Minggu, 10 April 2016

Globalisasi Picu Kriminalitas Remaja

Ust. Mamad, BKPRMI Kota Tasikmalaya : Globalisasi Picu Kriminalitas Remaja

“Masalah kriminalitas remaja terjadi karena salah gaul, salah didik dan pendidikan yang salah,” tegas Ust. Mamad dalam acara Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) di Aula Masjid Al Mujahidin (10/4/2016). Forum bulanan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Kota Tasikmalaya ini bertema Selamatkan Remaja Tasikmalaya dari Kriminalitas. Ketua 2 Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) DPD Kota Tasikmalaya ini tampil penuh semangat. Beliau menjelaskan bahwa globalisasi telah berdampak negatif terhadap pergaulan remaja muslim, khususnya di Tasikmalaya. Berbagai informasi negatif yang merusak mudah sekali diakses oleh para remaja. Sehingga hal ini membuat manusia, termasuk remaja, terasuki sifat syaithoniyyah dan bahaimiyyah (kebinatangan, pen.), bahkan lebih sesat darinya.

“Mendidik anak seharusnya mengacu kepada Rasulullah Saw,” imbuhnya. Komisioner Baznas Kota Tasikmalaya ini pun menyitir nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang besar.” Oleh karena itu menurut beliau, pendidikan harus ditekankan pada ketauhidan, tidak seperti yang terjadi saat ini, pendidikan lebih terfokus pada bagaimana meraih harta dan jabatan.

Tampil sebagai pembicara kedua, Ust. Ade Candra. SE. dari Maktab I’lami DPD HTI Kota Tasikmalaya. Beliau menjelaskan bahwa seharusnya remaja muslim itu berperan sebagai energizer, yakni penyuplai semangat/energi terhadap orang lain. Sedangkan yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Hal ini terjadi karena Barat telah menganggap potensi remaja muslim sebagai ancaman. Oleh karena itu, Barat terus menerus berusaha melemahkan remaja muslim.

Upaya pelemahan yang dilakukan oleh Barat terutama di dunia pendidikan. Pendidikan Agama Islam (PAI) terus diarahkan untuk berkiblat ke Barat, terbukti dengan pengiriman para pendidik PAI untuk mengikuti diklat di Inggris dan Australia. Semua ini bukan semata-mata untuk mempelajari teknik mengajar. “Bagi negara kapitalis, tidak ada makan siang yang gratis,” tegasnya.

Dengan lemahnya pemahaman remaja terhadap agamanya, akan lemah pula sikap mereka terhadap berbagai hal yang bertentangan dengan agamanya. Ditambah lagi monsterisasi dan terorisasi aktifitas remaja yang berbasis kegiatan keagamaan, semisal Rohis. Akhirnya, terjebaklah remaja pada kriminalitas.  

Beliau menyerukan bahwa negara harus hadir sebagai perisai bagi para remaja muslim. Selain mendidik serta menguatkan pemahaman keislaman para remaja, negara pun harus hadir untuk mencegah berbagai upaya pelemahan remaja muslim. Dengan tegas beliau sampaikan, bahwa negara yang dapat menjadi perisai bagi remaja muslim hanyalah negara yang menerapkan Syariah Islam. Dan tidak ada negara yang dapat menerapkan Syariah Islam secara paripurna selain negara Khilafah. Oleh karena itu selain menempuh solusi jangka pendek atas problem kriminalitas remaja, yakni menjaga diri dan keluarga. Kaum muslim pun harus mengupayakan solusi hakikinya, yakni  tegaknya Syariah dan Khilafah. Sehingga para remaja muslim benar-benar akan menjadi energizer, sebagaimana yang telah kita saksikan dalam sejarah keemasan Islam. (AH, Tsm.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar