Jika kita pernah berwisata ke tempat-tempat yang tinggi, mungkin kita takkan merasa asing dengan sensasi menaiki ratusan hingga ribuan anak tangga. Di antara anak tangga yang pernah saya rasakan sensasinya adalah Air Terjun Pelangi di Cimahi, Air Terjun Sindanggila di Lombok Utara dan yang paling dekat adalah Kawah Gunung Galunggung. Menaikinya benar-benar membutuhkan ketepatan, perjuangan dan keistiqomahan.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa ketepatan menjadi hal yang pertama. Saya teringat sebuah buku lawas yang ditulis Stephen R. Covey, di awal penjelasan tentang 7 kebiasaan manusia yang paling efektif, ia menjelaskan tentang makna efektif. Menurutnya, efektif itu meletakkan tangga pada tempat yang tepat. Jika kita keliru meletakkan tangga atau tidak tepat menaiki tangga, tentu kita akan sampai di lokasi yang berbeda. Sebagai satu-satunya contoh di lokasi wisata Gunung Galunggung terdapat dua tangga yang berbeda, jika kita ingin sampai di lokasi yang sama, maka kita mesti tepat parkir di tempat yang sama dan menaiki tangga yang sama. Tangga yang berbeda, akan mengantarkan kita ke lokasi berbeda.
Itu kalau di tempat wisata. Coba kalau di rumah, pas kita memakai tangga untuk membetulkan genting bocor misalnya. Kita sandarkan tangga kita ke tetangga depan rumah, kemudian kita menaikinya. Semakin cepat kita sampai, semakin cepat pula kita salah lokasi. Sama-sama sampai di atap, tetapi tak bisa membetulkan genting yang bocor. Karena itulah, kita mesti punya ketepatan dalam menaiki tangga.
Meletakkan tangga yang tepat berlaku pula dalam kehidupan kita. Tak sedikit orang yang terbetik ide untuk menjadi seorang penulis. Kemudian ide itu ia simpan sebagai salah satu visi hidupnya. Mau tidak mau, ia mesti meletakkan tangganya di posisi yang tepat menuju visi tersebut. Belajar menuangkan kata-kata merupakan upaya meletakkan tangga di posisi yang tepat. Bagaimana bisa menjadi seorang penulis jika tak mau mulai menuangkan kata-kata.
Tak cukup dengan meletakkan tangga di tempat yang tepat, untuk menaikinya kita pun butuh perjuangan. Tangga menuju puncak bisa terdiri dari ratusan bahkan ribuan anak tangga. Setiap anak tangga yang dipijak pun bisa jadi membutuhkan ribuan kata-kata untuk dituangkan, bahkan tak sedikit pula waktu, tenaga dan uang saku yang kita korbankan. Itulah perjuangan dalam setiap menaiki tangga kesuksesan. Janganlah aneh jika tungkai kaki kita pun bergetar lemas dan lelah karenanya. Karena tiada lautan kemudahan tanpa riak kesulitan.
Apabila kita yakin menaiki tangga yang tepat tak perlu khawatir saat lelah mendera, istirahatlah sejenak. Para penebang pohon pun butuh mengasah gergajinya. Kala lelah menaiki tangga, duduklah dan perkaya pikiran dengan membaca. Bagaikan istirahat seorang petarung sejati, badannya diam tetapi pikirannya menerawang mencari teknik dan strategi baru untuk memenangkan pertandingan.
Untuk menjaga keistiqomahan, maka bekerja samalah. Saat menaiki ratusan anak tangga Galunggung, salah seorang anak saya beberapa kali berhenti. Tetapi karena kami berempat, maka satu dengan yang lainnya saling menyemangati. Kadang Si Bungsu yang masih PAUD menyemangati kakaknya yang Sulung, kadang saya menggendong Si Bungsu di anak tangga yang curam, atau kadang kita menunggu yang ketinggalan. Semuanya berjalan alami dalam kebersamaan.
Karena itulah dalam dunia kepenulisan kita pun butuh kebersamaan. Bergaul dengan para penulis, terutama yang memiliki kesamaan ide dan visi, mungkin bisa membantu untuk saling menguatkan, salah satunya di Akademi Menulis Kreatif.
Visi apapun, termasuk menjadi penulis, bisa jadi lebih dari sekedar menaiki 1000 anak tangga. Namun dengan menaiki tangga yang tepat, disertai perjuangan dan saling menjaga keistiqomahan, cepat atau lambat insyaAllah akan terwujud. Yassarollohu umurona. Aamiin.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
#MudahNulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar