Buletin Remaja gaulislam edisi 002/tahun I
Ngomongin
soal waktu sebenarnya udah sering banget dibahas ya? Sebab, setiap dari diri
kita masing-masing pasti udah punya sistem management sendiri dalam mengatur
kebiasaan hidup kita. Jadi sebenarnya kalo mau disamakan modelnya agak susah.
Tapi yang terpenting dalam mengatur waktu adalah pastikan sesuai dengan tujuan
dan tak ada waktu yang disia-siakan begitu saja. Sebab, waktu ini akan terus
berjalan. Sang waktu nggak perlu minta ijin sama kita yang lagi bengong, main
gaple, main gim, ngobrol nggak jelas, dan aktivitas miskin manfaat lainnya atau
malah yang maksiat.
Waktu
bakalan terus berlari meninggalkan kita yang aktif maupun yang nggak pernah
bergerak sedikit pun. Sering tak terasa, waktu seminggu sangat cepat, itu kita
tahu setelah kita melewatinya. Bagi kita yang melewatinya dengan banyak amal
baik insya Allah menjadi tabungan pahala kita kelak. Tapi bagi kita yang melewati
hari demi hari dalam seminggu itu hanya dengan bengong dan bertopang dagu saja,
rasa-rasanya sangat rugi, apalagi kalo melakukan maksiat, ruginya
berlipat-lipat.
Allah
berfirman dalam al-Quran:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
(2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat-menasihati
supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)
Waktu
tak akan kembali
Masih
ingat nggak lagunya Raihan yang terinspirasi dari hadis Rasulullah saw. tentang
waktu? Yup, gini nih penggalan syairnya: “Gunakan kesempatan yang masih diberi moga
kita tak akan menyesal/Masa usia kita jangan disiakan, kerana ia tak ‘kan kembali/Ingat lima
perkara sebelum lima perkara/sehat sebelum sakit/muda sebelum tua/kaya sebelum
miskin/lapang sebelum sempit/hidup sebelum mati.”
Yup,
benar banget. Waktu punya karakter nggak bisa dikembalikan. Terus aja berlalu
nggak peduli sama kita. Apa pernah kepikiran kita ingin meng-UNDO seperti pada
program komputer? Waktu nggak bisa dikembalikan seperti ketika kita main
internet dengan cara mengklik tombol BACK agar bisa mengulangi mengeksekusi
sebuah situs web misalnya. Nggak. Waktu itu boleh dibilang hanya sekali jadi.
Itu sebabnya, tugas kitalah yang kudu pandai memilih dan memilah dalam
memanfaatkan waktu.
Memang
waktu adalah semacam ukuran yang kita sepakati bersama. 1 detik, 1 menit, 1
jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, 1 windu, 1 dasawarsa, 1 abad, dan
seterusnya. Itu adalah ukuran-ukuran untuk memudahkan kita mengerjakan segala
urusan kita. Adanya batasan waktu adalah agar kita mau mengaturnya dengan baik.
Percuma banget kan kalo kita udah dikasih jadwal, udah sepakat dengan waktu
yang dibuat, ternyata kita melanggar sendiri kesepakatan tersebut dengan tidak
mentaatinya sesuai urutan waktu dan target.
Kalo
bicara untung-rugi, tentu bagi kita yang nggak bisa memenuhi semua aturan itu
akan rugi karena bisa jadi malah nggak melakukan apa-apa selama waktu yang
sudah ditentukan kecuali melakukan kesia-siaan saja yang memang bukan sesuatu
yang seharusnya dilakukan.
Nah,
pada saat inilah kita udah kehilangan banyak waktu. Tentu saja waktu tak akan
pernah balik lagi ngasih kesempatan buat kita untuk melakukan yang telah kita
tinggalkan tersebut. Yang bisa dilakukan kita paling banter adalah memperbaiki
pada kesempatan berikutnya. Tapi tetap tidak mengubah kondisi balik ke
belakang. Karena yang terjadi adalah kita memperbaiki pada waktu yang lain dan
selama itu pula kita udah kehilangan banyak kesempatan. Aduh, nggak banget deh!
Nggak
percaya? Bayangannya gini nih. Bagi kita yang nggak naik kelas tahun ini karena
malas belajar, maka itu kondisi saat ini yang nggak bisa berubah. Tetep nggak
naik kelas. Status kita tetap tinggal di kelas sementara teman yang lain udah
di kelas berikutnya. Padahal itu terjadi dalam satu waktu, yakni pada kesempatan
yang sama. Ya, sekarang ini. Kita insya Allah bisa naik kelas tapi itu terjadi
nanti pada tahun depan. Beda kan? Jadi jangan main-main dengan waktu ya. Waktu
nggak bakalan kembali lagi. Sekali jadi. So, jangan sampe kita merugikan diri kita
sendiri gara-gara nggak bisa memanfaatkan waktu. Sumpah!
Guys, seringkali kita merasa
bahwa waktu begitu cepat berlalu. Kayaknya singkat banget. Apa karena kita
saking asyiknya menikmati hidup? Hmm.. bisa jadi itu emang faktor perasaan
kita. Karena terlalu nikmat hidup di dunia. Tapi ingat juga lho, bahwa ada juga
di antara teman kita yang sangat boleh jadi waktu berjalan sangat lambat.
Misalnya, bagi orang yang berada di penjara, yang aktivitasnya nggak banyak dan
muter di situ terus, waktu terasa berjalan lambat kayak keong.
Waktu
yang berjalan terasa cepat selain menunjukkan betapa nikmatnya hidup di dunia,
juga menunjukkan bahwa kita semangat menjalani hidup. Banyak kegiatan kita
lakukan, banyak janji kita buat, banyak prestasi yang terus kita raih, sehingga
tak ada waktu untuk melamun ngeliatin jam berputar. Karena justru kita seolah
sedang berlari melangkahi hari-hari berpacu dengan putaran jarum jam atau
hentakan detik penanda waktu digital. Barangkali ini yang membuat kita
merasakan waktu berlalu begitu cepat.
Hikmahnya,
jangan sia-siakan waktu yang terus berjalan cepat ini dengan kegiatan yang
miskin manfaat, atau malah bertabur maksiat. Kita nggak bisa balik lagi ke
waktu tersebut. Yang bisa adalah memperbaiki dan itu butuh waktu lagi.
Sementara mereka yang taat mengatur waktu dengan baik, akan menuai hasil yang
bagus pada waktu yang sama dengan yang kita gunakan untuk kegiatan percuma.
Oya,
karakter waktu yang cukup unik lainnya adalah bahwa waktu geraknya berbanding
lurus. Semakin banyak waktu yang disediakan untuk hidup kita, maka sebanyak itu
pula waktu yang diberikan. Itu sebabnya, setiap orang yang berbeda usia nggak
bisa balapan soal umur. Jatahnya udah jelas dan dikasih sama. Tapi tetap sesuai
start saat memulai hidup di dunia. Nah, karena nggak bisa balapan soal umur,
pernah ada anekdot ketika seorang pemuda yang hendak menikahi seorang gadis
pujaannya yang berusia lebih muda 3 tahun darinya. Tapi ayah si gadis nggak
setuju lalu memberi alasan: “Boleh kamu menikah dengan anak saya, tapi nanti saat
umur kamu dan anak saya sama”. Gubrak!
Sobat,
waktu terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia kita. Itu sebabnya, kita
nggak bisa minta ijin, misalnya mo cuti dulu dari bertambahnya usia ketika kita
lagi tidur atau ngobrol dan main gim. Usia kita dari detik ke detik terus
bertambah. Meskipun kita lagi nggak beraktivitas. Itu sebabnya, jangan
mentang-mentang masih muda terus kita merasa masih banyak waktu untuk nanti.
Sehingga merasa waktu tersebut harus kita habiskan untuk aktivitas yang kita sukai
dan senangi saat ini namun dalam pandangan Islam miskin manfaat. Itu artinya
kita menghamburkan kesempatan yang diberikan hanya untuk hal-hal yang
remeh-temeh, gitu. Nggak banget deh. Sebab, seharusnya yang kita upayakan dalam
setiap detik itu harus bernilai ibadah di hadapan Allah Swt. Setuju kan?
Memanfaatkan
waktu
Waktu
itu sebenarnya nggak bisa dijinakkan. Kalo kuda liar kita latih jadi baik insya
Allah bisa. Tapi soal waktu, kita berbuat baik atau nggak, tetap aja jalan.
Nggak peduli sama kita dan lurus-lurus saja. Nah, mungkin yang diperlukan itu
adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu dengan efektif.
Bagaimana
caranya? Pertama, biasakan kita membuat agenda harian. Diurut prioritasnya dari
yang sangat penting, kemudian penting, dan biasa. Misalnya sekolah/kuliah tentu
menjadi prioritas utama, kemudian ke warnet, barangkali dianggap penting karena
misalnya mencari bahan untuk tukul alias tugas kuliah, kemudian yang
terkategori biasa misalnya pergi main ke rumah teman. Nah, utamakan yang sangat
penting terlebih dahulu baru kemudian yang terakhir yang terkategori biasa.
Kedua,
kita harus komitmen dengan apa yang udah kita buatkan jadwalnya. Karena
kebiasaan banyak dari kita adalah menulis semua agenda, tapi nggak dikerjakan.
Akhirnya malah keleleran. Ketiga, buat target. Ini penting. Apalagi jika yang akan dilakukan
adalah “proyek besar” untuk masa depan kita. Jadi harus dibuat batasan
waktunya, sehingga rencana yang sudah dibuat itu akan direalisasikan sesuai
urutan waktu dan ukuran tahapan tingkat pencapaiannya. Jangan lupa, pastikan
selalu ada evaluasi, agar dari waktu ke waktu lebih baik lagi.
Gimana
kalo kita lagi malas ngapa-ngapain, apa malas bisa dikategorkan sebagai
pembunuh kesempatan? Hmm… rasa malas itu saya pikir manusiawi kali ya. Soalnya
semua orang kayaknya pasti pernah merasakan malas. Itu sebabnya, Rasulullah
saw. juga mengajarkan doa agar kita meminta kepada Allah Swt. untuk dihilangkan
dari penyakit malas. Maka, kalo pun rasa malas itu mendera kita, pastikan kita
bisa mengendalikan diri.
Caranya?
Jangan terlena dan jangan mengampuni diri sendiri bahwa rasa malasnya itu
adalah manusiawi. Nggak gitu. Tapi cari akibatnya, mungkin malas karena capek,
maka kita bisa atur waktu dan kegiatan lainnya supaya nggak kecapekan. Ketika
malas ngapa-ngapain dan akhirnya malah main gim dengan tujuan untuk refreshing silakan saja. Tapi jangan
keterusan. Ingat waktu terus berjalan meninggalkan kita. Kalo udah hilang penat
dan stresnya segera berhenti main gim. Setelah itu, ya kembali kepada pekerjaan
yang harus diselesaikan.
Oya,
sekadar berbagi aja, kebiasaan saya dalam mengatur dan memanfaatkan waktu
sejujurnya memang masih banyak kekurangannya. Tapi setidaknya saya berusaha
menekan diri sendiri untuk terus komitmen pada setiap kegiatan yang waktunya
sudah dialokasikan. Jadi saya biasanya membuat jadwal yang saya tulis di buku
agenda, di ponsel saya, di organizer program komputer, atau di kertas styrofoam yang ditempel di
dinding. Agenda harian, mingguan atau bulanan. Baik yang rutin maupun yang
tertentu pas ada momen spesial aja. Untuk kegiatan menulis buku, saya biasanya
pake target, sehingga ada alat ukur tingkat pencapaiannya. Itu aja sih yang
biasa saya lakukan. Mungkin bisa menjadi inspirasi teman-teman yang sempat baca
artikel ini.
Sobat, di dunia ini kita berpacu
dengan waktu, maka tingkatkan kualitas perbuatan kita, syukur-syukur bisa lebih
banyak kita lakukan. Tentu perbuatan yang benar dan baik sesuai tuntunan Allah
dan RasulNya. Untuk apa? Ya, untuk masa depan kita di dunia dan di akhirat.
Insya Allah. Sebab, jangan sampe umur kita habis, tapi kita banyak maksiatnya.
Kematian itu nggak bisa kita ketahui kapan datangnya. Jadi, harap diingat,
Malaikat Izrail nggak bakal kirim “pesan kematian” kepada kita melalui SMS
dengan bunyi: “Maaf, masa aktif hidup Anda akan segera habis. Sudah terlalu
banyak dosa Anda di buku catatan akhirat. Sehingga saldo iman berkurang. Segera
isi ulang iman Anda sebelum nyawa Anda diblokir.” Hehehe.. kalo dikasih tahu
gitu sih enak dong.
Yuk,
mumpung masih diberikan waktu, kita manfaatkan untuk beramal baik. Kita
sama-sama berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah Swt. Keep istiqamah dan tetap
semangat! [solihin: sholihin@gmx.net]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar