Senin, 23 Januari 2017

Siapakah Al-Hakim?

Dalam kajian Ushul Fiqih, pembahasan tentang Al Hakim merupakan pembahasan yang sangat penting. Syaikh Muhammad Husain Abdullah dalam Al Wadlih fi Ushuli l-Fiqhi menjadikan Al Hakim sebagai rukun pertama dalam pembahasan hukum.  Beliau menegaskan bahwa pembahasan paling penting yang berkaitan dengan hukum adalah pengetahuan tentang siapa yang menjadi rujukan terbitnya hukum. Al Hakim yang dimaksud bukanlah penguasa sebagaimana kepala negara. Akan tetapi, yang dimaksud dengan Al Hakim adalah yang berwenang memutuskan hukum atas perbuatan dan benda. Misalnya, Ia menghukumi jual beli itu halal dan riba itu haram, atau sirsak itu mubah dan khamr itu haram dan sebagainya.

Pemutusan hukum atas berbagai perbuatan manusia serta berbagai benda yang dipakai manusia dalam perbuatannya akan memiliki hubungan dengan manusia itu sendiri. Bisa jadi hukum tersebut berasal dari Allah atau dari manusia, atau dengan kata lain bisa jadi merupakan hukum syara’ atau hukum akal.1)

Bahwasanya yang dimaksud dengan pemutusan hukum adalah penentuan posisi manusia di hadapan suatu perbuatan. Apakah mengerjakannya ataukah meninggalkannya? Atau memilih antara mengerjakan dan meninggalkannya. Begitu pula penentuan posisinya di hadapan berbagai benda yang berhubungan dengan perbuatannya. Apakah memanfaatkannya ataukah meninggalkannya? atau memilih antara memanfatkan dan meninggalkannya.2)

Posisi manusia terhadap perbuatan dan benda akan berkaitan dengan pandangannya terhadap kedua hal tersebut. Apakah ia terpuji ataukah tercela? Oleh karena itu, pemutusan hukum terhadap perbuatan dan benda dibangun atas penetapan pujian dan celaan atasnya. Siapakah yang menentukannya, akal ataukah syara’?3)

Menurut Syaikh Muhammad Husain Abdullah, terdapat dua pendapat ulama mengenai hal tersebut, yaitu :4)

Pertama, Madzhab Mu’tazilah dan kelompok Ja’fariyyah. Mereka berpandangan bahwasanya perbuatan dan benda itu terpuji dan tercela secara zatnya. Sehingga akal manusia mampu mengindera pujian dan celaan dalam keduanya. Mereka menetapkan bahwasanya apa yang dipandang oleh akal itu terpuji maka ia terpuji pula di sisi Allah Swt. Sehingga manusia dituntut untuk mengerjakannya, dalam perbuatan tersebut ada pujian dan pahala. Adapun yang dipandang oleh akal itu tercela maka tercela pula di sisi Allah Swt. Sehingga manusia dituntut untuk meninggalkannya, dalam perbuatan tersebut ada celaan dan siksa. Oleh karena itulah, berbagai hukum syara’ mengenai kedua hal tersebut akan sesuai dengan apa yang diindera oleh akal, baik itu pujian ataupun celaan terhadap perbuatan dan benda. Sehingga apapun yang menurut akal sebagai sesuatu yang terpuji maka akan dituntut oleh syara’ untuk dikerjakan, dan apapun yang menurut  akal sebagai sesuatu yang tercela maka akan dituntut oleh syara’ untuk ditinggalkan. Di atas pendapat inilah mereka membangun pandangan bahwasanya manusia mukallaf (terbebani hukum, pen.) sebelum Rasulullah Saw diutus atau sebelum dakwah sampai kepadanya. Karena akal mampu mengindera pujian dan celaan pada perbuatan dan benda.

Kedua, Madzhab Al-Asy’ariyyah, pengikut Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan para fuqoha yang menyepakatinya. Inilah yang merupakan pendapat jumhur ulama ushul. Mereka berpendapat bahwasanya perbuatan dan benda itu tidak mengandung pujian dan celaan secara dzatnya. Maka yang terpuji itu adalah apa yang dituntut oleh syara’ untuk dikerjakan, dan yang tercela itu adalah apa yang dituntut oleh syara’ untuk ditinggalkan. Sehingga terpuji dan tercela itu keduanya bersifat syar’i. Di atas pendapat inilah mereka membangun pandangan bahwasanya manusia itu tidak mukallaf sebelum Rasulullah Saw diutus atau sebelum dakwah sampai kepadanya. Tidak ada hukum, taklif dan juga hisab sebelum datangnya syara’.

Adapun syaikh Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam At Taysir al-Wushul ilal-Ushul memandang perihal terpuji dan tercela itu dari tiga aspek, yakni : 1) Dari segi faktanya, apakah itu ; 2) Dari segi kesesuaian atau pertentangannya dengan tabiat manusia; dan 3) Dari segi pahala dan siksa atau pujian dan celaan.

Menurut beliau, untuk aspek yang kesatu dan kedua bisa ditetapkan oleh manusia itu sendiri, yakni akalnya. Misalkan akal bisa menetapkan bahwa ilmu itu terpuji dan bodoh itu tercela karena faktanya nampak ada kesempurnaan dan kekurangan di dalamnya. Begitu pula dengan menolong orang yang tenggelam, melakukannya dianggap sebagai perbuatan terpuji dan meninggalkannya dianggap sebagai perbuatan tercela. Karena sesungguhnya tabiat manusia cenderung menyelamatkan nyawa.5)

Adapun untuk aspek yang ketiga, dari segi pahala dan siksa, maka tiada yang bisa menetapkan hukumnya terkecuali Allah Swt yakni syara’. Misal, terpujinya iman dan tercelanya kufur,  terpujinya taat dan tercelanya maksiat, akal tak akan bisa untuk menetapkan hukum terhadap kondisi tersebut. Sehingga akal mencerap fakta ke dalam otak bersama informasi sebelumnya untuk menafsirkan fakta tersebut, lalu mengaitkannya secara bersamaan. Akal tidak akan mungkin bisa mengindera kesesatan-petunjuk, halal-haram, taat-maksiat dan sebagainya. Karena bukanlah kapasitasnya  untuk menetapkan bahwa perbuatan ini diridloi oleh Allah Swt sedangkan perbuatan itu dimurkai oleh Allah Swt, terkecuali jika akal menerima kabar mengenai hal tersebut dari Allah Swt. Inilai dalil aqli tentang penetapan bahwasanya terpuji dan tercela itu merupakan ketetapan Allah Swt.6) Sehingga sehebat apapun karya yang bisa dibuat oleh akal manusia, tanpa informasi dari Allah Swt ia tetap tidak akan mampu menjangkau aspek yang ketiga ini.

Adapun bila mengacu pada dalil naqli, banyak sekali firman Allah Swt yang menegaskan agar manusia menetapkan terpuji dan tercela itu berdasarkan perintah syara’. Di antaranya adalah firman Allah Swt dalam Q.S. Ali Imran[3]: 31; Q.S. An-Nisa[4]: 59, 65, 83; QS. An-Nur[24]: 63.

Misalkan ketika seseorang memutuskan bisnis jus buah, apakah ia akan menggunakan juicer elektronik ataukah manual? secara tabiat akal mampu untuk memilih mana yang lebih mudah. Akan tetapi tatkala ia berbisnis secara syirkah ataukah menggunakan jasa riba. Atau apakah bahan jusnya itu mau dicampur dengan sirup ataukah khamr, maka akal takkan mampu menjangkaunya. Dikarenakan dalam aspek ini ada pujian dan celaan Allah Swt, yang harus dikembalikan kepada syara’.

Alhasil, jelaslah bahwa Al-Hakim atau yang berwenang untuk menetapkan hukum atas perbuatan dan benda, dari segi apakah perbuatan dan benda itu mengandung pahala ataukah siksa, hanyalah syara’ dan bukan akal.    

Daftar pustaka :
1)   Muhammad Husain Abdullah, 1995. al-Wadhih fi Ushuli l-Fiqh. Daru l-Bayariq. Beirut.
2)   Atha Ibnu Khalil, 2000. at-Taysir al-Wushul ila l-Ushul. Daru l-Ummah. Beirut.
3)   Muhammad Husain Abdullah, 1995. al-Wadhih fi Ushuli l-Fiqh. Daru l-Bayariq. Beirut.
4)   Idem
5)   Atha Ibnu Khalil, 2000. at-Taysir al-Wushul ila l-Ushul. Daru l-Ummah. Beirut.
6)   Idem  


Kamis, 19 Januari 2017

Jin Nashibin dan Ayat Suci

Ketika pertentangan musyrik Makkah semakin menghebat. Hati tokoh-tokoh mereka semakin membatu terhadap wahyu. Rasulullah Saw pun mulai mencari wilayah untuk membuka lahan dakwah di luar Makkah. Beliau mulai melirik Thaif sebagai tujuan hijrah.

Sayang sekali, langkah Rasulullah Saw sudah tercium oleh kaum musyrik. Mereka pun menghasut para penduduk Thaif untuk mengusir Rasulullah Saw. Dakwah Islam dicitrakan negatif, Rasulullah dituduh pembuat onar dan pemecah belah rakyat Makkah. Karena itulah, jangankan mau mendengarkan ayat suci, Rasulullah Saw datang pun langsung dilempari. Hingga beliau dan beberapa shahabat langsung memutuskan untuk segera kembali.

Rasulullah terus bersabar. Meskipun Jibril a.s. menawari beliau untuk menimpakan bukit kepada para penduduk Thaif, beliau menolaknya. Beliau sampaikan kepada Jibril bahwa penduduk Thaif melakukan hal tersebut karena ketidaktahuan. Memang betul, kebodohanlah yang membuat penduduk Thaif mau dibodohi oleh para penentang dakwah Rasulullah Saw.

Dalam perjalanan pulang ke Makkah, Allah Swt menghibur Rasulullah Saw. Di antara kebodohan para penduduk Thaif, ada kecerdasan dari makhluk Allah Swt yang lain. Siapakah mereka? Tidak lain mereka adalah golongan Jin di daerah Nashibin. Allah Swt menyampaikan,

"Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan. (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami."
(TQS. Jin [72]: 1-2)

Ayat-ayat suci langsung diimani oleh Jin Nashibin, tidak lain karena mereka mau membuka diri terhadap kebenaran. Mereka memposisikan ayat-ayat suci sebagai petunjuk ke jalan kebenaran.
Allah Swt berfirman,

"Dan bahwasanya, orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah."
(TQS. Jin [72] : 4)

Manusia adalah makhluk Allah Swt yang mulia, tetapi ia menjadi rendah karena kebodohan dan keangkuhan. Terbukti, penduduk Thaif diposisikan lebih hina dibandingkan kalangan Jin Nashibin yang beriman.

Saat ini, alhamdulillah kita ditaqdirkan oleh Allah Swt sebagai kaum muslim. Terlahir di keluarga orang-orang yang beriman. Bagaimanakah kita akan memperlakukan Al Quran. Sebagaimana Jin Nashibin yang menjadikannya sebagai petunjuk. Ataukah sebagaimana kaum musyrik Makkah yang menentang karena mempertahankan keangkuhan, ataukah laksana penduduk Thaif yang menolak karena memelihara kebodohan. Wallahu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.

(Ary H.)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Ayat Suci

Ayat suci, saking sucinya membuat orang tak mau mengembannya. Karena khawatir dianggap sok suci. Apalagi tidak ada manusia yang suci, bahkan semuanya tak lepas dari noda dan dosa. Karena itulah, ayat suci harus disucikan dari derap kehidupan. Begitulah logika sekulerisme, yang berpangkal pada keyakinan pemisahan agama dari kehidupan.

Sekulerisme menganggap urusan dunia yang fana tak boleh dicampur dengan urusan akhirat yang keramat. Urusan dunia merupakan urusan pemikiran, sedangkan urusan akhirat merupakan urusan dogma dan doktrin. Urusan dunia kotor sedangkan urusan akhirat suci. Manusia harus memilih salah satu, menjadi orang suci dengan ayat suci, ataukah berkotor-kotor dengan urusan dunia. Begitulah logika sekulerisme, seluruh sendi kehidupan dibangun di atas asas selain agama.

Lain halnya dengan Islam. Jika yang dimaksud ayat suci adalah kalam Ilahi, yang tertuang dalam Al Quran Al Karim, maka Islam meyakini bahwa ayat suci sebagai petunjuk. Ia adalah titian menuju ridlo Ilahi. Semua hal tentang hidup, dijelaskan di dalamnya. Karena itulah di dalam ayat suci ditegaskan bahwa hidup kita saat ini berhubungan dengan nasib kita di kehidupan akhirat kelak.

"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (TQS. Annahl[] : 89)

Ibnu Mas'ud r.a. berkata bahwasanya Allah telah menjelaskan di dalam Al Quran semua ilmu dan semua benda. Mujahid rahimahullahu ta'ala berkata bahwa Al Quran menjelaskan semua yang halal dan haram, dan yang dimaksud dengan perkataan Ibnu Mas'ud adalah umum dan menyeluruh, mencakup khabar tentang masa lampau dan masa yang akan datang. Setiap yang halal dan haram, serta semua yang manusia butuhkan terkait urusan dunia, agama, penghidupan dunia dan tempat kembali di akhirat kelak.

Islam selalu mengaitkan ayat suci dengan kehidupan. Tatkala 'Aisyah r.a. ditanya tentang akhlaq Rasulullah Saw, beliau menjawabnya dengan mengatakan bahwa akhlaq Rasulullah Saw adalah Al Quran. Artinya, ayat suci bisa membumi.

Membumikan ayat suci bukan hanya menjadi tugas Rasulullah Saw, bahkan hal tersebut merupakan tugas seluruh kaum mukmin. Kita dapat menyaksikan bagaimana kehidupan para shahabat, mereka tak pernah memisahkan ayat suci dari kehidupan. Bahkan setiap khalifah diangkat, ia dibai'at untuk menjalankan ayat suci. Ayat suci benar-benar dijadikan panduan, bukan hanya menjadi accesories dalam sumpah jabatan.

Al-Auza'i rahimahullahu ta'ala menegaskan bahwa Allah yang mewajibkanmu untuk menyampaikan Al Quran, yang telah menurunkan Al Quran kepadamu, Dia-lah yang akan meminta pertanggungjawabanmu di hari Kiamat.

Demikianlah pandangan Islam, Allah Swt menempatkan posisi ayat suci pada posisi yang mulia. Begitu pula demikianlah pandangan sekulerisme, manusia meletakkan posisi ayat suci pada posisi yang hina. Tinggal kita memilih, mau menempatkan ayat suci pada posisi yang mulia ataukah hina. Sebagai mukmin, selayaknya kita punya pilihan yang sejalan dengan keimanan dan ketaatan kita kepada Allah Swt. Wallohu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.

(Ary H.)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Selasa, 10 Januari 2017

Antara Menulis dan Isi Tulisan

Menulis atau isi tulisan, manakah yang lebih penting? Jika isi tulisannya bagus, tetapi kata-kata yang tertuliskan kurang tepat maka hasilnya salah paham. Begitu juga jika kata-kata yang tertuliskan begitu indah, tetapi isi pikirannya sampah maka hasilnya paham yang salah. Oleh karena itu jika kita memilih berkomunikasi lewat tulisan, menulis dan isi tulisan sama pentingnya.

Akan tetapi jika ditimbang-timbang, isi tulisan pastinya berasal dari berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi oleh penulisnya. Karena itulah, mengadopsi ide dan pemikiran yang benar itulah yang utama dilakukan sebelum menulis. Pisau analisis akan fakta yang dipakai oleh para penulis, pastilah berasal dari pemahamannya memandang fakta tersebut. Misal, dengan fakta tahun baru 2017 bisa dihasilkan banyak tulisan. Bisa kritikan, dukungan atau pembiaran akan pesta malam tahun baru. Bisa pula renungan, candaan atau bahkan sekedar curhat-curhatan. Bisa berupa berita, analisa ataupun hanya sekedar cerita. Semua tergantung pada apa yang ada dalam isi kepala penulisnya.

Pemikiran benar seperti apakah yang mesti diadopsi oleh para penulis muslim? Yang paling utama adalah pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta dan kehidupan serta hubungannya dengan sebelum kehidupan dan sesudah kehidupan. Pemikiran ini merupakan pemikiran yang paling mendasar yang disebut dengan Aqidah. Ia berkutat pada tiga pertanyaan yang paling utama, yakni tentang dari manakah kehidupan ini berasal? untuk apakah hidup ini? Dan akan kemanakah manusia setelah kehidupan ini berakhir?

Jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan membentuk keyakinan yang paling mendasar (Aqidah). Keyakinan mendasar inilah yang akan membentuk pandangan yang khas terhadap fakta atau kejadian. Pandangan inilah yang biasanya dituangkan menjadi tulisan. Alhasil, dari sudut pandang inilah isi tulisan menjadi lebih utama dibandingkan cara menulis.

Bukan berarti menulis menjadi tak penting. Namun menulis hanya membutuhkan pengulangan sedangkan isi tulisan membutuhkan pembenaran hati dan pembelajaran untuk dapat mengaitkan fakta dengan pemahaman yang tumbuh dari Aqidah. Menulis membutuhkan pembiasaan mengolah kata. Isi tulisan membutuhkan keikhlashan, kejujuran hati dan pembiasaan pola pikir. Sebagai para penulis muslim, tentu pola pikir Islami-lah yang mestinya tertuang dalam tulisan. Sehingga bisa menghasilkan tulisan yang tak hanya indah, tetapi lebih dari itu, mengantarkan manusia pada hidayah.

Untuk menghindari kekeliruan dalam menulis, kita hanya membutuhkan praktek pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dasar dahulu. Iya benar. Kita hanya membutuhkan praktik menyusun kalimat pola SPOK (Subjek Predikat Objek Keterangan) atau KSPO, itu saja. Karena pada dasarnya, pola kalimat bahasa Indonesia hanyalah itu. Jangan sampai Subjek terbaca sebagai Objek atau sebaliknya. Pemilihan kata Predikat yang tepat bisa dengan mudah dicari via kbbi online. Tentunya, semua itu dilakukan setelah ide-ide kita tercurahkan, bukan sebelumnya. Inilah yang penting dari proses editing. Editing pasca writing, bukan editing sambil writing.

Selayaknya para penulis muslim tak perlu terlena hanya dengan ketakjuban orang atas keindahan kata-kata yang kita tuliskan. Untuk apa semua itu jika dengannya pembaca tak tertunjuki pada kebaikan. Lebih baik isi tulisan yang mengantarkan pada kebaikan seraya dihiasi dengan kata-kata yang sederhana tapi mampu meyakinkan.

Terkait menulis atau isi tulisan, para penulis muslim punya dua tugas utama. Tak hanya belajar menulis, tetapi belajar tentang isi tulisan yang akan dituangkan. Negara-negara maju seperti AS sering mengundang para penulis. Hingga 2014,  AS mengundang para penulis dalam program International setiap tahunnya dengan seleksi yang sangat ketat. Pernah ada panitian program yang mengatakan, mengundang satu penulis lebih beruntung daripada sepuluh orang bukan penulis. Salah seorang penulis tanah air yang pernah mengikuti program tersebut pada tahun 1993, Much. Khoiri, menuliskan :

"Untungnya, penulis akan mengembangkan apa yang ditangkap dan dialami ke dalam tulisan - sedangkan bukan penulis hanya menyimpannya di dalam angan sebagai wawasan, atau bahkan melupakannya." (Rahasia Top Menulis, hal. 10)

Program AS ini bukanlah sekedar tentang menulis, tetap tentang isi tulisan. Bagaimana supaya berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi AS bisa menular kepada para penulis.

Negara kapitalis penjajah seperti AS saja peduli terhadap isi tulisan, sungguh sangat naif jika kita tidak memedulikannya. Jadi, saatnya para penulis muslim untuk peduli terhadap isi tulisan. Tuliskanlah yang baik atau lebih baik diam. Tuliskanlah kebaikan meski hanya dalam beberapa kalimat. Saatnya para penulis muslim untuk "Berani nulis, berani dakwah." Wallahu al-Musta'an.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Senin, 09 Januari 2017

Disorientasi Nilai

Satu hal yang pasti, bahwa setiap perbuatan memiliki nilai tertentu yang ingin dicapai oleh seseorang, tatkala ia melakukan suatu perbuatan, sebab kalau tidak, tentu perbuatannya akan sia-sia.

Nilai suatu perbuatan ada yang bersifat materi, semisal perdagangan. Maksud dari perbuatan ini adalah mendapatkan materi berupa keuntungan. Ada juga nilai yang bersifat kemanusiaan, semisal menolong orang tenggelam. Dalam hal ini, yang menjadi tujuan adalah menyelamatkan orang tanpa melihat suku, ras dan agamanya. Ada juga nilai yang bersifat moral, semisal jujur, amanah dan sebagainya. Tujuannya adalah memperoleh aspek moralitas semata dan tanpa memperhitungkan keuntungan materi. Ada juga yang bersifat ruhiyah, semisal ibadah. Dalam hal ini, ibadah ditujukan semata hanya untuk beribadah. Kegiatan ibadah tidak dimaksudkan untuk mendapatkan nilai materi, kemanusiaan maupun moral. Karena itulah mesti dijaga pencapaian nilai ruhiyahnya.
Islam membolehkan peraihan keempat nilai perbuatan tersebut oleh manusia.  Tentunya dengan catatan peraihan semua nilai tersebut harus sesuai perintah dan larangan Allah Swt.

Namun dalam dunia yang serba materialistis seperti saat ini, tak jarang terjadi disorientasi nilai. Karena semua perbuatan seringkali diukur dengan materi. Misal, didorong jujur supaya sukses berdagang. Banyak menolong supaya sukses berbisnis bahkan beribadah pun ditujukan supaya harta berlimpah. Mengapa semua ujungnya menjadi materi. Tersebab mindset hidup yang dibentuk pandangan hidup sekulerisme adalah hidup ini hanya untuk mencari materi, tak lebih dari itu.

Mari kita simak kisah berikut, bagaimana seorang shahabat menjaga pencapaian nilai ruhiyah dalam perbuatannya.

Sesaat setelah diangkat menjadi khalifah, Umar bin Al Khaththab mengangkat Sa'id bin Amir menjadi Gubenur Syam yang berpusat di Hims. Meskipun pada awalnya menolak, Sa'id akhirnya menerima juga penugasan tersebut.

Sa'id berangkat ke Hims bersama istrinya. Keduanya masih pengantin baru. Istrinya merupakan wanita yang sangat cantik.

Amirul Mukminin membekali mereka dengan harta yang cukup. Ketika keduanya sudah nyaman di Hims, istrinya hendak menggunakan harta tersebut untuk membeli pakaian yang layak, perlengkapan rumah tangga serta menyimpan sisanya.

Mengetahui maksud istrinya, Sa'id berkata, "Maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita sekarang berada di negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat ramai. Harta itu lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita berkembang."

Sang istri bertanya, "Bagaimana jika rugi?"

Sa'id menjawab, "Aku akan sediakan jaminan."

Akhirnya Sang istri pun menyetujui rencana Sa'id. Kemudian Sa'id pergi membeli sebagian keperluan hidup yang bersahaja lalu uang lainnya dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan.

Hari terus berlalu, Sang istri pun selalu menanyakan perdagangan mereka serta keuntungannya. Sa'id menjawab dengan mantap, "Bisnisnya lancar dan keuntungannya terus meningkat."

Suatu saat, Sang istri menanyakan tentang harta tersebut kepada orang lain yang mengetahui kejadian sebenarnya. Orang itu pun tertawa sehingga membuat istri Sa'id curiga. Ia pun menanyakan perihal tersebut kepada suaminya.

Sa'id menjawab, "Semua harta kita aku sedekahkan."

Sang istri langsung menangis dan merasa menyesal karena tidak jadi membeli keperluannya. Sa'id memandangi istrinya yang sedang menangis, butiran air mata yang menetes semakin memesonakan kecantikannya.

Sa'id lalu berkata, "Dinda, kau kan tahu bahwa di Surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu."

Pembicaraan pun berakhir seperti seolah tak terjadi apa-apa. Tenang, penuh senyum dan kerelaan.

Beginilah salah satu upaya salah seorang shahabat Rasulullah Saw, yang bernama Sa'id bin Amir, dalam menjaga nilai ruhiyah sedekahnya. Ia bandingkan hasilnya dengan pahala, bukan sekedar hitung-hitungan matematis dunia semata.

Bukan berarti nilai materi tak boleh diraih, tetapi raihlah nilai materi pada perbuatan yang memang ditujukan untuk meraihnya. Sedangkan pada perbuatan yang ditujukan untuk meraih nilai ruhiyah, maka mari istiqomah pada nilai ruhiyah. Supaya hati senantiasa terjaga dari disorientasi nilai dalam aktifitas ibadah.

Semoga kita diberi kemudahan dalam meraih nilai-nilai dalam setiap perbuatan kita. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Sumber bacaan:
1) Mafahim Islamiyyah, KH. Hafidz Abdurrahman, M.A.
2) Rijal haula Rasul, Khalid Muhammad Khalid.

Minggu, 08 Januari 2017

Islam Mengubah Jadi Indah

Suatu hari, dua tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Islam dan Rasulullah Saw berbincang-bincang di atas sebuah batu. Mereka berdua adalah Umair bin Wahb dan Shafwan bin Umayyah.

Umair dan Shafwan sama-sama mengungkapkan kebencian mereka. Shafwan yang baru kehilangan ayahnya di medan perang Badar berkata, "Demi Tuhan, tiada guna lagi kita hidup setelah kehilangan banyak orang di perang Badar."

Umair pun menimpali, "Benar! Seandainya bukan karena tanggungan utang, anak dan istri, aku akan berangkat ke Madinah untuk membunuh Muhammad. Aku punya alasan untuk bertemu dengannya, yaitu urusan anakku yang menjadi tawanan."

Senang hati mendengar niat sahabatnya, Shafwan yang sedang terbakar kebencian kepada Muhammad, berkata dengan penuh semangat, "Akan kulunasi utangmu dan akan kucukupi kebutuhan keluargamu."

Mendengar dukungan Shafwan terhadapnya, Umair berkata, "Kalau begitu, jangan cerita kepada siapapun tentang masalah ini!"

Umair mengasah pedangnya lalu berangkat ke Madinah.

Kedatangan Umair bin Wahb ke Madinah langsung menjadi pusat perhatian, terutama Umar bin al Khaththab r.a. Apalagi Umair langsung mengikat tali kekangnya di depan masjid. Umar menatapnya dengan tatapan waspada lalu langsung menghadap Rasulullah, ia berkata kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, Umair datang dengan membawa pedang."

Rasulullah Saw menjawab, "Suruhlah ia masuk menghadapku!"

Umair masuk sambil memanggul pedang, Umar tetap waspada. Rasulullah Saw bersabda, "Biarkanlah dia, wahai Umar! Umair, mendekatlah!"

Umair mendekat dan mengucapkan salam ala jahiliyyah. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa Allah telah memberi umat Islam ucapan yang lebih baik, yaitu "Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wabarokatuh".

Umair pun berkata, "Demi Tuhan, aku baru saja mendengarnya, hai Muhammad."

Rasulullah Saw bertanya kepadanya, "Apa maksud kedatanganmu?"

Umair menjawab seraya menyembunyikan isi hatinya, "Aku datang untuk urusan anakku yang menjadi tawanan kalian."

Rasulullah bertanya kembali, "Lantas, untuk apa pedang itu?"

Umair tetap menyembunyikan niat jahatnya, ia menjawab, "Pedang sialan! Apakah menurutmu aku akan menggunakan pedang ini?"

Rasulullah bertanya kembali, "Jujurlah hai Umair! Apa maksud kedatanganmu yang sebenarnya?"

Umair menjawab, "Seperti yang kusebutkan."

Rasulullah Saw bersabda, "Bukankah engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umayyah di sebuah batu, berbincang-bincang tentang orang-orang Quraisy yang tewas di perang Badar. Kamu berkata, "Seandainya bukan karena tanggungan utang, anak dan istri, aku akan berangkat ke Madinah untuk membunuh Muhammad." Shafwan menanggung utang, anak dan istrimu dengan syarat kamu membunuhku. Ketahuilah! Allah akan menghalangi maksud jahatmu."

Mendengar penjelasan Rasulullah Saw, Umair langsung bersyahadat dan mengatakan bahwa yang mengetahui kejadian tersebut hanyalah ia dan Shafwan bin Umayyah. Demi Allah, Rasulullah mengetahuinya pasti diberitahu Allah Swt. Umair berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah."

Umair bin Wahb masuk Islam dan diajarkan Islam.

Umar bin al-Khaththab r.a. berkata, "Demi Allah yang diriku berada dalam genggamannya. Saat Umair datang ke Madinah, di mataku ia lebih menjijikkan daripada babi. Tapi sekarang, ia lebih aku sukai daripada beberapa anakku sendiri."

Dalam sekejap, Islam menghapus kesalahan masa lalu. Islam memaafkan permusuhan Umair terhadapnya, padahal pedang yang sering menyakiti umat Islam masih berkilau di hadapan mereka. Bahkan dalam sekejap, Umar r.a. pun menyukainya lebih dari beberapa anaknya. Umat Islam melupakan berbagai tindakan jahat dan permusuhannya dalam seketika. Bahkan semua itu seolah tak pernah terjadi dan  berbalas rasa cinta. Saat ini di hadapan umat Islam hanyalah saudara muslim yang bernama Umair bin Wahb.

Keimanan telah mengubah Umair. Di atas keimanan itu Umair memijakkan amal dan ketaatannya. Islam memang bisa mengubah segala sesuatu jadi indah.

Apabila sistem politik bengis ala sekuleris diubah menjadi sistem politik Islam. Niscaya ia akan menjadi indah. Apabila  sistem ekonomi sadis ala kapitalis diubah menjadi sistem ekonomi Islam. Niscaya ia akan menjadi indah. Begitu pula dengan sistem pendidikan, pergaulan, sanksi dan pemerintahan. Jika diubah menjadi berpijak pada aqidah Islamiyyah, niscaya ia akan menjadi indah. Sebejat-bejatnya masyarakat jahiliyyah pun ketika berubah menjadi masyarakat Islam, ia menjadi indah. Yatsrib jahiliyyah menjadi Madinah Al Munawwarah.

Mengapa masih ada keraguan untuk mengganti sekulerisme menjadi Islam? Hanya kejujuran yang bisa menjawabnya, sejujur Umair bin Wahb. Wallahu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Sumber kisah:
Rijal haula Rasul (ed. Terj.), Khalid Muhammad Khalid.

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Sabtu, 07 Januari 2017

Menerima Ketetapan Allah Swt

Saad bin Abi Waqqash r.a. merupakan salah seorang shahabat yang dido'akan oleh Rasulullah Saw. Beliau Saw mendo'akan supaya do'a-do'a Sa'ad dikabulkan oleh Allah Swt. Rasulullah bersabda:

أللّٰهُمَّ اسْتَجِبْ لِسَعْدٍ إِذَا دَعَاكَ (رواه الترمذي)

"Ya Allah, kabulkanlah Sa'ad, apabila ia berdo'a kepada-Mu"
(HR. At Tirmidzi)

Di dalam riwayat lain, Rasulullah pun mendo'akan Sa'ad supaya ditepatkan bidikan panahnya. Dialah shahabat yang pertama kali melesatkan panah di jalan Allah. Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa ia tidak pernah mendengar Rasulullah Saw menjadikan ayah dan ibunya sebagai jaminan, terkecuali kepada Sa'ad saat melemparkan panah di perang Uhud.

Do'a Rasulullah Saw dikabulkan oleh Allah Swt. Hingga Abdurrahman bin Auf r.a. menjuluki Sa'ad sebagai "Singa yang menyembunyikan kukunya", tiada lain karena do'a serta ketepatan bidikan panah Sa'ad.

Saat perang Qadisiyah, Sa'ad terpilih menjadi pemimpin pasukan. Sa'ad memerintahkan pasukannya untuk mengejar sisa pasukan Persia yang melarikan diri ke Mada'in. Padahal untuk sampai ke Mada'in harus menyebrangi Sungai Tigris yang arusnya sedang deras meluap-luap. Sa'ad membuat strategi yang membuat kagum para ahli sejarah. Hingga mereka melukiskan bagaimana dahsyatnya penyebrangan tersebut. Selain menjalankan strategi, Sa'ad pun memerintahkan pasukannya untuk membaca do'a "hasbunallaahu wa ni'mal wakiil." Pasukan kaum muslim menyeberangi sungai Tigris laksana berjalan di atas air dan tak ada yang tertinggal seorang pun.

Syaikh Muhammad Khalid menuliskan bahwa Amir bin Sa'id bercerita. Pada suatu hari Sa'ad melihat seorang laki-laki sedang mencaci maki Ali r.a. Thalhah r.a. dan Zubair r.a. Ia pun menegur orang tersebut namun orang tersebut tak memedulikannya. Lalu Sa'ad berkata, "Kalau begitu aku akan mendo'akan keburukan untukmu." Laki-laki itu menjawab, "Kamu mengancamku? Kamu ini seperti nabi saja."

Sa'ad pergi,  berwudlu kemudian shalat dua raka'at. Ia  berdo'a kepada Allah Swt, "Ya Allah, Engkau tahu bahwa laki-laki itu telah mencaci maki kaum yang telah mendapatkan kebaikan-Mu. Caci makinya tentu membuat-Mu marah. Karena itu, tunjukkan kebesaran-Mu dan jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi orang lain." Tak lama kemudian, seokor unta mengamuk, menabrak laki-laki tersebut dan menginjak-injaknya hingga tewas.

Meskipun do'a-do'anya selalu dikabulkan oleh Allah Swt. Sa'ad termasuk orang yang sangat qona'ah terhadap ketetapan Allah Swt. Ketika ia memimpin pasukan Qadisiyah, ia terkena penyakit bisul yang parah, ia pun tetap mengomando pasukannya seraya bersabar atas penyakitnya.

Begitu pula tatkala suatu saat ia kehilangan penglihatannya. Kemudian datanglah seorang pemuda menemuinya, ia berkata,

"لَوْلَا دَعَوْتَ اللّٰهَ فَرَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ"

"Andaikan saja engkau meminta kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanmu, niscaya Allah akan mengembalikannya untukmu."

Sa'ad menjawabnya,

" يَا بُنَيَّ ! قَضَاءُ اللّٰهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ بَصَرِيْ"

"Hai anakku! Ketetapan Allah lebih aku cintai daripada penglihatanku."

MasyaAllah, sungguh tiada apa-apanya diri ini dibandingkan generasi terbaik umat Islam. Semoga kita bisa mengikutinya. Aamiiin. (Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Rabu, 04 Januari 2017

Menulis Tidak Membangkitkan

Terus terang, tulisan ini terinspirasi dari status seorang penulis muslimah sekaligus pakar parenting, Usth. Yanti Tanjung, tentang membaca dan menulis yang saya baca tadi malam.

Memang benar. Layaknya membaca, menulis tidaklah akan membangkitkan masyarakat. Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang kemudian disimpan sebagai pemikiran di dalam otak untuk diterima atau tidak berdasarkan pemahaman asasi yang dimilikinya. Atau bahkan disimpan hanya menjadi informasi semata.

Tapi, mengapa banyak pemikir yang menceritakan tentang peran berbagai tulisan terhadap kemunduran Islam? Misal, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani yang menceritakan tentang bagaimana peran tulisan-tulisan filsafat terhadap kemunduran Islam. Kemudian Dr. Abdullah Azzam yang menceritakan tentang berbagai tulisan yang menyuarakan kebencian terhadam Islam dan khilafah. Atau Snouck Hurgronje yang merekomendasikan Hindia Belanda supaya kaum muslim tidak memahami kitab Al Quran. Semua hal itu, bukanlah tentang membaca dan menulis. Akan tetapi tentang apa yang tertulis atau apa yang dibaca.

Ada perbedaan antara membaca dan menulis dengan apa yang dibaca dan ditulis. Misal, dengan gerakan menulis terlahirlah seratus penulis. Tetapi mereka semua menuliskan tentang kepasrahan terhadap penjajahan. Kemudian digerakkan juga masyarakat untuk membaca semua karya-karya para penulis tersebut. Kira-kira, akan bangkitkah masyarakat? Jelas tidak. Malah mungkin akan semakin pasrah akan penjajahan yang dideritanya. Alhasil, pemikiran yang terkandung dalam tulisanlah yang akan berpengaruh terhadap benak masyarakat.

Selain itu, pemikiran yang tertuang dalam tulisan pun akan dipengaruhi oleh kemampuan penulis dalam menuangkan kata-katanya dan kemampuan pembaca dalam memahami maksud kalimat yang dituangkan penulisnya.

Tulisan merupakan buah pemikiran. Ia tidak membangkitkan, akan tetapi pemikiran yang tertuang dalam tulisanlah yang menentukannya, apakah akan mengantarkan kepada kebangkitan ataukah tidak. Karena kebangkitan manusia hanya akan terjadi jika ada kebangkitan pemikiran. Adapun kebangkitan pemikiran tergantung pada pemikiran asasi yang diadopsinya. Dan bagi kaum muslim, pemikiran asasi tersebut adalah Aqidah Islamiyyah.

Suatu pemikiran pun tidak cukup tertuang dalam berbagai buku dan tulisan. Supaya membangkitkan, pemikiran tersebut haruslah diemban, ia tidak cukup hanya dibaca dan dituliskan. Sebagaimana Al Quran ketika diturunkan kepada Rasulullah Saw, tak hanya dituliskan dalam pelepah kurma, batu dan sebagainya. Akan tetapi diemban dalam aktifitas dakwah.

Alhasil, membaca dan menulis memang tidak akan membangkitkan. Tetapi apa yang tertulis akan mempengaruhi pemikiran masyarakat. Di sinilah peran para penulis muslim, menjaga apa yang tertuliskan supaya selalu ide-ide mulia yang mengajak kepada Islam. Begitu pula tak cukup dengan itu, ide-ide mulia tersebut diembannya dalam aktifitas dakwah yang membangkitkan. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

https://www.facebook.com/MudahNulis/

Berlatih Membuat Status Terbaik

Kepribadian manusia terbentuk dari dua hal, yaitu pola pikir dan pola sikap. Pola pikir merupakan cara berpikir seseorang ketika menilai suatu fakta atau kejadian. Pola pikir akan terlihat dari ucapan dan tulisan seseorang. Sedangkan pola sikap adalah cara pemenuhan seseorang terhadap kebutuhan jasmani maupun dorongan naluriahnya. Karena itulah, tulisan seseorang, sependek apapun itu, akan menggambarkan isi pikirannya.

Apabila suatu tulisan seseorang selalu berpijak di atas suatu pandangan hidup yang khas, berarti tulisan tersebut merupakan pola pikirnya. Meskipun dalam interaksi dunia maya, kita memiliki keterbatasan untuk mengetahui detail tentang perbuatan serta pola sikapnya, terkecuali bagi yang sering berinteraksi di dunia nyata. Alhasil, status seseorang di dunia maya, hanyalah menggambarkan tentang isi pikiran seseorang dan tak lebih dari itu. Sedangkan pola sikapnya bisa saja sejalan dengan tulisannya atau bisa jadi berbeda. Saat pola pikir dan pola sikap berbeda, inilah yang dinamakan dengan split personality (kepribadian yang terpecah).

Meskipun status di dumay hanya menggambarkan isi pikiran seseorang, tak berarti pula kita bebas mencurahkan setiap kata. Karena setiap apa yang tertuang dari pikiran kita, tentu saja akan ada perhitungannya di sisi Allah Swt. Tulisan kita sebagaimana lisan kita, bisa membahayakan atau bisa menyelamatkan. Namun sebaik-baik tulisan tentunya yang mengajak kepada hidayah Allah Swt, lalu diringi dengan amal shalih dan keistiqomahan beriman kepada-Nya. (lih. Q.S. Fushilat: 33).

Pada hakikatnya, status kita merupakan tulisan kita dan ia adalah isi pikiran kita. Cara pandang kita dalam melihat sebuah masalah akan tergambar dari bagaimana tulisan kita. Misal, tentang fakta kenaikan listrik di awal tahun 2007. Tentu akan beragam pikiran orang dalam menyikapinya. Orang yang pragmatis tentu akan berkomentar, yang penting terbeli, sudah cukup itu saja tanpa mencari solusi selain untuk dirinya sendiri. Orang yang peduli orang lain tentu akan berkomentar dengan bahasa yang lebih empati terhadap rakyat miskin. Sedangkan orang yang memandangnya sebagai suatu kezaliman, tentu akan berkomentar tentang solusi mengakhiri kezaliman tersebut.

Komentar kenaikan  listrik sebagai suatu kezaliman, tak memastikan pula berasal dari satu pola pikir  yang sama. Orang yang berpandangan dengan pandangan hidup Islam, akan memandang kezaliman itu sebagai akibat dari pengabaian syariah Islam. Sedangkan orang yang berpandangan dengan pandangan hidup sosialisme,  akan memandang kezaliman itu sebagai penyimpangan atas dialektika materialisme. Atau hanya melihat dari melebarnya jurang antara golongan kaya dan miskin, tak lebih dari itu. 

Namun ada juga orang yang abai atas berbagai kejadian di sekitarnya. Mau Al Quran dihina, mau penghinanya dihukum ataukah tidak, mau harga listrik naik, mau terjadi pembantaian kaum muslim di berbagai negeri Islam, tetap saja curhat urusan pribadi. Hal ini bisa jadi pertanda bahwa pola pikirnya individualis. Ia tak mau peduli siapapun terkecuali dirinya. Meskipun bisa saja dalam perbuatan dan pola sikapnya tidaklah sejalan dengan pola pikirnya. 

Oleh karena itu, setiap status dan tulisan yang nyata-nyata bertentangan dengan Islam sudah bisa dipastikan berasal dari orang yang berpola pikir tidak islami. Mohon dicatat, pola pikir tidak islami. Pola pikir tidak islami bukan berarti mengeluarkan seseorang dari Islam. Misal, ketika seseorang mencurahkan perasaan cinta di statusnya kepada pacarnya. Atau ketika seseorang menuliskan untuk tak perlu memedulikan etnis Rohingya karena ia bukanlah bangsa Indonesia. Kedua contoh status ini terlahir dari pola pikir yang tidak islami. Karena dalam Islam, mencurahkan perasaan cinta kepada pacar, yakni pasangan yang belum sah, merupakan sesuatu yang diharamkan. Begitu pula dengan ajakan untuk tidak peduli terhadap muslim yang lain. Tersebab peduli terhadap muslim yang lain, bangsa apapun itu, termasuk perbuatan yang diwajibkan oleh Islam.

Untuk menjaga agar status kita tak bertentangan dengan islam, marilah kita berlatih membuat status terbaik dengan melatih pola pikir kita agar senantiasa islami. Melatih pola pikir islami bisa dilakukan dengan dua aktifitas, yang pertama adalah aktifitas meningkatkan pemahaman keislaman, berupa mempelajari aqidah dan syariah Islam. Adapun yang kedua adalah selalu melatih akal kita agar selalu menilai semua fakta dan kejadian berdasarkan pertimbangan syariah. Dengan demikian, status kita tidaklah menjadi sekedar status, tetapi status terbaik yang selalu mengajak orang lain kepada kebaikan Islam, bukan yang lain. WaLlohu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi. 

(Ary H. – Islamic Writer & Blogger)  

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Selasa, 03 Januari 2017

Menaiki 1000 Anak Tangga

Jika kita pernah berwisata ke tempat-tempat yang tinggi, mungkin kita takkan merasa asing dengan sensasi menaiki ratusan hingga ribuan anak tangga. Di antara anak tangga yang pernah saya rasakan sensasinya adalah Air Terjun Pelangi di Cimahi, Air Terjun Sindanggila di Lombok Utara dan yang paling dekat adalah Kawah Gunung Galunggung. Menaikinya benar-benar membutuhkan ketepatan, perjuangan dan keistiqomahan.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa ketepatan menjadi hal yang pertama. Saya teringat sebuah buku lawas yang ditulis Stephen R. Covey, di awal penjelasan tentang 7 kebiasaan manusia yang paling efektif, ia menjelaskan tentang makna efektif. Menurutnya, efektif itu meletakkan tangga pada tempat yang tepat. Jika kita keliru meletakkan tangga atau tidak tepat menaiki tangga, tentu kita akan sampai di lokasi yang berbeda. Sebagai satu-satunya contoh di lokasi wisata Gunung Galunggung terdapat dua tangga yang berbeda, jika kita ingin sampai di lokasi yang sama, maka kita mesti tepat parkir di tempat yang sama dan menaiki tangga yang sama. Tangga yang berbeda, akan mengantarkan kita ke lokasi berbeda.

Itu kalau di tempat wisata. Coba kalau di rumah, pas kita memakai tangga untuk membetulkan genting bocor misalnya. Kita sandarkan tangga kita ke tetangga depan rumah, kemudian kita menaikinya. Semakin cepat kita sampai, semakin cepat pula kita salah lokasi. Sama-sama sampai di atap, tetapi tak bisa membetulkan genting yang bocor. Karena itulah, kita mesti punya ketepatan dalam menaiki tangga.

Meletakkan tangga yang tepat berlaku pula dalam kehidupan kita. Tak sedikit orang yang terbetik ide untuk menjadi seorang penulis. Kemudian ide itu ia simpan sebagai salah satu visi hidupnya. Mau tidak mau, ia mesti meletakkan tangganya di posisi yang tepat menuju visi tersebut. Belajar menuangkan kata-kata merupakan upaya meletakkan tangga di posisi yang tepat. Bagaimana bisa menjadi seorang penulis jika tak mau mulai menuangkan kata-kata.

Tak cukup dengan meletakkan tangga di tempat yang tepat, untuk menaikinya kita pun butuh perjuangan. Tangga menuju puncak bisa terdiri dari ratusan bahkan ribuan anak tangga. Setiap anak tangga yang dipijak pun bisa jadi membutuhkan ribuan kata-kata untuk dituangkan, bahkan tak sedikit pula waktu, tenaga dan uang saku yang kita korbankan. Itulah perjuangan dalam setiap menaiki tangga kesuksesan. Janganlah aneh jika tungkai kaki kita pun bergetar lemas dan lelah karenanya. Karena tiada lautan kemudahan tanpa riak kesulitan.

Apabila kita yakin menaiki tangga yang tepat tak perlu khawatir saat lelah mendera, istirahatlah sejenak. Para penebang pohon pun butuh mengasah gergajinya. Kala lelah menaiki tangga, duduklah dan perkaya pikiran dengan membaca. Bagaikan istirahat seorang petarung sejati, badannya diam tetapi pikirannya menerawang mencari teknik dan strategi baru untuk memenangkan pertandingan.

Untuk menjaga keistiqomahan, maka bekerja samalah. Saat menaiki ratusan anak tangga Galunggung, salah seorang anak saya beberapa kali berhenti. Tetapi karena kami berempat, maka satu dengan yang lainnya saling menyemangati. Kadang Si Bungsu yang masih PAUD menyemangati kakaknya yang Sulung, kadang saya menggendong Si Bungsu di anak tangga yang curam, atau kadang kita menunggu yang ketinggalan. Semuanya berjalan alami dalam kebersamaan.

Karena itulah dalam dunia kepenulisan kita pun butuh kebersamaan. Bergaul dengan para penulis, terutama yang memiliki kesamaan ide dan visi, mungkin bisa membantu untuk saling menguatkan, salah satunya di Akademi Menulis Kreatif.

Visi apapun, termasuk menjadi penulis, bisa jadi lebih dari sekedar menaiki 1000 anak tangga. Namun dengan menaiki tangga yang tepat,  disertai perjuangan dan saling menjaga keistiqomahan, cepat atau lambat insyaAllah akan terwujud. Yassarollohu umurona. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis

Minggu, 01 Januari 2017

Bersabar atas Permusuhan Setan

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan.” (TQS. Al An’am[6]: 112)

Ketika Rasulullah Saw pertama kali menerima wahyu, Waraqah bin Naufal berkata kepada beliau,”Tidaklah datang seorang lelaki pun membawa seperti apa yang datang kepadamu, terkecuali dimusuhi.” (THR. Imam Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a.)1)

Hal ini pun diperkuat oleh firman Allah Swt dalam Q.S. Al Furqan[25]: 43, artinya : “Begitulah bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa.” Sehingga keberadaan musuh-musuh para nabi, termasuk Rasulullah Saw, merupakan sesuatu yang pasti adanya. Mereka terdiri dari kalangan jin dan manusia. 2)

Dari Abu Dzar r.a. bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : “Hai, Abu Dzar! Apakah engkau telah berlindung kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin?” Abu Dzar lalu berkata,”aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah manusia ada yang menjadi bagian dari setan-setan?” Beliau menjawab: “Ya.” (THR. Ahmad).3)

Ikrimah berkata : “Adapun setan dari kalangan manusia adalah golongan setan yang menyesatkan manusia. Sedangkan setan dari kalangan jin adalah golongan setan yang menyesatkan jin. Keduanya bertemu. Kemudian satu dengan yang lain saling bercerita kepada temannya, “sesungguhnya aku telah menyesatkan rekanku dengan begini dan begitu. Apakah kamu juga sudah menyesatkan rekanmu dengan begini dan begitu. Maka satu dengan yang lainnya saling mengetahui.” 4)

Adapun Mujahid menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kaum kafir dari kalangan jin adalah setan. Mereka berbisik kepada golongan setan dari kalangan manusia, yakni kaum kafir, dengan perkataan indah sebagai tipuan.5)

Mengenai kalimat (وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ) “kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya”, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa semuanya merupakan taqdir, qadha, iradah serta masyiah Allah. Bagi setiap nabi, Allah mengadakan musuh dari golongan setan. Biarkan saja bahaya mereka (seraya terus memperjuangkan Islam, pen.) dan bertawakkallah kepada Allah atas permusuhan mereka. Sesungguhnya Allah Swt akan mencukupkanmu dan menolongmu atas mereka. 5)

Apa yang menimpa para nabi, tak menutup kemungkinan menimpa pengikut Rasulullah Saw di akhir jaman. Karena Rasulullah Saw bersabda,“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (THR. Imam Muslim). Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw ditanya, “wahai Rasulullah Saw, siapakah orang-orang yang asing itu?” Beliau bersabda,”Yaitu orang-orang yang berbuat keberesan tatkala manusia berbuat kerusakan.”

Jika kita menelaah apa yang disampaikan oleh Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli dan Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi dalam tafsir Jalalain, ketika mereka menjelaskan Q.S. Ar Rum[30]: 41. Bahwa kerusakan di daratan dan di lautan itu karena perbuatan manusia, yakni berbagai kemaksiatan.6) Dan kita juga mafhum bersama bahwa kemaksiatan adalah pelanggaran manusia atas hukum-hukum Allah Swt. Tatkala manusia berpaling dari hukum Allah Swt, maka manusia sedang berbuat kerusakan.

Ketika manusia memisahkan Islam dari kehidupannya, lalu mensakralkan hukum buatannya sendiri seraya mengacuhkan hukum Allah Swt, itulah pangkal kerusakan yang dibuat oleh manusia. Di masa-masa inilah Islam menjadi asing di tengah masyarakat. Bahkan setan dari kalangan jin dan manusia pun saling membantu untuk membuat manusia tetap di jalan kesesatan. Kembali kepada pesan Imam Ibnu Katsir, biarkanlah para setan dan bertawakkallah kepada Allah Swt. Tentunya dengan tetap bersabar dan berdakwah mengajak kepada keberesan.

Tentunya bersabar dan bertawakkal di tengah permusuhan setan dari kalangan jin dan manusia tidaklah mudah. Sebagaimana umat-umat terdahulu yang diuji dengan berbagai malapetaka, kesengsaraan dan berbagai goncangan cobaan.7)  Oleh karena itu, Allah Swt pun menyediakan limpahan pahala yang besar kepada yang mengamalkannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Ghurbatul Islam, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan keberuntungan bagi orang-orang yang asing (al-Ghuraba) adalah surga.8)

Anas bin Malik r.a. menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Akan tiba suatu masa pada manusia, dimana orang yang bersabar di antara mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (THR. At-Tirmidzi). Dalam riwayat yang lain, salah satunya riwayat Abu Dawud, Rasulullah Saw bersabda : “...seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya.” Seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw.: ”Wahai Rasulullah, apakah 50 kali pahala dari kalangan mereka?” Rasulullah Saw menjawab: “Bahkan 50 kali pahala dari kalian.” Semoga kita bisa termasuk orang-orang yang bersabar dan bertawakkal atas berbagai permusuhan setan. Na’udzu billahi minasysyaithani r-rojim.
(Ary H. – Islamic Writer & Blogger)

Daftar Pustaka :
  1. Lih. Ibnu Katsir tentang Q.S. Al An’am[6] : 112.
  2.  idem
  3. idem
  4. idem
  5. idem
  6. Lih. Tafsir Jalalain tentang Q.S. Ar-Rum[30] : 41
  7. Lih. Q.S. Al Baqarah[2]: 214.
  8. Ibnu Taimiyyah. Islam yang Terasingkan (ed. Terj. Indonesia)