“Berandalan Bermotor Bikin Onar” itulah headline Kabar Priangan (KP) Jumat (02/01/2015). Aksi yang dilakukan berandalan motor dalam menghabiskan sisa tahun baru tersebut, tidaklah hanya merusak kantor KP. Bahkan mereka pun membuat warga yang hendak berangkat ke masjid pun menjadi urung dan kembali ke rumah. Terbayang, suasana mencekam karena di antara mereka ada yang membawa senjata tajam dan samurai.
Senada dengan apa yang disampaikan Agus Wahyudin, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, penulis juga beranggapan bahwa aksi tersebut jangan dianggap hanya sebagai kenakalan remaja. Karena, kalau kita telaah dalam pandangan Islam, masa remaja atau pemuda sudah termasuk dalam fase baligh. Yaitu fase di mana amal baik dan buruknya sudah dihisab oleh Allah SWT. Sehingga, sejatinya masa remaja bukanlah masa pencarian jati diri, namun merupakan masa pembuktian jati diri.
Setiap manusia, tidak terkecuali para pemuda, memiliki potensi yang sama dengan manusia pada umumnya. Muhammad Husain Abdullah dalam Mafahim Islamiyyah menjelaskan bahwa di antara potensi tersebut yaitu Gharizatul Baqo (Naluri Eksistensi Diri). Naluri ini senantiasa merayu manusia untuk selalu ingin eksis di tengah populasinya. Potensi inilah yang seringkali menumbuhkan keakuan dan keegoan yang besar.
Keberadaan naluri yang dimiliki oleh setiap insan bukanlah pembenar atas setiap tindakannya. Keberadaan naluri itu bisa dan tentu harus dikendalikan. Akal-lah yang kemudian menjadi pemilah dan pemilih. Bagi para pemuda muslim, tentu pemahaman Islam-lah satu-satunya sumber rujukan akal ketika berpikir. Aqidah dan syariah Islam-lah yang seharusnya menjadi pembeda dalam memenuhi setiap dorongan naluri. Prestasi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi atau wirausaha yang halal dan bermanfaat untuk orang banyak, adalah salah satu contoh penyaluran naluri eksistensi diri yang dianjurkan Islam. Tentunya bukan dengan maksud ujub (berbangga diri yang tidak syar’i).
Akal sebagai suatu proses berpikir bisa terganggu oleh khamr atau minuman keras. Utsman Bin Affan menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Jauhilah khamr, karena ia adalah induk segala kejahatan.” (HR. Ibnu Hibban). Hal inilah yang sangat disayangkan, beberapa media cetak maupun online sudah mensinyalir bahwa miras dan narkoba adalah barang yang laku di setiap perayaan tahun baru. Pesta dan hura-hura yang terlahir dari budaya hedonis tak jarang dihiasi dengan konsumsi miras dan narkoba. Semua aktivitas tersebut dilakukan hanya dengan satu alasan, yaitu merayakan tahun baru. Itulah sebabnya, angka penjualan miras meningkat tajam pada setiap menjelang pergantian tahun. Wajar saja -tetapi bukan pembenaran- bila akal sudah terganggu, berbagai tindakan irasional pun dilakukan, demi sebuah eksistensi diri.
Berandalan motor bukanlah hanya kenakalan remaja. Ia adalah sebuah problem sosial budaya yang terlahir dari ideologi sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sekulerisme telah melahirkan budaya permisif dan hedonis. Pada malam 1 Januari, tidak hanya berandalan bermotor, banyak juga para pemudi yang keluar dan berkeliaran hingga larut malam. Para orang tua membiarkannya, tidak khawatir dan tabu memandangnya. Karena yang menjadi legitimasi mereka adalah menyambut dan merayakan tahun baru. Jika kita diam, maka generasi muda kaum muslim yang sangat potensial akan terus menjadi objek. Ibarat dada seseorang yang terbuka tanpa perisai, ribuan anak panah terus akan menghunjamnya.
Kaum muslim mesti memiliki ‘perisai’ dari setiap problem yang menimpanya. Ada tiga lapis ‘perisai’ yang harus dimiliki kaum muslim saat ini. Yang pertama adalah ‘perisai’ diri dan keluarga. Selain diri sendiri, keluarga adalah ‘perisai’ pertama pendidikan Islam. Allah swt memerintahkan kita, untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka (lihat Q.S. At Tahrim : 6). Kemudian yang kedua adalah ‘perisai’ lingkungan. Tidak sedikit dari kita yang telah mendidik anak-anaknya dengan baik di rumah, tetapi karena terpengaruh lingkungannya, perangai anak menjadi berbeda dengan hasil didikan di rumah. Oleh karena itu, kita harus membentuk ‘perisai’ lingkungan dengan dakwah. Dakwah dengan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran (lihat Q.S. Al Ashr). Kita ajak masyarakat di sekitar kita mengenal Islam. Karena Allah swt mengingatkan bahwa ada fitnah yang menimpa tidak kepada orang dzalim saja, yang lain pun bisa terkena dampaknya. (lihat Q.S. Al Anfal : 25).
Ketiga adalah ‘perisai’ negara. Karena, problem sosial budaya yang massif harus diantisipasi secara sistemik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : “Imam (pemimpin) itu laksana perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya. Jika ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan berbuat adil, maka ia akan mendapatkan pahala (yang sangat besar). Namun jika ia memerintahkan selain itu, maka ia akan berdosa karenanya. (HR. Muslim).
Penulis sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Letkol INF Eden Candra Hidayat, Dandim 0612 Tasikmalaya Dandim Tasikmalaya, bahwa berandalan bermotor yang berbuat onar harus ditindak dan diusut tuntas. Hal ini tentunya tidak hanya di Kota Tasikmalaya, namun di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, selain menindak yang sudah berbuat onar. Kita juga harus menyiapkan ‘perisai’ diri, keluarga, masyarakat dan negara.
Kasus berandalan motor akan terus muncul jika problem sosial budaya yang menjadi pemicunya tidak ditangani. Problem sosial budaya yang menimpa kaum muslim adalah buah dari sistem sekularisme. Karena itulah, ia hanya bisa diselesaikan dengan sistem Islam. Mari kita pahamkan diri, keluarga, masyarakat, para aparat dan penguasa negeri ini supaya mau mengambil syariah Islam yang diterapkan secara paripurna.
Islam telah terbukti mengerahkan potensi anak muda menjadi produktif dan bermanfaat. Ada Imam Syafi’i yang hafal Alquran pada usia 9 tahun dan diminta ijtihadnya pada usia 13 tahun. Ada pemuda Syaifudin Quthuz, Thariq bin Ziyad Sang Pembebas Andalusia dan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan konstantinopel pada usia 21 tahun. Asma binti Abu Bakar r.a., remaja yang menjadi tim sukses hijrahnya Rasulullah SAW. Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok pemudi cerdas yang mendampingi Rasulullah SAW sejak usia 9 tahun. Begitupun Hafshah binti Umar yang berjuang bersama Islam sejak usia 10 tahun. Dengan penerapan syariah dalam sistem khilafah di atas manhaj kenabian, insyaAllah berkah akan turun dari langit dan bumi.
Wallohu a’lamu bishshowwaab.***
Senada dengan apa yang disampaikan Agus Wahyudin, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, penulis juga beranggapan bahwa aksi tersebut jangan dianggap hanya sebagai kenakalan remaja. Karena, kalau kita telaah dalam pandangan Islam, masa remaja atau pemuda sudah termasuk dalam fase baligh. Yaitu fase di mana amal baik dan buruknya sudah dihisab oleh Allah SWT. Sehingga, sejatinya masa remaja bukanlah masa pencarian jati diri, namun merupakan masa pembuktian jati diri.
Setiap manusia, tidak terkecuali para pemuda, memiliki potensi yang sama dengan manusia pada umumnya. Muhammad Husain Abdullah dalam Mafahim Islamiyyah menjelaskan bahwa di antara potensi tersebut yaitu Gharizatul Baqo (Naluri Eksistensi Diri). Naluri ini senantiasa merayu manusia untuk selalu ingin eksis di tengah populasinya. Potensi inilah yang seringkali menumbuhkan keakuan dan keegoan yang besar.
Keberadaan naluri yang dimiliki oleh setiap insan bukanlah pembenar atas setiap tindakannya. Keberadaan naluri itu bisa dan tentu harus dikendalikan. Akal-lah yang kemudian menjadi pemilah dan pemilih. Bagi para pemuda muslim, tentu pemahaman Islam-lah satu-satunya sumber rujukan akal ketika berpikir. Aqidah dan syariah Islam-lah yang seharusnya menjadi pembeda dalam memenuhi setiap dorongan naluri. Prestasi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi atau wirausaha yang halal dan bermanfaat untuk orang banyak, adalah salah satu contoh penyaluran naluri eksistensi diri yang dianjurkan Islam. Tentunya bukan dengan maksud ujub (berbangga diri yang tidak syar’i).
Akal sebagai suatu proses berpikir bisa terganggu oleh khamr atau minuman keras. Utsman Bin Affan menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Jauhilah khamr, karena ia adalah induk segala kejahatan.” (HR. Ibnu Hibban). Hal inilah yang sangat disayangkan, beberapa media cetak maupun online sudah mensinyalir bahwa miras dan narkoba adalah barang yang laku di setiap perayaan tahun baru. Pesta dan hura-hura yang terlahir dari budaya hedonis tak jarang dihiasi dengan konsumsi miras dan narkoba. Semua aktivitas tersebut dilakukan hanya dengan satu alasan, yaitu merayakan tahun baru. Itulah sebabnya, angka penjualan miras meningkat tajam pada setiap menjelang pergantian tahun. Wajar saja -tetapi bukan pembenaran- bila akal sudah terganggu, berbagai tindakan irasional pun dilakukan, demi sebuah eksistensi diri.
Berandalan motor bukanlah hanya kenakalan remaja. Ia adalah sebuah problem sosial budaya yang terlahir dari ideologi sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sekulerisme telah melahirkan budaya permisif dan hedonis. Pada malam 1 Januari, tidak hanya berandalan bermotor, banyak juga para pemudi yang keluar dan berkeliaran hingga larut malam. Para orang tua membiarkannya, tidak khawatir dan tabu memandangnya. Karena yang menjadi legitimasi mereka adalah menyambut dan merayakan tahun baru. Jika kita diam, maka generasi muda kaum muslim yang sangat potensial akan terus menjadi objek. Ibarat dada seseorang yang terbuka tanpa perisai, ribuan anak panah terus akan menghunjamnya.
Kaum muslim mesti memiliki ‘perisai’ dari setiap problem yang menimpanya. Ada tiga lapis ‘perisai’ yang harus dimiliki kaum muslim saat ini. Yang pertama adalah ‘perisai’ diri dan keluarga. Selain diri sendiri, keluarga adalah ‘perisai’ pertama pendidikan Islam. Allah swt memerintahkan kita, untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka (lihat Q.S. At Tahrim : 6). Kemudian yang kedua adalah ‘perisai’ lingkungan. Tidak sedikit dari kita yang telah mendidik anak-anaknya dengan baik di rumah, tetapi karena terpengaruh lingkungannya, perangai anak menjadi berbeda dengan hasil didikan di rumah. Oleh karena itu, kita harus membentuk ‘perisai’ lingkungan dengan dakwah. Dakwah dengan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran (lihat Q.S. Al Ashr). Kita ajak masyarakat di sekitar kita mengenal Islam. Karena Allah swt mengingatkan bahwa ada fitnah yang menimpa tidak kepada orang dzalim saja, yang lain pun bisa terkena dampaknya. (lihat Q.S. Al Anfal : 25).
Ketiga adalah ‘perisai’ negara. Karena, problem sosial budaya yang massif harus diantisipasi secara sistemik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : “Imam (pemimpin) itu laksana perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya. Jika ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan berbuat adil, maka ia akan mendapatkan pahala (yang sangat besar). Namun jika ia memerintahkan selain itu, maka ia akan berdosa karenanya. (HR. Muslim).
Penulis sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Letkol INF Eden Candra Hidayat, Dandim 0612 Tasikmalaya Dandim Tasikmalaya, bahwa berandalan bermotor yang berbuat onar harus ditindak dan diusut tuntas. Hal ini tentunya tidak hanya di Kota Tasikmalaya, namun di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, selain menindak yang sudah berbuat onar. Kita juga harus menyiapkan ‘perisai’ diri, keluarga, masyarakat dan negara.
Kasus berandalan motor akan terus muncul jika problem sosial budaya yang menjadi pemicunya tidak ditangani. Problem sosial budaya yang menimpa kaum muslim adalah buah dari sistem sekularisme. Karena itulah, ia hanya bisa diselesaikan dengan sistem Islam. Mari kita pahamkan diri, keluarga, masyarakat, para aparat dan penguasa negeri ini supaya mau mengambil syariah Islam yang diterapkan secara paripurna.
Islam telah terbukti mengerahkan potensi anak muda menjadi produktif dan bermanfaat. Ada Imam Syafi’i yang hafal Alquran pada usia 9 tahun dan diminta ijtihadnya pada usia 13 tahun. Ada pemuda Syaifudin Quthuz, Thariq bin Ziyad Sang Pembebas Andalusia dan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan konstantinopel pada usia 21 tahun. Asma binti Abu Bakar r.a., remaja yang menjadi tim sukses hijrahnya Rasulullah SAW. Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok pemudi cerdas yang mendampingi Rasulullah SAW sejak usia 9 tahun. Begitupun Hafshah binti Umar yang berjuang bersama Islam sejak usia 10 tahun. Dengan penerapan syariah dalam sistem khilafah di atas manhaj kenabian, insyaAllah berkah akan turun dari langit dan bumi.
Wallohu a’lamu bishshowwaab.***
sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/16110#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar