Senin, 23 April 2018

Suriah Butuh Khilafah


Oleh : Mukhy Ummu Ibrahim
(Anggota Akademi Menulis Kreatif #2)

Langit Suriah kembali membara. Sedikitnya 103 rudal telahq menghujani wilayah Damaskus dan sekitarnya. Rudal jenis tomahawk, storm shadow dan SCALP membombardir sejumlah target. Serangan ini menyasar apa yang disebut oleh Amerika dan sekutunya, Inggris dan Prancis, sebagai fasilitas untuk memproduksi senjata kimia. Pusat riset dan pengembangan Barzeh di Damaskus, lokasi penyimpanan senjata kimia Him Shinshar, berikut  ruang bawah tanahnya  yang berlokasi di sebelah barat Homs, adalah target utama serangan rudal trio sekutu tersebut.

Amerika, Inggris dan Prancis memutuskan untuk melakukan serangan militer langsung ke Suriah pada 14 April yang lalu. Serangan ini adalah bentuk respon dari penggunaan senjata kimia oleh rezim kepada rakyatnya sendiri. Sepekan sebelumnya, 7 April 2018, muncul laporan dari sejumlah organisasi kemanusiaan seperti organisasi White Helmets dan Syrian American Medical Society. Laporan ini mengatakan adanya serangan gas kimia beracun yang terjadi di Douma, Ghouta Timur. Menurut laporan dari dua organisasi tersebut, lebih dari 500 orang dibawa ke pusat-pusat medis dengan gejala-gejala yang mengindikasikan paparan zat kimia. Puluhan orang termasuk anak-anak juga dilaporkan tewas akibat serangan kimia itu.

Pihak pemerintahan Bashar Assad menampik tuduhan penggunaan senjata kimia ini. Pernyataan ini didukung oleh Rusia, selaku sekutu pemerintah. Mereka mengatakan bahwa bukti atas serangan senjata kimia itu terlalu dibuat-buat. Mereka mengkritisi sebuah video yang dijadikan 'bukti' telah terjadinya serangan kimia tersebut. Dalam video itu tampak seseorang yang mengenakan masker gas. Orang itu berada dalam sebuah ruangan dimana selongsong roket yang diklaim sebagai pengangkut bahan kimia ditemukan. Padahal seharusnya jika memang telah ada serangan kimia, maka masker saja tidaklah cukup sebagai perlindungan. Hal ini dikarenakan, gas sarin, komponen kimia yang katanya terkandung dalam serangan tersebut, adalah gas saraf yang bisa meracuni korban bahkan hanya melalui kontak kulit. Namun, orang dalam video tersebut terlihat baik-baik saja meskipun hanya mengenakan masker. Padahal tangan dan anggota tubuh lain sangat mungkin terpapar, jika memang ada serangan kimia.

Saksi mata seorang bocah berusia 12 tahun yang ada dalam video yang lain juga menyampaikan fakta berbeda dari apa yang diberitakan di media mainstream. Orang-orang berlarian ke rumah sakit, dimana kejadian itu divideokan, karena ada yang berteriak menyuruh mereka ke rumah sakit. Bukan karena ada serangan kimia gas beracun.

Jika kita lihat, pemberitaan di media memang selalu sarat kepentingan. Media-media menjadi corong propaganda bagi masing-masing kubu yang berseteru. Media pro pemerintah Suriah dan sekutunya berupaya menyampaikan bukti-bukti tidak adanya serangan kimia. Sementara media yang pro pada Amerika dan negara-negara pendukungnya mempropagandakan tentang nyatanya penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad. Media-media besar seperti BBC dan CNN juga sangat gencar memberitakan keberhasilan serangan gabungan, Sabtu, 14 April, tersebut.

Kebenaran akan keberadaan senjata kimia yang konon katanya menewaskan ratusan penduduk sipil Suriah ini masih simpang siur. Meskipun demikian, Amerika dan sekutunya telah 'lancang' melakukan penyerangan bahkan sebelum ada bukti-bukti otentik akan hal itu. Peristiwa ini mengingatkan kita pada apa yang terjadi di Irak sebelumnya. Irak yang dituduh mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan perang kini telah porak poranda. Lagi-lagi Amerika lah yang memprakarsai perang di Irak, dengan dalih adanya senjata pemusnah massal. Sebuah klaim yang tidak pernah terbukti keberadaannya.

Bercermin dari kasus Irak, apa yang terjadi di Suriah sangat mungkin mengarah ke skenario yang sama. Menjatuhkan negara-negara di timur tengah adalah salah satu upaya musuh-musuh Islam menggembosi negeri-negeri kaum muslim. Setelah sebelumnya Tunisia, Libya dan Mesir digulingkan pemerintahannya demi sebuah negara yang katanya lebih 'demokratis', kini tiba giliran Suriah.

Perang Suriah bermula pada awal tahun 2011. Pemicu dari konflik kompleks yang berkepanjangan ini adalah sebuah aksi kecil dari bocah laki-laki yang baru berusia 14 tahun. Adalah Naief Abazid yang menuliskan grafiti di dinding sekolahnya di Daraa yang berbunyi "Giliranmu, Doktor". Aksinya ini menyusul fenomena tumbangnya rezim di negara-negara tetangga yaitu Tunisia, Libya dan Mesir. Fenomena yang dikenal dunia dengan sebutan 'Arab Spring', Musim Semi Arab.

Aksi bocah ini direspon dengan sangat represif oleh rezim. Abazid ditangkap bersama 22 bocah laki-laki yang lain. Penangkapan ini memicu serangkaian aksi protes yang dilakukan ratusan warga yang memenuhi jalanan Daraa. Lagi-lagi pemerintah dan aparat merespon aksi ini dengan brutal. Korban berjatuhan saat aparat mulai menembaki para demonstran. Aksi brutal aparat ini memicu protes yang lebih besar di seluruh wilayah Suriah. Hingga pada Juli 2011 pemberontak dari kalangan militer membentuk kelompok yang disebut Free Syrian Army dan menyatakan perlawanan kepada pemerintah. Dan dari sini bermula lah perang saudara di Suriah.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncul banyak sekali kelompok-kelompok perlawanan dengan berbagai latar belakang dan kepentingan. Negara-negara besar seperti Rusia dan Amerika pun ikut mengintervensi perang yang telah berlangsung lebih lama dari Perang Dunia II ini. Rusia menjadi negara yang pro rezim dan mengatakan bahwa mereka membantu pemerintah Suriah memerangi para pemberontak. Sementara Amerika berdiri berseberangan dengan Rusia. Amerika menjadi negara yang paling keras menentang rezim Assad. Puncaknya adalah serangan gabungan dengan Inggris dan Prancis yang mentargetkan fasilitas riset senjata kimia Suriah.

Banyak aktor dalam perang Suriah, banyak pula kepentingan yang bermain. Apapun itu, yang jelas adalah bukan kepentingan rakyat Suriah. Rakyat Suriah menjadi korban yang menanggung efek kejam dan brutalnya sebuah perang. Sebanyak 465.000 nyawa telah terrenggut, 55.000 di antaranya adalah anak-anak. Jutaan jiwa lainnya kehilangan tempat tinggal dan terdampar di kamp-kamp pengungsian tanpa kejelasan nasib. Mereka harus bertahan hidup dengan suplai pangan yang minim dan fasilitas kesehatan yang sangat terbatas.

Suriah telah tercabik-cabik. Sementara setiap aktor yang bermain dalam perang ini, rezim, para pasukan pemberontak juga negara-negara besar yang ikut andil, telah siap memangsa tiap kepingannya. Lalu apa yang tersisa untuk rakyat Suriah? Tidak ada apapun selain puing dan reruntuhan.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik belum membuahkan hasil. Masyarakat internasional belum mencapai konsensus dan kesepakatan tentang cara-cara untuk mengakhiri krisis Suriah. Beberapa perundingan damai telah diselenggarakan di Jenewa, Moskow, dan Wina. Namun semua pertemuan itu tidak menghasilkan konsensus untuk menyudahi konflik. Selain itu puluhan pertemuan sudah dilaksanakan untuk mencari jalan keluar, tetapi upaya ini juga tidak melahirkan keputusan penting.

Suriah hanyalah satu dari sekian banyak negeri Muslim yang dirundung konflik. Sebelumnya Afganistan dan Irak telah terlebih dulu luluh lantak. Adanya campur tangan Barat, dengan dalih apapun, menjadikan konflik semakin rumit. Solusi yang ditawarkan pun adalah solusi yang bisa mengakomodir kepentingan-kepentingan mereka. Pada dasarnya ini adalah imperialisme baru yang nyata-nyata telah merongrong kedaulatan negeri-negeri Muslim. Sebuah upaya sistematis untuk mengerdilkan Islam dan mengacaukan tatanan pemerintahannya. Untuk kemudian diintervensi demi melanggengkan hegemoni negara-negara imperialis.

Keberhasilan imperialisme gaya baru ini tidak terlepas dari lemahnya posisi negeri-negeri muslim di seluruh dunia. Kita pahami bahwa pasca berakhirnya kekhilafahan Turki Utsmani, kaum muslim telah terkotak-kotak menjadi negeri-negeri kecil yang lemah. Kaum muslim pun telah banyak meninggalkan aturan agamanya dan justru menerima mentah-mentah paham-paham Barat dengan alasan modernisasi dan globalisasi.

Sungguh miris melihat kondisi kaum muslim saat ini. Terjajah, terpinggirkan dan terdiskriminasi. Padahal sejarah mencatat kaum muslim pernah memiliki sebuah negara, negara adidaya, yang wilayahnya meliputi 2/3 dunia. Membentang dari Afrika, Eropa hingga Asia. Tentara-tentaranya adalah tentara paling disegani di muka bumi. Keadaan ini terjadi tatkala kaum muslim di seluruh dunia bersatu di bawah satu kepemimpinan umum yaitu seorang Khalifah.

Khalifah ini lah yang akan mengurus seluruh urusan kaum muslim, menjadi perisai bagi umatnya dan akan siap membela saat ada umatnya ada yang teraniaya. Seperti pembelaan Khalifah Al Mu'tasim Billah saat membela seorang muslimah yang dilecehkan oleh orang Romawi sehingga auratnya terlihat. Ia mengirimkan pasukan yang barisannya tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki). Hal ini dikarenakan begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah. Hingga kota Ammuriah pun berhasil ditaklukan.

Bertolakbelakang dengan kondisi yang di hadapi kaum muslim saat ini. Tidak ada yang menjadi perisai dan pelindung saat musuh-musuh Islam dengan semena-mena menganiaya. Apa yang terjadi di Suriah adalah gambaran nyata akan hal itu. Bukan lagi seorang muslimah yang dilecehkan, tapi ratusan nyawa muslimah dan anak-anak pun sudah terrenggut. Dan tiada siapapun yang membela.

Demikianlah gambaran akan kerusakan besar yang terjadi ketika umat tidak memiliki perisai, tidak adanya seorang khalifah. Konflik di Suriah menjadi contoh nyata. Rakyat Suriah membutuhkan barisan tentara yang akan membebaskan mereka dari cengkeraman rezim dan penjajah. Hanya itulah solusi satu-satunya. Sudah terbukti solusi politik dan perundingan damai tidak membuahkan hasil. Tentara ini hanya akan terwujud saat ada seorang Khalifah yang memberikan komando. Dan keberadaan Khalifah hanya ada dalam sebuah Daulah Islam. Maka, solusi hakiki dari segala permasalahan yang terjadi di Suriah adalah dengan menegakkan kembali Daulah Islam. Hanya Daulah di bawah kepemimpinan seorang Khalifah lah yang akan dapat membebaskan Suriah. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar