Rabu, 04 Januari 2017

Berlatih Membuat Status Terbaik

Kepribadian manusia terbentuk dari dua hal, yaitu pola pikir dan pola sikap. Pola pikir merupakan cara berpikir seseorang ketika menilai suatu fakta atau kejadian. Pola pikir akan terlihat dari ucapan dan tulisan seseorang. Sedangkan pola sikap adalah cara pemenuhan seseorang terhadap kebutuhan jasmani maupun dorongan naluriahnya. Karena itulah, tulisan seseorang, sependek apapun itu, akan menggambarkan isi pikirannya.

Apabila suatu tulisan seseorang selalu berpijak di atas suatu pandangan hidup yang khas, berarti tulisan tersebut merupakan pola pikirnya. Meskipun dalam interaksi dunia maya, kita memiliki keterbatasan untuk mengetahui detail tentang perbuatan serta pola sikapnya, terkecuali bagi yang sering berinteraksi di dunia nyata. Alhasil, status seseorang di dunia maya, hanyalah menggambarkan tentang isi pikiran seseorang dan tak lebih dari itu. Sedangkan pola sikapnya bisa saja sejalan dengan tulisannya atau bisa jadi berbeda. Saat pola pikir dan pola sikap berbeda, inilah yang dinamakan dengan split personality (kepribadian yang terpecah).

Meskipun status di dumay hanya menggambarkan isi pikiran seseorang, tak berarti pula kita bebas mencurahkan setiap kata. Karena setiap apa yang tertuang dari pikiran kita, tentu saja akan ada perhitungannya di sisi Allah Swt. Tulisan kita sebagaimana lisan kita, bisa membahayakan atau bisa menyelamatkan. Namun sebaik-baik tulisan tentunya yang mengajak kepada hidayah Allah Swt, lalu diringi dengan amal shalih dan keistiqomahan beriman kepada-Nya. (lih. Q.S. Fushilat: 33).

Pada hakikatnya, status kita merupakan tulisan kita dan ia adalah isi pikiran kita. Cara pandang kita dalam melihat sebuah masalah akan tergambar dari bagaimana tulisan kita. Misal, tentang fakta kenaikan listrik di awal tahun 2007. Tentu akan beragam pikiran orang dalam menyikapinya. Orang yang pragmatis tentu akan berkomentar, yang penting terbeli, sudah cukup itu saja tanpa mencari solusi selain untuk dirinya sendiri. Orang yang peduli orang lain tentu akan berkomentar dengan bahasa yang lebih empati terhadap rakyat miskin. Sedangkan orang yang memandangnya sebagai suatu kezaliman, tentu akan berkomentar tentang solusi mengakhiri kezaliman tersebut.

Komentar kenaikan  listrik sebagai suatu kezaliman, tak memastikan pula berasal dari satu pola pikir  yang sama. Orang yang berpandangan dengan pandangan hidup Islam, akan memandang kezaliman itu sebagai akibat dari pengabaian syariah Islam. Sedangkan orang yang berpandangan dengan pandangan hidup sosialisme,  akan memandang kezaliman itu sebagai penyimpangan atas dialektika materialisme. Atau hanya melihat dari melebarnya jurang antara golongan kaya dan miskin, tak lebih dari itu. 

Namun ada juga orang yang abai atas berbagai kejadian di sekitarnya. Mau Al Quran dihina, mau penghinanya dihukum ataukah tidak, mau harga listrik naik, mau terjadi pembantaian kaum muslim di berbagai negeri Islam, tetap saja curhat urusan pribadi. Hal ini bisa jadi pertanda bahwa pola pikirnya individualis. Ia tak mau peduli siapapun terkecuali dirinya. Meskipun bisa saja dalam perbuatan dan pola sikapnya tidaklah sejalan dengan pola pikirnya. 

Oleh karena itu, setiap status dan tulisan yang nyata-nyata bertentangan dengan Islam sudah bisa dipastikan berasal dari orang yang berpola pikir tidak islami. Mohon dicatat, pola pikir tidak islami. Pola pikir tidak islami bukan berarti mengeluarkan seseorang dari Islam. Misal, ketika seseorang mencurahkan perasaan cinta di statusnya kepada pacarnya. Atau ketika seseorang menuliskan untuk tak perlu memedulikan etnis Rohingya karena ia bukanlah bangsa Indonesia. Kedua contoh status ini terlahir dari pola pikir yang tidak islami. Karena dalam Islam, mencurahkan perasaan cinta kepada pacar, yakni pasangan yang belum sah, merupakan sesuatu yang diharamkan. Begitu pula dengan ajakan untuk tidak peduli terhadap muslim yang lain. Tersebab peduli terhadap muslim yang lain, bangsa apapun itu, termasuk perbuatan yang diwajibkan oleh Islam.

Untuk menjaga agar status kita tak bertentangan dengan islam, marilah kita berlatih membuat status terbaik dengan melatih pola pikir kita agar senantiasa islami. Melatih pola pikir islami bisa dilakukan dengan dua aktifitas, yang pertama adalah aktifitas meningkatkan pemahaman keislaman, berupa mempelajari aqidah dan syariah Islam. Adapun yang kedua adalah selalu melatih akal kita agar selalu menilai semua fakta dan kejadian berdasarkan pertimbangan syariah. Dengan demikian, status kita tidaklah menjadi sekedar status, tetapi status terbaik yang selalu mengajak orang lain kepada kebaikan Islam, bukan yang lain. WaLlohu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi. 

(Ary H. – Islamic Writer & Blogger)  

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar