Tak dimakan ayah yang mati, dimakan pun ibu yang mati. Apalagi dimakan sebagian tak dimakan sebagian, mungkin keduanya mati. Sepertinya pepatah itu cocok untuk kondisi yang dihadapi umat Islam saat ini.
Dalam dunia yang terkungkung sekulerisme, seperti saat ini. Umat Islam seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan sikap politis, tetapi tidak jarang berbagai pilihan itu hanyalah plan A, B dan C-nya Sang Dalang penjajah. Jadi, meskipun umat Islam menjatuhkan pilihan politik pada salah satu opsi, penjajahan tetap berjalan aman.
Tidak hanya satu kali kaum muslim dihadapkan pada pilihan-pilihan tersebut. Misal, pilih orde lama atau orde baru? Sudahkah umat Islam menjatuhkan pilihan, hasilnya? Pilih orde baru atau orde reformasi? Blok barat atau blok timur, atau opsi non blok? Kerajaan ataukah republik? Bahkan sampai menyikapi pencalonan pilpres AS. Seolah-olah ada opsi segar pada salah satu kandidat. Faktanya, tetap saja di bawah kendali Sang Dalang. Pun tetap saja umat Islam jadi korban eksploitasi penjajahan. Sehingga, setiap pilihan sering diakhiri dengan penyesalan karena opsi yang ada hanya buruk dan sangat buruk. Jika melihat kondisi kekinin, mungkinkah simalakama juga disajikan pada kudeta Turki?
Simalakama politik tercipta karena umat terkungkung paradigma sekulerisme. Seakan tiada solusi lain selain itu. Atau bahkan sebagian umat sudah ada yang merasa nyaman dengan status quo, sehingga impian keluar darinya dianggap mengganggu zona nyaman. Entahlah. Mungkin demikian adanya.
Sebenarnya simalakama politik bisa diakhiri. Buang saja buah simalakama yang disajikan kemudian ganti dengan buah-buahan yang segar dan layak konsumsi. Lawan penyajinya, ganti dengan penyaji yang lain. Karena dunia ini bukan milik AS Sang Dalang Penjajah. Dunia ini diwariskan oleh Allah Swt untuk kaum mukmin, untuk umat terbaik.
Akhiri simalakama dengan lawan penjajahan AS, munculkan penyaji yang lain untuk umat Islam, yakni Negara Khilafah yang opsi-opsinya selalu di antara baik dan sangat baik.
Wallohu a'lam (Ary H. - 11 Syawal 1437 H)