Senin, 23 Januari 2017
Siapakah Al-Hakim?
Kamis, 19 Januari 2017
Jin Nashibin dan Ayat Suci
Ketika pertentangan musyrik Makkah semakin menghebat. Hati tokoh-tokoh mereka semakin membatu terhadap wahyu. Rasulullah Saw pun mulai mencari wilayah untuk membuka lahan dakwah di luar Makkah. Beliau mulai melirik Thaif sebagai tujuan hijrah.
Sayang sekali, langkah Rasulullah Saw sudah tercium oleh kaum musyrik. Mereka pun menghasut para penduduk Thaif untuk mengusir Rasulullah Saw. Dakwah Islam dicitrakan negatif, Rasulullah dituduh pembuat onar dan pemecah belah rakyat Makkah. Karena itulah, jangankan mau mendengarkan ayat suci, Rasulullah Saw datang pun langsung dilempari. Hingga beliau dan beberapa shahabat langsung memutuskan untuk segera kembali.
Rasulullah terus bersabar. Meskipun Jibril a.s. menawari beliau untuk menimpakan bukit kepada para penduduk Thaif, beliau menolaknya. Beliau sampaikan kepada Jibril bahwa penduduk Thaif melakukan hal tersebut karena ketidaktahuan. Memang betul, kebodohanlah yang membuat penduduk Thaif mau dibodohi oleh para penentang dakwah Rasulullah Saw.
Dalam perjalanan pulang ke Makkah, Allah Swt menghibur Rasulullah Saw. Di antara kebodohan para penduduk Thaif, ada kecerdasan dari makhluk Allah Swt yang lain. Siapakah mereka? Tidak lain mereka adalah golongan Jin di daerah Nashibin. Allah Swt menyampaikan,
"Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan. (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami."
(TQS. Jin [72]: 1-2)
Ayat-ayat suci langsung diimani oleh Jin Nashibin, tidak lain karena mereka mau membuka diri terhadap kebenaran. Mereka memposisikan ayat-ayat suci sebagai petunjuk ke jalan kebenaran.
Allah Swt berfirman,
"Dan bahwasanya, orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah."
(TQS. Jin [72] : 4)
Manusia adalah makhluk Allah Swt yang mulia, tetapi ia menjadi rendah karena kebodohan dan keangkuhan. Terbukti, penduduk Thaif diposisikan lebih hina dibandingkan kalangan Jin Nashibin yang beriman.
Saat ini, alhamdulillah kita ditaqdirkan oleh Allah Swt sebagai kaum muslim. Terlahir di keluarga orang-orang yang beriman. Bagaimanakah kita akan memperlakukan Al Quran. Sebagaimana Jin Nashibin yang menjadikannya sebagai petunjuk. Ataukah sebagaimana kaum musyrik Makkah yang menentang karena mempertahankan keangkuhan, ataukah laksana penduduk Thaif yang menolak karena memelihara kebodohan. Wallahu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.
(Ary H.)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Ayat Suci
Ayat suci, saking sucinya membuat orang tak mau mengembannya. Karena khawatir dianggap sok suci. Apalagi tidak ada manusia yang suci, bahkan semuanya tak lepas dari noda dan dosa. Karena itulah, ayat suci harus disucikan dari derap kehidupan. Begitulah logika sekulerisme, yang berpangkal pada keyakinan pemisahan agama dari kehidupan.
Sekulerisme menganggap urusan dunia yang fana tak boleh dicampur dengan urusan akhirat yang keramat. Urusan dunia merupakan urusan pemikiran, sedangkan urusan akhirat merupakan urusan dogma dan doktrin. Urusan dunia kotor sedangkan urusan akhirat suci. Manusia harus memilih salah satu, menjadi orang suci dengan ayat suci, ataukah berkotor-kotor dengan urusan dunia. Begitulah logika sekulerisme, seluruh sendi kehidupan dibangun di atas asas selain agama.
Lain halnya dengan Islam. Jika yang dimaksud ayat suci adalah kalam Ilahi, yang tertuang dalam Al Quran Al Karim, maka Islam meyakini bahwa ayat suci sebagai petunjuk. Ia adalah titian menuju ridlo Ilahi. Semua hal tentang hidup, dijelaskan di dalamnya. Karena itulah di dalam ayat suci ditegaskan bahwa hidup kita saat ini berhubungan dengan nasib kita di kehidupan akhirat kelak.
"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (TQS. Annahl[] : 89)
Ibnu Mas'ud r.a. berkata bahwasanya Allah telah menjelaskan di dalam Al Quran semua ilmu dan semua benda. Mujahid rahimahullahu ta'ala berkata bahwa Al Quran menjelaskan semua yang halal dan haram, dan yang dimaksud dengan perkataan Ibnu Mas'ud adalah umum dan menyeluruh, mencakup khabar tentang masa lampau dan masa yang akan datang. Setiap yang halal dan haram, serta semua yang manusia butuhkan terkait urusan dunia, agama, penghidupan dunia dan tempat kembali di akhirat kelak.
Islam selalu mengaitkan ayat suci dengan kehidupan. Tatkala 'Aisyah r.a. ditanya tentang akhlaq Rasulullah Saw, beliau menjawabnya dengan mengatakan bahwa akhlaq Rasulullah Saw adalah Al Quran. Artinya, ayat suci bisa membumi.
Membumikan ayat suci bukan hanya menjadi tugas Rasulullah Saw, bahkan hal tersebut merupakan tugas seluruh kaum mukmin. Kita dapat menyaksikan bagaimana kehidupan para shahabat, mereka tak pernah memisahkan ayat suci dari kehidupan. Bahkan setiap khalifah diangkat, ia dibai'at untuk menjalankan ayat suci. Ayat suci benar-benar dijadikan panduan, bukan hanya menjadi accesories dalam sumpah jabatan.
Al-Auza'i rahimahullahu ta'ala menegaskan bahwa Allah yang mewajibkanmu untuk menyampaikan Al Quran, yang telah menurunkan Al Quran kepadamu, Dia-lah yang akan meminta pertanggungjawabanmu di hari Kiamat.
Demikianlah pandangan Islam, Allah Swt menempatkan posisi ayat suci pada posisi yang mulia. Begitu pula demikianlah pandangan sekulerisme, manusia meletakkan posisi ayat suci pada posisi yang hina. Tinggal kita memilih, mau menempatkan ayat suci pada posisi yang mulia ataukah hina. Sebagai mukmin, selayaknya kita punya pilihan yang sejalan dengan keimanan dan ketaatan kita kepada Allah Swt. Wallohu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.
(Ary H.)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Selasa, 10 Januari 2017
Antara Menulis dan Isi Tulisan
Menulis atau isi tulisan, manakah yang lebih penting? Jika isi tulisannya bagus, tetapi kata-kata yang tertuliskan kurang tepat maka hasilnya salah paham. Begitu juga jika kata-kata yang tertuliskan begitu indah, tetapi isi pikirannya sampah maka hasilnya paham yang salah. Oleh karena itu jika kita memilih berkomunikasi lewat tulisan, menulis dan isi tulisan sama pentingnya.
Akan tetapi jika ditimbang-timbang, isi tulisan pastinya berasal dari berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi oleh penulisnya. Karena itulah, mengadopsi ide dan pemikiran yang benar itulah yang utama dilakukan sebelum menulis. Pisau analisis akan fakta yang dipakai oleh para penulis, pastilah berasal dari pemahamannya memandang fakta tersebut. Misal, dengan fakta tahun baru 2017 bisa dihasilkan banyak tulisan. Bisa kritikan, dukungan atau pembiaran akan pesta malam tahun baru. Bisa pula renungan, candaan atau bahkan sekedar curhat-curhatan. Bisa berupa berita, analisa ataupun hanya sekedar cerita. Semua tergantung pada apa yang ada dalam isi kepala penulisnya.
Pemikiran benar seperti apakah yang mesti diadopsi oleh para penulis muslim? Yang paling utama adalah pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta dan kehidupan serta hubungannya dengan sebelum kehidupan dan sesudah kehidupan. Pemikiran ini merupakan pemikiran yang paling mendasar yang disebut dengan Aqidah. Ia berkutat pada tiga pertanyaan yang paling utama, yakni tentang dari manakah kehidupan ini berasal? untuk apakah hidup ini? Dan akan kemanakah manusia setelah kehidupan ini berakhir?
Jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan membentuk keyakinan yang paling mendasar (Aqidah). Keyakinan mendasar inilah yang akan membentuk pandangan yang khas terhadap fakta atau kejadian. Pandangan inilah yang biasanya dituangkan menjadi tulisan. Alhasil, dari sudut pandang inilah isi tulisan menjadi lebih utama dibandingkan cara menulis.
Bukan berarti menulis menjadi tak penting. Namun menulis hanya membutuhkan pengulangan sedangkan isi tulisan membutuhkan pembenaran hati dan pembelajaran untuk dapat mengaitkan fakta dengan pemahaman yang tumbuh dari Aqidah. Menulis membutuhkan pembiasaan mengolah kata. Isi tulisan membutuhkan keikhlashan, kejujuran hati dan pembiasaan pola pikir. Sebagai para penulis muslim, tentu pola pikir Islami-lah yang mestinya tertuang dalam tulisan. Sehingga bisa menghasilkan tulisan yang tak hanya indah, tetapi lebih dari itu, mengantarkan manusia pada hidayah.
Untuk menghindari kekeliruan dalam menulis, kita hanya membutuhkan praktek pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dasar dahulu. Iya benar. Kita hanya membutuhkan praktik menyusun kalimat pola SPOK (Subjek Predikat Objek Keterangan) atau KSPO, itu saja. Karena pada dasarnya, pola kalimat bahasa Indonesia hanyalah itu. Jangan sampai Subjek terbaca sebagai Objek atau sebaliknya. Pemilihan kata Predikat yang tepat bisa dengan mudah dicari via kbbi online. Tentunya, semua itu dilakukan setelah ide-ide kita tercurahkan, bukan sebelumnya. Inilah yang penting dari proses editing. Editing pasca writing, bukan editing sambil writing.
Selayaknya para penulis muslim tak perlu terlena hanya dengan ketakjuban orang atas keindahan kata-kata yang kita tuliskan. Untuk apa semua itu jika dengannya pembaca tak tertunjuki pada kebaikan. Lebih baik isi tulisan yang mengantarkan pada kebaikan seraya dihiasi dengan kata-kata yang sederhana tapi mampu meyakinkan.
Terkait menulis atau isi tulisan, para penulis muslim punya dua tugas utama. Tak hanya belajar menulis, tetapi belajar tentang isi tulisan yang akan dituangkan. Negara-negara maju seperti AS sering mengundang para penulis. Hingga 2014, AS mengundang para penulis dalam program International setiap tahunnya dengan seleksi yang sangat ketat. Pernah ada panitian program yang mengatakan, mengundang satu penulis lebih beruntung daripada sepuluh orang bukan penulis. Salah seorang penulis tanah air yang pernah mengikuti program tersebut pada tahun 1993, Much. Khoiri, menuliskan :
"Untungnya, penulis akan mengembangkan apa yang ditangkap dan dialami ke dalam tulisan - sedangkan bukan penulis hanya menyimpannya di dalam angan sebagai wawasan, atau bahkan melupakannya." (Rahasia Top Menulis, hal. 10)
Program AS ini bukanlah sekedar tentang menulis, tetap tentang isi tulisan. Bagaimana supaya berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi AS bisa menular kepada para penulis.
Negara kapitalis penjajah seperti AS saja peduli terhadap isi tulisan, sungguh sangat naif jika kita tidak memedulikannya. Jadi, saatnya para penulis muslim untuk peduli terhadap isi tulisan. Tuliskanlah yang baik atau lebih baik diam. Tuliskanlah kebaikan meski hanya dalam beberapa kalimat. Saatnya para penulis muslim untuk "Berani nulis, berani dakwah." Wallahu al-Musta'an.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Senin, 09 Januari 2017
Disorientasi Nilai
Satu hal yang pasti, bahwa setiap perbuatan memiliki nilai tertentu yang ingin dicapai oleh seseorang, tatkala ia melakukan suatu perbuatan, sebab kalau tidak, tentu perbuatannya akan sia-sia.
Nilai suatu perbuatan ada yang bersifat materi, semisal perdagangan. Maksud dari perbuatan ini adalah mendapatkan materi berupa keuntungan. Ada juga nilai yang bersifat kemanusiaan, semisal menolong orang tenggelam. Dalam hal ini, yang menjadi tujuan adalah menyelamatkan orang tanpa melihat suku, ras dan agamanya. Ada juga nilai yang bersifat moral, semisal jujur, amanah dan sebagainya. Tujuannya adalah memperoleh aspek moralitas semata dan tanpa memperhitungkan keuntungan materi. Ada juga yang bersifat ruhiyah, semisal ibadah. Dalam hal ini, ibadah ditujukan semata hanya untuk beribadah. Kegiatan ibadah tidak dimaksudkan untuk mendapatkan nilai materi, kemanusiaan maupun moral. Karena itulah mesti dijaga pencapaian nilai ruhiyahnya.
Islam membolehkan peraihan keempat nilai perbuatan tersebut oleh manusia. Tentunya dengan catatan peraihan semua nilai tersebut harus sesuai perintah dan larangan Allah Swt.
Namun dalam dunia yang serba materialistis seperti saat ini, tak jarang terjadi disorientasi nilai. Karena semua perbuatan seringkali diukur dengan materi. Misal, didorong jujur supaya sukses berdagang. Banyak menolong supaya sukses berbisnis bahkan beribadah pun ditujukan supaya harta berlimpah. Mengapa semua ujungnya menjadi materi. Tersebab mindset hidup yang dibentuk pandangan hidup sekulerisme adalah hidup ini hanya untuk mencari materi, tak lebih dari itu.
Mari kita simak kisah berikut, bagaimana seorang shahabat menjaga pencapaian nilai ruhiyah dalam perbuatannya.
Sesaat setelah diangkat menjadi khalifah, Umar bin Al Khaththab mengangkat Sa'id bin Amir menjadi Gubenur Syam yang berpusat di Hims. Meskipun pada awalnya menolak, Sa'id akhirnya menerima juga penugasan tersebut.
Sa'id berangkat ke Hims bersama istrinya. Keduanya masih pengantin baru. Istrinya merupakan wanita yang sangat cantik.
Amirul Mukminin membekali mereka dengan harta yang cukup. Ketika keduanya sudah nyaman di Hims, istrinya hendak menggunakan harta tersebut untuk membeli pakaian yang layak, perlengkapan rumah tangga serta menyimpan sisanya.
Mengetahui maksud istrinya, Sa'id berkata, "Maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita sekarang berada di negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat ramai. Harta itu lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita berkembang."
Sang istri bertanya, "Bagaimana jika rugi?"
Sa'id menjawab, "Aku akan sediakan jaminan."
Akhirnya Sang istri pun menyetujui rencana Sa'id. Kemudian Sa'id pergi membeli sebagian keperluan hidup yang bersahaja lalu uang lainnya dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan.
Hari terus berlalu, Sang istri pun selalu menanyakan perdagangan mereka serta keuntungannya. Sa'id menjawab dengan mantap, "Bisnisnya lancar dan keuntungannya terus meningkat."
Suatu saat, Sang istri menanyakan tentang harta tersebut kepada orang lain yang mengetahui kejadian sebenarnya. Orang itu pun tertawa sehingga membuat istri Sa'id curiga. Ia pun menanyakan perihal tersebut kepada suaminya.
Sa'id menjawab, "Semua harta kita aku sedekahkan."
Sang istri langsung menangis dan merasa menyesal karena tidak jadi membeli keperluannya. Sa'id memandangi istrinya yang sedang menangis, butiran air mata yang menetes semakin memesonakan kecantikannya.
Sa'id lalu berkata, "Dinda, kau kan tahu bahwa di Surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu."
Pembicaraan pun berakhir seperti seolah tak terjadi apa-apa. Tenang, penuh senyum dan kerelaan.
Beginilah salah satu upaya salah seorang shahabat Rasulullah Saw, yang bernama Sa'id bin Amir, dalam menjaga nilai ruhiyah sedekahnya. Ia bandingkan hasilnya dengan pahala, bukan sekedar hitung-hitungan matematis dunia semata.
Bukan berarti nilai materi tak boleh diraih, tetapi raihlah nilai materi pada perbuatan yang memang ditujukan untuk meraihnya. Sedangkan pada perbuatan yang ditujukan untuk meraih nilai ruhiyah, maka mari istiqomah pada nilai ruhiyah. Supaya hati senantiasa terjaga dari disorientasi nilai dalam aktifitas ibadah.
Semoga kita diberi kemudahan dalam meraih nilai-nilai dalam setiap perbuatan kita. Aamiin.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
Sumber bacaan:
1) Mafahim Islamiyyah, KH. Hafidz Abdurrahman, M.A.
2) Rijal haula Rasul, Khalid Muhammad Khalid.
Minggu, 08 Januari 2017
Islam Mengubah Jadi Indah
Suatu hari, dua tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Islam dan Rasulullah Saw berbincang-bincang di atas sebuah batu. Mereka berdua adalah Umair bin Wahb dan Shafwan bin Umayyah.
Umair dan Shafwan sama-sama mengungkapkan kebencian mereka. Shafwan yang baru kehilangan ayahnya di medan perang Badar berkata, "Demi Tuhan, tiada guna lagi kita hidup setelah kehilangan banyak orang di perang Badar."
Umair pun menimpali, "Benar! Seandainya bukan karena tanggungan utang, anak dan istri, aku akan berangkat ke Madinah untuk membunuh Muhammad. Aku punya alasan untuk bertemu dengannya, yaitu urusan anakku yang menjadi tawanan."
Senang hati mendengar niat sahabatnya, Shafwan yang sedang terbakar kebencian kepada Muhammad, berkata dengan penuh semangat, "Akan kulunasi utangmu dan akan kucukupi kebutuhan keluargamu."
Mendengar dukungan Shafwan terhadapnya, Umair berkata, "Kalau begitu, jangan cerita kepada siapapun tentang masalah ini!"
Umair mengasah pedangnya lalu berangkat ke Madinah.
Kedatangan Umair bin Wahb ke Madinah langsung menjadi pusat perhatian, terutama Umar bin al Khaththab r.a. Apalagi Umair langsung mengikat tali kekangnya di depan masjid. Umar menatapnya dengan tatapan waspada lalu langsung menghadap Rasulullah, ia berkata kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, Umair datang dengan membawa pedang."
Rasulullah Saw menjawab, "Suruhlah ia masuk menghadapku!"
Umair masuk sambil memanggul pedang, Umar tetap waspada. Rasulullah Saw bersabda, "Biarkanlah dia, wahai Umar! Umair, mendekatlah!"
Umair mendekat dan mengucapkan salam ala jahiliyyah. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa Allah telah memberi umat Islam ucapan yang lebih baik, yaitu "Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wabarokatuh".
Umair pun berkata, "Demi Tuhan, aku baru saja mendengarnya, hai Muhammad."
Rasulullah Saw bertanya kepadanya, "Apa maksud kedatanganmu?"
Umair menjawab seraya menyembunyikan isi hatinya, "Aku datang untuk urusan anakku yang menjadi tawanan kalian."
Rasulullah bertanya kembali, "Lantas, untuk apa pedang itu?"
Umair tetap menyembunyikan niat jahatnya, ia menjawab, "Pedang sialan! Apakah menurutmu aku akan menggunakan pedang ini?"
Rasulullah bertanya kembali, "Jujurlah hai Umair! Apa maksud kedatanganmu yang sebenarnya?"
Umair menjawab, "Seperti yang kusebutkan."
Rasulullah Saw bersabda, "Bukankah engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umayyah di sebuah batu, berbincang-bincang tentang orang-orang Quraisy yang tewas di perang Badar. Kamu berkata, "Seandainya bukan karena tanggungan utang, anak dan istri, aku akan berangkat ke Madinah untuk membunuh Muhammad." Shafwan menanggung utang, anak dan istrimu dengan syarat kamu membunuhku. Ketahuilah! Allah akan menghalangi maksud jahatmu."
Mendengar penjelasan Rasulullah Saw, Umair langsung bersyahadat dan mengatakan bahwa yang mengetahui kejadian tersebut hanyalah ia dan Shafwan bin Umayyah. Demi Allah, Rasulullah mengetahuinya pasti diberitahu Allah Swt. Umair berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah."
Umair bin Wahb masuk Islam dan diajarkan Islam.
Umar bin al-Khaththab r.a. berkata, "Demi Allah yang diriku berada dalam genggamannya. Saat Umair datang ke Madinah, di mataku ia lebih menjijikkan daripada babi. Tapi sekarang, ia lebih aku sukai daripada beberapa anakku sendiri."
Dalam sekejap, Islam menghapus kesalahan masa lalu. Islam memaafkan permusuhan Umair terhadapnya, padahal pedang yang sering menyakiti umat Islam masih berkilau di hadapan mereka. Bahkan dalam sekejap, Umar r.a. pun menyukainya lebih dari beberapa anaknya. Umat Islam melupakan berbagai tindakan jahat dan permusuhannya dalam seketika. Bahkan semua itu seolah tak pernah terjadi dan berbalas rasa cinta. Saat ini di hadapan umat Islam hanyalah saudara muslim yang bernama Umair bin Wahb.
Keimanan telah mengubah Umair. Di atas keimanan itu Umair memijakkan amal dan ketaatannya. Islam memang bisa mengubah segala sesuatu jadi indah.
Apabila sistem politik bengis ala sekuleris diubah menjadi sistem politik Islam. Niscaya ia akan menjadi indah. Apabila sistem ekonomi sadis ala kapitalis diubah menjadi sistem ekonomi Islam. Niscaya ia akan menjadi indah. Begitu pula dengan sistem pendidikan, pergaulan, sanksi dan pemerintahan. Jika diubah menjadi berpijak pada aqidah Islamiyyah, niscaya ia akan menjadi indah. Sebejat-bejatnya masyarakat jahiliyyah pun ketika berubah menjadi masyarakat Islam, ia menjadi indah. Yatsrib jahiliyyah menjadi Madinah Al Munawwarah.
Mengapa masih ada keraguan untuk mengganti sekulerisme menjadi Islam? Hanya kejujuran yang bisa menjawabnya, sejujur Umair bin Wahb. Wallahu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
Sumber kisah:
Rijal haula Rasul (ed. Terj.), Khalid Muhammad Khalid.
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Sabtu, 07 Januari 2017
Menerima Ketetapan Allah Swt
Saad bin Abi Waqqash r.a. merupakan salah seorang shahabat yang dido'akan oleh Rasulullah Saw. Beliau Saw mendo'akan supaya do'a-do'a Sa'ad dikabulkan oleh Allah Swt. Rasulullah bersabda:
أللّٰهُمَّ اسْتَجِبْ لِسَعْدٍ إِذَا دَعَاكَ (رواه الترمذي)
"Ya Allah, kabulkanlah Sa'ad, apabila ia berdo'a kepada-Mu"
(HR. At Tirmidzi)
Di dalam riwayat lain, Rasulullah pun mendo'akan Sa'ad supaya ditepatkan bidikan panahnya. Dialah shahabat yang pertama kali melesatkan panah di jalan Allah. Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa ia tidak pernah mendengar Rasulullah Saw menjadikan ayah dan ibunya sebagai jaminan, terkecuali kepada Sa'ad saat melemparkan panah di perang Uhud.
Do'a Rasulullah Saw dikabulkan oleh Allah Swt. Hingga Abdurrahman bin Auf r.a. menjuluki Sa'ad sebagai "Singa yang menyembunyikan kukunya", tiada lain karena do'a serta ketepatan bidikan panah Sa'ad.
Saat perang Qadisiyah, Sa'ad terpilih menjadi pemimpin pasukan. Sa'ad memerintahkan pasukannya untuk mengejar sisa pasukan Persia yang melarikan diri ke Mada'in. Padahal untuk sampai ke Mada'in harus menyebrangi Sungai Tigris yang arusnya sedang deras meluap-luap. Sa'ad membuat strategi yang membuat kagum para ahli sejarah. Hingga mereka melukiskan bagaimana dahsyatnya penyebrangan tersebut. Selain menjalankan strategi, Sa'ad pun memerintahkan pasukannya untuk membaca do'a "hasbunallaahu wa ni'mal wakiil." Pasukan kaum muslim menyeberangi sungai Tigris laksana berjalan di atas air dan tak ada yang tertinggal seorang pun.
Syaikh Muhammad Khalid menuliskan bahwa Amir bin Sa'id bercerita. Pada suatu hari Sa'ad melihat seorang laki-laki sedang mencaci maki Ali r.a. Thalhah r.a. dan Zubair r.a. Ia pun menegur orang tersebut namun orang tersebut tak memedulikannya. Lalu Sa'ad berkata, "Kalau begitu aku akan mendo'akan keburukan untukmu." Laki-laki itu menjawab, "Kamu mengancamku? Kamu ini seperti nabi saja."
Sa'ad pergi, berwudlu kemudian shalat dua raka'at. Ia berdo'a kepada Allah Swt, "Ya Allah, Engkau tahu bahwa laki-laki itu telah mencaci maki kaum yang telah mendapatkan kebaikan-Mu. Caci makinya tentu membuat-Mu marah. Karena itu, tunjukkan kebesaran-Mu dan jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi orang lain." Tak lama kemudian, seokor unta mengamuk, menabrak laki-laki tersebut dan menginjak-injaknya hingga tewas.
Meskipun do'a-do'anya selalu dikabulkan oleh Allah Swt. Sa'ad termasuk orang yang sangat qona'ah terhadap ketetapan Allah Swt. Ketika ia memimpin pasukan Qadisiyah, ia terkena penyakit bisul yang parah, ia pun tetap mengomando pasukannya seraya bersabar atas penyakitnya.
Begitu pula tatkala suatu saat ia kehilangan penglihatannya. Kemudian datanglah seorang pemuda menemuinya, ia berkata,
"لَوْلَا دَعَوْتَ اللّٰهَ فَرَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ"
"Andaikan saja engkau meminta kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanmu, niscaya Allah akan mengembalikannya untukmu."
Sa'ad menjawabnya,
" يَا بُنَيَّ ! قَضَاءُ اللّٰهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ بَصَرِيْ"
"Hai anakku! Ketetapan Allah lebih aku cintai daripada penglihatanku."
MasyaAllah, sungguh tiada apa-apanya diri ini dibandingkan generasi terbaik umat Islam. Semoga kita bisa mengikutinya. Aamiiin. (Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Rabu, 04 Januari 2017
Menulis Tidak Membangkitkan
Terus terang, tulisan ini terinspirasi dari status seorang penulis muslimah sekaligus pakar parenting, Usth. Yanti Tanjung, tentang membaca dan menulis yang saya baca tadi malam.
Memang benar. Layaknya membaca, menulis tidaklah akan membangkitkan masyarakat. Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang kemudian disimpan sebagai pemikiran di dalam otak untuk diterima atau tidak berdasarkan pemahaman asasi yang dimilikinya. Atau bahkan disimpan hanya menjadi informasi semata.
Tapi, mengapa banyak pemikir yang menceritakan tentang peran berbagai tulisan terhadap kemunduran Islam? Misal, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani yang menceritakan tentang bagaimana peran tulisan-tulisan filsafat terhadap kemunduran Islam. Kemudian Dr. Abdullah Azzam yang menceritakan tentang berbagai tulisan yang menyuarakan kebencian terhadam Islam dan khilafah. Atau Snouck Hurgronje yang merekomendasikan Hindia Belanda supaya kaum muslim tidak memahami kitab Al Quran. Semua hal itu, bukanlah tentang membaca dan menulis. Akan tetapi tentang apa yang tertulis atau apa yang dibaca.
Ada perbedaan antara membaca dan menulis dengan apa yang dibaca dan ditulis. Misal, dengan gerakan menulis terlahirlah seratus penulis. Tetapi mereka semua menuliskan tentang kepasrahan terhadap penjajahan. Kemudian digerakkan juga masyarakat untuk membaca semua karya-karya para penulis tersebut. Kira-kira, akan bangkitkah masyarakat? Jelas tidak. Malah mungkin akan semakin pasrah akan penjajahan yang dideritanya. Alhasil, pemikiran yang terkandung dalam tulisanlah yang akan berpengaruh terhadap benak masyarakat.
Selain itu, pemikiran yang tertuang dalam tulisan pun akan dipengaruhi oleh kemampuan penulis dalam menuangkan kata-katanya dan kemampuan pembaca dalam memahami maksud kalimat yang dituangkan penulisnya.
Tulisan merupakan buah pemikiran. Ia tidak membangkitkan, akan tetapi pemikiran yang tertuang dalam tulisanlah yang menentukannya, apakah akan mengantarkan kepada kebangkitan ataukah tidak. Karena kebangkitan manusia hanya akan terjadi jika ada kebangkitan pemikiran. Adapun kebangkitan pemikiran tergantung pada pemikiran asasi yang diadopsinya. Dan bagi kaum muslim, pemikiran asasi tersebut adalah Aqidah Islamiyyah.
Suatu pemikiran pun tidak cukup tertuang dalam berbagai buku dan tulisan. Supaya membangkitkan, pemikiran tersebut haruslah diemban, ia tidak cukup hanya dibaca dan dituliskan. Sebagaimana Al Quran ketika diturunkan kepada Rasulullah Saw, tak hanya dituliskan dalam pelepah kurma, batu dan sebagainya. Akan tetapi diemban dalam aktifitas dakwah.
Alhasil, membaca dan menulis memang tidak akan membangkitkan. Tetapi apa yang tertulis akan mempengaruhi pemikiran masyarakat. Di sinilah peran para penulis muslim, menjaga apa yang tertuliskan supaya selalu ide-ide mulia yang mengajak kepada Islam. Begitu pula tak cukup dengan itu, ide-ide mulia tersebut diembannya dalam aktifitas dakwah yang membangkitkan. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
https://www.facebook.com/MudahNulis/
Berlatih Membuat Status Terbaik
Kepribadian manusia terbentuk dari dua hal, yaitu pola pikir dan pola sikap. Pola pikir merupakan cara berpikir seseorang ketika menilai suatu fakta atau kejadian. Pola pikir akan terlihat dari ucapan dan tulisan seseorang. Sedangkan pola sikap adalah cara pemenuhan seseorang terhadap kebutuhan jasmani maupun dorongan naluriahnya. Karena itulah, tulisan seseorang, sependek apapun itu, akan menggambarkan isi pikirannya.
Apabila suatu tulisan seseorang selalu berpijak di atas suatu pandangan hidup yang khas, berarti tulisan tersebut merupakan pola pikirnya. Meskipun dalam interaksi dunia maya, kita memiliki keterbatasan untuk mengetahui detail tentang perbuatan serta pola sikapnya, terkecuali bagi yang sering berinteraksi di dunia nyata. Alhasil, status seseorang di dunia maya, hanyalah menggambarkan tentang isi pikiran seseorang dan tak lebih dari itu. Sedangkan pola sikapnya bisa saja sejalan dengan tulisannya atau bisa jadi berbeda. Saat pola pikir dan pola sikap berbeda, inilah yang dinamakan dengan split personality (kepribadian yang terpecah).
Meskipun status di dumay hanya menggambarkan isi pikiran seseorang, tak berarti pula kita bebas mencurahkan setiap kata. Karena setiap apa yang tertuang dari pikiran kita, tentu saja akan ada perhitungannya di sisi Allah Swt. Tulisan kita sebagaimana lisan kita, bisa membahayakan atau bisa menyelamatkan. Namun sebaik-baik tulisan tentunya yang mengajak kepada hidayah Allah Swt, lalu diringi dengan amal shalih dan keistiqomahan beriman kepada-Nya. (lih. Q.S. Fushilat: 33).
Pada hakikatnya, status kita merupakan tulisan kita dan ia adalah isi pikiran kita. Cara pandang kita dalam melihat sebuah masalah akan tergambar dari bagaimana tulisan kita. Misal, tentang fakta kenaikan listrik di awal tahun 2007. Tentu akan beragam pikiran orang dalam menyikapinya. Orang yang pragmatis tentu akan berkomentar, yang penting terbeli, sudah cukup itu saja tanpa mencari solusi selain untuk dirinya sendiri. Orang yang peduli orang lain tentu akan berkomentar dengan bahasa yang lebih empati terhadap rakyat miskin. Sedangkan orang yang memandangnya sebagai suatu kezaliman, tentu akan berkomentar tentang solusi mengakhiri kezaliman tersebut.
Komentar kenaikan listrik sebagai suatu kezaliman, tak memastikan pula berasal dari satu pola pikir yang sama. Orang yang berpandangan dengan pandangan hidup Islam, akan memandang kezaliman itu sebagai akibat dari pengabaian syariah Islam. Sedangkan orang yang berpandangan dengan pandangan hidup sosialisme, akan memandang kezaliman itu sebagai penyimpangan atas dialektika materialisme. Atau hanya melihat dari melebarnya jurang antara golongan kaya dan miskin, tak lebih dari itu.
Namun ada juga orang yang abai atas berbagai kejadian di sekitarnya. Mau Al Quran dihina, mau penghinanya dihukum ataukah tidak, mau harga listrik naik, mau terjadi pembantaian kaum muslim di berbagai negeri Islam, tetap saja curhat urusan pribadi. Hal ini bisa jadi pertanda bahwa pola pikirnya individualis. Ia tak mau peduli siapapun terkecuali dirinya. Meskipun bisa saja dalam perbuatan dan pola sikapnya tidaklah sejalan dengan pola pikirnya.
Oleh karena itu, setiap status dan tulisan yang nyata-nyata bertentangan dengan Islam sudah bisa dipastikan berasal dari orang yang berpola pikir tidak islami. Mohon dicatat, pola pikir tidak islami. Pola pikir tidak islami bukan berarti mengeluarkan seseorang dari Islam. Misal, ketika seseorang mencurahkan perasaan cinta di statusnya kepada pacarnya. Atau ketika seseorang menuliskan untuk tak perlu memedulikan etnis Rohingya karena ia bukanlah bangsa Indonesia. Kedua contoh status ini terlahir dari pola pikir yang tidak islami. Karena dalam Islam, mencurahkan perasaan cinta kepada pacar, yakni pasangan yang belum sah, merupakan sesuatu yang diharamkan. Begitu pula dengan ajakan untuk tidak peduli terhadap muslim yang lain. Tersebab peduli terhadap muslim yang lain, bangsa apapun itu, termasuk perbuatan yang diwajibkan oleh Islam.
Untuk menjaga agar status kita tak bertentangan dengan islam, marilah kita berlatih membuat status terbaik dengan melatih pola pikir kita agar senantiasa islami. Melatih pola pikir islami bisa dilakukan dengan dua aktifitas, yang pertama adalah aktifitas meningkatkan pemahaman keislaman, berupa mempelajari aqidah dan syariah Islam. Adapun yang kedua adalah selalu melatih akal kita agar selalu menilai semua fakta dan kejadian berdasarkan pertimbangan syariah. Dengan demikian, status kita tidaklah menjadi sekedar status, tetapi status terbaik yang selalu mengajak orang lain kepada kebaikan Islam, bukan yang lain. WaLlohu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.
(Ary H. – Islamic Writer & Blogger)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Selasa, 03 Januari 2017
Menaiki 1000 Anak Tangga
Jika kita pernah berwisata ke tempat-tempat yang tinggi, mungkin kita takkan merasa asing dengan sensasi menaiki ratusan hingga ribuan anak tangga. Di antara anak tangga yang pernah saya rasakan sensasinya adalah Air Terjun Pelangi di Cimahi, Air Terjun Sindanggila di Lombok Utara dan yang paling dekat adalah Kawah Gunung Galunggung. Menaikinya benar-benar membutuhkan ketepatan, perjuangan dan keistiqomahan.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa ketepatan menjadi hal yang pertama. Saya teringat sebuah buku lawas yang ditulis Stephen R. Covey, di awal penjelasan tentang 7 kebiasaan manusia yang paling efektif, ia menjelaskan tentang makna efektif. Menurutnya, efektif itu meletakkan tangga pada tempat yang tepat. Jika kita keliru meletakkan tangga atau tidak tepat menaiki tangga, tentu kita akan sampai di lokasi yang berbeda. Sebagai satu-satunya contoh di lokasi wisata Gunung Galunggung terdapat dua tangga yang berbeda, jika kita ingin sampai di lokasi yang sama, maka kita mesti tepat parkir di tempat yang sama dan menaiki tangga yang sama. Tangga yang berbeda, akan mengantarkan kita ke lokasi berbeda.
Itu kalau di tempat wisata. Coba kalau di rumah, pas kita memakai tangga untuk membetulkan genting bocor misalnya. Kita sandarkan tangga kita ke tetangga depan rumah, kemudian kita menaikinya. Semakin cepat kita sampai, semakin cepat pula kita salah lokasi. Sama-sama sampai di atap, tetapi tak bisa membetulkan genting yang bocor. Karena itulah, kita mesti punya ketepatan dalam menaiki tangga.
Meletakkan tangga yang tepat berlaku pula dalam kehidupan kita. Tak sedikit orang yang terbetik ide untuk menjadi seorang penulis. Kemudian ide itu ia simpan sebagai salah satu visi hidupnya. Mau tidak mau, ia mesti meletakkan tangganya di posisi yang tepat menuju visi tersebut. Belajar menuangkan kata-kata merupakan upaya meletakkan tangga di posisi yang tepat. Bagaimana bisa menjadi seorang penulis jika tak mau mulai menuangkan kata-kata.
Tak cukup dengan meletakkan tangga di tempat yang tepat, untuk menaikinya kita pun butuh perjuangan. Tangga menuju puncak bisa terdiri dari ratusan bahkan ribuan anak tangga. Setiap anak tangga yang dipijak pun bisa jadi membutuhkan ribuan kata-kata untuk dituangkan, bahkan tak sedikit pula waktu, tenaga dan uang saku yang kita korbankan. Itulah perjuangan dalam setiap menaiki tangga kesuksesan. Janganlah aneh jika tungkai kaki kita pun bergetar lemas dan lelah karenanya. Karena tiada lautan kemudahan tanpa riak kesulitan.
Apabila kita yakin menaiki tangga yang tepat tak perlu khawatir saat lelah mendera, istirahatlah sejenak. Para penebang pohon pun butuh mengasah gergajinya. Kala lelah menaiki tangga, duduklah dan perkaya pikiran dengan membaca. Bagaikan istirahat seorang petarung sejati, badannya diam tetapi pikirannya menerawang mencari teknik dan strategi baru untuk memenangkan pertandingan.
Untuk menjaga keistiqomahan, maka bekerja samalah. Saat menaiki ratusan anak tangga Galunggung, salah seorang anak saya beberapa kali berhenti. Tetapi karena kami berempat, maka satu dengan yang lainnya saling menyemangati. Kadang Si Bungsu yang masih PAUD menyemangati kakaknya yang Sulung, kadang saya menggendong Si Bungsu di anak tangga yang curam, atau kadang kita menunggu yang ketinggalan. Semuanya berjalan alami dalam kebersamaan.
Karena itulah dalam dunia kepenulisan kita pun butuh kebersamaan. Bergaul dengan para penulis, terutama yang memiliki kesamaan ide dan visi, mungkin bisa membantu untuk saling menguatkan, salah satunya di Akademi Menulis Kreatif.
Visi apapun, termasuk menjadi penulis, bisa jadi lebih dari sekedar menaiki 1000 anak tangga. Namun dengan menaiki tangga yang tepat, disertai perjuangan dan saling menjaga keistiqomahan, cepat atau lambat insyaAllah akan terwujud. Yassarollohu umurona. Aamiin.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
#MudahNulis
Minggu, 01 Januari 2017
Bersabar atas Permusuhan Setan
- Lih. Ibnu Katsir tentang Q.S. Al An’am[6] : 112.
- idem
- idem
- idem
- idem
- Lih. Tafsir Jalalain tentang Q.S. Ar-Rum[30] : 41
- Lih. Q.S. Al Baqarah[2]: 214.
- Ibnu Taimiyyah. Islam yang Terasingkan (ed. Terj. Indonesia)