Selasa, 28 Februari 2017

Quwwah Ruhiyyah

Persia dan Romawi merupakan dua negara adidaya pada jamannya. Namun keduanya dapat ditaklukkan oleh negara Islam yang baru tumbuh dari kota kecil Madinah Al-Munawwarah. Sejak dipimpin oleh Rasulullah Saw, para Khulafa ar-Rasyidin hingga para khalifah setelahnya.

Negara Islam memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh Persia dan Romawi, yakni Quwwah Ruhiyyah (Kekuatan Spiritual). Kekuatan yang berbasis pada kesadaran akan hubungan dengan Allah Swt. Sebuah kekuatan yang berbasis pada keimanan dan ketaqwaan.

Banyak peperangan yang menceritakan tentang kehebatan Quwwah Ruhiyyah kaum muslim di bawah negara Islam, salah satunya adalah perang Khabat.

Khabat adalah salah satu daerah di wilayah Irak. Rasulullah Saw pernah menugaskan Abu Ubaidah bin Al Jarrah untuk memimpin 315 orang pasukan untuk membebaskan Khabat. Meskipun perjalanan sangat jauh dengan medan yang cukup berat, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan pasukannya hanya membawa bekal 1 keranjang kurma. Apabila dibuka di google map, jarak yang ditempuh dari Madinah ke Khabat tidak kurang dari 1900 km dengan 16 hari perjalanan dengan jalan kaki.

Sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Hal tersebut tidak sekedar menjadi retorika tanpa fakta. Bekal yang minim tidak menjadi alasan untuk menghindar dari penugasan Rasulullah Saw, atau tak serius menjalaninya. Bahkan sebaliknya, Abu Ubaidah bin Al Jarrah beserta kaum muslim selalu penuh semangat menjalankan tugasnya.

Selama dalam perjalanan, pada awalnya setiap orang pasukan mendapatkan jatah segenggam kurma perhari. Kemudian tatkala bekal kurma menipis, setiap orang pasukan hanya mendapat jatah sebutir kurma perhari. Hingga ketika bekal persediaan kurma habis, pasukan kaum muslim memetik dan memeras daun tanaman Khabat kemudian meminum airnya. Begitulah Quwwah Ruhiyyah yang dimiliki kaum muslim di bawah naungan negara Islam. Kekuatan spiritual ini mampu mengantarkan kaum muslim ke puncak kejayaan, serta memimpin dunia hingga lebih dari 13 abad lamanya.

Bagaimanakah dengan Quwwah Ruhiyyah kita? Semoga senantiasa terjaga, supaya kita merasa ringan dalam menjalankan setiap perintah Allah serta menjauhi setiap larangan-Nya. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Sabtu, 18 Februari 2017

Muslim Menyikapi Cap Go Meh

Makna Cap Go Meh

Bagi yang masih menganggap bahwa Cap Go Meh itu hanya budaya dan tidak terkait dengan SARA (Suku Agama Ras) tertentu. Marilah kita simak tulisan yang saya ambil dari situs www.tionghoa[dot]info berikut ini :

==========================

Sejarah Cap Go Meh

Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas (hanzi : 十五暝; pinyin : Shíwǔ míng) bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.

Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merayakan hari raya ini. Di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao (元宵节; Yuánxiāo jié) atau Festival Shangyuan. Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M).

Upacara ini dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut sistem penanggalan kalender Imlek. Upacara ini dahulu dilakukan tertutup hanya untuk kalangan istana dan belum dikenal secara umum oleh masyarakat Tiongkok. Upacara ini dilakukan pada malam hari; untuk itu perlu disiapkan penerangan dengan lampu-lampu lampion yang dipasang sejak senja hari hingga keesokan harinya. Inilah yang kemudian menjadi lampion-lampion dan aneka lampu berwarna-warni yang menjadi pelengkap utama dalam perayaan Cap Go Meh.

Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir perayaan ini menjadi lebih terbuka untuk umum. Saat Tiongkok dalam masa pemerintahan Dinasti Tang, perayaan ini juga dirayakan oleh masyarakat umum secara luas. Festival ini adalah sebuah festival dimana masyarakat diperbolehkan untuk bersenang-senang. Saat malam tiba, masyarakat akan turun ke jalan untuk menikmati pemandangan lampion berbagai bentuk yang telah diberi berbagai hiasan.

Di malam yang disinari bulan purnama sempurna, masyarakat akan menyaksikan tarian naga (masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan ‘Liong’) dan tarian Barongsai. Mereka juga akan berkumpul untuk memainkan sebuah permainan teka-teki dan berbagai macam permainan lainnya, sambil menyantap sebuah makanan khas bernama Yuan Xiao atau Wedang Ronde. Tentu saja, malam tidak akan menjadi meriah tanpa kehadiran kembang api dan petasan.

Yuan Xiao sendiri adalah sebuah makanan yang menjadi bagian penting dalam festival tersebut. Yuan Xiao atau juga biasa disebut Tang Yuan adalah sebuah makanan berbentuk bola-bola yang terbuat dari tepung beras. Bila ditilik dari namanya, Yuan Xiao mempunyai arti ‘malam di hari pertama’. Makanan ini melambangkan bersatunya sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan Hari Imlek.

Perayaan Festival Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat kelenteng-kelenteng atau Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang didalamnya diletakkan arca para Dewa. Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan di Manado, terdapat atraksi ‘lokthung‘ atau ‘thangsin‘ dimana ada seseorang yang menjadi medium perantara yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya telah dirasuki oleh roh Dewa untuk memberikan berkat bagi umat Nya. Mereka biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan lain sebagainya. Sementara di Kalimantan, tepatnya di kota Pontianak dan Singkawang, atraksi ini disebut ‘Tatung‘.

===========================

Sikap Muslim

Jika demikian adanya, maka Cap Go Meh tidaklah netral. Ia terkategori hadlarah (sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang terlahir dari aqidah tertentu). Begitupun dengan perlengkapan yang biasa dipakai untuk merayakannya, ia termasuk madaniyah khas (benda-benda yang dipengaruhi oleh hadlarah tertentu). Oleh karena itu, kaum muslim dilarang untuk memanfaatkan hadlarah dan madaniyah khas yang berasal dari luar aqidah Islam.

Merayakan Cap Go Meh bisa terkategori tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir. Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud). Kalimat celaan tegas “termasuk bagian dari mereka” merupakan indikasi keharaman perilaku tersebut.

Allah Swt juga mengharamkan kaum muslim untuk merayakan hari raya umat lain. Hal ini berdasarkan firman-Nya :

“Dan orang-orang yang tidak menghadiri/menyaksikan az-zur, dan apabila mereka melewati al-laghwu (perbuatan dan perkataan yang tidak berguna), mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”
(TQS al–Furqan [25]: 72).

Imam Ibnu Katsir menuliskan bahwa yang dikatakan dengan az-zûr adalah syirik dan penyembahan berhala. Sementara Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, memaknai az-zûr itu sebagai hari-hari raya kaum Musyrik.  Adapun imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa mereka tidak menghadiri dusta dan kebathilan dan tidak menyaksikannya. Setiap kebatilan merupakan kepalsuan dan hiasan. Yang terbesar adalah syirik serta mengagungkan sesembahan-sesembahan selain Allah. Ad Dhahak, Ibnu Zaid dan Ibnu Abbas berpendapat bahwa az-zur adalah hari-hari raya kaum musyrik.

Merujuk kepada ayat ini, mayoritas fuqaha’ menyatakan haram hukumnya menghadiri perayaan hari raya kaum kafir. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa kaum muslim telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.  Diperkuat pula dengan pernyataan Anas r.a. Ia mengisahkan bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, mereka (musyrik Madinah, pen.) memiliki dua hari raya yang biasa mereka rayakan, yaitu Nayruz dan Mihrajan. Beliau pun bersabda:

“Sungguh Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik yaitu : Idul Adha dan idul Fithri”
(THR. Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Mengomentari hadis ini, di dalam Faydh al-Qadîr disebutkan: “di dalamnya terdapat dalil bahwa mengagungkan hari Nairuz dan al-Mihrajan dan semisalnya -yakni hari raya kaum kafir- adalah terlarang”. Ibn Hajar al-‘Atsqalani juga mengomentari, “darinya diistinbath terlarangnya bergembira di hari-hari raya kaum musyrik dan menyerupai mereka. Bahkan syaikh al-Kabir Abu Hafash an-Nasafi dari Hanafiyah sampai mengatakan : “siapa saja yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari raya mereka itu sebagai pengagungan terhadap hari itu maka dia telah kafir kepada Allah SWT”. (Buletin Al Islam, ed. 587/2011).

Cap Go Meh merupakan produk aqidah di luar Islam. Jadi, biarkanlah orang-orang non muslim yang merayakannya, kaum muslim punya perayaan yang jauh lebih baik, yang tetap bersumber pada aqidah Islamiyyah. Selayaknya, bersikap toleran sebagaimana yang tertera dalam Q.S. Al Kafirun, itulah sikap terbaik.

"Katakanlah: "Hai, orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah, agamaku."
(TQS. Al Kafirun: 1-6)

Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Sabtu, 11 Februari 2017

Vazal

sumber gambar : hr[dot]wikipedia[dot]org

Istilah vazal dituliskan oleh Buya Hamka di lembaran terakhir buku Sejarah Umat Islam jilid IV (1951). Pada bagian penutup, Buya menyampaikan bahwa dengan gagah dan gigih, dalam rentang 100 tahun, bangsa Belanda yang kecil dapat memancangkan kekuatannya di Nusantara. Kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Mataram, Banten, Cirebon, Maluku dan Sulawesi dapat dikalahkan dan berangsur-angsur menjadi vazal, yang naik karena dinaikkan Belanda dan hidup karena dihidupi Belanda.1)
Vazal (Slovak); Vazal merupakan sinonim leenman (Belanda), vassal (Inggris) semuanya bermakna pengikut (Indonesia). Dalam KBBI, vasal dimaknai 1. bersifat terikat; dan 2. negara (daerah) taklukan.2) Vasal adalah seseorang yang menjalin hubungan dengan monarki yang berkuasa –biasanya dalam bentuk dukungan militer, perlindungan bersama (mutual protection) atau pembayaran upeti, serta menerima jaminan dan imbalan tertentu sebagai gantinya.3) Adapun negara vasal adalah negara yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan negara lain secara internasional. Jika negara vasal diserang negara lain, maka negara pelindung akan membantu negara vazal tersebut. Saat ini, istilah yang lebih umum adalah negara boneka, protektorat atau negara asosiasi.4)
Dalam sejarah feodalisme Eropa, vazal merupakan sebutan terhadap bangsawan yang memiliki posisi lebih rendah daripada bangsawan penguasa. Para vazal diwajibkan menyetor upeti kepada bangsawan penguasa, yang mereka tarik dari rakyat melalui para anak buahnya.5) Terbentuklah piramida hierarki kekuasaan yang meletakkan rakyat dalam posisi terbawah. Rakyat mesti menanggung beban dan menjadi bahan eksploitasi manusia lain yang berada di atasnya. Mereka diperas tenaganya, hartanya, sumber daya alamnya, hanya untuk memenuhi pundi-pundi kekayaan kaum bangsawan penguasa.
Sejarah seolah berulang. Selama manusia mengatur diri mereka sendiri, selama itu pula penjajahan akan terus berlangsung. Dengan kekuatan modal dan kekuasaannya, segelintir manusia menindas mayoritas manusia lainnya.
Pakar Ekonomi Islam, Dwi Condro, dalam tulisan “Jurus-jurus Kapitalisme Menguasai Dunia” (2012) menjelaskan bahwa perbankan dan saham dijadikan sebagai ‘mesin penyedot uang’ para pengusaha besar. Kemudian dengan modal perbankan dan saham tersebut, para kapitalis menguasai usaha dari hulu hingga ke hilir. Perusahaan-perusahaan kecil pun  lama-kelamaan akan gulung tikar. Tak hanya sampai di sana, para kapitalis pun mencaplok BUMN. Mereka memuluskan langkahnya dengan berlomba-lomba menjadi penguasa. Selanjutnya, mereka melebarkan sayap usahanya ke negara-negara miskin. 6)
Masih menurut Dwi Condro, para kapitalis mendirikan Multi National Corporation untuk mengeruk sumber daya alam negara-negara miskin. Supaya sumber daya alam bisa dibeli dengan murah, kurs mata uang negara jarahan pun dijatuhkan. Liberalisasi pendidikan dijalankan sehingga banyak siswa yang tak bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Sekolah kejuruan pun diperbanyak, tujuannya supaya banyak orang yang memiliki keahlian dan bisa dibayar dengan upah yang lebih murah. Selanjutnya, untuk menjaga daya beli masyarakat, para kapitalis dunia mengembangkan Non Goverment Organization (NGO) atau LSM untuk membina masyarakat negara-negara miskin. Mereka dibina agar bisa mengembangkan industri-industri kecil (rumahan) sehingga masih dapat memiliki penghasilan. Jika krisis ekonomi melanda, para kapitalis memaksa pemerintah untuk mengucurkan dana talangan (bail out) yang bersumber dari pajak rakyat. Begitulah jurus-jurus kapitalisme untuk  menguasai dunia. 7)
Bagaimanakah para kapitalis dunia memuluskan semua jurus tersebut? di sinilah peran para vazal diperlukan. Vazal yang naik karena dinaikkan para kapitalis dan hidup karena dihidupi para kapitalis. Jika dulu penjajahan dilakukan oleh kerajaan Belanda, kini dilanjutkan oleh AS dan sekutunya. Jika dulu AS tanpa saingan, kini Tiongkok mulai menyainginya. Namun tetap saja, mereka membutuhkan para vazal. Vazal-vazal tumbuh bermunculan, dari satu tuan menjadi tuan yang lain serta dari satu pemeran berganti menjadi pemeran yang lain. Wallahu a’lamu bishshowwaab.

Daftar pustaka :  
  1. Sejarah Umat Islam, Hamka.
  2. http://kbbi.web.id/vasal
  3. wikipedia[dot]org
  4. Idem
  5. www.serbasejarah.wordpress[dot]com. Dalam tulisan berjudul “Feodalisme ; Jurus Ampuh Kolonialisasi Hindia Belanda.”
  6. Jurnal Al Waie, Maret 2012.
  7. Idem

Senin, 06 Februari 2017

Ebook Arabic Rijal[un] haula ar-Rosul[i]

Ebook karya Syaikh Khalid Muhammad Khalid yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan 60 Shahabat Rasulullah Saw.

Silahkan klik UNDUH untuk mendownloadnya.

Ebook Jangan Jadi Muslim Keturunan

Berikut adalah Ebook gratis dari salah seorang anggota #MudahNulis dari Kota Tasikmalaya, yaitu 

Ust. Zulfikar Tamher. Silahkan klik UNDUH


Ebook Kenapa Energi Nuklir

Ebook dari Mas Andika, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi penulisnya. Aamiiin.
Silahkan klik UNDUH 

Ebook Mudah Menulis Opini


Buku kecil ini sengaja saya sajikan untuk generasi muslim. Karena sebagian besar di antara mereka memiliki potensi besar untuk menjadi penulis muslim. Penulis yang tidak hanya sekedar menyusun kata-kata menjadi kalimat tetapi juga mampu menebar kebaikan dan hidayah Islam.
Sosial media dan media daring sudah membudaya. Dunia maya sudah tak bisa dipandang sebelah mata, bahkan tak jarang isu-isunya pun sudah bisa mempengaruhi opini masyarakat. Bahkan berbagai momen yang terjadi di tanah air, banyak dibesarkan opininya oleh interaksi di sosial media. Sangat disayangkan jika kemudahan tersebut tidak dimanfaatkan untuk mengopinikan kebaikan dan hidayah. Oleh karena itu, ebooklet ini saya hadiahkan untuk para pembelajar sejati yang bersemangat untuk mengopinikan kebaikan Islam. (Ary H,)


Judul Ebook : Mudah Menulis Opini
Penulis: Ary H.
Publisher: Akademi Menulis Kreatif dan Komunitas MudahNulis
Tahun: 2017
Klik UNDUH (Download) GRATIS Ebook

atau Klik Unduh Versi Buku untuk mendownload yang sudah disetting buku. Caranya :

1) Siapkan kertas HVS ukuran A4 dan printer berwarna siap pakai
2) Buka file yang sudah diunduh, kemudian print dengan setting booklet.
3) Ikuti perintah selanjutnya, karena tiap printer akan memberikan instruksi yang berbeda-beda. Jangan sampai terbalik ya. Selamat mencoba!