Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2016

Globalisasi Picu Kriminalitas Remaja

Ust. Mamad, BKPRMI Kota Tasikmalaya : Globalisasi Picu Kriminalitas Remaja

“Masalah kriminalitas remaja terjadi karena salah gaul, salah didik dan pendidikan yang salah,” tegas Ust. Mamad dalam acara Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) di Aula Masjid Al Mujahidin (10/4/2016). Forum bulanan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Kota Tasikmalaya ini bertema Selamatkan Remaja Tasikmalaya dari Kriminalitas. Ketua 2 Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) DPD Kota Tasikmalaya ini tampil penuh semangat. Beliau menjelaskan bahwa globalisasi telah berdampak negatif terhadap pergaulan remaja muslim, khususnya di Tasikmalaya. Berbagai informasi negatif yang merusak mudah sekali diakses oleh para remaja. Sehingga hal ini membuat manusia, termasuk remaja, terasuki sifat syaithoniyyah dan bahaimiyyah (kebinatangan, pen.), bahkan lebih sesat darinya.

“Mendidik anak seharusnya mengacu kepada Rasulullah Saw,” imbuhnya. Komisioner Baznas Kota Tasikmalaya ini pun menyitir nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang besar.” Oleh karena itu menurut beliau, pendidikan harus ditekankan pada ketauhidan, tidak seperti yang terjadi saat ini, pendidikan lebih terfokus pada bagaimana meraih harta dan jabatan.

Tampil sebagai pembicara kedua, Ust. Ade Candra. SE. dari Maktab I’lami DPD HTI Kota Tasikmalaya. Beliau menjelaskan bahwa seharusnya remaja muslim itu berperan sebagai energizer, yakni penyuplai semangat/energi terhadap orang lain. Sedangkan yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Hal ini terjadi karena Barat telah menganggap potensi remaja muslim sebagai ancaman. Oleh karena itu, Barat terus menerus berusaha melemahkan remaja muslim.

Upaya pelemahan yang dilakukan oleh Barat terutama di dunia pendidikan. Pendidikan Agama Islam (PAI) terus diarahkan untuk berkiblat ke Barat, terbukti dengan pengiriman para pendidik PAI untuk mengikuti diklat di Inggris dan Australia. Semua ini bukan semata-mata untuk mempelajari teknik mengajar. “Bagi negara kapitalis, tidak ada makan siang yang gratis,” tegasnya.

Dengan lemahnya pemahaman remaja terhadap agamanya, akan lemah pula sikap mereka terhadap berbagai hal yang bertentangan dengan agamanya. Ditambah lagi monsterisasi dan terorisasi aktifitas remaja yang berbasis kegiatan keagamaan, semisal Rohis. Akhirnya, terjebaklah remaja pada kriminalitas.  

Beliau menyerukan bahwa negara harus hadir sebagai perisai bagi para remaja muslim. Selain mendidik serta menguatkan pemahaman keislaman para remaja, negara pun harus hadir untuk mencegah berbagai upaya pelemahan remaja muslim. Dengan tegas beliau sampaikan, bahwa negara yang dapat menjadi perisai bagi remaja muslim hanyalah negara yang menerapkan Syariah Islam. Dan tidak ada negara yang dapat menerapkan Syariah Islam secara paripurna selain negara Khilafah. Oleh karena itu selain menempuh solusi jangka pendek atas problem kriminalitas remaja, yakni menjaga diri dan keluarga. Kaum muslim pun harus mengupayakan solusi hakikinya, yakni  tegaknya Syariah dan Khilafah. Sehingga para remaja muslim benar-benar akan menjadi energizer, sebagaimana yang telah kita saksikan dalam sejarah keemasan Islam. (AH, Tsm.)

Minggu, 29 November 2015

Ketika Anak Bertanya tentang Seks

Memperhatikan pergaulan dan pesatnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini, seringkali membuat orang tua waswas. Terutama penyebaran konten pornografi di berbagai jaringan sosial media.

Sebagai orang tua, saya dan istri memang mengharapkan saat-saat seperti ini. Yakni, saat yang tepat untuk menjelaskan tentang seks kepada putri sulung tercinta (10 th). Kami sangat tidak menginginkan jika ia mendapatkan hal tersebut dari yang lain, apalagi dari teman-temannya. Karena dikhawatirkan, informasi yang diterima adalah informasi yang bias, yang terpisah dari pandangan Islam tentang hal tersebut.

Tidak sedikit orang tua yang merasa canggung dan menganggap pembicaraan seks dengan anak sebagai hal yang tabu. Padahal itu merupakan hal yang penting, karena setiap manusia dianugerahi naluri seksual. Naluri tersebut mesti diarahkan supaya penyalurannya selamat, serta sesuai dengan petunjuk Allah Swt.

Saat itu tiba, ketika istri tercinta mengikutsertakan Si Sulung dalam sebuah acara remaja yang digagas Muslimah HTI Tasikmalaya. Karena menjelang hari AIDS, tema yang dibahas pada acara tersebut seputar pergaulan remaja. Alhamdulillah, putri sulung yang baru kelas 5 SD adalah peserta termuda yang hadir pada acara tersebut. Karena peserta selainnya adalah para mahasiswi. Saya juga tidak hadir di lokasi, begitu pula istri. Ini hanya masalah teknis yang dipilih. Berharap ada pertanyaan dari putri kami setelah acara selesai.

Selesai acara, saya menjemput Si Sulung. Alhamdulillah, meskipun pada tempat yang waktu kurang tepat, ia menanyakan kepada saya hal yang diharapkan.
     "Bi, ada hal yang kakak ga ngerti?" Tanyanya kepada saya di atas motor yang sedang melaju.
     "Apa itu Nak?" Tanya saya.
     "Seks itu apa Bi?" Ia balik bertanya.
Sungguh saya lupa jawaban terbaik yang pernah saya siapkan. Tetapi, saya jawab dulu secara bahasa.
     "Nak, seks itu berasal dari bahasa Inggris, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya jenis kelamin." Jawab saya singkat.
Banyaknya kendaraan yang melaju, tentu membuat komunikasi kami tidak lancar. Karena saat itu kami juga ditemani Si Bungsu yang baru berusia 3,5 tahun, maka saya pun memutuskan untuk menginterupsi pertanyaan. Saya meminta pengertiannya, untuk membahas tema tersebut setelah sampai di rumah.

     "Nak, sudah waktunya kakak paham hal tersebut. Tetapi, hal itu harus dibicarakan di rumah ya?" Pinta saya. tersebut
    "Supaya jelas dan konsentrasi, kakak juga harus sendiri. Teteh dan Ade jangan ikutan dulu membahasnya", jelas saya.

Saya ingin memastikan supaya anak kedua (7 thn) dan Si Bungsu tidak ikut nimbrung mendiskusikannya nanti. Alhamdulillah, ia pun bisa memahaminya. Sepanjang jalan itu pikiran saya menerawang, memikirkan jawaban terbaik yang akan saya berikan nanti.

Putri sulungku benar-benar menantikan penjelasan. Malam itu ia memintaku penjelasan yang tadi sempat terputus. Sesuai kesepakatan dengan istri, bahwa saya yang bertugas menjelaskan kepadanya. Istri langsung paham, ia langsung mengajak anak kedua dan ketiga kami untuk melakukan aktifitas lain. Terus terang, untuk menangani Si Bungsu, istri saya jauh lebih lihai dan cekatan. Lalu, saya pun mengajak Si Sulung bicara berdua.
    "Nak, seks itu adalah segala sesuatu aktifitas atau perbuatan yang mengarah pada bertemunya alat kelamin laki-laki dan perempuan." Jelas saya. "Dari mulai ngobrol-ngobrol, pandang-pandangan, pegang-pegangan, berdua-duaan sampai tidur berdua."
Si Sulung mendengarkannya secara seksama. Kemudian, saya melanjutkan penjelasan saya. Dan inilah yang paling penting baginya.
     "Dan semua itu di dalam Islam adalah haram, " intonasi saya lebih tegas dan jelas pada kalimat yang terakhir. Mengapa saya langsung memvonis haram duluan, karena saya berbicara dengan anak yang masih belum menikah.
     "Terkecuali bagi yang sudah menikah," lanjut saya.
Melihat ia memperhatikan dengan seksama, saya sangat gembira.sangat
     "Mengapa demikian?" Tanya saya secara retoris.
     "Karena, Allah Swt menciptakan naluri seksual pada manusia supaya manusia bisa lestari atau beranak pinak," jelas saya.
     "Manusia itu tadinya dari Adam dan Hawa ya Bi?" Tanya Si Sulung kepada saya. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa obrolan kita berdua sudah nyambung.
     "Iya Nak, naluri seksual juga Allah berikan pada binatang. Sehingga mereka bisa berkembang biak. Tetapi, manusia dan binatang berbeda. Manusia diberi akal untuk memilih dan memilah. Aktifitas seks bagi manusia yang belum menikah merupakan perbuatan dosa," jelas saya. Kebetulan materi halqoh yang saya berikan kepadanya baru saja membahas tentang potensi akal manusia.
     "Termasuk, para remaja yang berdua-duaan, pegang-pegangan, pacaran. Semua itu perbuatan dosa," lanjut saya.
     "Kalau menonton film yang seperti itu boleh ga Bi?" Ia bertanya. Sungguh pertanyaan ini mengagetkan saya. Terus terang, saya jadi gelisah dengan pertanyaannya. Jangan-jangan, saya langsung negatif thinking.
     "Sama, itu juga diharamkan!" Tegas saya.
Dasar orang tua panik. Di era sosial media yang bebas seperti ini, mungkin perasaan saya merupakan sesuatu yang wajar. Meskipun, sampai saat ini, saya dan istri sepakat untuk tidak memberikan fasilitas android kepadanya.
     "Kakak pernah melihat film seperti itu?" Tanya saya dengan cemas.
     "Iih...! Tidak pernah", jawabnya sambil bergidik.
     "Kok, kakak bisa bertanya seperti itu?" Tanya saya penasaran.
     "Kan tadi dijelaskan di acara, bahwa ada remaja yang suka nonton film seks," jawabnya. Saya lupa-lupa ingat jawabannya, tapi kurang lebih seperti itulah kalimatnya. Sungguh jawaban yang sangat menenangkan.
     "Ooh, tadi apa lagi yang dibahas di acara Nak?" Tanya saya untuk mengalihkan pembicaraan.
     "Ya seputar itu Bi. Ada nyanyi, ada juga dan tayangan-tayangan," jawabnya.

Alhamdulillah, akhirnya anakku memahami penjelasan seks dari ayahnya sendiri. Tugas selanjutnya saya berikan kepada istri. Yaitu untuk menjelaskan organ reproduksi lebih dalam lagi, karena ini lebih khusus terkait masalah perempuan.

Mudah-mudahan kisah ini bisa diambil ibrohnya. Menjelaskan seks kepada anak merupakan sesuatu yang penting. Bukan pada seksnya semata, yang kucing dan ayam saja bisa melakukannya tanpa diberi pelajaran. Tetapi, jauh lebih berharga daripada itu, yaitu memahami petunjuk Allah Swt tentang hal tersebut. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Rabu, 29 April 2015

Setelah Ujian Nasional Berlalu

Image result for ujian nasionalAlhamdulillah, akhirnya pecah juga tuh bisul ya? Hehehe… iya kita anggap aja Ujian Nasional (UN) sebagai ‘penyakit bisul’. Sebab, rasa-rasanya persiapan sebelum UN udah bikin otak kita nggak bisa kerja nyantai, pikiran dibuat pusing, perasaan nggak tenang, emosi nggak stabil. Kadang semangat, kadang melempem. Ditambah lagi suasana tegang pas hari H Ujian Nasional SMA yang baru aja lewat pekan kemarin. Wuih, selama ujian tiga hari itu kamu pasti berkecamuk dengan banyak pikiran dan perasaan. Maka, setelah UN berlalu, rasanya lega dan plong. Kayak pecah bisul tuh (baksound: bagi yang udah pernah ngerasain bisul, apalagi tuh bisul di pantat. Wah!)
Guyz, kita semua berdoa semoga saja apa yang kamu harapkan dan inginkan terkabul ya. Tentu saja keinginan yang baik-baik: kamu semua lulus UN. Insya Allah. Namun, perlu diingat juga lho bahwa lulus UN tuh bukan akhir dari segalanya. Sehingga kamu nggak bisa bebas gitu aja. Masih ada babak baru kehidupan yang bakal kamu jalani. Bisa nerusin kuliah, dan itu berarti kudu ikut seleksi lagi. Bisa pula terjun ke dunia kerja atau wirausaha. Begitu juga buat kamu yang kebetulan belum berhasil lulus, tetap sabar dan ambil hikmahnya aja. Selama langit belum runtuh dan bumi belum terbelah, kamu masih punya kesempatan untuk maju, agar hidup kamu tetap memiliki harga dan bermakna. Setuju kan?
Sobat muda muslim, tulisan gaulislam kali ini sekadar ingin mengajak kamu evaluasi diri sekaligus menggali potensi yang kamu miliki agar terus termotivasi untuk maju dan bangkit dengan kemampuan yang kamu miliki. Mudah-mudah ini membantu kamu untuk bisa mengubah cara pandang kamu tentang masa depan dan juga tentang pendidikan dan agar tradisi belajar menjadi lebih progresif.
Maklumlah, banyak cara pandang di tengah masyarakat yang mengukur kesuksesan seseorang semata dari tingkat pendidikannya, dari nilai akademiknya, dari status sosialnya. Padahal, nggak selalu dan nggak otomatis kalo ada yang nilai akademiknya pasti sukses hidupnya. Belum tentu. Wong, bertebaran alias pabalatak sarjana yang baru lulus tapi nggak punya pekerjaan, sementara di antara mereka banyak yang nilai akademiknya bagus dan dari kalangan berada. Jadi, tingkat pendidikan dan nilai akademik serta status sosial bukan jaminan mutlak hidup bisa sukses.
Oya, saya nulis gini bukan nakut-nakutin atau mengabaikan tingkat pendidikan dan nilai akademik. Nggak juga. Hanya saja ini bicara dalam konteks kesuksesan. Tentu aja, yang ideal tuh menurut ukuran logika kita adalah pendidikan tinggi, nilai akademiknya bagus, status sosialnya di level atas dan hidupnya sukses. Dunia dan akhirat pula. Wah, itu keren banget. Tapi sekali lagi, nggak selalu begitu kenyataannya.

Geber terus motivasi dan kreativitasmu
Sobat, setelah Ujian Nasional tingkat SMA kamu ikutin, tentu saja kamu semua berharap untuk lulus. Itu wajar dan sah-sah saja. Manusiawi kok. Pengen dapet nilai bagus juga wajar karena dengan begitu kita jadi bisa ngukur kemampuan diri dari angka-angka yang didapat itu. Namun, nilai ujian yang bagus dan kelulusan kamu nggak bisa ngejamin juga untuk kemudian bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi, yang—selain harus ikut seleksi masuk lagi, juga bakal tambah biaya untuk nerusin pendidikan di tempat tersebut.
Maka, kini saatnya kamu dan kita semua berpikir lebih realistis dan pandai mencari peluang untuk bisa tetap esksis meskipun kenyataan pahit—tidak lulus UN atau nggak bisa nerusin studi, plus nggak dapet kerjaan dengan background pendidikan yang kamu miliki—tidak menjadikan kamu putus asa dan bahkan buntu berpikir. Padahal, dunia tak selebar daun telinga, Bro. So, di sinilah perlunya motivasi dan kreativitas yang kuat untuk tetap bisa bertahan hidup dan menghasilkan karya dan prestasi demi kemaslahatan diri dan orang lain. Bisa kok. Insya Allah.
Bro, kadang dalam hidup ini tak selamanya kita bisa memilih. Kalo bisa milih sih, pasti yang baik-baik inginnya semua diraih. Tapi, sayangnya hidup nggak selalu begitu. Kadang, atau bahkan seringkali kenyataan pahit yang kita terima. So, sepahit apapun, kenyataan itu harus kita telan sambil berusaha untuk bangkit agar tak dijajah oleh kenyataan pahit tersebut. Di sinilah perlunya motivasi dan kreativitas kita untuk bisa terus bertahan sambil berusaha mengubah kenyataan hidup menjadi lebih baik.
Banyak kok, mereka yang tetap bisa berjalan dengan kepala tegak meski tingkat pendidikannya paling tinggi mentok di sekolah lanjutan tingkat atas atau malah cuma finish di tingkat SD dan SMP. Tapi soal kemampuan di bidang tertentu yang dimiliki, mereka bisa bersaing kok dengan orang yang ngenyam pendidikan tinggi. Nah, jadi yang penting adalah semangat belajar dan kreatif. Dan, yang namanya belajar dan berkreativitas tak harus mengenyam pendidikan tinggi dan “makan” bangku sekolahan. Tidak selalu. Betul itu.
Buktinya? Sekadar contoh aja ya. Saya pernah bekerjasama dalam sebuah tim untuk mengelola media massa, dan salah seorang di antara kami yang mengerti tentang komputer dan teknologi informasi kalo nggak salah pendidikan SMP-nya aja nggak kelar, gitu. Boleh percaya boleh tidak, tapi itu kenyataannya.
Sebabnya apa dia bisa memiliki kemampuan itu? Karena ia banyak belajar dari siapa pun secara informal dan motivasinya untuk belajar sangat tinggi ditambah kreatif sehingga ilmu yang didapat itu langsung dipraktikkan. Bahkan lucunya, dia mahir bahasa Inggris tanpa belajar di sekolah dan tempat kursus khusus, doi hanya sekadar nonton film berbahasa Inggris dan mencoba mencocokkan teks terjemahan yang ada dengan gerak mulut pemain film tersebut dalam berbicara. Unik juga ya? Itulah belajar yang mudah dan murah.
Oya, kalo boleh sedikit berbagi sih, saya juga termasuk yang “anomali” menurut sebagian orang. Katanya sih begitu. Setidaknya kalo saya ngisi acara jurnalistik atau kepenulisan, padahal menurut mereka latar belakang pendidikan saya nggak match dengan kemampuan menulis saya yang lebih banyak menyoroti dunia remaja dari sudut pandang Islam. Yup, memang waktu pertama menulis beberapa buku itu, pendidikan yang saya cantumin di biodata adalah alumnus sekolah kejuruan kimia. So, nggak nyambung banget kata mereka. Tapi, saya sih merasa biasa-biasa aja (ciee.. kagak maksud nyombong, Bro!).
Adapun kemampuan menulis dan mengkaji Islam yang saya miliki karena saya belajar sendiri secara informal, dari siapa pun dan dari buku siapa pun. Inspirasi yang saya dapatkan langsung saya praktikkan. Motivasi saya untuk bisa menulis cukup kuat dan saya berusaha untuk kian kreatif dengan setiap ilmu atau keterampilan baru yang saya dapatkan.
So, kamu semua bisa melakukan hal sama atau bahkan lebih baik lagi dari saya dan teman saya itu. Kuncinya di motivasi dan kreativitas. Oya jangan lupa, kita harus ikhlas dalam belajar dan semata mengharap ridho Allah. Tiada kesuksesan tanpa izin dari Allah Swt. Oke?

Tentukan tujuan hidup, Bro
Menentukan tujuan hidup untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebenarnya bisa sejak kecil ketika kita sudah mulai ngerti. Prinsip dan pemahaman itu ditanamkan kuat dalam benak kita. Namun, insya Allah belum terlambat jauh kalo sekarang kamu mulai berpikir ke arah sana. Sebab, kamu pasti butuh pijakan dan arah jalan hidup. Setelah lulus sekolah tingkat lanjutan atas umumnya cuma dua pilihan. Nerusin studi sampe ke jenjang pendidikan tinggi atau langsung terjun ke dunia kerja. Meski banyak pula yang akhirnya cuma nongkrong nggak punya aktivitas yang bermanfaat banyak untuk diri dan orang lain.
Boys and gals, semangat belajar harus tetap ada di jiwamu, sebab dalam hidup ini memang senantiasa belajar. Pilih bidang keahlian yang kamu sukai dan minati dengan sangat kuat. Mulailah memoles diri dengan banyak belajar agar kemampuanmu makin mahir. Sambil tentunya mempraktikannya dengan benar dan baik. Kalo kamu ingin terjun ke dunia usaha dengan berjualan kecil-kecilan, silakan nikmati dan terus berusaha untuk mengembangkannya. Jika kamu berminat terhadap dunia tulis-menulis, belajarlah dengan tekun karena kemahiran—apalagi kesuksesan tidak ditempuh dengan instan.
Oya, jangan lupakan juga kehidupan masa depanmu yang abadi, yakni di akhirat. Maka, cari deh peluang usaha dan keterampilan yang halal dan bisa mendatangkan berkah. Kalo bisnis ya jangan curang, jangan menipu. Jika menulis, menulis untuk syiar kebenaran Islam. Kalo punya minat mempelajari komputer dan internet, hasilnya dipraktikkan untuk mendakwahkan keagungan Islam. Hmm… insya Allah itu akan mendatangkan pahala dan manfaatnya bisa dirasakan banyak orang. Sip kan?
Lagi pula, hidup di dunia ini cuma sementara dan cuma diberi kesempatan sekali. Manusia nggak ada yang abadi hidup di dunia dan nggak ada yang udah mati balik lagi. Maka, mumpung masih diberi waktu untuk hidup, kita selalu bergerak untuk belajar tentang kebenaran dan kebaikan dalam menempuh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kamu pasti bisa deh. Dunia dan seisinya bukanlah tujuan akhir. Ya, sebatas tempat istirahat saja. Tapi tentu harus nyaman dan bisa membuat kita bahagia. Sementara akhirat adalah tujuan abadi dan harus nyaman dan bahagia juga di sana. Amalan kita saat ini yang menentukannya.
So, cobalah beberapa tips berikut. Pertama, luruskan niat dalam beramal, yakni ikhlas karena Allah Swt. memang mewajibkan kita beramal dengan benar dan baik. Kedua, pelihara terus semangat belajar meski udah lulus sekolah dan nggak mengenyam lagi pendidikan formal. Belajar tiada henti deh untuk mengetahui bidang keahlian apa pun. Siapa tahu bisa digunakan kelak dan membantu kehidupan kita. Ketiga, kuatkan motivasi dan asah terus kreativitas agar kemampuan kita makin hebat. Keempat, belajarlah dengan keras dan sabar. Kelima, teruslah berinovasi untuk mencoba hal-hal baru. Siapa tahu berguna pada esok hari.
Ayo, tetap semangat belajar meski ujian nasional udah berlalu. Dan, jangan bengong aja kalo pun kemudian kamu nggak nerusin kuliah atau bagi kamu yang dari sekolah kejuruan belum juga dapetin pekerjaan yang cocok dengan bidang keahlian yang kamu pelajari di sekolah. Jangan putus asa. Insya Allah masih banyak peluang usaha untuk bisa sukses. Siapa tahu ‘pintu’ rejeki kamu memang ada di bidang keahlian lain yang bertolak-belakang dengan keahlian yang kamu pelajari di sekolah atau kuliah. Jadi, teruslah belajar tak pernah henti. Semangat! [osolihin: sholihin@gmx.net]

Sumber : gaulislam edisi 027/tahun I (21 Rabiul Akhir 1429 H/28 April 2008

Selasa, 10 Maret 2015

Indonesia dalam Dekapan Zina dan Narkoba

“Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (TQS. Al Anfal[8] : 25)
ZINA dan Narkoba, dua kemaksiatan yang sudah menjadi penyakit kronis negeri ini. Dampak keduanya tidak hanya menimpa para pelakunya, namun menyebar kepada masyarakat secara umum.
Kasus pemerkosaan, bayi mengidap HIV/AIDS, peningkatan angka kriminalitas, rendahnya rasa aman, serta berbagai fitnah lainnya adalah hal yang harus diterima masyarakat karena kedua kemaksiatan tersebut.
Indonesia Bebas Narkoba 2015 adalah harapan semua orang. Namun bila melihat fakta yang terjadi, sepertinya harapan tersebut masih cukup jauh. Pada tahun 2014, pengguna narkoba mencapai 2,2 persen dari jumlah total penduduk Indonesia atau setara dengan 4,2 juta jiwa. Usia mereka rata-rata antara 10 sampai 50 tahun (radartasikmalaya, 29/12/2014).
Namun, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan Puslitkes UI pada 2011 menunjukan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dimana pada 2015 diperkirakan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa (merdeka, 11/6/2014).
Setali tiga uang dengan kasus seks bebas (baca:perzinaan). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan selain narkoba dan HIV/AIDS, persoalan utama remaja Indonesia saat ini adalah seks bebas.
Bahkan, Kementerian Kesehatan 2009 pernah merilis hasil penelitian di empat kota yakni Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya yang menunjukkan sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. (antaranews, 28/11.2012).
Kota Santri Tasikmalaya pun memiliki catatan buruk dalam masalah seks bebas. Kepala Program Mitra Citra Remaja PKBI Tasikmalaya, Iwan Riswan, menjelaskan kalangan wanita usia remaja yang masih berstatus pelajar tercatat sekitar 100 orang dari 600 orang wanita yang terlibat dalam praktek prostitusi (antaranews, 16/9/2010).
Sehingga, tidak aneh bila setelah penggerebegan warga pada Jumat (20/2/2015) malam di Situ Gede, terungkaplah keberadaan gadis-gadis remaja PSK, serta perilaku mesum muda-mudi berseragam di tiap lokasi sepi kawasan tersebut.
Perbuatan manusia selalu dipengaruhi oleh pemahaman. Pemahaman salah akan berbuah perbuatan yang salah, begitu pun dengan merebaknya kasus zina dan narkoba di negeri ini. Pangkal masalahnya adalah paham liberalisme (kebebasan) dan sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan).
Kedua paham tersebut sama-sama menafikan peran agama dalam mengatur kehidupan. Semua orang dibiarkan menjalani berbagai pilihan hidup, tanpa harus terikat aturan, selama tidak bersinggungan dengan kepentingan dan kebebasan orang lain. Peran agama terdistorsi pada hal-hal yang berhubungan dengan urusan ibadah yang bersifat privat.
Agama dilarang masuk ke ruang publik. Semua pengaturan kehidupan diserahkan pada kehendak manusia. Walhasil, terbentuklah tatanan kehidupan yang rusak, seperti tatanan ekonomi yang kapitalistik yang menguntungkan para penjajah, pemerintahan opportunistik yang seringkali abai terhadap urusan rakyat, budaya hedonistik yang hanya berorientasi pada kenikmatan fisik dan tata sosial permissivistik yang serba boleh.
TATANAN kehidupan tentu berdampak pada life style masyarakat, tak terkecuali remaja. Ide kebebasan dan pemisahan agama dari kehidupan seolah nampak manis di permukaan. Namun justru menyimpan racun yang sangat berbahaya untuk kehidupan manusia.
Racun yang mendegradasi kemuliaan fithrah manusia. Masyarakat hanya mengukur keberhasilan dari nilai-nilai materi, akhirnya memicu kehidupan glamour yang penuh hura-hura, mudah stress dan broken home. Inilah yang memicu semakin merajalelanya konsumsi dan peredaran narkoba.
Racun liberalisme yang sekuleristik terus merasuk ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Awal tahun ini, masyarakat dikejutkan dengan buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran”. Sang Penulis (Toge Aprillianto) membenarkan remaja untuk berhubungan seks dengan pacar. Ia mengatakan, wajar jika pacar mengajak untuk berhubungan seks (zina).
Jika pacar minta seks, turuti saja kemauannya itu. Yang penting masing-masing kita, siap untuk melakukan hubungan seks (baca: zina) tersebut. Juga beredarnya coklat ber-kondom, iklan rokok mesum dan baliho promo menginap di hotel untuk pasangan kekasih. Seruan zina pun makin menggema di negeri ini.
Memberantas narkoba dan zina harus dilakukan dengan membongkar landasan hidup masyarakat yang rusak, lalu diganti dengan landasan hidup yang sesuai fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati, yaitu akidah Islam.
Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan baik akan mendapat ganjaran di akhirat. Dan sebaliknya setiap perbuatan dosa, termasuk zina dan penyalahgunaan narkoba, akan dijatuhi siksa yang pedih di akhirat, meskipun pelakunya bisa meloloskan diri dari sanksi di dunia.
Islam mewajibkan negara untuk senantiasa memupuk keimanan rakyatnya. Maka jika sistem Islam diterapkan hanya orang yang pengaruh imannya lemah atau terperdaya oleh setan yang akan melakukan dosa atau kriminal.
Bila keimanan seseorang melemah, maka Islam menjaganya dengen penerapan syariah Islam secara paripurna, dari mulai preventif hingga kuratif. Sehingga masyarakat akan terjauh dari budaya hedonis yang penuh glamour.
ISLAM pun mengelola sumber daya alam dengan benar. Kepemilikan umum dikelola secara sungguh-sungguh untuk kemakmuran rakyat secara totalitas. Sehingga broken home dan kesulitan ekonomi, yang seringkali disebut sebagai pemicu pertama terlibatnya para pelajar ke dunia fornograpy dan narkoba, bisa diantisipasi sedari awal. Selain itu, sistem ekonomi yang berpijak pada usaha yang real, akan lebih banyak menyedot lapangan pekerjaan.
Islam juga menilai bahwa mengkonsumsi narkoba, apalagi memproduksi dan mengedarkannya, merupakan dosa dan perbuatan kriminal. Disamping diobati/direhabilitasi, pelakunya juga harus dikenai sanksi, yaitu sanksi ta’zir, dimana hukumannya -dari sisi jenis dan kadarnya- diserahkan kepada ijtihad qadhi (hakim dalam sistem pemerintahan Islam). Sanksinya bisa dalam bentuk ekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.
Pelaksanaan hukuman itu harus dilakukan secepatnya, tanpa jeda waktu lama dari waktu terjadinya kejahatan dan pelaksanaannya diketahui atau bahkan disaksikan oleh masyarakat seperti dalam had zina.
Allah SWT berfiman, yang artinya: “dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”.(An-Nur[24]: 2). Sehingga masyarakat paham bahwa itu adalah sanksi atas kejatahan itu dan merasa takut melakukan kejahatan yang serupa.
Islam pun memandang seks tanpa ikatan pernikahan alias zina sebagai tindakan maksiat dan kriminal. Seks bebas alias zina berbahaya dan mengancam kehidupan masyarakat. Karena itu Islam tegas menyatakan bahwa seks bebas alias zina adalah haram dan termasuk perbuatan keji yang harus dijauhi. Allah SWT berfirman, yang artinya: ”Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan seburuk-buruknya jalan.” (Al-Isra’ [17]: 32).
Larangan mendekati zina berarti pula larangan atas segala perkara yang bisa mendorong, mengarahkan dan menyerukan ke arah perzinaan di masyarakat. Karena itu pornografi haram beredar dan harus dijauhkan dari masyarakat, baik dalam bentuk cetak, audio maupun visual. Pelakunya harus ditindak tegas. Namun sebelum semua itu, Islam mewajibkan negara untuk menanamkan dan memupuk keimanan dan ketakwaan pada diri rakyat sejak dini.
Palang pintu terakhir adalah penerapan sanksi yang tegas dan keras terhadap para pezina. Pezina yang ghayr muhshan (belum menikah) dicambuk seratus kali. Pezina yang muhshan (sudah pernah menikah) dirajam hingga mati.
Tentu semua itu dilakukan setelah perzinaan terbukti dengan pembuktian yang syar’i. Pelaksanaan hukuman itu pun harus disaksikan oleh masyarakat (QS an-Nur [24]: 2). Para pelaku yang mempropagandakan kebebasan seks alias zina juga wajib ditindak tegas. Dengan hukuman yang tegas, efek jeranya benar-benar efektif mencegah orang melakukan perzinaan maupun mempropagandakan perzinaan.
Dengan semua itu disertai pelaksanaan sistem Islam lainnya, umat bisa terlindungi dari bahaya zina dan penyalahgunaan narkoba, juga berbagai bencana yang menjadi akibatnya. Tentunya, semua itu hanya mungkin terwujud jika syariah Islam diterapkan secara totalitas dalam naungan khilafah rasyidah ‘ala minhajin nubuwwah. 

sumber : 
1. https://www.islampos.com/indonesia-dalam-dekapan-zina-dan-narkoba-166907/
2. https://www.islampos.com/indonesia-dalam-dekapan-zina-dan-narkoba-2-selesai-166913/

BERANDALAN BERMOTOR DAN EKSISTENSI DIRI REMAJA


“Berandalan Bermotor Bikin Onar” itulah headline Kabar Priangan (KP) Jumat (02/01/2015). Aksi yang dilakukan berandalan motor dalam menghabiskan sisa tahun baru tersebut, tidaklah hanya merusak kantor KP. Bahkan mereka pun membuat warga yang hendak berangkat ke masjid pun menjadi urung dan kembali ke rumah. Terbayang, suasana mencekam karena di antara mereka ada yang membawa senjata tajam dan samurai.
Senada dengan apa yang disampaikan Agus Wahyudin, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, penulis juga beranggapan bahwa aksi tersebut jangan dianggap hanya sebagai kenakalan remaja. Karena, kalau kita telaah dalam pandangan Islam, masa remaja atau pemuda sudah termasuk dalam fase baligh. Yaitu fase di mana amal baik dan buruknya sudah dihisab oleh Allah SWT. Sehingga, sejatinya masa remaja bukanlah masa pencarian jati diri, namun merupakan masa pembuktian jati diri.
Setiap manusia, tidak terkecuali para pemuda, memiliki potensi yang sama dengan manusia pada umumnya. Muhammad Husain Abdullah dalam Mafahim Islamiyyah menjelaskan bahwa di antara potensi tersebut yaitu Gharizatul Baqo (Naluri Eksistensi Diri). Naluri ini senantiasa merayu manusia untuk selalu ingin eksis di tengah populasinya. Potensi inilah yang seringkali menumbuhkan keakuan dan keegoan yang besar.
Keberadaan naluri yang dimiliki oleh setiap insan bukanlah pembenar atas setiap tindakannya. Keberadaan naluri itu bisa dan tentu harus dikendalikan. Akal-lah yang kemudian menjadi pemilah dan pemilih. Bagi para pemuda muslim, tentu pemahaman Islam-lah satu-satunya sumber rujukan akal ketika berpikir. Aqidah dan syariah Islam-lah yang seharusnya menjadi pembeda dalam memenuhi setiap dorongan naluri. Prestasi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi atau wirausaha yang halal dan bermanfaat untuk orang banyak, adalah salah satu contoh penyaluran naluri eksistensi diri yang dianjurkan Islam. Tentunya bukan dengan maksud ujub (berbangga diri yang tidak syar’i).
Akal sebagai suatu proses berpikir bisa terganggu oleh khamr atau minuman keras. Utsman Bin Affan menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Jauhilah khamr, karena ia adalah induk segala kejahatan.” (HR. Ibnu Hibban). Hal inilah yang sangat disayangkan, beberapa media cetak maupun online sudah mensinyalir bahwa miras dan narkoba adalah barang yang laku di setiap perayaan tahun baru. Pesta dan hura-hura yang terlahir dari budaya hedonis tak jarang dihiasi dengan konsumsi miras dan narkoba. Semua aktivitas tersebut dilakukan hanya dengan satu alasan, yaitu merayakan tahun baru. Itulah sebabnya, angka penjualan miras meningkat tajam pada setiap menjelang pergantian tahun. Wajar saja -tetapi bukan pembenaran- bila akal sudah terganggu, berbagai tindakan irasional pun dilakukan, demi sebuah eksistensi diri.
Berandalan motor bukanlah hanya kenakalan remaja. Ia adalah sebuah problem sosial budaya yang terlahir dari ideologi sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sekulerisme telah melahirkan budaya permisif dan hedonis. Pada malam 1 Januari, tidak hanya berandalan bermotor, banyak juga para pemudi yang keluar dan berkeliaran hingga larut malam. Para orang tua membiarkannya, tidak khawatir dan tabu memandangnya. Karena yang menjadi legitimasi mereka adalah menyambut dan merayakan tahun baru. Jika kita diam, maka generasi muda kaum muslim yang sangat potensial akan terus menjadi objek. Ibarat dada seseorang yang terbuka tanpa perisai, ribuan anak panah terus akan menghunjamnya.
Kaum muslim mesti memiliki ‘perisai’ dari setiap problem yang menimpanya. Ada tiga lapis ‘perisai’ yang harus dimiliki kaum muslim saat ini. Yang pertama adalah ‘perisai’ diri dan keluarga. Selain diri sendiri, keluarga adalah ‘perisai’ pertama pendidikan Islam. Allah swt memerintahkan kita, untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka (lihat Q.S. At Tahrim : 6). Kemudian yang kedua adalah ‘perisai’ lingkungan. Tidak sedikit dari kita yang telah mendidik anak-anaknya dengan baik di rumah, tetapi karena terpengaruh lingkungannya, perangai anak menjadi berbeda dengan hasil didikan di rumah. Oleh karena itu, kita harus membentuk ‘perisai’ lingkungan dengan dakwah. Dakwah dengan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran (lihat Q.S. Al Ashr). Kita ajak masyarakat di sekitar kita mengenal Islam. Karena Allah swt mengingatkan bahwa ada fitnah yang menimpa tidak kepada orang dzalim saja, yang lain pun bisa terkena dampaknya. (lihat Q.S. Al Anfal : 25).
Ketiga adalah ‘perisai’ negara. Karena, problem sosial budaya yang massif harus diantisipasi secara sistemik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : “Imam (pemimpin) itu laksana perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya. Jika ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan berbuat adil, maka ia akan mendapatkan pahala (yang sangat besar). Namun jika ia memerintahkan selain itu, maka ia akan berdosa karenanya. (HR. Muslim).
Penulis sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Letkol INF Eden Candra Hidayat, Dandim 0612 Tasikmalaya Dandim Tasikmalaya, bahwa berandalan bermotor yang berbuat onar harus ditindak dan diusut tuntas. Hal ini tentunya tidak hanya di Kota Tasikmalaya, namun di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, selain menindak yang sudah berbuat onar. Kita juga harus menyiapkan ‘perisai’ diri, keluarga, masyarakat dan negara.
Kasus berandalan motor akan terus muncul jika problem sosial budaya yang menjadi pemicunya tidak ditangani. Problem sosial budaya yang menimpa kaum muslim adalah buah dari sistem sekularisme. Karena itulah, ia hanya bisa diselesaikan dengan sistem Islam. Mari kita pahamkan diri, keluarga, masyarakat, para aparat dan penguasa negeri ini supaya mau mengambil syariah Islam yang diterapkan secara paripurna.
Islam telah terbukti mengerahkan potensi anak muda menjadi produktif dan bermanfaat. Ada Imam Syafi’i yang hafal Alquran pada usia 9 tahun dan diminta ijtihadnya pada usia 13 tahun. Ada pemuda Syaifudin Quthuz, Thariq bin Ziyad Sang Pembebas Andalusia dan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan konstantinopel pada usia 21 tahun. Asma binti Abu Bakar r.a., remaja yang menjadi tim sukses hijrahnya Rasulullah SAW. Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok pemudi cerdas yang mendampingi Rasulullah SAW sejak usia 9 tahun. Begitupun Hafshah binti Umar yang berjuang bersama Islam sejak usia 10 tahun. Dengan penerapan syariah dalam sistem khilafah di atas manhaj kenabian, insyaAllah berkah akan turun dari langit dan bumi.
Wallohu a’lamu bishshowwaab.***
sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/16110#

Senin, 13 Oktober 2014

Berpacu Melawan Waktu

Buletin Remaja gaulislam edisi 002/tahun I

Ngomongin soal waktu sebenarnya udah sering banget dibahas ya? Sebab, setiap dari diri kita masing-masing pasti udah punya sistem management sendiri dalam mengatur kebiasaan hidup kita. Jadi sebenarnya kalo mau disamakan modelnya agak susah. Tapi yang terpenting dalam mengatur waktu adalah pastikan sesuai dengan tujuan dan tak ada waktu yang disia-siakan begitu saja. Sebab, waktu ini akan terus berjalan. Sang waktu nggak perlu minta ijin sama kita yang lagi bengong, main gaple, main gim, ngobrol nggak jelas, dan aktivitas miskin manfaat lainnya atau malah yang maksiat. 
Waktu bakalan terus berlari meninggalkan kita yang aktif maupun yang nggak pernah bergerak sedikit pun. Sering tak terasa, waktu seminggu sangat cepat, itu kita tahu setelah kita melewatinya. Bagi kita yang melewatinya dengan banyak amal baik insya Allah menjadi tabungan pahala kita kelak. Tapi bagi kita yang melewati hari demi hari dalam seminggu itu hanya dengan bengong dan bertopang dagu saja, rasa-rasanya sangat rugi, apalagi kalo melakukan maksiat, ruginya berlipat-lipat.
Allah berfirman dalam al-Quran:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)

Waktu tak akan kembali
Masih ingat nggak lagunya Raihan yang terinspirasi dari hadis Rasulullah saw. tentang waktu? Yup, gini nih penggalan syairnya: “Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita tak akan menyesal/Masa usia kita jangan disiakan, kerana ia tak ‘kan kembali/Ingat lima perkara sebelum lima perkara/sehat sebelum sakit/muda sebelum tua/kaya sebelum miskin/lapang sebelum sempit/hidup sebelum mati.”
Yup, benar banget. Waktu punya karakter nggak bisa dikembalikan. Terus aja berlalu nggak peduli sama kita. Apa pernah kepikiran kita ingin meng-UNDO seperti pada program komputer? Waktu nggak bisa dikembalikan seperti ketika kita main internet dengan cara mengklik tombol BACK agar bisa mengulangi mengeksekusi sebuah situs web misalnya. Nggak. Waktu itu boleh dibilang hanya sekali jadi. Itu sebabnya, tugas kitalah yang kudu pandai memilih dan memilah dalam memanfaatkan waktu.
Memang waktu adalah semacam ukuran yang kita sepakati bersama. 1 detik, 1 menit, 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, 1 windu, 1 dasawarsa, 1 abad, dan seterusnya. Itu adalah ukuran-ukuran untuk memudahkan kita mengerjakan segala urusan kita. Adanya batasan waktu adalah agar kita mau mengaturnya dengan baik. Percuma banget kan kalo kita udah dikasih jadwal, udah sepakat dengan waktu yang dibuat, ternyata kita melanggar sendiri kesepakatan tersebut dengan tidak mentaatinya sesuai urutan waktu dan target.
Kalo bicara untung-rugi, tentu bagi kita yang nggak bisa memenuhi semua aturan itu akan rugi karena bisa jadi malah nggak melakukan apa-apa selama waktu yang sudah ditentukan kecuali melakukan kesia-siaan saja yang memang bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.
Nah, pada saat inilah kita udah kehilangan banyak waktu. Tentu saja waktu tak akan pernah balik lagi ngasih kesempatan buat kita untuk melakukan yang telah kita tinggalkan tersebut. Yang bisa dilakukan kita paling banter adalah memperbaiki pada kesempatan berikutnya. Tapi tetap tidak mengubah kondisi balik ke belakang. Karena yang terjadi adalah kita memperbaiki pada waktu yang lain dan selama itu pula kita udah kehilangan banyak kesempatan. Aduh, nggak banget deh!
Nggak percaya? Bayangannya gini nih. Bagi kita yang nggak naik kelas tahun ini karena malas belajar, maka itu kondisi saat ini yang nggak bisa berubah. Tetep nggak naik kelas. Status kita tetap tinggal di kelas sementara teman yang lain udah di kelas berikutnya. Padahal itu terjadi dalam satu waktu, yakni pada kesempatan yang sama. Ya, sekarang ini. Kita insya Allah bisa naik kelas tapi itu terjadi nanti pada tahun depan. Beda kan? Jadi jangan main-main dengan waktu ya. Waktu nggak bakalan kembali lagi. Sekali jadi. So, jangan sampe kita merugikan diri kita sendiri gara-gara nggak bisa memanfaatkan waktu. Sumpah!
Guys, seringkali kita merasa bahwa waktu begitu cepat berlalu. Kayaknya singkat banget. Apa karena kita saking asyiknya menikmati hidup? Hmm.. bisa jadi itu emang faktor perasaan kita. Karena terlalu nikmat hidup di dunia. Tapi ingat juga lho, bahwa ada juga di antara teman kita yang sangat boleh jadi waktu berjalan sangat lambat. Misalnya, bagi orang yang berada di penjara, yang aktivitasnya nggak banyak dan muter di situ terus, waktu terasa berjalan lambat kayak keong.
Waktu yang berjalan terasa cepat selain menunjukkan betapa nikmatnya hidup di dunia, juga menunjukkan bahwa kita semangat menjalani hidup. Banyak kegiatan kita lakukan, banyak janji kita buat, banyak prestasi yang terus kita raih, sehingga tak ada waktu untuk melamun ngeliatin jam berputar. Karena justru kita seolah sedang berlari melangkahi hari-hari berpacu dengan putaran jarum jam atau hentakan detik penanda waktu digital. Barangkali ini yang membuat kita merasakan waktu berlalu begitu cepat.
Hikmahnya, jangan sia-siakan waktu yang terus berjalan cepat ini dengan kegiatan yang miskin manfaat, atau malah bertabur maksiat. Kita nggak bisa balik lagi ke waktu tersebut. Yang bisa adalah memperbaiki dan itu butuh waktu lagi. Sementara mereka yang taat mengatur waktu dengan baik, akan menuai hasil yang bagus pada waktu yang sama dengan yang kita gunakan untuk kegiatan percuma.
Oya, karakter waktu yang cukup unik lainnya adalah bahwa waktu geraknya berbanding lurus. Semakin banyak waktu yang disediakan untuk hidup kita, maka sebanyak itu pula waktu yang diberikan. Itu sebabnya, setiap orang yang berbeda usia nggak bisa balapan soal umur. Jatahnya udah jelas dan dikasih sama. Tapi tetap sesuai start saat memulai hidup di dunia. Nah, karena nggak bisa balapan soal umur, pernah ada anekdot ketika seorang pemuda yang hendak menikahi seorang gadis pujaannya yang berusia lebih muda 3 tahun darinya. Tapi ayah si gadis nggak setuju lalu memberi alasan: “Boleh kamu menikah dengan anak saya, tapi nanti saat umur kamu dan anak saya sama”. Gubrak!
Sobat, waktu terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia kita. Itu sebabnya, kita nggak bisa minta ijin, misalnya mo cuti dulu dari bertambahnya usia ketika kita lagi tidur atau ngobrol dan main gim. Usia kita dari detik ke detik terus bertambah. Meskipun kita lagi nggak beraktivitas. Itu sebabnya, jangan mentang-mentang masih muda terus kita merasa masih banyak waktu untuk nanti. Sehingga merasa waktu tersebut harus kita habiskan untuk aktivitas yang kita sukai dan senangi saat ini namun dalam pandangan Islam miskin manfaat. Itu artinya kita menghamburkan kesempatan yang diberikan hanya untuk hal-hal yang remeh-temeh, gitu. Nggak banget deh. Sebab, seharusnya yang kita upayakan dalam setiap detik itu harus bernilai ibadah di hadapan Allah Swt. Setuju kan?

Memanfaatkan waktu
Waktu itu sebenarnya nggak bisa dijinakkan. Kalo kuda liar kita latih jadi baik insya Allah bisa. Tapi soal waktu, kita berbuat baik atau nggak, tetap aja jalan. Nggak peduli sama kita dan lurus-lurus saja. Nah, mungkin yang diperlukan itu adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu dengan efektif.
Bagaimana caranya? Pertama, biasakan kita membuat agenda harian. Diurut prioritasnya dari yang sangat penting, kemudian penting, dan biasa. Misalnya sekolah/kuliah tentu menjadi prioritas utama, kemudian ke warnet, barangkali dianggap penting karena misalnya mencari bahan untuk tukul alias tugas kuliah, kemudian yang terkategori biasa misalnya pergi main ke rumah teman. Nah, utamakan yang sangat penting terlebih dahulu baru kemudian yang terakhir yang terkategori biasa.
Kedua, kita harus komitmen dengan apa yang udah kita buatkan jadwalnya. Karena kebiasaan banyak dari kita adalah menulis semua agenda, tapi nggak dikerjakan. Akhirnya malah keleleran. Ketiga, buat target. Ini penting. Apalagi jika yang akan dilakukan adalah “proyek besar” untuk masa depan kita. Jadi harus dibuat batasan waktunya, sehingga rencana yang sudah dibuat itu akan direalisasikan sesuai urutan waktu dan ukuran tahapan tingkat pencapaiannya. Jangan lupa, pastikan selalu ada evaluasi, agar dari waktu ke waktu lebih baik lagi.
Gimana kalo kita lagi malas ngapa-ngapain, apa malas bisa dikategorkan sebagai pembunuh kesempatan? Hmm… rasa malas itu saya pikir manusiawi kali ya. Soalnya semua orang kayaknya pasti pernah merasakan malas. Itu sebabnya, Rasulullah saw. juga mengajarkan doa agar kita meminta kepada Allah Swt. untuk dihilangkan dari penyakit malas. Maka, kalo pun rasa malas itu mendera kita, pastikan kita bisa mengendalikan diri.
Caranya? Jangan terlena dan jangan mengampuni diri sendiri bahwa rasa malasnya itu adalah manusiawi. Nggak gitu. Tapi cari akibatnya, mungkin malas karena capek, maka kita bisa atur waktu dan kegiatan lainnya supaya nggak kecapekan. Ketika malas ngapa-ngapain dan akhirnya malah main gim dengan tujuan untuk refreshing silakan saja. Tapi jangan keterusan. Ingat waktu terus berjalan meninggalkan kita. Kalo udah hilang penat dan stresnya segera berhenti main gim. Setelah itu, ya kembali kepada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Oya, sekadar berbagi aja, kebiasaan saya dalam mengatur dan memanfaatkan waktu sejujurnya memang masih banyak kekurangannya. Tapi setidaknya saya berusaha menekan diri sendiri untuk terus komitmen pada setiap kegiatan yang waktunya sudah dialokasikan. Jadi saya biasanya membuat jadwal yang saya tulis di buku agenda, di ponsel saya, di organizer program komputer, atau di kertas styrofoam yang ditempel di dinding. Agenda harian, mingguan atau bulanan. Baik yang rutin maupun yang tertentu pas ada momen spesial aja. Untuk kegiatan menulis buku, saya biasanya pake target, sehingga ada alat ukur tingkat pencapaiannya. Itu aja sih yang biasa saya lakukan. Mungkin bisa menjadi inspirasi teman-teman yang sempat baca artikel ini.
Sobat, di dunia ini kita berpacu dengan waktu, maka tingkatkan kualitas perbuatan kita, syukur-syukur bisa lebih banyak kita lakukan. Tentu perbuatan yang benar dan baik sesuai tuntunan Allah dan RasulNya. Untuk apa? Ya, untuk masa depan kita di dunia dan di akhirat. Insya Allah. Sebab, jangan sampe umur kita habis, tapi kita banyak maksiatnya. Kematian itu nggak bisa kita ketahui kapan datangnya. Jadi, harap diingat, Malaikat Izrail nggak bakal kirim “pesan kematian” kepada kita melalui SMS dengan bunyi: “Maaf, masa aktif hidup Anda akan segera habis. Sudah terlalu banyak dosa Anda di buku catatan akhirat. Sehingga saldo iman berkurang. Segera isi ulang iman Anda sebelum nyawa Anda diblokir.” Hehehe.. kalo dikasih tahu gitu sih enak dong.
Yuk, mumpung masih diberikan waktu, kita manfaatkan untuk beramal baik. Kita sama-sama berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah Swt. Keep istiqamah dan tetap semangat! [solihin: sholihin@gmx.net]


Selasa, 07 Oktober 2014

Pergaulan yang Baik dan Santun

Di tengah-tengah masyarakat setidaknya ada tiga golongan manusia. Pertama: orang yang bergaul dengan baik di masyarakat dan sabar menghadapi keburukan mereka sehingga dia cenderung disukai oleh mereka. Kedua: orang yang buruk pergaulannya di masyarakat sehingga cenderung tidak disukai oleh mereka. Ketiga: orang yang enggan bergaul dengan masyarakat, baik karena niat baik (misal: menghindari ragam keburukan yang muncul di masyarakat), karena tak sabar menghadapi keburukan masyarakat ataupun sekadar karena rasa malas saja.
Terkait dengan itu, Ibn Umar ra menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang Muslim yang bergaul dengan baik di tengah masyarakat serta bersabar atas keburukan mereka adalah lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar dengan keburukan mereka.” (HR at-Tirmidzi).
Dengan redaksi berbeda Rasul SAW juga bersabda, “Seorang Mukmin yang bergaul dengan baik di tengah masyarakat dan bersabar atas keburukan mereka adalah lebih besar pahalanya daripada seorang Mukmin yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas keburukan mereka.” (HR Ibn Majah).
Tentang pentingnya bergaul secara baik dengan masyarakat, Sayyid al-Musayyab ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puncak akal setelah keimanan kepada Allah SWT adalah bergaul dengan baik di masyarakat. Seseorang tidak akan pernah merugi selama dia sering bermusyawarah dengan orang lain. Pelaku kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat.” (HR Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Bahkan bergaul baik dengan masyarakat dipandang sebagai sedekah. Jabir bin Abdillah ra menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Bergaul baik dengan masyarakat adalah sedekah.” (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Dalam sebuah hadits marfu’ dari Zaid bin Rafi’ dituturkan bahwa Rasul SAW pun bersabda, “Aku diperintahkan untuk bergaul secara baik dengan masyarakat sebagaimana aku diperintahkan shalat fardhu.” (HR Ibn Abi Syaibah).
Nazzal bin Sabrah pun menuturkan hadits marfu’ bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang jika ketiganya ada pada diri seseorang, ia berada dalam kedamaian: ilmu, yang dengan ilmu itu kebodohan orang bodoh bisa dihilangkan; akal, yang dengan akal itu orang bergaul secara baik dengan masyarakat; sikap wara’ yang bisa mencegah seseorang dari bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Salah satu pergaulan yang baik di tengah masyarakat adalah dengan selalu menunjukkan sikap santun dan lembut. Siapakah orang yang santun atau lembut? Kata Amr bin al-‘Ash ra, “Orang yang santun (lembut) bukanlah orang yang santun (lembut) terhadap orang yang santun (lembut) kepada dirinya. Akan tetapi, orang yang santun (lembut) adalah orang yang santun (lembut) baik terhadap orang yang santun (lembut) kepada dirinya ataupun yang bersikap kasar terhadap dirinya.” (HR Ibn Abi Syaibah).
Terkait sikap santun dan lembut ini Rasulullah SAW bersabda, “Manakala Allah SWT mengumpulkan seluruh makhluk pada Hari Kiamat, seseorang menyeru, ‘Dimana pelaku keutamaan?’ Rasul bersabda, “Tiba-tiba sekelompok orang berdiri. Mereka lalu berjalan dan bergegas menuju surga. Malaikat lalu menyambut mereka. Mereka kemudian ditanya, ‘Siapa kalian ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah pelaku keutamaan itu.’ Mereka ditanya lagi, ‘Apa keutamaan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Jika kami dizalimi, kami berusaha bersabar. Jika kami diperlakukan buruk, kami memohonkan ampunan bagi pelaku keburukan tersebut. Jika kami dikasari, kami berusaha tetap bersikap lembut terhadap orang yang mengasari kami.’ Selanjutnya dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam surga sebagai balasan terbaik bagi para pelaku kebaikan.’” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Sebaliknya, Islam mencela sikap buruk atau kasar hingga membuat orang-orang tidak suka. Rasul SAW bersabda kepada Aisyah ra, “Wahai Aisyah, sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang cenderung dijauhi atau ditinggalkan oleh manusia karena mereka khawatir terhadap keburukannya.”(HR Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Dalam redaksi lain Rasul SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia terburuk pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang (di dunia) paling dikhawatirkan lisannya atau keburukannya oleh manusia.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Nabi SAW juga bersabda kepada Aisyah ra, “Manusia terburuk adalah siapa saja yang menjadikan orang takut berkumpul dengan dia karena keburukannya.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Karena itulah Salim bin Abdillah berkata, “Di antara kebaikan adalah takut melakukan keburukan (terhadap orang lain).”(HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Wa ma tawfiqi illa bilLah. [] abi
*) sumber tulisan : http://hizbut-tahrir.or.id/2014/09/18/pergaulan-yang-baik-dan-santun/

Jangan Jadi Bunglon

gaulislam edisi 001/ tahun I (17 Syawal 1428 H/ 29 oktober 2007)

Jangan Jadi Bunglon

Hilang sudah kesan islami sepanjang hari. Lenyap sudah suasana “kota santri” dadakan. Kesan islami sepanjang hari selama Ramadhan akhirnya harus hilang sesaat setelah Lebaran. Suasana “kota santri” pun yang sering kita pertunjukkan di saat Ramadhan, kini kembali ke selera asal setelah Idul Fitri. Lenyap sudah suasana tersebut dan berganti suasana kehidupan bebas tanpa batas seperti sediakala (adegan: merenung, geleng-geleng kepala dan menunjukkan sikap prihatin, terus berdesis: hmm…)
Sobat muda muslim, waktu Ramadhan lalu, banyak di antara kita yang megenakan busana muslim/muslimah. Kita yang tergolong orang biasa dan mereka yang masuk kalangan seleb, semuanya punya pikiran dan perasaan: harus tampil islami. Meski hanya ditonjolkan lewat busana namun justru itulah cara termudah untuk ‘mengelabui’ orang. Percaya atau nggak masih bisa diperdebatkan. Tapi yang jelas, aksi tampil beda saat Ramadhan bagi yang sebelumnya memang rada-rada “okem”, ya memang mencurigakan. Apalagi jika kemudian setelah Ramadahan berlalu kembali “okem”. Tul nggak sih?
Okelah, soal niat dan motivasi cuma pelakunya yang tahu dan tentu Allah Swt. Tapi yang pasti perubahan “dadakan” di bulan Ramadhan itu bisa berdampak positif dan negatif sekaligus. Positifnya jelas. Tampilnya sebagian dari kita mengenakan busana muslim/muslimah dan maraknya syiar Islam di bulan suci yang lalu memberi kesan bahwa kita sadar betul dengan apa yang harus kita lakukan, yakni menghormati bulan Ramadhan sekaligus nunjukkin bahwa diri kita serius menghargainya dengan cara menjaga imej diri dan menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Apalagi jika kemudian hijrah total dari kegelapan menuju cahaya Islam meski Ramadhan telah berlalu. Bukti riilnya ditunjukkan dengan tetap berbusana menutup aurat sesuai tuntunan syariat, juga perilaku yang ber-akhlaqul karimah selepas Ramadhan. Hmm.. semoga ya.
Namun, selain berbuah sisi positif, ternyata juga dalam “perubahan dadakan” itu memunculkan sisi negatif. Apalagi jika kemudian setelah Ramadhan berlalu, kita balik lagi ke selera asal. Jadinya, kesan bahwa kita itu memanfaatkan situasi jadi kentara banget. Yup, memanfaatkan momen Ramadhan hanya untuk kepentingan sesaat. Motivasinya lebih karena ingin dianggap baik di hadapan manusia: berbusana yang sopan, bertutur kata yang baik, berperilaku yang sesuai ajaran Islam, bahkan para musisi juga rame-rame bikin album religi di bulan suci. But, selepas Lebaran hilang semua itu. Nggak ada bekasnya sama sekali. So, jangan salahkan orang lain yang risih dengan perilaku “bunglon” seperti ini, karena agama kayaknya dianggap sebagai komoditas untuk menjaga atau memoles citra diri. Duile… teganya… teganya… teganya…

Busana sebagai alat komunikasi
Dulu, tahun 1891, seorang antropolog Jerman bernama Eugene Dubois melakukan perjalanan menelusuri jejak manusia purba di kawasan Jawa. Di buku sejarah ditulis kalo doi menemukan fosil manusia purba yang kemudian dinamai dengan Pithecanthropus Erectus or “erect-ape man” alias manusia kera yang berjalan tegak. Nah, tentu aja digambarkan tanpa busana. Karena jaman tersebut belum ada pakaian. Pada masa tersebut, busana belum menjadi alat komunikasi. Karena apa yang mau dikomunikasikan dan kepada siapa pesan itu ditujukan, iya nggak sih? Kalo pun ada pesan yang ingin disampaikan, tapi bukan dalam bentuk busana.
Nah, waktu terus berjalan dan perkembangan manusia purba juga terus mengarah menuju kemajuan. Misalnya dalam berbusana. Bahkan ada film kartun yang dikemas dengan lucu yang menceritakan kehidupan “modern stone age”. Yup, film televisi yang diudarakan di Amrik antara tahun 1960-1966 besutan William Hanna dan Joseph Barbera itu diberi judul The Flintstones. Kamu pasti udah pada hapal kan dengan tokoh-tokohnya? Ada Fred, Wilma, dan tetangga mereka Barney Rubble.
Di film itu, ‘manusia purba’ udah ‘dipakaikan’ busana. Busananya tentu bukan seperti jaman kita sekarang. Tapi busana yang dicocokkan dengan jaman batu tersebut. Meski itu sebagai hiburan yang kocak banget, tapi penataan setting cerita itu cukup detil, khususnya dalam busana. Busana yang ditampilkan di film kartun (dan juga di film layar lebar garapan Steven Spielberg tahun 1994) ingin mengkomunikasikan kepada penonton bahwa itulah busana di “modern stone age”.
Sobat, pakaian memang bukan sekadar alat untuk menutup bagian tubuh tertentu yang harus dilindungi dari sengatan sinar matahari, dinginnya musim salju, dan menghindari goresan pada kulit akibat gesekan dengan benda lain, tapi juga sebagai alat komunikasi.
Ketika pakaian digunakan untuk mengkomunikasikan status sosial, maka ada pakaian kerajaan, ada pakaian yang khusus dikenakan para bangsawan, juga pakaian kaum proletar bin rakyak jelata. Di Eropa, kalo kamu baca buku-buku sejarah atau nonton film-film macam The Man in the Iron Mask yang dibintangi Leonardo Di Caprio atau dalam serial film Robin Hood, kita bisa bedain status sosial antara kaum proletar dengan kaum bangsawan adalah dari busana yang dikenakannnya.
Busana juga kemudian berperan dalam membedakan profesi seseorang. Misalnya nih, kalo ada orang yang berpakaian jas putih, apalagi dilengkapi stetoskop, berdasarkan kesepakatan selama ini orang tersebut ‘dicap’ berprofesi sebagai dokter.
Terus, pakaian juga bisa nunjukkin pesan untuk mengkomunikasi identitas. Misalnya pakaian untuk cowok dan cewek juga beda. Pakaian dari komunitas atau etnis tertentu juga pasti punya ciri khas. Bahkan pakaian berupa simbol-simbol keagamaan pun yang dikenakan oleh pemakainya adalah untuk mengkomunikasikan identitas mereka.
Nah, kaitannya dengan busana yang sopan dan rapi yang dikenakan banyak orang saat Ramadhan, tentunya mereka punya tujuan untuk mengkomunikasikan pesan kepada khalayak--tanpa harus ngomong dan menuliskan dengan huruf gede-gede di spanduk--bahwa “ini lho saya!”, “Seperti inilah kepribadian saya!”. Jadi, busana memang sebagai alat komunikasi, gitu lho.

Jangan (mudah) tertipu
Sobat muda muslim, dunia ini boleh dibilang kayak panggung sandiwara. Semua orang ingin memerankan apa yang disukainya dan tampak menarik di hadapan orang lain. Menarik di sini bisa sisi positif, bisa juga negatif. Sebab, kita harus ngakuin juga dong kalo ada orang yang tertarik dan sangat berminat di dunia kejahatan, maka ia akan ‘memerankan’ apa pun yang identik dengan ikon kejahatan. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang tertarik di dunia kebaikan, maka ia akan memerankan apa pun yang identik dengan ikon kebaikan, sesuai dengan kesepakatan umum manusia maupun agama. Itu sebabnya barangkali orang ingin tampil bukan sekadar apa adanya, tapi harus ada apa-apanya agar bisa dilihat orang lain dan membuat orang lain tertarik dengan apa yang kita perankan.
Maka, kalo kita menganggap bahwa bertutur kata santun, berpakaian sopan dan menjadi ikon kebaikan dalam pandangan masyarakat dan agama, maka kita akan melakukan semua hal itu. Harapannya, tentu agar orang lain menganggap dan menilai bahwa diri kita seperti yang ditampilkannya kepada khalayak ramai tersebut.
Nah, ini pula yang menjadi kajian sosiolog kelahiran Manville, Kanada, bernama Erving Goffman. Kajiannya yang terkenal adalah tentang Self (Self Presentation). Bukunya yang sangat terkenal dan melambungkan namanya ditulis pada tahun 1956 dan tahun 1959 berjudul The Presentation of Self in Everyday Life. Menurut Goffman, interaksi (di antara manusia) dalam hidup ini dapat dibandingkan dengan drama. Ia menilai bahwa manusia itu suka berpura-pura dan munafik, atau setidak-tidaknya ia bertindak untuk mendukung kesan kewenangan serta gengsinya bila ia sedang menampilkan perannya yang sah (misalnya sebagai dokter). Bahkan jika seseorang memang dokter yang berwenang pada aspek penampilannya yang ekspresif, dan bukan semata-mata aspek fungsionalnya. (Ensiklopedi Psikologi, hlm. 132)
Sobat, kalo pernyataan Erving Goffman ini kita simak dengan seksama maka kita bisa terapkan tuh untuk mengamati, mengkritisi dan menilai prilaku kita dan semua manusia yang bisa kita jumpai dalam kehidupan ini. Misalnya dalam kasus “berubahnya” penampilan kita pada momen-momen tertentu karena ingin memberikan kesan kepada orang lain bahwa “inilah kita” yang diinginkan oleh orang lain dengan standar norma masyarakat dan norma agama. Meskipun hakikatnya apa yang kita tampilkan ke hadapan semua orang sebenarnya bukan jatidiri kita. Halah, nipu dong?
Hmm.. bisa jadi. Maka Erving Goffman pun pernah tertarik pada penggunaan status simbol yang penuh “tipu daya”. Ia berdalih bahwa: “simbol lebih cocok dengan persyaratan komunikasi daripada hak dan kewajibannya yang diartikan oleh simbol itu.” Tuh benar banget kan, bahwa sebenarnya kita menampilkan diri di hadapan orang lain lebih karena ingin mengkomunikasikan bahwa diri kita begini dan begitu melalui simbol yang kita kenakan. Bukan asli diri kita.
Eiit.. jangan cemberut dulu. Kalo kamu nggak merasa niatannya tampil beda bukan karena ingin “memanfaatkan” simbol untuk menipu orang lain tentang kesan mereka terhadap diri kita ngapain musti ragu tampil beda. Iya nggak sih? Apalagi tampil beda kita punya standar, yakni Islam.
Sobat, setelah kamu tahu soal ini, maka jangan lagi mudah tertipu dengan penampilan luar dari orang lain ya. Sebab, penampilan seringkali berbeda (meski tidak selalu) dengan aslinya. Percayalah.

Kepribadian Islam
Boyz and galz,  nggak seru tentunya kalo kita nggak nengok cara Islam ngatur umatnya. Benar. Islam emang punya konsep tentang kepribadian manusia. Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab al-Fikru al-Islamiy, dalam pandangan Islam, akidah Islamlah yang akan membentuk akliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) seorang muslim. Artinya, jika akidah islamnya kokoh, pastinya akan mampu membentuk akliyah dan nafsiyah yang oke juga. Kalo pun ada seorang muslim yang akliyah dan nafsiyahnya kedodoran, atau seenggaknya berkualitas rendah, maka bisa dinilai bahwa itu berbanding lurus dengan kualitas or level akidah islamnya.
So, jangan terlalu kaget kalo ada seorang muslim yang udah punya nama islami, sering mengenakan simbol-simbol Islam untuk ditampilkan kepada orang-orang di sekitarnya, tapi ternyata masih gemar melakukan perbuatan yang dilarang ajaran Islam. Ini terjadi karena kurangnya pemahaman doi terhadap ajaran Islam. Tentu, sikapnya tersebut belum bisa dikatakan bahwa dirinya memiliki kepribadian yang islami. Sebab, Islam nggak menjadikan “penampilan” sebagai standar utama kepribadian seseorang, tapi ukuran kepribadian dalam Islam adalah apakah ia berpikir islami atau berperasaan islami. Itu aja.
Oya, meski demikian, bukan berarti penampilan yang mencirikan jatidiri Islam dari seorang muslim nggak diperhatikan sama Islam, lho. Ada bagian di mana Islam ngasih konsekuensi, euy. Contohnya, kalo kita udah ngaku muslim, maka harus dong pikiran kita tuh Islam dan perasaan kita juga Islam. Terus dalam pengamalannya juga harus islami. Misalnya, mengenakan busana menutup aurat ketika keluar rumah sesuai dengan ketentuan yang diajarkan dalam Islam.
Singkat kata nih. Nggak nyambung banget kalo kita sebagai muslim hanya mengambil Islam sekadar simbol-simbolnya aja, sementara yang pokok seperti pikiran dan perasaan kita dibiarkan dijajah ide sekularisme, demokrasi, sosialisme, dan isme-isme lain di luar Islam.
Jadi, nggak perlulah menipu diri sendiri dan juga orang lain dengan menampilkan kesan dari simbol yang kita kenakan untuk mengkomunikasikan bahwa diri kita begini dan begitu sesuai standar kebaikan manusia, padahal sejatinya kita tidaklah seperti gambaran yang kita buat. So, jangan jadi bunglon deh. Ingat, mungkin kita bisa menipu sebagian besar manusia, tapi tidak semua manusia bisa tertipu, apalagi menipu Allah Swt. Lagian, semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. kelak. Waspadalah!
Firman Allah Swt.:
 “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa’ [17]: 36)


Yuk, biar nggak jadi bunglon, kita kaji Islam dengan benar dan baik. Jadikan Islam sebagai akidah dan syariat. Amalkan dalam kehidupan sehari-hari sembari terus mengkampanyekan dalam dakwah kita tentang wajibnya menjadikan Islam sebagai the way of life bagi kita dan seluruh kaum muslimin. Biar mantatap, gitu lho![solihin: sholihin@gmx.net]