Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 November 2017

Keperkasaan Seorang Anshor

Sedikit cerita tentang Usaid bin Hudhair. Beliau adalah salah seorang tokoh Yatsrib yang sangat disegani. Sikapnya tegas dan berprinsip, pun merupakan keturunan dari kalangan terhormat dan mulia. Seorang penyair pernah membuat syair tentang ayahnya,

Seandainya maut mau menghindar dari orang perkasa
niscaya ia membiarkan Hudhair ketika menutup pintunya
ia akan berkeliling, sampai malam menjelma
lalu duduk dan berdendang dengan asyiknya.

Usaid terkenal sangat berani dan memiliki kedudukan sebagaimana ayahnya. Beliau merupakan seorang pemimpin kabilah. Ketika mendengar bahwa ada seseorang warga Makkah yang mendakwahkan agama baru (Islam), yaitu Mush'ab bin Umair yang diutus oleh Rasulullah, Usaid marah hebat. Ia beranggapan bahwa orang tersebut akan memecah belah kesatuan dan kondusifitas di Madinah. Karena itulah ia harus mengusir Mush'ab.

Untuk memberi pelajaran kepada Mush'ab,  Usaid pun langsung menenteng tombak lalu langsung menemui Mush'ab yang sedang berdakwah. Di majelis itu ada As'ad bin Zurarah serta beberapa orang lainnya yang serius mendengarkan ceramah Mush'ab bin Umair. Usaid datang dengan penuh kemarahan dan keberangan. Ia langsung menodongkan tombaknya kepada Mush'ab seraya mengusirnya.

Berhadapan dengan orang yang sedang marah besar, Mush'ab berkata dengan santun,

"Apakah engkau berkenan duduk dan mendengarkannya? Jika engkau menyukainya, engkau dapat menerimanya. Sedangkan jika engkau tidak menyukainya, kami akan menghentikan apa yang tidak engkau sukai."

Usaid memang orang yang sangat cerdas dan tajam perasaannya. Tidak salah jika penduduk Yatsrib menjulukinya "Al Kamil" (Si Sempurna). Dalam kondisi sangat marah sekalipun, akalnya masih bisa berpikir normal. Ia pun mau menerima tawaran Mush'ab. Ia berkata,

"Engkau benar, sekarang sampaikanlah apa yang ada padamu!"

Mush'ab pun membacakan Al Quran, hidayah Islam meresap ke dalam hati Usaid bin Hudhair r.a. Selanjutnya melalui dakwah Usaid banyak tokoh dan penduduk Yatsrib yang masuk Islam.

Mengenai Usaid r.a., Rasulullah Saw bersabda:

"Laki-laki yang paling beruntung adalah Usaid bin Hudhair."

Usaid bin Hudhair memang sangat beruntung, karena dalam kondisi sangat benci dan marah sekalipun, #akal sehatnya masih #berfungsi. Dari jalan itulah ia menerima #hidayah #Islam dan tercatat mulia di langit dan bumi sebagai bagian dari #barisan #penolong #dakwah Rasulullah Saw, atau disebut dengan kaum #Anshor.

#Aryh
#Kisah
#ShahabatRasul

Kamis, 16 November 2017

Sisi Perjuangan Seorang Tokoh Sekuler

Ia terlahir di sebuah kawasan miskin di wilayah Yunani yang bernama Tesalonika. Ayahnya hanya seorang mantan pegawai rendahan di sebuah kantor pemerintah. Karena hidup tak berpendapatan, ayahnya pun membanting stir menjadi seorang pebisnis. Namun nasib baik belum berpihak kepadanya, ayahnya gagal berbisnis dan menjadi seorang pemabuk. Ketika penyakit TBC menjadi pengantar kematian ayahnya, usianya baru 7 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk menjadi seorang yatim.

Ibunya adalah seorang yang buta huruf. Namun ia adalah muslimah yang sangat taat beribadah. Karena itulah, Sang ibu menginginkannya untuk menjadi seorang ulama. Akan tetapi, ia memilih menjadi seorang remaja pemberontak dengan perilaku yang buruk. Atas saran keluarga besarnya, ia pun dimasukkan ke sekolah militer di Salonika.

Terlahir dengan berbagai penderitaan dan kesulitan hidup, membuatnya bermental baja dan pantang menyerah. Ia gigih dan tekun belajar hingga meraih prestasi yang mengagumkan. Ia sangat pandai di bidang militer dan matematika. Saking pandainya, temannya pun menjuluki dia  dengan julukan “kamil”. Bahkan, ia dipromosikan untuk menjadi salah seorang staf pengajar. Kerja kerasnya membuahkan hasil, ia mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir. Pada tahun 1905, gelar kehormatan sebagai kapten pun berhasil ia sandang.

Meskipun pandai, tak membuatnya menjadi seorang pelajar yang studi oriented. Masa mudanya ia isi dengan mengaktifkan diri dalam sebuah kelompok perjuangan revolusioner yang bernama “Vatan”. Kelompok ini sangat militan dan fanatik memperjuangkan liberalisme. Kelompok ini selalu menyalahkan Islam atas keterbelakangan yang menimpa negerinya. Kelompok ini lantang mengkritik pemerintahan Islam. Para anggotanya bersumpah untuk melengserkan pemerintah serta mengganti konstitusi dan undang-undang, kemudian akan menggantikannya dengan sistem pemerintahan ala Barat.

Kebencian kelompok Vatan terhadap Islam sungguh tak kepalang. Kelompok ini sangat berkeinginan untuk menghapuskan otoritas para ulama, menghapuskan pemakaian jilbab dan kerudung serta mendeklarasikan kesetaraan gender. Keaktifannya dalam kelompok tersebut telah mengantarkan dia untuk menjadi pemimpinnya.

Pada tahun 1908 ia diajak bergabung dalam sebuah komite nasional. Namun ia benci diperintah, ia tak puas ketika berbagai ide dan kemauannya ditentang oleh anggota yang lain. Sepuluh tahun ia habiskan untuk kembali menekuni bidang kemiliteran. Berkat kekerasan hati dan kecerdasan otaknya, ia merengkuh makin banyak kekuasaan politik.

Hampir setiap malam ia begadang menahan kantuk. Ia rencanakan berbagai langkah makar untuk mendapatkan sebuah kekuasaan yang absolut baginya. Kesempatan itu akhirnya datang, peperangan yang ia pimpin ketika melawan sekutu Eropa telah mengantarkannya menjadi seorang “Penyelamat.” Rakyat pun mulai mengagung-agungkannya. Ia pun dipuja sebagai pahlawan.

Semua impiannya selama ini untuk menghancurkan Islam semakin menyata. Karena ia beranggapan bahwa negerinya hanya bisa maju dan modern, jika mengeliminasi berbagai hal yang berbau Islam. Sehingga tanpa ragu, ia pun selalu menyerang Islam dan pilarnya.

Pada 3 Maret 1924, ia mengajukan UU yang menghapuskan sistem pemerintahan Khilafah Islam untuk selamanya dan mendirikan negara sekuler. Sebelum UU ini diperkenalkan, ia membungkam para penentang dan semua suara-suara kritis dengan ancaman hukuman mati. Akhirnya, UU tersebut pun disahkan tanpa perdebatan. Ia adalah Musthafa Kemal Pasha.

*)sumber bacaan : Mustafa Kemal Ataturk; Pembawa Kehancuran Islam Turki. Percikan Iman No. 04 Th.VII April 2006.

Senin, 11 September 2017

Diplomasi Mu'adz bin Jabal

Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Seperangkat aturan hidup yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, terbukti membawa keadilan untuk seluruh manusia. Oleh karena itu, pembebasan Islam ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab saat itu, sekaligus menghapus penjajahan para penguasa terhadap orang-orang lemah di antara mereka.

Penindasan yang terjadi dalam sistem yang tidak islami bukan hanya menimpa kaum berbeda agama, bahkan kaum yang seagama pun tak luput dijadikan objek penindasan. Sebagaimana yang berlangsung dalam sistem kekaisaran Romawi selama berabad-abad.
Hal tersebut nampak dari diplomasi antara Muadz bin Jabal dengan para pembesar Romawi menjelang Perang Nakhl Baisan. Nakhl Baisan adalah sebuah desa di wilayah Syam, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi.
Saat itu, Muadz bin Jabal menolak duduk bersama para pembesar Romawi di atas permadani. Muadz berkata dengan tegas,
"Aku menolak berjalan dengan angkuh di atas permadani ini, dan duduk dengan bantal-bantal empuk yang ia lebih kalian utamakan untuk diri sendiri daripada orang-orang lemah kalian yang seagama. Sungguh permadani-permadani itu hanya sebagian dari perhiasan dunia dan salah satu tipu dayanya. Allah telah merendahkan dan mencelanya di dunia dan melarang sikap berlebihan serta melampaui batas dalam hal yang demikian. Karena itu, biarlah aku duduk di lantai saja, dan silahkan kalian berbicara kepadaku."
MasyaAllah! sungguh menakjubkan diplomasi seorang Muadz. Kaum lemah yang tidak seagama pun menjadi objek perhatiannya, apalagi terhadap saudara seagama (sesama muslim), tentu akan lebih ia perhatikan.
Sedangkan kita saat ini disajikan pemandangan yang sungguh berbeda. Penguasa kaum muslim yang berdiplomasi duduk nyaman di atas kursi mewah, seraya menikmati berbagai jamuan dengan senyuman. Padahal yang ia temui adalah penguasa dan pendukung genosida terhadap saudara seagamanya (muslim) di Rohingya.
Jika demikian, sebenarnya penguasa kaum muslim tersebut sedang melobi atau justru sedang dilobi? Wallahu a'lamu bishshwwaab.

Kamis, 22 Oktober 2015

Aktifitas Jihad Wali Songo

Para pengusung Islam Nusantara sering mempropagandakan bahwa Wali Songo hanya berdakwah melalui budaya. Ternyata pernyataan itu tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung menutup-nutupi aktifitas jihad para Wali Songo. Aktifitas jihad Wali Songo tercatat di dalam sejarah. Di antaranya dalam pertempuran Kesultanan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Sultan Fattah (Raden Fatah), melawan sisa pasukan Mojopahit yang dipimpin Girindro Wardhono.
Pada tahun 1481 M, pasukan gabungan dengan jumlah yang besar dipersiapkan oleh Sultan Fattah. Strategi yang digunakan adalah Supit Urang (mengepung kekuatan musuh dari berbagai penjuru). Sunan Kudus diangkat menjadi Senopati Manggolo Yudho (Panglima Tertinggi). Beliau bersenjata keris yang bernama Ciptoko atau Cintoko dan memiliki dua panji berwarna hijau. Para wali lainnya yang ikut dalam perang ini adalah Sunan Mejagung, Sunan Giri (Raden Paku) dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).
Jumlah seluruh prajurit mencapai 9.100 prajurit. Terdiri dari 40 prajurit dari Campha, 7 prajurit dari Mejagung, 40 santri dari Sunan Gunung Jati, 7 prajurit dari Gunung Srandil, Syaikh Maulana Maghribi membantu dengan mengirimkan 7 prajurit berpengalaman dari Andalusia. Sunan Kalijogo membantu 40 prajurit, 7 prajurit dari Malaka, 40 prajurit dari Pasai, 40 prajurit dari Ponorogo, 40 prajurit dari Aceh, 7 prajurit dari Sukadana, dan 8.000 prajurit dari Demak serta daerah lain. Senjata yang digunakan adalah pedang, keris serta panah api yang dibawa oleh kesatuan Surogeni yang bermarkas di Suregenen.1)
Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah, para Shahabatnya dan juga para pemimpin terbaik kaum muslimin. Bahwasanya tiada kekuatan dan kemenangan selain karena pertolongan Allah Swt semata. Sunan Kudus memerintahkan pasukannya untuk menunaikan shalat jamaah terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan dengan berdoa memohon kemenangan kepada-Nya.
Strategi yang digunakan untuk menggentarkan musuh saat itu, mirip dengan strategi Khalid bin Walid r.a. ketika menghadapi pasukan Romawi dalam perang Mu’tah.2) Atas nasihat Sunan Kalijaga, pasukan dipencarkan menjadi kelompok-kelompok kecil yang banyak. Masing-masing kelompok menyalakan api unggun, sehingga pasukan kaum muslim terkesan amat banyak. Pasukan Mojopahit pun menjadi gentar melihatnya.
Pertempuran antara pasukan Islam Demak dan Pasukan Girindro Wardhono berlangsung dahsyat. Melihat pasukan kaum muslim yang tampak banyak, pasukan Mojopahit kocar-kacir melarikan diri. Sunan Kudus memerintahkan pasukannya untuk mengejar musuh yang lari ke arah timur. Ketika sampai di Trowulan, ternyata kota tersebut telah dikosongkan. Sehingga dengan leluasa pasukan Demak mengumpulkan semua pusaka Mojopahit lalu memboyongnya ke Demak sebagai harta rampasan perang.3)
Para wali pun berperan dalam persiapan aktifitas jihad pasukan kaum muslim. Jajaran komandan tertinggi militer kesultanan Demak juga pernah dijabat oleh para Sunan. Di antaranya adalah Sunan Ngudung dan Sunan Kudus. Pada saat Sunan Kudus menjadi Senopati, pasukan dibagi menjadi dua, yaitu pejalan kaki dan pasukan berkuda. Sunan Kudus merekrut prajurit yang tangguh dengan seleksi yang ketat. Menurut Babad Mojopahit dan Babad Para Wali Jilid 3 hal. 19-204), seleksi prajurit dilakukan di alun-alun depan Masjid Agung Demak pada setiap pagi. Kyai Patih Wonossalam menguji setiap calon yang akan direkrut menjadi prawiro tamtomo diadu dengan seekor banteng. Jika calon prajurit dapat mengalahkannya tanpa senjata, maka ia akan diterima menjadi prawiro tamtomo.
Itulah bukti bahwa adanya aktifitas jihad yang dilakukan oleh para wali. Jadi, kurang tepat jika dikatakan bahwa para wali hanya melakukan pendekatan budaya semata. Terbukti, mereka pun melakukan aktifitas Jihad secara serius untuk mempertahankan kekuasaan Islam, serta memperluas penyebarannya. (22/10/2015)
(Ary Herawan, pengelola www.aryherawan.blogspot.com)

Sumber Bacaan :
   1)   Lih. Rachmad Abdullah. Sultan Fattah. Al Wafi. Solo. 2015. hal 89.
   2)   Lih. Taqiyuddin An Nabhani. Ad Daulah Al Islamiyyah (Negara Islam, terj.). Pada Bab Perang      Mu’tah.
   3)   Rachmad Abdullah. Sultan Fattah. Al Wafi. Solo. 2015. hal 89. hal. 90

   4)   Idem, hal. 140