali lagi dan lagi. Niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat, bahkan ia akan kembali dengan lelah. Dan sungguh kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang, dan Kami jadikannya (bintang-bintang) sebagai alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala” (TQS. Al Mulk[67]: 2-5)

Al Qurthubi mengutip Qotadah yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan bintang-bintang itu dengan tiga tujuan. Yaitu, hiasan langit, pelempar setan dan tanda petunjuk untuk di darat, laut serta waktu.

Allahu Akbar! Maha besar Allah dengan segala keagungan-Nya. Meskipun saya tidak bisa menyaksikan Milky Way tadi malam, tersebab mendung yang menutupi Kota Tasikmalaya serta banyaknya polusi cahaya. Tetapi melalui media daring, saya dapat membuka beberapa photo jepretan Milky Way di beberapa tempat. Masya Allah! Benar-benar sangat indah.

Bagi seorang muslim, keindahan alam ini selayaknya menjadi penambah keyakinan akan kekuasaan Allah Swt. Sungguh manusia itu sangat kecil dan tidak ada apa-apanya. Dibandingkan dengan berbagai benda langit saja kita benar-benar kecil, apalagi di hadapan Allah Yang Maha Besar.

Allah Swt menegaskan bahwa bintang-bintang yang sangat besar itu sebagai alat pelempar setan. Kalangan jin serta manusia yang selalu mengajak maksiat serta menentang Allah Swt. Oleh karena itulah bagi kaum mukmin, fenomena Milky Way ini bukan sekedar pengamatan yang sekuleristik, sehingga dipisahkan dari keimanan. Bahkan sebaliknya, mesti jadi bagian dari aktifitas tafakkur akan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali Imran[3]: 190)

Bagi orang-orang berakal, fenomena Milky Way bukanlah sekedar pengamatan tetapi sarana peningkatan keimanan dan ketaatan. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary H.- 4 Dzulqo'dah 1437 H - 7 Agustus 2016)

Jumat, 05 Agustus 2016

Penguasa; Antara Janji dan Tipuan

Bikin janji untuk sengaja diingkari, bisa terkategori tipuan terencana. Tetapi karena egonya, tiada orang yang mau terstigma, termasuk para penguasa. Biasanya mereka berkata bahwa kami sedang berusaha,  serta mohon dimaafkan jika belum sesuai idealita. Begitulah kerap kali terdengar jika para penguasa melanggar setiap janji kampanyenya.

Janji-janji manis diobral dalam setiap hajatan pemilihan. Tanpa obral janji, kampanye seolah tiada arti. Tentunya, tetap diiringi dengan bagi-bagi ‘rejeki’ serta penampilan para artis seksi. Semuanya bukan lagi menjadi rahasia pribadi. Ujung-ujungnya rakyat kembali gigit jari. Begitulah dunia demokrasi, janji dan ilusi menyatu dalam satu alunan melodi.

Hampir setiap kampanye, kesejahteraan dan program-program pro rakyat digembar-gemborkan. Realitanya, program pro para kapitalislah yang dilaksanakan. Rakyat kemudian ditinggalkan dalam penderitaan. Paling hanya segelintir pendukung yang mendapatkan bagian. Itu pun kalau mereka punya kedekatan. Jika tidak, siap-siap saja diacuhkan. Menjadi pemimpin dalam sistem demokrasi, benar-benar menakutkan.

Jika kita bandingkan dengan pemimpin yang diproduk oleh sistem khilafah. Sungguh kita bisa mengambil banyak ibrah. Misalnya, Umair bin Sa’ad al-Anshari Sang Kepala Daerah. Sebagaimana diceritakan dalam beberapa kisah.

Umair bukan kepala daerah yang gila fasilitas. Ketika menjabat pun ia tak meminta semua sarana dan prasarana yang serba khas. Apalagi yang jarang sekali ditemui secara bebas. Karena hanya dimiliki orang-orang kalangan atas.

Setelah setahun Umair menjadi Gubernur di Himsh, Khalifah Umar bin Al Khaththab memanggilnya. Umair berjalan tanpa alas kakinya. Sesampai di Madinah, Ukazah menuntun kedua tangannya. Tatkala Khalifah melihat keadaannya, bertanyalah beliau kepadanya :”Wahai Umair, apakah engkau sengaja membuat kami takjub kepadamu, ataukah negara ini menjadi negara yang buruk?” Umair menjawab:”Wahai Amirul Mukminin, apakah Allah tidak melarangmu untuk berterus-terang dalam berburuk sangka?” Aku datang kepadamu dengan dunia yang alasnya sangat dekat.” Dengan penuh takjub, Khalifah Umar bertanya:”Apa yang kau bawa Wahai Umair?” Umair menjawab:”Aku bersandar kepada Ukazah. Dengannya aku melawan musuh yang dijumpa. Bekal yang aku bawa di dalamnya  adalah makananku. Peralatan yang aku bawa di dalamnya adalah air minumku dan air untuk bersuciku, juga ada mangkok besar yang kugunakan untuk berwudlu, mencuci pakaianku, membersihkan kepalaku, serta dengannya aku memakan makananku. Maka demi Allah wahai Amirul Mukminin, tidak ada kenikmatan dunia lagi kecuali yang ada bersamaku.”

Umair bukan orang yang gila jabatan. Ia tak mau menjabat berkepanjangan. Sungguh ia khawatir akan penghisaban. Padahal, ia memimpin dengan penuh kezuhudan. Itu pun masih penuh dengan kekhawatiran. Dalam dialog dengan Amirul Mukminin pun terceritakan.

Tatkala Amirul Mukminin bertanya:”Apa yang engkau lakukan dalam pekerjaanmu Wahai Umair?” Umair menjawab:”Aku mengambil unta dari pemilik unta, dan jizyah dari ahlu dzimmah sementara mereka tunduk. Kemudian aku bagikan jizyah tersebut kepada kaum fakir, miskin dan ibnu sabil. Maka demi Allah Wahai Amirul Mukminin! Jika masih tersisa sesuatu di tanganku, sungguh aku berikan kepadamu.” Mendengar hal tersebut, Umar berkata kepadanya:”Kalau begitu, kembalilah engkau ke pekerjaanmu wahai Umair!” Umair menjawab:”Mudah-mudahan Allah membimbingmu Wahai Amirul Mukminin. Hendaknya engkau mengembalikan diriku kepada keluargaku dan melepaskanku dari kekuasaan ini.  Karena aku mendengar Rasulullah bersabda: ”Siapa saja penguasa yang menipu kepada rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga baginya.” Mendengarnya, Umar berkata: ”Aku akan menyerahkan urusannya kepada orang yang mewakilinya!” Setelah itu, Umar mengijinkan Umair kembali kepada keluarganya. Umair pun pulang dengan penuh gembira dan bahagia.

Umair pun bukan yang haus akan tunjangan. Anggaran negara tidak dijadikan bancakan. Kesejahteraan rakyat sangat diutamakan. Pastinya, semua itu bukanlah sekedar slogan. Benar-benar sungguhan. Tatkala Umar memberinya dua karung makanan dan dua buah pakaian. Umair ragu-ragu menolak pemberian. Kemudian Umair berkata dengan penuh ketawadhuan.

“Wahai Amirul Mukminin, aku terima dua buah pakaian. Tapi dua karung makanan itu aku tidak membutuhkan. Bagi keluargaku, satu sha gandum untuk mereka sudahlah tercukupkan.”

Sungguh, sistem Islam mampu memproduk para pemimpin yang anti janji demi sebuah tipuan. Bukan pula  para pemimpin yang penuh dengan rayuan. Tetapi, para pemimpin yang penuh dengan ketaqwaan dan kezuhudan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

(Ary H.- Penulis Binaan Akademi Menulis Kreatif / 3 Dzulqo’dah 1437 H. )

Rujukan kisah : Asy-syakhshiyyah Al Islamiyyah Ulama wa Qodah. Dr. Fathi As’ad Na’jah. Ed. Terj.