Kamis, 26 April 2018

Yuk Ngaji! Agar Tidak Capek Membebek



Oleh : Sri Ratna Puri
(Member Akademi Menulis Kreatif #2)
Pernah melihat sekoloni bebek ketika berjalan? Coba perhatikan!. Bebek ketika berjalan pasti akan berbaris kebelakang. Bebek yang berjalan diposisi belakang  akan senantiasa mengikuti langkah dari bebek yang ada di depannya. Bila ke kiri ya ikut ke kiri, bila ke kanan ya ikut ke kanan, bila lurus ya ikut lurus. Mungkin bisa jadi ini alasan dari penggunaan istilah pembebek yang artinya pengikut.
Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi, dari hari ke hari kita sering disuguhi dengan berita "viral" atau "sengaja diviralkan" hanya demi mencapai "popularitas dadakan".
Masih ingat vidio viral mpok Alpa? atau aksi-aksi chalange yang booming dan terus bergulir. Dari disiram air es sampai mengunyah batu es. Dari aksi joget semar mesem sampai joget Aline. Dan dari vidio viral tutorial make up sampai hijab. Semua ada pembebeknya.
Mengenai tren hijab, yang baru-baru ini masih jadi diperbincangan hangat  warganet adalah tren Bawal Pocong atau Hijab Pocong yang berasal dari negeri jiran Malaysia dan mulai diikuti di Indonesia. Dinamakan tren Bawal Pocong atau Hijab Pocong karena pada bagian atas main penutup kepalanya mirip dengan tali pocong.
Respon warganet cukup beragam. Ada yang merasa takut, ada yang biasa saja. Tapi tak sedikit yang merasa tertantang atau sekedar seru-seruan, akhirnya ingin mencoba merasakan sensasi yang berbeda dengan mengenakannya.
Para pembebek ini tak peduli atau mencari tahu pandangan hukum agama, boleh atau tidak, termasuk penistaan atau biasa, termasuk olok-olok atau bercanda. Padahal dalam Al-Qur'an Allah Ta’ala berfirman, artinya:
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9: 65-66)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah. Disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.”
(Mendengar hal ini), ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta, kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Maka ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tadi hanyalah bersenda gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”
Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di dalam rombongan) bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah):
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9 : 65-66).
Beliau mengucapkan itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.” (HR. Ibnu Jarir Ath Thobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim hasan)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dinukil dari Imam Syafi’iy bahwa beliau ditanyakan mengenai orang yang bersenda gurau dengan ayat-ayat Allah T’ala. Beliau mengatakan bahwa orang tersebut kafir dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala,
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (TQS. At-Taubah 9: 65-66)” -Demikianlah dinukil dari Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul–
Ayat di atas menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah, Rasulullah dan ayat-ayat Allah adalah suatu bentuk kekafiran. Dan barang siapa mengolok-olok salah satu dari ketiga hal ini, maka dia juga telah mengolok-olok yang lainnya (semuanya). (Lihat Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 59)
Dan hijab adalah penutup aurat seorang muslimah yang terdiri dari khimar yaitu kain penutup kepala dan Jilbab yaitu baju longgar yang menjulur dari atas sampai ujung kaki.
Mengenai Khimar Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar kedadanya…” (TQS. An Nuur: 31)
Dan mengenai jilbab Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…” (TQS. Al Ahzab: 59).
Bila menyimak dalil diatas jelas Tren Hijab Pocong termasuk hal yang memperolok-olok ayat-ayat Allah SWT dan hukumnya haram untuk dilakukan.
Tanpa sadar mereka hanya menjadi korban. Ya jadi korban, sebab hanya jadi pembebek dari produk sistem sekuler kapitalis yang diterapkan sekarang.
Padahal capenya jadi pembebek. Setiap waktu harus ikut arus. Kadang berlari, kadang merangkak.Tergantung langkah yang ada didepannya. Semua dilakukan karena azas manfaat saja.
Dengan dalih kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat, akhirnya banyak yang kebablasan dan terjerembab masuk kedalam perangkap sesat. Sudah cape, celaka pula. Tidak hanya di dunia tapi akhirat juga.
Sayangnya, sebagian besarnya adalah umat Islam. Tidak hanya dikalangan muda-mudi, dari anak bayi sampai orang dewasa tak luput jadi korbannya. Parahnya malah merasa bangga. Jadi bebek yang selalu ikut kemana-mana. Bebek buta tanpa bekal ilmu agama.
Entah sampai kapan hal ini akan berakhir. Yang pasti akan terus bergulir. Kejadian demi kejadian akan selalu bermunculan. Makin aneh, makin menyesatkan, maka makin banyak peluang. Peluang menjadi terkenal walau menabrak-nabrak aturan (Islam).
Kita tidak bisa berharap solusi pada sistem sekuler kapitalis yang menjadi wadah dan pelindungnya. Harus ada kesadaran umat untuk kembali  memahami ajaran agamanya (Islam). Dan pada saat itu sudah terbentuk, maka rasa tunduk terhadap aturan hidup yang ada didalamnya akan terwujud.
Kembali pada Islam. Hanya itulah satu-satunya jalan keluar. Mengaji dan mengkaji. Itulah solusi hidup ini, supaya  nanti, jadi pembebeknya berhenti. Mau? Yuk ngaji..

#PenulisBelaIslam
#BeraniNulisBeraniDakwah
#AkademiMenulisKreatif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar