Cadar dikesankan
sangar, pakaian yang membuka aurat dikesankan terhormat. Tatkala melihat wanita
bercadar langsung mencap radikal, namun ketika ada yang mengkritisi aurat
perempuan yang terbuka langsung membela diri dengan alasan privasi. Terhadap
orang yang risih dengan pamerisasi aurat, mudah menuduh otaknya yang
bermasalah. Namun terhadap orang yang menutup aurat dan memakai cadar, malah
pemakainya yang dicap bermasalah. Begitulah logika sekulerisme radikal yang penuh
dengan islamophobia.
Berbagai
pemikiran serta simbol yang identik dengan pelaksanaan syariah Islam selalu
salah, sedangkan berbagai hal yang mengutamakan kebebasan, meskipun itu
melabrak syariah senantiasa berada di atas kebenaran.
Memang miris, di
balik pelarangan cadar yang tembus dari Paris Perancis hingga kampus negeri di
sebelah utara Parangtritis, kita melihat betapa berbahayanya islamophobia. Karenanya,
semua perkara yang sebenarnya merupakan pendapat Islami bisa dipandang menjadi tabu.
Tersebab ia dipandang bertentangan dengan paham kebebasan. Namun mata kita juga
semakin terbuka, mengenai siapa yang radikal sebenarnya.
Apalagi ketika
kita menyaksikan demo sekelompok perempuan yang menyuarakan kebebasan
perempuan. Di balik tuntutannya, selalu syariah Islam yang menjadi target
penggugatan.
Islamophobia
adalah ketakutan terhadap Islam secara berlebihan, bahkan cenderung tidak
memiliki dasar alasan yang kuat terhadapnya. Islamophobia semakin menguat
setelah sekulerisme menjadi pemimpin tunggal dunia. Keyakinan kaum muslim akan
kebangkitan agamanya, ditambah berbagai prediksi tentang kebangkitan Islam,
seolah menambah ketakutan Barat terhadap Islam.
Sebagaimana
Snouck Hurgronje yang menjadi penanam bibit Islamophobia di era penjajahan
Belanda, kaum Islamophobia menyadari bahwa kekuatan umat Islam terletak pada
pemahamannya. Oleh karena itu berbagai aturan, tata hidup dan tata perilaku
yang bersumber dari pemahaman Islam mesti dipisahkan dari umatnya. Bahkan tak
jarang hingga sesuatu yang mereka cap sebagai perkara yang simbolistik pun
diperlakukan sama. Padahal mereka sering berkoar-koar kalau simbol itu tidak
terlalu penting dan jangan terjebak pada simbol. Namun anehnya, belakangan
malahan mereka sendiri yang phobia terhadap simbol Islam.
Berbagai langkah
pencitraburukkan Islam sebagai sesuatu yang mengerikan, menakutkan serta sadis
pun dipropagandakan. Sebenarnya apa yang sebenarnya dicari oleh penggerak
islamophobia? Sebenarnya satu, memalingkan manusia dari Islam. Itu saja.
Lalu akan
berhasilkah berbagai gerakan pencitraburukan terhadap Islam ini? Tidak akan.
Mengapa demikian, dikarenakan beberapa alasan berikut :
Pertama, Islam
merupakan agama menentramkan hati dan akal. Kebenaran Islam bukanlah
kebenaran dan bersifat dogmatis dan doktiner. Aqidah Islamiyyah sebagai pondasi
berbagai pemikiran Islam merupakah aqidah yang rasional. Kebenarannya dapat
dibuktikan dengan dalil aqli dan naqli. Banyak ayat Al Quran yang menyentuh
akal manusia untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah Swt. Sehingga potensi
akal diposisikan dan digunakan secara benar dan proporsinal.
Misalnya, ketika
Allah Swt berfirman
“Hai manusia,
sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar
kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan
dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu
janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
(TQS. Al Baqarah : 21-22)
Dan
“Sekiranya
ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah
rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang
mereka sifatkan.” (TQS. Al Anbiya : 22)
Keyakinan yang
diraih melalui proses berpikir secara benar akan menancap kuat. Hal inilah yang
akan membuat berbagai makar terhadap Islam yang dilakukan selama ini tidak bisa
menghapus Islam dari muka bumi. Bahkan ketika fitnah dan tuduhan itu semakin
massif, orang yang melirik Islam pun malah semakin banyak.
Sebagaimana yang
terjadi di Eropa. Menurut penelitian Pew Research Center, sentimen negatif
warga Eropa terhadap muslim sangat melonjak sepanjang tahun 2016. Di Inggris,
islamophobia di kalangan penduduk meningkat sampai 28 persen. Di Spanyol dan
Italia, prosentase masing-masing adalah 50% dan 69%. Sedangkan di Yunani,
presentasinya 65%. Hungaria tertinggi dengan angka 72%. Polandia, Perancis,
Jerman, Belanda, dan Swedia menyusul dengan laporan peningkatan yang juga
terbilang tinggi. (www.pikiran-rakyat[dot]com).
Akan tetapi jumlah penduduk muslim semakin hari semakin bertambah, bahkan
survey Pew Research Center pun menunjukkan bahwa populasi muslim Eropa bisa
meningkat hingga 3 kali lipat pada tahun 2050. Salah satu faktornya adalah
karena anak-anak kalangan kaum muslim cenderung mengikuti agama orang tuanya.
Kedua, Islam
merupakan agama yang sesuai fitrah. Allah Swt berfirman,
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (TQS. Ar Ruum: 30)
Imam Ibnu Katsir
menjelaskan bahwa tegakkanlah wajahmu dan teruslah berpegang pada apa yang
disyariatkan Allah kepadamu berupa agama Nabi Ibrahim yang hanif, yang
merupakan pedoman hidup bagimu. Allah telah menyempurnakan agama ini dengan
puncak kesempurnaan. Dengan demikian maka engkau masih berada pada fitrahmu
yang lurus.
Beliau pun
menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan mengenal-Nya,
mentauhidkan-Nya dan mengakui bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah.
Karena itulah,
Islam pasti akan diterima oleh setiap yang hanif (lurus). Berbagai aturan yang
terlahir dari Islam merupakan aturan yang pasti sesuai dengan fitrah
kemanusiaan. Sehingga ketika orang menjauh dari Islam maka ia akan gelisah.
Sebaliknya, ketika ia mengambil kebenaran Islam maka ia akan tenang.
Sebagaimana yang
terjadi pada George bin Todzira, panglima Byzantium yang gelisah setelah
berdialog dengan Khalid bin Walid di sela peperangan Yarmuk, lalu ia masuk
Islam dan menjadi salah satu syuhada kaum muslim. Atau seperti ketenangan yang
bersemayam dalam diri Hindun setelah ia masuk Islam setelah Fathu Makkah. Ia
berkata, “Demi Allah! Belum pernah aku melihat Allah disembah dengan
sebenarnya di Masjidil Haram sebelum malam tadi.” Ia pun menghancurkan
berhalanya seraya berkata, “Dulu, kami terperdaya olehmu!”
Kesesuaian Islam
dengan fitrah manusia berlaku hingga akhir zaman. Meskipun peralatan teknologi
berubah semakin canggih, fitrah manusia tetaplah tidak berubah. Manusia
membutuhkan makan, minum, bernafas serta memiliki kecenderungan naluri beragama,
melestarikan jenis (semisal seksual) serta ingin eksistensinya diakui. Perkakas
dapur dan peralatan makan bisa berubah-ubah, begitu pula dengan tempat
makannya, tetapi tetap saja yang dibutuhkan oleh manusia adalah makan.
Islam telah
mengatur berbagai pemenuhan kebutuhan fisik serta naluriah manusia sesuai
fitrahnya. Islam tidak mematikan kecenderungan naluri seksual atau
membebaskannya secara liar, namun Islam mengaturnya supaya tetap dalam derajat
kemuliaan manusia. Kesesuaian fitrah inilah yang akan menjaga Islam tetap diemban
oleh manusia. Bahkan ketika manusia menjauh dari Islam, berbagai kegelisahan,
perselisihan dan kekacauan akan melanda kehidupannya.
Ketiga, Islam
terbukti gemilang dalam sejarah peradaban dunia. Tiada pandangan hidup atau
ideologi yang terbukti bertahan dalam kegemilangan selama lebih dari 13 abad.
Komunisme telah runtuh menorehkan berbagai masalah dan kerusakan. Kapitalisme sedang
memimpin manusia dengan berbagai penjajahan dan eksploitasi. Dalam kepemimpinan
kapitalisme kerusakan terjadi di seluruh lini kehidupan. Degradasi lingkungan, kriminalitas,
perang saudara, kesenjangan kaya dan miskin serta penindasan etnis terus berlangsung.
Padahal selama dalam
naungan Islam, wilayah dunia berada dalam kedamaian dan kesejahteraan. Sebagaimana
yang pernah disampaikan oleh CEO Hewlet Packard Carly Fiorina bahwa peradaban
Islam mampu menghasilkan sebuah negara super yang membentang dari samudera ke
samudera, dari daerah sub-tropik hingga ke daerah tropik dan gurun. Dalam
wilayah kekuasaannya, tinggal ratusan juta warganya, yang terdiri dari berbagai
kepercayaan dan bangsa. Salah satu dari
sekian banyak bahasanya menjadi bahasa universal dan menjadi jembatan
penghubung antar warganya yang tinggal diberbagai negeri. Tentaranya tersusun
dari orang-orang yang berlainan kebangsaannya. Kekuatan militernya mampu memberikan
kedamaian dan kesejahteraan yang belum pernah ada sebelumnya. jangkauan armada
perdagangannya membentang dari Amerika latin sampai ke Cina, serta
daerah-daerah yang berada di antara keduanya.
Carly pun menyampaikan
bahwa ketika pemberangusan seringkali mengancam keberadaan ilmu pengetahuan,
peradaban Islam justru melindungi, mempertahankan, serta menyampaikannya kepada
umat-umat lain.
Keempat, kebangkitan
Islam merupakan janji Allah. Sebagaimana firman-Nya,
“Dan Allah
telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa
di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap)
kafir sesudah ( janji ) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. An Nur :55)
Imam As Sadi
menjelaskan bahwa janji Allah di dalam ayat ini berlaku sampai hari kiamat,
selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa
yang telah dijanjikan Allah adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang
kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum
muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan
amal shalih.
Walhasil,
semasif apapun upaya menumbuhkan Islamophobia di tengah masyarakat dunia niscaya
tidak akan menemukan hasilnya. Justru sebaliknya, akan semakin banyak orang
yang berpikir, kembali kepada fitrahnya serta memperjuangkan Islam. Wallahu
al-Hadi ila Sabili Ar Rosyad.
(Aryh MN –
Pengelola FP Mudah Nulis)





