Senin, 11 September 2017

Diplomasi Mu'adz bin Jabal

Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Seperangkat aturan hidup yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, terbukti membawa keadilan untuk seluruh manusia. Oleh karena itu, pembebasan Islam ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab saat itu, sekaligus menghapus penjajahan para penguasa terhadap orang-orang lemah di antara mereka.

Penindasan yang terjadi dalam sistem yang tidak islami bukan hanya menimpa kaum berbeda agama, bahkan kaum yang seagama pun tak luput dijadikan objek penindasan. Sebagaimana yang berlangsung dalam sistem kekaisaran Romawi selama berabad-abad.
Hal tersebut nampak dari diplomasi antara Muadz bin Jabal dengan para pembesar Romawi menjelang Perang Nakhl Baisan. Nakhl Baisan adalah sebuah desa di wilayah Syam, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi.
Saat itu, Muadz bin Jabal menolak duduk bersama para pembesar Romawi di atas permadani. Muadz berkata dengan tegas,
"Aku menolak berjalan dengan angkuh di atas permadani ini, dan duduk dengan bantal-bantal empuk yang ia lebih kalian utamakan untuk diri sendiri daripada orang-orang lemah kalian yang seagama. Sungguh permadani-permadani itu hanya sebagian dari perhiasan dunia dan salah satu tipu dayanya. Allah telah merendahkan dan mencelanya di dunia dan melarang sikap berlebihan serta melampaui batas dalam hal yang demikian. Karena itu, biarlah aku duduk di lantai saja, dan silahkan kalian berbicara kepadaku."
MasyaAllah! sungguh menakjubkan diplomasi seorang Muadz. Kaum lemah yang tidak seagama pun menjadi objek perhatiannya, apalagi terhadap saudara seagama (sesama muslim), tentu akan lebih ia perhatikan.
Sedangkan kita saat ini disajikan pemandangan yang sungguh berbeda. Penguasa kaum muslim yang berdiplomasi duduk nyaman di atas kursi mewah, seraya menikmati berbagai jamuan dengan senyuman. Padahal yang ia temui adalah penguasa dan pendukung genosida terhadap saudara seagamanya (muslim) di Rohingya.
Jika demikian, sebenarnya penguasa kaum muslim tersebut sedang melobi atau justru sedang dilobi? Wallahu a'lamu bishshwwaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar