Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Agustus 2018

Pisahkan Agama dan Politik

Dalam pandangan sekulerisme, pemisahan agama dan politik merupakan suatu hal yang mutlak. Tak ada tawar menawar lagi, politik harus dibebaskan dari agama. Hal ini disebabkan karena dalam pandangan sekulerisme, politik merupakan perkara dunia. Sedangkan agama merupakan perkara langit.

Mereka beranggapan bahwa ketika perkara dunia memakai doktrin-doktrin agama, maka peracunan pemikiran akan memenuhi benak kaum miskin yang tereksploitasi oleh penguasa dan kaum kaya. Di satu sisi menaati para penguasa akan dianggap sebagai penghambaan terhadap Tuhan. Sedangkan di sisi yang lain mereka diupah dengan 'janji-janji surga' untuk bertahan dari kezaliman penguasa. Sebagaimana yang terjadi pada era kegelapan Eropa.

Trauma historis akan dark age ini sulit dilupakan. Karena sudah mendarah daging menjadi sebuah ideologi tersendiri, yakni sekulerisme. Bahkan ia meng-gebyah uyah semua agama, termasuk ketika mereka memperlakukan agama Islam.

Hanya saja ketika pemikiran sekulerisme ini masuk ke tubuh umat Islam. Banyak perkara yang akhirnya menjadi polemik. Hal ini karena terjaganya Al Quran Al Karim. Meskipun sekulerisme mendera berkali-kali bahkan mengungkung kehidupan kaum muslim, kesempurnaan ajaran Islam tetap tak bisa disembunyikan.

Memang sebagian kaum muslim ada yang memilih dan memilah dalam menyampaikan isi Al Quran, namun berbagai hal mengenai perkara politik di dalamnya tetap akan terbaca. Apalagi Assunnah serta berbagai penjelasan para ulama salaf terhadap Al Quran dan Assunnah pun tetap tertelusur secara keilmuan. Hal ini semakin menyulitkan kaum sekuler untuk menghapus pemikiran politik Islam dari benak kaum muslim.

Bukan sekulerisme namanya kalau tak lihai berkompromi. Bahkan kompromilah yang membuat ideologi ini bertahan lebih lama dibandingkan ideologi komunisme. Selain dibaca sebagai ancaman, sekulerisme membaca semangat Islam politik sebagai peluang. Tentu dengan catatan yang sangat tebal, yakni jangan sampai Islam politik menggugat sekulerisme.

Oleh karena itulah, tidak aneh jika pada satu kesempatan kaum sekuler sering menyerukan pemisahan Islam dan politik. Tetapi pada kesempatan yang lain mereka memanfaatkan semangat Islam politik untuk mempertahankan eksistensinya.

Doktrin ibadah, kesabaran, ketaatan kepada ulil amri seringkali dijadikan sebagai senjata supaya kaum muslim tetap berpegang teguh pada suatu tatanan kehidupan yang sebenarnya mengabaikan penerapan hukum Allah Ta'ala. Ujung-ujungnya tidak sedikit tokoh agama yang  tersedot ke dalam pusaran kekuasaan.

Melihat kondisi masyarakat yang semakin terpuruk meskipun dengan kehadiran para ahli agama dalam kekuasaan, kaum muslim makin apriori. "Tuh kan, kalau agama sudah dibawa ke dalam politik pasti bermasalah!" Semisal kalimat seperti itulah yang seringkali didengar kini. Akhirnya, kaum sekuler pun kembali mengambil keuntungan. Mereka makin aktif untuk mempropagandakan pemisahan agama dan politik.

Padahal Islam politik yang sebenarnya adalah mengatur berbagai sendi kehidupan dengan aturan Islam (Al Quran dan Assunnah). Yang menjadi masalah saat ini, sudahkah para ahli agama yang masuk ke dalam kekuasaan itu menerapkan aturan Islam secara paripurna? Jika belum, jangan salahkan Islam politik karena yang menjadi masalah bukanlah pemikiran Islamnya. Tetapi kita sebagai umat Islam yang belum mampu meyakinkan masyarakat akan Islam politik yang sebenarnya. Wallahu a'lamu bishshawwab.

(AryhMN - Pengelola FP Mudah Nulis)

#Islam #Politik #Ulama #Politisi #Sekulerisme

Rabu, 24 Mei 2017

Perang Gajah di Indonesia

Tulisan ini bukanlah tentang serangan ke Ka'bah yang dipimpin Raja Abrahah, atau peristiwa yang terjadi pada tahun kelahiran Rasulullah Saw. Akan tetapi tentang suatu peribahasa, yakni "Gajah Berperang Pelanduk Mati di Tengah-tengah".

Jika kita mencermati pertarungan ekonomi dunia, terutama pasca pasar bebas, ada pertarungan besar antara dua negara yang terjadi di Indonesia. Yakni, pertarungan antara Amerika dan Tiongkok.

Sejak dekade 60-an abad lalu, Amerika telah khawatir atas munculnya Cina sebagai kekuatan global. Amerika berupaya melemahkan ambisi-ambisi Cina dalam permasalahan-permasalahan regional. 

Disamping upaya Amerika untuk membatasi perluasan militeristik Cina, Amerika juga berupaya kuat membangun kemampuan India, baik sipil maupun militer untuk menghadapi Cina. Politik inilah yang digunakan Amerika dengan seluruh pemerintahan di India hingga yang loyal kepada Inggris sekalipun dan bukan loyal kepada Amerika seperti pemerintahan partai Kongres. (Umar Syarifudin, 2016).

Indonesia dengan sumber daya alam melimpah serta jumlah penduduk yang potensial, tak luput dari perebutan dua kekuatan kapitalisme ini. Kehadiran ekonomi China di Indonesia semakin kentara beberapa tahun belakangan ini, terutama setelah beberapa garapan proyek di Indonesia yang diserahkan kepada China (RRT).

Pengaruh Cina di Indoneisa mendominasi dalam dua bidang, yaitu infrastruktur dan perdagangan. Dalam pembangunan infrastruktur, Indonesia memang didominasi oleh Investasi Cina, sebut saja proyek-proyek besar seperti proyek pembangkit tenaga listrik 35.000 mega watt dan kereta cepat Bandung-Jakarta, pembangunannya dilakukan oleh perusahaan Cina. Sedangkan dominasi AS di Indonesia, ada pada bidang pasar keuangan dan pertambangan minerba dan migas. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya sumber-sumber kekayaan alam negeri ini dikuasai oleh AS, seperti Freeport yang telah mengeruk emas di Papua. (Sri Nurhayati, 2016)

Inilah perang gajah yang terjadi di negeri ini, negeri kita sendiri. Alangkah naasnya kita jika hanya berperan sebagai pelanduk, yang mati di tengah-tengah.

Indonesia harus terbebas dari apa yang dikatakan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai invisible hand, yakni kekuatan-kekuatan kapitalisme global yang menggurita dan menyerang. Karena tabiat ideologi ini adalah berdiri tegak dengan menginjak bangsa-bangsa lain. Atau bangkit dengan menghisap darah SDA dan SDM negeri lain.

Dengan kekuatan apakah Indonesia membebaskan negeri ini? Tiada lain kecuali dengan kekuatan Islam. Yang saya maksud bukan sekedar Islam dalam tataran ritual semata. Sehingga terkesan solusinya hanyalah kepasrahan dalam sabar dan do'a. Namun memunculkan kembali Islam sebagai ideologi, yakni aqidah rasional yang terpancar darinya berbagai sistem kehidupan.

Islam ideologi akan melahirkan negara ideologis. Sebuah negara yang menerapkan syariah Islam dalam berbagai sendi kehidupan. Sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem sanksi Islam hingga yang paling utama yakni sistem pemerintahan Islam atau khilafah islamiyyah. Semua sistem ini berpondasi pada aqidah Islamiyyah, karena pondasi aqidah inilah yang menjadi kekuatan utamanya. Kekuatan ruhiyyah yang berpijak pada kesadaran manusia sebagai hamba Allah Swt. Kekuatan yang telah membuat negara Islam Madinah berdiri tegak di hadapan imperium Persia dan Romawi. Bukan menjadi pelanduk, tetapi menjadi penakluk gajah-gajah yang berperang. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. - 11 Shafar 1438 H)

Sabtu, 11 Februari 2017

Vazal

sumber gambar : hr[dot]wikipedia[dot]org

Istilah vazal dituliskan oleh Buya Hamka di lembaran terakhir buku Sejarah Umat Islam jilid IV (1951). Pada bagian penutup, Buya menyampaikan bahwa dengan gagah dan gigih, dalam rentang 100 tahun, bangsa Belanda yang kecil dapat memancangkan kekuatannya di Nusantara. Kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Mataram, Banten, Cirebon, Maluku dan Sulawesi dapat dikalahkan dan berangsur-angsur menjadi vazal, yang naik karena dinaikkan Belanda dan hidup karena dihidupi Belanda.1)
Vazal (Slovak); Vazal merupakan sinonim leenman (Belanda), vassal (Inggris) semuanya bermakna pengikut (Indonesia). Dalam KBBI, vasal dimaknai 1. bersifat terikat; dan 2. negara (daerah) taklukan.2) Vasal adalah seseorang yang menjalin hubungan dengan monarki yang berkuasa –biasanya dalam bentuk dukungan militer, perlindungan bersama (mutual protection) atau pembayaran upeti, serta menerima jaminan dan imbalan tertentu sebagai gantinya.3) Adapun negara vasal adalah negara yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan negara lain secara internasional. Jika negara vasal diserang negara lain, maka negara pelindung akan membantu negara vazal tersebut. Saat ini, istilah yang lebih umum adalah negara boneka, protektorat atau negara asosiasi.4)
Dalam sejarah feodalisme Eropa, vazal merupakan sebutan terhadap bangsawan yang memiliki posisi lebih rendah daripada bangsawan penguasa. Para vazal diwajibkan menyetor upeti kepada bangsawan penguasa, yang mereka tarik dari rakyat melalui para anak buahnya.5) Terbentuklah piramida hierarki kekuasaan yang meletakkan rakyat dalam posisi terbawah. Rakyat mesti menanggung beban dan menjadi bahan eksploitasi manusia lain yang berada di atasnya. Mereka diperas tenaganya, hartanya, sumber daya alamnya, hanya untuk memenuhi pundi-pundi kekayaan kaum bangsawan penguasa.
Sejarah seolah berulang. Selama manusia mengatur diri mereka sendiri, selama itu pula penjajahan akan terus berlangsung. Dengan kekuatan modal dan kekuasaannya, segelintir manusia menindas mayoritas manusia lainnya.
Pakar Ekonomi Islam, Dwi Condro, dalam tulisan “Jurus-jurus Kapitalisme Menguasai Dunia” (2012) menjelaskan bahwa perbankan dan saham dijadikan sebagai ‘mesin penyedot uang’ para pengusaha besar. Kemudian dengan modal perbankan dan saham tersebut, para kapitalis menguasai usaha dari hulu hingga ke hilir. Perusahaan-perusahaan kecil pun  lama-kelamaan akan gulung tikar. Tak hanya sampai di sana, para kapitalis pun mencaplok BUMN. Mereka memuluskan langkahnya dengan berlomba-lomba menjadi penguasa. Selanjutnya, mereka melebarkan sayap usahanya ke negara-negara miskin. 6)
Masih menurut Dwi Condro, para kapitalis mendirikan Multi National Corporation untuk mengeruk sumber daya alam negara-negara miskin. Supaya sumber daya alam bisa dibeli dengan murah, kurs mata uang negara jarahan pun dijatuhkan. Liberalisasi pendidikan dijalankan sehingga banyak siswa yang tak bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Sekolah kejuruan pun diperbanyak, tujuannya supaya banyak orang yang memiliki keahlian dan bisa dibayar dengan upah yang lebih murah. Selanjutnya, untuk menjaga daya beli masyarakat, para kapitalis dunia mengembangkan Non Goverment Organization (NGO) atau LSM untuk membina masyarakat negara-negara miskin. Mereka dibina agar bisa mengembangkan industri-industri kecil (rumahan) sehingga masih dapat memiliki penghasilan. Jika krisis ekonomi melanda, para kapitalis memaksa pemerintah untuk mengucurkan dana talangan (bail out) yang bersumber dari pajak rakyat. Begitulah jurus-jurus kapitalisme untuk  menguasai dunia. 7)
Bagaimanakah para kapitalis dunia memuluskan semua jurus tersebut? di sinilah peran para vazal diperlukan. Vazal yang naik karena dinaikkan para kapitalis dan hidup karena dihidupi para kapitalis. Jika dulu penjajahan dilakukan oleh kerajaan Belanda, kini dilanjutkan oleh AS dan sekutunya. Jika dulu AS tanpa saingan, kini Tiongkok mulai menyainginya. Namun tetap saja, mereka membutuhkan para vazal. Vazal-vazal tumbuh bermunculan, dari satu tuan menjadi tuan yang lain serta dari satu pemeran berganti menjadi pemeran yang lain. Wallahu a’lamu bishshowwaab.

Daftar pustaka :  
  1. Sejarah Umat Islam, Hamka.
  2. http://kbbi.web.id/vasal
  3. wikipedia[dot]org
  4. Idem
  5. www.serbasejarah.wordpress[dot]com. Dalam tulisan berjudul “Feodalisme ; Jurus Ampuh Kolonialisasi Hindia Belanda.”
  6. Jurnal Al Waie, Maret 2012.
  7. Idem

Jumat, 05 Agustus 2016

Penguasa; Antara Janji dan Tipuan

Bikin janji untuk sengaja diingkari, bisa terkategori tipuan terencana. Tetapi karena egonya, tiada orang yang mau terstigma, termasuk para penguasa. Biasanya mereka berkata bahwa kami sedang berusaha,  serta mohon dimaafkan jika belum sesuai idealita. Begitulah kerap kali terdengar jika para penguasa melanggar setiap janji kampanyenya.

Janji-janji manis diobral dalam setiap hajatan pemilihan. Tanpa obral janji, kampanye seolah tiada arti. Tentunya, tetap diiringi dengan bagi-bagi ‘rejeki’ serta penampilan para artis seksi. Semuanya bukan lagi menjadi rahasia pribadi. Ujung-ujungnya rakyat kembali gigit jari. Begitulah dunia demokrasi, janji dan ilusi menyatu dalam satu alunan melodi.

Hampir setiap kampanye, kesejahteraan dan program-program pro rakyat digembar-gemborkan. Realitanya, program pro para kapitalislah yang dilaksanakan. Rakyat kemudian ditinggalkan dalam penderitaan. Paling hanya segelintir pendukung yang mendapatkan bagian. Itu pun kalau mereka punya kedekatan. Jika tidak, siap-siap saja diacuhkan. Menjadi pemimpin dalam sistem demokrasi, benar-benar menakutkan.

Jika kita bandingkan dengan pemimpin yang diproduk oleh sistem khilafah. Sungguh kita bisa mengambil banyak ibrah. Misalnya, Umair bin Sa’ad al-Anshari Sang Kepala Daerah. Sebagaimana diceritakan dalam beberapa kisah.

Umair bukan kepala daerah yang gila fasilitas. Ketika menjabat pun ia tak meminta semua sarana dan prasarana yang serba khas. Apalagi yang jarang sekali ditemui secara bebas. Karena hanya dimiliki orang-orang kalangan atas.

Setelah setahun Umair menjadi Gubernur di Himsh, Khalifah Umar bin Al Khaththab memanggilnya. Umair berjalan tanpa alas kakinya. Sesampai di Madinah, Ukazah menuntun kedua tangannya. Tatkala Khalifah melihat keadaannya, bertanyalah beliau kepadanya :”Wahai Umair, apakah engkau sengaja membuat kami takjub kepadamu, ataukah negara ini menjadi negara yang buruk?” Umair menjawab:”Wahai Amirul Mukminin, apakah Allah tidak melarangmu untuk berterus-terang dalam berburuk sangka?” Aku datang kepadamu dengan dunia yang alasnya sangat dekat.” Dengan penuh takjub, Khalifah Umar bertanya:”Apa yang kau bawa Wahai Umair?” Umair menjawab:”Aku bersandar kepada Ukazah. Dengannya aku melawan musuh yang dijumpa. Bekal yang aku bawa di dalamnya  adalah makananku. Peralatan yang aku bawa di dalamnya adalah air minumku dan air untuk bersuciku, juga ada mangkok besar yang kugunakan untuk berwudlu, mencuci pakaianku, membersihkan kepalaku, serta dengannya aku memakan makananku. Maka demi Allah wahai Amirul Mukminin, tidak ada kenikmatan dunia lagi kecuali yang ada bersamaku.”

Umair bukan orang yang gila jabatan. Ia tak mau menjabat berkepanjangan. Sungguh ia khawatir akan penghisaban. Padahal, ia memimpin dengan penuh kezuhudan. Itu pun masih penuh dengan kekhawatiran. Dalam dialog dengan Amirul Mukminin pun terceritakan.

Tatkala Amirul Mukminin bertanya:”Apa yang engkau lakukan dalam pekerjaanmu Wahai Umair?” Umair menjawab:”Aku mengambil unta dari pemilik unta, dan jizyah dari ahlu dzimmah sementara mereka tunduk. Kemudian aku bagikan jizyah tersebut kepada kaum fakir, miskin dan ibnu sabil. Maka demi Allah Wahai Amirul Mukminin! Jika masih tersisa sesuatu di tanganku, sungguh aku berikan kepadamu.” Mendengar hal tersebut, Umar berkata kepadanya:”Kalau begitu, kembalilah engkau ke pekerjaanmu wahai Umair!” Umair menjawab:”Mudah-mudahan Allah membimbingmu Wahai Amirul Mukminin. Hendaknya engkau mengembalikan diriku kepada keluargaku dan melepaskanku dari kekuasaan ini.  Karena aku mendengar Rasulullah bersabda: ”Siapa saja penguasa yang menipu kepada rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga baginya.” Mendengarnya, Umar berkata: ”Aku akan menyerahkan urusannya kepada orang yang mewakilinya!” Setelah itu, Umar mengijinkan Umair kembali kepada keluarganya. Umair pun pulang dengan penuh gembira dan bahagia.

Umair pun bukan yang haus akan tunjangan. Anggaran negara tidak dijadikan bancakan. Kesejahteraan rakyat sangat diutamakan. Pastinya, semua itu bukanlah sekedar slogan. Benar-benar sungguhan. Tatkala Umar memberinya dua karung makanan dan dua buah pakaian. Umair ragu-ragu menolak pemberian. Kemudian Umair berkata dengan penuh ketawadhuan.

“Wahai Amirul Mukminin, aku terima dua buah pakaian. Tapi dua karung makanan itu aku tidak membutuhkan. Bagi keluargaku, satu sha gandum untuk mereka sudahlah tercukupkan.”

Sungguh, sistem Islam mampu memproduk para pemimpin yang anti janji demi sebuah tipuan. Bukan pula  para pemimpin yang penuh dengan rayuan. Tetapi, para pemimpin yang penuh dengan ketaqwaan dan kezuhudan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

(Ary H.- Penulis Binaan Akademi Menulis Kreatif / 3 Dzulqo’dah 1437 H. )

Rujukan kisah : Asy-syakhshiyyah Al Islamiyyah Ulama wa Qodah. Dr. Fathi As’ad Na’jah. Ed. Terj.


Senin, 13 Juni 2016

Penjara Besar Umat Islam

Kondisi umat Islam saat ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. Umat Islam dikerubuti bagaikan makanan yang dihidangkan. Tidak hanya negara besar seperti AS, negara kecil seperti Burma saja berani kurang ajar terhadap umat Islam. Padahal umat Islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat dunia. Pada tahun 2012, tercatat 22,43 % dari populasi manusia di dunia adalah umat Islam, sekitar 2,1 milyar orang warga dunia beragama Islam. Jauh di atas agama-agama yang lain. Umat Islam bagaikan buih di lautan, sangat banyak tetapi segera hilang tatkala terhempas ke pinggiran pantai.


Ketika ada saudaranya menjerit dan meminta tolong, umat Islam di belahan bumi yang lain seakan tak bisa berbuat apa-apa. Konsep satu tubuh yang disabdakan oleh Rasulullah Saw hanyalah idealita dan bukan realita. Membayangkannya bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Sesuatu yang mustahil. Padahal, tidak mungkin Rasulullah Saw bersabda sesuatu yang mengawang-awang. Konsep satu tubuh umat Islam, pasti bisa diwujudkan. Baik secara normatif maupun historis, kesatuan umat Islam bukanlah hal yang mustahil. Negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah Saw, kemudian dilanjutkan oleh para shahabat serta para khalifah setelahnya, terbukti telah menggentarkan negara besar Persia dan Romawi. Negara Islam pun menjadi negara pemimpin di dunia selama 13 abad lamanya.  


Umat Islam tak berdaya karena terpenjara. Menurut Farid Wajdi (Menantang Amerika, 2010), setidaknya ada tiga penjara besar yang mengungkung umat Islam saat ini. Pertama, nasionalisme dengan konsep negara bangsa. Kedua, Para penguasa negeri Islam yang berkhianat kepada Allah Swt, Rasulullah Saw dan umat Islam. Ketiga, sistem internasional yang dipimpin oleh AS dengan ideologi kapitalismenya.


Pertama, nasionalisme dengan konsep negara bangsa telah mematikan rasa persaudaraan umat Islam. Dengan nasionalisme, umat Islam memandang kemuliaan hanya pada kebangsaannya. Umat Islam menganggap lebih mulia non muslim yang sebangsa, dibandingkan dengan muslim yang tidak sebangsa. Non muslim sebangsa lebih berhak untuk dibantu dan dijadikan saudara, dibandingkan dengan muslim yang tidak sebangsa.


Nasionalisme menjadi racun bagi persaudaraan umat Islam yang hakiki. Ia telah mematikan rasa persaudaraan umat. Pada tahun 2015 kita sempat menyaksikan penolakan beberapa penguasa di negeri Islam terhadap kaum muslim Rohingya yang terkatung di lautan lepas. Alasannya hampir mirip, persoalan bangsa masing-masing pun masih menumpuk. Kedatangan para manusia perahu ke wilayahnya hanya akan menambah problem masing-masing bangsa.


Sebelum era penjajahan Eropa, semua negeri Islam asalnya berada dalam satu kekhilafahan. Para penjajah melepaskan wilayah khilafah satu demi satu dengan penuh penipuan. Misalnya ketika memasuki Mesir, Napoleon Bonaparte berkata : “Kalian akan diberitahu, bahwa saya datang untuk menghancurkan agama kamu; jangan percaya itu ! Saya lebih menghargai Tuhan, Nabi dan  Al Quran bahkan dibanding para raja.” Padahal ia datang untuk menduduki negeri Mesir serta menjajahnya. Para penjajah itu membagi-bagi eks wilayah khilafah. Kemudian mereka menanamkan racun nasionalisme. Kaum muslim pun mengadopsi konsep negara bangsa sehingga matilah rasa persaudaran hakiki umat Islam.


Persoalan Palestina, Afghanistan, Irak, Myanmar, Suriah, Mesir, Yaman hanyalah persoalan luar negeri yang tidak berhubungan dengan kepentingan nasional kita. Kita hanya mengurusi kepentingan nasional kita sendiri. Sikap inilah yang membuat kita lemah. Padahal jika umat Islam sedunia bersatu serta berada di bawah satu komando. Umat Islam bisa mengirimkan jutaan tentara untuk membantu saudaranya yang teraniaya di negeri lain. Dengan ketaatan kepada Allah Swt serta kerinduan syahid di jalan-Nya, pasukan Islam akan menjadi pasukan yang ditakuti. Sebagaimana pasukan Romawi yang takut terhadap pasukan Islam, meskipun jumlah pasukan Romawi berkali-kali lipat lebih banyak.


Kedua, Para penguasa negeri Islam yang berkhianat kepada Allah Swt, Rasulullah Saw dan umat Islam. Sebagian besar penguasa negeri ini telah menjadi antek penjajah AS. Mereka menyambut baik seruan AS untuk memerangi kaum muslim Suriah, dengan dalih memerangi ISIS. Tetapi diam seribu bahasa selama berpuluh-puluh tahun terhadap jeritan saudara muslim Palestina. Membantu Palestina hanya laksana ritual menjelang kampanye. Tidak menjadi upaya serius dengan mengirimkan bantuan militer serta mengirimkan pasukan pembebas.


Padahal Rasulullah Saw telah bersabda : “Sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya. Jika ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan berbuat adil maka ia akan mendapatkan pahala. Namun jika ia memerintahkan selain itu maka ia akan mendapat dosa karenanya.“ (THR. Muslim). Rasulullah Saw pun memberi contoh dengan memberikan hukuman yang pantas terhadap Bani Quraidzah. Mereka telah menusuk umat Islam dari dalam. Begitupun diikuti oleh Khalifah Mu’tashim Billah yang mengirimkan pasukan karena ada muslimah yang dianiaya non muslim.


Sungguh ! AS dan Israel tidak akan semena-mena terhadap umat Islam jika ada para penguasa yang menjadi pelindung umat Islam.


Ketiga, sistem internasional yang dipimpin oleh AS dengan ideologi kapitalismenya. Dengan dalih hukum internasional, para penjajah membuat lembaga-lembaga internasional. Lembaga-lembaga tersebut menjadi kepanjangan tangan para penjajah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi alat AS untuk menduduki negeri Islam. Pasukan kaum muslim hanya bisa berada di belakang PBB. Pasukan tersebut dikendalikan AS dengan dalih pasukan perdamaian. Mereka pun sama sekali tidak bisa membantu saudara mereka yang dibantai.


Lembaga PBB pun mandul. Semua resolusinya hanya menjadi retorika untuk menutupi keborokannya. Fakta berbicara, banyak sekali resolusi PBB yang diabaikan oleh Israel, dan PBB tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, ia pun lemah tak berdaya tatkala AS membombardir Afghanistan, Irak serta Suriah, membunuhi jutaan kaum muslim yang tak berdosa.



Kaum muslim mesti melepaskan diri dari penjara-penjara besar tersebut. Caranya tidak lain dengan mewujudkan kembali khilafah Islamiyyah. Khilafah akan mengikat kaum muslim dengan ikatan tali (agama) Allah, yakni Al Quran dan Assunnah. Sistem khilafah pula yang akan melahirkan pemimpin yang siap disumpah setia untuk taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, serta menyelesaikan perselisihan masyarakat hanya merujuk pada Al Quran dan Assunnah. Khilafah akan mengakhiri penjajahan AS dengan ideologi kapitalismenya, membawa Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.  Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan, 13/6/2016).

Jumat, 06 Mei 2016

Kesatuan Wilayah Indonesia; Harga Mati !

Potensi disintegrasi dan separatisme di Indonesia semakin menguat. Hal ini sudah terbaca dari semenjak pengumuman kabinet kerja Jokowi yang pertama kali, sesaat setelah beliau dilantik. Gertakan disintegrasi dan separatisme langsung muncul dari berbagai daerah. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Bahkan ancaman tersebut pun terucap dari seorang ketua DPRD. Padahal sebelumnya sudah ada Aceh, Papua, Sumatera Utara, Riau dan NTT.
Khusus terkait kasus Papua, Pemerintah RI seolah semakin tak berdaya. Tuntutan Papua merdeka semakin menjadi-jadi. Pada hari Rabu, 13 April 2016 telah berlangsung demonstrasi secara besar-besaran yang melibatkan ribuan orang. Unjuk rasa untuk kali ini lebih dari biasanya. Kalau selama ini yang orasi hanya dari perwakilan mahasiswa, mama-mama Papua, aktivis Papua Merdeka dan lainnya, maka  kali ini orasi dilakukan oleh pesebakbola Papua dan dosen Fisip Universitas Cenderawasih,Jayapura. Mereka berteriak Papua Merdeka di muka umum. (www.tempo.co/13/4/2016).
Bahkan pada akhir tahun 2015, aksi tuntutan Papua merdeka itu dilakukan di pusat ibukota. Anehnya, meskipun terjadi bentrokan dengan aparat, hal ini sepi dari kecaman kaum nasionalis. Seorang da’i asal Papua, sekaligus  Presiden Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ust. Fadlan R. Garamatan mempertanyakan hal tersebut. “Ketika ada demo menodai NKRI oleh OPM, Nasionalis tak bersuara tapi ketika bicara Syariah Islam Nasionalis ribut,” tegas beliau melalui akun ‏@fadlannuuwaar. (www.intelejen.co.id.)
Memang benar, orang-orang yang sering teriak “NKRI harga mati” seolah diam dengan tuntutan Papua merdeka. Bahkan, seorang pendiri JIL Ulil Abshar Abdalla, yang sering sinis terhadap perjuangan penegakkan syariah dan khilafah, malahan mendukung disintegrasi Papua. Terkait Papua, ia berkomentar bahwa ibarat kehidupan perkawinan, kalau salah satu pasangan tak mau lagi bertahan dalam ikatan perkawinan, masak harus dipaksa. (www.arrahmah.com/17/06/2012).
Berbagai penolakan terhadap gerakan Papua merdeka tersebut justru  muncul dari orang-orang yang pro terhadap penegakkan Syariah dan Khilafah. Jadi, siapa sebenarnya yang lebih cinta Indonesia?

Biang Masalah Disintegrasi
Munculnya ancaman disintegrasi dan gerakan separatis di Indonesia seperti GAM di Aceh, RMS di Maluku dan OPM di Papua lebih disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi yang dirasakan oleh rakyat di wilayah-wilayah tersebut akibat kegagalan Pemerintah dalam mensejahterakan mereka. Padahal, seperti di Aceh dan Papua, kekayaan sumberdaya alam sangat melimpah-ruah. Sayang, kekayaan itu lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang dan perusahaan-perusahaan asing.
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) melaporkan bahwa berdasarkan catatan Badan Pemeriksa keuangan (BPK) dominasi asing di sektor Migas 70%, batu bara, bauksit, nikel dan timah 75%, tembaga dan emas sebesar 85% serta diperkebunan sawit sebesar 50%. Jumlah ini menunjukkan bahwa betapa lemahnya posisi pemerintah untuk melindungi aset Negara. Selain itu peran pemerintah untuk mencegah terjadinya konflik agraria di sektor pertambangan juga sangat lemah. Pada tahun 2013 Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat ada 38 konflik di sektor pertambangan dengan luas konflik 197.365,90 ha.
Pertambangan di daerah pun tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan daerah tersebut. Sebagai contoh, Direktur Indonesian Reseources Studies (IRESS), Marwan Batubara dalam www.tambang.co.id mengatakan bahwa keuntungan yang didapat PT. Freeport Indonesia dari hasil tambangnya di Papua mencapai Rp 4000 triliun. Hal ini dihitung dari hasil laporan cadangan mineral PT. FI di tahun 2010. Selanjutnya, data tahun 2005 mengungkapkan, potensi Grasberg (yang dieksploitasi sejak 1988) sekitar 2,822 juta ton metrik bijih. Ini belum termasuk potensi Ertsberg yang diperkirakan mencapai 50 juta ton bijih, dan ini sudah dieksploitasi dari 1967-1988. Akan tetapi kita dapat saksikan bahwa pada saat yang sama, orang-orang Papua di sekitarnya banyak yang miskin, bahkan sebagiannya mengalami kelaparan.
Itulah hasil ketidakadilan yang diciptakan oleh sistem ekonomi kapitalisme liberal. Ironisnya, sistem inilah yang justru tetap dipertahankan oleh Pemerintah RI melalui demokrasi. Oleh karena itu, tepat jika Sekretaris DPD II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kab. Ciamis menyatakan bahwa demokrasi sebagai senjata ampuh disintegrasi papua. Karena menurut beliau nilai penting demokrasi yakni hak menentukan nasib sendiri, telah terbukti sukses memisahkan Timor-Timur dari Indonesia (13/03/2016). Selain itu, jika kita cermati berbagai kebijakan Pemerintah yang semakin proaktif dalam melakukan privatisasi (menjual) BUMN, yang notabene milik rakyat dan menjadi sumber pemasukan negara, semuanya berjalan mulus dan dilegalisasi melalui mekanisme demokrasi.  

Pandangan Syariah Islam
Dalam pandangan syariah Islam, SDA yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti minyak bumi, emas, perak tambaga dll dalam jumlah besar adalah milik rakyat. SDA tersebut tidak boleh diserahkan kepada pihak swasta, apalagi pihak asing. Negara juga hanya berhak mengelolanya bukan untuk memilikinya, karena seluruh hasilnya harus diserahkan kepada rakyat. Rasulullah saw. bersabda: “Manusia bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: hutan, air dan energi.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).
Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab nidzomul hukmi fil Islam menjelaskan bahwa keuangan seluruh wilayah negara dalam Islam akan dianggap satu. Begitu pula anggaran belanjanya akan diberikan secara sama untuk kepentingan seluruh rakyat, tanpa melihat daerahnya. Seandainya ada wilayah yang memiliki pendapatan besar, sementara kebutuhannya kecil, maka wilayah tersebut akan diberi anggaran sesuai dengan kebutuhannya, bukan berdasarkan besarnya pendapatan. Seandainya ada wilayah yang pendapatan daerahnya tidak bisa mencukupi kebutuhannya, maka negara Islam tidak akan memaksanya untuk mengirimkan pendapatannya ke pusat. Tetapi wilayah tersebut tetap akan diberi anggaran belanja dari belanja negara, sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Baik pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhannya, ataupun tidak.

Islam Mewajibkan Kesatuan Wilayah
Munculnya berbagai gerakan separatis di Indonesia pun tidak terlepas dari campur tangan asing. Sebagaimana yang terjadi pada gerakan separatisme Aceh, Papua, Maluku dan Timor Timur (yang sudah terlepas lebih dulu). Direktur Eksekutif Global Future Institute, Hendrajit menyampaikan bahwa pembukaan kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Inggris pada Mei setahun yang lalu dihadiri dihadiri oleh Walikota Oxford Mohammaed Niaz Abbasi, anggota Parlemen Inggris, Andrew Smith, dan mantan Walikota Oxford, Elise Benjamin. “Kami akan bekerja sama dengan orang-orang di kantor baru kami di Port Moresby, PNG pada strategi menuju tujuan penentuan nasib sendiri bagi Papua Barat.” Ujar Andrew Smith pada acara pembukaan kantor OPM tersebut. Kemudian sejak pertengahan 2000-an, US House of Representatives, telah mengagendakan agar DPR Amerika tersebut mengeluarkan rancangan Foreign Relation Authorization Act (FRAA) yahg secara spesifik memuat referensi khusus mengenai Papua. Referensi ini pun telah menyusun goal setting sampai pada referendum Papua.
Adapun Islam telah mewajibkan kaum muslim untuk bersatu sebagai satu umat. Allah swt. berfirman dalam Q.S. al-Anbiya' [21]: 92 yang artinya: “Sesungguhnya umat kalian adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku”. Kemudian dalam Q.S. Ali Imran [3]: 103, yang artinya : “dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” Karena itu, meski mempunyai latar belakang etnis, bangsa dan bahasa yang berbeda, umat Islam adalah umat yang satu. Karena mereka mempunyai Tuhan yang sama (Allah swt.), kitab suci yang sama (Al Quran), Nabi yang sama (Muhammad saw.), kiblat yang sama (Ka'bah) dan agama yang sama (Islam).
Islam bukan hanya menetapkan umatnya sebagai satu umat, bahkan mewajibkan mereka bersatu di bawah naungan satu kepemimpinan, yaitu Khilafah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., yang artinya: “Berpegang teguhlah pada jamaah kaum Muslim dan imam/khalifah mereka) (HR Ibn Majjah). Islam juga menetapkan bahwa mati untuk membela harta, termasuk wilayah kaum muslim adalah mati syahid. Ini dinyatakan dalam hadits Nabi, “Siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia mati syahid.” (THR Muslim, Ibn Hibban, Ahmad). Harta kekayaan pribadi, umum maupun negara, merupakan harta kaum muslim. Termasuk wilayah negeri-negeri Islam, semuanya merupakan harta kaum muslim. Karena itu, mempertahankan harta tersebut, termasuk keutuhannya agar tidak pecah, dan dicaplok pihak lain, hukumnya wajib. Mati karenanya pun dinyatakan oleh Islam sebagai mati syahid. Karena itu menurut Islam, persatuan dan kesatuan negeri kaum muslim –termasuk kesatuan wilayah Indonesia- merupakan harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

Walhasil, kapitalisme liberal dan imperialisme asing-lah yang sebenarnya menjadi biang disintegrasi dan separatisme di Indonesia. Adapun penerapan Syariah dan Khilafah justru menawarkan pemerataan kesejahteraan rakyat dan kesatuan wilayah negeri ini. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan).

Minggu, 21 Februari 2016

Pengaruh Sekulerisme Terhadap Ekonomi


Sekulerisme adalah pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan. Dikatakan demikian karena dalam pandangan sekulerisme, kehidupan dunia ini harus dipisahkan dengan pandangan akan sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Jika pun seseorang meyakini bahwasanya dunia dan seisinya diciptakan oleh Tuhan, ia tidak perlu mempertimbangkan hal itu dalam kehidupan dunianya, selain hanya aktifitas ritual semata. Begitu pula ketika ia meyakini bahwa manusia akan dikembalikan kepada Tuhan, maka hal itu tidak perlu diikutkan dalam kehidupan dunianya, selain keyakinan adanya pengampunan dosa. Keyakinannya terhadap Tuhan tidaklah berpengaruh pada seluruh aktifitasnya, selain aktifitas ritual, do’a dan permohonan ampunan.

Pandangan seperti ini tentu akan membuat seluruh tatanan kehidupan tidak dibangun di atas dasar agama. Karena itulah, dari pandangan hidup sekulerisme terlahir liberalisme (ide kebebasan). Liberalisme merasuk dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam ekonomi. Sistem ekonomia liberal ini pun dikenal dengan sistem ekonomi kapitalisme.

Pandangan utama liberalisme dalam ekonomi adalah pemberian kebebasan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dinikmati secara fisik. Manusia tidak perlu terikat dengan aturan Tuhan serta manusia harus dibebaskan untuk menikmati apapun. Pembatasan terhadap manusia merupakan pengekangan yang ditabukan. Sehingga terlahir pandangan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas. Semakin banyak manusia menikmati materi semakin banyak lagi yang ia butuhkan.

Berdasar pada kebutuhan manusia yang tidak terbatas inilah timbul problem kelangkaan relatif. Karena berbagai alat pemuas kebutuhan yang ada tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Alat pemuas kebutuhan yang dimaksud bisa berupa barang atau jasa. Barang seperti makanan, pakaian, minuman dan sebagainya. Adapun jasa seperti layanan dokter, supir dan sebagainya.

Pandangan kelangkaan relatif ini meniscayakan adanya aktifitas produksi. Produksi dilakukan untuk memperbanyak alat pemuas kebutuhan yang sudah ada, atau mengembangkannya menjadi produk lain.

Kebutuhan manusia akan barang/jasa memunculkan adanya nilai pada suatu barang/jasa. Setiap barang/jasa yang dibutuhkan manusia dianggap memiliki nilai. Meskipun hanya sedikit orang yang membutuhkan barang/jasa itu ada, tetap dianggap bernilai. Predikat nilai harus terbebas dari keyakinan, dogma dan doktrin apapun, termasuk agama. Bahkan pandangan para cendekiawan dan ilmuwan pun harus diabaikan, karena fokusnya adalah pada kebutuhan manusia. Selama ada yang membutuhkan barang dan jasa, maka ia bernilai dan layak diproduksi dan diperjualbelikan. Misalnya,  minuman keras sudah jelas merusak, baik dalam pandangan agama maupun ilmuwan. Tetapi karena ada sebagian orang yang membutuhkan maka masih dianggap bernilai. Begitu pula dalam dunia jasa, seperti pornografi dan pelacuran. Keduanya jelas sudah menimbulkan kerusakan di tengah masyarakat, tetapi tetap dianggap bernilai karena masih ada yang membutuhkannya. Inilah yang dimaksud dengan nilai guna.

Tidak semua manusia mampu memproduksi barang yang ia butuhkan. Oleh karena itu, mesti terjadi pertukaran barang/jasa di tengah masayarakat. Suatu barang bisa ditukar dengan barang yang lain. Misal, beras bisa ditukar dengan jagung. Begitu pula seekor domba bisa ditukar dengan alat-alat pertanian. Sehingga ada nilai tukar dari suatu barang.

Bagi para ekonom kapitalis, kajian tentang nilai suatu barang/jasa -baik nilai guna dan nilai tukar- sangatlah penting. Karena terkait interaksi manusia dengan alat pemuas kebutuhannya. Dari nilai suatu barang ini pula akan muncul penilaian aktifitas yang produktif dan non produktif. Aktifitas produktif adalah aktifitas manusia yang bisa menghasilkan nilai pada suatu barang/jasa, atau menambah nilai pada suatu barang/jasa.

Manusia semakin modern, pertukaran barang/jasa di antara mereka sudah menggunakan alat tukar (uang). Predikat nilai barang/jasa pun ditakar dengan uang, inilah yang dimaksud dengan harga. Jika nilai tukar barang/jasa dinisbatkan dengan barang/jasa lainnya, maka harga barang/jasa hanya dinisbatkan pada uang.

Sehingga, ekonomi yang terlahir dari sekulerisme dibangun atas tiga pilar. Yakni, problem kelangkaan relatif, nilai serta harga yang ada pada alat pemuas kebutuhan. Semua pilar-pilar tersebut terfokus pada materi semata.

Kebutuhan manusia yang diakui hanyalah kebutuhan fisik. Kebutuhan ma’nawiyah berupa pujian dan kebutuhan spiritual berupa aktifitas ibadah, sama sekali tidak mendapat perhatian dalam sistem ekonomi kapitalisme.

Sekulerisme juga tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan, padahal keduanya jelas berbeda. Kebutuhan merupakan kebutuhan fisik yang muncul dari tubuh manusia, yang jika tidak dipenuhi bisa menimbulkan kerusakan fisik manusia, misal makan dan minum. Sedangkan keinginan tidaklah demikian adanya, ia hanya muncul dari naluri eksistensi diri manusia. Misal ketika manusia haus, yang dibutuhkan tubuh manusia adalah air, lebih dari itu adalah keinginan. Sehingga, kapitalisme pun tidak membahas kebutuhan manusia pada apa yang seharusnya diperlukan manusia, tetapi pada apa yang diinginkan semata. Sebagai contoh, pornografi yang sudah jelas-jelas merusak tetap saja dianggap bermanfaat. Semata karena ada yang menginginkannya. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan, sumber bacaan : Muqoddimah Sistem Ekonomi Islam, Hafidz Abdurrahman, Al-Azhar)

  

  

Selasa, 22 Desember 2015

Islamophobia di Balik Terorisme


Berdasarkan warning dari FBI dan Australia Federal Office, akhirnya Densus 88 antiteror mabes Polri menangkap  terduga teroris di sejumlah tempat pada Sabtu (19/12). Seperti biasanya, terduga teroris pun dikaitkan dengan pesantren, ustadz, bendera hitam bertuliskan kalimah tauhid dan ISIS. Ujung-ujungnya, Islam dan kaum muslim. Sebagaimana yang pernah penulis sampaikan bahwa dampak ISIS adalah monsterisasi Islam. Dan, semakin hari semakin terlihat siapa sebenarnya di balik ISIS, tidak lain adalah sang dalang terorisme itu sendiri (baca : Amerika Serikat).

Untuk melemahkan revolusi Suriah, Amerika Serikat mengkotak-kotakkan perjuangan rakyat Suriah. Sebagai tabir penutup kepalsuannya, AS pun mendorong dunia untuk menjadikan ISIS sebagai musuh bersama. Terakhir, 34 negara muslim berkoalisi menyambut seruan AS. Ternyata target koalisi 34 negara muslim itu bukanlah hanya ISIS, tetapi ditujukan juga terhadap para pejuang Islam lainnya, yang notabene sangat berseberangan dengan ISIS. Dengan kemunculan ISIS, AS membawa negara-negara dunia ke arah ‘perang dunia ketiga’, yakni perang di bawah pimpinan AS melawan terorisme. Hanya saja, jika perang dunia pertama dan kedua terdiri dari suatu blok negara yang melawan blok negara yang lain. Sedangkan perang melawan terorisme merupakan perang AS melawan paranoid kebangkitan Islam. 

Hal ini sudah terbaca jauh-jauh hari dari Grand strategy baru Amerika Serikat. Grand strategy yang dicanangkan sejak berakhirnya Perang Dingin ini memiliki tujuh elemen. Pengamat politik internasional, Budi Mulyana, mengutip lima dari tujuh elemen tersebut, yaitu : Pertama, mempertahankan dunia unipolar, dan harus mencegah munculnya kompetitor baru di Eropa dan Asia. Kedua, terorisme merupakan ancaman baru. Ketiga, mengganti konsep pencegahan (deterrence) Perang Dingin. Saat ini, pencegahan, kedaulatan, dan perimbangan kekuatan harus berjalan bersama. Karena ancaman saat ini bukan negara adikuasa, tapi jaringan teroris transnasional. Keempat, memaknai ulang arti kedaulatan. Karena kelompok-kelompok teroris tidak dapat ditangkal. Amerika Serikat harus disiapkan untuk melakukan intervensi di mana-mana, kapan saja bertindak lebih dahulu menghancurkan ancaman. Kelima, Amerika Serikat perlu memainkan peran langsung dan leluasa untuk memusnahkan ancaman.

Jelas bahwa AS menggunakan terorisme sebagai senjata perang ideologinya terhadap Islam. Paul Wolfowitz pernah menyatakan bahwa ''Saat ini, kita sedang bertempur melawan teror-perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar yang kita hadapi adalah perang pemikiran. Jelas suatu tantangan, tapi juga harus kita menangkan.'' Donald Rumsfeld, juga pernah berbicara  tentang keberadaan tentara Amerika Serikat di Irak bahwa ''Jika tentara Amerika Serikat keluar dari Irak segera, Irak akan menjadi surga bagi teroris dan menjadi basis penyebaran Negara adidaya Islam yang akan mengancam dunia.... Irak akan menjadi basis negara Khilafah yang baru yang akan meluas ke Timur Tengah. Serta Presiden Amerika Serikat, George W Bush, pada tanggal 6 Oktober 2005 menyebutkan dengan menyamakan perang melawan terorisme saat ini dengan perang melawan komunisme. Baginya, ideologi pembunuh Islam radikal adalah tantangan terbesar dari abad baru kita.

Amerika Serikat, sekutu dan para agennya pun terus berupaya memalingkan manusia dari Islam. Mereka menciptakan islamophobia di tengah masyarakat. Terorisme, radikalisme dan berbagai tindakan kekerasan lainnya selalu diidentikkan dengan Islam. Khilafah atau negara Islam, Jihad, Syariah, Ar royah (bendera hitam bertuliskan kalimah tauhid), sampai kitab suci Al Quran,  merupakan simbol-simbol Islam yang selalu diserang. Stigmatisasi terhadap pesantren, rohis, situs Islam online dan berbagai kegiatan kajian keislaman terus dilakukan sampai saat ini. Inilah kriminalisasi simbol-simbol Islam.
Kriminalisasi Islam dan simbol-simbolnya ini memiliki target yang jelas, yakni menjauhkan Islam dari masyarakat. Karena perbuatan setiap manusia akan tergantung pada pemikirannya. Jika seseorang sudah menganggap syariah sebagai sesuatu yang menakutkan, serta termakan monsterisasi kegiatan keislaman. Maka, tentu saja ia akan semakin menjauh dari Islam.
Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa AS, sekutu dan para agennya memaknai terorisme secara opportunistik. Jika ada oknum kaum muslim yang melakukan aksi kekerasan bahkan baru terduga, media-media mereka pun mem-blow up-nya habis-habisan. Tetapi, jika pelakunya bukanlah kaum muslim, beritanya disembunyikan dan ditenggelamkan. Bahkan, genosida yang dilakukan AS dan sekutumya di Irak, Afghanistan, Palestina, Suriah dan negeri-negeri muslim lainnya, media mainstream tidak menyebutnya sebagai tindakan terorisme. Sungguh biadab.

Padahal kalau kita kaji secara faktual, terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror. Jadi, stigmatisasi Islam dan kaum muslim dengan istilah terorisme merupakan sesuatu yang tendensius.  Hal  itu tidak sesuai dengan fakta yang ada dan juga tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dari ajaran Islam. Allah SWT berfirman : "Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (TQS Al Anbiyaa` : 107). serta firman Allah Swt : "Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim." (TQS An Nahl : 89).

Islam adalah agama yang sangat menghargai hidup manusia. Karenanya, Islam sangat melarang pembunuhan jiwa tanpa hak. Islam pun menetapkan sanksi yang tegas kepada pelakunya. Oleh karena itu, aktifitas penyerangan bersenjata di negeri yang tidak dalam kondisi perang, semisal Indonesia, jelas dilarang Islam.

Islam merupakan agama yang sempurna. Allah Swt telah menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridloi-Nya. Islam anti terhadap tatanan kehidupan yang penuh penjajahan dan penindasan, Allah Swt menyebutnya sebagai hukum jahiliyyah. Imam Suyuthi menjelaskan bahwa kondisi kaum jahiliyyah pada saat itu, kaum yang kuat menindas yang lemah di antara mereka. Kaum terpandang mengeksploitasi budak-budak mereka. Allah Swt berfirman, yang artinya “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki?” (TQS. Al Maidah[5]: 50). Pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) pasti akan memunculkan penjajahan sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, serta penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Karena jika keluar dari standar wahyu, standar yang akan dipakai manusia pasti hanyalah hawa nafsunya.

Islam anti penjajahan.  Sebagaimana yang disampaikan oleh Rabi bin Amir di hadapan panglima Rustum, dengan tegas ia sampaikan bahwa dakwah Islam bertujuan untuk membebaskan seluruh manusia, dari penghambaan kepada sesama manusia menjadi menghamba hanya kepada Allah Swt semata.

Tidaklah aneh jika negara-negara penjajah Barat sangat membenci Islam. Karena hanya Islam-lah yang akan membuat masyarakat dunia bangkit melawan penjajahannya. Apalagi, jika perlawanan ini berwujud nyata dalam negara khilafah yang menerapkan Syariah secara kaffah.
Inilah urgensi pelabelan terorisme terhadap Islam, bagi negara penjajah AS. Karena tegaknya syariah dan khilafah bermakna berakhirnya penjajahan mereka terhadap negeri kaum muslim. Berakhir pula seluruh perampokan SDA besar-besaran yang mereka lakukan di negeri-negeri muslim. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary H.)

Sabtu, 28 November 2015

Mewujudkan Nol Persen Mihol

Minuman beralkohol (Mihol) sudah sangat membuat gerah dan jengah masyarakat. Bagaimana tidak, minuman haram ini telah menjadi pemicu tingginya angka kriminalitas di berbagai daerah. Bahkan, 80 persen tindakan kriminal di Maluku dipicu oleh Mihol. Selain itu, korban berjatuhan karenanya juga bukan terbilang sedikit. Pada tahun 2013, sekitar 18.000 orang mati sia-sia karena menenggaknya.
Ditinjau dari aspek kesehatan, Mihol mengakibatkan berbagai dampak negatif berbahaya. Dari mulai  pembengkakan dan kanker hati, sampai pada kerusakan otak yang berujung pada depresi dan frustasi. Konsumsi Mihol juga dapat menurunkan fungsi alat indra serta mengakibatkan  kebutaan.  Selain itu, mempercepat osteoporosis, kerusakan sistem pencernaan, over dosis, kecanduan, serta berbagai hal berbahaya lainnya. Semua dampak negatif tersebut pada ujungnya bermuara pada kematian.
Islam mengkategorikan Mihol ke dalam khamr.  Allah Swt mengharamkannya dengan qarinah (indikasi) yang sangat tegas, menyebutnya rijsun min ‘amali sy-syaithon/keji dari perbuatan setan                            (lih. Q.S. Al Maidah[5] : 90). Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ali bin Abu Thalhah menjelaskan bahwa rijsun bermakna sukhtun (kebencian), adapun Said bin Zubair memaknainya sebagai itsmun (dosa).  
Ibnu Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram.” (THR. Muslim). Hal ini juga ditegaskan oleh Jabir bin Abdullah r.a., bahwa Rasulullah bersabda : “Apa saja yang banyaknya memabukkan maka yang sedikitnya adalah haram.” (THR. Abu Dawud).
Berbagai langkah yang telah dilakukan umat Islam untuk menghentikan peredaran miras, patut diapresiasi. Misalnya atas desakan ulama dan masyarakat, pada tanggal 24 Agustus 2015, pemerintah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengesahkan Perda Nomor 7 Tahun 2015 tentang Minuman Beralkohol (Mihol). Kemudian, diikuti dengan penerbitan Perwalkotnya pada tanggal 23 November 2015. Berbagai daerah pun tercatat telah menerbitkannya terlebih dulu.
Meskipun terlahir berbagai Perda Mihol atau Perda Miras dari berbagai daerah, pemberantasannya secara total masih diragukan. Selain efek jera yang belum optimal, pemerintah pusat pun masih belum berniat serius memberantasnya. Karena secara umum, mihol di Indonesia masih terkategori barang yang legal. Dalam Perpres No. 74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol ditetapkan bahwa minuman beralkohol golongan A (kadar etanol 0-5 %) dibebaskan dalam produksi, pengedaran dan penjualannya. Sedangkan, minuman beralkohol yang diawasi hanya golongan B (kadar etanol 5-20 %) dan C (kadar etanol 20-55 %). Pengawasan yang dilakukan pun bukanlah berarti pelarangan. Adanya kontradiksi Perda dengan Perpres ini tentu akan berpengaruh pada keseriusan pemberantasan Mihol, terutama dalam pemrosesan hukum. Ujungnya, efek jera yang diharapkan dari penegakkan hukum tidak tercapai. Mestinya, jika pemerintah RI serius memberantas Mihol, penghentian import, penutupan total seluruh pabrik dan tempat penjualannya, akan sangat tepat sasaran.
Legalisasi (baca : penghalalan) Mihol di negeri ini tidak terlepas dari pandangan kaum kapitalis terhadap nilai suatu barang. Menurut pandangan mereka, jika suatu barang memiliki kegunaan, barang tersebut layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Barang yang memiliki kegunaan adalah segala sesuatu yang diinginkan. Baik yang bersifat primer, sekunder maupun tersier. Baik yang dianggap memberikan kepuasan bagi sebagian orang, sedangkan bagi orang lain merupakan sesuatu yang membahayakan. Dengan demikian, Mihol pun masih terkategori barang yang memiliki nilai guna, karena dianggap mampu memenuhi kebutuhan manusia. Mereka tidak peduli dengan penilaian agama yang mengharamkan khamr.
Kaum kapitalis pun mengidentikkan antara kebutuhan dan keinginan. Sehingga, setiap keinginan manusia dianggap sebagai kebutuhan yang harus disediakan alat pemuas kebutuhannya. Termasuk, ketika ada rakyat yang menginginkan Mihol, hal itu dianggap sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.  Padahal faktanya, terdapat perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Sebagai contoh, lapar dan haus menuntut kebutuhan. Lapar membutuhkan makan dan haus membutuhkan minum.  Sehingga ketika orang merasa lapar maka ia membutuhkan makanan. Begitu pula ketika orang merasa haus maka ia membutuhkan minuman. Untuk orang yang haus, beberapa gelas air cukup untuk memenuhi kebutuhannya, lebih dari itu bukanlah kebutuhan tetapi keinginan. Orang pun bisa memilih dan memilah jenis minuman apa yang dibutuhkan tubuh dan yang membahayakan tubuh. Mengkonsumsi Mihol bukanlah memenuhi kebutuhan, melainkan hanya sekedar melampiaskan keinginan.
Terlahirnya berbagai Perda Mihol di beberapa daerah belumlah dapat mewujudkan nol persen Mihol di negeri ini. Karena, selama pemikiran ekonomi ala kaum kapitalis sekuler masih dipertahankan dan dilestarikan, mihol akan terus diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi. Bahkan diimpor, ditarik pajaknya, dimahalkan harganya, serta dilakukan pembinaan terhadap perkumpulan/aliansi para pengusahanya. Bukan diharamkan.
Perjuangan masih harus dilanjutkan. Dengan dakwah yang bersifat pemikiran, meruntuhkan tatanan sistem kehidupan ala kapitalisme yang berakar pada ideologi sekulerisme, hingga tergantikan dengan sistem kehidupan Islam yang terlahir dari aqidah Islamiyyah. Hanya di dalam tatanan masyarakat yang menerapkan syariah Islam secara paripurna, setiap barang haram -termasuk Mihol (yang terkategori khamr)- tidak akan bernilai guna, terlarang peredarannya serta sanksi yang sangat tegas bagi para pelanggarnya. Wallohu a’lamu bishshowwaab.


(Ary Herawan, Ketua Lembaga Pendidikan Islam Ar-Rahman Perum Baitul Marhamah 3 Kota Tasikmalaya)

Senin, 09 November 2015

"Freeport Mencengkeram, Quo Vadis Bela Negara?”

“Freeport itu hanya sebagian kecil dari cengkeraman penjajahan. Jika dulu Indonesia dijajah oleh Belanda. Sekarang dijajah oleh yang namanya kapitalisme, ” tegas M. Ali Andrias, Kaprodi Ilmu Politik FISIP Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya.

Pernyataan ini beliau sampaikan dalam acara Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) di Aula Masjid Al Mujahidin, yang di adakan DPD II HTI Kota Tasikmalaya (8/11/2015).

Beliau pun menambahkan bahwa cengkeraman asing di bidang migas lebih banyak lagi. Contohnya adalah kunjungan Condolize Rice, yang terbukti bisa mempengaruhi Presiden RI untuk memberikan blok cepu kepada Exxon mobile.  Dari pernyataan ini, penulis menyimpulkan bahwa penjajahan kapitalisme –yang dipimpin AS- terhadap negeri ini adalah nyata. Kenyataan ini sudah disadari dan dirasakan oleh siapapun yang mencintai negeri ini.

Penjajahan adalah suatu bentuk kezaliman sekelompok manusia terhadap manusia yang lain. Sehingga para pendahulu kita, pahlawan negeri ini, sangat membencinya. Mereka berani berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mengusir para penjajah. Hatta tatkala Belanda membonceng sekutu untuk kembali melakukan penjajahan. KH. Hasyim Asy’ari rahimahullah menggelorakan seruan jihad yang disambut oleh para pemuda muslim, seperti Bung Tomo.

Belanda terusir, AS pun datang dengan penjajahan non fisiknya. Dengan balutan investasi dan kucuran utang luar negeri, mereka mulai menjerat negeri ini. Kemudian, dengan doktrin demokrasi, cengkeraman penjajahannya pun semakin menguat. Karena ruh demokrasi adalah liberalisasi dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi. Dengan memanfaatkan doktrin tersebut, AS memaksakan berbagai UU yang berpihak kepada asing. Berlindung di balik perundang-undangan tersebut, para penjajah semakin leluasa mengeruk kekayaan negeri ini, tanpa takut terusir sedikit pun, termasuk PT. Freeport.

Padahal eksploitasi emas yang dilakukan PT. Freeport sangat merugikan Indonesia. A. Mufti Nur Habib, pembicara dari DPD II HTI Kota Tasikmalaya, memaparkan beberapa fakta yang merugikan tersebut. Di antaranya, keuntungan real PT. Freeport yang valid tidak pernah bisa ditelusuri oleh pemerintah, bahkan BPK pun tidak bisa mengaudit Freeport, karena regulasinya tidak membolehkan.

Selanjutnya, deviden untuk pemerintah sangat kecil. Total dividen yang diterima pemerintah dari Freeport sejak 1992-2011 hanya sebesar USD 1,287 miliar. Demikian pula saham pemerintah di PT Freeport, hanya sekitar 9,36 persen. Itu artinya pada jangka waktu yang sama, PT Freeport menerima deviden USD 12,87 miliar dolar alias 10 kali lipat daripada yang didapat pemerintah. Parahnya, ternyata selama 2012-2014 PT Freeport tidak memenuhi kewajibannya untuk menyetor dividen kepada pemerintah, dan itu dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Bahkan, pada saat Pemerintah Propinsi Papua menagih pajak daerah Freeport sebesar 2,7 T (untuk periode 2009 – 2014), Freeport hanya mau membayar 7,5 M saja.

Bela Negara

Senada dengan yang disampaikan pembicara pertama, A. Mufti Nur Habib menegaskan bahwa PT. Freeport merupakan simbol kerakusan, arogansi dan penjajahan AS terhadap negeri ini. Lalu, quo vadis (mau ke manakah) bela negara yang selama ini digembar-gemborkan? Bila pada kenyataannya, penjajahan dan eksploitasi terhadap kekayaan negeri ini justru terjadi karena regulasi pemerintah sendiri.

Padahal program bela negara yang digagas oleh Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, beralasan wawasan kebangsaan yang sudah mulai luntur. Harapannya, terbentuk kader-kader bela negara yang bertugas melakukan pertahanan negara, jika sewaktu-waktu negara mendapat ancaman nyata maupun belum nyata.

Penjajahan baru (neo imperialisme) ala AS terhadap negeri ini merupakan ancaman nyata. Dampaknya, dirasakan setiap saat oleh rakyat Indonesia. Rakyat yang telah menyatakan dengan lantang bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Penulis teringat sebuah pernyataan dari Syaikh Ahmad Athiyyat dalam kitab Ath Thariq. Beliau menjelaskan bahwa adanya kezaliman tidak akan mendorong terjadinya perubahan, tetapi merasakan adanya kezaliman itulah yang akan mendorong terjadinya perubahan. Namun, merasakan kezaliman tidaklah cukup secara fisik, seperti mengecap rasa manis dan pahit oleh mulut. Ia mesti dirasakan oleh penginderaan yang bersumber dari pemahaman (ihsaasul fikri).

Neoimperialisme AS tidak bisa dilawan hanya dengan merasakannya secara fisik semata. Karena jika kita sedemikian adanya, tetapi masih berpaham laksana penjajah, semua itu hanya akan membuat kita semakin kebal terhadap penjajahan.

Karena itulah, HTI sering menyampaikan bahwa penjajahan kapitalisme berlindung di balik demokrasi. Untuk melawannya, hanya dengan menerapkan syariah Islam secara paripurna dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah bentuk pembelaan HTI terhadap negeri tercinta Indonesia. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

Kabar Priangan, 9 November 2015

(Ary Herawan, Ketua DPD II HTI Kota Tasikmalaya)

Jumat, 06 November 2015

Perilaku Erdogan dalam Timbangan Syara

Sebagian orang menduga bahwasanya orang sekuler nomor satu di Turki, Erdogan, memerintah berdasarkan Islam.  Sehingga, penting bagi kita untuk menimbangnya berdasarkan syara, karena ia adalah rujukan tatkala terjadi perselisihan. Allah Swt berfirman :

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Artinya :
“Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (TQS. An Nisa[4] : 59)
Ketika kita mengetahui bahwa ia telah memerintah dengan Islam maka kita akan mencintainya, karena ia telah bersama Allah dan syariat-Nya. Adapun ketika ternyata ia memerintah dengan sekulerisme maka kita akan membencinya dan mengambil pelajaran darinya, karena Rasul yang mulia saw bersabda :

 ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار
Artinya :
“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman : Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya. Jika ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya selain karena Allah semata. Dan, ia benci kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al Bukhari dari Anas bin Malik r.a.)

Berikut ini adalah beberapa perilaku Erdogan. Untuk menghukuminya, kita bisa menempatkan timbangan syariat. Apakah berbagai perilaku tersebut islami ataukah murni sekuler.

     1.  Erdogan Menerapkan Sekulerisme dan Tidak Menerapkan Hukum Syara’ :
Bahwasanya sistem pemerintahan Turki merupakan salinan dari sistem pemerintahan Barat, tidak menyimpang sedikitpun darinya. Seluruh lembaga negara tidak mengenal apapun selain undang-undang sekuler. Serta tidak terdapat satu pun undang-undang Erdogan yang berasal dari Islam. Seluruh perundangan tersebut bahkan merupakan bagian dari ideologi sekulerisme dan ideologi Musthafa Kamal, bukan bagian dari hukum Allah.

     2.  Pengkhianatan Erdogan Terhadap Islam dan Urusan Kaum Muslim.
Dengan penerapan sekulerismenya, Erdogan telah memerangi Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Ia menampakkan dirinya sebagai pelindung sekulerisme Turki. Meskipun sebagian kaum fanatik menganggapnya berbaju Islam. Padahal ia secara tegas mengatakan  bahwasanya ia adalah seorang sekuler. Dan yang lebih mengkhawatirkan, jika sebagian orang ikut-ikutan, kemudian mengatakan bahwa Obama telah Islam. Padahal kita tahu bahwa permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslim sangatlah besar ! 

     3.  Erdogan Membunuh Kaum Muslim di Afghanistan, Syam dan Irak.
Tentara Turki telah terlibat dalam pembunuhan penduduk Afghanistan, hingga aspek pertemanan mereka dengan kaum kafir di NATO. Turki telah menjadi komandan NATO sebanyak dua kali, yang terakhir pada era Erdogan. Di mana ia mengumumkan bergabung dengan koalisi salibis di bawah pimpinan Amerika, untuk melakukan pembunuhan terhadap kaum muslim di Irak dan Syam dengan dalih memerangi terorisme (Islam). Mereka membunuhi kaum muslim dengan darah dingin. Padahal Allah Swt berfirman :

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Artinya :
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar.” (TQS. An Nisa[4] : 93)

     4.  Erdogan Memerangi Islam dan Khilafah
Sesungguhnya Erdogan merupakan penjaga sekulerisme yang terpercaya di Turki, serta kepercayaan para tuan kafir. Ia memerangi para pengemban dakwah dengan seluruh kekuatan dan kekerasan. Bukan karena alasan apapun, selain karena  mereka (para pengemban dakwah, terj) menghendaki Turki kembali sebagaimana pada masa Khilafah, memimpin dunia kembali. Setelah Erdogan bersandiwara untuk konspirasi kaum kafir, menjadi pusat persenjataan mereka untuk memerangi Islam dan kaum muslim. Serta negara lemah yang memohon Eropa untuk memasukannya dalam Uni Eropa sesuai syarat yang mereka inginkan. Lalu Eropa menolak hal tersebut karena memperhitungkan khilafah Utsmaniyyah dengan beribu perhitungan.
Di sinilah dia menjebloskan para syabab Hizbut Tahrir ke pusat-pusat penahanan dan penjara-penjara.  Lalu menetapkan hukum-hukum sekuler yang keras terhadap mereka.

     5.  Erdogan Adalah Antek Amerika di Turki untuk Kekuasaan Amerika.
Aktifitas bantuan Erdogan untuk Amerika adalah nyata. Ia mengamankan sekulerisme dan demokrasinya, serta menerapkannya di Turki dalam seluruh aspek kehidupan. Ia melaksanakan agenda Amerika dan garis-garis kebijakannya dengan teliti. Ia menjaga kepentingan Amerika, serta merasa cemas ketika itu tertimpa bahaya. Amerika menyebut Erdogan sebagai model istimewa bagi penguasa sekuler, dibandingkan para penguasa kaum muslim lainnya. 

     6.  Erdogan dan Hubungan Pertemanannya dengan Intitusi Yahudi
Turki adalah negara pertama yang mengakui institusi Yahudi pada tahun 1948 M, langsung setelah negara-negara Barat. Lalu menjalin hubungan khusus dengannya. Pada Era Erdogan, hubungan tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya. Volume perdagangan antara Erdogan dan institusi Yahudi telah meningkat. Bersama Yahudi, ia pun menjalin hubungan militer dan keamanan, memordenisasi pesawat-pesawat Turki. Padahal intitusi Yahudi tersebut adalah pemerkosa Palestina dan tidak berhenti menumpahkan darah puluhan ribu penduduknya ! Keberadaan duta besar Yahudi di Turki adalah bukti nyata atas hubungan khusus antara teman-temannya. Adapun ucapan-ucapan lisan dan air mata buaya yang dicucurkan Erdogan hanyalah untuk meningkatkan jumlah suaranya dalam pemilu.
 
     7.  Erdogan adalah Teman Setia Musuh Rasulullah Saw.
Rasmusen, Perdana Menteri Denmark, merupakan musuh Allah. Dua kali penghinaan terhadap Rasulullah Saw terjadi pada era pemerintahannya. Pada saat itu, Hizbut Tahrir Denmark mengumpulkan 25.000 tanda tangan untuk diserahkan kepada Kementerian HAM, supaya pelaku penghinaan terhadap Rasulullah Saw dieksekusi sesuai pendapat kaum muslim, karena hukum menghina Rasulullah Saw adalah hukuman mati. Akan tetapi, kementerian menolak itu. Rasmusen pun marah, ia mengirimkan seruan yang ditayangkan melalui televisi, mengundang para jurnalis Eropa untuk menyiapkan penyebaran kartun penghinaan terhadap Rasulullah Saw dengan dalih kebebasan berpendapat yang demokratis. Setelah fase pemerintahannya berakhir di Denmark, karena permusuhannya terhadap Islam seperti Abu Jahal, negara-negara Barat menunjuknya sebagai pemimpin aliansi NATO untuk memerangi kaum muslim sesuai permintaan Barat. Dan kunjungan pertama Si Pendosa itu adalah ke temannya, Erdogan, yang menerimanya dengan penuh kehangatan dan menyenangkan. Padahal, ia adalah pimpinan aliansi NATO yang membunuhi kaum muslim di Afghanistan. 

     8.  Erdogan Memerangi Kegiatan Hizbut Tahrir untuk Membantu Revolusi Suriah
Erdogan dan orang yang di atasnya telah menyerukan perlawanan dan pencegahan terhadap revolusi Suriah, sebagaimana yang dilakukan Iran dan Suriah. Betapapun terdapat  tali dusta yang lemah, ketika ia memerangi kegiatan Hizbut Tahrir untuk membantu revolusi Syam yang diberkati, yakni kegiatan yang menyeru kaum muslim untuk membantu revolusi Suriah dan memperlihatkan kejahatan tirani Si Pendosa Basyar. Berbagai kegiatan itu merupakan kegiatan damai, seperti muktamar, seminar, aksi protes serta unjuk rasa. Erdogan malah menghentikannya dengan berbagai cara. Diketahuilah secara jelas bahwasanya ia memusuhi revolusi Suriah, seperti para penguasa lainnya. Iran berusaha untuk mengaborsi revolusi tersebut. Adapun Erdogan berusaha membelokkan perjalanannya, supaya muncul agen baru untuk tuannya Amerika, pengganti Basyar agen lamanya yang usang. Tatkala Hizbut Tahrir memberikan penjelasan, melalui berbagai kegiatannya, bahwasanya penduduk Syam telah bangkit demi revolusi mereka untuk tegaknya Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah, Erdogan gelisah sebagaimana para penguasa lainnya. Sehingga ia menjebloskan para syabab ke penjara dan berbagai pusat penahanan. Kemudian menetapkan hukuman sekuler yang keras, seperti penjara 117 tahun terhadap 49 orang syabab. Tidaklah aneh, karena demikianlah sekulerisme dan perundang-undangannya. Karena itulah, bagaimanapun perilakunya tetaplah perilaku para agen.

     9.  Erdogan membuka hotel-hotel dan pinggir pantai bagi kaum Nudis di kota Tatcheh pantai Aegea di Turki pada tahun 2010 M, serta menghadiahi kaum homo (gay) dengan aturan yang bisa melindungi mereka. Tidaklah aneh, karena demikianlah sekulerisme yang disombongkan oleh para pengikutnya. Mereka lupa bahwa seseorang akan dibangkitkan pada hari Kiamat bersama orang yang dicintainya.

  Kesimpulannya, Erdogan adalah antek Amerika dan musuh pahit Islam dan kaum muslim. Memerintah kaum muslim Turki dengan perundang-undangan kufur sekuler, dan ia merupakan orang sekuler kelas utama.

Ditulis untuk Maktab I’lami Hizbut Tahrir
Syayif Syarodi – Yaman

22 Muharram 1437 H
4 November 2015 M


diterjemahkan oleh        : Ary Herawan, 7/11/2015.
Sumber tulisan              : http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_52787   

بسم الله الرحمن الرحيم
أعمال أردوغان في الميزان!!!

لقد توهم بعض الناس أن رجل العلمانية الأول في تركيا أردوغان يحكم بالإسلام، والأصل أن نضع أعماله في ميزان الشرع فهو المرجع عند الاختلاف، قال تعالى ﴿فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً﴾.

وعندها سنعرف هل يحكم بالإسلام فنحبه لأنه مع الله وشريعته أو يحكم بالعلمانية فنكرهه ونتبرأ منه لأن الرسول الأكرم
ﷺ يقول: «ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ» وهذه بعض أعمال أردوغان نضعها في ميزان الشرع للحكم عليها هل هي إسلامية أم أنها علمانية خالصة.

1- أردوغان يحكم بالعلمانية ولم يطبق حكما شرعيا واحدا:

إن النظام التركي نسخة من النظام الغربي لا يختلف عنه في شيء؛ فجميع مؤسسات الدولة لا تعرف غير قوانين العلمانية ولا يوجد نص واحد في دستور أردوغان من الإسلام حتى القسم عندهم بمبادئ العلمانية ومبادئ "مصطفى كمال" وليس بالله.

2- خيانة أردوغان للإسلام وقضايا المسلمين:

إن أردوغان بتطبيقه للعلمانية يحارب الإسلام في كل مناحي الحياة، وهو يتفاخر بأنه حامي العلمانية في تركيا رغم أن بعض المتعصبين يلبسه ثوب الإسلام وهو يقول بصراحة أنا علماني، وأخشى أن يقلدهم آخرون فيقولون إن أوباما أسلم ونحن نعرف جميعا أنه أكبر عدو للإسلام والمسلمين!

أما قضايا المسلمين فلم ينصر قضية واحدة ولم يطلق رصاصة على اليهود في فلسطين بل لم يقتص للتسعة الأتراك الذين قتلهم اليهود في سفينة الحرية في 2010 وهم في ذمته.

3- أردوغان يقتل المسلمين في أفغانستان والشام والعراق:

لقد شارك جيش تركيا في قتل أهل أفغانستان إلى جانب أصدقائهم الكفار في حلف الناتو وقد تولت تركيا قيادة الناتو مرتين آخرها في عهد أردوغان، وها هو يعلن انضمامه إلى التحالف الصليبي بقيادة أمريكا لقتل المسلمين في العراق والشام بحجة مكافحة الإرهاب (الإسلام) وهم يقتلون المسلمين بدم بارد والله يقول: 
﴿وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا﴾.

4- أردوغان يحارب الإسلام والخلافة:

إن أردوغان حارس أمين للعلمانية في تركيا كما وثق به أسياده الكفار وهو يحارب حملة الدعوة بكل قوة وبكل قساوة لا لشيء إلا أنهم يريدون أن تعود تركيا كما كانت من قبل خلافة تقود الدنيا من جديد بعد أن حولها أردوغان إلى مسرح لتآمر الكفار فيها ومركز تنطلق منها أسلحتهم لحرب الإسلام والمسلمين ودولة ضعيفة تستجدي أوروبا أن تدخل اتحادهم بالشروط التي يريدونها فيرفضون ذلك بعد أن كانوا يحسبون للخلافة العثمانية ألف حساب.

فها هو يزج بشباب حزب التحرير في المعتقلات والسجون ويصدر في حقهم أحكام العلمانية القاسية.

5- أردوغان عميل أمريكي حول تركيا إلى ولاية أمريكية:

إن عمالة أردوغان لأمريكا ظاهرة للعيان فهو يؤمن بعلمانيتها وديمقراطيتها ويطبقها في تركيا في كل مناحي الحياة، وهو ينفذ أجندة أمريكا ومخططاتها بدقة ويحرس مصالحها ويفزع إليها وقت الخطر، وأمريكا تعتبر أردوغان النموذج المتميز للحاكم العلماني لبقية حكام المسلمين، وها هو بأوامر أمريكية يحول تركيا إلى ولاية أمريكية تقيم فيها القواعد العسكرية ومنصة الصواريخ النووية وعددها 90 رأساً نووياً، وكان أول خطاب لأوباما خارج أمريكا من تركيا وبجانبه أردوغان ليرسل رسالة للمسلمين مفادها أن تركيا إحدى الولايات المتحدة الأمريكية.

كما سمحت أمريكا لدول أوروبا أن تقيم قواعد صاروخية في تركيا لمحاربة الخلافة القادمة المرتقب إقامتها في الشام عقر دار الإسلام.

6- أردوغان وعلاقته الحميمة بكيان يهود:

لقد كانت تركيا أول دولة اعترفت بكيان يهود في عام 1948م بعد الدول الغربية مباشرة وأقامت معها علاقة متميزة، أما في عهد أردوغان فقد أصبحت أحسن من ذي قبل، فقد زاد حجم التبادل التجاري بين أردوغان وصديقته دولة يهود وأقام معها العلاقات العسكرية والأمنية وقام كيان يهود بتحديث الطائرات التركية وكأن اليهود غير مغتصبين لفلسطين ولم يسفكوا دماء عشرات الآلاف من أبنائها! وسفارة كيان يهود في تركيا شاهدة على العلاقة المتميزة بين الصديقين، أما الملاسنات الكلامية ودموع التماسيح التي يذرفها أردوغان فهي فقط لرفع رصيده الانتخابي.

7- أردوغان صديق حميم لأعداء رسول الله
ﷺ:

عدو الله رسموسان كان رئيس الوزراء للدنمارك وقد حدثت الإساءتين للرسول
ﷺ في فترة حكمه 2006م و2008م وعندما قام حزب التحرير في الدنمارك بجمع 25000 توقيع من أجل تقديمها لوزارة حقوق الإنسان لتقديم المسيء للرسول ﷺ لإعدامه من قبل المسلمين لأن حكم من أساء للرسول ﷺ هو القتل مباشرة، لكن الوزارة رفضت ذلك وغضب رسموسان ووجه خطاباً متلفزاً يدعو الصحف الأوروبية لإعادة نشر الرسوم المسيئة للرسول ﷺ بدعوى حرية الرأي الديمقراطية، وعندما انتهت فترة حكمه للدنمارك عينته الدول الغربية لأنه أشد عداوة للإسلام من أبو جهل رئيساً لحلف الناتو ليقتل المسلمين حسب الطلب الغربي، وكانت أول زيارة لهذا المجرم هي لصديقه الحميم أردوغان الذي استقبله استقبالاً حاراً وهنأه على رئاسة حلف الناتو الذي يقتل المسلمين في أفغانستان.

8- أردوغان يحارب أنشطة حزب التحرير المناصرة للثورة السورية:

لقد ادعى أردوغان وقوفه إلى جانب الثورة السورية كما ادعت إيران وسوريا المقاومة والممانعة، ولكن حبل الكذب قصير وإذا به يحارب أنشطة حزب التحرير المناصرة لثورة الشام المباركة وهي أنشطة تدعو المسلمين لمناصرة ثورة سوريا وتبرز جرائم الطاغية المجرم بشار، وهي أعمال سلمية مثل المؤتمرات والندوات والوقفات الاحتجاجية والمسيرات، لكن أردوغان وقف لها بالمرصاد فعرف الأتراك أنه عدو للثورة السورية كبقية الحكام فإيران تسعى إلى إجهاض الثورة وأردغان يسعى إلى حرف مسارها لإيجاد عميل جديد لسيدته أمريكا بديل لعميلها القديم المحروق بشار، فلما بين حزب التحرير من خلال الأنشطة أن أهل الشام قاموا بثورتهم من أجل إقامة الخلافة الراشدة على منهاج النبوة انزعج أردوغان كسائر الحكام فزج بالشباب في السجون والمعتقلات وأصدر في حقهم الأحكام القاسية مثل السجن 117 عاماً لـ49 من الشباب، ولا غرابة فهذه هي العلمانية وهذه قوانينها ومع ذلك فالأنشطة مستمرة مهما فعل العملاء.

9- أردوغان يفتتح فنادق وشاطئ للعراة في مدينة طاتشه على بحر إيجة في تركيا عام 2010م ويمنح الشواذ (المثليين) قوانين تحميهم، ولا غرابة فهذه هي علمانيته التي يفتخر به الإخوان ونسوا أن المرء يحشر يوم القيامة مع من يحب.

والخلاصة هي أن أردوغان عميل أمريكي وعدو لدود للإسلام والمسلمين ويحكم المسلمين في تركيا بقوانين الكفر العلمانية فهو علماني من الطراز الأول.


كتبه للمكتب الإعلامي المركزي لحزب التحرير
شايف الشرادي - اليمن





22 من محرم 1437
الموافق 2015/11/04م