Senin, 27 Juni 2016

Ironi Malam Kemuliaan

Menanti malam seribu bulan
Malam diturunkan Al Quran
Seraya sebagian isinya dicampakkan
Ia dipisahkan dari sistem kehidupan
Bahkan suara rakyat berlagak suara Tuhan
Mari berkaca diri wahai insan beriman

(Ary H. - Selong, 23 Ramadhan 1437 H)

Minggu, 26 Juni 2016

KALA PALESTINA BERTUTUR

Terenyuh aku dalam luka
Meleleh air mata ini tak terasa
Seiring hati yang teriris cerita
Kisahmu saudaraku
Seba'da Ashar di sepuluh terakhir bulan mulia
Di sebuah Masjid nan megah dan terjaga
Dimanja teduhnya cuaca
Semilir angin yang menyejukkan

Kala engkau bertutur saudaraku,
Aku berderai air mata
Meluapkan amarah yang terkurung dalam dada
Merasa diri lemah tak berdaya

Engkau saudaraku dari tanah suci Palestina
Kau berwasiat tentang berbagai fadhilah
Tentang Ashar, Ramadhan hingga malam Lailatul Qadar
Tentang...
Masjid Al Aqsha dan tanah Palestina
Masjid mulia yang terabadikan dalam Al Quran
Kiblat pertama umat Islam yang kini terabaikan
Terkotori najis-najis bangsa kera,
Ternodai simbol-simbol yahudi
Serta tuturmu tentang derita saudara muslim Palestina
Terjajah, tersiksa di dalam sebuah penjara raksasa
Berderai air mataku tak tertahan

Tak hanya sampai di sana
Kau pun bercerita tentang para khalifah
Para perisai kaum muslim
Semua menjaga Al Aqsha
Khalifah Umar yang mengambil kunci Al Aqsha
Sulthan Salahuddin Al Ayyubi yang menaklukkan Tartar
Khalifah Sultan Hamid II yang mengusir Hertzl serta menolak uangnya
Semuanya, demi menjaga Al Aqsha
Lalu, engkau bertanya saudaraku
Maka siapa yang akan menjaga Al Aqsha sekarang?
Kuusap lagi, derai air mata ini
Seraya malu, lemah tak berdaya

Tapi, engkau tetap tegar
Dan terus menyampaikan rasa terima kasih
Jazakumullohu khoiron untuk seluruh muslim Indonesia
Tak terlihat air matamu, entah karena sudah tiada yang tersisa

Saudaraku, aku membathin
InsyaAllah sedekah kaum muslim akan berpahala
Namun, solusi atas tanah Palestina bukan sekedar harta
Ia digunakan membangun, bangsa kera menghancurkannya
Diperbaiki lalu yahudi biadab meluluhlantakkannya
Semua ini bukan hanya tentang sedekah
Kisahmu tentang Palestina dan Masjid Al Aqsha

Tanah Palestina adalah tanah umat Islam
Yang direbut zionis penjajah
Tentara-tentara muslim  yang di barak harus bergerak !
Angkat senjata, bebaskan tanah Palestina !
Hancurkan Yahudi, selamatkan muslim Palestina !
Muliakan kembali Masjidil Aqsha
Bukan semata dengan rupiah, yang seringkali seadanya
Berderai air mata, umat terbaik menjadi lemah tak berdaya

Sebagaimana wasiatmu saudaraku
Umat Islam seluruhnya saudara
Dalam saling bantu dan kasih mereka laksana satu jasad
Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, bagian lain menderita panas dan demam
Mengapa kaum ini menjadi lemah tak berdaya?

Semua terjadi sejak khilafah tiada
Ashobiyyah nasionalisme yang memenjara
Para penguasa yang berkhianat
Serta kungkungan ideologi kapitalisme yang sesat

Saudaraku yang tercinta
Kusimak seluruh kisahmu seraya mengusap lelehan air mata
Kisahmu adalah pembakar semangat,
Pengingat diri yang khilaf
Karena solusi hakiki atas tanah Palestina
Hanyalah dengan KHILAFAH dan JIHAD

(Ary H. - Selong, 21 Ramadhan 1437 H)

Sabtu, 25 Juni 2016

Menetapkan Tujuan (Catatan Kecil untuk Rekan AMK)


Pernahkah rekan-rekan mengalami sebuah perjalanan yang sangat melelahkan? Saya pernah mengalaminya, minimal ada dua pengalaman perjalanan. Yang pertama adalah ketika naik bis umum Tasikmalaya-Kuningan. Berjubel, berdesakan, harus antri tempat duduk, bau asap rokok, jalur yang berkelak-kelok dan berbagai derita lainnya yang seringkali kita rasakan ketika naik angkutan publik yang murah di negeri ini.


Kejadian tersebut mengingatkan saya pada perjalanan Tasikmalaya-Bandung pada bulan April yang lalu. Selain kendaraan yang sudah tidak laik jalan, padatnya jalur yang dilalui juga menjadi faktor penambah ‘derita’ dalam perjalanan. Pada saat pemberangkatan, para penumpang dicoba dengan keterlambatan bis hingga berjam-jam. Selama perjalanan bis yang dinaiki tidak kuat mendaki tanjakan. Pada saat perjalanan ke Bandung, saya dan beberapa penumpang terpaksa harus turun di tanjakan Gentong. Bahkan, perjalanan pulangnya jauh lebih mencekam. Para penumpang cemas hampir sepanjang perjalanan, karena bis seringkali mogok di saat mendaki tanjakan yang curam. Pada tanjakan yang ke sekian kalinya, sebagian penumpang pun terpaksa turun lalu berganti bis yang lain menuju Tasikmalaya. Berganti bis memang pilihan yang tepat, tetapi jalur ke Tasikmalaya saat itu memang padat, berkali-kali macet dalam perjalanan harus diterima dengan pasrah.


Saya bercerita di sini bukan untuk curhat. Namun, untuk berbagi ibrah dari sebuah perenungan diri akan pentingnya sebuah tujuan. Dalam setiap perjalanan, kita tentu memiliki tujuan. Perjalanan saya yang pertama bertujuan ke Kuningan, selanjutnya pulang ke Tasikmalaya. Apapun yang terjadi selama perjalanan, sungguh tak mendorong saya untuk berbalik arah. Begitupun dengan perjalanan sebelumnya, ke Bandung lalu kembali lagi ke Tasikmalaya. Saya merasakan dan menyaksikan, meskipun jalur pulang (Bandung-Tasikmalaya) mengalami macet yang sangat panjang, tetapi tidak ada satu pun bis yang kembali ke Bandung dengan alasan jalur ke arah Bandung kosong. Semua tetap pada jalurnya. Semata karena mereka sudah memiliki tujuan. Tujuan inilah yang menjadi pegangan mereka, untuk tetap konsisten serta menikmati setiap cobaan dan penderitaan.


Kita mesti punya tujuan yang bisa kita pegang secara konsisten. Tidak ada konsistensi, jika tanpa tujuan yang telah ditetapkan. Bagaikan sebuah taksi yang tidak memiliki tujuan, kemana saja orang naik dan membayar, ke sanalah ia akan melaju.


Seseorang yang berperan sebagai penulis, ia pun mesti menetapkan tujuan terlebih dulu. Hendak dibawa ke manakah perannya tersebut? Begitupun yang berperan sebagai pelajar, mahasiswa, dokter, perawat, guru dan sebagainya, tentu harus memiliki tujuan. Baik tujuan itu berupa "tujuan antara" dalam perannya maupun "tujuan utama" dalam hidupnya.


Setiap manusia bisa merenungkan "tujuan utama"-nya dengan menjawab pertanyaan “untuk apa saya hidup?” Peran apapun yang kita ambil, jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi "tujuan utama" hidup kita. Misal, jika kita merupakan seorang penulis yang memandang bahwa hidup ini hanya untuk sekedar bersenang-senang. Tentunya sekedar untuk kesenangan diri sajalah kita menulis. Yang penting, tulisan kita banyak yang share dan like, tak peduli apakah isinya memperbaiki atau merusak masyarakat. Halal dan haram tak jadi ukuran. Faktanya saat ini, tak sedikit penulis yang sedemikian adanya, menebar fitnah, hoax, mengumbar aib dan sebagainya. Ia menghalalkan segala cara hanya untuk sebuah popularitas serta rupiah. Begitupun jika kita menganggap hidup ini untuk menghamba kepada Sang Pencipta, maka tentunya ukuran ridla dan murka Allah-lah yang dijadikan patokan. Tiada yang lain.


Di atas “tujuan utama” inilah kita sandarkan “tujuan antara” kita. Kita yang tergabung dalam Akademi Menulis Kreatif tentu punya ekspektasi tinggi dapat berperan sebagai penulis. Oleh karena itu, marilah kita tetapkan “tujuan antara” kita, yang ditumbuhkan di atas “tujuan utama” hidup kita. Kita renungkan pertanyaan “apa yang bisa saya tuju sementara, untuk menopang saya meraih tujuan hidup saya?” Jika kita tak punya tujuan, untuk apa semua peluh dan lelah kita tercurah? Kita tentu punya “tujuan antara” masing-masing. Terlepas ke mana tujuan kita, namun semakin rinci kita menetapkan tujuan, insyaAllah semakin mudah mencapainya. Saya sangat mengapresiasi rekan-rekan yang tergabung dalam program menulis 30 hari pasti jadi buku. Di akhir bulan Ramadhan ini, insyaAllah mereka akan sampai pada “tujuan antara” mereka. Memiliki sebuah karya.  



Ah, terlalu filosofis ya. Begini saja ringkasnya, bagi rekan-rekan yang belum memiliki “tujuan antara”. Saya berharap, program antologi cerpen bisa menjadi “tujuan antara” kita bersama. Kita jadikan ia sebagai pijakan kecil untuk terus berkarya, meraih “tujuan-tujuan antara” lain yang lebih jauh dan tinggi, yang semuanya bermuara pada “tujuan utama” kita.
(Ary H., hanya seorang pembelajar)

Harap yang Tak Pernah Putus

Bila harap ini selalu ada
Hanyalah kepada-Mu Sang Maha Pengasih
Berlumpur pekat dosa
Bergelimang maksiat
Kotor diri tak ada suci
Berlari, berjalan, merangkak mendekat
Taubat dan maksiat silih berganti

Wahai dzat Yang Maha Suci
Sungguh hamba malu pada-Mu
Setiap kali lisan ini meminta

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau
Hamba yang berdosa memohon ampunan-Mu
Berharap jannah-Mu
Hamba berlindung kepada-Mu dari siksa neraka
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun
Yang selalu mencintai ampunan, ampunilah hamba

Tak ada lagi tempat hamba berharap
Karena harap yang tak pernah putus,
Hanyalah kusandarkan kepada-Mu


(Ary H. – Selong, 21 Ramadhan 1437 H)

Kamis, 23 Juni 2016

Al Quran; Dulu dan Kini

Di tengah kelam kehidupan insan
Jahil dan pandir dalam bertuhan
Latta, uzza, manat dan hubal
Yang utama jadi sembahan

Suku, harta dan nasab jadi patokan
Penguasa atau rakyat jelata
Merdeka atau hamba sahaya
Kedudukan menjadi alat penindas kaum yang lemah
Hina dan mulia menjadi stigma segelintir manusia

Kaum wanita tak berdaya
Terpasung syahwat para pria pendosa
Bila keluarga tak mau terhina
Membunuhnya, lebih mulia

Allah lalu menurunkan Al Quran
Diemban manusia termulia
Muhammad Rasulullah
Al Quran datang laksana cahaya dalam kelam
Menjadi petunjuk semua insan

Tatkala Al Quran jadi panduan
Hukum Allah ditegakkan
Berbagai aturan terpancar dari keimanan
Dunia sejahtera dinaungi keadilan

Iblis terlaknat tak mau diam
Syaithan jin dan manusia ia kerahkan
Manusia pun mulai mencampakkan Al Quran
Mulai kekuasaan hingga masalah ritual
Kembali terjebak dalam kelam

Hidup manusia kini menjauh dari Al Quran
Manusia kembali menindas manusia
Kaum lemah teraniaya tak berdaya
Al Quran adalah panduan, menjadi sekedar retorika
Al Quran adalah petunjuk, laksana penghias bibir semata
Al Quran hanyalah penenang kaum tertindas
Dengan secuil iman yang masih tersisa
Di tengah gempuran sekulerisme yang menggurita

Entah sampai kapan
Bilakah manusia tersadar
Adakah hukum yang lebih baik dari Al Quran?

(Ary H. - Selong, 19 Ramadhan 1437 H)

Senin, 13 Juni 2016

Penjara Besar Umat Islam

Kondisi umat Islam saat ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. Umat Islam dikerubuti bagaikan makanan yang dihidangkan. Tidak hanya negara besar seperti AS, negara kecil seperti Burma saja berani kurang ajar terhadap umat Islam. Padahal umat Islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat dunia. Pada tahun 2012, tercatat 22,43 % dari populasi manusia di dunia adalah umat Islam, sekitar 2,1 milyar orang warga dunia beragama Islam. Jauh di atas agama-agama yang lain. Umat Islam bagaikan buih di lautan, sangat banyak tetapi segera hilang tatkala terhempas ke pinggiran pantai.


Ketika ada saudaranya menjerit dan meminta tolong, umat Islam di belahan bumi yang lain seakan tak bisa berbuat apa-apa. Konsep satu tubuh yang disabdakan oleh Rasulullah Saw hanyalah idealita dan bukan realita. Membayangkannya bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Sesuatu yang mustahil. Padahal, tidak mungkin Rasulullah Saw bersabda sesuatu yang mengawang-awang. Konsep satu tubuh umat Islam, pasti bisa diwujudkan. Baik secara normatif maupun historis, kesatuan umat Islam bukanlah hal yang mustahil. Negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah Saw, kemudian dilanjutkan oleh para shahabat serta para khalifah setelahnya, terbukti telah menggentarkan negara besar Persia dan Romawi. Negara Islam pun menjadi negara pemimpin di dunia selama 13 abad lamanya.  


Umat Islam tak berdaya karena terpenjara. Menurut Farid Wajdi (Menantang Amerika, 2010), setidaknya ada tiga penjara besar yang mengungkung umat Islam saat ini. Pertama, nasionalisme dengan konsep negara bangsa. Kedua, Para penguasa negeri Islam yang berkhianat kepada Allah Swt, Rasulullah Saw dan umat Islam. Ketiga, sistem internasional yang dipimpin oleh AS dengan ideologi kapitalismenya.


Pertama, nasionalisme dengan konsep negara bangsa telah mematikan rasa persaudaraan umat Islam. Dengan nasionalisme, umat Islam memandang kemuliaan hanya pada kebangsaannya. Umat Islam menganggap lebih mulia non muslim yang sebangsa, dibandingkan dengan muslim yang tidak sebangsa. Non muslim sebangsa lebih berhak untuk dibantu dan dijadikan saudara, dibandingkan dengan muslim yang tidak sebangsa.


Nasionalisme menjadi racun bagi persaudaraan umat Islam yang hakiki. Ia telah mematikan rasa persaudaraan umat. Pada tahun 2015 kita sempat menyaksikan penolakan beberapa penguasa di negeri Islam terhadap kaum muslim Rohingya yang terkatung di lautan lepas. Alasannya hampir mirip, persoalan bangsa masing-masing pun masih menumpuk. Kedatangan para manusia perahu ke wilayahnya hanya akan menambah problem masing-masing bangsa.


Sebelum era penjajahan Eropa, semua negeri Islam asalnya berada dalam satu kekhilafahan. Para penjajah melepaskan wilayah khilafah satu demi satu dengan penuh penipuan. Misalnya ketika memasuki Mesir, Napoleon Bonaparte berkata : “Kalian akan diberitahu, bahwa saya datang untuk menghancurkan agama kamu; jangan percaya itu ! Saya lebih menghargai Tuhan, Nabi dan  Al Quran bahkan dibanding para raja.” Padahal ia datang untuk menduduki negeri Mesir serta menjajahnya. Para penjajah itu membagi-bagi eks wilayah khilafah. Kemudian mereka menanamkan racun nasionalisme. Kaum muslim pun mengadopsi konsep negara bangsa sehingga matilah rasa persaudaran hakiki umat Islam.


Persoalan Palestina, Afghanistan, Irak, Myanmar, Suriah, Mesir, Yaman hanyalah persoalan luar negeri yang tidak berhubungan dengan kepentingan nasional kita. Kita hanya mengurusi kepentingan nasional kita sendiri. Sikap inilah yang membuat kita lemah. Padahal jika umat Islam sedunia bersatu serta berada di bawah satu komando. Umat Islam bisa mengirimkan jutaan tentara untuk membantu saudaranya yang teraniaya di negeri lain. Dengan ketaatan kepada Allah Swt serta kerinduan syahid di jalan-Nya, pasukan Islam akan menjadi pasukan yang ditakuti. Sebagaimana pasukan Romawi yang takut terhadap pasukan Islam, meskipun jumlah pasukan Romawi berkali-kali lipat lebih banyak.


Kedua, Para penguasa negeri Islam yang berkhianat kepada Allah Swt, Rasulullah Saw dan umat Islam. Sebagian besar penguasa negeri ini telah menjadi antek penjajah AS. Mereka menyambut baik seruan AS untuk memerangi kaum muslim Suriah, dengan dalih memerangi ISIS. Tetapi diam seribu bahasa selama berpuluh-puluh tahun terhadap jeritan saudara muslim Palestina. Membantu Palestina hanya laksana ritual menjelang kampanye. Tidak menjadi upaya serius dengan mengirimkan bantuan militer serta mengirimkan pasukan pembebas.


Padahal Rasulullah Saw telah bersabda : “Sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya. Jika ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan berbuat adil maka ia akan mendapatkan pahala. Namun jika ia memerintahkan selain itu maka ia akan mendapat dosa karenanya.“ (THR. Muslim). Rasulullah Saw pun memberi contoh dengan memberikan hukuman yang pantas terhadap Bani Quraidzah. Mereka telah menusuk umat Islam dari dalam. Begitupun diikuti oleh Khalifah Mu’tashim Billah yang mengirimkan pasukan karena ada muslimah yang dianiaya non muslim.


Sungguh ! AS dan Israel tidak akan semena-mena terhadap umat Islam jika ada para penguasa yang menjadi pelindung umat Islam.


Ketiga, sistem internasional yang dipimpin oleh AS dengan ideologi kapitalismenya. Dengan dalih hukum internasional, para penjajah membuat lembaga-lembaga internasional. Lembaga-lembaga tersebut menjadi kepanjangan tangan para penjajah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi alat AS untuk menduduki negeri Islam. Pasukan kaum muslim hanya bisa berada di belakang PBB. Pasukan tersebut dikendalikan AS dengan dalih pasukan perdamaian. Mereka pun sama sekali tidak bisa membantu saudara mereka yang dibantai.


Lembaga PBB pun mandul. Semua resolusinya hanya menjadi retorika untuk menutupi keborokannya. Fakta berbicara, banyak sekali resolusi PBB yang diabaikan oleh Israel, dan PBB tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, ia pun lemah tak berdaya tatkala AS membombardir Afghanistan, Irak serta Suriah, membunuhi jutaan kaum muslim yang tak berdosa.



Kaum muslim mesti melepaskan diri dari penjara-penjara besar tersebut. Caranya tidak lain dengan mewujudkan kembali khilafah Islamiyyah. Khilafah akan mengikat kaum muslim dengan ikatan tali (agama) Allah, yakni Al Quran dan Assunnah. Sistem khilafah pula yang akan melahirkan pemimpin yang siap disumpah setia untuk taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, serta menyelesaikan perselisihan masyarakat hanya merujuk pada Al Quran dan Assunnah. Khilafah akan mengakhiri penjajahan AS dengan ideologi kapitalismenya, membawa Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.  Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan, 13/6/2016).

Kita dan Mantan Tukang Sihir Fir'aun

Para tukang sihir Fir'aun segera beriman tatkala menyaksikan secara langsung mukjizat Nabi Musa a.s.
Mereka langsung merasa lemah tak berdaya tatkala disajikan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt melalui tongkat Nabi Musa a.s., yang telah membuat sihir-sihir mereka tak berguna. Tongkat yang seketika berubah menjadi ular besar, langsung memangsa ular-ular hasil sihir mereka.

Fir'aun pun tidak tinggal diam, ia mengancam mereka dengan hukuman yang sangat sadis. Ia berjanji akan memotong tangan dan kaki mereka secara silang, lalu akan menyalib mereka di pangkal pohon kurma.

Bukannya gentar dan gemetar, para mantan tukang sihir tersebut menjawab ancaman Fir'aun dengan mantap serta teguh pendirian :

"Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata, yang telah datang kepada kami dari Tuhan yang telah menciptakan kami.

Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan!

Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.

Sesungguhnya kami telah beriman kpd Tuhan kami, agar dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yg telah kamu paksakan kepada kami utk melakukannya.

Dan Allah lebih baik pahala-Nya serta lebih kekal azab-Nya."

Mantan tukang sihir Fir'aun yang langsung beriman, seketika itu pula mereka siap mengorbankan nyawa mereka demi keimanannya. Sungguh keimanan yang menancap kuat dan tak tergoyahkan.

Peristiwa ini hendaknya menjadi ibrah. Bagaimana dengan kita?

Berbagai bukti kekuasaan Allah sudah banyak nampak di hadapan kita. Bahkan mukjizat Rasulullah Saw, yakni Al Quran, masih di hadapan kita hingga saat ini. Kita pun sudah berislam sedari kecil.

Tetapi mengapa, ketika dihadapkan dengan perintah shaum saja, kita masih banyak berdebat tentang siapa yang harus dihormat, yang taat ataukah yang maksiat. Ketika dihadapkan dengan larangan pacaran, kita masih acuhkan hanya demi cinta yang buta dan syahwat yang membara. Ketika dihadapkan dengan perintah dakwah, kita masih berkilah bahwa itu hanya tugas muballigh dan muballighah. Begitupun ketika dihadapkan dengan larangan riba, kita masih merana seolah tak bisa hidup tanpanya, serta demikian pula sikap kita terhadap perintah dan larangan Allah Swt yang lainnya. Padahal, semua itu masih sangat jauh dari berkorban nyawa.

Mengapa keimanan kita 'kalah' jauh dibandingkan mantan tukang sihir Fir'aun?

Astaghfirullohal 'adziim. Ya..Allah, istiqomahkanlah kami dalam keimanan dan pengorbanan. Aamiiin.

Jumat, 03 Juni 2016

Al Quran Merupakan Pedoman

"Al Quran di tangan, jadi pedoman...Kita sambut kebangkitan Islam!", lirik tersebut terngiang-ngiang di telinga ini. Apalagi jika kalimat tersebut terdengar nyaring disuarakan anak-anak santri PAUD dengan penuh semangat. Sungguh membahagiakan. Semangat bangkit dengan menjadikan Al Quran sebagai pedoman. Karena tidak kita pungkiri, keterpurukan yang kita alami saat ini adalah karena kita masih pilih-pilih dalam mengamalkan Al Quran. Padahal Allah Swt telah menegaskan bahwa Al Quran merupakan pedoman.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia takjub dengan berbagai fenomena alam. Merasa lemah dan tak berdaya kepada siapa ia meminta. Di saat manusia kebingungan tentang siapa Sang Pencipta. Bahkan sebagiannya terjebak animisme dan dinamisme, atau terjebak pada sesembahan khayalan. Al Quran menunjukkan jalan ketauhidan, katakanlah: Ia-lah Allah yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Ia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada satu pun sekutu bagi-Nya.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia dibekali fithrah beragama, tetapi ia tak tahu bagaimana cara menyembah Penciptanya. Manusia belum mengerti bagaimana memuji Sang Ilahi. Al Quran menunjukkan jalan tentang tata cara ibadah kepada-Nya. Melalui shalat, zakat, shaum, haji serta berbagai aktifitas ritual lainnya, dari yang fardlu sampai yang mandub, manusia pun menjadi tenang karenanya.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia bisa mencoba-coba sendiri benda mana saja yang bisa dikonsumsi. Akan tetapi ia sangat bodoh tentang benda apa saja yang dibolehkan oleh Tuhannya, serta benda apa saja yang mengundang murka-Nya. Al Quran pun menunjukkan beberapa benda yang diharamkan untuk dikonsumsi.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika para orang tua tak tahu bagaimana mendidik putera-puterinya. Tatkala keberhasilan hanya terukur dengan harta, tahta serta jabatan semata. Al Quran mengisahkan tentang Ibrahim a.s. serta Luqman yang bijaksana. Mereka adalah orang tua sholih yang menjadikan aqidah, syariah, dakwah dan akhlaq sebagai arus utama pendidikan putera-puterinya. Kesuksesan pun terukur di dunia dan di akhirat.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia tak tahu bagaimana menjaga kewarasan akal. Al Quran mengharamkan perusak akal (khamr). Al Quran menjelaskan bahwa akal digunakan untuk beriman dan taat, bukan untuk berpaling dan membangkang. Allah-lah yang mengangkat kaum mukmin dan orang-orang berilmu beberapa derajat, tak ada selain-Nya. Sehingga, tiada kecerdasan akal tanpa beriman kepada-Nya.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia saling memangsa. Sebagian manusia menindas manusia lainnya. Di kala harta dan kuasa beredar di kalangan kaum kapitalis semata. Sumber daya alam dikangkangi para pemilik modal. Si miskin hanya berani menjerit dan meminta. Itu pun jika masih tersisa tenaga untuk bersuara. Al Quran menegaskan tentang konsep tauhid sebagai pondasi ekonomi, bahwa Allah-lah pemilik sejati berbagai kekayaan alam. Di dalam Al Quran, Allah Swt menegaskan kehalalan jual beli dan keharaman riba. Dan kini terbukti, riba-lah yang menjadi jalan kaum kafir penjajah untuk menguasai sumber daya alam di negeri-negeri Islam. Berdasar aturan-Nya lah akan tercipta keadilan dan kesejahteraan, supaya harta tak hanya beredar di kalangan orang kaya semata. Penerapan hukum-hukum Al Quran pasti meniadakan berbagai bentuk penindasan dan penjajahan.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia tak tenang karena aksi kriminalitas yang semakin merajalela. Pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, perampokan, penjambretan dianggap sebagai hal yang biasa. Al Quran menegaskan tentang kewajiban sanksi Islami. Allah Swt menetapkan sanksi yang berfungsi sebagai penebus dosa pelakunya dan pencegah tindakan serupa bagi selainnya. Kewajiban hukum qishash dalam kasus pembunuhan, hukum potong tangan dalam kasus pencurian, jilid dan rajam dalam kasus perzinaan dan lain sebagainya. Penerapannya pasti mewujudkan kemaslahatan dan mencegah berbagai kemafsadatan.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia lupa tentang bagaimana menetapkan kriteria pemimpinnya. Kita mendapatkan di dalam Al Quran, bahwa pemimpin umat Islam haruslah mukmin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta merujuk Al Quran dan Assunnah dalam menyelesaikan perselisihan di tengah masyarakat.  Itulah seruan Al Quran bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta sebaik-baiknya akibat.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika kaum mukmin teraniaya, terusir dan terjajah secara fisik di negerinya. Al Quran memerintahkan jihad, membela negeri serta mengusir para penjajah dengan harta dan jiwa raga. Demikian pula ketika manusia berpaling dari aturan Allah Swt, Al Quran memerintahkan kita untuk berdakwah, menyeru manusia pada Islam semata, serta memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang munkar.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia kesulitan mencari figur manusia idola. Al Quran menegaskan bahwa Rasulullah Saw sebagai suri tauladan yang baik. Akhlak beliau saw adalah           Al Quran. Ketaatan kepadanya diwajibkan. Ketika kita mencintai Allah Swt maka kita pun mesti menjadikan perkataan, perbuatan serta persetujuan Rasulullah Saw sebagai pedoman.

Al Quran merupakan pedoman. Namun sayangnya, kita seringkali masih memperlakukannya laksana sajian prasmanan. Kita mengambil apa yang sesuai selera saja dan membiarkan selainnya. Padahal tak ada beda antara kewajiban shaum dan qishash, antara kewajiban haji dan jihad, antara kewajiban menuntut ilmu dan penerapan hudud serta berbagai kewajiban lainnya. Semuanya berpotensi pahala jika dikerjakan dan akan berdosa jika ditinggalkan. Begitu pula tak ada beda antara keharaman babi dan riba, antara keharaman bangkai dan zina, serta berbagai keharaman lainnya. Semuanya berpotensi dosa jika dikerjakan dan akan berpahala jika ditinggalkan.

Bulan ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran. Semoga di bulan ini, kita semakin dimudahkan untuk membaca, memahami, mengamalkan serta mendakwahkan Al Quran. Kemudian, kita sambut kebangkitan Islam. Wallohu al hadi ila sabili ar rosyad.

(Ary Herawan, Ketua Lembaga PAUD Ar Rahman Kota Tasikmalaya)

Neo Liberalisme Lebih Berbahaya dari PKI; Kembalilah pada Islam!

“PKI berbahaya tapi yang lebih berbahaya neokapitalisme, neoliberalisme,“ tegas Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Pernyataan ini beliau sampaikan usai memberi ceramah dalam Simposium mewaspadai PKI di Jakarta. (www.detik.com, 2/6/2016).

Memang belakangan ini PKI (Partai Komunis Indonesia) mendapat sorotan. Kebangkitan komunisme gaya baru bukan isapan jempol semata. Keseriusan orang-orang mantan PKI untuk memunculkan kembali ide komunisme muncul dalam empat langkah besar. Pertama, konsolidasi serta berbagai pertemuan antar mereka. Kedua, penyebaran logo-logo palu arit melalui baju, poster, media sosial, buku-buku serta kegiatan atas nama seni dan budaya. Ketiga, aktifitas politik serta infiltrasi kader-kader mereka ke sejumlah parpol besar. Keempat, perjuangan dalam ranah peraturan dan kebijakan. Yang cukup kencang adalah desakan pembentukan KKR (Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi), yang akan berujung pada permintaan maaf presiden kepada PKI.

Geliat komunisme gaya baru jelas menambah rentetan ancaman bagi umat Islam. Luka lama umat Islam seakan dirobek kembali. Masih terbayang bagaimana kesadisan dan kebiadaban PKI terhadap umat Islam, terutama terhadap para santri dan kiyai. Padahal, saat itu PKI bukanlah partai penguasa. Tentu bahaya besar semakin mengancam umat Islam, jika PKI memegang tampuk kekuasaan. Perlakuan biadab Tiongkok –yang menganut komunis- terhadap muslim Uighur, bisa dijiplak terhadap kaum muslim di Indonesia. Na’udzubillahi min dzalik. 

Bahaya utama dari komunisme adalah bahaya yang bersifat ideologis. Komunisme tegak di atas filsafat materialisme yang mengajarkan bahwa semua hal berasal dari materi. Semua hal di dunia ini hanya materi semata dan tidak ada hal yang ghaib. Bahkan yang paling utama, mereka menolak keberadaan Tuhan (Ateis). Oleh karena itu, ide ini sangat bertentangan dengan aqidah Islam. Selain itu, metode perubahan yang mereka yakini adalah dengan perjuangan kelas. Yakni, membenturkan kaum proletar dan borjuis untuk memperkecil jurang pemisah di antara keduanya. Hal tersebut tentu meniscayakan benturan fisik, keadaan chaos, revolusi fisik serta kudeta bersenjata. Padahal, semuanya tidaklah sesuai dengan metode dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, tauladan umat Islam. Walhasil, dari akar sampai buahnya, ideologi komunisme adalah racun berbahaya bagi umat Islam.

Akan tetapi, bahaya ideologi umat Islam tidaklah hanya komunisme. Neoliberalisme yang berpijak pada ideologi sekulerisme tidak kalah berbahaya. Neoliberalisme merupakan reinkarnasi dari liberalisme. Menurut John Locke, kaum liberal adalah orang-orang yang memiliki hak untuk hidup, merdeka, dan sejahtera. Mereka bebas bekerja, bebas mengambil kesempatan apapun, bebas mengambil keuntungan apapun, termasuk bebas untuk hancur, bebas hidup tanpa tempat tinggal dan bebas hidup tanpa pekerjaan.
Ide kebebasan ini memang bukan hanya pada aspek ekonomi, tetapi pada semua aspek. Benar apa yang disampaikan oleh Panglima TNI, di Belanda dan Denmark yang menganut neoliberalisme, gereja sampai dijual karena kosong. Karena jelas, dalam ide kebebasan mutlak, semua doktrin agama apapun harus ditanggalkan, lama kelamaan orang liberal pasti menanggalkan agama dan Tuhannya (ateis). Yang disampaikan Panglima TNI terjadi di Belanda dan Denmark yang mayoritas kristen. Sungguh tak terbayangkan jika paham neoliberalisme dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia yang muslim. Mungkin akan ada banyak masjid yang dijual.

Di antara berbagai aspek liberalisme, aspek ekonomi-lah yang paling menonjol. Bahkan, kebebasan kepemilikannya telah menjadikan para kaum pemilik modal (kapitalis) semakin jumawa. Karena itulah, ekonomi liberalisme dikenal pula dengan ekonomi kapitalisme (paham para pemilik modal).
Liberalisme terlahir dari aqidah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Ide tersebut menolak pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah dan agama. Ide liberalisme merasuk ke dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam ‘mazhab’ ekonomi dunia.

Setelah depressi hebat yang mengguncang Wall Street pada tahun 70-an. Liberalisme di bidang ekonomi sempat dianggap gagal. Namun hanya selang beberapa tahun, ia menjelma menjadi neoliberalisme. Menurut neoliberalisme, intervensi negara harus dikurangi supaya individu menjadi lebih bebas berusaha. Sebenarnya secara prinsip, ia tidaklah berbeda dengan liberalisme klasik yang disampaikan oleh John Locke. Yakni, kebebasan usaha dan kepemilikan secara mutlak.

Berbagai agenda ekonomi neoliberal di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1980-an. Bahkan semakin massif setelah Indonesia dijebak krisis moneter pada tahun 1997. Seolah tak ada pilihan lain, Pemerintah Republik Indonesia (RI) mengundang International Monetary Fund (IMF) untuk memulihkan perekonomian Indonesia. RI pun dijerat untuk melaksanakan paket kebijakan Konsensus Washington melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) IMF.

Di antara kesepakatan yang tertuang dalam LoI IMF adalah penghapusan subsidi BBM, yang sekaligus memberi peluang masuknya perusahaan multinasional dalam usaha hilir BBM seperti Shell, Total dan sebagainya. Kemudian kebijakan privatisasi beberapa BUMN, seperti Indosat, Telkom, Pertamina, PT. Tambang Bukit Asam, Kimia Farma, dan beberapa Bank milik pemerintah. Secara langsung ataupun tidak, kesepakatan ini telah membiarkan aset RI dikuras oleh negara-negara besar.

Rakyat Indonesia bagaikan numpang dan bekerja di rumah sendiri tetapi untuk kesejahteraan orang lain. Kita hidup di bawah cengkeraman penjajahan gaya baru. Jika dulu Belanda menjajah dengan pendudukan. Maka, sekarang negara maju menjajah melalui  regulasi dan legislasi. Jika dulu penyetoran upeti kepada negara imperialis. Maka, sekarang pun ada cicilan utang yang tidak akan terlunasi dan terus membengkak. Jika dulu ada kerja paksa. Maka, saat ini para generasi muda bangsa disiapkan menjadi buruh terampil dengan upah yang murah. Sumber daya alam dieksploitasi untuk keuntungan negara-negara besar dengan menggunakan tangan-tangan terampil anak bangsa. Bahkan tidak cukup sampai disana, rakyat pun dibebani pajak, serta membiayai sendiri biaya kesehatan dan jaminan hari tuanya.

Neoliberalisme jelas menimbulkan ketidakadilan dan berbahaya bagi Indonesia. Manusia yang dibiarkan mengatur dirinya sendiri pasti akan memangsa manusia yang lain. Oleh karena itu, sungguh dunia ini (termasuk Indonesia) sangat membutuhkan Islam. Membangun berbagai tatanan kehidupan yang tegak di atas aqidah Islam. Penerapan hukum Allah Swt dalam berbagai aspek kehidupan.

Doktrin neoliberalisme yang mengharuskan pengurangan intervensi dan hak pemerintah, jelas bertentangan dengan syariah Islam. Rasulullah SAW mengingatkan :

“almuslimuuna syurokaa-u fi tsalaatsin fil kalaa-i wal maa-i wan naari“ (Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, padang rumput, air dan api.”). (THR. Abu Dawud dan Ahmad).

Kata an naari (api) dalam hadits tersebut bermakna sumber energi, baik minyak bumi, gas, listrik dan sebagainya. Syariah Islam pun menetapkan bahwa SDA yang bersifat melimpah adalah milik seluruh rakyat, haram dikuasai swasta. Pemerintah harus mengelola sepenuhnya, lalu mengembalikan seluruh hasilnya kepada rakyat.

Pengelolaan SDA secara syariah, tentu akan meningkatkan pemasukan negara. Negara akan memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan berbagai proyek energi lainnya. Sehingga Negara tidak akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan energi rakyatnya, seperti yang terjadi saat ini. PLN seringkali kesulitan memasok listrik karena keterbatasan pasokan gas dan batubara yang dikuasai swasta.

Komunisme jelas berbahaya,  neoliberalisme pun lebih berbahaya,  saatnya kita kembali pada Islam. Untuk menyelamatkan Indonesia kita tercinta, kita harus menerapkan syariah Islam secara paripurna di bawah naungan khilafah Islamiyyah.

“Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (TQS. Al A’raf[7]: 96).  Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan)