Pernahkah rekan-rekan mengalami sebuah perjalanan yang sangat melelahkan? Saya pernah mengalaminya, minimal ada dua pengalaman
perjalanan. Yang pertama adalah ketika naik bis umum Tasikmalaya-Kuningan.
Berjubel, berdesakan, harus antri tempat duduk, bau asap rokok, jalur yang
berkelak-kelok dan berbagai derita lainnya yang seringkali kita rasakan ketika
naik angkutan publik yang murah di negeri ini.
Kejadian tersebut mengingatkan
saya pada perjalanan Tasikmalaya-Bandung pada bulan April yang lalu. Selain
kendaraan yang sudah tidak laik jalan, padatnya jalur yang dilalui juga menjadi
faktor penambah ‘derita’ dalam perjalanan. Pada saat pemberangkatan, para
penumpang dicoba dengan keterlambatan bis hingga berjam-jam. Selama perjalanan
bis yang dinaiki tidak kuat mendaki tanjakan. Pada saat perjalanan ke Bandung,
saya dan beberapa penumpang terpaksa harus turun di tanjakan Gentong. Bahkan,
perjalanan pulangnya jauh lebih mencekam. Para penumpang cemas hampir sepanjang
perjalanan, karena bis seringkali mogok di saat mendaki tanjakan yang curam.
Pada tanjakan yang ke sekian kalinya, sebagian penumpang pun terpaksa turun
lalu berganti bis yang lain menuju Tasikmalaya. Berganti bis memang pilihan
yang tepat, tetapi jalur ke Tasikmalaya saat itu memang padat, berkali-kali
macet dalam perjalanan harus diterima dengan pasrah.
Saya bercerita di sini bukan
untuk curhat. Namun, untuk berbagi ibrah dari sebuah perenungan
diri akan pentingnya sebuah tujuan. Dalam setiap perjalanan, kita tentu
memiliki tujuan. Perjalanan saya yang pertama bertujuan ke Kuningan,
selanjutnya pulang ke Tasikmalaya. Apapun yang terjadi selama perjalanan, sungguh
tak mendorong saya untuk berbalik arah. Begitupun dengan perjalanan sebelumnya,
ke Bandung lalu kembali lagi ke Tasikmalaya. Saya merasakan dan menyaksikan,
meskipun jalur pulang (Bandung-Tasikmalaya) mengalami macet yang sangat
panjang, tetapi tidak ada satu pun bis yang kembali ke Bandung dengan alasan
jalur ke arah Bandung kosong. Semua tetap pada jalurnya. Semata karena mereka sudah
memiliki tujuan. Tujuan inilah yang menjadi pegangan mereka, untuk tetap
konsisten serta menikmati setiap cobaan dan penderitaan.
Kita mesti punya tujuan yang bisa kita pegang secara konsisten. Tidak ada konsistensi, jika tanpa tujuan yang telah
ditetapkan. Bagaikan sebuah taksi yang tidak memiliki tujuan, kemana saja orang
naik dan membayar, ke sanalah ia akan melaju.
Seseorang yang berperan sebagai
penulis, ia pun mesti menetapkan tujuan terlebih dulu. Hendak dibawa ke manakah
perannya tersebut? Begitupun yang berperan sebagai pelajar, mahasiswa, dokter,
perawat, guru dan sebagainya, tentu harus memiliki tujuan. Baik tujuan itu
berupa "tujuan antara" dalam perannya maupun "tujuan utama" dalam hidupnya.
Setiap manusia bisa merenungkan "tujuan utama"-nya dengan menjawab pertanyaan “untuk apa saya hidup?” Peran apapun yang kita ambil, jawaban
atas pertanyaan itu akan menjadi "tujuan utama" hidup kita. Misal, jika kita merupakan seorang
penulis yang memandang bahwa hidup ini hanya untuk sekedar bersenang-senang. Tentunya
sekedar untuk kesenangan diri sajalah kita menulis. Yang penting, tulisan kita
banyak yang share dan like, tak peduli apakah isinya memperbaiki
atau merusak masyarakat. Halal dan haram tak jadi ukuran. Faktanya saat ini, tak
sedikit penulis yang sedemikian adanya, menebar fitnah, hoax, mengumbar aib
dan sebagainya. Ia menghalalkan segala cara hanya untuk sebuah popularitas
serta rupiah. Begitupun jika kita menganggap hidup ini untuk menghamba kepada
Sang Pencipta, maka tentunya ukuran ridla dan murka Allah-lah yang dijadikan
patokan. Tiada yang lain.
Di atas “tujuan utama” inilah
kita sandarkan “tujuan antara” kita. Kita yang tergabung dalam Akademi Menulis
Kreatif tentu punya ekspektasi tinggi dapat berperan sebagai penulis. Oleh karena itu,
marilah kita tetapkan “tujuan antara” kita, yang ditumbuhkan di atas “tujuan utama”
hidup kita. Kita renungkan pertanyaan “apa yang bisa saya tuju sementara, untuk
menopang saya meraih tujuan hidup saya?” Jika kita tak punya tujuan, untuk apa
semua peluh dan lelah kita tercurah? Kita tentu punya “tujuan antara” masing-masing.
Terlepas ke mana tujuan kita, namun semakin rinci kita menetapkan tujuan,
insyaAllah semakin mudah mencapainya. Saya sangat mengapresiasi rekan-rekan
yang tergabung dalam program menulis 30 hari pasti jadi buku. Di akhir bulan
Ramadhan ini, insyaAllah mereka akan sampai pada “tujuan antara” mereka. Memiliki
sebuah karya.
Ah, terlalu filosofis ya.
Begini saja ringkasnya, bagi rekan-rekan yang belum memiliki “tujuan antara”. Saya
berharap, program antologi cerpen bisa menjadi “tujuan antara” kita bersama. Kita
jadikan ia sebagai pijakan kecil untuk terus berkarya, meraih “tujuan-tujuan
antara” lain yang lebih jauh dan tinggi, yang semuanya bermuara pada “tujuan
utama” kita.
(Ary H., hanya seorang pembelajar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar