Para penganut demokrasi sering mempropagandakan vox populi vox dei, yang berarti suara rakyat adalah suara Tuhan. Slogan tersebut dikumandangkan sebagai perlawanan atas kelaliman Raja Louis XIV dari Perancis pada akhir abad XVII. Doktrin gereja saat itu mengajarkan bahwa raja merupakan perwakilan tuhan di bumi, sehingga segala titahnya merupakan titah tuhan yang wajib ditaati.
Dampaknya, para pendeta dan raja seringkali melakukan permufakatan jahat yang berujung pada derita rakyat. Inilah yang memicu munculnya gerakan perlawanan yang dimotori kaum cendekiawan.
Runtuhnya tirani rezim diktator di Perancis berdampak luas ke seluruh Eropa. Masa kegelapan Eropa berubah menjadi masa-masa penuh dengan kebebasan. Dogma dan doktrin kaum ortodox menjadi tidak laku lagi, tergantikan dengan eufhoria demokrasi yang lahir dari rahim sekulerisme. Kaum cendekiawan yang sedari lama terpasung, merumuskan ulang interaksi agama dan pengaturan masyarakat. Ujungnya, agama harus dibatasi pada urusan privat semata dan ditabukan dari pengaturan kehidupan masyarakat. Karena berdasarkan pengalaman mereka, agama telah terbukti hanya dijadikan stempel penguasa untuk menzalimi rakyatnya. Eropa pun meninggalkan masa kegelapannya lalu bangkit dengan sekulerisme.
Kebangkitan Barat dengan sekulerismenya seolah menjadi kiblat kebangkitan umat manusia. Apalagi setelah Inggris meruntuhkan Khilafah Utsmaniyyah pada tahun 1924. Ditambah lagi kemenangan AS atas perang dingin melawan Uni Soviet pada akhir abad XX. Negeri Islam yang sudah berkeping-keping akhirnya tersedot dalam pusaran sekulerisme. Umat Islam pun ikut-ikutan mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi. Barat mengemasnya sebagai antitesis dari sistem pemerintahan diktator. Tak sedikit kaum muslim yang ikut-ikutan menyuarakan vox populi vox dei.
Meskipun slogan vox populi vox dei sudah mulai banyak dikritisi. Suara rakyat tetaplah suara rakyat sedangkan suara tuhan tetap suara tuhan. Suara rakyat bukan suara tuhan karena rakyat bisa salah sedangkan tuhan tak pernah salah. Itulah beberapa kritikan terhadap slogan vox populi vox dei. Tetapi anehnya, tidak sedikit dari para pengkritik tersebut yang tetap berpegang pada sekulerisme. Mereka menempatkan suara tuhan hanya pada aspek ritualitas semata. Padahal, kehidupan manusia bukanlah sekedar dalam cakupan ritual semata.
Penyerahan kedaulatan mutlak kepada manusia dalam menetapkan hukum meniscayakan adanya kezaliman. Manusia yang kuat pastilah yang akan menguasai penentuan baik dan buruk. Mereka yang terdiri dari para kapitalis akhirnya mendominasi manusia yang lain. Budi Frensidy, pengamat pasar keuangan, mengutip laporan Oxfarm pada awal tahun 2015. Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa kekayaan 80 orang terkaya di dunia mencapai US$ 1,9 triliun atau lebih dari dua kali produk domestik bruto RI saat itu. Yang mencengangkan menurutnya, angka ini setara dengan kekayaan lebih dari 3 milyar penduduk dunia. Atau kekayaan satu orang di antara 80 orang terkaya sebanding dengan 40 juta orang kelompok bawah.
Tidak hanya sampai di sana. Oxfarm juga mencatat bahwa kekayaan 1 % penduduk teratas yang rata-rata US$1 2,7 juta per orang akan lebih besar dari 99% penduduk dunia lainnya. Sedangkan menurut laporan Institut Global untuk Penelitian Perkembangan Ekonomi milik PBB, sebanyak 10% populasi dunia menguasai 85% dari total aset dunia.
Kondisi Indonesia tidaklah jauh berbeda. Pada tahun 2015, Bank Dunia mencatat bahwa sebanyak 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 77% kekayaan nasional. Menurut Faisal Basri (beritatrans.com), kekayaan yang diperoleh orang kaya Indonesia tersebut diperoleh karena kedekatannya dengan penguasa.
Subsidi dihilangkan, pajak dinaikkan, BUMN dijual menjadi milik segelintir orang, utang menjerat negara miskin dan berkembang, SDA pun dieksploitasi habis-habisan. Sedangkan pada sisi yang lain, karpet merah pengampunan dan toleransi diberikan kepada para kapitalis dan pelaku tindak pidana pencucian uang, kebijakan tax amnesty salah satu buktinya.
Sepanjang sejarah peradaban manusia, wahyu Allah Swt selalu menjadi penghapus kezaliman. Kaum Ad, Tsamud, Ashhabul Ukhdud, Namruz, Firaun, masyarakat jahilyyah Arab, semuanya menunjukkan bahwa kezaliman kerap terjadi saat manusia jauh dari aturan Allah Swt. Allah Swt mengutus para Rasul untuk membimbing manusia kembali kepada wahyu Allah Swt. Supaya seluruh manusia hidup dalam hidayah serta dinaungi keadilan.
Aqidah Islam jelas bertentangan dengan slogan vox pupuli vox dei. Apalagi jika kita merenungkan firman Allah Swt yang menegaskan bahwa jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (lih. Q.S. Al An’am[6]: 116). Dalam pandangan Islam, kebenaran bukan terletak pada pendapat mayoritas manusia. Kebenaran hanya terletak pada wahyu Allah Swt semata, bukan yang lain.
Sekulerisme yang berbuah demokrasi dan liberalisme telah nyata-nyata menciptakan kerusakan dan ketidakadilan. Vox populi vox dei hanyalah slogan menyesatkan. Selain bertentangan dengan keimanan, hakikat realitas yang terjadi adalah vox populi vox die atau suara rakyat adalah jeritan kematian. Walhasil, mari tinggalkan sekulerisme dan kembali kepada syariah Allah Swt.
(Ary H. - Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif)