Oleh : Sri Ratna Puri
(Member Akademi Menulis Kreatif #2)
Pernah melihat sekoloni
bebek ketika berjalan? Coba perhatikan!. Bebek ketika berjalan pasti akan berbaris
kebelakang. Bebek yang berjalan diposisi belakang akan senantiasa mengikuti langkah dari bebek yang
ada di depannya. Bila ke kiri ya ikut ke kiri, bila ke kanan ya ikut ke kanan, bila
lurus ya ikut lurus. Mungkin bisa jadi ini alasan dari penggunaan istilah pembebek
yang artinya pengikut.
Seiring dengan perkembangan
informasi dan teknologi, dari hari ke hari kita sering disuguhi dengan berita "viral"
atau "sengaja diviralkan" hanya demi mencapai "popularitas dadakan".
Masih ingat vidio
viral mpok Alpa? atau aksi-aksi chalange yang booming dan terus bergulir. Dari disiram
air es sampai mengunyah batu es. Dari aksi joget semar mesem sampai joget Aline.
Dan dari vidio viral tutorial make up sampai hijab. Semua ada pembebeknya.
Mengenai tren hijab,
yang baru-baru ini masih jadi diperbincangan hangat warganet adalah tren Bawal Pocong atau Hijab Pocong
yang berasal dari negeri jiran Malaysia dan mulai diikuti di Indonesia. Dinamakan
tren Bawal Pocong atau Hijab Pocong karena pada bagian atas main penutup kepalanya
mirip dengan tali pocong.
Respon warganet
cukup beragam. Ada yang merasa takut, ada yang biasa saja. Tapi tak sedikit yang
merasa tertantang atau sekedar seru-seruan, akhirnya ingin mencoba merasakan sensasi
yang berbeda dengan mengenakannya.
Para pembebek ini
tak peduli atau mencari tahu pandangan hukum agama, boleh atau tidak, termasuk penistaan
atau biasa, termasuk olok-olok atau bercanda. Padahal dalam Al-Qur'an Allah Ta’ala
berfirman, artinya:
“Dan jika kamu tanyakan
kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab,
“Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah
dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah
kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah
9: 65-66)
Diriwayatkan dari
Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah. Disebutkan bahwa pada
suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut
yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang
dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya),
kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan
yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.”
(Mendengar hal ini),
‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta,
kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.”
Maka ‘Auf bin Malik
radhiyallahu ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang
tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tadi hanyalah
bersenda gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan
sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”
Ibnu Umar (salah
seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di dalam rombongan)
bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari
mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”
Kemudian Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah):
“Dan jika kamu tanyakan
kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab,
“Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah
dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah
kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah
9 : 65-66).
Beliau mengucapkan
itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.”
(HR. Ibnu Jarir Ath Thobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil
dalam Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim
hasan)
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah mengatakan, “Dinukil dari Imam Syafi’iy bahwa beliau ditanyakan mengenai
orang yang bersenda gurau dengan ayat-ayat Allah T’ala. Beliau mengatakan bahwa
orang tersebut kafir dan beliau berdalil
dengan firman Allah Ta’ala,
“Apakah dengan Allah,
ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf,
karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah
9: 65-66)” -Demikianlah dinukil dari Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul–
Ayat di atas menunjukkan
bahwa mengolok-olok Allah, Rasulullah dan
ayat-ayat Allah adalah suatu bentuk kekafiran. Dan barang siapa mengolok-olok
salah satu dari ketiga hal ini, maka dia juga telah mengolok-olok yang lainnya (semuanya).
(Lihat Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 59)
Dan hijab adalah
penutup aurat seorang muslimah yang terdiri dari khimar yaitu kain penutup kepala
dan Jilbab yaitu baju longgar yang menjulur dari atas sampai ujung kaki.
Mengenai Khimar
Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
“Katakanlah kepada
wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.
Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar kedadanya…” (TQS. An
Nuur: 31)
Dan mengenai jilbab
Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
“Hai Nabi, katakanlah
kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…” (TQS. Al
Ahzab: 59).
Bila menyimak dalil
diatas jelas Tren Hijab Pocong termasuk hal yang memperolok-olok ayat-ayat Allah
SWT dan hukumnya haram untuk dilakukan.
Tanpa sadar mereka
hanya menjadi korban. Ya jadi korban, sebab hanya jadi pembebek dari produk sistem
sekuler kapitalis yang diterapkan sekarang.
Padahal capenya
jadi pembebek. Setiap waktu harus ikut arus. Kadang berlari, kadang merangkak.Tergantung
langkah yang ada didepannya. Semua dilakukan karena azas manfaat saja.
Dengan dalih kebebasan
berekspresi dan kebebasan berpendapat, akhirnya banyak yang kebablasan dan terjerembab
masuk kedalam perangkap sesat. Sudah cape, celaka pula. Tidak hanya di dunia tapi
akhirat juga.
Sayangnya, sebagian
besarnya adalah umat Islam. Tidak hanya dikalangan muda-mudi, dari anak bayi sampai
orang dewasa tak luput jadi korbannya. Parahnya malah merasa bangga. Jadi bebek
yang selalu ikut kemana-mana. Bebek buta tanpa bekal ilmu agama.
Entah sampai kapan
hal ini akan berakhir. Yang pasti akan terus bergulir. Kejadian demi kejadian akan
selalu bermunculan. Makin aneh, makin menyesatkan, maka makin banyak peluang. Peluang
menjadi terkenal walau menabrak-nabrak aturan (Islam).
Kita tidak bisa
berharap solusi pada sistem sekuler kapitalis yang menjadi wadah dan pelindungnya.
Harus ada kesadaran umat untuk kembali memahami
ajaran agamanya (Islam). Dan pada saat itu sudah terbentuk, maka rasa tunduk terhadap
aturan hidup yang ada didalamnya akan terwujud.
Kembali pada Islam.
Hanya itulah satu-satunya jalan keluar. Mengaji dan mengkaji. Itulah solusi hidup
ini, supaya nanti, jadi pembebeknya berhenti.
Mau? Yuk ngaji..
#PenulisBelaIslam
#BeraniNulisBeraniDakwah
#AkademiMenulisKreatif






