Ust. Mamad, BKPRMI
Kota Tasikmalaya : Globalisasi Picu Kriminalitas Remaja
“Masalah kriminalitas remaja
terjadi karena salah gaul, salah didik dan pendidikan yang salah,” tegas
Ust. Mamad dalam acara Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) di Aula Masjid Al
Mujahidin (10/4/2016). Forum bulanan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Kota
Tasikmalaya ini bertema Selamatkan Remaja Tasikmalaya dari Kriminalitas. Ketua
2 Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) DPD Kota
Tasikmalaya ini tampil penuh semangat. Beliau menjelaskan bahwa globalisasi telah
berdampak negatif terhadap pergaulan remaja muslim, khususnya di Tasikmalaya. Berbagai
informasi negatif yang merusak mudah sekali diakses oleh para remaja. Sehingga
hal ini membuat manusia, termasuk remaja, terasuki sifat syaithoniyyah
dan bahaimiyyah (kebinatangan, pen.), bahkan lebih sesat darinya.
“Mendidik anak seharusnya mengacu
kepada Rasulullah Saw,” imbuhnya. Komisioner Baznas Kota Tasikmalaya ini pun menyitir
nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau syirik
kepada Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang besar.” Oleh
karena itu menurut beliau, pendidikan harus ditekankan pada ketauhidan, tidak
seperti yang terjadi saat ini, pendidikan lebih terfokus pada bagaimana meraih
harta dan jabatan.
Tampil sebagai pembicara kedua,
Ust. Ade Candra. SE. dari Maktab I’lami DPD HTI Kota Tasikmalaya. Beliau menjelaskan
bahwa seharusnya remaja muslim itu berperan sebagai energizer, yakni penyuplai
semangat/energi terhadap orang lain. Sedangkan yang terjadi sekarang adalah
sebaliknya. Hal ini terjadi karena Barat telah menganggap potensi remaja muslim
sebagai ancaman. Oleh karena itu, Barat terus menerus berusaha melemahkan
remaja muslim.
Upaya pelemahan yang dilakukan
oleh Barat terutama di dunia pendidikan. Pendidikan Agama Islam (PAI) terus diarahkan
untuk berkiblat ke Barat, terbukti dengan pengiriman para pendidik PAI untuk
mengikuti diklat di Inggris dan Australia. Semua ini bukan semata-mata untuk
mempelajari teknik mengajar. “Bagi negara kapitalis, tidak ada makan siang yang
gratis,” tegasnya.
Dengan lemahnya pemahaman remaja
terhadap agamanya, akan lemah pula sikap mereka terhadap berbagai hal yang
bertentangan dengan agamanya. Ditambah lagi monsterisasi dan terorisasi aktifitas
remaja yang berbasis kegiatan keagamaan, semisal Rohis. Akhirnya, terjebaklah
remaja pada kriminalitas.
Beliau menyerukan bahwa negara
harus hadir sebagai perisai bagi para remaja muslim. Selain mendidik serta
menguatkan pemahaman keislaman para remaja, negara pun harus hadir untuk mencegah
berbagai upaya pelemahan remaja muslim. Dengan tegas beliau sampaikan, bahwa
negara yang dapat menjadi perisai bagi remaja muslim hanyalah negara yang
menerapkan Syariah Islam. Dan tidak ada negara yang dapat menerapkan Syariah
Islam secara paripurna selain negara Khilafah. Oleh karena itu selain menempuh solusi
jangka pendek atas problem kriminalitas remaja, yakni menjaga diri dan
keluarga. Kaum muslim pun harus mengupayakan solusi hakikinya, yakni tegaknya Syariah dan Khilafah. Sehingga para
remaja muslim benar-benar akan menjadi energizer, sebagaimana yang telah kita
saksikan dalam sejarah keemasan Islam. (AH, Tsm.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar