Tulisan ini bukanlah tentang serangan ke Ka'bah yang dipimpin Raja Abrahah, atau peristiwa yang terjadi pada tahun kelahiran Rasulullah Saw. Akan tetapi tentang suatu peribahasa, yakni "Gajah Berperang Pelanduk Mati di Tengah-tengah".
Jika kita mencermati pertarungan ekonomi dunia, terutama pasca pasar bebas, ada pertarungan besar antara dua negara yang terjadi di Indonesia. Yakni, pertarungan antara Amerika dan Tiongkok.
Sejak dekade 60-an abad lalu, Amerika telah khawatir atas munculnya Cina sebagai kekuatan global. Amerika berupaya melemahkan ambisi-ambisi Cina dalam permasalahan-permasalahan regional.
Disamping upaya Amerika untuk membatasi perluasan militeristik Cina, Amerika juga berupaya kuat membangun kemampuan India, baik sipil maupun militer untuk menghadapi Cina. Politik inilah yang digunakan Amerika dengan seluruh pemerintahan di India hingga yang loyal kepada Inggris sekalipun dan bukan loyal kepada Amerika seperti pemerintahan partai Kongres. (Umar Syarifudin, 2016).
Indonesia dengan sumber daya alam melimpah serta jumlah penduduk yang potensial, tak luput dari perebutan dua kekuatan kapitalisme ini. Kehadiran ekonomi China di Indonesia semakin kentara beberapa tahun belakangan ini, terutama setelah beberapa garapan proyek di Indonesia yang diserahkan kepada China (RRT).
Pengaruh Cina di Indoneisa mendominasi dalam dua bidang, yaitu infrastruktur dan perdagangan. Dalam pembangunan infrastruktur, Indonesia memang didominasi oleh Investasi Cina, sebut saja proyek-proyek besar seperti proyek pembangkit tenaga listrik 35.000 mega watt dan kereta cepat Bandung-Jakarta, pembangunannya dilakukan oleh perusahaan Cina. Sedangkan dominasi AS di Indonesia, ada pada bidang pasar keuangan dan pertambangan minerba dan migas. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya sumber-sumber kekayaan alam negeri ini dikuasai oleh AS, seperti Freeport yang telah mengeruk emas di Papua. (Sri Nurhayati, 2016)
Inilah perang gajah yang terjadi di negeri ini, negeri kita sendiri. Alangkah naasnya kita jika hanya berperan sebagai pelanduk, yang mati di tengah-tengah.
Indonesia harus terbebas dari apa yang dikatakan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai invisible hand, yakni kekuatan-kekuatan kapitalisme global yang menggurita dan menyerang. Karena tabiat ideologi ini adalah berdiri tegak dengan menginjak bangsa-bangsa lain. Atau bangkit dengan menghisap darah SDA dan SDM negeri lain.
Dengan kekuatan apakah Indonesia membebaskan negeri ini? Tiada lain kecuali dengan kekuatan Islam. Yang saya maksud bukan sekedar Islam dalam tataran ritual semata. Sehingga terkesan solusinya hanyalah kepasrahan dalam sabar dan do'a. Namun memunculkan kembali Islam sebagai ideologi, yakni aqidah rasional yang terpancar darinya berbagai sistem kehidupan.
Islam ideologi akan melahirkan negara ideologis. Sebuah negara yang menerapkan syariah Islam dalam berbagai sendi kehidupan. Sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem sanksi Islam hingga yang paling utama yakni sistem pemerintahan Islam atau khilafah islamiyyah. Semua sistem ini berpondasi pada aqidah Islamiyyah, karena pondasi aqidah inilah yang menjadi kekuatan utamanya. Kekuatan ruhiyyah yang berpijak pada kesadaran manusia sebagai hamba Allah Swt. Kekuatan yang telah membuat negara Islam Madinah berdiri tegak di hadapan imperium Persia dan Romawi. Bukan menjadi pelanduk, tetapi menjadi penakluk gajah-gajah yang berperang. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - 11 Shafar 1438 H)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar