Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2018

GERAKAN ISLAMOPHOBIA, PASTI GAGAL!



Cadar dikesankan sangar, pakaian yang membuka aurat dikesankan terhormat. Tatkala melihat wanita bercadar langsung mencap radikal, namun ketika ada yang mengkritisi aurat perempuan yang terbuka langsung membela diri dengan alasan privasi. Terhadap orang yang risih dengan pamerisasi aurat, mudah menuduh otaknya yang bermasalah. Namun terhadap orang yang menutup aurat dan memakai cadar, malah pemakainya yang dicap bermasalah. Begitulah logika sekulerisme radikal yang penuh dengan islamophobia.
Berbagai pemikiran serta simbol yang identik dengan pelaksanaan syariah Islam selalu salah, sedangkan berbagai hal yang mengutamakan kebebasan, meskipun itu melabrak syariah senantiasa berada di atas kebenaran.
Memang miris, di balik pelarangan cadar yang tembus dari Paris Perancis hingga kampus negeri di sebelah utara Parangtritis, kita melihat betapa berbahayanya islamophobia. Karenanya, semua perkara yang sebenarnya merupakan pendapat Islami bisa dipandang menjadi tabu. Tersebab ia dipandang bertentangan dengan paham kebebasan. Namun mata kita juga semakin terbuka, mengenai siapa yang radikal sebenarnya.
Apalagi ketika kita menyaksikan demo sekelompok perempuan yang menyuarakan kebebasan perempuan. Di balik tuntutannya, selalu syariah Islam yang menjadi target penggugatan.
Islamophobia adalah ketakutan terhadap Islam secara berlebihan, bahkan cenderung tidak memiliki dasar alasan yang kuat terhadapnya. Islamophobia semakin menguat setelah sekulerisme menjadi pemimpin tunggal dunia. Keyakinan kaum muslim akan kebangkitan agamanya, ditambah berbagai prediksi tentang kebangkitan Islam, seolah menambah ketakutan Barat terhadap Islam.
Sebagaimana Snouck Hurgronje yang menjadi penanam bibit Islamophobia di era penjajahan Belanda, kaum Islamophobia menyadari bahwa kekuatan umat Islam terletak pada pemahamannya. Oleh karena itu berbagai aturan, tata hidup dan tata perilaku yang bersumber dari pemahaman Islam mesti dipisahkan dari umatnya. Bahkan tak jarang hingga sesuatu yang mereka cap sebagai perkara yang simbolistik pun diperlakukan sama. Padahal mereka sering berkoar-koar kalau simbol itu tidak terlalu penting dan jangan terjebak pada simbol. Namun anehnya, belakangan malahan mereka sendiri yang phobia terhadap simbol Islam.  
Berbagai langkah pencitraburukkan Islam sebagai sesuatu yang mengerikan, menakutkan serta sadis pun dipropagandakan. Sebenarnya apa yang sebenarnya dicari oleh penggerak islamophobia? Sebenarnya satu, memalingkan manusia dari Islam. Itu saja.
Lalu akan berhasilkah berbagai gerakan pencitraburukan terhadap Islam ini? Tidak akan. Mengapa demikian, dikarenakan beberapa alasan berikut :
Pertama, Islam merupakan agama menentramkan hati dan akal. Kebenaran Islam bukanlah kebenaran dan bersifat dogmatis dan doktiner. Aqidah Islamiyyah sebagai pondasi berbagai pemikiran Islam merupakah aqidah yang rasional. Kebenarannya dapat dibuktikan dengan dalil aqli dan naqli. Banyak ayat Al Quran yang menyentuh akal manusia untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah Swt. Sehingga potensi akal diposisikan dan digunakan secara benar dan proporsinal.
Misalnya, ketika Allah Swt berfirman
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (TQS. Al Baqarah : 21-22)  
Dan
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (TQS. Al Anbiya : 22)
Keyakinan yang diraih melalui proses berpikir secara benar akan menancap kuat. Hal inilah yang akan membuat berbagai makar terhadap Islam yang dilakukan selama ini tidak bisa menghapus Islam dari muka bumi. Bahkan ketika fitnah dan tuduhan itu semakin massif, orang yang melirik Islam pun malah semakin banyak.
Sebagaimana yang terjadi di Eropa. Menurut penelitian Pew Research Center, sentimen negatif warga Eropa terhadap muslim sangat melonjak sepanjang tahun 2016. Di Inggris, islamophobia di kalangan penduduk meningkat sampai 28 persen. Di Spanyol dan Italia, prosentase masing-masing adalah 50% dan 69%. Sedangkan di Yunani, presentasinya 65%. Hungaria tertinggi dengan angka 72%. Polandia, Perancis, Jerman, Belanda, dan Swedia menyusul dengan laporan peningkatan yang juga terbilang tinggi. (www.pikiran-rakyat[dot]com). Akan tetapi jumlah penduduk muslim semakin hari semakin bertambah, bahkan survey Pew Research Center pun menunjukkan bahwa populasi muslim Eropa bisa meningkat hingga 3 kali lipat pada tahun 2050. Salah satu faktornya adalah karena anak-anak kalangan kaum muslim cenderung mengikuti agama orang tuanya.
Kedua, Islam merupakan agama yang sesuai fitrah. Allah Swt berfirman,
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (TQS. Ar Ruum: 30)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tegakkanlah wajahmu dan teruslah berpegang pada apa yang disyariatkan Allah kepadamu berupa agama Nabi Ibrahim yang hanif, yang merupakan pedoman hidup bagimu. Allah telah menyempurnakan agama ini dengan puncak kesempurnaan. Dengan demikian maka engkau masih berada pada fitrahmu yang lurus.
Beliau pun menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan mengenal-Nya, mentauhidkan-Nya dan mengakui bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah.
Karena itulah, Islam pasti akan diterima oleh setiap yang hanif (lurus). Berbagai aturan yang terlahir dari Islam merupakan aturan yang pasti sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Sehingga ketika orang menjauh dari Islam maka ia akan gelisah. Sebaliknya, ketika ia mengambil kebenaran Islam maka ia akan tenang.
Sebagaimana yang terjadi pada George bin Todzira, panglima Byzantium yang gelisah setelah berdialog dengan Khalid bin Walid di sela peperangan Yarmuk, lalu ia masuk Islam dan menjadi salah satu syuhada kaum muslim. Atau seperti ketenangan yang bersemayam dalam diri Hindun setelah ia masuk Islam setelah Fathu Makkah. Ia berkata, “Demi Allah! Belum pernah aku melihat Allah disembah dengan sebenarnya di Masjidil Haram sebelum malam tadi.” Ia pun menghancurkan berhalanya seraya berkata, “Dulu, kami terperdaya olehmu!”
Kesesuaian Islam dengan fitrah manusia berlaku hingga akhir zaman. Meskipun peralatan teknologi berubah semakin canggih, fitrah manusia tetaplah tidak berubah. Manusia membutuhkan makan, minum, bernafas serta memiliki kecenderungan naluri beragama, melestarikan jenis (semisal seksual) serta ingin eksistensinya diakui. Perkakas dapur dan peralatan makan bisa berubah-ubah, begitu pula dengan tempat makannya, tetapi tetap saja yang dibutuhkan oleh manusia adalah makan.
Islam telah mengatur berbagai pemenuhan kebutuhan fisik serta naluriah manusia sesuai fitrahnya. Islam tidak mematikan kecenderungan naluri seksual atau membebaskannya secara liar, namun Islam mengaturnya supaya tetap dalam derajat kemuliaan manusia. Kesesuaian fitrah inilah yang akan menjaga Islam tetap diemban oleh manusia. Bahkan ketika manusia menjauh dari Islam, berbagai kegelisahan, perselisihan dan kekacauan akan melanda kehidupannya.
Ketiga, Islam terbukti gemilang dalam sejarah peradaban dunia. Tiada pandangan hidup atau ideologi yang terbukti bertahan dalam kegemilangan selama lebih dari 13 abad. Komunisme telah runtuh menorehkan berbagai masalah dan kerusakan. Kapitalisme sedang memimpin manusia dengan berbagai penjajahan dan eksploitasi. Dalam kepemimpinan kapitalisme kerusakan terjadi di seluruh lini kehidupan. Degradasi lingkungan, kriminalitas, perang saudara, kesenjangan kaya dan miskin serta penindasan etnis terus berlangsung.
Padahal selama dalam naungan Islam, wilayah dunia berada dalam kedamaian dan kesejahteraan. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh CEO Hewlet Packard Carly Fiorina bahwa peradaban Islam mampu menghasilkan sebuah negara super yang membentang dari samudera ke samudera, dari daerah sub-tropik hingga ke daerah tropik dan gurun. Dalam wilayah kekuasaannya, tinggal ratusan juta warganya, yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan bangsa.  Salah satu dari sekian banyak bahasanya menjadi bahasa universal dan menjadi jembatan penghubung antar warganya yang tinggal diberbagai negeri. Tentaranya tersusun dari orang-orang yang berlainan kebangsaannya. Kekuatan militernya mampu memberikan kedamaian dan kesejahteraan yang belum pernah ada sebelumnya. jangkauan armada perdagangannya membentang dari Amerika latin sampai ke Cina, serta daerah-daerah yang berada di antara keduanya.
Carly pun menyampaikan bahwa ketika pemberangusan seringkali mengancam keberadaan ilmu pengetahuan, peradaban Islam justru melindungi, mempertahankan, serta menyampaikannya kepada umat-umat lain.
Keempat, kebangkitan Islam merupakan janji Allah. Sebagaimana firman-Nya,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun  dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah ( janji )  itu, maka  mereka itulah orang-orang yang  fasik.” (TQS. An Nur :55)
Imam As Sadi menjelaskan bahwa janji Allah di dalam ayat ini berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.
Walhasil, semasif apapun upaya menumbuhkan Islamophobia di tengah masyarakat dunia niscaya tidak akan menemukan hasilnya. Justru sebaliknya, akan semakin banyak orang yang berpikir, kembali kepada fitrahnya serta memperjuangkan Islam. Wallahu al-Hadi ila Sabili Ar Rosyad.
(Aryh MN – Pengelola FP Mudah Nulis)

Kamis, 26 April 2018

Yuk Ngaji! Agar Tidak Capek Membebek



Oleh : Sri Ratna Puri
(Member Akademi Menulis Kreatif #2)
Pernah melihat sekoloni bebek ketika berjalan? Coba perhatikan!. Bebek ketika berjalan pasti akan berbaris kebelakang. Bebek yang berjalan diposisi belakang  akan senantiasa mengikuti langkah dari bebek yang ada di depannya. Bila ke kiri ya ikut ke kiri, bila ke kanan ya ikut ke kanan, bila lurus ya ikut lurus. Mungkin bisa jadi ini alasan dari penggunaan istilah pembebek yang artinya pengikut.
Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi, dari hari ke hari kita sering disuguhi dengan berita "viral" atau "sengaja diviralkan" hanya demi mencapai "popularitas dadakan".
Masih ingat vidio viral mpok Alpa? atau aksi-aksi chalange yang booming dan terus bergulir. Dari disiram air es sampai mengunyah batu es. Dari aksi joget semar mesem sampai joget Aline. Dan dari vidio viral tutorial make up sampai hijab. Semua ada pembebeknya.
Mengenai tren hijab, yang baru-baru ini masih jadi diperbincangan hangat  warganet adalah tren Bawal Pocong atau Hijab Pocong yang berasal dari negeri jiran Malaysia dan mulai diikuti di Indonesia. Dinamakan tren Bawal Pocong atau Hijab Pocong karena pada bagian atas main penutup kepalanya mirip dengan tali pocong.
Respon warganet cukup beragam. Ada yang merasa takut, ada yang biasa saja. Tapi tak sedikit yang merasa tertantang atau sekedar seru-seruan, akhirnya ingin mencoba merasakan sensasi yang berbeda dengan mengenakannya.
Para pembebek ini tak peduli atau mencari tahu pandangan hukum agama, boleh atau tidak, termasuk penistaan atau biasa, termasuk olok-olok atau bercanda. Padahal dalam Al-Qur'an Allah Ta’ala berfirman, artinya:
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9: 65-66)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah. Disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.”
(Mendengar hal ini), ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta, kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Maka ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tadi hanyalah bersenda gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”
Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di dalam rombongan) bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah):
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9 : 65-66).
Beliau mengucapkan itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.” (HR. Ibnu Jarir Ath Thobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim hasan)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dinukil dari Imam Syafi’iy bahwa beliau ditanyakan mengenai orang yang bersenda gurau dengan ayat-ayat Allah T’ala. Beliau mengatakan bahwa orang tersebut kafir dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala,
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9: 65-66)” -Demikianlah dinukil dari Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul–
Ayat di atas menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah, Rasulullah dan ayat-ayat Allah adalah suatu bentuk kekafiran. Dan barang siapa mengolok-olok salah satu dari ketiga hal ini, maka dia juga telah mengolok-olok yang lainnya (semuanya). (Lihat Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 59)
Dan hijab adalah penutup aurat seorang muslimah yang terdiri dari khimar yaitu kain penutup kepala dan Jilbab yaitu baju longgar yang menjulur dari atas sampai ujung kaki.
Mengenai Khimar Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar kedadanya…” (TQS. An Nuur: 31)
Dan mengenai jilbab Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…” (TQS. Al Ahzab: 59).
Bila menyimak dalil diatas jelas Tren Hijab Pocong termasuk hal yang memperolok-olok ayat-ayat Allah SWT dan hukumnya haram untuk dilakukan.
Tanpa sadar mereka hanya menjadi korban. Ya jadi korban, sebab hanya jadi pembebek dari produk sistem sekuler kapitalis yang diterapkan sekarang.
Padahal capenya jadi pembebek. Setiap waktu harus ikut arus. Kadang berlari, kadang merangkak.Tergantung langkah yang ada didepannya. Semua dilakukan karena azas manfaat saja.
Dengan dalih kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat, akhirnya banyak yang kebablasan dan terjerembab masuk kedalam perangkap sesat. Sudah cape, celaka pula. Tidak hanya di dunia tapi akhirat juga.
Sayangnya, sebagian besarnya adalah umat Islam. Tidak hanya dikalangan muda-mudi, dari anak bayi sampai orang dewasa tak luput jadi korbannya. Parahnya malah merasa bangga. Jadi bebek yang selalu ikut kemana-mana. Bebek buta tanpa bekal ilmu agama.
Entah sampai kapan hal ini akan berakhir. Yang pasti akan terus bergulir. Kejadian demi kejadian akan selalu bermunculan. Makin aneh, makin menyesatkan, maka makin banyak peluang. Peluang menjadi terkenal walau menabrak-nabrak aturan (Islam).
Kita tidak bisa berharap solusi pada sistem sekuler kapitalis yang menjadi wadah dan pelindungnya. Harus ada kesadaran umat untuk kembali  memahami ajaran agamanya (Islam). Dan pada saat itu sudah terbentuk, maka rasa tunduk terhadap aturan hidup yang ada didalamnya akan terwujud.
Kembali pada Islam. Hanya itulah satu-satunya jalan keluar. Mengaji dan mengkaji. Itulah solusi hidup ini, supaya  nanti, jadi pembebeknya berhenti. Mau? Yuk ngaji..

#PenulisBelaIslam
#BeraniNulisBeraniDakwah
#AkademiMenulisKreatif

Tepatkah Nobar Dilan di Hari Pendidikan?


Jika tidak ada aral melintang, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018 akan ada nobar film Dilan di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Mungkin di negeri ini sudah tak ada lagi sosok sekolah, guru dan pelajar yang ideal. Sehingga peran guru, lingkungan sekolah dan pelajar di film Dilan ’90 sangat cocok untuk ditiru ke depannya. Tak menutup kemungkinan, beberapa tahun ke depan sosok Dilan akan menjadi teladan.

Bisa jadi pula karena MKKB alias Masa Kecil Kurang Bahagia. Keterkekangan pada masa lalu seolah mewakili keinginan hati yang diwakili karakter Dilan. Berontak terhadap aturan sekolah dan para guru, bergaul bebas serta orang tua yang permissif. Kemunculan sosok Dilan dan kawan-kawannya seolah menjadi pertanda bahwa tak perlu banyak berprestasi untuk menjadi idola. Yang penting memiliki posisi berpengaruh di geng motor, berani berkelahi, bisa menaklukkan wanita serta asyik diajak berbicara.

Semua guru dikesankan kuno, kolot, pengecut dan membosankan. Itulah yang penulis baca dari semua karakter guru yang diperankan dalam kisah Dilan. Seolah para guru layak untuk menjadi bahan tertawaan. Sungguh sangat jauh dengan kesan film Laskar Pelangi yang memuliakan peran guru sebagai para pendidik yang berjasa. Meskipun tentunya kita juga paham bahwa mereka bukanlah malaikat. Namun apabila kita belajar adab, memuliakan orang yang telah mengajarkan ilmu tentu lebih utama dibandingkan menyepelekannya.

Momen Hari Pendidikan semestinya menjadi reintropeksi tahunan akan arah pendidikan negeri ini. Ke manakah ia akan dibawa? Karena semakin hari kenakalan dan kriminalitas remaja malah semakin menjadi. Pergaulan bebas, miras, tawuran, bullying, pelecehan seksual, pornografi dan lain sebagainya menghitamkan warna-warni cerah prestasi anak negeri.

Apabila nobar Dilan 90 itu dipandang sebagai cermin diri. Sudah saatnya kita sadar diri bahwa ketika pendidikan dibangun di atas dasar selain agama, maka robohlah bangunannya. Begitu pula ketika pendidikan dijauhkan dari aturan Sang Pencipta, ia tak akan tentu arahnya. Sebagai penghulu pendidikan, mestinya para pemimpin negeri ini bisa menjadi nahkoda. Bukan malah kehilangan arah lalu mengikuti ke mana arus mengalirkannya. Apalagi secara sengaja atau tidak, ikut hanyut dalam arus paradigma pendidikan yang sekuleristik.

Padahal paradigma pendidikan yang sekuleristik telah menjadi biang kerusakan anak negeri. Karena ketika manusia dibiarkan menjauh dari Penciptanya serta misi kehidupannya, manusia akan dididik hidup semaunya. Di saat itulah budaya kebebasan, serba boleh dan hura-hura akan memangsa hakikat kehidupan manusia. Ia memalingkan manusia dari misi utama hidupnya di dunia. Sehingga tidaklah mengherankan jika manusia akan terdegradasi derajatnya, tersebab ia keluar dari fitrah kemanusiannya.   

Paradigma pendidikan Islam dibangun di atas kerangka berpikir yang paling mendasar tentang kehidupan. Yakni tentang dari manakah manusia, hidup dan alam semesta ini berasal serta hubungan antara ketiganya dengan sebelum kehidupan dunia dan sesudahnya. Oleh karena itulah, paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari aqidah Islamiyyah yang menjadi pondasinya.

Manusia memiliki misi sebagai khalifatullah (pengemban amanah untuk mengurus) bumi ini serta abdullah (hamba Allah), sehingga ia harus memakmurkan bumi ini disertai ketaatan kepada Penciptanya. Oleh karena itu agar pemanfaatan semua sumber daya di dunia dilakukan secara maslahat, pendidikan dalam Islam ditujukan untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam serta terampil dalam sains dan teknologi.

Kepribadian Islam terbentuk dari dua komponen, yaitu 1) Pola pikir dan 2)Pola Sikap. Kedua komponen ini diisyaratkan dalam hadits hadits Rasulullah Saw,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati (qolbun) dan amal-amal kalian.” (THR. Muslim)

Hati (qolbun) yang dimaksud tentunya bukan hanya sekedar perasaan. Namun hati (qolbun) sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al Hajj : 46 dan Q.S. Al A’raf : 179. Yakni hati yang dipakai untuk memahami atau meliputi aktifitas berpikir. Ketika aktifitas berpikir ini selalu dikaitkan dengan pemahaman Islam maka seseorang akan berpola pikir Islami.

Allah telah menurunkan Al Quran serta menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan. Dalam pandangan seorang muslim, dua perkara inilah –yakni Al Quran dan Assunnah- yang akan menjadi tolok ukurnya dalam memutuskan perkara.

Semisal ketika seseorang memandang miras berijin itu boleh diminum ataukah tidak? Seorang muslim yang berpola pikir islami tentu akan menjawab secara tegas “tidak boleh!”. Sebab keharaman khamr itu berlaku secara mutlak, tidak dibatasi dengan kadar persentase tertentu. Meskipun kadar khamr-nya hanya 1 persen bahkan setetes sekalipun dan dianggap tidak akan memabukkan, tetap saja haram. Begitu pula dalam kasus yang lainnya.

Adapun mengenai pola sikap, hal ini mengenai perbuatan setiap insan dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pendidikan Islam mesti mengarahkan semua pemenuhan kebutuhan ini agar terlaksana sesuai dengan perintah dan larangan Allah Ta’ala.

Sekarang marilah kita introspeksi, adakah penanaman pola sikap dan pola pikir Islami dalam aktifitas nobar yang digagas Kemendikbud RI di Hari Pendidikan Nasional? Jika tidak ada, lalu ke manakah tujuannya? Bahkan sangat disayangkan jika aktifitas tersebut malah akan menanamkan sekulerisme. Di mana keimanan terhadap Allah sebagai Pencipta hanya cukup menjadi sebuah keyakinan, sedangkan dalam berpola pikir dan berpola sikap tak perlu terikat pada aturan-Nya.

Selanjutnya mengenai tsaqofah Islamiyyah serta penguasaan sains dan teknologi. Sungguh jauh panggang dari api jika tema utama kisah cinta remaja dikaitkan dengan kedua hal ini. Malahan tontonan tersebut akan menguatkan anggapan bahwa kebebasan pergaulan layak dijadikan pelajaran, pelaku tawuran pantas ditampilkan sebagai pahlawan, cinta monyet cocok dijadikan sebagai prestasi yang dirindukan, serta keindahan kata pun cukup ditakar dengan rayuan yang mampu menaklukkan perempuan. Sangatlah wajar jika pendidikan malah akan semakin kehilangan arah dan tujuan.

Padahal kualitas pendidikan di negeri ini masih banyak dikeluhkan. Pelaksanaan UNBK 2018 saja masih dinilai sebagian kalangan sebagai mal praktik pendidikan. Semua ini tentunya masih harus menjadi bahan introspeksi.

Apalagi tenaga kerja asing –termasuk para pendidik asing- mulai dibuka krannya untuk masuk ke negeri ini. Merupakan sesuatu yang tidak tepat jika Hari Pendidikan Nasional diisi dengan tayangan film percintaan anak sekolahan. Padahal masih banyak kegiatan lain yang jauh lebih mendidik untuk dilakukan pada momen tersebut. Terkecuali jika para pemimpin negeri ini memang sedang mengarahkan generasi mudanya untuk semakin sekuler yang liberal. Wal ‘iyadzu billah.

(Tulisan dimuat di SKH Kabar Priangan, 25 April 2018)

Minggu, 22 April 2018

Jadikan Dakwah Sebagai Poros Kehidupan


sumber gambar : slideshare[dot]net
Oleh : Anisya Dimyati (Member AMK#4)
Dakwah adalah kewajiban bagi setiap individu dan dia adalah sebuah aktifitas mulia yang dipuji oleh Allah karena sesungguhnya dakwah adalah aktifitas para nabi dan RasulNya. Sehingga bagi seorang muslim yang mengambil jalan dakwah ini sama dengan dia telah mengikuti jalan para Nabi dan Rasul.
Sebagaimana Allah SWT telah berfirman :
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون
Artinya : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung".  (TQS. Ali-Imran : 104)
قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (TQS:Yusuf : 108)
Subhanallah.....sungguh beruntung bagi orang-orang yang bisa menjalaninya.
Namun tak sedikit pula orang-orang yang masih memandang sebelah mata aktifitas dakwah ini dengan berbagai alasan yang ada. Apalagi dalam sistem kapitalis saat ini yang mendorong tiap orang untuk berlomba-lomba mengejar  materi dan materi yang bersifat duniawi hingga lupa akan kewajibannya untuk bekal di akhirat nanti.
Ayah sibuk bekerja mencari nafkah hingga larut malam dari senin sampai sabtu, dan ketika diajak mengaji/berdakwah beralasan tak punya waktu karena minggu hari untuk keluarga. Demikian juga para ibu - kaum perempuan -, dia juga disibukkan oleh rutinitas sebagai ibu yang mengurus anak dan rumahtangganya. Bahkan ada yang harus berkarier diluar rumah, sehingga habislah waktu yang dia punya. Atau generasi mudanya, para pelajar dan remajanya, merekapun juga disibukkan dengan kegiatan sekolah hingga tak sempat lagi untuk mengaji atau berdakwah.
Semua itu tak lain adalah ulah sistem kapitalis yang rusak yang dengan sengaja membuat propaganda-propaganda untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya juga dakwah. Dan kaum muslimin tanpa sadar dengan senang hati mengambilnya sebagai gaya hidup mereka. Muncullah gaya hidup hedonisme, individualisme, konsumtif, permisif, dan lain sebagainya yang itu bertentangan dengan islam sebagai agama mereka. Akhirnya kaum muslimin tersibukkan dengan urusan dunia dan semakin jauh dari ajaran islam. Mereka seakan-akan takut tidak bisa makan atau memenuhi kebutuhannya jika mereka tidak bekerja dan meluangkan waktunya untuk dakwah. Jadilah mereka sibuk mengejar dunia dan melalaikan kewajibannya berdakwah. Padahal tidak demikian. Bahkan Allah telah berjanji dalam salahsatu firmanNya :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia (akan merasakan) kehidupan yang sempit (di dunia), dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [TQS. Thâha[20]:124]
Juga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُوْلُ : يَا ابْنَ آدَمَ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi dada mu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)”
Dari dalil-dalil diatas bisa kita katakan bahwa dengan menyibukkan diri dalam aktifitas dakwah tidak menjadikan hidup kita miskin atau kekurangan, tapi justru sebaliknya Allah akan menjamin dan mencukupkan kebutuhan kita.
Maka....jangan pernah ragu atau takut menjadikan dakwah sebagai aktifitas utama dalam hidup ini. Jadikanlah ia sebagai poros kehidupan. Artinya, semua aktifitas hidup kita yang seharusnya mengikuti atau menyesuaikan aktifitas dakwah. Agendakan waktu untuk dakwah. Berikan waktu khusus untuk berdakwah. Jangan berdakwah dengan sisa-sisa waktu yang kita punya.
In syaa Allah dengan demikian hidup kita akan bertambah berkah dan bermakna karena tidak hanya dunia yang kita raih tapi juga akhirat. In syaa Allah.

#AkademiMenulisKreatif4
#PenulisBelaIslam

Dilan dan Hardiknas Zaman Now.

sumber gambar : google
Oleh: Khairatun Rainah (Anggota Akademi Menulis Kreatif)
Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada tanggal 2 Mei 2018, Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi menggelar nonton bareng (nobar) film 'Dilan' dan 'Yowis Ben'. Acara nobar itu diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mengapresiasi film nasional.
"Memang benar ini sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, yaitu nonton bareng film Indonesia, untuk lebih mencintai dan menghargai film karya anak bangsa dengan cara nobar film Indonesia," kata Kasubbag Layanan Informasi Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud Anandes Langguana dalam keterangannya, Kamis (19/4/2018).
Karena dua film ini tergolong baru dan dalam lingkungan anak sekolah, serta banyak menjadi pilihan masyarakat. Diantara pilih film pendidikan, film inilah yang menjadi pilihan untuk menjadi ajang nonton bareng bersama masyarakat.
Sekilas saya melihat 2 film tersebut hanya menampilkan kisah cinta antara anak sekolah. Serta menampilkan pergaulan yang bebas tanpa aturan. Tidak ada motivasi untuk meraih pendidikan dengan baik. Serta tidak menjadikan pendidikan sebagai landasan untuk mencetak generasi emas penerus bangsa.
Di antara banyaknya film karya anak bangsa yang sarat dengan pendidikan. Seperti film Negeri 5 Menara, Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi. Film yang diangkat dari sebuah Novel menjadi film yang sarat dengan motivasi pendidikan.
Seperti Ngeri 5 Menara, yang mengajarkan semangat meraih pendidikan tertinggi hingga keluar negeri. Serta film Laskar Pelangi yang memberikan kisah perjuangan anak-anak dalam meraih pendidikan meski di sebuah desa yang terpencil.
Berbeda sekali dengan dua film diatas, yang mengajarkan dan menampilkan masa-masa pendidikan yang hanya memikirkan soal percintaan. Soal bagaimana menahan rasa rindu kepada lawan jenis dan bergaul dengan bebas.
Hal ini sangat berbeda 360 derajat dengan tujuan penddidikan zaman now. Dengan apa yang di gadangkan oleh Menteri Pendidikan sekarang ini. Yaitu memberikan tontonan yang tidak semestinya serta memberikan keteladanan bagi anak-anak diusia belajar mereka. Bagaimana menjadi generasi penerus bangsa jika hanya memikirkan soal cinta.
Inilah sistem pendidikan yang menghasilkan kekecewaan. Ketika para guru mati-matian memberikan wawasan dan contoh agar dapat menjadi penerus bangsa yang tangguh. Justru yang terjadi sebaliknya, diantaranya banyaknya kasus yang melibatkan anak remaja.

Kasus seperti bunuh diri, bullying, narkoba, geng motor/begal, pacaran yang ujungnya zina, aborsi, serta banyaknya tarwuran pelajar antar geng maupun sekolah. Semua terjadi karena sistem pendidikan yang hanya mementingkan soal nilai di atas kertas. Bukan membentuk individu yang bermoral santun, berakhlak baik serta takwa yang kuat. Bahkan jam pelajran agama hanya 2 jam perminggu, berbeda dengan ilmu dunia yang melebihi 3 jam perminggu.
Jika kita melihat bahwa hal ini bukan semata-mata kurangnya pendidikan maupun visi misi pendidikan sekarang. Tetapi akibat sistem yang tidak benar serta berasal dari pikiran-pikiran manusia yang terbatas. Karena sistem pendidikan zaman now (kapitalisme), begitu mahal serta menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.
Ketika ingin pintar maksimal, maka sekolah di swasta. Jika yang gratisan, hanya sebagian yang dapat meraihnya. Itu pula banyak yang tidak mampu. Bagi rakyat miskin, sekolah menjadi urusan akhir.
Berbeda sekali jika sistem pendidikan Islam yang diterapkan. Islam agama yang Allah SWT ridho ini telah komplet di dalam Qur’an dan Sunah Rasul SAW. Tidak hanya mengatur urusan ibadah mahdoh, tetapi juga mengatur aktivitas manusia. Dari urusan rumah hingga tataran negara.
Islam juga mengatur berbagai sistem kehidupan, seperti politik, sosial, pergaulan, ekonomi, kesehatan, bahkan mengatur sistem pemerintahan. Terpenting juga Islam mengatur sistem pendidikan. Seperti hadist dari Ibnu Majah bahwa : “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.”
Dalam hal individu, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi manusia. Sebab, hal itu akan menjadi jalan untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu. Sedangkan ilmu pasti menjadi unsur utama penopang kehidupannya.
Sedangkan asas dasar pendidikan Islam adalah akidah Islam yang diberlakukan oleh negara. Konsekuensinya agar setiap individu dapat terikat terhadap syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Akidah Islam menjadi standar penilaia untuk mata pelajaran apapun.
Tujuan pendidikan Islam pertama menjadikan individu berkepriadian islam secara mendalam. Kedua menguasai tsaqafah Islam. Ketiga agar setiap individu memiliki IPTEK + IMTAQ. Maka hal yang dipelajari harus membekas dalam diri dan perbuatannnya. Bukan sekedar transfer ilmu dan juga harus membekas dalam diri hingga menghasilkan kpribadian yang beriman dan bertaqwa. Jadi individu dalam sistem Islam akan menghidupkan kesadaran iman dan taqwa. Tidak hanya itu, juga akan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika hanya mementingkan ilmu sains dan teknologi, mari lihat Amerika, Jepang, merka hebat dalam hal itu. Tetapi urusan moral mereka rendah. Berapa banyak kirminalitas, bunuh diri, serta kehidupan sosial yang buruk. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia sekarang.
Maka disinilah pentingnya mengajarkan iman dan takwa. Hal inilah yang akan membentuk moral dan kpribadian yang baik sesuai fitrah penciptaannya sebagai manusia. Keduanya harus mendahulukan urusan akidah baru kemudian soal sains dan tekhnologi.
Semua itu akan terjadi jika negara menerapkan sistem pendidikan Islam. Semua warga bebas belajar tanpa memikirkan urusan biaya alias gratis. Karena semua ditanggung oleh pemerintah Islam.

Berbeda sekali dengan sistem sekarang. Kurikulum dan bahan ajar tidak relevan bahkan tidak menjadikan moral siswa-siswinya baik. Hal ini tak terlepas dari kebijakan pemimpinnya.
Mari bersama berjuang agar Islam dapat menguasai berbagai sistem kehidupan. Karena Allah menjanjikan bagi orang-orang beriman dalam Surah Al-A’raaf ayat 96 :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Jadi, buat apa menonton film yang kurang bermutu, malah mengajak masyarakat untuk bermaksiat ramai-ramai. Menjadikan pribadi siswanya hanya memikirkan ruang lingkup percintaan. Oke jika menonton film yang sarat dengan pendidikan, hal itu akan menambah semangat dan motivasi untuk belajar.


Kamis, 19 April 2018

Mewujudkan Anak-anak Berprestasi



Oleh : Nina Marlina, A.Md.
Member Akademi Menulis Kreatif #2

Nama Indonesia harum kembali setelah Hafidzah asal Sumedang, Rifdah Farnidah berhasil menjadi juara 2 pada Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) tingkat Internasional di Yordania beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya Rifdah telah meraih berbagai juara yaitu 1 MTQ tingkat Nasional JQHNU golongan 5 juz di Kalimantan Barat tahun 2012, juara 1 MTQ Nasional golongan 10 juz di Nusa Tenggara Barat tahun 2016, dan juara 1 MTQ Nasional golongan 30 juz di Kalimantan Barat tahun 2017.(Go Muslim, 28/03/2018).
Selain itu, kabar gembira lainnya peserta Indonesia berhasil meraih juara pertama dalam kejuaraan Debat 4th International Schools Arabic, Debating Championship 2018, di Doha, Qatar pada 7-11 April 2018. Pada kategori ini, para siswi kelas 1 SMA ini berhasil meraih juara pertama dalam debat berbahasa Arab itu setelah mengalahkan Pakistan di babak final. Tak hanya itu, tim juga meraih predikat Best Speaker kategori non-native peringkat pertama diraih Aqidatul Izzha Rahayu, kedua oleh Aftina Zakiyya Wafda, dan ketiga Nuriya Lailatus Sakinah. (CNN Indonesia, 13/04/2018).   
Prestasi-prestasi yang telah diraih oleh anak-anak tersebut patut diapresiasi dan diacungi jempol. Betapa hebat dan luar biasanya kemampuan dan prestasi yang dimiliki oleh mereka. Ketika sebagian besar anak atau remaja pada saat ini menghabiskan waktu dan usianya untuk hal-hal yang negatif, sehingga untuk meraih prestasi pun terlupakan. Sungguh disayangkan, ketika orang tua telah bersusah payah bekerja dan menyekolahkan mereka, tapi tidak sedikit anak yang menjadi nakal akibat gaya hidup dan pergaulan remaja saat ini yang mengerikan.
Sebagai seorang anak, seharusnya kita berusaha untuk menjadi anak yang shalih dan berprestasi sehingga menjadi kebanggaan orang tua. Begitupun dengan para orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang berprestasi dan berakhlakul karimah sesuai dengan harapannya. Namun, ternyata untuk mencapai itu semua tidaklah mudah. Perlu adanya upaya dan kerjasama untuk mencapai itu semua.
Anak adalah anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepada para orang tua. Maka orang tua atau keluarga merupakan bagian penting yang menjadikan anak menjadi baik dan shalih. Ibu sebagai madrastul ula atau sekolah pertama bagi anak-anaknya harus berperan dalam mendidik anak menjadi insan yang bertaqwa, sehingga ia harus membekali dirinya dengan ilmu dan ketaqwaan. Orang tua haruslah berusaha semaksimal mungkin untuk merawat dan mendidik anaknya sesuai dengan Islam sehingga jangan sampai anaknya terjerumus ke dalam kemaksiatan. Dengan bekal dan pendidikan oleh Ibu atau Ayah kepada anaknya maka akan menjadi bekal untuk ketaqwaan dirinya.
Faktor lingkungan juga menjadi hal yang penting. Jika anak sudah aman dengan pendidikan dari keluarga, tapi ia belum mampu melawan masifnya serangan dan godaan kemaksiatan di sekitar lingkungannya, baik sekolah, rumah atau media. Maka tidak menutup kemungkinan anak pun akan mudah terpengaruhi untuk mencoba kemaksiatan. Ketika ke luar dari rumah merasakan kebebasan dan mempunyai kesempatan untuk melakukan hal yang buruk.
Sokongan negara pun tak bisa diabaikan. Negara seharusnya memberikan pendidikan yang berkualitas dan gratis kepada rakyatnya. Dalam Islam, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh negara. Sejarah telah mencatat bagaimana gemilangnya masa kekhilafahan dahulu.
Pada masa Kekhilafahan Abasiyah telah dibangun fasilitas pendidikan untuk rakyatnya dengan membangun sekolah, universitas, dan perpustakaan lengkap.  Sehingga banyak ilmuwan muslim yang telah lahir dari peradaban yang gemilang ini diantaranya Al-Khawarizmi (Ilmu Matematika),Yuhannah bin Musawaih (Ilmu Kedokteran),  Imam Syafi’i (Ilmu Fiqh), serta Imam Bukhari dan Muslim (Ilmu Hadits). Selain cerdas dalam bidang ilmunya, mereka juga shalih dan berakhlakul karimah. Aqidah memang menjadi pondasi utama dalam mendidik anak-anak di masa awal atau sebelum baligh.
Maka dengan kondisi tersebut insya Allah bukan hanya segelintir orang yang dapat mengharumkan negara dengan prestasinya namun sebagian besar atau semuanya bisa berprestasi dan berakhlakul karimah dengan ilmu dan bekal yang telah didapatkan. Bukankah inilah generasi yang kita butuhkan dan dambakan untuk menjadi pemimpin masa depan?
Wallahu a’lamu bishshawwab.

#KelasOpiniAMK
#AkademiMenulisKreatif
#PenulisBelaIslam