Senin, 06 Agustus 2018

GERAKAN ISLAMOPHOBIA, PASTI GAGAL!



Cadar dikesankan sangar, pakaian yang membuka aurat dikesankan terhormat. Tatkala melihat wanita bercadar langsung mencap radikal, namun ketika ada yang mengkritisi aurat perempuan yang terbuka langsung membela diri dengan alasan privasi. Terhadap orang yang risih dengan pamerisasi aurat, mudah menuduh otaknya yang bermasalah. Namun terhadap orang yang menutup aurat dan memakai cadar, malah pemakainya yang dicap bermasalah. Begitulah logika sekulerisme radikal yang penuh dengan islamophobia.
Berbagai pemikiran serta simbol yang identik dengan pelaksanaan syariah Islam selalu salah, sedangkan berbagai hal yang mengutamakan kebebasan, meskipun itu melabrak syariah senantiasa berada di atas kebenaran.
Memang miris, di balik pelarangan cadar yang tembus dari Paris Perancis hingga kampus negeri di sebelah utara Parangtritis, kita melihat betapa berbahayanya islamophobia. Karenanya, semua perkara yang sebenarnya merupakan pendapat Islami bisa dipandang menjadi tabu. Tersebab ia dipandang bertentangan dengan paham kebebasan. Namun mata kita juga semakin terbuka, mengenai siapa yang radikal sebenarnya.
Apalagi ketika kita menyaksikan demo sekelompok perempuan yang menyuarakan kebebasan perempuan. Di balik tuntutannya, selalu syariah Islam yang menjadi target penggugatan.
Islamophobia adalah ketakutan terhadap Islam secara berlebihan, bahkan cenderung tidak memiliki dasar alasan yang kuat terhadapnya. Islamophobia semakin menguat setelah sekulerisme menjadi pemimpin tunggal dunia. Keyakinan kaum muslim akan kebangkitan agamanya, ditambah berbagai prediksi tentang kebangkitan Islam, seolah menambah ketakutan Barat terhadap Islam.
Sebagaimana Snouck Hurgronje yang menjadi penanam bibit Islamophobia di era penjajahan Belanda, kaum Islamophobia menyadari bahwa kekuatan umat Islam terletak pada pemahamannya. Oleh karena itu berbagai aturan, tata hidup dan tata perilaku yang bersumber dari pemahaman Islam mesti dipisahkan dari umatnya. Bahkan tak jarang hingga sesuatu yang mereka cap sebagai perkara yang simbolistik pun diperlakukan sama. Padahal mereka sering berkoar-koar kalau simbol itu tidak terlalu penting dan jangan terjebak pada simbol. Namun anehnya, belakangan malahan mereka sendiri yang phobia terhadap simbol Islam.  
Berbagai langkah pencitraburukkan Islam sebagai sesuatu yang mengerikan, menakutkan serta sadis pun dipropagandakan. Sebenarnya apa yang sebenarnya dicari oleh penggerak islamophobia? Sebenarnya satu, memalingkan manusia dari Islam. Itu saja.
Lalu akan berhasilkah berbagai gerakan pencitraburukan terhadap Islam ini? Tidak akan. Mengapa demikian, dikarenakan beberapa alasan berikut :
Pertama, Islam merupakan agama menentramkan hati dan akal. Kebenaran Islam bukanlah kebenaran dan bersifat dogmatis dan doktiner. Aqidah Islamiyyah sebagai pondasi berbagai pemikiran Islam merupakah aqidah yang rasional. Kebenarannya dapat dibuktikan dengan dalil aqli dan naqli. Banyak ayat Al Quran yang menyentuh akal manusia untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah Swt. Sehingga potensi akal diposisikan dan digunakan secara benar dan proporsinal.
Misalnya, ketika Allah Swt berfirman
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (TQS. Al Baqarah : 21-22)  
Dan
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (TQS. Al Anbiya : 22)
Keyakinan yang diraih melalui proses berpikir secara benar akan menancap kuat. Hal inilah yang akan membuat berbagai makar terhadap Islam yang dilakukan selama ini tidak bisa menghapus Islam dari muka bumi. Bahkan ketika fitnah dan tuduhan itu semakin massif, orang yang melirik Islam pun malah semakin banyak.
Sebagaimana yang terjadi di Eropa. Menurut penelitian Pew Research Center, sentimen negatif warga Eropa terhadap muslim sangat melonjak sepanjang tahun 2016. Di Inggris, islamophobia di kalangan penduduk meningkat sampai 28 persen. Di Spanyol dan Italia, prosentase masing-masing adalah 50% dan 69%. Sedangkan di Yunani, presentasinya 65%. Hungaria tertinggi dengan angka 72%. Polandia, Perancis, Jerman, Belanda, dan Swedia menyusul dengan laporan peningkatan yang juga terbilang tinggi. (www.pikiran-rakyat[dot]com). Akan tetapi jumlah penduduk muslim semakin hari semakin bertambah, bahkan survey Pew Research Center pun menunjukkan bahwa populasi muslim Eropa bisa meningkat hingga 3 kali lipat pada tahun 2050. Salah satu faktornya adalah karena anak-anak kalangan kaum muslim cenderung mengikuti agama orang tuanya.
Kedua, Islam merupakan agama yang sesuai fitrah. Allah Swt berfirman,
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (TQS. Ar Ruum: 30)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tegakkanlah wajahmu dan teruslah berpegang pada apa yang disyariatkan Allah kepadamu berupa agama Nabi Ibrahim yang hanif, yang merupakan pedoman hidup bagimu. Allah telah menyempurnakan agama ini dengan puncak kesempurnaan. Dengan demikian maka engkau masih berada pada fitrahmu yang lurus.
Beliau pun menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan mengenal-Nya, mentauhidkan-Nya dan mengakui bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah.
Karena itulah, Islam pasti akan diterima oleh setiap yang hanif (lurus). Berbagai aturan yang terlahir dari Islam merupakan aturan yang pasti sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Sehingga ketika orang menjauh dari Islam maka ia akan gelisah. Sebaliknya, ketika ia mengambil kebenaran Islam maka ia akan tenang.
Sebagaimana yang terjadi pada George bin Todzira, panglima Byzantium yang gelisah setelah berdialog dengan Khalid bin Walid di sela peperangan Yarmuk, lalu ia masuk Islam dan menjadi salah satu syuhada kaum muslim. Atau seperti ketenangan yang bersemayam dalam diri Hindun setelah ia masuk Islam setelah Fathu Makkah. Ia berkata, “Demi Allah! Belum pernah aku melihat Allah disembah dengan sebenarnya di Masjidil Haram sebelum malam tadi.” Ia pun menghancurkan berhalanya seraya berkata, “Dulu, kami terperdaya olehmu!”
Kesesuaian Islam dengan fitrah manusia berlaku hingga akhir zaman. Meskipun peralatan teknologi berubah semakin canggih, fitrah manusia tetaplah tidak berubah. Manusia membutuhkan makan, minum, bernafas serta memiliki kecenderungan naluri beragama, melestarikan jenis (semisal seksual) serta ingin eksistensinya diakui. Perkakas dapur dan peralatan makan bisa berubah-ubah, begitu pula dengan tempat makannya, tetapi tetap saja yang dibutuhkan oleh manusia adalah makan.
Islam telah mengatur berbagai pemenuhan kebutuhan fisik serta naluriah manusia sesuai fitrahnya. Islam tidak mematikan kecenderungan naluri seksual atau membebaskannya secara liar, namun Islam mengaturnya supaya tetap dalam derajat kemuliaan manusia. Kesesuaian fitrah inilah yang akan menjaga Islam tetap diemban oleh manusia. Bahkan ketika manusia menjauh dari Islam, berbagai kegelisahan, perselisihan dan kekacauan akan melanda kehidupannya.
Ketiga, Islam terbukti gemilang dalam sejarah peradaban dunia. Tiada pandangan hidup atau ideologi yang terbukti bertahan dalam kegemilangan selama lebih dari 13 abad. Komunisme telah runtuh menorehkan berbagai masalah dan kerusakan. Kapitalisme sedang memimpin manusia dengan berbagai penjajahan dan eksploitasi. Dalam kepemimpinan kapitalisme kerusakan terjadi di seluruh lini kehidupan. Degradasi lingkungan, kriminalitas, perang saudara, kesenjangan kaya dan miskin serta penindasan etnis terus berlangsung.
Padahal selama dalam naungan Islam, wilayah dunia berada dalam kedamaian dan kesejahteraan. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh CEO Hewlet Packard Carly Fiorina bahwa peradaban Islam mampu menghasilkan sebuah negara super yang membentang dari samudera ke samudera, dari daerah sub-tropik hingga ke daerah tropik dan gurun. Dalam wilayah kekuasaannya, tinggal ratusan juta warganya, yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan bangsa.  Salah satu dari sekian banyak bahasanya menjadi bahasa universal dan menjadi jembatan penghubung antar warganya yang tinggal diberbagai negeri. Tentaranya tersusun dari orang-orang yang berlainan kebangsaannya. Kekuatan militernya mampu memberikan kedamaian dan kesejahteraan yang belum pernah ada sebelumnya. jangkauan armada perdagangannya membentang dari Amerika latin sampai ke Cina, serta daerah-daerah yang berada di antara keduanya.
Carly pun menyampaikan bahwa ketika pemberangusan seringkali mengancam keberadaan ilmu pengetahuan, peradaban Islam justru melindungi, mempertahankan, serta menyampaikannya kepada umat-umat lain.
Keempat, kebangkitan Islam merupakan janji Allah. Sebagaimana firman-Nya,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun  dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah ( janji )  itu, maka  mereka itulah orang-orang yang  fasik.” (TQS. An Nur :55)
Imam As Sadi menjelaskan bahwa janji Allah di dalam ayat ini berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.
Walhasil, semasif apapun upaya menumbuhkan Islamophobia di tengah masyarakat dunia niscaya tidak akan menemukan hasilnya. Justru sebaliknya, akan semakin banyak orang yang berpikir, kembali kepada fitrahnya serta memperjuangkan Islam. Wallahu al-Hadi ila Sabili Ar Rosyad.
(Aryh MN – Pengelola FP Mudah Nulis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar