Minggu, 10 April 2016
Globalisasi Picu Kriminalitas Remaja
Sabtu, 09 April 2016
Kriminalitas Remaja dan Solusinya
Rabu, 23 Maret 2016
Serangan Budaya April Mop
Gara-gara tidak percaya serta menganggap peringatan Tsunami sebagai lelucon semata, 165 orang tewas di Hawaii dan Alaska. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 1 April 1946 dan dikenal dengan Tsunami April Mop. Itulah peristiwa yang tercatat sebagai korban terbesar akibat mentradisikan lelucon April Mop.
Saudi Gazette melansir (2/04/2012), seorang ibu di Arab Saudi terkena serangan jantung. Peristiwa naas itu terjadi karena ia dikerjai dua anaknya. Ibu yang tinggal di Jeddah tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit setelah mendengar salah satu anaknya, Fatimah (7 tahun), diculik seseorang. Keluarga Fatimah baru saja hendak melapor polisi setelah dikabarkan hilang selama tiga jam, sebelum gadis kecil itu lalu muncul sambil tertawa-tawa, mengatakan bahwa itu hanyalah April Mop. Fatimah mengaku disembunyikan kakaknya, Wafa (15 tahun), untuk mengerjai ibunya. Wafa tidak menyangka, keputusannya untuk melakukan kebohongan khas tradisi April Mop ini berujung petaka.
Kedua peristiwa tersebut benar-benar terjadi, lalu apakah itu tradisi April Mop? April Mop (April Fools’ Day, Bahasa Inggris) yang diperingati setiap 1 April dianggap sebagai hari berbohong/lelucon. Pada hari ini orang dibolehkan berbohong, menipu atau melakukan lelucon lainnya terhadap siapapun dengan tujuan mempermalukan Si korban.
Kemunculan tradisi berbohong ini sangat tidak jelas asal usulnya. Banyak sekali cerita yang beredar di tengah masyarakat terkait sejarah kemunculannya. Ada yang beranggapan bahwa peringatan tersebut berasal dari perayaan Tahun Baru bangsa Roma dan penganut Hindu. Menurut bangsa Roma dan penganut Hindu, mereka merayakan Tahun Baru pada setiap 1 April. Tanggal 1 ini dipilih karena dianggap sebagai tanggal yang paling dekat dengan vernal equinox. Yakni, waktu di saat seluruh bumi diperbaharui dengan datangnya musim semi. Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memerintahkan untuk mengganti penanggalan Kalender Julian tua tersebut, kemudian menggantikan peringatan Tahun Baru masehi ke tanggal 1 Januari. Akan tetapi kisah ini masih diragukan, dengan alasan bahwa kalender Gregorian tidak diadopsi oleh Inggris sampai tahun 1752.
Adapun Joseph Boskin, profesor sejarah di Universitas Boston, mengatakan bahwa April Mop dimulai pada era pemerintahan Constantine. Ketika sekelompok badut bergurau dengan Kaisar Romawi untuk menjalankan kekaisaran. Kemudian Constantine mengizinkan seorang badut yang bernama Kugel untuk mencobanya sehari. Akhirnya, kegiatan ini pun menjadi acara tahunan. Penjelasan Sang Profesor ini ditulis dalam artikel yang dimuat Associated Press pada tahun 1983. Namun setelah beberapa minggu, pihak AP menyadari bahwa Joseph telah mengarang cerita tersebut dan itu hanyalah bagian dari April Mop itu sendiri.
Sebagian kaum muslim menghubungkan April Mop dengan peristiwa pembantaian Kaum Muslim Andalusia. Ustadzah Irena Handono, melalui cuitannya pada 1 April 2013, menyampaikan bahwa bicara April Mop ada kaitannya dengan sejarah Muslim Spanyol di tanggal 1 April 1487 M. Beliau mengingatkan jika anak muda, Islam, yang ikut-ikutan April Mop itu berbahaya. Karena mereka tidak menyadari sejarah kelamnya.
Sejarah kelam yang dimaksud ada kaitannya dengan Perang Granada (1482-1492 M). Pada saat itu, pemerintahan Monarki Katolik (los Reyes Católicos) Isabella I dari Castile dan Ferdinand II dari Aragon, melakukan serangan militer terhadap pemerintahan Islam di Granada. Serangan tersebut berakhir dengan kekalahan Granada, serta mengakhiri semua pemerintahan Islam di semenanjung Iberia (al-Andalus) tersebut.
Kaum muslim dibohongi oleh tentara Salib. Mereka dijanjikan jaminan keselamatan untuk keluar dari Spanyol, bahkan disediakan kapal-kapal yang tertambat di pelabuhan sebagai alat transportasinya. Kaum muslim yang curiga dengan tawaran tersebut diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal yang sudah dipersiapkan. Setelah benar-benar melihat kapal-kapal tersebut, mereka pun bersiap untuk meninggalkan Granada.
Keesokan harinya, penduduk Muslim Granada terbagi dua. Ada sebagian yang meninggalkan rumah mereka dan berangkat menuju pelabuhan, sebagian yang lain bertahan di rumahnya karena tidak mempercayai tentara Salib. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, tentara Salib itu membakar rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Adapun umat Islam yang menuju pelabuhan pun tidak mengalami nasib yang lebih baik. Tentara Salib membakar kapal-kapal yang ada, kemudian mereka menghunus pedang untuk membantai seluruh umat Islam yang telah berada di pelabuhan. Konon peristiwa pilu yang diawali dengan kebohongan pasukan salib ini terjadi pada 1 April 1487 M, bertepatan dengan 892 H. Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai April Fools’ Day yang belakangan menjadi tenar dengan sebutan April Mop. Khusus untuk cerita 1 April 1487 M ini memang masih ada yang meragukan. Namun, terkait serangan pasukan salib ke Granada, serta pembantaian terhadap kaum muslim Andalusia merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan.
Muhammad Tariq Ghazi, penulis buku ‘The Cartoons Cry’ menyangsikan cerita tersebut. Salah satu alasan beliau adalah bahwa Granada jatuh ke tangan pasukan Salib pada 2 Januari 1492 M. Abu Abdullah Muhammad, penguasa Islam terakhir di Granada dan Andalusia menyerahkan kunci Granada kepada Raja Ferdinand. Inilah hari berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia. Hari keruntuhan kekuasaan Islam setelah selama delapan abad Islam berkuasa sejak tahun 92 H. Oleh karena itu, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak mempercayai begitu saja cerita asal muasal April Mop tanpa memeriksanya terlebih dahulu dengan kaidah ilmiah. Bahkan menurut beliau, bisa jadi cerita dibuat sebagai bagian dari April Mop itu sendiri untuk membodoh-bodohi umat Islam.
Walhasil, sesuai dengan tradisi April Mop yang membolehkan bohong dan dusta, sejarah kemunculannya pun menjadi simpang siur karena banyak bercampur dengan Hoax (pemberitaan palsu).
Terlepas dari banyaknya versi terkait asal usul April Mop, tetapi kesamaannya adalah perayaan April Mop bukanlah berasal dari Islam. Karena itulah merayakannya bisa terkategori tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir. Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud). Kalimat celaan tegas “termasuk bagian dari mereka” merupakan indikasi keharaman perilaku tersebut.
April Mop terkategori hadlarah, yaitu kebudayaan yang terlahir dari pandangan hidup tertentu. Perayaan April Mop merupakan buah ideologi sekulerisme yang telah melahirkan liberalisme dan permisivisme. Sehingga, materilah yang menjadi standar kebahagiaannya dan manfaat sebagai tolok ukur perbuatannya. Dusta, lelucon dan mengerjai orang tidak lagi ditinjau dari sudut pandang syariah, tetapi dari sudut pandang kebahagiaan materi dan manfaat semata, bahkan dikapitalisasi karena dipandang menguntungkan secara materi. Padahal Rasulullah Saw sangat mencela dusta dan mengkategorikannya sebagai salah satu tanda kemunafikan.
Selain itu, dua kisah di awal tulisan ini bisa menjadi ibroh. Tradisi dusta dan lelucon khas April Mop telah berbuah petaka. Padahal Rasulullah Saw bersabda : “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari). Rasulullah Saw pun mengingatkan, “Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allâh akan menyulitkannya.” (HR. Ibnu Majah).
Kaum muslim terus menerus menjadi objek serangan budaya. Meskipun perayaan April Mop di Indonesia belum seheboh Valentine Day, tetapi dari tahun ke tahun pembudayaannya semakin meningkat. Sebagai contoh lain, kita tentu masih ingat bahwa pada tahun 90-an budaya mngerjai orang pada tanggal kelahirannya merupakan sesuatu yang asing. Akan tetapi kita bisa lihat kondisi saat ini, pembudayaan yang massif telah menjadikannya sebagai kebiasaan tahunan mulai dari anak SD. Inilah serangan budaya. Semuanya terjadi karena pengabaian hukum-hukum Allah Swt (Syariah).
Apabila Syariah Islam diterapkan secara sempurna, penerapannya di bidang pendidikan akan membentuk pola pikir dan pola sikap Islami. Generasi muda akan dibina untuk memilih budaya hanya berdasarkan standar hukum Syara’, yakni halal dan haram. Ekonomi Islam pun tidak akan menjadikan budaya kufur sebagai aset, baik untuk pemasukan negara maupun individu individu. Bahkan sebaliknya, negara akan mengoptimalkan budaya Islam sebagai sarana dakwah terhadap non muslim. Selain itu, penerapan sistem sanksi Islam akan mencegah penyebaran dan pemanfaatan budaya selain Islam. Pelakunya akan dikenai peringatan maupun takzir. Namun, semuanya tentu hanya dapat diterapkan secara sempurna di dalam sistem khilafah, yang dipimpin oleh seorang imam/khalifah. Benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw : “Sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya.” (HR. Muslim). Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(Ary Herawan, Pendidik di SMPT Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)
Senin, 21 Maret 2016
Color Run dan Propaganda LGBT
Minggu pagi (28/02/2016) jalanan Kota Banjar menjadi penuh warna, terutama di parkir Banjar Water Park. Sekitar 1500-an orang peserta tumpah ruah mengikuti Festival Color Run 2016. Kegiatan tersebut merupakan puncak acara Ultah Kota Banjar yang ke-13. Namun sayangnya, sangat sedikit orang yang tahu apa itu Color Run. Mayoritas peserta yang hadir hanya menilai keunikan dan kemeriahannya saja, tanpa mengkaji ada apa di balik fenomena Color Run tersebut. Padahal, Color Run merupakan kegiatan yang sedang booming dan mendunia.
Color Run adalah ajang lari 5K (lima kilometer). Pada setiap satu kilometer, para peserta (Color Runner) akan ditaburi bubuk warna-warni, dari mulai ujung kaki hingga kepala. Setelah para peserta sampai di finish, mereka akan disuguhi festival musik yang heboh dan meriah lengkap dengan Disk Jockey. Para peserta pun bebas menari, melemparkan bubuk warna-warni, serta berpoto unik.
Sejak pertama kali diadakan di Amerika pada Maret 2011, kegiatan yang bertajuk utama kesehatan dan kebahagiaan ini terus mendunia. Saat ini, lebih dari 200 kota dan 40 negara mengadakan event ini pada setiap tahunnya. Bahkan semakin terus berkembang secara pesat.
Bagi seorang muslim, tentu tidaklah elok jika menilai suatu kegiatan hanya berdasarkan kemeriahannya semata. Apalagi diberi embel-embel silaturahmi, sebuah istilah yang memiliki makna tertentu dalam pandangan syariah. Padahal bila melihat rangkaian acaranya yang penuh dengan hura-hura, campur baur pria dan wanita yang bukan mahram, serta aurat yang dipamerkan, semuanya terkategori kemaksiatan.
Selain itu, hubungan Color Run dengan propaganda LGBT ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Warna-warni yang ditaburkan dalam acara Color Run bukanlah warna yang tak bermakna. Hal ini semakin kentara dalam acara Tropicolor World Tour 2016, yang direncanakan pihak manajemen Color Run secara mendunia. Yang menarik dalam ajang tersebut adalah sebuah festival finish yang disebut Rainbow Beach (Pantai Pelangi, Ind.). Kita tahu bahwa rainbow adalah simbol para aktifis dan propagandis LGBT yang mengartikan warna-warni pelangi dengan pemaknaan yang khas. Yakni, merah (life & sexuality), jingga (healing & friendship), kuning (vitality & energy), biru (harmony & artistry) serta Ungu (spirit & gratitude). Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.
Melalui situs resminya ca.thecolorrun.com, manajemen Color Run menyampaikan bahwa mereka merupakan perusahaan nirlaba. Color Run telah menyumbangkan lebih dari $ 4 juta untuk kegiatan amal. Kepada siapa sajakah kegiatan amal ini ditujukan? Dalam communityni.org terungkap bahwa kegiatan amal tersebut di antaranya ditujukan untuk Rainbow Project. Yakni, sebuah organisasi kesehatan yang bekerja untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental dan emosional serta kesejahteraan kaum LGBT di Irlandia Utara (www.rainbowproject.org). Pada 16 Agustus tahun lalu, Communityni.org menuliskan “Run the Colour Run for The Rainbow Project and raise money for LGBT individuals”. Sebuah seruan untuk menyukseskan acara Color Run di Crawsfordburn Forest Park, Irlandia Utara.
Sungguh telah terbukti apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw sekitar 14 abad yang lalu:
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.).
KH. Muhammad Shiddiq Al Jawi menyampaikan bahwa LGBT saat ini bukan lagi menjadi perilaku individu, tetapi sudah menjadi gerakan global yang terorganisir. Gerakan LGBT dilakukan via jalur intelektual/akademik, sosial budaya, komunitas, bisnis sampai jalur politik (diplomasi). Khusus jalur sosial budaya bertujuan agar masyarakat menerima perilaku LGBT. Bahkan sedikit demi sedikit dan secara tidak sadar ikut membudayakan simbol LGBT serta menyuburkan gerakannya. Padahal Islam telah mencela secara tegas perilaku maksiat tersebut.
Umat Islam memang mesti terus berbenah, baik secara pemikiran maupun sikap perilaku. Serangan budaya Barat yang bermuara pada kemaksiatan bukanlah hanya satu, tetapi sangat banyak. Color Run hanyalah salah satunya. Akan tetapi pangkal semuanya hanyalah satu, yakni sekulerisme yang telah mengabaikan hukum-hukum Allah Swt. Oleh karena itu selain aktif membina diri dan keluarga dengan Islam, kita juga harus giat berdakwah supaya sekulerisme segera terenyahkan dan hukum Allah Swt segera dapat ditegakkan. Wallohu al muwafiq ila sabiili ar rosyad. (Ary Herawan/www.banjarkota.com)
Selasa, 23 Februari 2016
Disfungsi Akal
Setiap potensi dianugerahkan oleh Allah Swt dengan fungsi yang jelas. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, begitupun akal untuk memilih dan memilah. Akal bisa memilah mana makanan dan mana batuan. Akal juga bisa memilah mana yang aman atau berbahaya bagi manusia. Bahkan, dengan akal juga manusia memahami hidayah Allah Swt. Supaya manusia bisa memahami mana jalan yang diridloi Allah Swt atau yang dibenci-Nya.
Fungsi akal sangat dipengaruhi oleh informasi yang masuk ke dalam otak. Informasi baik yang masuk, akal pun menjadi sehat. Tetapi, jika informasi sampah yang masuk, akal pun bisa mengalami disfungsi. Apalagi, ketika manusia diminta berpikir untuk memilih jalan hidup, tetapi yang digunakan bukanlah informasi yang berasal dari Sang Maha Hidup yang memberi kehidupan.
Disfungsi akal bukanlah terkait dengan tingkat IQ (Intelegensia) seseorang. Tapi, terkait ketepatan dan kejujuran hati untuk memilih sumber informasi. Bahkan, dalam hal ini, tingkat IQ sama sekali tiada artinya. Tatkala akal mengalami disfungsi, maka intelegensia setinggi apapun bisa setara bahkan lebih rendah dari binatang ternak. (lih. Q.S. Al Furqan[25]: 43-44).
Oleh karena itu, penulis sangat penuh tanya ketika ada pejabat muslim yang pintar dan berpendidikan. Ia beranggapan dan mengopinilan bahwa toa (pengeras suara) masjid sering mengganggu, rekaman pengajian sebagai polusi suara, suara pengeras suara sebelum adzan shubuh dapat menyebabkan anak-anak menjadi kurang tidur dan ngantuk di sekolahan.
Tetapi, pada sisi lain. Ketika ditanya komentarnya terkait perilaku bejat LGBT (Lesbian Gay Biseks Transgender), ia menganggapnya bukan masalah besar. Bahkan tidak mengganggu selama tidak disertai dengan ajakan. Serta negara pun tidak perlu ikut campur untuk menanganinya.
Mari kita coba renungkan dengan akal sehat. Kemudian kita bandingkan antara dampak negatif pengeras suara masjid dan LGBT. Kemudian dianalisa dengan penuh kejujuran. Lalu kita jawab, manakah yang lebih berbahaya? Semoga kita dijauhkan dari disfungsi akal. Wal'iyadzu billah.
(Ary Herawan)
Minggu, 29 November 2015
Ketika Anak Bertanya tentang Seks
Memperhatikan pergaulan dan pesatnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini, seringkali membuat orang tua waswas. Terutama penyebaran konten pornografi di berbagai jaringan sosial media.
Sebagai orang tua, saya dan istri memang mengharapkan saat-saat seperti ini. Yakni, saat yang tepat untuk menjelaskan tentang seks kepada putri sulung tercinta (10 th). Kami sangat tidak menginginkan jika ia mendapatkan hal tersebut dari yang lain, apalagi dari teman-temannya. Karena dikhawatirkan, informasi yang diterima adalah informasi yang bias, yang terpisah dari pandangan Islam tentang hal tersebut.
Tidak sedikit orang tua yang merasa canggung dan menganggap pembicaraan seks dengan anak sebagai hal yang tabu. Padahal itu merupakan hal yang penting, karena setiap manusia dianugerahi naluri seksual. Naluri tersebut mesti diarahkan supaya penyalurannya selamat, serta sesuai dengan petunjuk Allah Swt.
Saat itu tiba, ketika istri tercinta mengikutsertakan Si Sulung dalam sebuah acara remaja yang digagas Muslimah HTI Tasikmalaya. Karena menjelang hari AIDS, tema yang dibahas pada acara tersebut seputar pergaulan remaja. Alhamdulillah, putri sulung yang baru kelas 5 SD adalah peserta termuda yang hadir pada acara tersebut. Karena peserta selainnya adalah para mahasiswi. Saya juga tidak hadir di lokasi, begitu pula istri. Ini hanya masalah teknis yang dipilih. Berharap ada pertanyaan dari putri kami setelah acara selesai.
Selesai acara, saya menjemput Si Sulung. Alhamdulillah, meskipun pada tempat yang waktu kurang tepat, ia menanyakan kepada saya hal yang diharapkan.
"Bi, ada hal yang kakak ga ngerti?" Tanyanya kepada saya di atas motor yang sedang melaju.
"Apa itu Nak?" Tanya saya.
"Seks itu apa Bi?" Ia balik bertanya.
Sungguh saya lupa jawaban terbaik yang pernah saya siapkan. Tetapi, saya jawab dulu secara bahasa.
"Nak, seks itu berasal dari bahasa Inggris, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya jenis kelamin." Jawab saya singkat.
Banyaknya kendaraan yang melaju, tentu membuat komunikasi kami tidak lancar. Karena saat itu kami juga ditemani Si Bungsu yang baru berusia 3,5 tahun, maka saya pun memutuskan untuk menginterupsi pertanyaan. Saya meminta pengertiannya, untuk membahas tema tersebut setelah sampai di rumah.
"Nak, sudah waktunya kakak paham hal tersebut. Tetapi, hal itu harus dibicarakan di rumah ya?" Pinta saya. tersebut
"Supaya jelas dan konsentrasi, kakak juga harus sendiri. Teteh dan Ade jangan ikutan dulu membahasnya", jelas saya.
Saya ingin memastikan supaya anak kedua (7 thn) dan Si Bungsu tidak ikut nimbrung mendiskusikannya nanti. Alhamdulillah, ia pun bisa memahaminya. Sepanjang jalan itu pikiran saya menerawang, memikirkan jawaban terbaik yang akan saya berikan nanti.
Putri sulungku benar-benar menantikan penjelasan. Malam itu ia memintaku penjelasan yang tadi sempat terputus. Sesuai kesepakatan dengan istri, bahwa saya yang bertugas menjelaskan kepadanya. Istri langsung paham, ia langsung mengajak anak kedua dan ketiga kami untuk melakukan aktifitas lain. Terus terang, untuk menangani Si Bungsu, istri saya jauh lebih lihai dan cekatan. Lalu, saya pun mengajak Si Sulung bicara berdua.
"Nak, seks itu adalah segala sesuatu aktifitas atau perbuatan yang mengarah pada bertemunya alat kelamin laki-laki dan perempuan." Jelas saya. "Dari mulai ngobrol-ngobrol, pandang-pandangan, pegang-pegangan, berdua-duaan sampai tidur berdua."
Si Sulung mendengarkannya secara seksama. Kemudian, saya melanjutkan penjelasan saya. Dan inilah yang paling penting baginya.
"Dan semua itu di dalam Islam adalah haram, " intonasi saya lebih tegas dan jelas pada kalimat yang terakhir. Mengapa saya langsung memvonis haram duluan, karena saya berbicara dengan anak yang masih belum menikah.
"Terkecuali bagi yang sudah menikah," lanjut saya.
Melihat ia memperhatikan dengan seksama, saya sangat gembira.sangat
"Mengapa demikian?" Tanya saya secara retoris.
"Karena, Allah Swt menciptakan naluri seksual pada manusia supaya manusia bisa lestari atau beranak pinak," jelas saya.
"Manusia itu tadinya dari Adam dan Hawa ya Bi?" Tanya Si Sulung kepada saya. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa obrolan kita berdua sudah nyambung.
"Iya Nak, naluri seksual juga Allah berikan pada binatang. Sehingga mereka bisa berkembang biak. Tetapi, manusia dan binatang berbeda. Manusia diberi akal untuk memilih dan memilah. Aktifitas seks bagi manusia yang belum menikah merupakan perbuatan dosa," jelas saya. Kebetulan materi halqoh yang saya berikan kepadanya baru saja membahas tentang potensi akal manusia.
"Termasuk, para remaja yang berdua-duaan, pegang-pegangan, pacaran. Semua itu perbuatan dosa," lanjut saya.
"Kalau menonton film yang seperti itu boleh ga Bi?" Ia bertanya. Sungguh pertanyaan ini mengagetkan saya. Terus terang, saya jadi gelisah dengan pertanyaannya. Jangan-jangan, saya langsung negatif thinking.
"Sama, itu juga diharamkan!" Tegas saya.
Dasar orang tua panik. Di era sosial media yang bebas seperti ini, mungkin perasaan saya merupakan sesuatu yang wajar. Meskipun, sampai saat ini, saya dan istri sepakat untuk tidak memberikan fasilitas android kepadanya.
"Kakak pernah melihat film seperti itu?" Tanya saya dengan cemas.
"Iih...! Tidak pernah", jawabnya sambil bergidik.
"Kok, kakak bisa bertanya seperti itu?" Tanya saya penasaran.
"Kan tadi dijelaskan di acara, bahwa ada remaja yang suka nonton film seks," jawabnya. Saya lupa-lupa ingat jawabannya, tapi kurang lebih seperti itulah kalimatnya. Sungguh jawaban yang sangat menenangkan.
"Ooh, tadi apa lagi yang dibahas di acara Nak?" Tanya saya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ya seputar itu Bi. Ada nyanyi, ada juga dan tayangan-tayangan," jawabnya.
Alhamdulillah, akhirnya anakku memahami penjelasan seks dari ayahnya sendiri. Tugas selanjutnya saya berikan kepada istri. Yaitu untuk menjelaskan organ reproduksi lebih dalam lagi, karena ini lebih khusus terkait masalah perempuan.
Mudah-mudahan kisah ini bisa diambil ibrohnya. Menjelaskan seks kepada anak merupakan sesuatu yang penting. Bukan pada seksnya semata, yang kucing dan ayam saja bisa melakukannya tanpa diberi pelajaran. Tetapi, jauh lebih berharga daripada itu, yaitu memahami petunjuk Allah Swt tentang hal tersebut. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
Sabtu, 28 November 2015
Mewujudkan Nol Persen Mihol
Sabtu, 21 November 2015
KIPRAH NYATA PERSATUAN ISLAM (PERSIS)
Selasa, 20 Oktober 2015
SEMARAK HIJRIYAH
Peringatan tahun baru hijriyah belakangan ini semakin semarak. Jauh lebih semarak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Tiap kota dan Kabupaten di Jawa Barat mengadakan pawai obor dan berbagai perlombaan. Tentu tujuannya adalah supaya umat Islam mengenal tahun baru Islam. Karena memang kita akui, mayoritas umat Islam lebih banyak mengenal penanggalan masehi dibandingkan hijriyah.
Berbagai maksud baik dalam rangka tahun baru hijriyah patut diapresiasi. Akan tetapi, semarak kegiatan tahun baru hijriyah tidak boleh membuat kita melupakan maknanya.
Penamaan bulan qomariah memang sudah ada sebelum Nabi Muhammad Saw diutus. Akan tetapi, perhitungan tahun hijriyah ditetapkan setelahnya, yakni pada masa Khalifah Umar bin Al Khaththab r.a. Umar menetapkan tahun pertama hijriyah bertepatan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Sebuah peristiwa yang sangat berharga dalam rangkaian sejarah dakwah Islam.
Rasulullah Saw berangkat hijrah pada malam 27 Shafar tahun ke-14 kenabian, atau bertepatan dengan 12 September 622 M. Rasulullah Saw hijrah ditemani shahabat Abu Bakar Ashshiddiq r.a. Mereka berdua sampai di Madinah pada hari Jum’at 12 Rabi’ul Awwal 1 H, setelah sebelumnya singgah di Quba pada hari Senin 8 Rabi’ul Awwal 1 H. Masyarakat madinah menyambutnya dengan semarak dan penuh antusias. Hampir tiap hari mereka memandangi padang pasir yang luas, menanti-nanti Nabi sekaligus pemimpin yang sangat mereka cintai.
Semarak kaum mukmin pada masa itu sangatlah sarat makna. Kegembiraan mereka terpancar dari keceriaan wajah, tutur kata dan bait-bait syair yang dilantunkannya. “Bulan purnama telah menyinari kita. Dari Tsaniyatul Wada’. Wajiblah kita lantunkan syukur. Selama ada yang mengajak kepada Allah. Wahai orang yang diutus kepada kami. Engkau telah membawa perkara yang ditaati. Kesemarakan yang terlahir karena rasa syukur. Setelah lama mereka larut dalam kehidupan jahilyyah, datanglah Rasulullah Saw. Utusan Allah sekaligus pemimpin yang mengajak Iman kepada Allah Swt, serta taat kepada-Nya.
Tidak hanya kaum Anshar, kaum Muhajirin pun menyambut perintah hijrah ini dengan banyak pengorbanan. Ummu Salamah yang terpisah lebih dari setahun dengan suami dan putrinya. Kemudian Ayyasy yang dijebak dan ditahan di Makkah selama 2 tahun. Pengorbanan Abu Bakar Ashshiddiq yang menemani perjalanan hijrah Rasulullah Saw. Atau Shuhaib bin Sinan Ar Rumi yang meninggalkan seluruh hartanya, kemudian berhijrah hanya dengan jubah yang dipakainya. Sampai turun firman Allah Swt mengenainya, yang artinya : “dan di antara manusia, ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (TQS. Al Baqarah[2] : 207). Sungguh perniagaan yang sangat menguntungkan.
Hijrah Rasulullah Saw dan kaum Muhajirin semarak syukur atas Iman serta ketaatan kepada Allah Swt. Karena itulah, kaum Muhajirin dan Anshar sangat menikmati setiap perjuangan dan pengorbanan karenanya. Setelah hijrah, wahyu Allah yang telah turun, diterapkan menjadi hukum positif di masyarakat. Adapun yang turun setelahnya, diterapkan secara langsung tanpa menunda-nunda.
Hijrah merupakan momentum penting rangkaian dakwah Rasulullah Saw. Ketika sebelum hijrah, benteng keimanan kaum muslim hanyalah dirinya sendiri. Sehingga, tak sedikit kaum muslim yang disiksa, bahkan dibunuh hanya karena agamanya. Setelah hijrah, masyarakat dan negara pun menjadi benteng penjaga keimanan. Karenanya Islam benar-benar terjaga dari berbagai penodaan terhadapnya. Ketika sebelum hijrah, Rasulullah mengecam kebiasaan maksiat, misal kebiasaan berbuat curang kaum jahiliyyah secara lisan semata (lih. Q.S. Al Mutahffifin). Setelah hijrah, Rasulullah Saw menerapkan sistem ekonomi Islam secara utuh. Bahkan, Rasulullah pun mengangkat para qadli hisbah, serta melakukan inspeksi ke pasar untuk mencegah berbagai praktek kecurangan. Sebelum hijrah, posisi Rasulullah Saw tidak diindahkan. Setelah hijrah, orang kafir di Madinah pun tunduk dan patuh kepadanya, beliau menjadi pemutus berbagai perselisihan di tengah masyarakat. Sebelum hijrah, kaum muslim diboikot dan diembargo. Setelah hijrah kaum muslim memiliki wilayah kekuasaan yang terus meluas seiring menyebarnya dakwah Islam. Setelah hijrah, dengan penerapan hukum Allah secara sempurna, kaum muslim memiliki izzah (kemuliaan).
Islam tidak hanya sekedar konsep yang dapat dibaca dalam Al Quran, namun teraplikasi sampai metode teknis pelaksanaannya. Setelah menjadi pemimpin di Madinah, beliau Saw menerapkan aturan dengan wahyu sebagai rujukan. Rasulullah Saw mengangkat para wali (pemimpin setara gubernur), menyiapkan pasukan, mengurus pengelolaan sumber daya alam. Beliau saw pun menyiapkan para tabib, pendidik, para tentara, para penarik zakat dan sebagainya.
Hijrah Rasulullah menjadi momentum transformasi masyarakat, dari yang ahli maksiat menjadi ahli taat. Setelah 13 tahun Rasulullah dan para shahabat menghela perubahan ke arah Islam dengan perjuangan dan pengorbanan. Mulai dari waktu, tenaga, harta dan kedudukan, bahkan nyawa karena kedzaliman penguasa Makkah pada saat itu. Akhirnya, kaum muslim mendapatkan pertolongan Allah Swt melalui kaum Anshar. Oleh karena itu, luapan semarak syukur kaum Muhajirin dan Anshar sungguh tak terkira. Pada hari itu, bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah Swt.
Mari kita bandingkan dengan semarak peringatan tahun baru hijriyah yang kita lakukan saat ini. Sudahkah kita semarak bergembira karena hukum Allah Swt diterapkan sempurna. Ataukah kita bersukacita hanya karena isi acara yang penuh hiburan dan hadiah semata. Tentu kita bisa menjawabnya dengan hati yang jujur. Tentunya, peringatan tahun baru hijriyah bukanlah pawai obor semata, tetapi sejauh mana perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dan bagi kaum mukmin, tidak ada yang lebih baik daripada diterapkannya hukum Allah Swt secara sistemik dan paripurna. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
Senin, 01 Juni 2015
Pengungsi Rohingya dan Ukhuwwah Islamiyyah
Bukannya tergerak hati untuk membantu mereka yang masih selamat. Para penguasa negara ASEAN malah ramai-ramai menolak kedatangan manusia perahu Rohingya, yang tiada lain adalah saudara muslim Rohingya. Padahal di antara mereka adalah para perempuan dan anak-anak. Sungguh sangat tidak manusiawi.
Penguasa muslim Indonesia dan Malaysia menolak dan akan mengusir kapal-kapal yang bermuatan migran, angkatan lautnya pun telah disiapkan untuk mencegahnya. Bahkan, para nelayan Indonesia diperingatkan untuk tidak melakukan penyelamatan lagi. Terkecuali, mereka yang terapung bebas di lautan dan tidak ada kapalnya ( bbc.co.uk, 18/5/2015). Padahal, jika kta berpikir normal, untuk orang yang sudah terlatih saja, berapa jam ia bisa bertahan di lautan lepas tanpa perahu atau kapal? Apalagi untuk para imigran Rohingya, termasuk kaum perempuan dan anak-anaknya, yang sudah dalam kondisi kelaparan, lelah dan dehidrasi. Sama saja dengan membiarkan mereka mati di lautan lepas. Sungguh pernyataan yang tidak berhati nurani.
Padahal Allah SWT menegaskan bahwa “Innama al-mu’minuna ikhwatun” (Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara). (QS. Al Hujurat [49]:10). Kata al-mu’minuna ini tidak diikat dengan bangsa dan etnis tertentu. Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa persaudaraan yang dimaksud adalah dalam agama dan kehormatan dan bukan nasab (keturunan). Oleh karena itulah, beliau mengatakan bahwa saudara seagama itu lebih kokoh dibandingkan saudara senasab. Saudara senasab bisa terputus karena perbedaan agama, tetapi saudara seagama tidak akan terputus karena perbedaan nasab.
Islam pun telah mengikat ukhuwwah Islamiyyah dengan ikatan yang kokoh. Kaum mukmin diperintahkan supaya berpegangteguh kepada tali agama Allah secara berjamaah dan dilarang bercerai-berai. Bahkan Allah SWT mengingatkan bahwa Ia-lah yang telah melimpahkan nikmat persaudaraan kepada kaum mukmin. Karena sebelum memeluk Islam, manusia senantiasa bermusuhan dan saling berperang hanya karena egoisme kesukuan, laksana berada di tepi jurang neraka. Allah SWT–lah yang telah menyelamatkan dan mempersaudarakannya dengan Islam(lih. Q.S. Ali Imran[3] : 103). Oleh karena itu, persaudaraan Islam, sungguh merupakan nikmat yang besar. Sangat disayangkan bila kaum muslim malah merobek kembali persaudaraan yang mulia tersebut hanya karena perbedaan bangsa dan etnis semata.
Nu’man bin Basyir mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Perumpamaan orang-orang yang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (Muttafaqun ‘Alaih). Persaudaraan yang sangat kokoh dan indah.
Tetapi persaudaraan yang kokoh dan indah itu kini tercabik. Kaum muslim seakan kembali tersekat-sekat dalam keangkuhan egoisme kebangsaan. Mereka kini tak peduli terhadap nasib saudaranya, hanya karena mereka tidak satu etnis dan bangsa. Nasionalisme telah ‘membunuh’ persaudaraan Islam yang hakiki. Kaum muslim tercegah membantu saudara seiman, hanya karena sekat batas-batas geografis semu.
Padahal selama kita membutuhkan pertolongan Allah SWT, semestinya kita pun menolong saudara sesama muslim. Karena Rasulullah SAW mengingatkan. “Siapa saja yang meringankan beban seorang Mukmin di dunia, Allah pasti akan meringankan bebannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah pasti akan memberi dia kemudahan di dunia dan akhirat...” (HR Muslim dan at-Tirmidizi).Kaum muslim Rohingya telah memilih Islam, mereka rela menderita demi membela keyakinannya. Tugas kita sebagai saudara adalah membantunya sepenuh hati dan kemampuan.
Ada dua hal yang bisa kita lakukan. Yang Pertama, pemerintah RI harus mengutuk keras tindakan teror terhadap kaum muslim Rohingya dan mendesak pemerintah Burma untuk menghentikannya. Seraya terus melakukan aksi solidaritas untuk membantu para pengungsi dan menyelamatkan yang masih terkatung-katung di lautan lepas.
Adapun yang kedua, teror terhadap kaum muslim adalah kejadian yang terus berulang. Rohingya hanyalah salah satunya. Oleh karena itu, kaum muslim harus membangun sistem kehidupan yang menjamin ukhuwwah Islamiyyah yang hakiki. Sistem kehidupan yang telah mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Sistem kehidupan yang telah menyatukan antara Arab dan non Arab. Sistem kehidupan yang telah mempersaudarakan ribuan etnis selama lebih dari 13 abad. Itulah sistem kehidupan Islam, yang terwujud dalam penerapan syariah Islam secara kaffah oleh seorang khalifah.
(Husnul Aini, ST.)

