Kamis, 26 April 2018

Tepatkah Nobar Dilan di Hari Pendidikan?


Jika tidak ada aral melintang, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018 akan ada nobar film Dilan di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Mungkin di negeri ini sudah tak ada lagi sosok sekolah, guru dan pelajar yang ideal. Sehingga peran guru, lingkungan sekolah dan pelajar di film Dilan ’90 sangat cocok untuk ditiru ke depannya. Tak menutup kemungkinan, beberapa tahun ke depan sosok Dilan akan menjadi teladan.

Bisa jadi pula karena MKKB alias Masa Kecil Kurang Bahagia. Keterkekangan pada masa lalu seolah mewakili keinginan hati yang diwakili karakter Dilan. Berontak terhadap aturan sekolah dan para guru, bergaul bebas serta orang tua yang permissif. Kemunculan sosok Dilan dan kawan-kawannya seolah menjadi pertanda bahwa tak perlu banyak berprestasi untuk menjadi idola. Yang penting memiliki posisi berpengaruh di geng motor, berani berkelahi, bisa menaklukkan wanita serta asyik diajak berbicara.

Semua guru dikesankan kuno, kolot, pengecut dan membosankan. Itulah yang penulis baca dari semua karakter guru yang diperankan dalam kisah Dilan. Seolah para guru layak untuk menjadi bahan tertawaan. Sungguh sangat jauh dengan kesan film Laskar Pelangi yang memuliakan peran guru sebagai para pendidik yang berjasa. Meskipun tentunya kita juga paham bahwa mereka bukanlah malaikat. Namun apabila kita belajar adab, memuliakan orang yang telah mengajarkan ilmu tentu lebih utama dibandingkan menyepelekannya.

Momen Hari Pendidikan semestinya menjadi reintropeksi tahunan akan arah pendidikan negeri ini. Ke manakah ia akan dibawa? Karena semakin hari kenakalan dan kriminalitas remaja malah semakin menjadi. Pergaulan bebas, miras, tawuran, bullying, pelecehan seksual, pornografi dan lain sebagainya menghitamkan warna-warni cerah prestasi anak negeri.

Apabila nobar Dilan 90 itu dipandang sebagai cermin diri. Sudah saatnya kita sadar diri bahwa ketika pendidikan dibangun di atas dasar selain agama, maka robohlah bangunannya. Begitu pula ketika pendidikan dijauhkan dari aturan Sang Pencipta, ia tak akan tentu arahnya. Sebagai penghulu pendidikan, mestinya para pemimpin negeri ini bisa menjadi nahkoda. Bukan malah kehilangan arah lalu mengikuti ke mana arus mengalirkannya. Apalagi secara sengaja atau tidak, ikut hanyut dalam arus paradigma pendidikan yang sekuleristik.

Padahal paradigma pendidikan yang sekuleristik telah menjadi biang kerusakan anak negeri. Karena ketika manusia dibiarkan menjauh dari Penciptanya serta misi kehidupannya, manusia akan dididik hidup semaunya. Di saat itulah budaya kebebasan, serba boleh dan hura-hura akan memangsa hakikat kehidupan manusia. Ia memalingkan manusia dari misi utama hidupnya di dunia. Sehingga tidaklah mengherankan jika manusia akan terdegradasi derajatnya, tersebab ia keluar dari fitrah kemanusiannya.   

Paradigma pendidikan Islam dibangun di atas kerangka berpikir yang paling mendasar tentang kehidupan. Yakni tentang dari manakah manusia, hidup dan alam semesta ini berasal serta hubungan antara ketiganya dengan sebelum kehidupan dunia dan sesudahnya. Oleh karena itulah, paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari aqidah Islamiyyah yang menjadi pondasinya.

Manusia memiliki misi sebagai khalifatullah (pengemban amanah untuk mengurus) bumi ini serta abdullah (hamba Allah), sehingga ia harus memakmurkan bumi ini disertai ketaatan kepada Penciptanya. Oleh karena itu agar pemanfaatan semua sumber daya di dunia dilakukan secara maslahat, pendidikan dalam Islam ditujukan untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam serta terampil dalam sains dan teknologi.

Kepribadian Islam terbentuk dari dua komponen, yaitu 1) Pola pikir dan 2)Pola Sikap. Kedua komponen ini diisyaratkan dalam hadits hadits Rasulullah Saw,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati (qolbun) dan amal-amal kalian.” (THR. Muslim)

Hati (qolbun) yang dimaksud tentunya bukan hanya sekedar perasaan. Namun hati (qolbun) sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al Hajj : 46 dan Q.S. Al A’raf : 179. Yakni hati yang dipakai untuk memahami atau meliputi aktifitas berpikir. Ketika aktifitas berpikir ini selalu dikaitkan dengan pemahaman Islam maka seseorang akan berpola pikir Islami.

Allah telah menurunkan Al Quran serta menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan. Dalam pandangan seorang muslim, dua perkara inilah –yakni Al Quran dan Assunnah- yang akan menjadi tolok ukurnya dalam memutuskan perkara.

Semisal ketika seseorang memandang miras berijin itu boleh diminum ataukah tidak? Seorang muslim yang berpola pikir islami tentu akan menjawab secara tegas “tidak boleh!”. Sebab keharaman khamr itu berlaku secara mutlak, tidak dibatasi dengan kadar persentase tertentu. Meskipun kadar khamr-nya hanya 1 persen bahkan setetes sekalipun dan dianggap tidak akan memabukkan, tetap saja haram. Begitu pula dalam kasus yang lainnya.

Adapun mengenai pola sikap, hal ini mengenai perbuatan setiap insan dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pendidikan Islam mesti mengarahkan semua pemenuhan kebutuhan ini agar terlaksana sesuai dengan perintah dan larangan Allah Ta’ala.

Sekarang marilah kita introspeksi, adakah penanaman pola sikap dan pola pikir Islami dalam aktifitas nobar yang digagas Kemendikbud RI di Hari Pendidikan Nasional? Jika tidak ada, lalu ke manakah tujuannya? Bahkan sangat disayangkan jika aktifitas tersebut malah akan menanamkan sekulerisme. Di mana keimanan terhadap Allah sebagai Pencipta hanya cukup menjadi sebuah keyakinan, sedangkan dalam berpola pikir dan berpola sikap tak perlu terikat pada aturan-Nya.

Selanjutnya mengenai tsaqofah Islamiyyah serta penguasaan sains dan teknologi. Sungguh jauh panggang dari api jika tema utama kisah cinta remaja dikaitkan dengan kedua hal ini. Malahan tontonan tersebut akan menguatkan anggapan bahwa kebebasan pergaulan layak dijadikan pelajaran, pelaku tawuran pantas ditampilkan sebagai pahlawan, cinta monyet cocok dijadikan sebagai prestasi yang dirindukan, serta keindahan kata pun cukup ditakar dengan rayuan yang mampu menaklukkan perempuan. Sangatlah wajar jika pendidikan malah akan semakin kehilangan arah dan tujuan.

Padahal kualitas pendidikan di negeri ini masih banyak dikeluhkan. Pelaksanaan UNBK 2018 saja masih dinilai sebagian kalangan sebagai mal praktik pendidikan. Semua ini tentunya masih harus menjadi bahan introspeksi.

Apalagi tenaga kerja asing –termasuk para pendidik asing- mulai dibuka krannya untuk masuk ke negeri ini. Merupakan sesuatu yang tidak tepat jika Hari Pendidikan Nasional diisi dengan tayangan film percintaan anak sekolahan. Padahal masih banyak kegiatan lain yang jauh lebih mendidik untuk dilakukan pada momen tersebut. Terkecuali jika para pemimpin negeri ini memang sedang mengarahkan generasi mudanya untuk semakin sekuler yang liberal. Wal ‘iyadzu billah.

(Tulisan dimuat di SKH Kabar Priangan, 25 April 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar