Kamis, 26 April 2018

Yuk Ngaji! Agar Tidak Capek Membebek



Oleh : Sri Ratna Puri
(Member Akademi Menulis Kreatif #2)
Pernah melihat sekoloni bebek ketika berjalan? Coba perhatikan!. Bebek ketika berjalan pasti akan berbaris kebelakang. Bebek yang berjalan diposisi belakang  akan senantiasa mengikuti langkah dari bebek yang ada di depannya. Bila ke kiri ya ikut ke kiri, bila ke kanan ya ikut ke kanan, bila lurus ya ikut lurus. Mungkin bisa jadi ini alasan dari penggunaan istilah pembebek yang artinya pengikut.
Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi, dari hari ke hari kita sering disuguhi dengan berita "viral" atau "sengaja diviralkan" hanya demi mencapai "popularitas dadakan".
Masih ingat vidio viral mpok Alpa? atau aksi-aksi chalange yang booming dan terus bergulir. Dari disiram air es sampai mengunyah batu es. Dari aksi joget semar mesem sampai joget Aline. Dan dari vidio viral tutorial make up sampai hijab. Semua ada pembebeknya.
Mengenai tren hijab, yang baru-baru ini masih jadi diperbincangan hangat  warganet adalah tren Bawal Pocong atau Hijab Pocong yang berasal dari negeri jiran Malaysia dan mulai diikuti di Indonesia. Dinamakan tren Bawal Pocong atau Hijab Pocong karena pada bagian atas main penutup kepalanya mirip dengan tali pocong.
Respon warganet cukup beragam. Ada yang merasa takut, ada yang biasa saja. Tapi tak sedikit yang merasa tertantang atau sekedar seru-seruan, akhirnya ingin mencoba merasakan sensasi yang berbeda dengan mengenakannya.
Para pembebek ini tak peduli atau mencari tahu pandangan hukum agama, boleh atau tidak, termasuk penistaan atau biasa, termasuk olok-olok atau bercanda. Padahal dalam Al-Qur'an Allah Ta’ala berfirman, artinya:
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9: 65-66)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah. Disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.”
(Mendengar hal ini), ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta, kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Maka ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tadi hanyalah bersenda gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”
Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di dalam rombongan) bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah):
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9 : 65-66).
Beliau mengucapkan itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.” (HR. Ibnu Jarir Ath Thobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim hasan)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dinukil dari Imam Syafi’iy bahwa beliau ditanyakan mengenai orang yang bersenda gurau dengan ayat-ayat Allah T’ala. Beliau mengatakan bahwa orang tersebut kafir dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala,
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9: 65-66)” -Demikianlah dinukil dari Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul–
Ayat di atas menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah, Rasulullah dan ayat-ayat Allah adalah suatu bentuk kekafiran. Dan barang siapa mengolok-olok salah satu dari ketiga hal ini, maka dia juga telah mengolok-olok yang lainnya (semuanya). (Lihat Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 59)
Dan hijab adalah penutup aurat seorang muslimah yang terdiri dari khimar yaitu kain penutup kepala dan Jilbab yaitu baju longgar yang menjulur dari atas sampai ujung kaki.
Mengenai Khimar Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar kedadanya…” (TQS. An Nuur: 31)
Dan mengenai jilbab Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…” (TQS. Al Ahzab: 59).
Bila menyimak dalil diatas jelas Tren Hijab Pocong termasuk hal yang memperolok-olok ayat-ayat Allah SWT dan hukumnya haram untuk dilakukan.
Tanpa sadar mereka hanya menjadi korban. Ya jadi korban, sebab hanya jadi pembebek dari produk sistem sekuler kapitalis yang diterapkan sekarang.
Padahal capenya jadi pembebek. Setiap waktu harus ikut arus. Kadang berlari, kadang merangkak.Tergantung langkah yang ada didepannya. Semua dilakukan karena azas manfaat saja.
Dengan dalih kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat, akhirnya banyak yang kebablasan dan terjerembab masuk kedalam perangkap sesat. Sudah cape, celaka pula. Tidak hanya di dunia tapi akhirat juga.
Sayangnya, sebagian besarnya adalah umat Islam. Tidak hanya dikalangan muda-mudi, dari anak bayi sampai orang dewasa tak luput jadi korbannya. Parahnya malah merasa bangga. Jadi bebek yang selalu ikut kemana-mana. Bebek buta tanpa bekal ilmu agama.
Entah sampai kapan hal ini akan berakhir. Yang pasti akan terus bergulir. Kejadian demi kejadian akan selalu bermunculan. Makin aneh, makin menyesatkan, maka makin banyak peluang. Peluang menjadi terkenal walau menabrak-nabrak aturan (Islam).
Kita tidak bisa berharap solusi pada sistem sekuler kapitalis yang menjadi wadah dan pelindungnya. Harus ada kesadaran umat untuk kembali  memahami ajaran agamanya (Islam). Dan pada saat itu sudah terbentuk, maka rasa tunduk terhadap aturan hidup yang ada didalamnya akan terwujud.
Kembali pada Islam. Hanya itulah satu-satunya jalan keluar. Mengaji dan mengkaji. Itulah solusi hidup ini, supaya  nanti, jadi pembebeknya berhenti. Mau? Yuk ngaji..

#PenulisBelaIslam
#BeraniNulisBeraniDakwah
#AkademiMenulisKreatif

Tepatkah Nobar Dilan di Hari Pendidikan?


Jika tidak ada aral melintang, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018 akan ada nobar film Dilan di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Mungkin di negeri ini sudah tak ada lagi sosok sekolah, guru dan pelajar yang ideal. Sehingga peran guru, lingkungan sekolah dan pelajar di film Dilan ’90 sangat cocok untuk ditiru ke depannya. Tak menutup kemungkinan, beberapa tahun ke depan sosok Dilan akan menjadi teladan.

Bisa jadi pula karena MKKB alias Masa Kecil Kurang Bahagia. Keterkekangan pada masa lalu seolah mewakili keinginan hati yang diwakili karakter Dilan. Berontak terhadap aturan sekolah dan para guru, bergaul bebas serta orang tua yang permissif. Kemunculan sosok Dilan dan kawan-kawannya seolah menjadi pertanda bahwa tak perlu banyak berprestasi untuk menjadi idola. Yang penting memiliki posisi berpengaruh di geng motor, berani berkelahi, bisa menaklukkan wanita serta asyik diajak berbicara.

Semua guru dikesankan kuno, kolot, pengecut dan membosankan. Itulah yang penulis baca dari semua karakter guru yang diperankan dalam kisah Dilan. Seolah para guru layak untuk menjadi bahan tertawaan. Sungguh sangat jauh dengan kesan film Laskar Pelangi yang memuliakan peran guru sebagai para pendidik yang berjasa. Meskipun tentunya kita juga paham bahwa mereka bukanlah malaikat. Namun apabila kita belajar adab, memuliakan orang yang telah mengajarkan ilmu tentu lebih utama dibandingkan menyepelekannya.

Momen Hari Pendidikan semestinya menjadi reintropeksi tahunan akan arah pendidikan negeri ini. Ke manakah ia akan dibawa? Karena semakin hari kenakalan dan kriminalitas remaja malah semakin menjadi. Pergaulan bebas, miras, tawuran, bullying, pelecehan seksual, pornografi dan lain sebagainya menghitamkan warna-warni cerah prestasi anak negeri.

Apabila nobar Dilan 90 itu dipandang sebagai cermin diri. Sudah saatnya kita sadar diri bahwa ketika pendidikan dibangun di atas dasar selain agama, maka robohlah bangunannya. Begitu pula ketika pendidikan dijauhkan dari aturan Sang Pencipta, ia tak akan tentu arahnya. Sebagai penghulu pendidikan, mestinya para pemimpin negeri ini bisa menjadi nahkoda. Bukan malah kehilangan arah lalu mengikuti ke mana arus mengalirkannya. Apalagi secara sengaja atau tidak, ikut hanyut dalam arus paradigma pendidikan yang sekuleristik.

Padahal paradigma pendidikan yang sekuleristik telah menjadi biang kerusakan anak negeri. Karena ketika manusia dibiarkan menjauh dari Penciptanya serta misi kehidupannya, manusia akan dididik hidup semaunya. Di saat itulah budaya kebebasan, serba boleh dan hura-hura akan memangsa hakikat kehidupan manusia. Ia memalingkan manusia dari misi utama hidupnya di dunia. Sehingga tidaklah mengherankan jika manusia akan terdegradasi derajatnya, tersebab ia keluar dari fitrah kemanusiannya.   

Paradigma pendidikan Islam dibangun di atas kerangka berpikir yang paling mendasar tentang kehidupan. Yakni tentang dari manakah manusia, hidup dan alam semesta ini berasal serta hubungan antara ketiganya dengan sebelum kehidupan dunia dan sesudahnya. Oleh karena itulah, paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari aqidah Islamiyyah yang menjadi pondasinya.

Manusia memiliki misi sebagai khalifatullah (pengemban amanah untuk mengurus) bumi ini serta abdullah (hamba Allah), sehingga ia harus memakmurkan bumi ini disertai ketaatan kepada Penciptanya. Oleh karena itu agar pemanfaatan semua sumber daya di dunia dilakukan secara maslahat, pendidikan dalam Islam ditujukan untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam serta terampil dalam sains dan teknologi.

Kepribadian Islam terbentuk dari dua komponen, yaitu 1) Pola pikir dan 2)Pola Sikap. Kedua komponen ini diisyaratkan dalam hadits hadits Rasulullah Saw,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati (qolbun) dan amal-amal kalian.” (THR. Muslim)

Hati (qolbun) yang dimaksud tentunya bukan hanya sekedar perasaan. Namun hati (qolbun) sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al Hajj : 46 dan Q.S. Al A’raf : 179. Yakni hati yang dipakai untuk memahami atau meliputi aktifitas berpikir. Ketika aktifitas berpikir ini selalu dikaitkan dengan pemahaman Islam maka seseorang akan berpola pikir Islami.

Allah telah menurunkan Al Quran serta menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan. Dalam pandangan seorang muslim, dua perkara inilah –yakni Al Quran dan Assunnah- yang akan menjadi tolok ukurnya dalam memutuskan perkara.

Semisal ketika seseorang memandang miras berijin itu boleh diminum ataukah tidak? Seorang muslim yang berpola pikir islami tentu akan menjawab secara tegas “tidak boleh!”. Sebab keharaman khamr itu berlaku secara mutlak, tidak dibatasi dengan kadar persentase tertentu. Meskipun kadar khamr-nya hanya 1 persen bahkan setetes sekalipun dan dianggap tidak akan memabukkan, tetap saja haram. Begitu pula dalam kasus yang lainnya.

Adapun mengenai pola sikap, hal ini mengenai perbuatan setiap insan dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pendidikan Islam mesti mengarahkan semua pemenuhan kebutuhan ini agar terlaksana sesuai dengan perintah dan larangan Allah Ta’ala.

Sekarang marilah kita introspeksi, adakah penanaman pola sikap dan pola pikir Islami dalam aktifitas nobar yang digagas Kemendikbud RI di Hari Pendidikan Nasional? Jika tidak ada, lalu ke manakah tujuannya? Bahkan sangat disayangkan jika aktifitas tersebut malah akan menanamkan sekulerisme. Di mana keimanan terhadap Allah sebagai Pencipta hanya cukup menjadi sebuah keyakinan, sedangkan dalam berpola pikir dan berpola sikap tak perlu terikat pada aturan-Nya.

Selanjutnya mengenai tsaqofah Islamiyyah serta penguasaan sains dan teknologi. Sungguh jauh panggang dari api jika tema utama kisah cinta remaja dikaitkan dengan kedua hal ini. Malahan tontonan tersebut akan menguatkan anggapan bahwa kebebasan pergaulan layak dijadikan pelajaran, pelaku tawuran pantas ditampilkan sebagai pahlawan, cinta monyet cocok dijadikan sebagai prestasi yang dirindukan, serta keindahan kata pun cukup ditakar dengan rayuan yang mampu menaklukkan perempuan. Sangatlah wajar jika pendidikan malah akan semakin kehilangan arah dan tujuan.

Padahal kualitas pendidikan di negeri ini masih banyak dikeluhkan. Pelaksanaan UNBK 2018 saja masih dinilai sebagian kalangan sebagai mal praktik pendidikan. Semua ini tentunya masih harus menjadi bahan introspeksi.

Apalagi tenaga kerja asing –termasuk para pendidik asing- mulai dibuka krannya untuk masuk ke negeri ini. Merupakan sesuatu yang tidak tepat jika Hari Pendidikan Nasional diisi dengan tayangan film percintaan anak sekolahan. Padahal masih banyak kegiatan lain yang jauh lebih mendidik untuk dilakukan pada momen tersebut. Terkecuali jika para pemimpin negeri ini memang sedang mengarahkan generasi mudanya untuk semakin sekuler yang liberal. Wal ‘iyadzu billah.

(Tulisan dimuat di SKH Kabar Priangan, 25 April 2018)

Senin, 23 April 2018

Suriah Butuh Khilafah


Oleh : Mukhy Ummu Ibrahim
(Anggota Akademi Menulis Kreatif #2)

Langit Suriah kembali membara. Sedikitnya 103 rudal telahq menghujani wilayah Damaskus dan sekitarnya. Rudal jenis tomahawk, storm shadow dan SCALP membombardir sejumlah target. Serangan ini menyasar apa yang disebut oleh Amerika dan sekutunya, Inggris dan Prancis, sebagai fasilitas untuk memproduksi senjata kimia. Pusat riset dan pengembangan Barzeh di Damaskus, lokasi penyimpanan senjata kimia Him Shinshar, berikut  ruang bawah tanahnya  yang berlokasi di sebelah barat Homs, adalah target utama serangan rudal trio sekutu tersebut.

Amerika, Inggris dan Prancis memutuskan untuk melakukan serangan militer langsung ke Suriah pada 14 April yang lalu. Serangan ini adalah bentuk respon dari penggunaan senjata kimia oleh rezim kepada rakyatnya sendiri. Sepekan sebelumnya, 7 April 2018, muncul laporan dari sejumlah organisasi kemanusiaan seperti organisasi White Helmets dan Syrian American Medical Society. Laporan ini mengatakan adanya serangan gas kimia beracun yang terjadi di Douma, Ghouta Timur. Menurut laporan dari dua organisasi tersebut, lebih dari 500 orang dibawa ke pusat-pusat medis dengan gejala-gejala yang mengindikasikan paparan zat kimia. Puluhan orang termasuk anak-anak juga dilaporkan tewas akibat serangan kimia itu.

Pihak pemerintahan Bashar Assad menampik tuduhan penggunaan senjata kimia ini. Pernyataan ini didukung oleh Rusia, selaku sekutu pemerintah. Mereka mengatakan bahwa bukti atas serangan senjata kimia itu terlalu dibuat-buat. Mereka mengkritisi sebuah video yang dijadikan 'bukti' telah terjadinya serangan kimia tersebut. Dalam video itu tampak seseorang yang mengenakan masker gas. Orang itu berada dalam sebuah ruangan dimana selongsong roket yang diklaim sebagai pengangkut bahan kimia ditemukan. Padahal seharusnya jika memang telah ada serangan kimia, maka masker saja tidaklah cukup sebagai perlindungan. Hal ini dikarenakan, gas sarin, komponen kimia yang katanya terkandung dalam serangan tersebut, adalah gas saraf yang bisa meracuni korban bahkan hanya melalui kontak kulit. Namun, orang dalam video tersebut terlihat baik-baik saja meskipun hanya mengenakan masker. Padahal tangan dan anggota tubuh lain sangat mungkin terpapar, jika memang ada serangan kimia.

Saksi mata seorang bocah berusia 12 tahun yang ada dalam video yang lain juga menyampaikan fakta berbeda dari apa yang diberitakan di media mainstream. Orang-orang berlarian ke rumah sakit, dimana kejadian itu divideokan, karena ada yang berteriak menyuruh mereka ke rumah sakit. Bukan karena ada serangan kimia gas beracun.

Jika kita lihat, pemberitaan di media memang selalu sarat kepentingan. Media-media menjadi corong propaganda bagi masing-masing kubu yang berseteru. Media pro pemerintah Suriah dan sekutunya berupaya menyampaikan bukti-bukti tidak adanya serangan kimia. Sementara media yang pro pada Amerika dan negara-negara pendukungnya mempropagandakan tentang nyatanya penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad. Media-media besar seperti BBC dan CNN juga sangat gencar memberitakan keberhasilan serangan gabungan, Sabtu, 14 April, tersebut.

Kebenaran akan keberadaan senjata kimia yang konon katanya menewaskan ratusan penduduk sipil Suriah ini masih simpang siur. Meskipun demikian, Amerika dan sekutunya telah 'lancang' melakukan penyerangan bahkan sebelum ada bukti-bukti otentik akan hal itu. Peristiwa ini mengingatkan kita pada apa yang terjadi di Irak sebelumnya. Irak yang dituduh mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan perang kini telah porak poranda. Lagi-lagi Amerika lah yang memprakarsai perang di Irak, dengan dalih adanya senjata pemusnah massal. Sebuah klaim yang tidak pernah terbukti keberadaannya.

Bercermin dari kasus Irak, apa yang terjadi di Suriah sangat mungkin mengarah ke skenario yang sama. Menjatuhkan negara-negara di timur tengah adalah salah satu upaya musuh-musuh Islam menggembosi negeri-negeri kaum muslim. Setelah sebelumnya Tunisia, Libya dan Mesir digulingkan pemerintahannya demi sebuah negara yang katanya lebih 'demokratis', kini tiba giliran Suriah.

Perang Suriah bermula pada awal tahun 2011. Pemicu dari konflik kompleks yang berkepanjangan ini adalah sebuah aksi kecil dari bocah laki-laki yang baru berusia 14 tahun. Adalah Naief Abazid yang menuliskan grafiti di dinding sekolahnya di Daraa yang berbunyi "Giliranmu, Doktor". Aksinya ini menyusul fenomena tumbangnya rezim di negara-negara tetangga yaitu Tunisia, Libya dan Mesir. Fenomena yang dikenal dunia dengan sebutan 'Arab Spring', Musim Semi Arab.

Aksi bocah ini direspon dengan sangat represif oleh rezim. Abazid ditangkap bersama 22 bocah laki-laki yang lain. Penangkapan ini memicu serangkaian aksi protes yang dilakukan ratusan warga yang memenuhi jalanan Daraa. Lagi-lagi pemerintah dan aparat merespon aksi ini dengan brutal. Korban berjatuhan saat aparat mulai menembaki para demonstran. Aksi brutal aparat ini memicu protes yang lebih besar di seluruh wilayah Suriah. Hingga pada Juli 2011 pemberontak dari kalangan militer membentuk kelompok yang disebut Free Syrian Army dan menyatakan perlawanan kepada pemerintah. Dan dari sini bermula lah perang saudara di Suriah.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncul banyak sekali kelompok-kelompok perlawanan dengan berbagai latar belakang dan kepentingan. Negara-negara besar seperti Rusia dan Amerika pun ikut mengintervensi perang yang telah berlangsung lebih lama dari Perang Dunia II ini. Rusia menjadi negara yang pro rezim dan mengatakan bahwa mereka membantu pemerintah Suriah memerangi para pemberontak. Sementara Amerika berdiri berseberangan dengan Rusia. Amerika menjadi negara yang paling keras menentang rezim Assad. Puncaknya adalah serangan gabungan dengan Inggris dan Prancis yang mentargetkan fasilitas riset senjata kimia Suriah.

Banyak aktor dalam perang Suriah, banyak pula kepentingan yang bermain. Apapun itu, yang jelas adalah bukan kepentingan rakyat Suriah. Rakyat Suriah menjadi korban yang menanggung efek kejam dan brutalnya sebuah perang. Sebanyak 465.000 nyawa telah terrenggut, 55.000 di antaranya adalah anak-anak. Jutaan jiwa lainnya kehilangan tempat tinggal dan terdampar di kamp-kamp pengungsian tanpa kejelasan nasib. Mereka harus bertahan hidup dengan suplai pangan yang minim dan fasilitas kesehatan yang sangat terbatas.

Suriah telah tercabik-cabik. Sementara setiap aktor yang bermain dalam perang ini, rezim, para pasukan pemberontak juga negara-negara besar yang ikut andil, telah siap memangsa tiap kepingannya. Lalu apa yang tersisa untuk rakyat Suriah? Tidak ada apapun selain puing dan reruntuhan.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik belum membuahkan hasil. Masyarakat internasional belum mencapai konsensus dan kesepakatan tentang cara-cara untuk mengakhiri krisis Suriah. Beberapa perundingan damai telah diselenggarakan di Jenewa, Moskow, dan Wina. Namun semua pertemuan itu tidak menghasilkan konsensus untuk menyudahi konflik. Selain itu puluhan pertemuan sudah dilaksanakan untuk mencari jalan keluar, tetapi upaya ini juga tidak melahirkan keputusan penting.

Suriah hanyalah satu dari sekian banyak negeri Muslim yang dirundung konflik. Sebelumnya Afganistan dan Irak telah terlebih dulu luluh lantak. Adanya campur tangan Barat, dengan dalih apapun, menjadikan konflik semakin rumit. Solusi yang ditawarkan pun adalah solusi yang bisa mengakomodir kepentingan-kepentingan mereka. Pada dasarnya ini adalah imperialisme baru yang nyata-nyata telah merongrong kedaulatan negeri-negeri Muslim. Sebuah upaya sistematis untuk mengerdilkan Islam dan mengacaukan tatanan pemerintahannya. Untuk kemudian diintervensi demi melanggengkan hegemoni negara-negara imperialis.

Keberhasilan imperialisme gaya baru ini tidak terlepas dari lemahnya posisi negeri-negeri muslim di seluruh dunia. Kita pahami bahwa pasca berakhirnya kekhilafahan Turki Utsmani, kaum muslim telah terkotak-kotak menjadi negeri-negeri kecil yang lemah. Kaum muslim pun telah banyak meninggalkan aturan agamanya dan justru menerima mentah-mentah paham-paham Barat dengan alasan modernisasi dan globalisasi.

Sungguh miris melihat kondisi kaum muslim saat ini. Terjajah, terpinggirkan dan terdiskriminasi. Padahal sejarah mencatat kaum muslim pernah memiliki sebuah negara, negara adidaya, yang wilayahnya meliputi 2/3 dunia. Membentang dari Afrika, Eropa hingga Asia. Tentara-tentaranya adalah tentara paling disegani di muka bumi. Keadaan ini terjadi tatkala kaum muslim di seluruh dunia bersatu di bawah satu kepemimpinan umum yaitu seorang Khalifah.

Khalifah ini lah yang akan mengurus seluruh urusan kaum muslim, menjadi perisai bagi umatnya dan akan siap membela saat ada umatnya ada yang teraniaya. Seperti pembelaan Khalifah Al Mu'tasim Billah saat membela seorang muslimah yang dilecehkan oleh orang Romawi sehingga auratnya terlihat. Ia mengirimkan pasukan yang barisannya tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki). Hal ini dikarenakan begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah. Hingga kota Ammuriah pun berhasil ditaklukan.

Bertolakbelakang dengan kondisi yang di hadapi kaum muslim saat ini. Tidak ada yang menjadi perisai dan pelindung saat musuh-musuh Islam dengan semena-mena menganiaya. Apa yang terjadi di Suriah adalah gambaran nyata akan hal itu. Bukan lagi seorang muslimah yang dilecehkan, tapi ratusan nyawa muslimah dan anak-anak pun sudah terrenggut. Dan tiada siapapun yang membela.

Demikianlah gambaran akan kerusakan besar yang terjadi ketika umat tidak memiliki perisai, tidak adanya seorang khalifah. Konflik di Suriah menjadi contoh nyata. Rakyat Suriah membutuhkan barisan tentara yang akan membebaskan mereka dari cengkeraman rezim dan penjajah. Hanya itulah solusi satu-satunya. Sudah terbukti solusi politik dan perundingan damai tidak membuahkan hasil. Tentara ini hanya akan terwujud saat ada seorang Khalifah yang memberikan komando. Dan keberadaan Khalifah hanya ada dalam sebuah Daulah Islam. Maka, solusi hakiki dari segala permasalahan yang terjadi di Suriah adalah dengan menegakkan kembali Daulah Islam. Hanya Daulah di bawah kepemimpinan seorang Khalifah lah yang akan dapat membebaskan Suriah. Wallahu a'lam.

Minggu, 22 April 2018

Jadikan Dakwah Sebagai Poros Kehidupan


sumber gambar : slideshare[dot]net
Oleh : Anisya Dimyati (Member AMK#4)
Dakwah adalah kewajiban bagi setiap individu dan dia adalah sebuah aktifitas mulia yang dipuji oleh Allah karena sesungguhnya dakwah adalah aktifitas para nabi dan RasulNya. Sehingga bagi seorang muslim yang mengambil jalan dakwah ini sama dengan dia telah mengikuti jalan para Nabi dan Rasul.
Sebagaimana Allah SWT telah berfirman :
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون
Artinya : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung".  (TQS. Ali-Imran : 104)
قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (TQS:Yusuf : 108)
Subhanallah.....sungguh beruntung bagi orang-orang yang bisa menjalaninya.
Namun tak sedikit pula orang-orang yang masih memandang sebelah mata aktifitas dakwah ini dengan berbagai alasan yang ada. Apalagi dalam sistem kapitalis saat ini yang mendorong tiap orang untuk berlomba-lomba mengejar  materi dan materi yang bersifat duniawi hingga lupa akan kewajibannya untuk bekal di akhirat nanti.
Ayah sibuk bekerja mencari nafkah hingga larut malam dari senin sampai sabtu, dan ketika diajak mengaji/berdakwah beralasan tak punya waktu karena minggu hari untuk keluarga. Demikian juga para ibu - kaum perempuan -, dia juga disibukkan oleh rutinitas sebagai ibu yang mengurus anak dan rumahtangganya. Bahkan ada yang harus berkarier diluar rumah, sehingga habislah waktu yang dia punya. Atau generasi mudanya, para pelajar dan remajanya, merekapun juga disibukkan dengan kegiatan sekolah hingga tak sempat lagi untuk mengaji atau berdakwah.
Semua itu tak lain adalah ulah sistem kapitalis yang rusak yang dengan sengaja membuat propaganda-propaganda untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya juga dakwah. Dan kaum muslimin tanpa sadar dengan senang hati mengambilnya sebagai gaya hidup mereka. Muncullah gaya hidup hedonisme, individualisme, konsumtif, permisif, dan lain sebagainya yang itu bertentangan dengan islam sebagai agama mereka. Akhirnya kaum muslimin tersibukkan dengan urusan dunia dan semakin jauh dari ajaran islam. Mereka seakan-akan takut tidak bisa makan atau memenuhi kebutuhannya jika mereka tidak bekerja dan meluangkan waktunya untuk dakwah. Jadilah mereka sibuk mengejar dunia dan melalaikan kewajibannya berdakwah. Padahal tidak demikian. Bahkan Allah telah berjanji dalam salahsatu firmanNya :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia (akan merasakan) kehidupan yang sempit (di dunia), dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [TQS. Thâha[20]:124]
Juga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُوْلُ : يَا ابْنَ آدَمَ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi dada mu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)”
Dari dalil-dalil diatas bisa kita katakan bahwa dengan menyibukkan diri dalam aktifitas dakwah tidak menjadikan hidup kita miskin atau kekurangan, tapi justru sebaliknya Allah akan menjamin dan mencukupkan kebutuhan kita.
Maka....jangan pernah ragu atau takut menjadikan dakwah sebagai aktifitas utama dalam hidup ini. Jadikanlah ia sebagai poros kehidupan. Artinya, semua aktifitas hidup kita yang seharusnya mengikuti atau menyesuaikan aktifitas dakwah. Agendakan waktu untuk dakwah. Berikan waktu khusus untuk berdakwah. Jangan berdakwah dengan sisa-sisa waktu yang kita punya.
In syaa Allah dengan demikian hidup kita akan bertambah berkah dan bermakna karena tidak hanya dunia yang kita raih tapi juga akhirat. In syaa Allah.

#AkademiMenulisKreatif4
#PenulisBelaIslam

Dilan dan Hardiknas Zaman Now.

sumber gambar : google
Oleh: Khairatun Rainah (Anggota Akademi Menulis Kreatif)
Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada tanggal 2 Mei 2018, Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi menggelar nonton bareng (nobar) film 'Dilan' dan 'Yowis Ben'. Acara nobar itu diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mengapresiasi film nasional.
"Memang benar ini sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, yaitu nonton bareng film Indonesia, untuk lebih mencintai dan menghargai film karya anak bangsa dengan cara nobar film Indonesia," kata Kasubbag Layanan Informasi Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud Anandes Langguana dalam keterangannya, Kamis (19/4/2018).
Karena dua film ini tergolong baru dan dalam lingkungan anak sekolah, serta banyak menjadi pilihan masyarakat. Diantara pilih film pendidikan, film inilah yang menjadi pilihan untuk menjadi ajang nonton bareng bersama masyarakat.
Sekilas saya melihat 2 film tersebut hanya menampilkan kisah cinta antara anak sekolah. Serta menampilkan pergaulan yang bebas tanpa aturan. Tidak ada motivasi untuk meraih pendidikan dengan baik. Serta tidak menjadikan pendidikan sebagai landasan untuk mencetak generasi emas penerus bangsa.
Di antara banyaknya film karya anak bangsa yang sarat dengan pendidikan. Seperti film Negeri 5 Menara, Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi. Film yang diangkat dari sebuah Novel menjadi film yang sarat dengan motivasi pendidikan.
Seperti Ngeri 5 Menara, yang mengajarkan semangat meraih pendidikan tertinggi hingga keluar negeri. Serta film Laskar Pelangi yang memberikan kisah perjuangan anak-anak dalam meraih pendidikan meski di sebuah desa yang terpencil.
Berbeda sekali dengan dua film diatas, yang mengajarkan dan menampilkan masa-masa pendidikan yang hanya memikirkan soal percintaan. Soal bagaimana menahan rasa rindu kepada lawan jenis dan bergaul dengan bebas.
Hal ini sangat berbeda 360 derajat dengan tujuan penddidikan zaman now. Dengan apa yang di gadangkan oleh Menteri Pendidikan sekarang ini. Yaitu memberikan tontonan yang tidak semestinya serta memberikan keteladanan bagi anak-anak diusia belajar mereka. Bagaimana menjadi generasi penerus bangsa jika hanya memikirkan soal cinta.
Inilah sistem pendidikan yang menghasilkan kekecewaan. Ketika para guru mati-matian memberikan wawasan dan contoh agar dapat menjadi penerus bangsa yang tangguh. Justru yang terjadi sebaliknya, diantaranya banyaknya kasus yang melibatkan anak remaja.

Kasus seperti bunuh diri, bullying, narkoba, geng motor/begal, pacaran yang ujungnya zina, aborsi, serta banyaknya tarwuran pelajar antar geng maupun sekolah. Semua terjadi karena sistem pendidikan yang hanya mementingkan soal nilai di atas kertas. Bukan membentuk individu yang bermoral santun, berakhlak baik serta takwa yang kuat. Bahkan jam pelajran agama hanya 2 jam perminggu, berbeda dengan ilmu dunia yang melebihi 3 jam perminggu.
Jika kita melihat bahwa hal ini bukan semata-mata kurangnya pendidikan maupun visi misi pendidikan sekarang. Tetapi akibat sistem yang tidak benar serta berasal dari pikiran-pikiran manusia yang terbatas. Karena sistem pendidikan zaman now (kapitalisme), begitu mahal serta menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.
Ketika ingin pintar maksimal, maka sekolah di swasta. Jika yang gratisan, hanya sebagian yang dapat meraihnya. Itu pula banyak yang tidak mampu. Bagi rakyat miskin, sekolah menjadi urusan akhir.
Berbeda sekali jika sistem pendidikan Islam yang diterapkan. Islam agama yang Allah SWT ridho ini telah komplet di dalam Qur’an dan Sunah Rasul SAW. Tidak hanya mengatur urusan ibadah mahdoh, tetapi juga mengatur aktivitas manusia. Dari urusan rumah hingga tataran negara.
Islam juga mengatur berbagai sistem kehidupan, seperti politik, sosial, pergaulan, ekonomi, kesehatan, bahkan mengatur sistem pemerintahan. Terpenting juga Islam mengatur sistem pendidikan. Seperti hadist dari Ibnu Majah bahwa : “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.”
Dalam hal individu, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi manusia. Sebab, hal itu akan menjadi jalan untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu. Sedangkan ilmu pasti menjadi unsur utama penopang kehidupannya.
Sedangkan asas dasar pendidikan Islam adalah akidah Islam yang diberlakukan oleh negara. Konsekuensinya agar setiap individu dapat terikat terhadap syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Akidah Islam menjadi standar penilaia untuk mata pelajaran apapun.
Tujuan pendidikan Islam pertama menjadikan individu berkepriadian islam secara mendalam. Kedua menguasai tsaqafah Islam. Ketiga agar setiap individu memiliki IPTEK + IMTAQ. Maka hal yang dipelajari harus membekas dalam diri dan perbuatannnya. Bukan sekedar transfer ilmu dan juga harus membekas dalam diri hingga menghasilkan kpribadian yang beriman dan bertaqwa. Jadi individu dalam sistem Islam akan menghidupkan kesadaran iman dan taqwa. Tidak hanya itu, juga akan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika hanya mementingkan ilmu sains dan teknologi, mari lihat Amerika, Jepang, merka hebat dalam hal itu. Tetapi urusan moral mereka rendah. Berapa banyak kirminalitas, bunuh diri, serta kehidupan sosial yang buruk. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia sekarang.
Maka disinilah pentingnya mengajarkan iman dan takwa. Hal inilah yang akan membentuk moral dan kpribadian yang baik sesuai fitrah penciptaannya sebagai manusia. Keduanya harus mendahulukan urusan akidah baru kemudian soal sains dan tekhnologi.
Semua itu akan terjadi jika negara menerapkan sistem pendidikan Islam. Semua warga bebas belajar tanpa memikirkan urusan biaya alias gratis. Karena semua ditanggung oleh pemerintah Islam.

Berbeda sekali dengan sistem sekarang. Kurikulum dan bahan ajar tidak relevan bahkan tidak menjadikan moral siswa-siswinya baik. Hal ini tak terlepas dari kebijakan pemimpinnya.
Mari bersama berjuang agar Islam dapat menguasai berbagai sistem kehidupan. Karena Allah menjanjikan bagi orang-orang beriman dalam Surah Al-A’raaf ayat 96 :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Jadi, buat apa menonton film yang kurang bermutu, malah mengajak masyarakat untuk bermaksiat ramai-ramai. Menjadikan pribadi siswanya hanya memikirkan ruang lingkup percintaan. Oke jika menonton film yang sarat dengan pendidikan, hal itu akan menambah semangat dan motivasi untuk belajar.


Kamis, 19 April 2018

Ebook Menyemai Kata di Beranda #Inspirasi dan Opini



“Pemikiran yang tanpa dituliskan hanya akan menjadi buah bibir, yang kian lama hanya akan jadi sayup terdengar. Sementara tulisan, akan bertahan lama dan tetap akurat.”
 (Irvan Mulyadie – Penyair)
“Menulislah apa yang engkau lihat, menulislah apa yang engkau rasa, menulislah apa yang engkau bersusah payah merangkai katanya. Karena sebaik-baiknya aktifitas adalah yang istiqomah walau hanya sedikit.” (Apu Indragiry – Mentor Menulis Akademi Menulis Kreatif)
“Lisan-lisan kita berujar, pastikan bukan ujaran kebencian terhadap Islam. Tangan-tangan kita menari di atas keyboard, pastikan ia pembelaan terhadap Islam.”
(Ary H. – Pengelola FP Mudah Nulis dan www.mudahnulis.com)
Buku Menyemai Kata dan Beranda saya bagi menjadi dua edisi, edisi #Antologi Puisi dan #Inspirasi dan Opini. Kedua edisi buku ini disusun dari berbagai status dan tulisan saya yang terserak di beranda Facebook (FB). Berbagai tulisan yang saya tuangkan di beranda FB ini merupakan aplikasi dari berbagai tips menulis yang telah saya tuangkan dalam buku MudahMenulis Opini. Ebook ini laksana penegasan bahwa berbagai tips yang saya tuliskan pada buku saya sebelumnya merupakan tips yang aplikatif serta mudah untuk dipraktekkan. 
Silahkan unduh ebooknya di sini
Semoga bermanfaat. Aamiin.
Wassalam 
= Ary H. =
Pengelola Fanpage Mudah Nulis dan www.mudahnulis.com





Mewujudkan Anak-anak Berprestasi



Oleh : Nina Marlina, A.Md.
Member Akademi Menulis Kreatif #2

Nama Indonesia harum kembali setelah Hafidzah asal Sumedang, Rifdah Farnidah berhasil menjadi juara 2 pada Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) tingkat Internasional di Yordania beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya Rifdah telah meraih berbagai juara yaitu 1 MTQ tingkat Nasional JQHNU golongan 5 juz di Kalimantan Barat tahun 2012, juara 1 MTQ Nasional golongan 10 juz di Nusa Tenggara Barat tahun 2016, dan juara 1 MTQ Nasional golongan 30 juz di Kalimantan Barat tahun 2017.(Go Muslim, 28/03/2018).
Selain itu, kabar gembira lainnya peserta Indonesia berhasil meraih juara pertama dalam kejuaraan Debat 4th International Schools Arabic, Debating Championship 2018, di Doha, Qatar pada 7-11 April 2018. Pada kategori ini, para siswi kelas 1 SMA ini berhasil meraih juara pertama dalam debat berbahasa Arab itu setelah mengalahkan Pakistan di babak final. Tak hanya itu, tim juga meraih predikat Best Speaker kategori non-native peringkat pertama diraih Aqidatul Izzha Rahayu, kedua oleh Aftina Zakiyya Wafda, dan ketiga Nuriya Lailatus Sakinah. (CNN Indonesia, 13/04/2018).   
Prestasi-prestasi yang telah diraih oleh anak-anak tersebut patut diapresiasi dan diacungi jempol. Betapa hebat dan luar biasanya kemampuan dan prestasi yang dimiliki oleh mereka. Ketika sebagian besar anak atau remaja pada saat ini menghabiskan waktu dan usianya untuk hal-hal yang negatif, sehingga untuk meraih prestasi pun terlupakan. Sungguh disayangkan, ketika orang tua telah bersusah payah bekerja dan menyekolahkan mereka, tapi tidak sedikit anak yang menjadi nakal akibat gaya hidup dan pergaulan remaja saat ini yang mengerikan.
Sebagai seorang anak, seharusnya kita berusaha untuk menjadi anak yang shalih dan berprestasi sehingga menjadi kebanggaan orang tua. Begitupun dengan para orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang berprestasi dan berakhlakul karimah sesuai dengan harapannya. Namun, ternyata untuk mencapai itu semua tidaklah mudah. Perlu adanya upaya dan kerjasama untuk mencapai itu semua.
Anak adalah anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepada para orang tua. Maka orang tua atau keluarga merupakan bagian penting yang menjadikan anak menjadi baik dan shalih. Ibu sebagai madrastul ula atau sekolah pertama bagi anak-anaknya harus berperan dalam mendidik anak menjadi insan yang bertaqwa, sehingga ia harus membekali dirinya dengan ilmu dan ketaqwaan. Orang tua haruslah berusaha semaksimal mungkin untuk merawat dan mendidik anaknya sesuai dengan Islam sehingga jangan sampai anaknya terjerumus ke dalam kemaksiatan. Dengan bekal dan pendidikan oleh Ibu atau Ayah kepada anaknya maka akan menjadi bekal untuk ketaqwaan dirinya.
Faktor lingkungan juga menjadi hal yang penting. Jika anak sudah aman dengan pendidikan dari keluarga, tapi ia belum mampu melawan masifnya serangan dan godaan kemaksiatan di sekitar lingkungannya, baik sekolah, rumah atau media. Maka tidak menutup kemungkinan anak pun akan mudah terpengaruhi untuk mencoba kemaksiatan. Ketika ke luar dari rumah merasakan kebebasan dan mempunyai kesempatan untuk melakukan hal yang buruk.
Sokongan negara pun tak bisa diabaikan. Negara seharusnya memberikan pendidikan yang berkualitas dan gratis kepada rakyatnya. Dalam Islam, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh negara. Sejarah telah mencatat bagaimana gemilangnya masa kekhilafahan dahulu.
Pada masa Kekhilafahan Abasiyah telah dibangun fasilitas pendidikan untuk rakyatnya dengan membangun sekolah, universitas, dan perpustakaan lengkap.  Sehingga banyak ilmuwan muslim yang telah lahir dari peradaban yang gemilang ini diantaranya Al-Khawarizmi (Ilmu Matematika),Yuhannah bin Musawaih (Ilmu Kedokteran),  Imam Syafi’i (Ilmu Fiqh), serta Imam Bukhari dan Muslim (Ilmu Hadits). Selain cerdas dalam bidang ilmunya, mereka juga shalih dan berakhlakul karimah. Aqidah memang menjadi pondasi utama dalam mendidik anak-anak di masa awal atau sebelum baligh.
Maka dengan kondisi tersebut insya Allah bukan hanya segelintir orang yang dapat mengharumkan negara dengan prestasinya namun sebagian besar atau semuanya bisa berprestasi dan berakhlakul karimah dengan ilmu dan bekal yang telah didapatkan. Bukankah inilah generasi yang kita butuhkan dan dambakan untuk menjadi pemimpin masa depan?
Wallahu a’lamu bishshawwab.

#KelasOpiniAMK
#AkademiMenulisKreatif
#PenulisBelaIslam