Penolakan terhadap suatu ide atau gagasan tidaklah dapat
dinilai dari lokal ataukah importnya ide tersebut. Tetapi dari kebenaran ide
dasar yang menjadi ideologi atau aqidahnya. Karena ideologi adalah jawaban atas
mendasar pertanyaan manusia. Yakni pertanyaan mengenai dari manakah semua
kehidupan ini berasal, untuk apakah kita hidup dan akan kemanakah kita setelah
semua kehidupan ini berakhir.
Jawaban atas pertanyaan mendasar tersebut harus selaras
dengan fithrah manusia, menenteramkan hati dan memuaskan akal. Bila jawaban
atas pertanyaan mendasar ini selaras dengan fithrah manusia, maka pastilah ideologi
tersebut benar dan layak kita terima. Tetapi bila sebaliknya, maka pasti salah
dan tentu wajib untuk kita tolak. Penerimaan dan penolakan ini tentu berdampak
pula pada semua ide-ide yang disandarkan pada ideologi yang salah tersebut.
Ada tiga ideologi yang diyakini dan dipropagandakan oleh negara
yang pernah memimpin dunia. Ideologi ini memiliki konsep yang lengkap untuk
diterapkan dalam kehidupan. Selain itu, ideologi ini memiliki sifat defensif
dan ofensif. Yakni memiliki sifat defensif untuk mempertahankan ide-idenya dari
serangan ide lain, pun memiliki konsep ofensif untuk mempropagandakan
ide-idenya agar dianut oleh umat lain. Ketiga ideologi tersebut adalah Islam,
sekulerisme dan komunisme.
Islam bukanlah berasal dari Indonesia. Ia berasal dari
Jazirah Arab. Dalam pandangan Islam, Allah swt menurunkan wahyu kepada
utusan-Nya, Muhammad saw. Melalui beliau saw, dua sumber ajaran Islam, yaitu Al
Quran dan As Sunnah tersampaikan kepada umat manusia. Islam telah menjawab
pertanyaan mendasar manusia dengan tegas. Islam menjawab bahwa semua kehidupan
ini diciptakan oleh Allah swt, manusia hidup hanya untuk beribadah (tunduk
patuh) kepada-Nya dan semua manusia akan dikembalikan kepada-Nya untuk
mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia. Berdasarkan pandangan dasar
inilah Islam membangun ide-ide turunannya yang lain. Sistem politik, ekonomi,
pendidikan, pergaulan, pidana dan sebagainya terlahir dari aqidah Islam. Dalam
aplikasinya, semua sistem tersebut terangkum dalam ide penerapan Syariah
melalui penegakan Khilafah. Ideologi Islam pernah memimpin percaturan politik dunia
selama lebih dari 13 abad, mulai pertengahan abad ke 7 sampai awal abad ke 14
M.
Sekulerisme pun bukan berasal dari Indonesia. Sekulerisme
terlahir dari barisan sakit hati kaum intelektual Eropa. Mereka kecewa dengan
pemaksaan doktrin-doktrin gereja yang dipaksakan penerapannya oleh para raja
dan pendeta. Doktrin-doktrin tersebut banyak yang bertentangan dengan kemajuan
ilmu pengetahuan, bahkan cenderung diperalat untuk memeras dan menindas rakyat.
Kekecewaan mereka akhirnya melahirkan kesepakatan untuk memisahkan agama dari
kehidupan, agama mereka tempatkan hanya dalam masalah private semata. Menurut
sekulerisme, semua kehidupan ini diciptakan oleh Tuhan, manusia diciptakan
Tuhan untuk menikmati kehidupan, semua manusia akan dikembalikan kepada Tuhan.
Sehingga dalam pandangan sekulerisme, manusialah penentu semua aturan yang
diterapkan untuk mereka dan tidak ada pertanggungjawaban manusia kepada Tuhan
setelah semua kehidupan ini berakhir. Karena itulah, ide demokrasi (kedaulatan
di tangan rakyat) dan Hak Asasi Manusia (HAM) sangat diagungkan oleh para
penganutnya. Karena sistem ekonominya yang berpihak kepada para kapitalis, ide
ini dikenal pula dengan nama kapitalisme. Ideologi ini muncul sejak abad
pertengahan, eksis hingga kini dengan AS sebagai negara pemimpinnya.
Begitu pula dengan komunisme, ia pun bukan berasal dari
Indonesia. Ide ini digagas oleh seorang filosof Yahudi, Karl Marx. Ia adalah
seorang hegellian kiri yang kecewa dengan penindasan kaum borjuis terhadap kaum
proletar. Dalam pandangan komunisme, semua kehidupan ini berasal dari materi
semata, hidup ini hanya untuk mencari materi, pun semua kehidupan hanya akan
kembali menjadi materi semata. Tidak ada keyakinan terhadap keberadaan Sang
Pencipta dan tiada pula proses penciptaan. Semua materi muncul di dunia hanya
melalui evolusi materi. Materi itulah yang kekal. Karena itulah, ideologi ini
memunculkan ide dialektika materialisme. Semua kehidupan akan berdialektika
menuju suatu tatanan yang seimbang. Begitu pun dengan masyarakat, semua
kesenjangan yang terjadi di masyarakat harus didorong secara paksa untuk
berdialektika ke arah masyarakat yang sosialis, yaitu masyarakat yang hidup
sejajar tanpa ada strata manusia yang menguasai strata yang lain. Ideologi ini
diemban Uni Soviet hanya selama 81 tahun, mulai tahun 1910 sampai dengan 1991.
Uji kelayakan sebuah ideologi adalah uji kelayakannya dengan
fitrah manusia. Manusia memiliki naluri bertuhan. Sehingga dapat dipastikan,
bahwa ideologi komunisme adalah ideologi yang bertentangan dengan fitrah manusia.
Orang yang mengatakan kursi tercipta dengan sendirinya saja bisa dipertanyakan
kewarasannya, apalagi yang mengatakan dunia dan alam semesta tak ada
penciptanya, sungguh suatu ide yang sangat tidak masuk akal. Setali tiga uang
dengan komunisme, sekulerisme pun membatasi naluri bertuhan ini hanya pada
tataran privat. Sehingga, tuhan tidak diakui dalam kehidupan publik, keyakinan
mereka atas keberadaan tuhan tidak berguna selain hanya sebagai tempat pasrah
dan meminta, bukan untuk ditaati. Walhasil, keberadaan tuhan di hati mereka,
sama dengan ketidakberadaannya.
Manusia pun memiliki naluri eksistensi diri. Bila manusia
dibiarkan mengatur dirinya sendiri, pastilah akan membuat sebagian manusia
menindas manusia lain, bangsa yang kuat memangsa bangsa yang lemah, negara
superpower menjajah negara lemah dan berkembang. Laksana hukum rimba. Ide ini
mendegradasi manusia memasuki dunia binatang.
Ide asli yang dianut nenek moyang bangsa Indonesia adalah
animisme dan dinamisme, kemudian masuklah pengaruh agama Hindu dan Budha, lalu
Islam. Setelah masuknya era penjajahan Eropa ke negeri ini, barulah agama lain
masuk bersamaan ide sekulerisme dan komunisme. Propaganda komunisme terasa kuat
pada tahun 1960-an sampai kemudian akhirnya meredup seiring dengan pudarnya negara
pengembannya, Uni Soviet. Propaganda bertubi-tubi dilakukan ideologi
sekulerisme di bawah kepemimpinan Inggris, kemudian dilanjutkan AS hingga kini.
AS terus-menerus menancapkan cengkeraman kuku penjajahannya ke negeri ini. Terlahirnya
berbagai UU yang pro kapitalis asing, debt trap (jebakan utang), penerapan
konsep negara korporasi, propaganda demokrasi, HAM dan liberalisasi di berbagai
ranah kehidupan, semua ini semakin menunjukkan bahwa Indonesia ditarik ke
pusaran ideologi sekulerisme.
Pada ‘sudut ring’ yang lain ada kaum muslim, yang merupakan
kaum mayoritas di negeri ini. Kaum muslim semakin memahami Islam dan merasakan
kesewenang-wenangan AS. Kaum muslim yang tersadarkan menyerukan penerapan Islam
secara paripurna melalui penegakan Khilafah.
Inilah yang sedang terjadi di negeri ini, pusaran ideologi lambat
laun akan memaksa bangsa ini untuk memilih. Sekulerisme (Kapitalisme) pimpinan
AS semakin menunjukkan kebobrokannya. Ia memaksa bangsa ini untuk mengadopsi sekulerisme
secara paripurna. Karena pengakuan suatu bangsa terhadap konsep sekulerisme adalah
kerelaannya untuk dijajah. Berbeda dengan Islam, saat ini ia belum memiliki
negara pemimpin (kembali). Ideologi Islam sedang diemban oleh gerakan-gerakan
Islam supaya mewujud sempurna melalui institusi khilafah Islamiyyah. Ia adalah
ide perlawanan atas penjajahan AS. Ia sebuah harapan solusi atas ketidakadilan kapitalisme
terhadap bangsa Indonesia dan kaum muslim di seluruh dunia. Inilah pilihan-pilihan
kita, pilihan bangsa ini, menuju sekulerisme secara utuh ataukah Islam secara
menyeluruh? Dan kita pun paham bahwa setiap pilihan ada kosekuensinya. Wallohu
a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky/22/9/2014)
*) oleh : Ary Herawan, ST., M.Pd. (Pendidik
dan Aktivis Dakwah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar